duniahitam

tentang hidup yang terkekang

Posts Tagged ‘festi noverini

Mabuk Puisi di KebunKata “The Act of Giting”, 30 Maret 2013!

leave a comment »

 

 

karena saat kau terjebak hujan di sore sepulang kerja

gelisah menghitung berapa sabtu siang yang tersisa

dan sampai kapan minggu sore masih akan ada

kau bertanya, “ini mabuk kok tak ada ujungnya?”

 

demi sepotong sepi yang asli

demi menit-menit yang berhenti

 

Image

 

Datang dan ramaikanlah KebunKata “The Act of Giting” bersama penyair-penyair BungaMatahari dan musisi-musisi tercinta Ibukota, hari Sabtu, 30 Maret 2013, pukul 2 siang sampai puas, di Tokove, Ruko Belle Point, Kemang Selatan 8, Jakarta Selatan.

Karena tak ada yang lebih baik daripada menghabiskan Sabtu siang dengan membaca dan menikmati puisi-puisi yang dijamin akan membuatmu mabuk dan semakin mabuk, tercekik kata-kata yang lebih manjur daripada jamur dan kue manis bercampur rumput-rumput peace.

 

 

Catatan Nyelip: BungaMatahari & Bandung Lautan Kata, Bagian 2

with 2 comments

Menyambut ulang tahun Komunitas Puisi BungaMatahari ke-12 tanggal 19 April 2012 yang akan datang, saya akan mempublikasikan tulisan-tulisan lama tentang BuMa, sebagian darinya sudah lama tersimpan di folder komputer tercinta. Mereka sebenarnya diniatkan untuk terbit tak lama setelah acara-acara yang dibahasnya. Yang menyebabkan mereka lama hilang tak lain tak bukan adalah kemalasan, kecerobohan, dan kebodohan saya sendiri.

Ini adalah bagian kedua dari cerita perjalanan para penggiat BungaMatahari di Jakarta ke Bandung, dalam rangka promosi Antologi BungaMatahari, dan KebunKata Bandung Lautan Kata. Pernah saya publikasikan di blog lama. Agar lebih enak dibaca, saya edit sedikit dan terbitkan dalam beberapa bagian.

NgamenKata, Sabtu, 29 April, 2006

Sore itu cuaca mendung dan menjelang malam hujan pun turun. Di teras kamar nomor 5 Nivell, Citra, Ririen, Herman, Yusak, Firman, dan Maya menyiapkan kotak-kotak sumbangan yang akan digunakan di acara NgamenKata. Mereka juga sibuk memotong-motong flyers KebunKata dan Sepeda Untuk Sekolah yang akan dibagi-bagikan di sepanjang Jalan Dago. Sementara itu saya, Esti, dan Anya sudah sejak pukul 6 sore tumbang kecapaian dan tidur tanpa mempedulikan nyamuk yang merubung. Jorgy lagi-lagi pergi berburu kaset, kali ini ditemani Yoshi.

Pukul 7.30 hujan berhenti, dan baru setelah jam 8 kami berangkat naik angkot menuju sasaran. Pertama-tama mampir dulu ke CCF menemui teman-teman Avatar yang sedang buka stand di acara Les Voilà April Edition. Walaupun ingin sekali menyaksikan penampilan Goodnight Electric, Sore, Tika, dan lain-lain dalam acara tersebut, rencana NgamenKata harus terlaksana. Dari CCF kami bergerak ke arah perempatan Kimia Farma. Di sana, setelah membagi diri menjadi dua kelompok, NgamenKata pun dimulai!

Kelompok pertama terdiri atas saya, Citra, Maya, dan Herman. Sedangkan di kelompok kedua ada Anya, Nivell, Yusak, Eno, dan Jorgy. Belakangan, Eko dan Yoshi bergabung dengan kelompok Anya. Baru lima menit berjalan, saya langsung menyadari bahwa situasi di Jalan Dago malam itu sangat tidak mendukung untuk menjalankan rencana kami, apalagi kami bukan pengamen professional yang ditempa oleh bertahun-tahun menghadapi ramainya pejalan kaki dan bisingnya kendaraan bermotor.

Awalnya kelompok saya lebih banyak menemukan kedai-kedai pinggir jalan yang masih kosong. Saya menebak bahwa pukul 9 masih tergolong pagi untuk anak-anak Bandung yang akan menghabiskan waktu di kawasan itu. Setelah berjalan beberapa menit kami pun menemukan warung tenda pertama yang ramai pengunjungnya. Saya segera mengambil posisi yang moga-moga strategis dan mulai memberikan kata pengantar tentang program ini, bahwa kami BungaMatahari bersama dengan Mapala UI, sedang mencari dana untuk program Sepeda Untuk Sekolah, dan seterusnya. Selesai mengucapkan kata pengantar tersebut suara saya sudah mulai serak. Astaga. Seandainya saya pernah ikut teater pasti tidak muncul masalah seperti ini. Maya kemudian menggantikan tempat saya dan mulai membacakan salah satu puisi dari Antologi. Selesai pembacaan puisi, kami langsung mengedarkan kotak sumbangan, lalu pamit dan pergi. Kegiatan yang tampaknya sederhana ini ternyata tidak semudah yang dipikirkan sebelumnya. Terutama karena tingkat kebisingan lalu-lintas yang sangat mengganggu konsentrasi.

Di warung tenda yang kedua, kali ini saya yang membaca puisi. Puisi yang saya bacakan juga berasal dari dari Antologi, tapi lebih pendek dari yang dibacakan Maya. Sengaja dan curang memang. Maya ngamuk-ngamuk begitu tahu. Hehehehehe. Ajaibnya, puisi pendek itu ternyata menghasilkan sumbangan yang lumayan juga. Wah, anak Bandung sangat murah hati rupanya. Walaupun kehadiran kami pasti mengganggu, sebagian besar orang yang kami temui selalu menampilkan raut wajah yang ramah dihiasi senyum maklum, yang sudah tentu melegakan sekali bagi pengamen-pengamen amatiran ini.

Kembali berjalan dan membagi-bagikan flyers. Di depan KFC Superindo, kami baru sadar bahwa flyers di tangan kami sudah hampir habis. Terpaksa menelepon teman-teman yang lain. Yusak yang dihubungi tak mengangkat handphone-nya. Hanya Yoshi yang menjawab telepon saya dan langsung menyusul kami. Rupanya mereka cukup jauh tertinggal di belakang, karena di bagian mereka ada banyak sekali warung-warung tenda yang ramai pengunjung. Akhirnya saya memutuskan kelompok kami sebaiknya bergabung dengan kelompok Yoshi. Beramai-ramai kami menyusuri Jalan Dago yang semakin padat dan bising.

Tidak semua tongkrongan di jalan itu kami hampiri. Dunkin Donuts yang dipenuhi anggota-anggota klub pengemudi motor besar misalnya, kami lewati begitu saja. Kata Jorgy, “Enggak deh, ntar kita diapa-apain lagi.” Hahahaha…

Jam baru menunjukkan pukul 10 malam ketika akhirnya kami tiba lagi di depan KFC Superindo. Semua sudah letih dan lapar sehingga Anya akhirnya memutuskan untuk menutup NgamenKata dan segera makan malam. Setelah perut kenyang, nyawa berkumpul dan mata terang, kami pun pulang ke Puri Tomat. Tiba di hotel bernama lucu itu sekitar pukul 11 malam, dan tanpa mengacuhkan Eko yang lagi-lagi mencoba meracuni saya untuk begadang, saya pun segera terkapar dengan sukses!

Curhat Dipercepat & Rayuan Kelinci (Minggu, 30 April 2006)

Minggu, 30 April 2006, pukul 1 dini hari, saya dibangunkan oleh Anya. Pingkan, Adde, Icha, Ai dan Bayu baru tiba dari Jakarta. Diiringi sayup-sayup obrolan mereka di teras luar, saya pun kembali terlelap. Pukul 5 terbangun lagi dan ngobrol sebentar, lalu tidur lagi. Saya baru benar-benar terbangun sekitar pukul 9 pagi.

Pagi menjelang siang itu pun akhirnya dihabiskan dengan ngobrol-ngobrol dengan rombongan yang baru datang semalam. Seperti biasa, agak-agak sulit buat kami untuk bisa segera bersiap-siap dan check out dari hotel. Apalagi ada Eko, yang lagi-lagi sulit dibangunkan dari tidurnya. Sekitar pukul 1 siang kami berangkat ke Potluck dalam dua kelompok terpisah. Sebagian, termasuk saya, ikut mobil Pingkan bersama perlengkapan acara, sedangkan sisanya naik angkot.

Sampai di Potluck kami langsung bertemu dengan teman-teman dari Jakarta yang sudah tiba lebih dulu. Ada Donni, Sam, Rien, Jack, Widi, Kinu, Indah (anggota BuMa dari Surabaya), dan Niken. Tak lama kemudian, Mas Yo datang bersama suami-istri penyair Bambang dan Lintang Sugianto, disusul Festi, Ulil, Santi, Isky, dan Danar. Saya senang sekali Danar bisa datang. Salah satu pemrakarsa BuMa ini biasanya sibuk dengan jadwal latihan dan manggung band-nya sehingga tidak bisa sering-sering datang ke acara BuMa.

Sebelum acara dimulai, kami mendapat kejutan menyenangkan. Pelukis Herry Dim dan istrinya menyempatkan datang ke acara kami dan bertemu dengan anggota-anggota BuMa. Saya memang berkali-kali berusaha mengundang beliau, baik melalui sms maupun menelepon langsung. Namun selalu mendapat jawaban bahwa beliau sedang sibuk melukis. Kehadirannya siang itu tentu saja sangat membesarkan hati kami. Sambil ngobrol-ngobrol ringan, beliau gantian mengundang kami untuk datang ke acara yang akan diadakannya  akhir bulan Mei di Jakarta.

All photos by Dita Ramadhani, @whalerider

Acara KebunKata Bandung Lautan Kata dimulai pukul 3.30, dibuka oleh penampilan Yaz dan Upay dari band Alone at Last yang membawakan versi akustik dari lagu-lagu mereka yang berjudul ‘Jiwa’ dan ‘Amarah, Senyum dan Air Mata’. Kemudian Mbak Lintang tampil membawakan ‘Titip Salam Cinta Untuk Bunda, Tuhan’, karya pepsigolda a.k.a Festi Noverini yang juga termuat di Antologi.

Penampil berikutnya, Sophan A, membacakan ‘Mari Berhitung’ karya Thanding sari, ‘Aku Mencintaimu Diam-diam’ dari Arwan Maulana, dan ‘Jomblo Itu Pedih, Jenderal’ karya Randurini.

Selesai pembacaan puisi dari Sophan, Yaz dan Upay kembali tampil, membawakan dua lagu, dan langsung disambung oleh Mas Bambang Sugianto dengan puisi berjudul ‘Kamira’ dari Mas Yo a.k.a blue4gie, dan ‘Tuan Malaikat…’ karya Mbak Lintang, kemudian ditutup dengan ‘Obituary Penyair’ karya TS Pinang.

Penampil ‘resmi’ terakhir yang tercantum di flyers adalah Widzar al-Ghifary, atau sireum hideung, yang membacakan ‘Dermaga’ karya Cecil Mariani.

Usainya pembacaan ‘Dermaga’ Cecil Mariani oleh Widzar menandai dibukanya sesi berikut dari acara KebunKata ini, yaitu sesi pembacaan puisi spontan. Seperti biasa, walaupun anggota yang ingin membaca puisi diminta untuk mengisi ‘daftar penampil’, hanya sedikit yang melakukan hal tersebut. Antara lain karena suasana yang semakin seru dan panas oleh kata-kata yang beterbangan di udara membuat semua yang hadir seolah kesurupan oleh arwah-arwah narsis, yang mendorong semuanya berebutan maju ke depan untuk membacakan puisinya. Berikut daftar (tidak lengkap) dari penampil hari itu dan karya yang dibacakannya (yang sayangnya tidak semua tercatat):

1.      Lukman Gunawan, (anggota BuMa yang tinggal di Bandung, datang dengan sekaleng penuh puisi dan foto-foto kenangan, membuka sesi curhat yang biasanya baru dimulai menjelang tengah malam)

2.      Jorgy Ibrahim, ‘Preferensi’

3.      Tiara, membacakan lirik-lirik lagu Alone at Last, ‘Amarah, Senyum, dan Air Mata’

4.      Widzar, ‘Jalan Sunyi’ karya Emha Ainun Nadjib

5.      Sam, ‘Tubuhmu Seperti Toilet Umum’ karya Andri VB

6.      Isky, “Aku Lebih Suka’ karya Lintang Sugianto, dan ‘Berita Playboy Tiada Henti’ karya Oom Leo

7.      Ariekotama, ‘Kamu dan Tomat’ karya sendiri

8.      Ney, ‘Tanpa Judul’ karya cryalgesia

9.      Festi, ‘Abang’, karya Lintang Sugianto

10.  Anya, ‘Pembunuh’, karya sendiri

pembunuh

petikan gitarmu

berputar-putar

di udara dan di dalam kepala

menggaung tak berujung

menghisap potongan-potongan adegan sebuah kisah nyata; dari dalam ingatan

ke depan mata

memaksaku

untuk merasa

lagi

dan mati

7lc, 19maret2005

11.  Danar, ‘(tidak tercatat)’

12.  Mas Yo, ‘Apa Kabarmu, Nak’ karya sendiri

13.  Firman, ‘Para Penyair Adalah Pertapa Agung’ karya Wiji Thukul

14.  Yusak, ‘(tidak tercatat)’

15.  Rahma, ‘(tidak tercatat)’

16.  Ney, ‘Hangus’ karya Firman

17.  Tisha, ‘Niwatakawaca’ karya sendiri

18.  Maya Meliviyanti, ‘Satu Siang Dengan Wanita Tua’ karya sendiri

satu siang bersama wanita tua

makan bukan dengan tangan kanan

seperti yang biasa dia lakukan

tertawa malu ketika kecap dia salah sebut menyeracap

bercerita tentang indahnya jogja masa lugu

hera mengapa ia masih mengingat melihat tentara terluka

dan lupa sebutanku

sejenak aku pun lupa akan sakitku

19.  Yoshi, ‘Pelet’ karya suaradarilangit, dan ‘Menggenggam Dunia’ karya Tika

20.  Dita, ‘tanpa judul’

Aku tak tahan

Tak mampu menahan-nahan

Kamu cantik

Kamu menarik

Kamu menawan

Aku ditawan

Oleh senyuman di balik gincu

Belahan dadamu yang bersemu

Lalu rok minimu

Aduh mati aku!

Tapi biarlah, aku terus maju

Toh denganmu hanya 5 ribu

21.  Adde, ‘Sapi Perah 1998’ karya sendiri

22.  Ulil, ‘Kalau Aku Ketemu Kamu’ karya sendiri

23.  Nirasha, ‘Lebah di Musim Semi’ karya sendiri

24.  Jorgy, ‘Puisi Ngarang…’ karya sendiri

25.  Eko, ‘Sebuah Puisi Dari Penjaga Counter di Potluck Bandung’

26.  Adde, ‘(tidak tercatat)’

27.  Eno, ‘(tidak tercatat)’

28.  Danar, ‘Raymond’

29.  Lukman, ‘(tidak tercatat)’

Seingat saya di titik ini acara sudah mulai tidak jelas, di depan saya ada yang selonjoran di sofa panjang, di pojok sana terlihat beberapa kelinci tanpa malu-malu melancarkan jurus merayu a la Chairil Anwar kepada kenalan baru, sebagian sibuk membereskan peralatan acara, karena rupanya KebunKata ‘Lautan Kata’ sudah resmi selesai. Ah senangnya. Sukses juga niat kami menambah teman baru dan wawasan seru.

Selanjutnya, beramai-ramai berfoto, tertawa-tawa, meneruskan cari makanan, dan berlanjut ke tongkrongan lainnya. Saya memilih memisahkan diri dari rombongan karena ada acara yang lebih menyenangkan: pulang duluan dan makan malam dengan pacar!

Written by Waraney Rawung

February 17, 2012 at 2:59 PM

Malam Yang Sangat Kora-kora

leave a comment »

Selamat pagi, teman. Sekarang sudah lewat jam dua pagi, dan kantuk belum juga menghampiri. Saya sedang duduk di meja tengah Coffeewar, menikmati lagu-lagu super galau bikin ingin garuk-garuk aspal yang dibawakan live oleh Mian Meuthia dan Hendra Timothy. Radiohead, Portishead, U2, New Order, dan nggak tau apa lagi. Semakin suicidal rasanya setelah melalui sesi curhat-berselubung-filsafat-dunia-fantasi dengan beberapa teman.

Analisa super dahsyat nan jitu dari Isky menggiring forum untuk memutuskan bahwa hidup saya setahun terakhir ini termasuk dalam mazhab filsafat Kora-kora.

Up and down, up and down, up and down, up and down, to the point that you no longer know which one is up and which one is down. In the end, you’re just there for the sake of holding on, and at one point you just get your brain wired, close your eyes, and jump ship.

Eh kampret. Nampol banget analisanya.

aku bertanya kepada temanku, apa yang beratkan pikiranmu malam ini?
jawabnya, kenapa hanya kau yang bisa terbang dan menembus tembok?

daripada dengarkan morrisey, lebih baik begini begitu si babe dan mpok royane
karena aku cinta j.a.k.a.r.t.a. di setiap lembar ototku, di setiap semburan kentutku
karena kota yang kelewat chairil ini kadang terasa begitu nihil, jeritkan a case of you
dan kita berjalan menunduk, berharap aspal kaku jadi ombak-ombak putih uluwatu

ia tak pernah pergi dari sisimu
tak kau rasakan wangi rambutnya?

 

Written by Waraney Rawung

January 21, 2011 at 7:16 PM

resiko jadi penerbit buku puisi dan berteman penyair narsis

with 2 comments

Akhirnya saat itu datang juga. Saat saya bisa menekan tombol save & publish di halaman multiply saya, serta menekan post di milis-milis, untuk tulisan yang sangat istimewa bagi saya.

Setelah sekian lama berupaya, kemarin siang dengan bangga saya bisa umumkan kepada publik bahwa irisPUSTAKA akan menerbitkan dan meluncurkan dua buku perdananya. Yang pertama karya Anya, ‘Kota Ini Kembang Api‘, dan yang kedua karya Mikael, ‘We Are Nowhere and It’s Wow‘.

Memang, baru sampai pada tahap mengumumkan. Jualan kecap dululah. Maklum, dulu kerja jadi humas.

Cukup panjang juga perjalanan irisPUSTAKA sebelum bisa sampai ke tahap ini. Saya ingat sekitar dua tahun lalu, tak lama setelah ramai-ramai peluncuran buku Antologi Puisi BungaMatahari mulai mereda, dan setelah rentetan wawancara dengan media dan acara-acara yang harus kami ikuti dan adakan selesai, suatu malam Anya dan Festi mengajak saya ketemu dan bicara.

Saya lupa tanggal berapa dan di kafe apa. Mungkin di Tornado Coffee Wolter Monginsidi, atau di Miko Coffee Sarinah Thamrin. Yang jelas, malam itu kedua perempuan ini menawarkan saya untuk bergabung dalam usaha penerbitan kecil-kecilan yang akan mereka buat.

Kelakuan saya yang cukup pelacur dan tak tahu malu saat mempromosikan Antologi BuMa (promosi yang sukses karena masuk Kompas dan beberapa media massa lainnya), rupanya dianggap mereka sebagai sesuatu yang dibutuhkan penerbit yang masih bayi ini. Jadilah saya didaulat sebagai pelaksana promosi dan social networking.

Kami pun mulai sering menghabiskan malam-malam begadang untuk memperjelas konsep penerbitan ini. Saya pun mendorong Anya untuk rajin menghadiri acara-acara sastra dan budaya yang diadakan di Jakarta. Lumayan buat networking dan menimba ilmu. Kadang-kadang dia kami temani, lebih sering lagi pergi sendiri.

Tak semua rencana berjalan lancar. Kesibukan kerja yang sering membuat saya terbuang ke pelosokpelosok negeri, ditambah dengan kegiatan Festi dan Anya yang juga padat, membuat jadwal kerja kami molor sampai berbulan-bulan, bahkan setahun lebih. Untung kami dapat bantuan dari Ade, yang rela diminta membantu proses editing saat segalanya sudah setengah jalan.

Sampai saat ini, selain Anya dan Mikael, irisPUSTAKA sedang menyiapkan buku-buku karya Olivia, Ulil, dan Edo.

Luka dan Rieke juga telah memberikan karya mereka kepada saya untuk dibaca. Moga-moga bisa diurus secepatnya.

Malam ini saya harus kirim email lagi ke panitia UWRF. Anya tadi menelepon dan bilang bahwa Mikael kurang suka dengan blurb tentang bukunya yang tercantum di jadwal acara UWRF. Katanya membuat dia terkesan seperti lulusan TUK! Hahaha. Bingung juga saya, harus bilang apa ke orang UWRF agar blurb itu diganti.

Mikael ingin supaya blurb untuk dia bunyinya seperti ini:

we are nowhere and it’s wow is mikael johani’s first poetry collection. it’s divided into three sections, home, home part deux, away, and we are nowhere and it’s wow. because he likes being coy. home is away, away is home, part deux is part un, nowhere is somewhere etc. includes such orientalist pesudo-political poems as away with wiji thukul I-VIII as well as apathetic occidentalist ones like esthétique du mall. i need ten more words for this short blurb. blurb.

Talk about nowhere. Totally wow.

Inilah resikonya membuat penerbitan dan berurusan dengan penyair narsis.  God help me.

Written by Waraney Rawung

September 19, 2008 at 11:23 AM