duniahitam

tentang hidup yang terkekang

Posts Tagged ‘social media

Ada Puisi dan Instagram di KebunKata “Jepret”, 24 Maret 2012!

with 4 comments

kota ini kembang api, kembang desa semanis gulali
dan aku ingin mencintainya dengan segenggam tipsy
semangkuk bakmi sepanjang pagi
dihantam hang over, yang tak kunjung let it be.

Photo by @dumpyeng.

 

 

Halo para penyair one-liner di Twitter dan jagat raya social media! Komunitas Puisi BungaMatahari akan mengadakan KebunKata “Jepret” pada tanggal 24 Maret 2012, pukul 14:00-17:00 WIB, di tempat yang sampai saat ini masih dirahasiakan.

KebunKata โ€œJepretโ€ akan turut diramaikan oleh partisipasi teman-teman dari Komunitas iPhonesia. Dari tanggal 5 sampai 15 Maret 2012, mereka akan memilih puisi-puisi di Twitter yang mencantumkan hashtag #buma, dan membuatkan versi instagram dari puisi-puisi yang terpilih. Hasilnya akan dipamerkan dalam acara KebunKata “Jepret”.

Selain pameran instagram dan puisi, juga akan ada acara pembacaan puisi, permainan puisi, musikalisasi puisi, dan curcol puisi. Arena bermain yang benar-benar menyenangkan buat kamu yang baru jatuh hati, patah hati, atau sudah tak punya hati lagi!

 

Photo by @dumpyeng.

 

 

Photo by @prassprasetio.

Advertisements

Written by Waraney Rawung

March 6, 2012 at 4:30 PM

Seminggu Satu Buku & Puasa Social Media

with 3 comments

“Get yourself a ‘me time’. Go and disappear. Turn off your phones.” Itu nasehat dari Mayang, teman lama yang juga rekan kerja sekantor, kepada saya setahun lalu. Saat itu beban pekerjaan dan masalah pribadi yang berat membuat saya stress dan sakit-sakitan.

Menurut Mayang, mendapatkan ‘me time’ yang berkualitas itu nggak perlu dengan menghilang ke tempat-tempat yang jauh dan eksotis. Pantai-pantai, pulau-pulau terdekat dari Jakarta juga cukup. Sukur-sukur kalau bisa ke Yogyakarta, Bali atau Lombok. Bahkan tanpa pergi kemana-mana pun bisa. Coffee shop yang sepi, dan baca buku sepuasnya, tanpa terganggu dering telepon atau ping BlackBerry messenger, adalah ‘me time’ yang juga berkualitas.

Karena dana liburan saya hanya cukup untuk pergi sekali setahun saja, saya harus pintar-pintar memaksimalkan sumber daya yang ada kan? Bagaimana caranya?

Pertama, matikan BlackBerry dan lakukan puasa social media sepanjang akhir pekan (Jumat malam sampai Senin pagi). Kedua, membaca buku-buku yang selama ini terbengkalai di perpustakaan pribadi di rumah, dengan target minimal selesai membaca satu buku dalam waktu satu minggu.

BlackBerry saya akhir-akhir ini kebetulan memang bermasalah terus, sampai akhirnya benar-benar rusak colokan charger dan baterenya. Setiap hari saya harus pinjam batere teman di kantor, yang harus selalu saya kembalikan sebelum pulang. Akibatnya, setiap Jumat malam, BlackBerry itu biasanya sudah mati. Tentu, sebagai konsultan humas yang siap dijangkau setiap saat, teman, rekan kerja, dan klien tetap bisa menghubungi saya lewat nomor telepon yang satu lagi (Nokia E71, untuk sms dan voice call, tanpa Whatsapp).

Menghabiskan akhir minggu tanpa BlackBerry awalnya memang setengah mati rasanya. Terputus dari informasi social media yang biasanya membanjiri otak setiap saat, tak bisa ngobrol dengan teman-teman lewat Twitter maupun BlackBerry messenger, repot kalau mau memeriksa email dari teman atau klien, dan lain-lain.

Tapi, setelah sehari berlalu tanpa BlackBerry, dan setelah terbiasa puasa social media, ritme hidup saya perlahan-lahan kembali normal. Buku-buku di rumah mulai tampak menarik dan menggoda untuk dibaca. DVD yang berserakan di ruang tamu satu-persatu saya putar dan tonton ulang.

Hasilnya? Selama sebulan ini saya berhasil menyelesaikan membaca beberapa buku, di antaranya, ‘A Farewell to Arms’ dari Ernest Hemingway, ‘Dance Dance Dance’ dan ‘Blind Willow Sleeping Woman’ dari Haruki Murakami, serta membaca minimal satu cerita pendek dari penulis lainnya (Paul Theroux, Truman Capote, dll) setiap hari. Prestasi yang lumayan untuk ukuran pekerja sok sibuk seperti saya.

Sekarang saya sedang berusaha menyelesaikan ‘On the Road’ dari Jack Kerouac. Setelah delapan bulan, saya yakin akhir minggu depan buku sialan ini sudah habis saya baca.

Teman-teman di kantor banyak yang bertanya, bagaimana cara mencari waktu untuk membaca? Ternyata gampang caranya. Buku-buku tadi saya baca di rumah sepulang kerja (cukup satu jam setiap malam), atau di kantor saat makan siang (setengah jam, dengan resiko jadi orang yang antisosial, hehehe), atau sepanjang perjalanan menuju dan pulang dari kantor di atas bus TransJakarta (setengah sampai satu jam, yang penting kalau membaca di TransJakarta harus sambil berdiri di dekat pintu belakang, agar tubuh kita bisa menyesuaikan diri dengan goncangan).

Memang, ‘me time’ saya pasti berbeda dengan ‘me time’ orang lainnya. Agak terlalu nerdy, karena ujung-ujungnya buku lagi buku lagi. Well, that’s me. How about you?

April iPad Fool’s Day

with one comment

Tepat setahun lalu, saat saya baru saja mulai terjun ke dunia social media secara profesional (sebelumnya cuma buat main-main aja), dengan polosnya saya terjebak dalam April Fool’s Day gaya social media. Hari itu, 1 April 2009, tiba-tiba beredar link dan pesan di timeline saya (tentu saja yang menyebarkan orang-orang yang saya kenal), yang menyatakan bahwa Twitter versi profesional baru saja diluncurkan. Setelah meng-klik link tersebut, dan mengikuti langkah-langkah yang ditentukan, dalam waktu singkat foto profil Twitter saya berubah, dengan tambahan banner ‘pro’ di pojok kiri bawah.

A newbie and a fool.

Bukan hanya saya yang melakukan itu. Banyak teman-teman di timeline yang juga mengikuti langkah serupa, dan dalam waktu singkat saya lihat ada banyak foto profil yang menggunakan banner ‘pro’. Belakangan saya diberitahu bahwa ‘Twitter pro’ itu hanyalah lelucon April Fool’s Day. Hahaha. Semalam, Valent mengingatkan saya tentang kejadian sialan itu.

Siang ini, saat saya sedang pusing-pusingnya menyusun proposal untuk klien, Arief mendadak datang ke pojokan digiranger kami, dan mengajak saya, Deden dan Yoshi untuk membuat lelucon April Fool’s Day lewat Twitter. Kami setuju, dan langsung minta bantuan Feri dan Ali. Ini hasilnya:

Maaf ya teman-teman yang terlanjur percaya dan turut berbahagia atas hadirnya sang iPad. Happy April Fool’s Day ๐Ÿ™‚

Written by Waraney Rawung

April 1, 2010 at 11:48 AM

A Social Media Geek With No Social Life

with 10 comments

This is what's going to happen if you're spending too much time hugging PCs and laptops accompanied by action figures.

This is what's going to happen if you're spending too much time hugging PCs and laptops accompanied by action figures.

Digital team di kantor saya baru saja dapat pemberitahuan bahwa proposal kami diterima oleh klien. Another great win! Tapi di sela-sela chest-bumping dan teenage-celebrity-dancing yang berlangsung di pojokan kantor, terlintas pikiran bahwa akan makin banyak waktu yang dihabiskan di kantor sampai larut malam.

Saya sih nggak keberatan.

I’m doing what I like and getting paid very well for it. Life is good!

Nggak tahu kenapa, saya tiba-tiba teringat patung Gundam di Odaiba, Tokyo, yang saya lihat dari posting Danny Choo di blog-nya. Buat saya patung tersebut dan seluruh lapisan subculture geek dan otaku yang melingkupinya adalah sumber inspirasi buat mimpi-mimpi saya. Baik secara pribadi maupun sebagai seorang profesional.

Senada dengan tweet yang hari ini ditulis teman saya, Iskandar, yang mengutip lirik lagu Souljah:

Iskandar's tweet quoting Souljah's lyric


DigiBoyz minus @ariefr who was stuck in a meeting.

DigiBoyz minus @ariefr who was stuck in a meeting.


IndoPacific Edelman Digital Team minus Arief Rakhmadani (@ariefr)

IndoPacific Edelman Digital Team minus Arief Rakhmadani (@ariefr)

A toast to social media geeks with no social life! ๐Ÿ™‚


Written by Waraney Rawung

August 14, 2009 at 7:13 AM

Marshanda, Markentong, dan Marji’ah

with 10 comments

Marshanda sedang jadi topik pembicaraan seru di Twitter (dan social media sites lainnya) beberapa hari ini, walaupun belum sampai jadi trending topics. Aktris dan penyanyi muda ini bikin heboh gara-gara video di YouTube, dimana ia menyanyi, lompat-lompat, menari-nari, dan ketawa-ketawa sendiri sambil meledek beberapa teman sekolahnya dulu.

Picture 5

Sekarang video itu sudah tak ada lagi di account Marshanda. Namun kita masih bisa menonton copy-nya di sini (UPDATE: maaf temans, linknya saya hapus. Setuju sama Pitra. Kasihan sama pemiliknya. Kalau mau cari, Google aje!). Namanya juga dunia online, sekali masuk susah keluar (seperti cerita seram jaman dulu, tentang pasangan yang bercinta di kuburan…hehehe, ngelantur!).

Komentar-komentar yang berhamburan di halaman account YouTube Marshanda dan account si pelaku reposting, serta di Twitter search, umumnya kejam-kejam. Ia dituduh mabok, stress, kesurupan, sampai cari sensasi. Seorang teman bahkan sempat menyangka bahwa video tersebut adalah bagian dari strategi viral marketing untuk mempromosikan sinetron terbaru aktris ini.

Marshanda di Twitter search

Saya sendiri menganggap video tersebut lucu-lucu aja. Memang orangnya juga lucu. Hehehe. But really, she’s just acting like a teenager. Bukannya mau pukul rata bahwa remaja pada umumnya memang clueless begitu, tapi kalau dipikir-pikir, kehebohan ini muncul hanya karena pelakunya punya status selebriti. Coba yang bikin video macam itu teman kita atau a nobody seperti saya. Paling-paling yang nonton cekikikan sebentar, lalu share di Twitter dan Facebook supaya bisa ketawa rame-rame.

Selain video yang bikin heboh itu, ada video-video lain yang agaknya di-upload Marshanda selama kurun waktu yang kurang lebih sama (satu minggu). Semuanya menampilkan dirinya sedang menyanyi dan bergaya macam-macam. Ada yang solo, ada juga yang trio dengan beberapa teman. Bukan sesuatu yang luar biasa juga, dan sama sekali bukan sesuatu yang pantas mendapatkan komentar negatif dan caci maki. Semua video ini sudah dihapus, dan yang tertinggal hanya tiga video ‘standar.’

Buat saya, tak ada yang salah dengan kelakuan Marshanda joget-joget dan nyanyi-nyanyi fals di depan umum. Yang jadi masalah cuma statusnya sebagai selebriti. Tapi mungkin tak ada salahnya dia pikir-pikir dulu sebelum posting. Karena seperti yang dibilang Pitra, bisa-bisa dia dituntut oleh teman-temannya yang diledek di video itu.

Lain kali Marshanda harus konsultasi dulu ke teman saya, Yoshi Febrianto, yang jago bikin video lucu. Belum lama ini seri video “Tulisanmu Puisiku” buatannya (yang katanya sudah diedit) menjadi salah satu video yang ditampilkan di festival OK Video “Comedy”. Kalau tak salah, seri video ini aslinya dibuat dadakan (dengan sang istri sebagai pemanggul kamera) saat kesal menunggu anak-anak BungaMatahari yang datang ngaret ke Kebun Raya Bogor untuk acara KebunKata “KebunRaya.”

Marshanda (dan saya juga!) bisa belajar banyak dari Yoshi soal kreativitas.

Sekarang coba lihat video “Response to Marshanda Nangis 3: Markentong dan Marji’ah Nangis”. Saya dan beberapa teman terpingkal-pingkal saat menontonnya. Waktu saya pertama menontonnya, hanya ada ratusan views, dan sekarang sudah mencapai lebih dari 4000 views. Efek word of mouth di dunia online memang mantap!

Viral effect macam ini habis-habisan diidamkan online marketers dan public relations consultants. Banyak yang mengejarnya, hanya sedikit yang berhasil mencapainya. Resepnya memang susah-susah gampang. Buat content yang sederhana tapi menarik, yang bisa membuat orang nonton berkali-kali dan mendorong kita menyebarkan link-nya kemana-mana. As simple as that, but easier said than done.

Response to Marshanda Nangis 3: Markentong dan Marji'ah Nangis

Baca juga:

Marshanda Pecas Ndahe – Ndoro Kakung

Marshanda di YouTube? – Media Ide

Would you date this Marshanda girl? – unspun

Good Girls Go Bad – Insomniac Lolita