duniahitam

tentang hidup yang terkekang

Posts Tagged ‘mikael johani

Mabuk Puisi di KebunKata “The Act of Giting”, 30 Maret 2013!

leave a comment »

 

 

karena saat kau terjebak hujan di sore sepulang kerja

gelisah menghitung berapa sabtu siang yang tersisa

dan sampai kapan minggu sore masih akan ada

kau bertanya, “ini mabuk kok tak ada ujungnya?”

 

demi sepotong sepi yang asli

demi menit-menit yang berhenti

 

Image

 

Datang dan ramaikanlah KebunKata “The Act of Giting” bersama penyair-penyair BungaMatahari dan musisi-musisi tercinta Ibukota, hari Sabtu, 30 Maret 2013, pukul 2 siang sampai puas, di Tokove, Ruko Belle Point, Kemang Selatan 8, Jakarta Selatan.

Karena tak ada yang lebih baik daripada menghabiskan Sabtu siang dengan membaca dan menikmati puisi-puisi yang dijamin akan membuatmu mabuk dan semakin mabuk, tercekik kata-kata yang lebih manjur daripada jamur dan kue manis bercampur rumput-rumput peace.

 

 

Catatan Nyelip: BungaMatahari & KebunKata di Yogyakarta

leave a comment »

 

Menyambut ulang tahun Komunitas Puisi BungaMatahari ke-12 tanggal 19 April 2012 yang akan datang, saya akan mempublikasikan tulisan-tulisan lama tentang BuMa, sebagian darinya sudah lama tersimpan di folder komputer tercinta. Mereka sebenarnya diniatkan untuk terbit tak lama setelah acara-acara yang dibahasnya. Yang menyebabkan mereka lama hilang tak lain tak bukan adalah kemalasan, kecerobohan, dan kebodohan saya sendiri.

Ini adalah tulisan ketiga, tentang perjalanan saya dan teman-teman BuMa ke Yogyakarta. Kalau malas membaca, silakan mampir ke foto-foto lama ini saja.

Bolos Kerja Demi Yogyakarta

Bau apek yang mengingatkan kepada punggung jaket tukang ojek menghantam indera penciuman saya, sedetik setelah melangkah masuk ke dalam kereta Argo Bromo. Karpet yang menutupi lantai, lapisan kursi, dan tirai jendela kereta setengah eksekutif ini agaknya sudah lama tak ketemu sabun cuci. Pening juga membayangkan harus terbenam berjam-jam dalam bau yang super asoy itu. But hey, that’s the whole point of traveling, mate. Cari susah!

Malam itu, 18 April 2008, saya berangkat ke Yogyakarta untuk merayakan ulang tahun BungaMatahari (BuMa) yang ke-8 bersama anggota-anggota BuMa di kota pelajar itu. Anya, Mikael, Yoshi, dan Jorgi sudah lebih dulu sampai di sana. Metta tak jadi datang karena ada masalah dengan flight-nya, Danielle mungkin sudah sampai duluan, sedangkan teman-teman yang lain tak ada kabarnya. Saya pun hampir gagal berangkat, kalau nggak nekat bolos kerja, berbohong dan minta ijin sakit.

Kami beruntung karena di Yogyakarta tak perlu mengeluarkan uang untuk menginap di hotel. Gerombolan cheap bastard dari Jakarta akan menginap di rumah mertua Yoshi, di daerah Kauman yang katanya tak terlalu jauh dari stasiun.

Kereta dijadwalkan berangkat dari Jakarta, pukul 8:30 malam, dan 15 menit sebelumnya saya sudah duduk dengan manis di salah satu kursi yang berbau apek itu. Sedikit meleset dari jadwal, pukul 8:45 kereta meluncur keluar dari Stasiun Gambir. Lampu kabin yang terang-benderang membuat saya tak bisa melihat pemandangan di luar. Padahal malam hari adalah waktu yang paling ramah untuk menikmati ibukota yang tak pernah tidur, dengan lampu-lampu yang norak namun menenangkan jiwa.

Gagal cuci mata, saya pun membuka buku Harry Potter and the Deathly Hollows, mencoba melewatkan malam panjang itu dengan sedikit petualangan kata-kata dan sihir remaja. Sayang, guncangan kereta dan iklan PT KAI yang menghantam mata dan telinga tanpa henti dari televisi yang tergantung di dinding depan sukses menghancurkan konsentrasi. Setengah jam membaca sudah cukup membuat mata letih, dan akhirnya saya luruskan posisi tubuh setelah memasang earphone Nokia 6681 tercinta. Simon & Garfunkel, KT Tunstall, Sinead o’Connor, dan Nirvana memang tak pernah mengecewakan sebagai teman perjalanan.

Persiapan KebunKata Yang Sangat Oh La La

Perjalanan ini bermula dari obrolan panjang sepulang dari acara ulang tahun mailing list Apresiasi Sastra. Saya, Anya, Yoshi, Kinu dan Indah Ariani mampir ke Kentucky Fried Chicken di Ratu Plaza, Jalan Sudirman. Dari sana, setelah Jorgi dan Indah pulang, kami meneruskan tongkrongan ke Café Oh La La di Skyline Building, Jalan Thamrin. Sebelumnya, kami menurunkan Kinu di dekat stasiun Senen, karena malam itu rencananya ia pulang ke Yogyakarta. Surprise, surprise, baru saja tiba di Oh La La, kami ditelepon Kinu. Ternyata dia ketinggalan kereta. Kami ajak dia bergabung, sekalian menunggu pagi dan mengejar kereta lagi.

Salah satu hasil obrolan malam itu adalah kami ingin sekali jalan-jalan ke Yogyakarta, seperti yang waktu itu pernah kami lakukan di Bandung. Saya masih penasaran ingin datang ke acara Live Poets Society, tapi sayangnya acara itu ternyata sudah beberapa lama tidak diadakan lagi. Kalau begitu, kenapa bukan BuMa saja yang buat acara di sana? Kan ulang tahun BuMa sebentar lagi? Ini alasan yang cukup tepat buat kami, selain alasan ingin jalan-jalan, tentunya.

Selepas malam itu, ide ini kemudian disampaikan ke beberapa teman, baik yang di Jakarta maupun Yogyakarta. Entah bagaimana awalnya, Maria Ingrid (nickname-nya di milis, ‘malaikat kecil’) kemudian menjadi semacam ketua panitianya. Kami pun rajin berbalas email dengannya, mengikuti perkembangan perencanaan dan pelaksanaan acara KebunKata di Yogyakarta.

Spontanitas teman-teman BuMa di Yogyakarta mengingatkan saya kepada teman-teman di Bandung, yang sukses membuat KebunKata ‘Lautan Kata’. Mereka tak hanya bisa melempar ide, tapi juga cekatan melaksanakannya. Dua tahun lalu, tak lama setelah meluncurkan Antologi BungaMatahari, yang ada di pikiran kami para moderator dan panitia penerbitan buku hanyalah apa yang bisa kami lakukan untuk mempromosikan buku tersebut sebaik-baiknya. Setelah berkutat dengan proses kurasi, editing, pencarian penerbit, negosiasi dengan penerbit, persiapan acara peluncuran di Aksara Kemang, dan promosi kiri-kanan atas-bawah, energi kami saat itu benar-benar terkuras. Gerak cepat dan inisiatif teman-teman di Bandung memungkinkan KebunKata Bandung Lautan Kata dan acara-acara lainnya saat itu dapat terlaksana dengan baik dan lancar.

Selama ini para penggiat BuMa selalu menekankan bahwa siapa pun bisa dan boleh mengadakan acara KebunKata. Tak harus diadakan di Jakarta, bisa di Bandung, Yogyakarta, atau kota-kota lainnya. Tak perlu dipikirkan apakah Anya dan Danar sebagai sebagai pendiri komunitas ini serta para moderator dan penggiat BuMa lainnya (terutama yang di Jakarta) bisa datang ke acara di kota-kota lainnya atau tidak. Yang penting anggota BuMa di kota yang bersangkutan mau, dan bisa, berkumpul untuk bersenang-senang berpuisi. Kalaupun setelah mereka berkumpul, ternyata niat untuk berpuisi hilang digantikan keinginan ngobrol-ngobrol atau ketawa-ketawa belaka, apa salahnya?

Halo, Yogya!

Beberapa jam tidur tak nyenyak, beberapa mimpi yang terputus, dan selaksa guncangan kecil, akhirnya saya sampai juga di Stasiun Tugu, Yogyakarta.

Saya tak langsung berangkat ke rumah Yoshi, tapi duduk-duduk dulu menghilangkan lapar dan haus dengan rotiboy dan air mineral, selama sekitar 15 menit di ruang tunggu stasiun. Nggak setiap hari bisa nongkrong di Stasiun Tugu jam 5 pagi begini, menikmati suasana subuh yang sejuk ini, menebak-nebak apa yang dipikirkan wajah-wajah mengantuk di sekeliling saya, sambil mencari inspirasi dari kursi-kursi kayu, dan udara yang abu-abu sebentar lagi menyerah pada waktu.

Menurut Yoshi, ongkos becak dari stasiun ke rumahnya di Gerjen, atau Nyai Ahmad Dahlan, hanya sepuluh ribu rupiah. Tapi abang becak yang saya hampiri berkeras pada angka duabelas ribu. Ya sudahlah, memang ongkos subuh pasti beda dengan siang hari. Ekstra dua ribu itu tak ada artinya dengan suasana Yogya di gelap pagi yang sepi itu.

Terakhir saya datang ke kota ini tahun 1996, sepulang mengantar teman yang masuk Akademi Kepolisian di Semarang. Sekilas, tampaknya tak terlalu banyak yang berubah. Mungkin karena Malioboro yang kosong melompong dan lampu-lampu jalanan yang seperti barisan lilin membawa kesan romantis seperti adegan-adegan film lama. Di beberapa sudut jalan ada satu-dua orang tidur bersandar dinding beralas trotoar. Mungkin pengamen-pengamen Malioboro yang terkenal dan menjadi obyek lagu itu, atau anak muda yang malas pulang ke rumah orang tua.

Yoshi sudah menunggu di mulut jalan kecil yang mengarah ke rumahnya. Wajahnya mengantuk dan sarungnya agak miring. “Nggak susah kan, nyarinya?” sambutnya saat saya turun dari becak. “Gampang,” jawab saya sok tahu. Padahal kalau dia tak menunggu di depan jalan, saya pasti harus sedikit nyasar sebelum menemukan rumahnya.

Di dalam saya langsung menemukan Mikael terkapar di lantai ruang belakang, hanya beralaskan tikar. Saya tendang pantatnya, dan dia membuka mata yang lengket dengan belek, “Hei, baru nyampe lo?” ucapnya ngantuk. Saya melongok ke kamar depan dan melihat Anya yang tidur nyenyak. “Hooooi bangun, katanya mau tidur?”saya teriak. Anya cuma membuka sebelah matanya, mengomel pendek, “Aaaah diem!” lalu terus tidur lagi.

Saya masih mengantuk, tapi jauh-jauh ke Yogya tentunya bukan untuk tidur saja? Yoshi juga masih ngantuk, tapi sama seperti saya, agaknya ia tak terlalu berselera untuk melanjutkan tidur. Kami pun ngobrol-ngobrol.

Dia cerita, semalam mereka jalan-jalan sama Saut Situmorang. Ada beberapa kejadian lucu, yang terlalu panjang kalau saya ceritakan di sini. Yoshi juga menunjukkan foto-foto mereka saat hang out sama cyborg yang satu itu. Damn it! Harusnya saya ‘ijin sakit’ lebih lama!

Capek ngobrol, saya dan Yoshi lalu pergi ke stasiun untuk memesan tiket pulang tanggal 20 April, 2008. Saat itu sekitar pukul 6 pagi, matahari sudah cerah bersinar, dan panasnya mulai terasa seperti siang hari. Untung udara Yogya lebih bersih dari Jakarta!

Pagi itu saya juga merasakan untuk pertama kalinya naik busway gaya Yogya. Bis yang besarnya hampir sama dengan metromini di Jakarta itu berhenti di halte-halte mungil yang sempat saya sangka kios penjualan voucher telepon genggam! Tak ada jalur khusus yang dilalui karena jalan di sini kecil-kecil. Paling tidak bisnya ber-AC, dan tampaknya aman dari copet.

Sarapan dengan menu gudeg, beli di ibu-ibu ini.

Selesai urusan di stasiun, kami pulang lewat gang-gang Sosrowijayan yang mengingatkan saya kepada beberapa pojokan Kuta dan Ubud di Bali. Lalu dilanjutkan dengan sarapan gudeg, yang dijual ibu-ibu tua di kampung Kauman. Dear gods in gudeg heaven! Enak sekali! Mungkin ini hanya perasaan saya, yang percaya bahwa gudeg produksi rumahan pasti orisinil dan mantap mutunya. Seperti halnya orang-orang non-Manado yang percaya bahwa masakan Manado yang super pedas pasti orisinil dan mantap punya.

Menurut Yoshi, gudeg yang ini beda dengan yang biasa disajikan untuk turis-turis di kawasan wisata. Saya percaya saja, karena pasti tak banyak turis yang iseng-iseng jalan pagi untuk mencari gudeg ke kampung ini.

Kami baru keluar dari rumah saat matahari sudah tinggi, se sekitar jam 11. Maklum, ada Anya yang dandannya lama, dan para lelaki yang malasnya mengalahkan dewa-dewa. KebunKata dijadwalkan berlangsung nanti malam, jadi masih banyak waktu untuk jalan-jalan. Di Yogyakarta, kurang sah membaptis diri sebagai turis kalau belum mampir ke Keraton. Jadi kami telusuri gang-gang Kauman, keluar tepat di depan mesjid keraton, dan langsung masuk ke pusat kekuasaan raja-raja Mataram itu.

Ini pertama kalinya saya masuk ke Keraton. Waktu datang ke Yogya tahun 1996, saya tak sempat main-main ke sini, karena terlalu sibuk menemani teman yang mencari tukang tato dan belanja batik.

Anya, Yoshi, dan Mikael, menuju Keraton Yogyakarta.

Beradu kamera dengan Anya. Photo by @violeteye

Penyair gembel dari Jakarta, @yoshife dan @mekitron. Photo by @violeteye.

Anak muda lulusan Ostrali, ketemu inspirasi dan kecemplung janji.

Keraton Yogyakarta tepat seperti dugaan dan harapan saya. Agak kurang terawat (kecuali di beberapa sudut tertentu) dan kental dengan ingatan-ingatan masa lalu.

Kinu menemui kami di depan gerbang Keraton. Setelah makan siang di warung nasi yang katanya terkenal, tak jauh dari situ, kami mampir ke Benteng Vrederburg, atau tepatnya potongan yang tersisa dari benteng itu. Di atas benteng, selain kami ada dua anak lelaki usia 12 tahunan yang sedang sibuk ngelem. Mereka tak peduli dengan kehadiran kami, dan tetap tenang mojok di salah satu bilik batu tempat prajurit masa lalu berjaga.

Foto-foto di atas Benteng Vrederburg, @yoshife dan @waraney. Photo by @violeteye.

@yoshife, @waraney, @violeteye, dan @mekitron, di atas Benteng Vrederburg.

Sekitar pukul 3 sore, kami pergi ke restoran Milas, yang sayang sekali saya tak ingat di mana lokasinya. Nama ‘Milas’ ini rupanya singkatan dari ‘Mimpi yang lama sekali’. Jadi pemiliknya sudah lama punya mimpi ingin punya tempat ini, dan ketika akhirnya terpenuhi, dinamai ‘Milas’. Milas hanya menyediakan makanan vegetarian. Buat saya yang sudah mendekati ambang maut timbangan berat badan, ini hal teramat penting. Lain kali kalau ke Yogyakarta, saya harus mampir lagi ke sini. Tempat ini mengingatkan saya kepada Pondok Pekak di Ubud, dengan perpustakaan kecil yang nyaman.

Jorgi menyusul kami di Milas sekitar pukul 5:30. Tak lama kemudian kami pulang ke rumah di Kauman, untuk bersiap-siap buat acara malam itu.

Makan sore di Milas, @violeteye, @mekitron, @yoshife.

Penyair muda di rumah mertua. Photo by @yoshife.

KebunKata ‘Kebun’ di Kedai Kebun

Baru saja masuk di halaman Kedai Kebun, seorang lelaki gempal dengan helm kekecilan menyalip kami dengan motornya. Melihat rambut gimbalnya yang tak muat di helm itu, saya langsung menebak, pasti Saut. Benar, ketawanya yang khas langsung terdengar begitu helm malang itu dibuka. The one and only. HAHAHAHA. Orang yang belakangan ini bikin geger dunia maya dan nyata.

Saut tak langsung ingat kepada saya. Tak heran juga, saya terakhir ketemu dia hanya sebentar di acara Meja Budaya, Pusat Data Sastra H.B. Jassin, beberapa waktu lalu. Waktu itu saya menegur dia duluan, dan agaknya hanya setelah saya bilang, ‘Mikael dan Anya bentar lagi sampe sini!” baru dia bisa menebak saya anak BungaMatahari, tanpa keburu memikirkan hal-hal lainnya seperti, who the hell is this guy who’s pretending to know me well?

Saya sudah lama baca tulisan-tulisan penyair ini di beberapa milis sastra dan non-sastra. Pertama kali melihatnya langsung di Ode Kampung tahun 2007, hanya bersalaman sebentar tanpa sempat kenalan. Baru setelah ia datang lagi ke Jakarta di bulan Desember 2007, diajak Mikael untuk nongkrong bareng di Hong Kong Café, Jalan Sunda, saya benar-benar bisa kenalan dengannya. Selain Saut, saat itu Mikael juga mengenalkan saya dengan Marv, pemuda Filipina yang sedang melakukan penelitian tentang sastra Indonesia. Beberapa jam dan sekian pitcher bir kemudian, dengan pipi yang semakin mati rasa dan omongan yang makin kacau, saya dikuliahi Saut tentang buku-buku Jack Kerouac dan Gabriel Garcia Marquez yang wajib dibaca. Yang saya ingat dari pembicaraan itu hanya betapa kagumnya ia dengan On The Road dari Kerouac, dan bahwa karya terbaik Marquez yang harus saya baca bukanlah One Hundred Years of Solitude atau Love in a Time of Cholera. Judul yang direkomendasikannya apa, terus-terang saya lupa, karena alkohol yang memenuhi kepala benar-benar membuat otak saya kacau balau malam itu. Saking kacaunya, saat kami pindah tongkrongan ke Menteng untuk makan malam kedua, saya kelewatan asyik ngeledekin Marv, sampai akhirnya dia kesal dan memutuskan pulang.

Ternyata kejadian inilah yang benar-benar diingat Saut tentang saya. “Saking mabuknya loe sampe ngancem-ngancem si Marv. Hahahaha. Langsung pulang dia.” Astaga, benar juga. Saya baru ingat. Saking mabuknya, saya bahkan lupa, sebelum memaki-maki Marv, saya menghadiahinya buku Zadie Smith, On Beauty, just because the alcohol made me feel strangely friendly towards him.

@violeteye meniup lilin kue ulang tahun ke-8 BungaMatahari.

Maria Ingrid 'malaikat kecil' baca puisi.

Saut Situmorang membaca puisi 'Lebah Ratu' karya Nirwan Dewanto.

@mekitron membaca puisi @waraney, agaknya 🙂

Jorgy Ibrahim.

Kedai Kebun sudah ramai malam itu. Ada Danielle, Kinu, Ingrid, Dwi, Utut, Jorgi, dan masih banyak nama-nama lainnya yang saya tak ingat lagi. Sebagian besar dari mereka, saya belum pernah sama sekali ketemu, tapi mudah sekali buat saya untuk ketawa lepas dan berbagi puisi dengan mereka. Seolah-olah kami sudah kenal lama. Padahal saya baru sekali itu ketemu langsung dengan Ingrid, setelah selama ini hanya bisa berbalas puisi di milis. Dwi Rastafara, yang puisi-puisi oh so romantic-nya hanya bisa saya baca di milis, ternyata orangnya gondrong dan bertato.

Tak terasa BungaMatahari sudah mencapai usia delapan tahun. Begitu cepatnya waktu berjalan teman! Lilin di atas kue tart pun dinyalakan, dan bergiliran ditiup (ya, lilin itu harus dinyalakan berkali-kali!) oleh Ingrid dan Danielle, Yoshi, dan terakhir Anya. Acara selanjutnya, baca puisi! Saya membukanya dengan membacakan puisi Saut, dari antologi puisi ‘Otobiografi’ yang belum lama ini diluncurkannya di Denpasar, Bali. Judulnya ‘Selamat Ulang Tahun, Penyair!’

 

 

Selamat Ulang Tahun, Penyair!

 

ada yang berubah pada diri hari ini

matahari itu jadi lebih berarti dari kemarin

debu jalanan malam hari lengket di rambut

tumbuh jadi uban uban warna perak angkuh

dan gadis gadis jadi begitu manis begitu mistis!

 

selamat ulang tahun padaMu, penyair!

cerita dan kisah mekar dan layu di kota kota dunia

bagai sungai mencapai samudra

memori jadi peta perjalanan yang ditulis seorang turis gila

29-06-01

 

 

Di depan piramida Candi Sukuh, bersama Saut dan Katrin. Photo by @yoshife.

Written by Waraney Rawung

February 23, 2012 at 12:33 PM

Malam Yang Sangat Kora-kora

leave a comment »

Selamat pagi, teman. Sekarang sudah lewat jam dua pagi, dan kantuk belum juga menghampiri. Saya sedang duduk di meja tengah Coffeewar, menikmati lagu-lagu super galau bikin ingin garuk-garuk aspal yang dibawakan live oleh Mian Meuthia dan Hendra Timothy. Radiohead, Portishead, U2, New Order, dan nggak tau apa lagi. Semakin suicidal rasanya setelah melalui sesi curhat-berselubung-filsafat-dunia-fantasi dengan beberapa teman.

Analisa super dahsyat nan jitu dari Isky menggiring forum untuk memutuskan bahwa hidup saya setahun terakhir ini termasuk dalam mazhab filsafat Kora-kora.

Up and down, up and down, up and down, up and down, to the point that you no longer know which one is up and which one is down. In the end, you’re just there for the sake of holding on, and at one point you just get your brain wired, close your eyes, and jump ship.

Eh kampret. Nampol banget analisanya.

aku bertanya kepada temanku, apa yang beratkan pikiranmu malam ini?
jawabnya, kenapa hanya kau yang bisa terbang dan menembus tembok?

daripada dengarkan morrisey, lebih baik begini begitu si babe dan mpok royane
karena aku cinta j.a.k.a.r.t.a. di setiap lembar ototku, di setiap semburan kentutku
karena kota yang kelewat chairil ini kadang terasa begitu nihil, jeritkan a case of you
dan kita berjalan menunduk, berharap aspal kaku jadi ombak-ombak putih uluwatu

ia tak pernah pergi dari sisimu
tak kau rasakan wangi rambutnya?

 

Written by Waraney Rawung

January 21, 2011 at 7:16 PM

Jaemanis Rosemary Johani, Selamat Datang di Taman Bermain Kami

leave a comment »

Mike's Plurk page for Jaemanis

Twitter search untuk #jaemanis

Jaemanis Rosemary Johani

Selamat datang di dunia yang semakin mengecil ini

Kami tak sempat buatkan kartu ucapan

Beli di mall, nanti terkesan pasaran

Lebih baik kamu pandangi saja jejak-jejak digital oom, tante, papa, dan mama

Moga-moga saat kau sudah cukup besar untuk berselancar di dunia maya

Taman bermain kami (yang tak henti menolak tua),

Bukan lemari tua bersarang laba-laba di matamu.

Written by Waraney Rawung

May 20, 2009 at 3:18 PM

Susan Boyle dan perasaan bersalah yang manusiawi

with 4 comments

“Kurang enak rasanya ngeliat penyanyi yang tampangnya jelek. Walaupun suaranya bagus,” kata Edo kemarin sore. Saat itu saya, Edo, dan Mikael sedang ngobrol soal Susan Boyle, perempuan 47 tahun dari Skotlandia yang jadi fenomena YouTube minggu ini. Videonya dari acara Britain’s Got Talent sudah ditonton lebih dari 26 juta kali saat tulisan ini dibuat. Menurut situs Mashable, kalau video-video lainnya tentang Susan dihitung juga, total hits-nya mencapai 47 juta kali. Mengalahkan beberapa video YouTube tenar lainnya.

Siapa sih Susan Boyle? Perempuan ini adalah salah satu peserta Britain’s Got Talent yang awal minggu lalu mengejutkan juri dan penonton acara tersebut dengan suara emasnya. Saat ia pertama muncul di atas panggung, semua menertawakannya. Perempuan 47 tahun, gemuk, beruban, berpenampilan ndeso, mau jadi penyanyi tenar? Berani-beraninya!

Tapi begitu ia menunjukkan kebolehannya membawakan lagu “I Dreamed a Dream” dari drama musikal “Les Miserables” dengan sempurna, juri yang sinis dan penonton yang bengis ternganga, kagum tak mampu bersuara, lalu bertepuk tangan menggila.

Setelah menonton video itu, saya lalu mencari cerita lain tentang Susan dan tersandung artikel Tanya Gold di guardian.co.uk yang mengkritik perlakuan juri terhadap Susan serta reaksi kita terhadapnya. Singkatnya, perempuan jelek berbakat nyanyi diperlakukan lebih buruk dari laki-laki jelek berbakat nyanyi.

 Tanya Gold: It wasn't singer Susan Boyle who was ugly on Britain's Got Talent so much as our reaction to her

Tanya Gold: It wasn't singer Susan Boyle who was ugly on Britain's Got Talent so much as our reaction to her

Mike dan Edo bilang bahwa wajar-wajar saja kalau kita suka penyanyi yang cantik-cantik, dan bukan sesuatu yang luar biasa kalau penonton dan juri Britain’s Got Talent meremehkan Susan sebelum mendengarkan suaranya. Pendapat mereka mengingatkan saya tentang suatu penelitian (lupa baca dimana, kalau nggak salah New York Times) bahwa definisi cantik-tampan ternyata universal dan berhubungan dengan komposisi wajah dan tubuh. Semakin seimbang komposisinya, semakin cantik-tampan dan menarik individu tersebut di mata kita.

Berdasarkan teori tersebut, Susan jelas-jelas tidak simetris. Saya tak menganggap dia jelek. Tapi tanpa perlu mendengar pengakuannya di panggung bahwa “I’ve never been kissed” dan “I’m forty-seven, and that’s just one side of me,” saya sudah bisa menyimpulkan bahwa dia juga bukan perempuan yang cantik. Reaksi yang manusiawi kan? Manusiawi juga kalau kita merasa bersalah setelah sadar bahwa perempuan tak simetris itu ternyata bersuara emas.

Saya punya wajah yang juga tidak simetris (mata kanan lebih kecil dari mata kiri), dan sering minder gara-gara itu. Tapi rasa rendah diri ini berkurang setelah suatu hari di tahun 1996 seorang teman kuliah bertanya, “Ney, lo ngelmu ya?” Setelah bengong dua detik, saya tanya balik ke dia, “Nggak. Kok lo mikir gitu?” Jawabnya, “Abis cewek lo banyak, trus lo suka pake baju hitam, dan rajin jogging siang-siang.”

Sunyi sejenak. Saya tak tahu harus jawab apa, cengengesan, lalu pergi meninggalkan sang teman tanpa menjawab apa-apa. Bukan main kesimpulan yang bisa ditarik teman saya itu hanya dari observasi singkat tanpa penelitian lebih lanjut. Dipikirnya saya punya ilmu hitam untuk menggaet cewek-cewek Sastra, karena itu saya suka pakai baju hitam macam dukun, dan jogging saya itu bagian dari ritual ilmu hitam. (Disclaimer: banyak cewek karena di Fakultas Sastra UI — sekarang FIB UI — memang lebih banyak cewek dari cowok, pakai baju hitam terus biar kelihatan lebih langsing, dan jogging siang-siang biar cepat kurus!)

Tak usah merasa bersalah kalau kita pernah atau masih jadi orang-orang seperti penonton dan juri Britain’s Got Talent. Manusiawi kok. Jangan percaya juga sama ungkapan “don’t judge a book by it’s cover”. Omong kosong. Kalau nggak lihat dari sampulnya dulu, trus dari mana? Buktinya irisPUSTAKA menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menentukan sampul buku Mike dan Anya! 🙂

It’s ok to judge a book by it’s cover. But don’t go crying to mommy when you find a crappy story in it, or be the only person in the world who missed the best-seller.

Written by Waraney Rawung

April 18, 2009 at 8:22 PM

BungaMatahari & CCF Jakarta: Lomba Puisi “Mari tertawa / En Rire(s)” Bulan Puisi / Printemps des poètes 2009

leave a comment »

Rayakan bulan puisi dengan tawa dan pantomim !

saat kita main petak umpet
di taman bunga bermekaran
kota yang tak pernah ramah
tiba-tiba tersenyum cerah

sebelum hahaha hihihi hilang
dari buku catatan alam
ayo berdansa ceria
di dunia margasatwa!

mari tertawa,
sekerasnya!
lompat,
setinggi-tingginya!
berpuisi,
sepuasnya!

karena kita percaya,
semua bisa berpuisi
semua bisa berpantomim
ayo,
rayakan bulan puisi!

Syarat peserta :
o Usia 8 – 12 tahun (Murid SD kelas 2 – 6)
o Bersedia tampil bersama Le Mime Bizot pada acara PDP 2009 di Taman Menteng pada hari
Sabtu, 14 Maret 2009 pk.19.00 jika puisinya terpilih
o Bersedia hadir dalam latihan bersama Le Mime Bizot pada minggu pertama bulan Maret 2009

Cara pengiriman :
o Puisi ditulis di atas 1 halaman A4 dengan font Times New Roman ukuran 12, spasi ganda, dalam bahasa Indonesia atau bahasa Prancis
o Kirim data diri pengirim : nama pengirim / usia / nama sekolah / nama orang tua / alamat & no telp rumah / no hp orang tua / email orang tua
o Paling lambat diterima olah panitia pada hari Sabtu,21 Februari 2009
o Dikirimkan via email : info@ccfjakarta.or.id dan bungamatahari-owner@yahoogroups.com
fax : 390 85 86 dengan judul [PDP 2009]
pos : PDP 2009 – CCF Jakarta Jl. Salemba Raya No.25 Jakarta 10440 dengan judul [PDP 2009]

Informasi lebih lanjut :
o CCF Jakarta : Tel 390 85 85 / 390 85 80 / info@ccfjakarta.or.id / http://www.ccfjakarta.or.id/id
o BungaMatahari :
Mikael Johani (Tel 0856 755 2747/ mikaeljohani@yahoo.com )
Waraney Rawung (Tel 0816 116 3015 / neyspeaking@yahoo.com )
http://bungamatahari.multiply.com

CCF Jakarta akan merayakan edisi ke-11 dari Printemps des poètes / Bulan Puisi, yang bertema “En Rire(s) / Mari tertawa” pada 2-15 Maret 2009. Le Printemps des Poètes atau Bulan Puisi pertama kali diadakan tahun 1999 untuk merayakan puisi dalam segala bentuknya. Acara ini mempertemukan jutaan penyair dan pembaca dari seluruh dunia yang bersatu dalam keindahan kata-kata. Baik kata-kata yang dibaca, dinyanyikan, ditulis atau dideklamasikan. Tahun ini, semua teks Bulan Puisi di seluruh dunia akan menggunakan satu tema, yaitu « En Rires/ Mari Tertawa ».

CCF Jakarta bekerja sama dengan BungaMatahari untuk memperkenalkan puisi kepada anak-anak dengan cara yang berbeda dan menyenangkan. Untuk itu, CCF Jakarta mengundang semua anak-anak usia 8 sampai 12 tahun untuk mengirimkan puisi-puisi mereka yang bertema « Mari tertawa » dalam bahasa Indonesia atau bahasa Prancis. Puisi para pemenang akan ditampilkan dalam bentuk pantomim oleh Le Mime Bizot, dalam acara « Pertunjukan Pantomisasi Puisi », pada Sabtu 14 Maret 2009 di Taman Menteng, Jakarta Pusat.

BungaMatahari
BungaMatahari (BuMa) adalah komunitas bagi siapa saja yang mencintai puisi dan ingin berbagi dalam suasana bebas dan bersahabat. Dengan semangat ‘semua bisa berpuisi’, BuMa mempromosikan puisi kepada masyarakat luas sambil bereksperimen dengan cara-cara segar untuk menjelajahi dan menikmati puisi. Pertama muncul pada 19 April 2000, BuMa yang berbasis mailing list (milis) aktif mengadakan dan berpartisipasi dalam berbagai acara di ruang publik. Awal tahun 2006, BuMa menerbitkan Antologi BungaMatahari. Sejak tahun 2007, sebagai bagian dari perayaan Bulan Puisi, CCF Jakarta dan BuMa menyelenggarakan acara pembacaan puisi di ruang publik: « Banjir Puisi » di stasiun kereta api Gambir dan « Kejutan Puitis di Bioskop » di Blitz Megaplex Grand Indonesia.

Le Mime Bizot
Philippe Bizot pertama kali jatuh cinta kepada pantomin ketika berusia delapan tahun. Tahun 2003 meraih penghargaan tertinggi di Puerto Montt World Theatre Festival di Chili Le Mime Bizot telah berkeliling dunia, dari Perancis sampai Pakistan dan Bolivia, untuk memperkenalkan pantomim dan tampil di hadapan jutaan orang dewasa dan anak-anak. Ia memberikan kursus pantomim kepada kaum tunadaksa dan para penderita infantile autism. Datang ke Jakarta di bulan November 2008, Januari & Maret 2009 untuk memberikan pelatihan pantomim yang diadakan CCF Jakarta, untuk 600 peserta muda dan anak-anak di SLB Tunarungu Santi Rama, komunitas anak-anak jalanan Diakoneia Modern College (KDM), dan seniman-seniman profesional.

Acara ini terselenggara berkat dukungan dari :
Pemda DKI Jakarta
Dinas Kebudayaan & Pariwisata
Dinas Pertamanan
Walikota Jakarta Pusat
94.3 FM Jkt Women Radioflyer-printemps-des-poetes

Written by Waraney Rawung

February 5, 2009 at 7:05 AM

cerita dari ubud: kembang api di galeri yang tak sepi oh wow!

leave a comment »

mikael's books & postcard invitations

Gaya Fusion ternyata lebih besar dari yang kami bayangkan. Selama ini kami hanya pernah melihat foto-foto tempat ini melalui website-nya, sebuah restoran romantis, intim, dan kecil, dengan cahaya remang-remang. Kami pikir tempat sekecil itu pasti hanya bisa memuat penonton dalam jumlah terbatas. Bagus, karena semakin sedikit yang datang, semakin mudah mengendalikan acara. Kami memang terbiasa dengan acara-acara kecil yang akrab.

Sore itu, Jumat, 17 Oktober 2008, saat berdiri di depan galeri yang luas, saya, Mikael, dan Anya langsung panik. Rasanya tak mungkin mengisi ruangan ini dengan penonton, karena pada saat bersamaan ada beberapa acara menarik lainnya yang sedang berlangsung. Sebagian besar peserta Ubud Writers & Readers Festival pasti sedang di penginapan, bersiap-siap meramaikan Poetry Slam di Restoran Bebek Bengil pukul 19:00 malam itu.

Walaupun terbiasa dengan kelompok yang kecil dan akrab, bukan berarti kami ingin tampil dalam ruang besar kosong melompong, bukan?

Oleh karena itu, sejak tiba di Ubud hari Selasa, 14 Oktober lalu, saya sudah melakukan promosi habis-habisan. Antara lain dengan membagikan postcard undangan kepada para penulis, asing maupun lokal, yang menurut perkiraan saya akan tertarik datang. Saya juga minta bantuan teman-teman volunteer untuk sebanyak-banyaknya membagikan postcard itu kepada para peserta festival.

Di dalam galeri yang serba putih dan bergema, beberapa jam sebelum acara, saya tak yakin kalau segala upaya itu akan membuahkan hasil. Tapi karena kami sudah terlanjur di sini, sekalian saja bersenang-senang dan jadikan acara ini seperti KebunKata BungaMatahari!

Kota Ini Kembang Api

Siang itu, saya menemui Anya dan Mikael di rumah makan Ibu Oka yang terkenal dengan menu babi gulingnya. Mereka tiba dari Jakarta pagi hari dan baru beristirahat beberapa jam saja. Setelah mandi dan ganti baju di Donald Homestay, sekitar pukul 4 sore kami mencari mobil sewaan di Pasar Ubud. Karena waktunya sudah mepet, saya tak bisa terlalu ngotot menawar harga dan harus cukup puas dengan ongkos Rp70 ribu untuk sekali jalan ke Gaya Fusion.

Dalam perjalanan, ongkos yang sebelumnya terasa mahal, jadi masuk akal saat kami menyadari betapa jauhnya Gaya Fusion dari pusat keramaian di Ubud. Saya mulai kuatir. Apa mungkin ada orang yang mau jauh-jauh datang ke sana?

Di Gaya Fusion, kami ternganga melihat sebuah galeri besar berlangit-langit tinggi dan dinding-dinding putih yang digantungi lukisan-lukisan kontemporer. Di tengah ruangan ada panggung kecil bertabur bunga kamboja, tepat di antara jendela kaca tinggi dan pojok untuk musisi. Sebuah proyektor in-focus putih siap dipakai di depan deretan kursi hitam yang tampak kecil dikepung suasana serba putih.

Sambil berusaha menekan rasa panik dan stress, kami bersiap-siap. Mikael berkutat dengan MacBookPro dan proyektor in-focus, Anya menata buku-buku yang akan dijual, sedangkan saya memberikan pengarahan terakhir kepada Ayu, sang MC. Setelah itu kami masih harus direpotkan dengan film pendek yang akan diputar nanti.

Jarum jam menunjukkan pukul 17:30, penonton mulai berdatangan. Kaget juga saya melihat banyak yang datang lebih awal. Debra Yatim dan putrinya Zulaikha, Olin Monteiro, Danny Yatim, serta rombongan orkes Al-Izhar dalam hitungan detik meramaikan ruangan yang tadinya sepi itu. Ada juga penyair Timor Leste Abe Soares, Pam Allen, John McGlynn, penulis Ayu Utami, dan lain-lain.

Kursi-kursi mulai terisi, MC sudah bersiap membuka acara, tapi saya masih berkutat dengan laptop Mikael. Putus asa tak berhasil mengutak-atik power point, saya cari dia. Ternyata dia sedang ngobrol dengan orang tua Henry, temannya di Australia dulu. Saya hampiri dan setelah basa-basi sebentar langsung menyeret penyair mestizo itu untuk mengajari saya cara mengoperasikan laptopnya.

Tepat pukul 18:00, acara dimulai. Ayu membacakan sambutan standar UWRF dalam bahasa Inggris, kemudian mengundang saya untuk memperkenalkan irisPUSTAKA. Ayu agak kepeleset lidah, menyebut saya ‘she’, bukannya ‘he’ dan mengundang tawa dari hadirin. Bukannya kesal, saya malah bersyukur, karena suasana sejak awal sudah santai.

the publisher speaks, horribly.

Saya tak bicara panjang-panjang. Hanya bercerita bahwa satu setengah tahun yang lalu Anya dan Festi Noverini mengajak saya ikut dalam usaha penerbitan yang kemudian kami namakan irisPUSTAKA. Kami ingin membuka jalan bagi penulis muda yang punya potensi dan mengolah tema-tema tak biasa atau menggunakan ekspresi kreatif yang berbeda. Selesai perkenalan singkat itu, saya langsung mengajak hadirin untuk menyaksikan film pendek berjudul ‘puis-je.’

Film ini menampilkan Anya, ‘not as herself,’ dan Mikael, juga ‘not as himself,’ membacakan puisi e e cummings melalui dialog dan akting amatir. Sekilas mereka terlihat seperti muda-mudi yang sedang beradu jurus cinta.

the movie starts.

Karena film ini dibuat terburu-buru, suara yang dihasilkan kurang bagus, membuat sebagian hadirin mengernyitkan kening berusaha menangkap apa yang dikatakan kedua penyair tersebut di dalam film. Untung saja Mikael tanpa malu telah memasang terjemahan semena-mena yang cukup menghibur.

Film selesai diputar, Anya langsung membacakan puisi ‘The God of Small Things’ dan ‘PendarPendarCahayaMenyelinapRuangMata.’ Terjemahan kedua puisi ini ditampilkan dengan cantik melalui power point.

Film selesai diputar, Anya langsung membacakan puisi ‘The God of Small Things’ dan ‘PendarPendarCahayaMenyelinapRuangMata.’ Terjemahan kedua puisi ini ditampilkan dengan cantik melalui power point.

Setelah itu, giliran Mikael membacakan `Australia Fair’, `À la recherche du temps perdu (edition Scott Moncrieff et Kilmartin, vols. 1-7)’, dan `Hermès, get a move on’. Semua puisi itu diterjemahkan dari
bahasa Inggris ke bahasa Indonesia oleh holiday_sendiri. ‘Hermes, get a move on’ aslinya berjudul ‘Aku titip tulisan’ puisi Anggoro Gunawan dalam bahasa Jawa yang kemudian diterjemahkan oleh Mikael ke dalam bahasa Inggris jadi ‘Hermes get a move on’ yang kemudian diterjemahkan lagi ke bahasa Indonesia oleh holiday_sendiri.

The God of Small Things*

sebuah Sore yang Sureal. ketika Sinar Matahari jatuh seperti selendang tembus pandang—mengingatkanku akan Lipstik dan Cat Kuku Fuchsia Ibuku. Es Krim Stroberi. Rok Tutu. dan Ciumanmu, tentunya. Ciuman mesra pada bibir dan pipiku. Basah tetapi Manis seperti Permen.

aku merindukanmu. rasanya seperti ada Balon Ulangtahun. membengkak perlahan di dalam dada. Sensasinya nyaris tak tergambarkan: seperti sebuah Harapan limbung—aku terbelah di antara Kesenangan karena si Balon hampir sempurna dan Kewaspadaan akan kemungkinan Balon itu pecah sebelum benar-benar mengembang.

sebuah Perasaan yang Tidak Nyaman sebenarnya. seakan-akan dunia dan mekanisme alamnya dapat mendengar pikiranmu: berkonspirasi untuk menentukan apa yang akan terjadi padamu berikut. membuatmu tak berdaya seperti Bulu yang melayang-layang.

tapi Yang Paling Tak Tertahankan adalah mengetahui bahwa tak seorang pun, terlebih-lebih kamu, mengetahui semua Kekacauan yang terjadi di Benakku, semua Mantra Aku-Cinta-Kamu yang sambung-menyambung di dalam Kepala.

aku membayangkan apakah kamu pernah seperti ini. aku bahkan membayangkan apakah ada secuil Kemungkinan dirimu pernah memiliki Pemikiran yang Sama Terhadapku. ah, padahal aku tahu itu hanyalah Fantasi Kacangan.

aku pun menyerah. kuhapus semua Angan. kuhapus kamu. kukunci dari Saraf-Saraf Otakku.

aku menyalakan tivi.

Program Berita.

di luar, semesta menjadi gelap. dan menjadi Nyata.

PendarPendarCahayaMenyelinapRuangMata

PendarPendarCahayaMenyelinapRuangMata

MengantarCeritaLamaYangTakPernahUsang

KotaIniKembangApi

KembangnyaPecahDiPucukLangit

SekejapSaja

—BegituKatanya

anya reads the god of small things.

Australia fair
The thought runs through my head of sawing your head in half: the bone will be ivory white and your blood grape red. You look down, open your mouth wide and ululate, up, to the purple sky. The pills of orange cloud hang low. The pale cream beach shakes with each wave of your hand. You ask me to go, your face black from constant disappointment.

À la recherche du temps perdu (edition Scott Moncrieff et Kilmartin, vols. 1-7)

I bought these when I still had time to read

where the sky was so blue I could write

my name on it with my good hand while the other

shield my eyes from the sun, so white, perfect.

mikael reads australia fair.

Dalam rundown acara, sesi selanjutnya adalah untuk tanya-jawab. Tapi kami tak ingin waktu setengah jam lebih yang tersisa hanya terpakai untuk pertanyaan-pertanyaan garing dan jawaban-jawaban non-inspiring (ah, lagi-lagi saya mengejar rima). Karena itu saya segera menyambar mikrofon yang dipegang Ayu, tanpa malu mengambil tugas MC, dan mengumumkan bahwa kami mengundang para penonton untuk tampil ke depan dan membacakan puisi Anya dan Mikael. Atau kalau mereka mau, boleh juga membacakan puisi karya sendiri. Lima buku Anya dan lima buku Mikael kami sediakan gratis untuk mereka yang berani maju ke depan.

Zulaikha, putri penyair Debra Yatim, langsung maju ke depan dan membacakan dua buah puisi Mikael. Buku gratis untukmu, Zu! Selesai putrinya membaca, giliran Debra yang langsung maju membacakan sebagian daftar isi buku Mikael sebagai sebuah puisi. Kemudian Ayu Utami dengan ‘Penismightierthanwords’ karya Mikael.

Penismightierthanwords
i picked up the pen with clouds of ideas in my head. the pen was my talisman, a thing I used to divine the meaning of the clouds. the ink was blue, which, under the yellow light of my table lamp, was only a little lighter than black, the colour of the clouds.

Sambil menunggu Ayu selesai, saya lihat Abe Soares sudah siap tampil dengan gitarnya. Tak perlu dipanggil dua kali, Abe maju ke depan dan menyanyikan puisi karyanya sendiri. Indah sekali. Abe selesai, seorang anggota orkes Al-Izhar maju ke depan membaca puisi karya sendiri yang dicatatnya dalam handphone.

Sesuai dengan semangat BungaMatahari yang percaya semua bisa berpuisi, saya terus mengajak hadirin untuk maju ke depan dan berpuisi. Saya jelaskan bahwa pendiri irisPUSTAKA, yang berasal dari milis puisi berbahasa Indonesia BungaMatahari, percaya puisi adalah hidup sehari-hari yang tak perlu ditakuti.

Penonton makin banyak, sebagian besar agaknya mereka yang ingin menonton orkes Al-Izhar dan peluncuran buku L.A. Underlover yang dijadwalkan setelah acara kami selesai. Kami mencuri penonton rupanya. Tak apa, yang penting ramai dan buku terjual banyak.

Sambil menunggu penonton yang akan maju, saya iseng membaca puisi Mikael yang berjudul ‘The Beggar.’ Malam terasa semakin panas, dan Mikael tampil sekali lagi, kali ini membacakan puisi Anya ‘Mabuk Lampu.’

mabuk lampu

sinarlamputemaramkuning

lampukuningsinartemaram

temaramsinarkuninglampu

kuningtemaramlampusinar

sinartemaramlampukuning

lampusinarkuningtemaram

temaramkuningsinarlampu

kuninglamputemaramsinar

Di tengah-tengah penonton yang berkumpul di tangga dekat pintu masuk, saya lihat penyair Iyut Fitra dan Dino Umahuk. Saya panggil Dino ke depan untuk ikut meramaikan acara yang menjelang usai, dan dia menyambutnya dengan membaca sebuah puisi dari buku Anya. Hadiah buku untukmu, Dino!

Waktu satu jam yang tadinya terasa panjang sekali, tiba-tiba sudah hampir habis. Saya belum sempat mengundang Iyut Fitra untuk tampil ke depan, namun sudah harus menutup acara. Sayang sekali.

Acara ditutup Anya dengan membacakan puisi Mikael yang berjudul ‘Djaelani the baker.’

Djaelani the baker
I’m Djaelani, the baker. I see people come and go. I serve people with the sweet smell of sex in their hair. I watch them count rainbows of money and pay. I see them hold hands and pick a donut (chocolate glazed) and a sausage roll with a thong held together like a wedding cake knife. I’ve seen a man eat his breakfast alone, hurriedly like a pigeon, on my counter table. I’ve seen him come back at nine-thirty in the evening—closing time, and buy nothing. Not this time. I’m Djaelani, the baker. I see people come and go. And I stay.

Foto-foto acara bisa dilihat di sini.

Catatan:

Kemarin saya menghubungi Abe Soares, minta dikirimkan puisi yang dinyanyikannya dalam acara ini. Ini dia puisinya:

AKU SAKSIKAN BAYANGANKU SENDIRI

Ramelau*),
aku mampir ke kolammu
yang sejuk bening

Di tepinya aku saksikan bayanganku sendiri
telanjang, menyambutku
lalu ia tuturkan kepadaku
tentang kisah benih serabutku
yang berliku-liku

1990-an

*) Gunung tertinggi di Timor-Leste.

Abe Soares

Written by Waraney Rawung

October 23, 2008 at 10:07 AM