duniahitam

tentang hidup yang terkekang

Posts Tagged ‘jakarta

Day 7 with Nissan March: Jakarta Keras, Mobilmu Juga Harus Badass

with 3 comments

Jumat, 16 September, 2o11. Setelah 7 hari menggunakan mobil Nissan March untuk keperluan sehari-hari, pelajaran apa yang saya dapatkan dari pengalaman ini?

City car memang sesuai dengan kondisi jalan-jalan di kota besar seperti Jakarta. Tidak banyak jalan di kota ini yang luas dan panjang seperti jalan-jalan protokol atau bebas hambatan. Sebagian besar jalan di sini adalah jalan di kompleks perumahan atau gang-gang sempit. Medan yang saya hadapi sehari-hari adalah jalan-jalan yang hanya muat satu mobil (karena jalur satu lagi sudah jadi lahan parkir liar dan lokasi pedagang kaki lima) atau jalan empat jalur (dua kiri dan dua kanan) yang menyempit karena lagi-lagi jalur-jalur yang paling tepi sudah dipakai pedagang kaki lima atau dipadati mobil yang parkir.

Menghadapi medan seperti ini, saya perlu mobil yang punya tenaga cukup kuat (mesin 1.300-1.500 cc), yang sebanding dengan besar body-nya. Mobil ini harus cukup kecil dan mudah dikemudikan, agar lincah bermanuver di antara lautan pengendara motor serta bisa mendahului bajaj, metro mini atau mikrolet yang suka seenaknya belok kiri-kanan.

Walaupun body-nya kecil, mobil ini harus punya kabin yang lapang. Keluarga muda kelas menengah di kota ini biasanya harus mengangkut 3 sampai 4 orang. Ayah, ibu, anak (satu atau dua), dan kadang-kadang juga membawa babysitter atau sanak-saudara. Belum lagi barang-barang yang harus dibawa, sehingga bagasinya juga harus lapang.

Malam terakhir Little Miss March parkir di seberang Recapital Building.

Jakarta adalah kota yang sangat besar, dimana jarak dari satu tempat ke tempat lain seringkali begitu jauh. Bayangkan kalau seorang suami kerja di kawasan Blok M, sedangkan istrinya kerja di kawasan Gajah Mada. Karir mereka cukup baik, masing-masing sudah berada di posisi mid-level manager, atau paling tidak senior staff. Mereka hanya punya satu mobil. Mampu untuk punya dua mobil, tapi uangnya lebih baik disimpan untuk tabungan sekolah anak-anak nanti. Mereka mungkin belum punya anak, jadi tak masalah kalau harus pulang agak malam untuk menghindari macet menggila selama rush hour.

Setiap hari, mereka berangkat pagi-pagi sekali dari rumah di kawasan pinggiran Jakarta (Cibubur, Ciledug, Bekasi, Bintaro, Serpong, Depok, you name it). Rumah-rumah di kawasan ini masih cukup terjangkau untuk kantong kaum muda kelas menengah professional seperti mereka. Pagi hari adalah giliran si suami mengemudi. Setelah ia sampai di kantornya di Blok M, sang istri melanjutkan menyetir sendiri ke kantornya di kawasan Gajah Mada. Malamnya, kadang sang istri menjemput suami, lalu suaminya menyetir sampai ke rumah. Atau kadang-kadang mereka ketemu dulu di Senayan atau Thamrin, makan malam sambil menunggu macet.

Kalau mereka beruntung dan tak ada kejadian luar biasa menimpa Jakarta seperti gempa bumi, hujan deras yang menimbulkan genangan air, demonstrasi, kerusuhan, atau acara organisasi masyarakat yang menutup separuh jalan, mereka bisa pulang dan sampai di rumah sekitar pukul 22:00-23:00. Seringkali, tanpa kejadian luar biasa pun Jakarta tetap macet menggila, dan mereka hanya bisa menghela napas sambil memijit betis yang pegal akibat menginjak kopling ribuan kali dalam sehari.

Hidup di Jakarta berarti menghabiskan sebagian besar waktu di jalanan. Memilih mobil yang tepat berarti memenangkan separuh pertandingan melawan lelah dilanda macet dan dompet yang bocor karena harga bahan bakar terus naik.

Jakarta keras, masbro dan jengsis. Mobilmu juga harus badass.

Nissan March. Jalan Adityawarman, seberang Recapital Building.

Advertisements

Written by Waraney Rawung

September 17, 2011 at 2:02 PM

Day 5 with Nissan March: Orang Gila di Tengah Macet Jakarta

leave a comment »

Rabu, 14 September, 2011. Untuk kedua kalinya, Little Miss March menikmati macetnya Jalan Sudirman dan Jalan Thamrin, Jakarta. Sore itu, saya dan Intan ingin nge-gym di Fitness First Grand Indonesia, sedangkan Aziz yang lagi nggak enak badan ingin pulang dan cepat-cepat istirahat di kost-nya di Kebon Kacang. Kami berharap jalanan lancar karena masih kena 3-in-1, dan hanya menghabiskan waktu 15 sampai 30 menit di perjalanan.

Lalu lintas di kota ini memang sulit ditebak. Walaupun 3-in-1, tetap macet dong! Kalau 3-in-1 sudah diberlakukan aja masih tetap macet, bayangkan seberapa kacau-balaunya jalan-jalan Ibukota ini tanpa peraturan yang membatasi jumlah kendaraan?

Jadi ingat gempa bumi tanggal dua tahun lalu. Gempa berkekuatan 7,3 skala Richter yang terjadi tanggal 2 September 2009, pukul 14:55 WIB itu, mengguncang Jakarta selama 2-3 menit. Orang-orang keluar dari rumah, gedung, dan segala macam bangunan tinggi-rendah, berhamburan di jalan-jalan. Masih ada beberapa gempa kecil susulan, dan kantor-kantor pun diliburkan siang itu.

Seingat saya, hari itu 3-in-1 ditiadakan. Rush hour yang biasanya berlangsung antara jam 3 sampai 8 malam, seolah dipadatkan dalam satu-dua jam saja sore itu karena semua orang ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Hasilnya? Macet total. Teman-teman yang langsung pulang ada yang baru sampai ke rumah mereka di malam hari.

March, di tengah macet Jl. Sudirman. (photo: Aziz Hasibuan http://azizonblog.blogspot.com)

Macet yang kami hadapi malam itu masih tergolong biasa-biasa saja untuk ukuran Jakarta. Berangkat dari kantor jam 18:30, sampai di Grand Indonesia satu jam kemudian. Dalam keadaan normal, jarak ini hanya menghabiskan waktu 10-15 menit.

Sambil mengemudikan March yang tersendat-sendat di Jalan Sudirman, iseng-iseng saya bilang ke Aziz yang tidur di kursi belakang. “Ziz, daripada lu tidur-tiduran nggak jelas, mendingan lu keluar sana ke jalur busway, fotoin kita. Lumayan buat bahan blog post gue.” Mendengar ini, Intan ketawa dan ikutan ngeledek Aziz. Belum selesai kami ketawa, si Aziz sudah keluar dari mobil, berdiri di jalur busway, mengeluarkan iPhone-nya, dan bersiap memotret kami.

“Ada orang gila!” teriak saya dan Intan, sambil tetap berpose. Hahahahaha.

Supir bis kucing, senang bisa nyobain Little Miss March.

Aziz, ngakunya lagi nggak enak badan, ternyata nggak mengurangi kadar nggak tahu malu. Thanks, masbro! :).

Bosen macet, mendingan foto-foto.

Intan, carpool buddy, sepulang nge-gym di FF Grand Indonesia.

Written by Waraney Rawung

September 17, 2011 at 12:36 AM

Seratus Malam di TransJakarta

with one comment

Sudah jam sembilan malam.

Jalan Adityawarman tak sepanas dan sepengap siang tadi. Pandanganmu lurus ke depan, dan kau berhati-hati agar ransel di pundakmu tak menghantam punggung orang-orang yang berhenti dan melihat-melihat barang dagangan di hamparan aspal Blok M. Ambil jalan sedikit memutar dan hindari kerumunan terpadat di terminal ini.

Ada polisi yang berjalan santai di tengah keramaian, sekelompok pemuda berwajah keras di depannya sukarela memberi jalan. Segera kau ambil posisi di belakangnya, mengatur langkahmu agar kalau-kalau ia mendadak berhenti, kau tak menghantam punggungnya.

Di terminal bawah tanah, pedagang-pedagang sudah mengemas barang-barang mereka. Kedua tanganmu sesekali meraba telepon genggam (di kantong depan kiri) dan dompet (kantong depan kanan), sambil tetap menjaga ransel di pundak kanan.

Kau lelah dan mengantuk, tapi tak sudi lengah dan melamun. Bergegas ke loket TransJakarta. Ambil uang kembalian karcis, diamkan saja anak jalanan yang mengemis uang kembalian itu (limaratus kali duapuluh dua hari dalam sebulan sama dengan sebelas ribu, cukup untuk tiga kali beli karcis lagi). Berikan karcis ke petugas untuk disobek, simpan sobekannya untuk penanda halaman buku, dan langsung naik ke atas.

Setengah sepuluh malam, antrian di halte masih ramai. Sabar. Satu, dua, mungkin tiga bis yang lewat dan akhirnya giliranmu tiba.

“Pelan-pelan, jangan dorong-dorongan. Lihat ke bawah,” kata petugas. Kau setengah melompat masuk dalam bis, dan udara dingin yang menghantam sejenak membekukan kulitmu.

Kau lelah dan mengantuk, tapi tak pernah lupa posisi ternyaman di dalam sana. Bukan di kursi-kursi empuk berkeringat itu, melainkan berdiri dan bersandar di pintu tengah sebelah kiri yang tak akan terbuka sampai tujuan terakhir di Kota. Tiang-tiang besinya menahan tubuhmu dan kau bisa beristirahat tanpa menjadi lengah. Di sini, siang maupun malam, adalah tempat terbaik untuk membaca, karena kedua kakimu dapat mengatur keseimbangan mengurangi goncangan, dan huruf-huruf terbaca tanpa merusak mata.

Ingat, walaupun sedikit sekali orang yang akan peduli dengan buku di tanganmu, jangan sampai sampulnya menarik perhatian tetanggamu. Mereka yang terbiasa dengan kelap-kelip telepon genggam dan percakapan rahasia, akan terganggu dengan huruf-huruf dan gambar-gambar yang terbaca untuk semua.

One Hundred Years of Solitude? Gadis setengah telanjang yang mengingatkanmu kepada gadis gypsy yang ditiduri Jose Arcadio Buendia dalam tenda pengap di tengah-tengah sirkus kampung itu? Arahkan sampulnya ke bawah, jangan ganggu lamunan bapak tua di depanmu.

“…Colonel Aureliano Buendia scratched for many hours trying to break the hard shell of his solitude.” Penumpang naik dan turun, AC yang terus menampar-nampar wajah, dan udara yang terasa basah. Bunderan HI sudah dekat. Di Halte Karet, matamu lelah karena neon di langit-langit berulangkali terhalang tangan, pundak dan ketiak yang resah.

Di luar, sepasang patung menawarkan rangkaian bunga ke belantara beton Jakarta, mengingatkanmu kepada teman yang berteriak, “Kota ini kembang api!”

“Change your belongings, and step carefully. Thank you.”

Untuk Edo Wallad. My condolences to you and your family. Prayers and thoughts for your Dad.

Jakarta Kota (Darurat) Bahari?

with 14 comments

Baru dua minggu yang lalu saya menulis tentang Jakarta yang makin amburadul gara-gara banjir (maaf Fauzi Bowo, saya menolak menyebutnya sebagai ‘genangan’) dan kemacetan lalu-lintas. Sore ini, lagi-lagi saya harus ‘berenang’ menyeberangi ‘sungai’ Adityawarman di depan Recapital Building, untuk menyelamatkan Xenia tercinta dari bahaya tenggelam.

Walaupun sudah mengganti boots kesayangan dengan boots tua yang disiapkan untuk kondisi darurat seperti ini, saya kaget juga waktu nyemplung ke ‘sungai’ itu dan menyadari bahwa tinggi air sudah melewati lutut saya. Sambil berjalan pelan-pelan, di kiri-kanan terlihat mobil-mobil yang berebut melarikan diri dari banjir. Keputusan saya beberapa bulan lalu untuk beli mobil tipe minibus memang tepat. Bayangkan, air sudah menenggelamkan ban mobil saya. Lha kalo Xenia yang tinggi aja udah hampir kelelep, gimana nasibnya mobil sedan?

Foto karya Arief Rakhmadani, http://ariefr.tumblr.com

Sore ini saya menghabiskan waktu lebih dari dua jam untuk ngabur dari Adityawarman dan mengungsi di tempat parkir Pasaraya Blok M. Saya nggak berani memaksakan mobil untuk menyeberang jalan yang banjirnya makin tinggi, dari depan PLN ke Recapital. Lantai di bawah kursi pengemudi memang sempat tergenang air (gara-gara buka pintu sesaat dan ada mobil lewat mengirim gelombang air sialan), tapi mobil saya sejauh ini baik-baik saja. Siap-siap keluar uang lumayan banyak untuk mengeringkan karpet di bengkel, tapi nggak sampai mogok seperti beberapa mobil lainnya.

Selama menunggu banjir surut dan macet agak mereda, sendirian kedinginan di tempat parkir Pasaraya, saya menyibukkan diri dengan Twitter. Lucu-lucu mengenaskan benar tweet warga Jakarta yang kerepotan dengan banjir dan macet ini. Nggak heran juga kalau sang Gubernur jadi sasaran makian warga yang kesal ibukota negara ini makin amburadul.

Daripada capek mengeluh, mungkin lebih baik warga Jakarta bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuk. Beberapa waktu lalu saya sempat baca artikel (lupa dari koran apa) yang meramalkan Jakarta akan tenggelam beberapa puluh tahun lagi, karena permukaan tanah kota ini terus-menerus turun akibat air tanah yang berkurang dan karena sebab-sebab lainnya. Agaknya, sebelum Jakarta tenggelam, akan ada banyak bencana yang mampir menghampiri warganya. Mulai dari banjir, tanah ambles, sampai kegagalan transportasi yang tak terobati.

Karena kita cinta Jakarta dan enggan pindah dari sini, yuk kita bangun rumah tinggi-tinggi, beli mobil tipe minibus atau SUV, dan siapkan perbekalan (pakaian, makanan, minuman, batere cadangan, dll) di mobil dan kantor untuk saat-saat darurat. Sukur-sukur bisa cepat kaya agar mampu beli Humvee. Ayo kita bangun sebanyak-banyaknya shopping mall, gedung perkantoran, dan apartemen. Lebih bagus lagi kalau semua gedung di Jakarta bisa terhubung satu sama lain, agar warganya tak perlu keluar gedung. Cukup jalan kaki atau naik sepeda (mungkin mobil listrik?) dari gedung ke gedung.

Saya membayangkan dari rumah di Perumnas Tanah Abang, jalan kaki (di udara terbuka), masuk ke Grand Indonesia atau Plaza Indonesia, dan dari sana langsung ke kantor di daerah Blok M. Bisa jalan kaki di koridor-koridor ber-AC, atau naik mobil listrik. Seperti di film Blade Runner, Akira, atau film-film fiksi ilmiah lainnya.

Mari kita menuju Jakarta, Kota (Darurat) Bahari! 🙂

Berikut screen captures dari Twitter updates milik Daniel Giovanni, Thomas Arie, Budiono Darsono, Akmal Nasery Basral, Gandrasta, dan Dimas Novriandi yang saya rasa cukup menggambarkan suasana hati orang-orang di timeline saya saat itu. Ada lebih banyak lagi foto-foto banjir dan makian-makian buat Foke. Untuk saat ini, cukup yang lucu-lucu saja. Ada juga foto dari Merdeka Coffee, Kemang, yang kebanjiran cukup parah.

*judul blog post ini meminjam tweet Thomas Arie yang nampol bener rasanya 🙂

Jakarta Yang Semakin Amburadul & Winter Collection

with 9 comments

Salah satu tema khayalan favorit saya waktu masih duduk di bangku SD adalah seandainya Jakarta mendadak dilanda musim dingin dan dihantam badai salju. Kota yang panas dan padat penduduk ini membeku, penduduknya bergelimpangan kaku. Jalan-jalan licin terbalut es dan langit yang putih menyilaukan menjadi selingan yang menyenangkan. Khayalan ini memang sedikit sadis, tapi harap maklum, ini akibat lahir dan dibesarkan di Jakarta yang sumpek dan gerah, dan rasa iri yang berkepanjangan terhadap warga Bandung (dan kota-kota dataran tinggi lainnya) yang diberkati cuaca sejuk sepanjang tahun.

Beberapa bulan belakangan, walaupun tak ada salju yang membungkus Jakarta, hujan badai dan cuaca dingin berulangkali menghantam kota ini. Di bulan-bulan yang seharusnya kemarau, malah hujan deras dan banjir yang mampir. Saya percaya ini memang efek dari global warming. Ada pergeseran pola cuaca, yang bukan hanya terjadi di Indonesia atau di Jakarta, tapi juga di seluruh dunia. Menurut sebuah artikel di The Jakarta Post, cuaca ekstrim yang akhir-akhir ini terasa mungkin akan berlanjut sampai Februari 2011. Masih kurang lebih lima bulan lagi kita harus menikmati cuaca kacau balau begini.

Bicara soal hujan deras dan banjir di Jakarta, berarti bicara soal kemacetan lalu lintas yang makin menggila. Jarak tempuh normal dari Blok M ke Tanah Abang yang hanya setengah jam menyetir santai, bisa-bisa molor jadi dua jam. Belum lagi kalau harus menempuh rute-rute langganan parkir gratis tengah jalan seperti Ciledug, Cinere, Bintaro, dan lain-lain. Siap-siap lutut dan pergelangan kaki ngilu akibat berulang-ulang menginjak gas-rem-kopling, dan jempol tangan pegel saking hebohnya marah-marah di Twitter.

Jakarta Makin Amburadul?

Halaman pertama Koran Tempo edisi hari ini yang berjudul ‘Jakarta Makin Amburadul’ dengan latar belakang foto jalanan padat kendaraan bermotor, dan tulisan Mas Wicak di blog-nya, cukup mewakili kedongkolan saya terhadap kota tercinta yang semakin berantakan ini,

Jakarta pada 2010 adalah kota yang amburadul meskipun dipimpin oleh ahli tata kota lulusan Jerman: Fauzi Bowo. Ia dilantik pada 7 Oktober 2007 sebagai gubernur ibu kota negara.

Pada mulanya dia berjanji memperbaiki keadaan. Kemudian sejumlah rencana disusun rapi, dikerjakan dalam ruang yang senyap. Bahkan nyaris tak ada yang sadar apa yang sebetulnya sudah dia kerjakan untuk memoles wajah Jakarta.

Reaksi pertama saya saat membaca tulisan Mas Wicak adalah berteriak “Setuju!” Siapa lagi yang harus bertanggung jawab atas kota yang makin amburadul ini, kalau bukan Pak Gubernur? Coba lakukan Twitter search dengan kata kunci ‘foke’, dan lihat segudang keluhan yang dilontarkan publik kepada Fauzi Bowo. Lalu apa jawabannya terhadap keluhan warga yang kebanjiran? Jangan cuma bersembunyi di balik definisi ‘banjir’ dan ‘genangan’ dong! Mana konsep transportasi massa yang dijanjikan saat kampanye dulu?

Okay. Puas teriak setuju dan menuntut janji dikabulkan, lalu apa? Bagaimana kalau setelah masa jabatan Foke selesai dan ia digantikan gubernur baru, tapi Jakarta tetap (dan mungkin semakin) amburadul? Apa kita cuma puas menunggu aja? Ada nggak yang bisa kita lakukan sebagai warga kota, yang bisa membuat kota ini lebih enak ditinggali? Ini pertanyaan beneran lho, karena saya bener-bener nggak tahu jawabannya.

Jakarta, Winter Collection?

Marah-marah nggak ada gunanya, sedangkan banjir – eh salah, genangan air sesaat akibat hujan, maaf Pak Gubernur :p – dan cuaca nggak keruan harus kita hadapi setiap hari. Paling tidak sampai bulan Februari 2011, kalau prediksi BMKG tidak meleset. Untuk itu, saya menyimpan beberapa jaket tebal, kaos kaki, celana panjang, baju dan payung cadangan di mobil dan kantor. Genangan air yang menenggelamkan Jalan Adityawarman beberapa hari lalu bahkan membuat saya harus menambah winter collection tadi dengan sepasang sepatu bot tua.

Siapa yang menyangka bahwa Jalan Adityawarman di depan Recapital Building (kantor saya ada di lantai 3 gedung itu) dalam waktu setengah jam bisa berubah jadi sungai kecil, seperti yang terekam dalam foto tahun lalu di bawah ini? Dua tahun lalu, genangan itu bahkan sedemikian dalamnya, sampai mobil-mobil sedan yang diparkir di sana kemasukan air. Nah, tahun ini genangan serupa sudah beberapa kali terjadi. Yang paling parah Senin, 4 Oktober 2010 lalu, saat ketinggiannya hampir selutut orang dewasa.

Karena parkir di Recapital Building mahal buat ukuran dompet saya, saya memarkir mobil di pinggir jalan seberang gedung, tepat di samping PLN. Risikonya, saat hujan dan genangan air meninggi, mobil harus dipindahkan ke parkiran di dalam Recapital. Dua minggu belakangan ini, saya sudah nyemplung dua kali untuk memindahkan mobil  ke lokasi yang lebih aman. Mobil saya memang tipe minibus yang cukup tinggi, tapi saya nggak mau ambil resiko mobil itu kelelep genangan yang berubah jadi banjir.

Nah, kalau keseringan nyemplung di air yang kotor, boots kesayangan saya bisa cepat rusak. Bersihinnya bikin capek dan keringnya lama banget. Mau nyemplung pakai sandal jepit, ngeri kaki kesangkut benda-benda tajam atau digigit tikus. Solusi yang saya pilih adalah: sedia sepatu bot tua sebelum genangan Jakarta melanda. Sayangnya sepatu bot tua ini kurang tinggi untuk melindungi kaki. Bulan depan saya berencana beli sepatu bot tukang kebun atau wellington boots yang melindungi kaki sampai di bawah lutut. Sukur-sukur bisa dapat yang agak keren seperti ini dan ini.

Sekarang jam 16:48 WIB, dan di luar hujan deras lagi. Sebentar lagi mungkin pengeras suara gedung akan mengumandangkan pengumuman, “Perhatian, perhatian. Kepada tenant Recapital Building yang memarkir mobil di depan gedung, harap segera memindahkan mobilnya, karena genangan air semakin tinggi. Terima kasih.”

Written by Waraney Rawung

October 8, 2010 at 9:57 AM

Kartu Tanda (Penduduk) Pemalas

leave a comment »

Kartu Tanda Penduduk (KTP) saya sudah habis masa berlakunya sejak setahun lalu. Kenapa saya tak memperpanjangnya? Banyak alasan yang bisa saya sampaikan, tapi semuanya bermuara pada satu hal saja. Malas.

Ya, saya memang pemalas. Malas mendatangi ketua RT dan RW yang saya tak kenal, untuk minta dibuatkan surat pengantar ke kelurahan. Malas berbasa-basi dengan tetangga yang saya bahkan tak tahu namanya.

Malas menyeberangi K.H. Mas Mansyur di depan perumnas dan bertemu dengan pegawai-pegawai kelurahan, terpaksa beramah-tamah. Malas melihat gedung kelurahan dan lay out ruang-ruangnya yang hampir sama dari Jakarta sampai Merauke (saya belum pernah ke Sabang).

Malas bukan main.

Tapi karena ada acara kantor yang mengharuskan saya bikin paspor dan NPWP, terpaksa saya menyimpan kesal memasang topeng ‘government relations officer’ yang begitu mahir saya mainkan dua tahun lalu saat kantor yang lama menugaskan saya ke beberapa daerah di Indonesia Timur.

Sudah terbayang, pasti urusan akan dipersulit. “Kalau bisa dipersulit, buat apa dipermudah?” Kalimat yang menyamaratakan etos kerja pegawai negeri itu berulang-ulang terucap dalam hati.

Memang benar, tak mudah berurusan dengan birokrasi. Setelah surat pengantar beres (Pak RT sempat sulit dicari, tapi belakangan sangat kooperatif), saya terkejut saat diberitahu mbak yang baik di bagian perpanjangan KTP bahwa denda keterlambatan Rp10.000 harus dibayar langsung di loket Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Kantor Walikota Jakarta Pusat.

Jarak antara kelurahan di Jalan KH Mas Mansyur dan Kantor Walikota, di Jalan Tanah Abang I, kira-kira 5 kilometer. Mungkin lebih.

Kenapa denda sekecil itu tak bisa dibayar langsung di tempat saja? Wajah si mbak yang kosong itu tak menjawab apa-apa, bahkan saat saya isyaratkan bahwa saya bersedia bayar lebih (baca: nyogok) supaya tak perlu pergi jauh-jauh ke Kantor Walikota.

Saya kan sibuk, punya kehidupan yang lebih penting dari urusan-urusan remeh macam begini. Ngapain buang-buang waktu? Nggak canggih banget sih!

Si mbak agaknya benar-benar tak bisa membantu dan hanya tersenyum standar. Saya pun naik ke lantai dua untuk membuat surat pengantar pembayaran denda. Bayangkan, bayar denda saja harus pakai surat pengantar! Belakangan, sambil menunggu pegawai yang tak datang-datang (padahal sudah jam 9.30 dan ada tulisan yang bilang loket buka jam 7.30 pagi), melihat surat pengantar diketik a la sebelas jari, menanti sampai surat itu dicetak (makan waktu lima belas menit hanya untuk mengutak-atik menu print dan tombol on-off printer), saya baru sadar kenapa sistem yang mengganggu ini harus ada.

Pertama, harus bayar jauh-jauh di walikota karena tak ada sistem online.

Kedua, semakin primitif operasional pemerintahan, semakin banyak pegawai yang bisa dipekerjakan (pernah lihat meja piket yang ditongkrongi sepuluh orang yang tak berbuat apa-apa?).

Ketiga, ini ganjaran buat pemalas kelas berat seperti saya.

Keempat, KTP adalah singkatan dari Kartu Tanda (Penduduk) Pemalas.

Written by Waraney Rawung

February 27, 2009 at 1:36 PM