duniahitam

tentang hidup yang terkekang

Posts Tagged ‘twitter

Ada Puisi dan Instagram di KebunKata “Jepret”, 24 Maret 2012!

with 4 comments

kota ini kembang api, kembang desa semanis gulali
dan aku ingin mencintainya dengan segenggam tipsy
semangkuk bakmi sepanjang pagi
dihantam hang over, yang tak kunjung let it be.

Photo by @dumpyeng.

 

 

Halo para penyair one-liner di Twitter dan jagat raya social media! Komunitas Puisi BungaMatahari akan mengadakan KebunKata “Jepret” pada tanggal 24 Maret 2012, pukul 14:00-17:00 WIB, di tempat yang sampai saat ini masih dirahasiakan.

KebunKata “Jepret” akan turut diramaikan oleh partisipasi teman-teman dari Komunitas iPhonesia. Dari tanggal 5 sampai 15 Maret 2012, mereka akan memilih puisi-puisi di Twitter yang mencantumkan hashtag #buma, dan membuatkan versi instagram dari puisi-puisi yang terpilih. Hasilnya akan dipamerkan dalam acara KebunKata “Jepret”.

Selain pameran instagram dan puisi, juga akan ada acara pembacaan puisi, permainan puisi, musikalisasi puisi, dan curcol puisi. Arena bermain yang benar-benar menyenangkan buat kamu yang baru jatuh hati, patah hati, atau sudah tak punya hati lagi!

 

Photo by @dumpyeng.

 

 

Photo by @prassprasetio.

Advertisements

Written by Waraney Rawung

March 6, 2012 at 4:30 PM

Seminggu Satu Buku & Puasa Social Media

with 3 comments

“Get yourself a ‘me time’. Go and disappear. Turn off your phones.” Itu nasehat dari Mayang, teman lama yang juga rekan kerja sekantor, kepada saya setahun lalu. Saat itu beban pekerjaan dan masalah pribadi yang berat membuat saya stress dan sakit-sakitan.

Menurut Mayang, mendapatkan ‘me time’ yang berkualitas itu nggak perlu dengan menghilang ke tempat-tempat yang jauh dan eksotis. Pantai-pantai, pulau-pulau terdekat dari Jakarta juga cukup. Sukur-sukur kalau bisa ke Yogyakarta, Bali atau Lombok. Bahkan tanpa pergi kemana-mana pun bisa. Coffee shop yang sepi, dan baca buku sepuasnya, tanpa terganggu dering telepon atau ping BlackBerry messenger, adalah ‘me time’ yang juga berkualitas.

Karena dana liburan saya hanya cukup untuk pergi sekali setahun saja, saya harus pintar-pintar memaksimalkan sumber daya yang ada kan? Bagaimana caranya?

Pertama, matikan BlackBerry dan lakukan puasa social media sepanjang akhir pekan (Jumat malam sampai Senin pagi). Kedua, membaca buku-buku yang selama ini terbengkalai di perpustakaan pribadi di rumah, dengan target minimal selesai membaca satu buku dalam waktu satu minggu.

BlackBerry saya akhir-akhir ini kebetulan memang bermasalah terus, sampai akhirnya benar-benar rusak colokan charger dan baterenya. Setiap hari saya harus pinjam batere teman di kantor, yang harus selalu saya kembalikan sebelum pulang. Akibatnya, setiap Jumat malam, BlackBerry itu biasanya sudah mati. Tentu, sebagai konsultan humas yang siap dijangkau setiap saat, teman, rekan kerja, dan klien tetap bisa menghubungi saya lewat nomor telepon yang satu lagi (Nokia E71, untuk sms dan voice call, tanpa Whatsapp).

Menghabiskan akhir minggu tanpa BlackBerry awalnya memang setengah mati rasanya. Terputus dari informasi social media yang biasanya membanjiri otak setiap saat, tak bisa ngobrol dengan teman-teman lewat Twitter maupun BlackBerry messenger, repot kalau mau memeriksa email dari teman atau klien, dan lain-lain.

Tapi, setelah sehari berlalu tanpa BlackBerry, dan setelah terbiasa puasa social media, ritme hidup saya perlahan-lahan kembali normal. Buku-buku di rumah mulai tampak menarik dan menggoda untuk dibaca. DVD yang berserakan di ruang tamu satu-persatu saya putar dan tonton ulang.

Hasilnya? Selama sebulan ini saya berhasil menyelesaikan membaca beberapa buku, di antaranya, ‘A Farewell to Arms’ dari Ernest Hemingway, ‘Dance Dance Dance’ dan ‘Blind Willow Sleeping Woman’ dari Haruki Murakami, serta membaca minimal satu cerita pendek dari penulis lainnya (Paul Theroux, Truman Capote, dll) setiap hari. Prestasi yang lumayan untuk ukuran pekerja sok sibuk seperti saya.

Sekarang saya sedang berusaha menyelesaikan ‘On the Road’ dari Jack Kerouac. Setelah delapan bulan, saya yakin akhir minggu depan buku sialan ini sudah habis saya baca.

Teman-teman di kantor banyak yang bertanya, bagaimana cara mencari waktu untuk membaca? Ternyata gampang caranya. Buku-buku tadi saya baca di rumah sepulang kerja (cukup satu jam setiap malam), atau di kantor saat makan siang (setengah jam, dengan resiko jadi orang yang antisosial, hehehe), atau sepanjang perjalanan menuju dan pulang dari kantor di atas bus TransJakarta (setengah sampai satu jam, yang penting kalau membaca di TransJakarta harus sambil berdiri di dekat pintu belakang, agar tubuh kita bisa menyesuaikan diri dengan goncangan).

Memang, ‘me time’ saya pasti berbeda dengan ‘me time’ orang lainnya. Agak terlalu nerdy, karena ujung-ujungnya buku lagi buku lagi. Well, that’s me. How about you?

Jakarta Kota (Darurat) Bahari?

with 14 comments

Baru dua minggu yang lalu saya menulis tentang Jakarta yang makin amburadul gara-gara banjir (maaf Fauzi Bowo, saya menolak menyebutnya sebagai ‘genangan’) dan kemacetan lalu-lintas. Sore ini, lagi-lagi saya harus ‘berenang’ menyeberangi ‘sungai’ Adityawarman di depan Recapital Building, untuk menyelamatkan Xenia tercinta dari bahaya tenggelam.

Walaupun sudah mengganti boots kesayangan dengan boots tua yang disiapkan untuk kondisi darurat seperti ini, saya kaget juga waktu nyemplung ke ‘sungai’ itu dan menyadari bahwa tinggi air sudah melewati lutut saya. Sambil berjalan pelan-pelan, di kiri-kanan terlihat mobil-mobil yang berebut melarikan diri dari banjir. Keputusan saya beberapa bulan lalu untuk beli mobil tipe minibus memang tepat. Bayangkan, air sudah menenggelamkan ban mobil saya. Lha kalo Xenia yang tinggi aja udah hampir kelelep, gimana nasibnya mobil sedan?

Foto karya Arief Rakhmadani, http://ariefr.tumblr.com

Sore ini saya menghabiskan waktu lebih dari dua jam untuk ngabur dari Adityawarman dan mengungsi di tempat parkir Pasaraya Blok M. Saya nggak berani memaksakan mobil untuk menyeberang jalan yang banjirnya makin tinggi, dari depan PLN ke Recapital. Lantai di bawah kursi pengemudi memang sempat tergenang air (gara-gara buka pintu sesaat dan ada mobil lewat mengirim gelombang air sialan), tapi mobil saya sejauh ini baik-baik saja. Siap-siap keluar uang lumayan banyak untuk mengeringkan karpet di bengkel, tapi nggak sampai mogok seperti beberapa mobil lainnya.

Selama menunggu banjir surut dan macet agak mereda, sendirian kedinginan di tempat parkir Pasaraya, saya menyibukkan diri dengan Twitter. Lucu-lucu mengenaskan benar tweet warga Jakarta yang kerepotan dengan banjir dan macet ini. Nggak heran juga kalau sang Gubernur jadi sasaran makian warga yang kesal ibukota negara ini makin amburadul.

Daripada capek mengeluh, mungkin lebih baik warga Jakarta bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuk. Beberapa waktu lalu saya sempat baca artikel (lupa dari koran apa) yang meramalkan Jakarta akan tenggelam beberapa puluh tahun lagi, karena permukaan tanah kota ini terus-menerus turun akibat air tanah yang berkurang dan karena sebab-sebab lainnya. Agaknya, sebelum Jakarta tenggelam, akan ada banyak bencana yang mampir menghampiri warganya. Mulai dari banjir, tanah ambles, sampai kegagalan transportasi yang tak terobati.

Karena kita cinta Jakarta dan enggan pindah dari sini, yuk kita bangun rumah tinggi-tinggi, beli mobil tipe minibus atau SUV, dan siapkan perbekalan (pakaian, makanan, minuman, batere cadangan, dll) di mobil dan kantor untuk saat-saat darurat. Sukur-sukur bisa cepat kaya agar mampu beli Humvee. Ayo kita bangun sebanyak-banyaknya shopping mall, gedung perkantoran, dan apartemen. Lebih bagus lagi kalau semua gedung di Jakarta bisa terhubung satu sama lain, agar warganya tak perlu keluar gedung. Cukup jalan kaki atau naik sepeda (mungkin mobil listrik?) dari gedung ke gedung.

Saya membayangkan dari rumah di Perumnas Tanah Abang, jalan kaki (di udara terbuka), masuk ke Grand Indonesia atau Plaza Indonesia, dan dari sana langsung ke kantor di daerah Blok M. Bisa jalan kaki di koridor-koridor ber-AC, atau naik mobil listrik. Seperti di film Blade Runner, Akira, atau film-film fiksi ilmiah lainnya.

Mari kita menuju Jakarta, Kota (Darurat) Bahari! 🙂

Berikut screen captures dari Twitter updates milik Daniel Giovanni, Thomas Arie, Budiono Darsono, Akmal Nasery Basral, Gandrasta, dan Dimas Novriandi yang saya rasa cukup menggambarkan suasana hati orang-orang di timeline saya saat itu. Ada lebih banyak lagi foto-foto banjir dan makian-makian buat Foke. Untuk saat ini, cukup yang lucu-lucu saja. Ada juga foto dari Merdeka Coffee, Kemang, yang kebanjiran cukup parah.

*judul blog post ini meminjam tweet Thomas Arie yang nampol bener rasanya 🙂

BlackBerry Break & Friends You Haven’t Met

with 9 comments

Digirangers di kantor saya sekarang punya kebiasaan baru, BlackBerry Break atau BB Break, yaitu jeda satu menit dalam rapat internal. Istirahat satu menit ini diberikan untuk mereka yang ingin memeriksa BlackBerry-nya. Mulai dari menjawab email mendesak dari klien, memuaskan kehausan eksistensi terhadap mention atau retweet di Twitter, melihat gambar NSFW terbaru di BBM group dari teman-teman SD, atau sekedar melakukan aktifitas yang oh so last decade seperti membaca dan mengirim SMS.

Pemberlakuan BB Break ini bertujuan agar kami tidak perlu merasa bersalah karena sedikit-sedikit melirik layar BB, atau (lebih parah lagi) terus-menerus memeriksa/membaca/memegang BB sepanjang rapat tanpa peduli siapa yang sedang berbicara. Awalnya kami merasa aneh (walaupun tetap ketawa-ketawa sambil ngecek BB) saat kebijakan baru ini pertama kali diterapkan secara spontan oleh Pak Bos Nanda beberapa minggu lalu. Belakangan, saya merasa ini langkah yang masuk akal. Paling tidak, untuk rapat-rapat internal.

Sebagian orang mungkin merasa langkah ini sedikit kelewatan. BlackBerry Break? Yang bener aja? Get a life.

Well, this is life. Hidup di jaman ini, dengan lingkungan pergaulan saya saat ini, adalah hidup yang terputus-putus oleh gangguan dan hantaman informasi dari luar. Apakah ini akan menjadi masalah atau tidak, tergantung pilihan kita. Ketika kebiasaan ini sudah dianggap sebagai masalah (seperti rapat yang tidak fokus karena pesertanya sibuk ngecek BB), langkah pertama yang harus diambil adalah mengakui masalah itu ada, dan kemudian mencari solusinya.

Untuk saat ini, solusinya adalah BlackBerry Break.

Sibuk Konsumsi Lupa Menikmati

Setiap hari, ada ratusan entri informasi di Google Reader yang tak sempat terbaca. Belum lagi puluhan link menarik yang saya dapat dari timeline Twitter, dan ini masih ditambah dengan newsfeed di halaman home Facebook. Sekian banyak informasi yang datang, sayangnya hanya sedikit waktu dan perhatian yang tersedia. Seperti yang terjadi semalam. Sebelum pulang kantor, berkat usaha keras menulikan diri dan membutakan mata terhadap distraction di sekeliling saya, sebuah artikel lama di New York Magazine (tentang manusia modern jaman sekarang yang hidupnya penuh distraction dan information overload) akhirnya selesai saya baca. Jangan tanya apa nasib puluhan buku di kamar saya yang belum sempat dibaca.

Apapun itu namanya, kecenderungan untuk terus-menerus memeriksa BlackBerry (atau apapun merek smartphone yang kita miliki) pada saat saya seharusnya melakukan hal-hal lain yang mungkin jauh lebih penting, adalah salah satu konsekuensi budaya digital yang belakangan ini semakin dalam merasuki kehidupan saya. Ketika hidup jadi terpusat pada hal-hal yang ‘terjadi di’ atau ‘hadir melalui’ perangkat digital, dan bukannya terhubung kepada apa yang terjadi saat ini di tempat saya berada, saat itulah alarm “GILA LU YE!” di otak saya berteriak sekuat-kuatnya.

Alarm ini berulang-ulang menyala setiap kali saya latihan di pusat kebugaran Fitness First Platinum, di One Pacific Place atau di Grand Indonesia. Sekedar informasi (tanpa bermasuk menambah information overload bagi Anda, sang pembaca), pengunjung yang datang ke tempat-tempat itu akan disambut oleh beberapa slogan, di antaranya adalah, “There are no strangers, only friends you haven’t met”.

Nah, setelah hampir 3 bulan berolahraga di sana, saya merasa mereka yang datang ke sana sendirian akan sulit untuk “meet friends they haven’t met”, karena sebagian besar orang di sana datang dan pergi dalam gelembung semesta pribadi yang tertutup dari penetrasi dunia luar. Mereka, termasuk saya, berlatih dengan tetap menenteng smartphone atau iPod masing-masing. Di sela-sela latihan, sambil mendengarkan musik dari iPod, kami sibuk memeriksa pesan atau tweet terbaru di smartphone kami.

Apa sih yang penting banget sampai saya (dan para ‘pecandu’ digital lainnya) harus selalu mengecek update terbaru? Karena saya adalah anggota ‘kaum berdosa’ tersebut, saya akan coba membuat daftar tentang apa saja yang kira-kira membuat saya harus mengecek BB di sela-sela latihan:

  1. Cek email kantor
  2. Cek Twitter, lihat ada reply, mention atau retweet
  3. Cek Twitter, lihat @infoll, mengira-ngira rute terbaik saat pulang
  4. Cek Twitter, lihat timeline, ada gosip terbaru apa hari ini?
  5. Cek Facebook, ada notification apa?
  6. Cek BB message
  7. Cek SMS

Astaga. Membaca daftar ini sudah cukup bikin saya merasa tenggelam dalam information overload.

Sibuk Dokumentasi Lupa Menikmati

Seminggu yang lalu, salah satu topik yang ramai dibahas di timeline saya adalah Java Rocking Land. Dari ratusan tweet tentang musisi yang tampil, cuaca yang tak bersahabat, dan jalanan menuju Ancol yang macet menggila, ada 2 tweet yang menarik perhatian saya, yang datang dari account milik seorang teman, Leo :

Membaca tweet tersebut, saya jadi teringat pemandangan di Java Jazz beberapa tahun lalu (mungkin 2008?), saat saya menonton Level 42 dari deretan bangku-bangku atas di JCC. Selain cahaya menyilaukan yang datang dari panggung, ada kerlap-kerlip lainnya yang menarik perhatian, datang dari kerumunan penonton di depan panggung. Setelah diperhatikan, ternyata cahaya mirip kunang-kunang itu adalah ratusan cahaya layar handphone. Astaga, mereka sibuk nonton atau sibuk livetweeting/facebooking?

Lucu juga. Tenggelam dalam gelembung pribadi, tapi diiringi oleh oversharing. Seolah-olah semua yang kita lihat, pikirkan, sentuh, cicipi, dan nikmati wajib di-share ke dunia luas. Facebook, Twitter, Foursquare, dan entah apa lagi, semua menyediakan saluran bagi kita untuk mengumumkan apa yang sedang terjadi saat ini dalam gelembung pribadi kita. Kita harus terus-menerus menjawab pertanyaan “What’s Happening?” yang dilontarkan Twitter.

Saya termasuk yang banyak menumpuk dosa dalam hal oversharing. Daftar dosa saya untuk soal over-sharing ini panjang sekali, dan saya nggak heran kalau kemudian banyak teman yang capek baca timeline saya dan memutuskan untuk unfollow saya.Dua tahun lalu saat mulai aktif menggunakan Twitter, baik untuk urusan pekerjaan maupun pribadi, semua yang saya lihat-tonton-dengar-alami rasanya harus segera di-share dengan seluruh dunia. Saya sibuk livetweet di tengah-tengah konser musik, mengomentari adegan-adegan film dan bertanya ke teman-teman di timeline tentang film yang sedang saya tonton di DVD, dan mengumumkan melalui Twitter topik pembicaraan saya dan teman-teman saat kami sedang kopdar. Ehbuset. Kalau sedang kopdar aja malah sibuk online, what’s the point?

Seperti yang diungkapkan Agatha dalam tulisannya, ‘Ngobrol Langsung atau Via Twitter?’:

Buat saya, waktu di mana saya bertemu secara langsung dengan teman-teman adalah kesempatan yang mestinya dimanfaatkan untuk bisa berbincang dengan mereka. Secara langsung, tanpa diantarai oleh media apapun. Kami bisa membincangkan apapun –hanya di antara kami– tanpa perlu ‘didengar’ oleh orang lain, seperti halnya jika kami saling berbalas tweet di Twitter. Kami bisa saling bertukar cerita tentang sesuatu yang sama-sama kami tahu.

Untuk saat ini, solusi berupa BlackBery Break dan upaya keras untuk bayar hutang baca 2 buku sebulan sudah cukup buat saya. Beberapa video berikut ini juga cukup manjur jadi pengingat, agar jangan sampai terlalu lama keasyikan dengan dunia digital, lalu lupa menikmati hidup. Remember, there are friends out there that you haven’t met!

April iPad Fool’s Day

with one comment

Tepat setahun lalu, saat saya baru saja mulai terjun ke dunia social media secara profesional (sebelumnya cuma buat main-main aja), dengan polosnya saya terjebak dalam April Fool’s Day gaya social media. Hari itu, 1 April 2009, tiba-tiba beredar link dan pesan di timeline saya (tentu saja yang menyebarkan orang-orang yang saya kenal), yang menyatakan bahwa Twitter versi profesional baru saja diluncurkan. Setelah meng-klik link tersebut, dan mengikuti langkah-langkah yang ditentukan, dalam waktu singkat foto profil Twitter saya berubah, dengan tambahan banner ‘pro’ di pojok kiri bawah.

A newbie and a fool.

Bukan hanya saya yang melakukan itu. Banyak teman-teman di timeline yang juga mengikuti langkah serupa, dan dalam waktu singkat saya lihat ada banyak foto profil yang menggunakan banner ‘pro’. Belakangan saya diberitahu bahwa ‘Twitter pro’ itu hanyalah lelucon April Fool’s Day. Hahaha. Semalam, Valent mengingatkan saya tentang kejadian sialan itu.

Siang ini, saat saya sedang pusing-pusingnya menyusun proposal untuk klien, Arief mendadak datang ke pojokan digiranger kami, dan mengajak saya, Deden dan Yoshi untuk membuat lelucon April Fool’s Day lewat Twitter. Kami setuju, dan langsung minta bantuan Feri dan Ali. Ini hasilnya:

Maaf ya teman-teman yang terlanjur percaya dan turut berbahagia atas hadirnya sang iPad. Happy April Fool’s Day 🙂

Written by Waraney Rawung

April 1, 2010 at 11:48 AM

A Social Media Geek With No Social Life

with 10 comments

This is what's going to happen if you're spending too much time hugging PCs and laptops accompanied by action figures.

This is what's going to happen if you're spending too much time hugging PCs and laptops accompanied by action figures.

Digital team di kantor saya baru saja dapat pemberitahuan bahwa proposal kami diterima oleh klien. Another great win! Tapi di sela-sela chest-bumping dan teenage-celebrity-dancing yang berlangsung di pojokan kantor, terlintas pikiran bahwa akan makin banyak waktu yang dihabiskan di kantor sampai larut malam.

Saya sih nggak keberatan.

I’m doing what I like and getting paid very well for it. Life is good!

Nggak tahu kenapa, saya tiba-tiba teringat patung Gundam di Odaiba, Tokyo, yang saya lihat dari posting Danny Choo di blog-nya. Buat saya patung tersebut dan seluruh lapisan subculture geek dan otaku yang melingkupinya adalah sumber inspirasi buat mimpi-mimpi saya. Baik secara pribadi maupun sebagai seorang profesional.

Senada dengan tweet yang hari ini ditulis teman saya, Iskandar, yang mengutip lirik lagu Souljah:

Iskandar's tweet quoting Souljah's lyric


DigiBoyz minus @ariefr who was stuck in a meeting.

DigiBoyz minus @ariefr who was stuck in a meeting.


IndoPacific Edelman Digital Team minus Arief Rakhmadani (@ariefr)

IndoPacific Edelman Digital Team minus Arief Rakhmadani (@ariefr)

A toast to social media geeks with no social life! 🙂


Written by Waraney Rawung

August 14, 2009 at 7:13 AM

Marshanda, Markentong, dan Marji’ah

with 10 comments

Marshanda sedang jadi topik pembicaraan seru di Twitter (dan social media sites lainnya) beberapa hari ini, walaupun belum sampai jadi trending topics. Aktris dan penyanyi muda ini bikin heboh gara-gara video di YouTube, dimana ia menyanyi, lompat-lompat, menari-nari, dan ketawa-ketawa sendiri sambil meledek beberapa teman sekolahnya dulu.

Picture 5

Sekarang video itu sudah tak ada lagi di account Marshanda. Namun kita masih bisa menonton copy-nya di sini (UPDATE: maaf temans, linknya saya hapus. Setuju sama Pitra. Kasihan sama pemiliknya. Kalau mau cari, Google aje!). Namanya juga dunia online, sekali masuk susah keluar (seperti cerita seram jaman dulu, tentang pasangan yang bercinta di kuburan…hehehe, ngelantur!).

Komentar-komentar yang berhamburan di halaman account YouTube Marshanda dan account si pelaku reposting, serta di Twitter search, umumnya kejam-kejam. Ia dituduh mabok, stress, kesurupan, sampai cari sensasi. Seorang teman bahkan sempat menyangka bahwa video tersebut adalah bagian dari strategi viral marketing untuk mempromosikan sinetron terbaru aktris ini.

Marshanda di Twitter search

Saya sendiri menganggap video tersebut lucu-lucu aja. Memang orangnya juga lucu. Hehehe. But really, she’s just acting like a teenager. Bukannya mau pukul rata bahwa remaja pada umumnya memang clueless begitu, tapi kalau dipikir-pikir, kehebohan ini muncul hanya karena pelakunya punya status selebriti. Coba yang bikin video macam itu teman kita atau a nobody seperti saya. Paling-paling yang nonton cekikikan sebentar, lalu share di Twitter dan Facebook supaya bisa ketawa rame-rame.

Selain video yang bikin heboh itu, ada video-video lain yang agaknya di-upload Marshanda selama kurun waktu yang kurang lebih sama (satu minggu). Semuanya menampilkan dirinya sedang menyanyi dan bergaya macam-macam. Ada yang solo, ada juga yang trio dengan beberapa teman. Bukan sesuatu yang luar biasa juga, dan sama sekali bukan sesuatu yang pantas mendapatkan komentar negatif dan caci maki. Semua video ini sudah dihapus, dan yang tertinggal hanya tiga video ‘standar.’

Buat saya, tak ada yang salah dengan kelakuan Marshanda joget-joget dan nyanyi-nyanyi fals di depan umum. Yang jadi masalah cuma statusnya sebagai selebriti. Tapi mungkin tak ada salahnya dia pikir-pikir dulu sebelum posting. Karena seperti yang dibilang Pitra, bisa-bisa dia dituntut oleh teman-temannya yang diledek di video itu.

Lain kali Marshanda harus konsultasi dulu ke teman saya, Yoshi Febrianto, yang jago bikin video lucu. Belum lama ini seri video “Tulisanmu Puisiku” buatannya (yang katanya sudah diedit) menjadi salah satu video yang ditampilkan di festival OK Video “Comedy”. Kalau tak salah, seri video ini aslinya dibuat dadakan (dengan sang istri sebagai pemanggul kamera) saat kesal menunggu anak-anak BungaMatahari yang datang ngaret ke Kebun Raya Bogor untuk acara KebunKata “KebunRaya.”

Marshanda (dan saya juga!) bisa belajar banyak dari Yoshi soal kreativitas.

Sekarang coba lihat video “Response to Marshanda Nangis 3: Markentong dan Marji’ah Nangis”. Saya dan beberapa teman terpingkal-pingkal saat menontonnya. Waktu saya pertama menontonnya, hanya ada ratusan views, dan sekarang sudah mencapai lebih dari 4000 views. Efek word of mouth di dunia online memang mantap!

Viral effect macam ini habis-habisan diidamkan online marketers dan public relations consultants. Banyak yang mengejarnya, hanya sedikit yang berhasil mencapainya. Resepnya memang susah-susah gampang. Buat content yang sederhana tapi menarik, yang bisa membuat orang nonton berkali-kali dan mendorong kita menyebarkan link-nya kemana-mana. As simple as that, but easier said than done.

Response to Marshanda Nangis 3: Markentong dan Marji'ah Nangis

Baca juga:

Marshanda Pecas Ndahe – Ndoro Kakung

Marshanda di YouTube? – Media Ide

Would you date this Marshanda girl? – unspun

Good Girls Go Bad – Insomniac Lolita