duniahitam

tentang hidup yang terkekang

Posts Tagged ‘maverick

Meja Yang Penuh Sesak dan Ruang Yang Bergerak

with 3 comments

“Work is what you do, not where you are,” kata Aulia beberapa bulan lalu. Saat itu saya sedang kesal dengan lalu lintas Jakarta yang macet gila-gilaan, dan berpikir betapa senangnya kalau saya bisa bekerja di mana saja, tanpa terikat di kantor dari jam 8.30 pagi sampai 5.30 sore.

Tugas-tugas di kantor memang sebenarnya tidak mengharuskan saya untuk terus-menerus ada di sana setiap saat. Menulis, membuat rencana komunikasi untuk klien, menjawab email, riset, dan lain-lain. Semua pekerjaan yang sebenarnya bisa saya kerjakan di mana saja, selama ada koneksi internet dan telepon yang memadai. Kalau dihitung-hitung, mungkin 70 persen pekerjaan bisa saya kerjakan offsite, atau di tempat selain kantor. Sisanya yang 30 persen adalah kegiatan tatap muka seperti rapat (internal, klien atau supplier).

Gara-gara macet Jakarta yang semakin menggila ini, saya jadi ingat bahwa beberapa tahun lalu saya sudah merasakan nikmat dan sekaligus sulitnya kerja yang tidak terikat di kantor seratus persen. Nikmat, karena jam kerja yang fleksibel. Sulit, karena banyak hal yang bisa mengganggu konsentrasi kerja.

Di tahun 2008, setelah 3 bulan jadi konsultan di Maverick (sebelumnya, di akhir tahun 2007 saya berhenti dari IndoPacific Edelman, setelah bekerja di sana kurang lebih 6 tahun), saya mengajukan permohonan berhenti ke Ong, boss di Maverick. Permohonan resign itu diterima, tapi pada saat yang bersamaan Ong juga menawarkan posisi editor paruh waktu di Gauge, divisi media monitoring Maverick.

Sejak saat itu dan sampai sepanjang sisa tahun 2008, saya merasakan nikmatnya, serta menantangnya, bekerja tanpa terlalu terikat jam kantor. Setiap hari kerja saya masuk jam 6.30 pagi dan pulang jam 12 siang. Kecuali kalau ada pekerjaan tambahan dan jam pulang molor jadi jam 2 siang. Setelah itu saya biasanya mampir ke Excellso Cafe atau Fab Cafe di Grand Indonesia (atau ke kafe-kafe lainya di daerah Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan), dan meneruskan pekerjaan di sana. Kalau sedang butuh suasana sepi, saya mampir ke Perpustakaan Depdiknas.

Yang penting ada kursi empuk, hot hazelnut latte atau hot lemon tea yang cukup murah, dan koneksi wifi yang cukup kencang. Dalam kondisi ideal (koneksi internet lancar, tingkat procrastination rendah, dan nggak sambil ngobrol dengan teman), pekerjaan saya selesai sekitar jam 5-6 sore. Kalaupun ada sisa pekerjaan, biasanya bisa diselesaikan di rumah. Yang penting beres. Tak penting benar dikerjakan dimana.

‘Hidup bebas penuh gerak’ itu tak berumur panjang. Awal tahun 2009, Hanny mengajak saya bergabung di divisi New Media yang baru dibentuk Maverick. Saya menerima tawaran tersebut, dan berakhirlah masa-masa digital nomad saya. Tiga bulan bekerja di divisi tersebut, saya dapat tawaran dari Deden untuk kembali ke IndoPacific Edelman dan jadi konsultan di Edelman Digital Jakarta, yang juga belum lama terbentuk. Selamat tinggal kerja freelance dan mobile.

Sekarang, dua tahun setelah masa-masa kejayaan kerja freelance dan berpindah-pindah dari satu coffee shop ke coffee shop lainnya, muncul lagi keinginan untuk terbebas dari kungkungan ruang kantor dan macet Jakarta di pagi hari.

Dibandingkan dengan dua tahun lalu, teknologi sekarang jauh lebih mendukung. Nggak usah yang canggih-canggih amat. Kerja saya cuma menulis dan berkomunikasi dengan klien, teman sekantor dan supplier. Jadi saya hanya perlu laptop ringan dan berkemampuan baik dengan batere tahan lama serta kapasitas memori besar. Tentu harus didukung koneksi internet yang lancar dan smartphone yang lumayan (saya pakai BlackBerry Gemini dan Nokia E71).

Setelah menimbang-nimbang, keinginan ini saya ungkapkan ke Nanda, boss saya di Edelman Digital Jakarta.

Nanda setuju bahwa sebagian besar pekerjaan saya memang memungkinkan saya untuk bekerja offsite. Tapi dia nggak mau saya terburu-buru kesenangan dan merencanakan kerja offsite sesering mungkin. Menurut dia, nggak tertutup kemungkinan saya bisa menghabiskan maksimal 2 hari dalam seminggu bekerja di luar kantor. Yang penting, pekerjaan selesai dan teman-teman di kantor nggak akan kesulitan menghubungi saya.

Ah, senangnya.

Setelah dapat ijin dari Pak Boss, apa saya langsung bisa kerja 2 hari seminggu di luar kantor? Nggak juga. Pertama, karena fasilitas pendukungnya belum lengkap. MacBook saya usianya sudah 3 tahun lebih dan baterainya sudah mati. Tanpa baterai baru, sulit bekerja di luar kantor dengan mengandalkan colokan listrik coffee shop yang jumlahnya sedikit. Selain baterai baru, saya juga belum punya fasilitas koneksi internet yang memadai. Nggak mungkin mengandalkan wifi coffee shop yang kadang cepat kadang lambat.

Nggak apa-apa. Yang penting, saat saya sudah siap mental maupun fasilitas, kemungkinan untuk bekerja tanpa terikat terus-menerus di kantor sudah ada di depan mata.

Buat saya, dimana saya bekerja memang hampir sama pentingnya dengan pekerjaan itu sendiri. Saya tipe orang yang suka membuat meja kerja di kantor menjadi senyaman mungkin. Kalau bisa, suasananya harus mirip workstation di rumah saya.

Coba lihat meja kerjamu di kantor dan ruang kerjamu di rumah. Seperti apa keadaannya? Rapi atau berantakan? Apakah kamu tipe orang yang suka bekerja di rumah, atau di kantor? Perbedaan-perbedaan ini dibahas dalam mini documentaryThe Desk’. Video singkat yang merupakan bagian dari seri mini documentary ‘Lines’ produksi L Studio ini membahas pendapat beberapa orang tentang fungsi desk atau meja kerja bagi mereka. Ada beberapa narasumber yang diwawancarai di video ini, antara lain Massimo Vignelly (disainer), David Miller (illustrator dan art director), dan Kurt Andersen (jurnalis dan novelis).

The idea is today that with a laptop and an iPhone you can work anywhere,” kata Alice Twemlow (kritikus disain)  dalam video ini. Saya ingat, beberapa tahun lalu Steve Rubel pernah mencoba melakukan perjalanan bisnis dengan hanya mengandalkan iPhone sebagai alat kerja utamanya, dan cukup berhasil.

Laptop, iPhone, iPad, BlackBerry, atau apapun mobile devices yang kita gunakan, memang hanya representasi dari workstation kita. Dengan mobile devices tersebut, kita menciptakan ruang kerja masing-masing. Menjawab email di BlackBerry saat duduk nyaman di TransJakarta, mencari bahan tulisan sambil browsing di iPhone sambil buang air di toilet, atau menulis laporan di laptop sambil ngopi-ngopi di Starbucks. Ada ‘gelembung’ atau ruang pribadi yang kita ciptakan, yang membatasi—atau menghubungkan—kita dengan sekeliling kita.

Tapi walaupun teknologi sudah memungkinkan kita untuk lebih bebas bekerja di mana saja, buat sebagian orang hal ini bukanlah segalanya. Seperti yang dibilang Twemlow, “Even today I think there’s something about coming to sit at your desk, that kind of stops your from becoming completely nomadic and drifting away entirely.” Agaknya bagi sebagian orang, punya suatu tempat yang benar-benar didedikasikan sebagai meja atau ruang kerja tetap menjadi sesuatu yang penting. Seperti saya dan meja kerja di kantor dan di rumah yang penuh mainan dan buku.

We’re not completely liberated from the desk. We’re sort of halfway between this idealized notion of the completely nomadic worker and the desk-bound robot. The reality of life today means that you can’t always be that. In fact, you have to take that idea of that working space with you.

Coba lihat apa pendapat para narasumber ‘The Desk’. Menurut Vignelly, “It’s very important to have a place where you work that is in sync with yourself”. Vignelly tidak suka meja yang berantakan. Buat dia, meja yang berantakan sama seperti meja makan yang penuh sisa hidangan malam sebelumnya. Meja yang berantakan menghilangkan semangat kerjanya. Berbeda dengan Vignelly, Miller suka dengan meja kerja yang penuh sesak dan dinding yang bertempelkan macam-macam gambar dan tulisan. “You’re surrounded by your stuff, to be around books and stuff taped up on the wall, that’s when stuff starts to happen, you start to create a world,” kata Miller. Pendapat Miller ini senada dengan Andersen, “It’s comfort, it’s home, it’s the womb.”

Saya tetap ingin kerja mobile, tak perlu setiap hari masuk kantor dan terikat di meja kerja. Tapi di sisi lain, saya juga perlu merasa memiliki sebuah meja atau ruang kerja yang benar-benar sesuai dengan pribadi saya. Jadi, faktor “where you are” atau ‘meja/ruang kerja’ apa yang saya gunakan juga ternyata penting.

Di luar kantor, saya memilih coffee shop yang nyaman, sejuk, tidak sesak pengunjung dan asap rokok, tidak bising oleh musik dan obrolan pengunjung, menyediakan makanan minuman serta koneksi wifi yang terjangkau harganya. Di rumah, berarti kamar tidur merangkap ruang kerja. Di kantor, desk itu tentu saja meja kerja yang disediakan untuk saya. Waktu masih kuliah, desk itu adalah meja kayu di BukuKafe (di Jalan Margonda, Depok) dan beberapa pojokan perpustakaan-perpustakaan di UI.

Ruang kerja saya di rumah dan di tempat kos mirip dengan deskripsi Miller dan Andersen. Sesak dengan buku-buku, pernak-pernik, dan tempelan-tempelan dinding. It’s comfort, it’s home, it’s the womb. Kamar tidur saya di rumah yang sesak dan panas (sekarang udah mendingan karena akhirnya saya pasang AC), sering saya panggil dengan nama kesayangan my womb room.

Okay. Jadi saya tipe pack rat (kalo nggak salah itu istilahnya). Orang yang suka menimbun barang dan mengelilingi dirinya dengan objek-objek kesayangan. Meja kerja di kantor dan di rumah harus ramai pajangan, buku, mainan, foto, dan hiasan. Foto meja kerja yang terakhir menunjukkan meja yang relatif lebih bersih dibandingkan yang lainnya. Itu karena di awal tahun 2011 ini saya memutuskan untuk  sebisa mungkin menghindari kerja lembur. Mengutip ucapan teman saya Kristy saat melihat foto kamar saya, “If I have that to go home to, I won’t be staying late in the office”.

Yeah right.

Setelah sebulan menikmati meja yang bersih, jam pulang kerja yang tenggo, malam-malam yang bisa dihabiskan di gym, bulan Februari yang akan datang semuanya akan berubah. Beban kerja yang semakin banyak membuat saya seringkali (lagi-lagi) harus bekerja di kantor sampai larut malam. Di saat-saat seperti itu, saya rindu suasana kamar yang sesak dan akrab. Rindu mainan-mainan dan pajangan-pajangan nggak penting, yang sekarang sudah saya bawa pulang ke rumah.

Besok, Senin 31 Januari 2011, satu-persatu benda-benda tak penting namun menyejukkan jiwa itu akan saya angkut lagi ke kantor. Mari membuat sarang lagi di luar rumah. Karena buat saya, apa yang saya kerjakan sama pentingnya dengan dimana saya mengerjakan itu.

Advertisements

Luddite turned geek, mirip tukang listrik

leave a comment »

Written by Waraney Rawung

March 23, 2009 at 1:33 PM

Posted in foto, hari ini, pulang malam

Tagged with , , ,

Kartu Tanda (Penduduk) Pemalas

leave a comment »

Kartu Tanda Penduduk (KTP) saya sudah habis masa berlakunya sejak setahun lalu. Kenapa saya tak memperpanjangnya? Banyak alasan yang bisa saya sampaikan, tapi semuanya bermuara pada satu hal saja. Malas.

Ya, saya memang pemalas. Malas mendatangi ketua RT dan RW yang saya tak kenal, untuk minta dibuatkan surat pengantar ke kelurahan. Malas berbasa-basi dengan tetangga yang saya bahkan tak tahu namanya.

Malas menyeberangi K.H. Mas Mansyur di depan perumnas dan bertemu dengan pegawai-pegawai kelurahan, terpaksa beramah-tamah. Malas melihat gedung kelurahan dan lay out ruang-ruangnya yang hampir sama dari Jakarta sampai Merauke (saya belum pernah ke Sabang).

Malas bukan main.

Tapi karena ada acara kantor yang mengharuskan saya bikin paspor dan NPWP, terpaksa saya menyimpan kesal memasang topeng ‘government relations officer’ yang begitu mahir saya mainkan dua tahun lalu saat kantor yang lama menugaskan saya ke beberapa daerah di Indonesia Timur.

Sudah terbayang, pasti urusan akan dipersulit. “Kalau bisa dipersulit, buat apa dipermudah?” Kalimat yang menyamaratakan etos kerja pegawai negeri itu berulang-ulang terucap dalam hati.

Memang benar, tak mudah berurusan dengan birokrasi. Setelah surat pengantar beres (Pak RT sempat sulit dicari, tapi belakangan sangat kooperatif), saya terkejut saat diberitahu mbak yang baik di bagian perpanjangan KTP bahwa denda keterlambatan Rp10.000 harus dibayar langsung di loket Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Kantor Walikota Jakarta Pusat.

Jarak antara kelurahan di Jalan KH Mas Mansyur dan Kantor Walikota, di Jalan Tanah Abang I, kira-kira 5 kilometer. Mungkin lebih.

Kenapa denda sekecil itu tak bisa dibayar langsung di tempat saja? Wajah si mbak yang kosong itu tak menjawab apa-apa, bahkan saat saya isyaratkan bahwa saya bersedia bayar lebih (baca: nyogok) supaya tak perlu pergi jauh-jauh ke Kantor Walikota.

Saya kan sibuk, punya kehidupan yang lebih penting dari urusan-urusan remeh macam begini. Ngapain buang-buang waktu? Nggak canggih banget sih!

Si mbak agaknya benar-benar tak bisa membantu dan hanya tersenyum standar. Saya pun naik ke lantai dua untuk membuat surat pengantar pembayaran denda. Bayangkan, bayar denda saja harus pakai surat pengantar! Belakangan, sambil menunggu pegawai yang tak datang-datang (padahal sudah jam 9.30 dan ada tulisan yang bilang loket buka jam 7.30 pagi), melihat surat pengantar diketik a la sebelas jari, menanti sampai surat itu dicetak (makan waktu lima belas menit hanya untuk mengutak-atik menu print dan tombol on-off printer), saya baru sadar kenapa sistem yang mengganggu ini harus ada.

Pertama, harus bayar jauh-jauh di walikota karena tak ada sistem online.

Kedua, semakin primitif operasional pemerintahan, semakin banyak pegawai yang bisa dipekerjakan (pernah lihat meja piket yang ditongkrongi sepuluh orang yang tak berbuat apa-apa?).

Ketiga, ini ganjaran buat pemalas kelas berat seperti saya.

Keempat, KTP adalah singkatan dari Kartu Tanda (Penduduk) Pemalas.

Written by Waraney Rawung

February 27, 2009 at 1:36 PM