duniahitam

tentang hidup yang terkekang

Posts Tagged ‘video

BlackBerry Break & Friends You Haven’t Met

with 9 comments

Digirangers di kantor saya sekarang punya kebiasaan baru, BlackBerry Break atau BB Break, yaitu jeda satu menit dalam rapat internal. Istirahat satu menit ini diberikan untuk mereka yang ingin memeriksa BlackBerry-nya. Mulai dari menjawab email mendesak dari klien, memuaskan kehausan eksistensi terhadap mention atau retweet di Twitter, melihat gambar NSFW terbaru di BBM group dari teman-teman SD, atau sekedar melakukan aktifitas yang oh so last decade seperti membaca dan mengirim SMS.

Pemberlakuan BB Break ini bertujuan agar kami tidak perlu merasa bersalah karena sedikit-sedikit melirik layar BB, atau (lebih parah lagi) terus-menerus memeriksa/membaca/memegang BB sepanjang rapat tanpa peduli siapa yang sedang berbicara. Awalnya kami merasa aneh (walaupun tetap ketawa-ketawa sambil ngecek BB) saat kebijakan baru ini pertama kali diterapkan secara spontan oleh Pak Bos Nanda beberapa minggu lalu. Belakangan, saya merasa ini langkah yang masuk akal. Paling tidak, untuk rapat-rapat internal.

Sebagian orang mungkin merasa langkah ini sedikit kelewatan. BlackBerry Break? Yang bener aja? Get a life.

Well, this is life. Hidup di jaman ini, dengan lingkungan pergaulan saya saat ini, adalah hidup yang terputus-putus oleh gangguan dan hantaman informasi dari luar. Apakah ini akan menjadi masalah atau tidak, tergantung pilihan kita. Ketika kebiasaan ini sudah dianggap sebagai masalah (seperti rapat yang tidak fokus karena pesertanya sibuk ngecek BB), langkah pertama yang harus diambil adalah mengakui masalah itu ada, dan kemudian mencari solusinya.

Untuk saat ini, solusinya adalah BlackBerry Break.

Sibuk Konsumsi Lupa Menikmati

Setiap hari, ada ratusan entri informasi di Google Reader yang tak sempat terbaca. Belum lagi puluhan link menarik yang saya dapat dari timeline Twitter, dan ini masih ditambah dengan newsfeed di halaman home Facebook. Sekian banyak informasi yang datang, sayangnya hanya sedikit waktu dan perhatian yang tersedia. Seperti yang terjadi semalam. Sebelum pulang kantor, berkat usaha keras menulikan diri dan membutakan mata terhadap distraction di sekeliling saya, sebuah artikel lama di New York Magazine (tentang manusia modern jaman sekarang yang hidupnya penuh distraction dan information overload) akhirnya selesai saya baca. Jangan tanya apa nasib puluhan buku di kamar saya yang belum sempat dibaca.

Apapun itu namanya, kecenderungan untuk terus-menerus memeriksa BlackBerry (atau apapun merek smartphone yang kita miliki) pada saat saya seharusnya melakukan hal-hal lain yang mungkin jauh lebih penting, adalah salah satu konsekuensi budaya digital yang belakangan ini semakin dalam merasuki kehidupan saya. Ketika hidup jadi terpusat pada hal-hal yang ‘terjadi di’ atau ‘hadir melalui’ perangkat digital, dan bukannya terhubung kepada apa yang terjadi saat ini di tempat saya berada, saat itulah alarm “GILA LU YE!” di otak saya berteriak sekuat-kuatnya.

Alarm ini berulang-ulang menyala setiap kali saya latihan di pusat kebugaran Fitness First Platinum, di One Pacific Place atau di Grand Indonesia. Sekedar informasi (tanpa bermasuk menambah information overload bagi Anda, sang pembaca), pengunjung yang datang ke tempat-tempat itu akan disambut oleh beberapa slogan, di antaranya adalah, “There are no strangers, only friends you haven’t met”.

Nah, setelah hampir 3 bulan berolahraga di sana, saya merasa mereka yang datang ke sana sendirian akan sulit untuk “meet friends they haven’t met”, karena sebagian besar orang di sana datang dan pergi dalam gelembung semesta pribadi yang tertutup dari penetrasi dunia luar. Mereka, termasuk saya, berlatih dengan tetap menenteng smartphone atau iPod masing-masing. Di sela-sela latihan, sambil mendengarkan musik dari iPod, kami sibuk memeriksa pesan atau tweet terbaru di smartphone kami.

Apa sih yang penting banget sampai saya (dan para ‘pecandu’ digital lainnya) harus selalu mengecek update terbaru? Karena saya adalah anggota ‘kaum berdosa’ tersebut, saya akan coba membuat daftar tentang apa saja yang kira-kira membuat saya harus mengecek BB di sela-sela latihan:

  1. Cek email kantor
  2. Cek Twitter, lihat ada reply, mention atau retweet
  3. Cek Twitter, lihat @infoll, mengira-ngira rute terbaik saat pulang
  4. Cek Twitter, lihat timeline, ada gosip terbaru apa hari ini?
  5. Cek Facebook, ada notification apa?
  6. Cek BB message
  7. Cek SMS

Astaga. Membaca daftar ini sudah cukup bikin saya merasa tenggelam dalam information overload.

Sibuk Dokumentasi Lupa Menikmati

Seminggu yang lalu, salah satu topik yang ramai dibahas di timeline saya adalah Java Rocking Land. Dari ratusan tweet tentang musisi yang tampil, cuaca yang tak bersahabat, dan jalanan menuju Ancol yang macet menggila, ada 2 tweet yang menarik perhatian saya, yang datang dari account milik seorang teman, Leo :

Membaca tweet tersebut, saya jadi teringat pemandangan di Java Jazz beberapa tahun lalu (mungkin 2008?), saat saya menonton Level 42 dari deretan bangku-bangku atas di JCC. Selain cahaya menyilaukan yang datang dari panggung, ada kerlap-kerlip lainnya yang menarik perhatian, datang dari kerumunan penonton di depan panggung. Setelah diperhatikan, ternyata cahaya mirip kunang-kunang itu adalah ratusan cahaya layar handphone. Astaga, mereka sibuk nonton atau sibuk livetweeting/facebooking?

Lucu juga. Tenggelam dalam gelembung pribadi, tapi diiringi oleh oversharing. Seolah-olah semua yang kita lihat, pikirkan, sentuh, cicipi, dan nikmati wajib di-share ke dunia luas. Facebook, Twitter, Foursquare, dan entah apa lagi, semua menyediakan saluran bagi kita untuk mengumumkan apa yang sedang terjadi saat ini dalam gelembung pribadi kita. Kita harus terus-menerus menjawab pertanyaan “What’s Happening?” yang dilontarkan Twitter.

Saya termasuk yang banyak menumpuk dosa dalam hal oversharing. Daftar dosa saya untuk soal over-sharing ini panjang sekali, dan saya nggak heran kalau kemudian banyak teman yang capek baca timeline saya dan memutuskan untuk unfollow saya.Dua tahun lalu saat mulai aktif menggunakan Twitter, baik untuk urusan pekerjaan maupun pribadi, semua yang saya lihat-tonton-dengar-alami rasanya harus segera di-share dengan seluruh dunia. Saya sibuk livetweet di tengah-tengah konser musik, mengomentari adegan-adegan film dan bertanya ke teman-teman di timeline tentang film yang sedang saya tonton di DVD, dan mengumumkan melalui Twitter topik pembicaraan saya dan teman-teman saat kami sedang kopdar. Ehbuset. Kalau sedang kopdar aja malah sibuk online, what’s the point?

Seperti yang diungkapkan Agatha dalam tulisannya, ‘Ngobrol Langsung atau Via Twitter?’:

Buat saya, waktu di mana saya bertemu secara langsung dengan teman-teman adalah kesempatan yang mestinya dimanfaatkan untuk bisa berbincang dengan mereka. Secara langsung, tanpa diantarai oleh media apapun. Kami bisa membincangkan apapun –hanya di antara kami– tanpa perlu ‘didengar’ oleh orang lain, seperti halnya jika kami saling berbalas tweet di Twitter. Kami bisa saling bertukar cerita tentang sesuatu yang sama-sama kami tahu.

Untuk saat ini, solusi berupa BlackBery Break dan upaya keras untuk bayar hutang baca 2 buku sebulan sudah cukup buat saya. Beberapa video berikut ini juga cukup manjur jadi pengingat, agar jangan sampai terlalu lama keasyikan dengan dunia digital, lalu lupa menikmati hidup. Remember, there are friends out there that you haven’t met!

Advertisements

Amanat Bersama Indonesia Unite Untuk Kaum Pemberani

leave a comment »

Semalam, sekumpulan anak muda (dan sejumlah wakil dari generasi yang lebih tua) mendeklarasikan Amanat Bersama Indonesia Unite di acara CultureFest yang berlangsung di halaman kantor majalah Rolling Stone. Amanat Bersama ini bukanlah dokumen mati yang ditulis oleh segelintir orang yang mengeksklusifkan dirinya, melainkan disusun melalui proses penulisan bersama dalam sebuah halaman Wiki yang terbuka untuk umum sejak 9 Agustus 2009 sampai 14 Agustus 2009. Demikian bunyinya:

AMANAT BERSAMA #INDONESIAUNITE

Kami adalah generasi baru, pewaris sah Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kami adalah generasi baru, yang menolak untuk hidup dan tumbuh dengan rasa takut. Kami memilih menjadi pemberani.

Kami adalah generasi baru, yang percaya setiap kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru. Karena itu, kami akan berusaha untuk memutus rantai kekerasan melalui karya kemanusiaan di mana pun kami berada.

Kami adalah generasi baru, yang percaya penuh dengan prinsip demokrasi, kemanusiaan, kesetaraan, dan saling menghormati. Karena itu, kami menolak segala bentuk diskriminasi.

Kami adalah generasi baru, yang akan membangun sebuah bangsa dan negara yang bermartabat dan terhormat, mampu mempersatukan Indonesia, melindungi hak-hak individu, berdiri di atas semua golongan, serta memuliakan manusia-manusia yang menjadi rakyatnya.

Indonesia Unite in Twitter Search

Republik Indonesia sudah 64 tahun usianya. Apa yang bisa kamu lakukan untuknya? Banyak. Mulailah dengan bekerja dengan sebaik-baiknya, menjalankan kehidupan sehari-hari tanpa rasa takut terhadap ancaman teror. Berani menghadapi tantangan hidup yang pasti kita hadapi setiap saat, dan tak jadi pengecut yang menyembunyikan ekornya di sela-sela pantat saat kesulitan menghadang.

Berani hidup untuk mengubah nasib negeri ini menjadi lebih baik, itu kualitas yang kita butuhkan saat ini.

Bangsa Indonesia adalah bangsa pemberani, yang tak akan tunduk oleh kaum pengecut seperti teroris yang menggunakan kekerasan untuk memaksakan kehendaknya. Masa kita mau kalah sama kaum kacung kampret pengecut yang beraninya main belakang?

Sementara itu, silakan menikmati video keren yang dibuat teman-teman dari Kopdar Jakarta untuk menyambut 17 Agustus tahun ini. Mereka memutarnya secara bersamaan pada tanggal 14 Agustus lalu, tepat pukul 14.00. Saya yang tadinya mau ikut-ikutan, ketinggalan karena sibuk kerja. Tak ada kata terlambat untuk menunjukkan cinta kepada negara dan bangsa ini.

Selamat ulang tahun ke-64, Republik Indonesia. Live long and prosper!

Baca juga:

Indonesia Unite – Kami Tidak Takut – Media Ide

Pilih Sendiri Perjuanganmu Untuk Indonesia Unite – Dondi Hananto

Untuk Indonesiaku – Mbak Dos

Merdeka, Untuk Kita Semua – Dimas Novriandi

Merdeka 2.0: Deklarasi Awak Medan – Adham Somantrie

Indonesia Tercinta. Indonesia Bersatu. – Dita Firdiana F

Written by Waraney Rawung

August 17, 2009 at 9:42 AM

Marshanda, Markentong, dan Marji’ah

with 10 comments

Marshanda sedang jadi topik pembicaraan seru di Twitter (dan social media sites lainnya) beberapa hari ini, walaupun belum sampai jadi trending topics. Aktris dan penyanyi muda ini bikin heboh gara-gara video di YouTube, dimana ia menyanyi, lompat-lompat, menari-nari, dan ketawa-ketawa sendiri sambil meledek beberapa teman sekolahnya dulu.

Picture 5

Sekarang video itu sudah tak ada lagi di account Marshanda. Namun kita masih bisa menonton copy-nya di sini (UPDATE: maaf temans, linknya saya hapus. Setuju sama Pitra. Kasihan sama pemiliknya. Kalau mau cari, Google aje!). Namanya juga dunia online, sekali masuk susah keluar (seperti cerita seram jaman dulu, tentang pasangan yang bercinta di kuburan…hehehe, ngelantur!).

Komentar-komentar yang berhamburan di halaman account YouTube Marshanda dan account si pelaku reposting, serta di Twitter search, umumnya kejam-kejam. Ia dituduh mabok, stress, kesurupan, sampai cari sensasi. Seorang teman bahkan sempat menyangka bahwa video tersebut adalah bagian dari strategi viral marketing untuk mempromosikan sinetron terbaru aktris ini.

Marshanda di Twitter search

Saya sendiri menganggap video tersebut lucu-lucu aja. Memang orangnya juga lucu. Hehehe. But really, she’s just acting like a teenager. Bukannya mau pukul rata bahwa remaja pada umumnya memang clueless begitu, tapi kalau dipikir-pikir, kehebohan ini muncul hanya karena pelakunya punya status selebriti. Coba yang bikin video macam itu teman kita atau a nobody seperti saya. Paling-paling yang nonton cekikikan sebentar, lalu share di Twitter dan Facebook supaya bisa ketawa rame-rame.

Selain video yang bikin heboh itu, ada video-video lain yang agaknya di-upload Marshanda selama kurun waktu yang kurang lebih sama (satu minggu). Semuanya menampilkan dirinya sedang menyanyi dan bergaya macam-macam. Ada yang solo, ada juga yang trio dengan beberapa teman. Bukan sesuatu yang luar biasa juga, dan sama sekali bukan sesuatu yang pantas mendapatkan komentar negatif dan caci maki. Semua video ini sudah dihapus, dan yang tertinggal hanya tiga video ‘standar.’

Buat saya, tak ada yang salah dengan kelakuan Marshanda joget-joget dan nyanyi-nyanyi fals di depan umum. Yang jadi masalah cuma statusnya sebagai selebriti. Tapi mungkin tak ada salahnya dia pikir-pikir dulu sebelum posting. Karena seperti yang dibilang Pitra, bisa-bisa dia dituntut oleh teman-temannya yang diledek di video itu.

Lain kali Marshanda harus konsultasi dulu ke teman saya, Yoshi Febrianto, yang jago bikin video lucu. Belum lama ini seri video “Tulisanmu Puisiku” buatannya (yang katanya sudah diedit) menjadi salah satu video yang ditampilkan di festival OK Video “Comedy”. Kalau tak salah, seri video ini aslinya dibuat dadakan (dengan sang istri sebagai pemanggul kamera) saat kesal menunggu anak-anak BungaMatahari yang datang ngaret ke Kebun Raya Bogor untuk acara KebunKata “KebunRaya.”

Marshanda (dan saya juga!) bisa belajar banyak dari Yoshi soal kreativitas.

Sekarang coba lihat video “Response to Marshanda Nangis 3: Markentong dan Marji’ah Nangis”. Saya dan beberapa teman terpingkal-pingkal saat menontonnya. Waktu saya pertama menontonnya, hanya ada ratusan views, dan sekarang sudah mencapai lebih dari 4000 views. Efek word of mouth di dunia online memang mantap!

Viral effect macam ini habis-habisan diidamkan online marketers dan public relations consultants. Banyak yang mengejarnya, hanya sedikit yang berhasil mencapainya. Resepnya memang susah-susah gampang. Buat content yang sederhana tapi menarik, yang bisa membuat orang nonton berkali-kali dan mendorong kita menyebarkan link-nya kemana-mana. As simple as that, but easier said than done.

Response to Marshanda Nangis 3: Markentong dan Marji'ah Nangis

Baca juga:

Marshanda Pecas Ndahe – Ndoro Kakung

Marshanda di YouTube? – Media Ide

Would you date this Marshanda girl? – unspun

Good Girls Go Bad – Insomniac Lolita