duniahitam

tentang hidup yang terkekang

Posts Tagged ‘gratiagusti chananya rompas

Mabuk Puisi di KebunKata “The Act of Giting”, 30 Maret 2013!

leave a comment »

 

 

karena saat kau terjebak hujan di sore sepulang kerja

gelisah menghitung berapa sabtu siang yang tersisa

dan sampai kapan minggu sore masih akan ada

kau bertanya, “ini mabuk kok tak ada ujungnya?”

 

demi sepotong sepi yang asli

demi menit-menit yang berhenti

 

Image

 

Datang dan ramaikanlah KebunKata “The Act of Giting” bersama penyair-penyair BungaMatahari dan musisi-musisi tercinta Ibukota, hari Sabtu, 30 Maret 2013, pukul 2 siang sampai puas, di Tokove, Ruko Belle Point, Kemang Selatan 8, Jakarta Selatan.

Karena tak ada yang lebih baik daripada menghabiskan Sabtu siang dengan membaca dan menikmati puisi-puisi yang dijamin akan membuatmu mabuk dan semakin mabuk, tercekik kata-kata yang lebih manjur daripada jamur dan kue manis bercampur rumput-rumput peace.

 

 

Advertisements

Seratus Malam di TransJakarta

with one comment

Sudah jam sembilan malam.

Jalan Adityawarman tak sepanas dan sepengap siang tadi. Pandanganmu lurus ke depan, dan kau berhati-hati agar ransel di pundakmu tak menghantam punggung orang-orang yang berhenti dan melihat-melihat barang dagangan di hamparan aspal Blok M. Ambil jalan sedikit memutar dan hindari kerumunan terpadat di terminal ini.

Ada polisi yang berjalan santai di tengah keramaian, sekelompok pemuda berwajah keras di depannya sukarela memberi jalan. Segera kau ambil posisi di belakangnya, mengatur langkahmu agar kalau-kalau ia mendadak berhenti, kau tak menghantam punggungnya.

Di terminal bawah tanah, pedagang-pedagang sudah mengemas barang-barang mereka. Kedua tanganmu sesekali meraba telepon genggam (di kantong depan kiri) dan dompet (kantong depan kanan), sambil tetap menjaga ransel di pundak kanan.

Kau lelah dan mengantuk, tapi tak sudi lengah dan melamun. Bergegas ke loket TransJakarta. Ambil uang kembalian karcis, diamkan saja anak jalanan yang mengemis uang kembalian itu (limaratus kali duapuluh dua hari dalam sebulan sama dengan sebelas ribu, cukup untuk tiga kali beli karcis lagi). Berikan karcis ke petugas untuk disobek, simpan sobekannya untuk penanda halaman buku, dan langsung naik ke atas.

Setengah sepuluh malam, antrian di halte masih ramai. Sabar. Satu, dua, mungkin tiga bis yang lewat dan akhirnya giliranmu tiba.

“Pelan-pelan, jangan dorong-dorongan. Lihat ke bawah,” kata petugas. Kau setengah melompat masuk dalam bis, dan udara dingin yang menghantam sejenak membekukan kulitmu.

Kau lelah dan mengantuk, tapi tak pernah lupa posisi ternyaman di dalam sana. Bukan di kursi-kursi empuk berkeringat itu, melainkan berdiri dan bersandar di pintu tengah sebelah kiri yang tak akan terbuka sampai tujuan terakhir di Kota. Tiang-tiang besinya menahan tubuhmu dan kau bisa beristirahat tanpa menjadi lengah. Di sini, siang maupun malam, adalah tempat terbaik untuk membaca, karena kedua kakimu dapat mengatur keseimbangan mengurangi goncangan, dan huruf-huruf terbaca tanpa merusak mata.

Ingat, walaupun sedikit sekali orang yang akan peduli dengan buku di tanganmu, jangan sampai sampulnya menarik perhatian tetanggamu. Mereka yang terbiasa dengan kelap-kelip telepon genggam dan percakapan rahasia, akan terganggu dengan huruf-huruf dan gambar-gambar yang terbaca untuk semua.

One Hundred Years of Solitude? Gadis setengah telanjang yang mengingatkanmu kepada gadis gypsy yang ditiduri Jose Arcadio Buendia dalam tenda pengap di tengah-tengah sirkus kampung itu? Arahkan sampulnya ke bawah, jangan ganggu lamunan bapak tua di depanmu.

“…Colonel Aureliano Buendia scratched for many hours trying to break the hard shell of his solitude.” Penumpang naik dan turun, AC yang terus menampar-nampar wajah, dan udara yang terasa basah. Bunderan HI sudah dekat. Di Halte Karet, matamu lelah karena neon di langit-langit berulangkali terhalang tangan, pundak dan ketiak yang resah.

Di luar, sepasang patung menawarkan rangkaian bunga ke belantara beton Jakarta, mengingatkanmu kepada teman yang berteriak, “Kota ini kembang api!”

“Change your belongings, and step carefully. Thank you.”

Untuk Edo Wallad. My condolences to you and your family. Prayers and thoughts for your Dad.