duniahitam

tentang hidup yang terkekang

Posts Tagged ‘edo wallad

Mabuk Puisi di KebunKata “The Act of Giting”, 30 Maret 2013!

leave a comment »

 

 

karena saat kau terjebak hujan di sore sepulang kerja

gelisah menghitung berapa sabtu siang yang tersisa

dan sampai kapan minggu sore masih akan ada

kau bertanya, “ini mabuk kok tak ada ujungnya?”

 

demi sepotong sepi yang asli

demi menit-menit yang berhenti

 

Image

 

Datang dan ramaikanlah KebunKata “The Act of Giting” bersama penyair-penyair BungaMatahari dan musisi-musisi tercinta Ibukota, hari Sabtu, 30 Maret 2013, pukul 2 siang sampai puas, di Tokove, Ruko Belle Point, Kemang Selatan 8, Jakarta Selatan.

Karena tak ada yang lebih baik daripada menghabiskan Sabtu siang dengan membaca dan menikmati puisi-puisi yang dijamin akan membuatmu mabuk dan semakin mabuk, tercekik kata-kata yang lebih manjur daripada jamur dan kue manis bercampur rumput-rumput peace.

 

 

Catatan Nyelip: BungaMatahari & Bandung Lautan Kata, Bagian 2

with 2 comments

Menyambut ulang tahun Komunitas Puisi BungaMatahari ke-12 tanggal 19 April 2012 yang akan datang, saya akan mempublikasikan tulisan-tulisan lama tentang BuMa, sebagian darinya sudah lama tersimpan di folder komputer tercinta. Mereka sebenarnya diniatkan untuk terbit tak lama setelah acara-acara yang dibahasnya. Yang menyebabkan mereka lama hilang tak lain tak bukan adalah kemalasan, kecerobohan, dan kebodohan saya sendiri.

Ini adalah bagian kedua dari cerita perjalanan para penggiat BungaMatahari di Jakarta ke Bandung, dalam rangka promosi Antologi BungaMatahari, dan KebunKata Bandung Lautan Kata. Pernah saya publikasikan di blog lama. Agar lebih enak dibaca, saya edit sedikit dan terbitkan dalam beberapa bagian.

NgamenKata, Sabtu, 29 April, 2006

Sore itu cuaca mendung dan menjelang malam hujan pun turun. Di teras kamar nomor 5 Nivell, Citra, Ririen, Herman, Yusak, Firman, dan Maya menyiapkan kotak-kotak sumbangan yang akan digunakan di acara NgamenKata. Mereka juga sibuk memotong-motong flyers KebunKata dan Sepeda Untuk Sekolah yang akan dibagi-bagikan di sepanjang Jalan Dago. Sementara itu saya, Esti, dan Anya sudah sejak pukul 6 sore tumbang kecapaian dan tidur tanpa mempedulikan nyamuk yang merubung. Jorgy lagi-lagi pergi berburu kaset, kali ini ditemani Yoshi.

Pukul 7.30 hujan berhenti, dan baru setelah jam 8 kami berangkat naik angkot menuju sasaran. Pertama-tama mampir dulu ke CCF menemui teman-teman Avatar yang sedang buka stand di acara Les Voilà April Edition. Walaupun ingin sekali menyaksikan penampilan Goodnight Electric, Sore, Tika, dan lain-lain dalam acara tersebut, rencana NgamenKata harus terlaksana. Dari CCF kami bergerak ke arah perempatan Kimia Farma. Di sana, setelah membagi diri menjadi dua kelompok, NgamenKata pun dimulai!

Kelompok pertama terdiri atas saya, Citra, Maya, dan Herman. Sedangkan di kelompok kedua ada Anya, Nivell, Yusak, Eno, dan Jorgy. Belakangan, Eko dan Yoshi bergabung dengan kelompok Anya. Baru lima menit berjalan, saya langsung menyadari bahwa situasi di Jalan Dago malam itu sangat tidak mendukung untuk menjalankan rencana kami, apalagi kami bukan pengamen professional yang ditempa oleh bertahun-tahun menghadapi ramainya pejalan kaki dan bisingnya kendaraan bermotor.

Awalnya kelompok saya lebih banyak menemukan kedai-kedai pinggir jalan yang masih kosong. Saya menebak bahwa pukul 9 masih tergolong pagi untuk anak-anak Bandung yang akan menghabiskan waktu di kawasan itu. Setelah berjalan beberapa menit kami pun menemukan warung tenda pertama yang ramai pengunjungnya. Saya segera mengambil posisi yang moga-moga strategis dan mulai memberikan kata pengantar tentang program ini, bahwa kami BungaMatahari bersama dengan Mapala UI, sedang mencari dana untuk program Sepeda Untuk Sekolah, dan seterusnya. Selesai mengucapkan kata pengantar tersebut suara saya sudah mulai serak. Astaga. Seandainya saya pernah ikut teater pasti tidak muncul masalah seperti ini. Maya kemudian menggantikan tempat saya dan mulai membacakan salah satu puisi dari Antologi. Selesai pembacaan puisi, kami langsung mengedarkan kotak sumbangan, lalu pamit dan pergi. Kegiatan yang tampaknya sederhana ini ternyata tidak semudah yang dipikirkan sebelumnya. Terutama karena tingkat kebisingan lalu-lintas yang sangat mengganggu konsentrasi.

Di warung tenda yang kedua, kali ini saya yang membaca puisi. Puisi yang saya bacakan juga berasal dari dari Antologi, tapi lebih pendek dari yang dibacakan Maya. Sengaja dan curang memang. Maya ngamuk-ngamuk begitu tahu. Hehehehehe. Ajaibnya, puisi pendek itu ternyata menghasilkan sumbangan yang lumayan juga. Wah, anak Bandung sangat murah hati rupanya. Walaupun kehadiran kami pasti mengganggu, sebagian besar orang yang kami temui selalu menampilkan raut wajah yang ramah dihiasi senyum maklum, yang sudah tentu melegakan sekali bagi pengamen-pengamen amatiran ini.

Kembali berjalan dan membagi-bagikan flyers. Di depan KFC Superindo, kami baru sadar bahwa flyers di tangan kami sudah hampir habis. Terpaksa menelepon teman-teman yang lain. Yusak yang dihubungi tak mengangkat handphone-nya. Hanya Yoshi yang menjawab telepon saya dan langsung menyusul kami. Rupanya mereka cukup jauh tertinggal di belakang, karena di bagian mereka ada banyak sekali warung-warung tenda yang ramai pengunjung. Akhirnya saya memutuskan kelompok kami sebaiknya bergabung dengan kelompok Yoshi. Beramai-ramai kami menyusuri Jalan Dago yang semakin padat dan bising.

Tidak semua tongkrongan di jalan itu kami hampiri. Dunkin Donuts yang dipenuhi anggota-anggota klub pengemudi motor besar misalnya, kami lewati begitu saja. Kata Jorgy, “Enggak deh, ntar kita diapa-apain lagi.” Hahahaha…

Jam baru menunjukkan pukul 10 malam ketika akhirnya kami tiba lagi di depan KFC Superindo. Semua sudah letih dan lapar sehingga Anya akhirnya memutuskan untuk menutup NgamenKata dan segera makan malam. Setelah perut kenyang, nyawa berkumpul dan mata terang, kami pun pulang ke Puri Tomat. Tiba di hotel bernama lucu itu sekitar pukul 11 malam, dan tanpa mengacuhkan Eko yang lagi-lagi mencoba meracuni saya untuk begadang, saya pun segera terkapar dengan sukses!

Curhat Dipercepat & Rayuan Kelinci (Minggu, 30 April 2006)

Minggu, 30 April 2006, pukul 1 dini hari, saya dibangunkan oleh Anya. Pingkan, Adde, Icha, Ai dan Bayu baru tiba dari Jakarta. Diiringi sayup-sayup obrolan mereka di teras luar, saya pun kembali terlelap. Pukul 5 terbangun lagi dan ngobrol sebentar, lalu tidur lagi. Saya baru benar-benar terbangun sekitar pukul 9 pagi.

Pagi menjelang siang itu pun akhirnya dihabiskan dengan ngobrol-ngobrol dengan rombongan yang baru datang semalam. Seperti biasa, agak-agak sulit buat kami untuk bisa segera bersiap-siap dan check out dari hotel. Apalagi ada Eko, yang lagi-lagi sulit dibangunkan dari tidurnya. Sekitar pukul 1 siang kami berangkat ke Potluck dalam dua kelompok terpisah. Sebagian, termasuk saya, ikut mobil Pingkan bersama perlengkapan acara, sedangkan sisanya naik angkot.

Sampai di Potluck kami langsung bertemu dengan teman-teman dari Jakarta yang sudah tiba lebih dulu. Ada Donni, Sam, Rien, Jack, Widi, Kinu, Indah (anggota BuMa dari Surabaya), dan Niken. Tak lama kemudian, Mas Yo datang bersama suami-istri penyair Bambang dan Lintang Sugianto, disusul Festi, Ulil, Santi, Isky, dan Danar. Saya senang sekali Danar bisa datang. Salah satu pemrakarsa BuMa ini biasanya sibuk dengan jadwal latihan dan manggung band-nya sehingga tidak bisa sering-sering datang ke acara BuMa.

Sebelum acara dimulai, kami mendapat kejutan menyenangkan. Pelukis Herry Dim dan istrinya menyempatkan datang ke acara kami dan bertemu dengan anggota-anggota BuMa. Saya memang berkali-kali berusaha mengundang beliau, baik melalui sms maupun menelepon langsung. Namun selalu mendapat jawaban bahwa beliau sedang sibuk melukis. Kehadirannya siang itu tentu saja sangat membesarkan hati kami. Sambil ngobrol-ngobrol ringan, beliau gantian mengundang kami untuk datang ke acara yang akan diadakannya  akhir bulan Mei di Jakarta.

All photos by Dita Ramadhani, @whalerider

Acara KebunKata Bandung Lautan Kata dimulai pukul 3.30, dibuka oleh penampilan Yaz dan Upay dari band Alone at Last yang membawakan versi akustik dari lagu-lagu mereka yang berjudul ‘Jiwa’ dan ‘Amarah, Senyum dan Air Mata’. Kemudian Mbak Lintang tampil membawakan ‘Titip Salam Cinta Untuk Bunda, Tuhan’, karya pepsigolda a.k.a Festi Noverini yang juga termuat di Antologi.

Penampil berikutnya, Sophan A, membacakan ‘Mari Berhitung’ karya Thanding sari, ‘Aku Mencintaimu Diam-diam’ dari Arwan Maulana, dan ‘Jomblo Itu Pedih, Jenderal’ karya Randurini.

Selesai pembacaan puisi dari Sophan, Yaz dan Upay kembali tampil, membawakan dua lagu, dan langsung disambung oleh Mas Bambang Sugianto dengan puisi berjudul ‘Kamira’ dari Mas Yo a.k.a blue4gie, dan ‘Tuan Malaikat…’ karya Mbak Lintang, kemudian ditutup dengan ‘Obituary Penyair’ karya TS Pinang.

Penampil ‘resmi’ terakhir yang tercantum di flyers adalah Widzar al-Ghifary, atau sireum hideung, yang membacakan ‘Dermaga’ karya Cecil Mariani.

Usainya pembacaan ‘Dermaga’ Cecil Mariani oleh Widzar menandai dibukanya sesi berikut dari acara KebunKata ini, yaitu sesi pembacaan puisi spontan. Seperti biasa, walaupun anggota yang ingin membaca puisi diminta untuk mengisi ‘daftar penampil’, hanya sedikit yang melakukan hal tersebut. Antara lain karena suasana yang semakin seru dan panas oleh kata-kata yang beterbangan di udara membuat semua yang hadir seolah kesurupan oleh arwah-arwah narsis, yang mendorong semuanya berebutan maju ke depan untuk membacakan puisinya. Berikut daftar (tidak lengkap) dari penampil hari itu dan karya yang dibacakannya (yang sayangnya tidak semua tercatat):

1.      Lukman Gunawan, (anggota BuMa yang tinggal di Bandung, datang dengan sekaleng penuh puisi dan foto-foto kenangan, membuka sesi curhat yang biasanya baru dimulai menjelang tengah malam)

2.      Jorgy Ibrahim, ‘Preferensi’

3.      Tiara, membacakan lirik-lirik lagu Alone at Last, ‘Amarah, Senyum, dan Air Mata’

4.      Widzar, ‘Jalan Sunyi’ karya Emha Ainun Nadjib

5.      Sam, ‘Tubuhmu Seperti Toilet Umum’ karya Andri VB

6.      Isky, “Aku Lebih Suka’ karya Lintang Sugianto, dan ‘Berita Playboy Tiada Henti’ karya Oom Leo

7.      Ariekotama, ‘Kamu dan Tomat’ karya sendiri

8.      Ney, ‘Tanpa Judul’ karya cryalgesia

9.      Festi, ‘Abang’, karya Lintang Sugianto

10.  Anya, ‘Pembunuh’, karya sendiri

pembunuh

petikan gitarmu

berputar-putar

di udara dan di dalam kepala

menggaung tak berujung

menghisap potongan-potongan adegan sebuah kisah nyata; dari dalam ingatan

ke depan mata

memaksaku

untuk merasa

lagi

dan mati

7lc, 19maret2005

11.  Danar, ‘(tidak tercatat)’

12.  Mas Yo, ‘Apa Kabarmu, Nak’ karya sendiri

13.  Firman, ‘Para Penyair Adalah Pertapa Agung’ karya Wiji Thukul

14.  Yusak, ‘(tidak tercatat)’

15.  Rahma, ‘(tidak tercatat)’

16.  Ney, ‘Hangus’ karya Firman

17.  Tisha, ‘Niwatakawaca’ karya sendiri

18.  Maya Meliviyanti, ‘Satu Siang Dengan Wanita Tua’ karya sendiri

satu siang bersama wanita tua

makan bukan dengan tangan kanan

seperti yang biasa dia lakukan

tertawa malu ketika kecap dia salah sebut menyeracap

bercerita tentang indahnya jogja masa lugu

hera mengapa ia masih mengingat melihat tentara terluka

dan lupa sebutanku

sejenak aku pun lupa akan sakitku

19.  Yoshi, ‘Pelet’ karya suaradarilangit, dan ‘Menggenggam Dunia’ karya Tika

20.  Dita, ‘tanpa judul’

Aku tak tahan

Tak mampu menahan-nahan

Kamu cantik

Kamu menarik

Kamu menawan

Aku ditawan

Oleh senyuman di balik gincu

Belahan dadamu yang bersemu

Lalu rok minimu

Aduh mati aku!

Tapi biarlah, aku terus maju

Toh denganmu hanya 5 ribu

21.  Adde, ‘Sapi Perah 1998’ karya sendiri

22.  Ulil, ‘Kalau Aku Ketemu Kamu’ karya sendiri

23.  Nirasha, ‘Lebah di Musim Semi’ karya sendiri

24.  Jorgy, ‘Puisi Ngarang…’ karya sendiri

25.  Eko, ‘Sebuah Puisi Dari Penjaga Counter di Potluck Bandung’

26.  Adde, ‘(tidak tercatat)’

27.  Eno, ‘(tidak tercatat)’

28.  Danar, ‘Raymond’

29.  Lukman, ‘(tidak tercatat)’

Seingat saya di titik ini acara sudah mulai tidak jelas, di depan saya ada yang selonjoran di sofa panjang, di pojok sana terlihat beberapa kelinci tanpa malu-malu melancarkan jurus merayu a la Chairil Anwar kepada kenalan baru, sebagian sibuk membereskan peralatan acara, karena rupanya KebunKata ‘Lautan Kata’ sudah resmi selesai. Ah senangnya. Sukses juga niat kami menambah teman baru dan wawasan seru.

Selanjutnya, beramai-ramai berfoto, tertawa-tawa, meneruskan cari makanan, dan berlanjut ke tongkrongan lainnya. Saya memilih memisahkan diri dari rombongan karena ada acara yang lebih menyenangkan: pulang duluan dan makan malam dengan pacar!

Written by Waraney Rawung

February 17, 2012 at 2:59 PM

Catatan Nyelip: BungaMatahari & Bandung Lautan Kata, Bagian 1

with one comment

Menyambut ulang tahun Komunitas Puisi BungaMatahari ke-12 tanggal 19 April 2012 yang akan datang, saya akan mempublikasikan tulisan-tulisan lama tentang BuMa, sebagian darinya sudah lama tersimpan di folder komputer tercinta. Mereka sebenarnya diniatkan untuk terbit tak lama setelah acara-acara yang dibahasnya. Yang menyebabkan mereka lama hilang tak lain tak bukan adalah kemalasan, kecerobohan, dan kebodohan saya sendiri.

Tulisan pertama adalah tentang perjalanan para penggiat BungaMatahari di Jakarta ke Bandung, dalam rangka promosi Antologi BungaMatahari, dan KebunKata Bandung Lautan Kata. Pernah saya publikasikan di blog lama. Agar lebih enak dibaca, saya edit sedikit dan terbitkan dalam beberapa bagian.

Chicken Teriyaki & Terlambat Lagi (Jumat, 28 April, 2006)

Siang itu udara Jakarta seperti biasa panas menyengat dan jalan-jalannya padat oleh kendaraan yang merayap. Saya tiba di kantor City Trans, depan supermarket Club Store, Kawasan Sudirman Central Business District, sekitar pukul 1:45 siang, dengan napas ngos-ngosan dan tubuh berkeringat. Terlambat hampir satu jam dari janji saya dengan Anya kemarin. Sesampainya di sana, dengan muka berminyak dan rambut berantakan kena angin gara-gara naik ojek, langsung berpapasan dengan Nurman yang sedang berjalan keluar. “Mau kemana, Man?” tanya saya. “Mau ambil duit dari Avatar di ATM, untuk ongkos anak-anak ke Bandung”, jawabnya. Wah, senangnya, jalan-jalan dibiayai Avatar Press!

Di dalam food court Club Store, saya langsung bertemu dengan Anya dan ayahnya yang sedang makan siang. Berbasa-basi sebentar, lalu duduk dan memesan seporsi chicken teriyaki yang rasanya agak aneh. Tak apa, yang penting perut terisi. Beberapa menit kemudian, Nivell, Esti, dan Jorgy datang. Nurman hanya sempat menyerahkan uang ke bendahara kami, Esti, dan segera pamit kembali ke kantornya tak jauh dari situ. Ia tidak bisa ikut ke Bandung. Maklum, copywriter handal super sibuk!

Pukul 2:30 siang. Masih ada dua orang teman yang belum datang. Ariekotama, biasa dipanggil Eko, sedang dalam perjalanan dari kantor kliennya. “Lagi di mana, Ko?” berkali-kali saya telpon dia. “Sorry, Ney. Masih di Wolter Monginsidi”. Wah, masih jauh juga ya. Macet pula. Baru selesai ngobrol dengan Eko, Anya memanggil saya. “Ney, ini Firman”, sambil memberikan handphone-nya. Firman adalah anggota Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) yang akan ikut kami ke Bandung untuk memantau dan membantu acara NgamenKata di sepanjang Jalan Dago, yang hasilnya akan disumbangkan untuk program Sepeda Untuk Sekolah hasil kerjasama Mapala UI, Portal Infaq, Solidaritas Kebersamaan, dan beberapa organisasi lainnya.

“Firman, ini Ney. Lagi di mana lo?”

“Sorry Ney, gue masih di Lenteng Agung. Macet banget.”

Wah, berabe nih. Eko masih nyangkut di Wolter Monginsidi, Firman nun jauh di Lenteng Agung. Padahal kendaraan travel kami dijadwalkan berangkat pukul 3 tepat. Setelah bernegosiasi sebentar dengan Pak Medi dari City Trans, diputuskan untuk menunggu sampai pukul 3:30. Betul saja, sekitar pukul 3:15, Eko datang diantar rekan kerja satu studionya. Sambil cengengesan menenteng koper besar beroda dan tas laptop berat, lelaki brewok berperawakan besar ini langsung terlibat sesi cela-celaan dengan anak-anak lainnya yang sudah duduk manis di dalam mobil.

Pukul 3:30 tepat, saya putuskan untuk berangkat tanpa menunggu Firman. Sebelumnya kami sudah mengatur agar City Trans menyediakan tempat baginya di jadwal keberangkatan pukul 4 sore. Sampai ketemu di Bandung, Firman!

Puri Tomat & Kakap a la Meunier

Ini pertama kalinya saya pergi ke Bandung dengan menggunakan jasa travel City Trans. Mobil Isuzu Elf yang kami tumpangi berkapasitas 7 penumpang, tidak termasuk supir. Kabin yang luas dan ruang kaki yang lapang, kursi individual yang nyaman dan dapat dinaik-turunkan, AC yang sejuk berhembus, serta jendela-jendela besar yang menyajikan pemandangan Ibukota beralih Luarkota, benar-benar memancing naluri norak kami semua. Maklum, pekerja metropolitan yang jarang bisa keluar kota. Hmmm…jangan-jangan cuma saya yang merasa begitu? Agaknya begitu!

Memasuki jalan tol luar kota, saya mulai membuka-buka majalah New Yorker yang baru kemarin di beli di Aksara, sementara Esti sudah mulai membaca Love in the Time of Cholera dari Gabriel Garcia Marquez. Sayangnya niat mulia menghabiskan waktu dengan bacaan bermutu ini terpaksa dibatalkan, karena Anya mengajak kami semua membahas ulang rencana akhir pekan di Bandung nanti. Satu-persatu, mulai dari diskusi di QB, ngamen di Dago, sampai KebunKata di Potluck. Untungnya lontaran-lontaran iseng tentang kehidupan cinta Eko akhir-akhir ini dengan segera mengubah suasana rapat menjadi ajang gosip nggak penting nan seru. Tak lama kemudian, kantuk yang mulai menyerang membuat percakapan semakin tidak sinkron, dan satu-persatu kami pulas terlelap. Sebelumnya, saya sempatkan menelepon City Trans di Jakarta, dan menanyakan nasib Firman. Menurut Pak Medi, Firman tiba tak lama setelah kami pergi, dan dia sudah berangkat dari Jakarta pukul 4. Lega rasanya, dan saya pun bisa memusatkan perhatian terhadap tugas-tugas yang sudah menanti malam ini.

Sekitar pukul 6 sore, Isuzu Elf kami mulai memasuki Bandung. Disambut oleh lampu-lampu billboard raksasa, spanduk iklan berbagai bentuk, departemen store, toko-toko, rumah makan, dan factory outlet, serta dentuman lagu-lagu dari sound system toko yang disetel kencang, ditimpali suara klakson dan nyanyian pengamen jalanan. Walaupun Kota Kembang yang dulunya sejuk ini sudah sangat berubah dan lebih ramai, entah kenapa bagi saya suasananya masih terasa jauh lebih menyenangkan dibandingkan Jakarta yang sumpek bukan main itu. Bandung yang makin padat, makin macet, dan makin genit berdandan. Sampai kapan gedung-gedung tua itu bisa bertahan?

Pukul 6:30, diantarkan oleh supir kami yang baik hati, Pak Nanang, sampailah kami ke Puri Tomat, hotel yang direkomendasikan koordinator BuMa Bandung, Yusak. Hotel bernama lucu ini beralamat di Jalan Ir. H. Juanda No. 420. Kami menempati kamar nomor 4 dan 5.

Pukul 7:30 malam, setelah selesai mandi dan beres-beres, kami meninggalkan hotel. Ada janji bertemu panitia BuMa Bandung di Pusat Kebudayaan Perancis (CCF). Setelah tanya sana-sini, baru percaya diri naik angkot jurusan yang tepat.

Kantin Terminus, CCF, pukul 8 malam. Akhirnya bertemu dengan formasi lengkap panitia BuMa di Bandung. Ada Yusak, Citra, Eno, Ririen, Maya, dan Herman. Sebagian dari kami memang pernah berjumpa sebelumnya, waktu sebulan lalu survei tempat dan berkenalan untuk pertama kalinya. Tapi sebagian lainnya tak pernah ketemu sama sekali. Menyenangkan sekali melihat itu semua bukan halangan bagi teman-teman untuk langsung akrab bagai kawan lama yang sudah lama tak jumpa. Rapat yang dibumbui ketawa-ketawa itu pun berjalan sangat lancar. Hingga akhirnya, pukul 10 malam, kami harus pulang, karena satu-dua lampu kantin mulai dimatikan.

Selesai rapat, bukan berarti malam juga harus berakhir, karena Eko tiba-tiba mengajak kami (kecuali Yusak, Citra, Herman dan Ririen yang harus pulang duluan) untuk makan malam di Suis Butcher. Lagi kaya raya ketiban rejeki rupanya anak yang satu ini. Mungkin baru menang pitching? Hehehehe…mau nanya udah keburu males, dan belakangan keburu kenyang karena porsi Kakap a la Meunier (bener nggak nulisnya?) yang saya pesan hampir-hampir bikin perut meletus!

Reaktor Nuklir & Argo Kuda (Sabtu, 29 April 2006)

Kembali di Puri Tomat (aduh, namanya itu lho!) sekitar jam 1 pagi. Ngantuk dan kekenyangan. Sayangnya, niat untuk tidur tidak bisa terlaksana. Karena Anya kembali mengajak kami-kami yang sudah super teler itu untuk ngobrol-ngobrol lagi soal program-program jangka panjang BuMa. Selesai ngobrol serius yang cukup melelahkan jiwa, sesi curhat dibuka dengan pancingan-pancingan topik filosofis a la Eko, yang tanpa terasa bikin waktu berjalan dan tiba-tiba sudah pukul 5.30 pagi! Pantas memang Eko mendapat julukan “reaktor nuklir’ dari Edo. Energinya untuk begadang (dan memancing orang begadang) memang bukan kepalang!

Mata yang sudah sipit dan makin sipit ini mendadak melek lagi waktu Firman si anak hilang tiba-tiba nongol. Menghabiskan malam di rumah teman, dia memutuskan untuk datang ke hotel pagi-pagi, kuatir anak-anak keburu jalan lagi, katanya. Aduh, maaf ya Man, semalam saya memang ceroboh sekali. Pergi ke CCF tanpa menitipkan kunci kamar dan pesan.

Firman datang, hati tenang, bisa tidur sekarang. Eh, enggak juga lho. Anya yang dari tadi matanya sudah keriyep-keriyep, tiba-tiba dengan semena-mena memutuskan bahwa kantuknya mendadak hilang dan dia tidak bisa tidur, kemudian memaksa kami semua yang sudah duduk manis di ranjang untuk ngobrol-ngobrol lagi. Singkat kata singkat cerita, mata yang sudah bengkak ini baru bisa dipejamkan pukul 8:30 pagi!

Pukul 12 siang. Bangun tidur sekitar pukul 10 pagi, berarti hanya kebagian tidur kurang dari dua jam. Nyawa yang belum komplit karena mengantuk itu, makin tercerai-berai begitu melihat bahwa sesiang ini teman-teman belum ada yang siap. Eko masih mendengkur di pojok kasur, Anya dengan genitnya masih sibuk mengeringkan rambut. Jorgy belum pulang dari berburu kaset progressive rock di Jalan Dipati Ukur. Nivell dan Esti sedang sibuk ngobrol. Sementara Firman asyik menonton infotainment.

Setelah semuanya siap pun, kami masih bingung mau naik kendaraan apa. Taksi yang lewat hanya mau pakai argo kuda, sementara kami biasanya pakai argo kelinci (apa sih Ney!). Untung saja Anya punya banyak teman di Bandung. Salah satunya, Yasmin, penyiar radio Otomotif (kalau tidak salah), berbaik hati menjemput kami dengan Mercedes tua nan cantik miliknya, dan menyelamatkan kami dari kerepotan naik angkot sambil menenteng dua banner, satu speaker toa, tas-tas berat, dan lain-lain. Nivell menyusul belakangan karena masih sibuk merevisi desain flyers di laptopnya. Kami pun meninggalkan hotel diiringi suara dengkur Eko yang semakin keras.

Tiba di QB Bookstore Setiabudi, suasana masih sepi-sepi saja. Untung saja Acum, Felix, Jefry, dan lain-lain dari Avatar sudah duluan sampai. Tak lama kemudian, Herman, Eno, Ririen, Citra dan Maya pun datang juga. Yusak tidak bisa datang karena ada urusan mendesak yang tak bisa ditunda. Sementara kami sibuk mengatur kursi-kursi di cafe QB, satu persatu pembicara dan moderator mulai berdatangan. Taufik Imansyah dari STV Bandung yang akan menjadi moderator, Mbak Violetta Simatupang dan (Mas?Kang?) Matdon sebagai pembicara. Di antara para hadirin terselip nama-nama seperti Mbak Anjar penulis novel ‘Beraja’ dan ‘Kidung’, Mas Firman Venayaksa dari Rumah Dunia. Salah satu TukangKebun BuMa, Yoshi, baru saja tiba dari Jakarta dan langsung bergabung dengan kami.

‘Ngobrol-ngobrol Soal Antologi Bunga Matahari’, QB Bookstore, Bandung

Acara dimulai sekitar jam 3 siang. MC siang itu adalah Ririen, dan dia membuka acara dengan menyampaikan pengantar mengenai Antologi, dan membacakan profil para pembicara dan moderator. Diskusi kemudian dibuka oleh Taufik dengan membahas Antologi dari perspektif orang awam. Menurutnya, bagi orang awam seperti dia (setidaknya, begitu pengakuannya), Antologi BuMa membukakan mata akan sesuatu yang baru dan menarik. Selama ini Taufik suka menulis puisi. Namun puisi-puisi tersebut hanya disimpannya sebagai koleksi pribadi, dan tidak ditunjukkan kepada khalayak luas. Kenapa begitu? Karena ia merasa bahwa apa yang ditulisnya belum layak untuk disebut sebagai puisi. Paling tidak, masih jauh dari standar puisi-puisi dahsyat yang sering dibacanya di media massa atau di buku-buku. Tetapi setelah membaca antologi BuMa, ia terkejut karena banyak puisi-puisi di dalam buku ini dapat digolongkan sebagai puisi yang ringan, dan bahkan cenderung seenaknya, yang dengan nyaman dan sah berdampingan dengan puisi-puisi lainnya, yang menurutnya masuk kategori puisi standar (panjang, dalam, njelimet, dan sulit dimengerti?). Salah satu puisi yang disukainya adalah:

Doa Seorang Gondrong di Usia 30

Ya Tuhaaaan berilah hambaMu kekuatan…

untuk slamdance

-Yoga, Jakarta, 1999-

Puisi yang ditulis oleh anggota BuMa yang menggunakan nickname ‘yohipup’ ini rupanya mengena sekali buat Taufik. Karena sebelum diskusi dimulai pun, saat kami ngobrol-ngobrol sejenak, ia sudah menyebut-nyebut kekagumannya atas puisi ini kepada saya. Sayang sekali saya tidak kenal secara pribadi dengan Yoga, penulis puisi ini, yang menurut deskripsi teman-teman yang kenal langsung, memang cukup rock n roll orangnya. Belakangan, Taufik juga bilang bahwa ia suka sekali puisi ‘Deodoran dan Lampu’ karya dio_politico.

Pembicara pertama adalah Matdon, wartawan yang telah menghasilkan empat buku, yaitu Persetubuhan Batin, Garis Langit, Maha Duka Aceh (bersama beberapa penyair lainnya), dan Mailbox. Ia dengan tersipu-sipu mengakui bahwa kesibukannya menghadiri berbagai acara akhir-akhir ini membuatnya baru sempat membaca Antologi BuMa pagi tadi. Akan tetapi, dalam jangka waktu yang sangat singkat pun ia sudah bisa menangkap beberapa hal menarik dari buku tersebut. Menurutnya, penggunaan nickname di mailing list, dan yang dilestarikan pemakaiannya dalam buku ini, mengingatkannya pada masa-masa kejayaan radio di kota Bandung pada tahun-tahun 70-80an. Masa-masa dimana pengaruh bahasa, dalam hal ini bahasa lisan, sangat kuat.

Matdon bercerita bahwa selama ini di Bandung ada keterbatasan yang dihadapi para penulis yang ingin karyanya dimuat di media massa. Faktor kedekatan dengan redaktur kolom budaya seringkali merupakan salah satu hal yang menentukan dimuat atau tidaknya suatu karya sastra. Tidak heran kalau kemudian banyak berkembang komunitas-komunitas sastra berbasis milis di internet. Fenomena ini pun kemudian mengundang kontroversi, ketika ada sebagian kalangan yang menyatakan bahwa puisi-puisi cyber, atau puisi yang dipublikasikan di internet, adalah puisi-puisi sampah, yang karena tidak lolos seleksi media massa konvensional, terpaksa di muat di internet. Matdon hanya menyikapi pendapat semacam ini dengan ucapan‘ sampah pun dapat menjadi pupuk yang menyuburkan semangat untuk berkarya’. Halangan-halangan semacam inilah, yang cukup menyulitkan para penulis, terutama yang berbasis kampus, sehingga banyak dari mereka yang berhenti berkarya atau mengalami masa-masa kurang produktif.

Diskusi menjadi tambah seru ketika sebagian pernyataan Matdon dibantah oleh Firman Venayaksa. Menurut Firman, banyak penulis-penulis berbasis kampus yang kemudian bisa menjadi besar dan banyak berkarya. Ia bahkan menyebutkan sederetan nama sastrawan (yang sayangnya tidak saya kenal dan ingat) yang berhasil menembus kungkungan struktural tersebut. Akan tetapi, Firman juga mengakui sulitnya menembus dominasi media-media cetak konvensional. Untuk itu, ia mengajak generasi yang sekarang, untuk berhenti mengagung-agungkan generasi yang tua, berhenti menggunakan standar mereka dalam menilai dan menciptakan karya sastra.

Sebagai produk dari suatu komunitas, lanjut Matdon, buku ini adalah suatu keniscayaan, terutama ketika ada kebutuhan dari anggota-anggotanya untuk bertemu. Kebetulan pula ia sudah cukup kenal dengan beberapa nama yang puisinya dimuat dalam Antologi BuMa. Misalnya nama-nama seperti Cecil Mariani dan jibzails yang juga aktif menulis di milis sastra lainnya. Walaupun ia menjadi produk dari suatu komunitas, Antologi ini tidaklah seragam isinya. Ada keragaman yang terlihat dalam bentuk-bentuk pengungkapan yang berbeda-beda, serta konsentrasi pada bermacam tema. Mulai dari politik, sosial, sampai agama, mulai dari penekanan pada komunikasi yang estetis, sampai ke pesan-pesan perlawanan yang lugas. Misalnya puisi karya banteng_gaoul berikut ini:

Berdamai Dengan Setan

jangan salahkan aku

jika hari ini ku berdamai dengan setan

ternyata setan gak selamanya jahat

setan sudah insyaf

setan yang sudah tawakal

jadi jangan salahkanku

Ada juga puisi yang berkomunikasi dengan lantang dan nyinyir, seperti dalam karya barcaspa ‘Jomblo Itu Pedih, Jenderal!!”, atau yang (mirip) puisi mbeling, seperti ‘Jam Pasir’ oleh pepsigolda dan ‘Doa Seorang Gondrong di Usia 30’ oleh yohipup.

Jomblo Itu Pedih, Jenderal!!

Jomblo itu Pedih, Jenderal!

coba tanyakan pada selimut yang berderet rapih di

atas velbed barak-barak bisu. tanyakan pada temali

yang mengikat sepatu bajaku. tanyakan pada peluh yang

melebur di dahiku ketika menggosok kakus bau.

Jomblo itu Pedih, Jenderal!

karena belukar hanya menawarkan sepi di umur batang

jati. di kedalaman gelap, mata-mata sunyi berkelebat,

bergerilya mendekati hati. senapan-senapan terkokang

memburu mimpi, berharap seorang musuh berperawakan

seperti dewi mandi.

Jomblo itu Pedih, Jenderal!

di setiap kata yang terurai, bercerita tentang

kerinduan kosong pada kampung dan halaman tempat masa

kecil bermain. sementara cinta semakin senjang, malam

dan pagi bergumul memperebutkan matahari. lalu apa

lagi yang bisa tertulis selain puisi?

Sekali lagi: Jomblo itu Pedih, Jenderal!

Aku layak desersi!

Jam Pasir

Sssssssssssss

Sssssssssss

Sssttttt

ttttttt

ttttt

.

.

.

Kapan tiba waktuku?

Suasana diskusi menjadi semakin santai ketika Matdon berkata bahwa penyair-penyair dalam Antologi ini terbagi atas beberapa kategori. Penyair baru, penyair yang sudah jadi, penyair yang akan jadi, dan penyair jadi-jadian. Sambil tertawa mendengar ucapan ini, saya jadi berpikir, termasuk yang manakah diri ini? Agaknya saya lebih cocok ke ‘penyair jadi-jadian’!

Saran dari Matdon untuk para pembaca dan calon pembaca Antologi ini adalah, “Bebaskan dulu diri ini dari penilaian bermutu atau tidak, dan jangan berupaya mengerti atau tidak, akan tetapi coba hanyutkan diri dulu, dan baru kemudian menilai. Karena penilaian adalah hak pembaca.” Kemudian kepada anggota-anggota BuMa, ia berpesan, “Apabila melihat kejadian, buatlah puisi, dan sebarkan ke media massa. Kalau tidak diterima di sana, buatlah menjadi buku. Apabila tak ada penerbit yang mau menerima, masukanlah dalam milis. Kalau masih tidak tersalurkan, tampilkan dalam sebuah pentas. Dan terakhir, apabila tidak bisa menembus media-media tersebut, tulislah puisi-puisi itu untuk dirimu sendiri.” Ia juga mengingatkan bahwa kendala penulis adalah bagaimana pengalaman-pengalaman dan peristiwa yang terjadi di dunia dapat dituangkan secara estetis. Untuk mengatasi kendala ini, menurutnya hanya ada satu cara, yaitu teruslah menulis. Karena berhenti menulis berarti murtad!

Kemudian, menjawab pertanyaan Taufik tentang puisi mana dalam Antologi yang paling disukainya, ia memilih puisi ‘Kodrat Kasur, Bantal dan Guling’ karya widyo, dan kemudian membacakan ‘Bismillah’ karya mariezqa.

Menutup pembahasan dari Matdon, Taufik menanyakan kepada Anya mengapa dalam Antologi dilakukan pembagian bab yang menggunakan judul lokomotif, masinis, loket, atap, gerbong, rel, wc, dan stasiun. Anya menjelaskan bahwa pembagian-pembagian itu sesuai dengan konsep yang dibicarakan dengan penerbit Avatar. Dalam buku ini, BungaMatahari diandaikan sebagai sebuah stasiun dimana orang-orang dari berbagai macam latar belakang datang berkumpul, untuk kemudian menaiki sebuah kereta yang sama, yaitu puisi itu sendiri. Orang-orang yang berinteraksi di stasiun dan kereta ini, dapat memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Interaksi antar berbagai latar belakang inilah yang kemudian memperkaya BungaMatahari sebagai sebuah komunitas.

‘Lokomotif’ adalah pengantar dari Seno Gumira Ajidarma, ‘masinis’ mewakili kata pengantar dari TukangKebun (moderator milis BuMa), ‘loket’ adalah kata pengantar dari penerbit Avatar, ‘atap’ memuat puisi yang membahas hubungan antara manusia dengan Yang Maha Kuasa, ‘rel’ memuat puisi yang menceritakan hubungan antara manusia dengan sesamanya dan lingkungan sekitarnya, dalam ‘wc’ terkumpul puisi-puisi yang mengekspresikan hal-hal terdalam dan tergelap dari para penulisnya, sedangkan ‘stasiun’ memuat daftar nickname, yang sebagian dilengkapi identitas aslinya.

Pembicara kedua, Violetta Simatupang, menyatakan bahwa membaca Antologi BungaMatahari dan berkenalan dengan anggota-anggota milis ini membuatnya teringat kepada suatu peristiwa di tahun-tahun awal berdirinya Indonesia, ketika pada tahun 1946 beberapa orang penulis dan penyair Indonesia (Chairil Anwar, Asrul Sani, Rivai Apin, dan lain-lain) berkumpul dan menghasilkan apa yang disebut sebagai Surat Kepercayaan Gelanggang, (yang kemudian diterbitkan di Majalah Siasat, tahun 1950-penulis). Menurut penulis Antologi Puisi Anak-Anak Vampir ini, semangat berkumpul dalam suatu komunitas sastra ini tampaknya menurun juga ke BuMa, tepat 40 tahun kemudian.

Mendengar ini, saya dan Anya sedikit merinding, ngeri rasanya disamakan dengan orang-orang besar di dunia sastra seperti itu. Surat Kepercayaan Gelanggang adalah pernyataan sikap para sastrawan tentang jalan berkarya yang dipilihnya, di masa-masa ketika Indonesia belum lama merdeka, dan benturan-benturan kebudayaan lama dan baru sedang panas-panasnya. Sementara itu, BungaMatahari sendiri dibentuk dan dijalankan tanpa memiliki keinginan macam-macam selain belajar dan bersenang-senang dengan puisi. Hanya dengan semangat belajar menulis dan menghargai bahasa bangsa sendiri. Apakah di masa yang akan datang akan menjadi suatu gerakan baru? Atau hanya menjadi ajang senang-senang tanpa pertanggungjawaban apa-apa?

Masalah perasaan merupakan faktor yang penting bagi bagi Mbak Letta dalam menilai sebuah karya. Karena walaupun sebagai orang awam ia menganggap puisi-puisi yang termuat di dalam buku ini sudah sangat indah, ia tidak mau terjebak ke dalam definisi puisi yang bagus atau yang tidak bagus. Baginya puisi yang bagus bukanlah tentang perasaan penulisnya, melainkan yang dapat menimbulkan perasaan tertentu terhadap pembacanya. Misalnya puisi ‘Katak dan Bulan’ karya indah_ip berikut ini:

Katak dan Bulan

seekor katak mencinta bulan

suatu malam dilihatnya bulan tidur di dalam kolam

dan dicurinya ciuman

bulan bergetar

lalu pergi tak berbekas

seekor katak mencinta bulan

karenanya ia kemudian belajar bahagia

menjaga bulan tak luka

dan merindunya dari jauh saja

16 Feb. 03. 18.00 PM

Mantan wartawan Bali Post ini juga beranggapan bahwa puisi tidaklah harus terikat dengan kata-kata. Ia mengutip ucapan Soetardji Calzoum Bachri, “kata-kata bukanlah pipa untuk menyalurkan air…”, untuk menekankan faktor ketidakterikatan ini, yang dapat dilihat pada puisi ‘Suara Rindu Yang Stereo’ karya Bin Harlan Boer.

Suara Rindu Yang Stereo

Hanaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!

170903

Acara ngobrol-ngobrol yang sangat informal dan penuh dengan tawa ini pun ditutup dengan pembacaan puisi dari Antologi oleh tiga orang peserta, yang juga mendapatkan hadiah kaos BungaMatahari:

–         ‘Kamu Sendirian’ (saya lupa karya siapa) , dibacakan oleh Winda (?)

–         ‘Menggenggam Dunia’ karya t11ka, dibacakan oleh Firman Venayaksa

–         ‘Ibu, Aku Ingin Jadi Astronot’, dibacakan oleh putra Mbak Letta (maaf saya lupa namanya…hehehe)

Acara ‘Ngobrol-ngobrol Soal Antologi BungaMatahari’ selesai sekitar pukul 4:30 sore. Lebih cepat dari jadwal yang diperkirakan dengan peserta yang lebih sedikit dari yang direncanakan, namun berlangsung lebih hangat dari yang dibayangkan. Makanan kecil yang disediakan oleh pihak QB menemani obrolan-obrolan menjelang pulang antara kami dengan para undangan dan pembicara. Pukul 5:00, semua perlengkapan sudah terkemas, dan beramai-ramai kami meninggalkan QB, berebutan naik angkot menuju Puri Tomat.

Written by Waraney Rawung

February 17, 2012 at 2:58 PM

Day 6 with Nissan March: Safari Malam di Selatan Jakarta

leave a comment »

Apa lagu favoritmu saat sedang mengemudi di malam hari, keliling kota di bawah sorotan lampu-lampu merkuri? Lagu favorit night driving saya adalah ‘Safari Malam’ dari album ‘Material Dansa Galau’ milik post punk band The Safari. Semua lagu dalam album itu benar-benar nampol rasanya kalau didengarkan sambil nyetir sendirian malam-malam.

“Habiskan malam. Bersama rembulan!”*

“Malam-malam kutelan temaram, di pojokan kota yang sedang sibuk berdandan.”**

Kamis, 15 September 2011, jam 18:30 WIB. Lagu-lagu The Safari menemani saya dalam perjalanan singkat dari Jl. Adityawarman, Blok M, menuju Kemang Village, Jl. Antasari. Malam itu Jakarta hujan deras, setelah berbulan-bulan dilanda kekeringan. Surprise, surprise, tak sampai 30 menit saya sudah sampai di tempat tujuan. Rute yang biasanya macet menyebalkan karena proyek fly over Antasari-Lebak Bulus itu, ternyata lancar sekali. Hanya sedikit tersendat menjelang belokan Kemang Raya. Surprise, surprise.

Jadi, agenda saya malam itu adalah ‘menjadi teman dan pendengar yang baik’, karena beberapa jam sebelumnya, ada pesan yang masuk di BlackBerry saya. “I really need to talk to you. Can we meet?”

Dua jam menghabiskan quality time mendengarkan cerita teman, sambil duduk-duduk minum hazelnut latte, menikmati sejuknya malam Jakarta sehabis hujan. Hilang semua letih sisa kerja sehari penuh. Teman dekat adalah berkat, teman lama adalah harta, teman baru adalah candu.

Little Miss March meluncur keluar dari tempat parkir di depan Kemang Village sekitar pukul 21.00 WIB. Saya masih belum ingin pulang, dan memutuskan untuk keliling-keliling dulu. Diiringi lengkingan vokal Edo Wallad, saya bawa March melalui jalan-jalan di beberapa wilayah di Jakarta Selatan.

Sekitar pukul 23:00 WIB, saya tiba di parkiran Rumah Susun Tanah Abang. Sebelum mematikan mesin, saya melirik indikator bahan bakar di dashboard March. Sudah hari ke-6 dari program 7 Days with March yang saya ikuti, dengan pemakaian mobil yang lebih sering dari biasanya. Ternyata tangki bensin masih terisi lebih dari setengah.

Safari malam, anyone?

March, di depan Times Bookstore, Kemang Village.

* Lirik lagu ‘Safari Malam’, The Safari

** Lirik lagu ‘Malam-malam Kutelan Temaram’, The Safari

Written by Waraney Rawung

September 17, 2011 at 2:26 AM

Seratus Malam di TransJakarta

with one comment

Sudah jam sembilan malam.

Jalan Adityawarman tak sepanas dan sepengap siang tadi. Pandanganmu lurus ke depan, dan kau berhati-hati agar ransel di pundakmu tak menghantam punggung orang-orang yang berhenti dan melihat-melihat barang dagangan di hamparan aspal Blok M. Ambil jalan sedikit memutar dan hindari kerumunan terpadat di terminal ini.

Ada polisi yang berjalan santai di tengah keramaian, sekelompok pemuda berwajah keras di depannya sukarela memberi jalan. Segera kau ambil posisi di belakangnya, mengatur langkahmu agar kalau-kalau ia mendadak berhenti, kau tak menghantam punggungnya.

Di terminal bawah tanah, pedagang-pedagang sudah mengemas barang-barang mereka. Kedua tanganmu sesekali meraba telepon genggam (di kantong depan kiri) dan dompet (kantong depan kanan), sambil tetap menjaga ransel di pundak kanan.

Kau lelah dan mengantuk, tapi tak sudi lengah dan melamun. Bergegas ke loket TransJakarta. Ambil uang kembalian karcis, diamkan saja anak jalanan yang mengemis uang kembalian itu (limaratus kali duapuluh dua hari dalam sebulan sama dengan sebelas ribu, cukup untuk tiga kali beli karcis lagi). Berikan karcis ke petugas untuk disobek, simpan sobekannya untuk penanda halaman buku, dan langsung naik ke atas.

Setengah sepuluh malam, antrian di halte masih ramai. Sabar. Satu, dua, mungkin tiga bis yang lewat dan akhirnya giliranmu tiba.

“Pelan-pelan, jangan dorong-dorongan. Lihat ke bawah,” kata petugas. Kau setengah melompat masuk dalam bis, dan udara dingin yang menghantam sejenak membekukan kulitmu.

Kau lelah dan mengantuk, tapi tak pernah lupa posisi ternyaman di dalam sana. Bukan di kursi-kursi empuk berkeringat itu, melainkan berdiri dan bersandar di pintu tengah sebelah kiri yang tak akan terbuka sampai tujuan terakhir di Kota. Tiang-tiang besinya menahan tubuhmu dan kau bisa beristirahat tanpa menjadi lengah. Di sini, siang maupun malam, adalah tempat terbaik untuk membaca, karena kedua kakimu dapat mengatur keseimbangan mengurangi goncangan, dan huruf-huruf terbaca tanpa merusak mata.

Ingat, walaupun sedikit sekali orang yang akan peduli dengan buku di tanganmu, jangan sampai sampulnya menarik perhatian tetanggamu. Mereka yang terbiasa dengan kelap-kelip telepon genggam dan percakapan rahasia, akan terganggu dengan huruf-huruf dan gambar-gambar yang terbaca untuk semua.

One Hundred Years of Solitude? Gadis setengah telanjang yang mengingatkanmu kepada gadis gypsy yang ditiduri Jose Arcadio Buendia dalam tenda pengap di tengah-tengah sirkus kampung itu? Arahkan sampulnya ke bawah, jangan ganggu lamunan bapak tua di depanmu.

“…Colonel Aureliano Buendia scratched for many hours trying to break the hard shell of his solitude.” Penumpang naik dan turun, AC yang terus menampar-nampar wajah, dan udara yang terasa basah. Bunderan HI sudah dekat. Di Halte Karet, matamu lelah karena neon di langit-langit berulangkali terhalang tangan, pundak dan ketiak yang resah.

Di luar, sepasang patung menawarkan rangkaian bunga ke belantara beton Jakarta, mengingatkanmu kepada teman yang berteriak, “Kota ini kembang api!”

“Change your belongings, and step carefully. Thank you.”

Untuk Edo Wallad. My condolences to you and your family. Prayers and thoughts for your Dad.

Malam Yang Sangat Kora-kora

leave a comment »

Selamat pagi, teman. Sekarang sudah lewat jam dua pagi, dan kantuk belum juga menghampiri. Saya sedang duduk di meja tengah Coffeewar, menikmati lagu-lagu super galau bikin ingin garuk-garuk aspal yang dibawakan live oleh Mian Meuthia dan Hendra Timothy. Radiohead, Portishead, U2, New Order, dan nggak tau apa lagi. Semakin suicidal rasanya setelah melalui sesi curhat-berselubung-filsafat-dunia-fantasi dengan beberapa teman.

Analisa super dahsyat nan jitu dari Isky menggiring forum untuk memutuskan bahwa hidup saya setahun terakhir ini termasuk dalam mazhab filsafat Kora-kora.

Up and down, up and down, up and down, up and down, to the point that you no longer know which one is up and which one is down. In the end, you’re just there for the sake of holding on, and at one point you just get your brain wired, close your eyes, and jump ship.

Eh kampret. Nampol banget analisanya.

aku bertanya kepada temanku, apa yang beratkan pikiranmu malam ini?
jawabnya, kenapa hanya kau yang bisa terbang dan menembus tembok?

daripada dengarkan morrisey, lebih baik begini begitu si babe dan mpok royane
karena aku cinta j.a.k.a.r.t.a. di setiap lembar ototku, di setiap semburan kentutku
karena kota yang kelewat chairil ini kadang terasa begitu nihil, jeritkan a case of you
dan kita berjalan menunduk, berharap aspal kaku jadi ombak-ombak putih uluwatu

ia tak pernah pergi dari sisimu
tak kau rasakan wangi rambutnya?

 

Written by Waraney Rawung

January 21, 2011 at 7:16 PM

Susan Boyle dan perasaan bersalah yang manusiawi

with 4 comments

“Kurang enak rasanya ngeliat penyanyi yang tampangnya jelek. Walaupun suaranya bagus,” kata Edo kemarin sore. Saat itu saya, Edo, dan Mikael sedang ngobrol soal Susan Boyle, perempuan 47 tahun dari Skotlandia yang jadi fenomena YouTube minggu ini. Videonya dari acara Britain’s Got Talent sudah ditonton lebih dari 26 juta kali saat tulisan ini dibuat. Menurut situs Mashable, kalau video-video lainnya tentang Susan dihitung juga, total hits-nya mencapai 47 juta kali. Mengalahkan beberapa video YouTube tenar lainnya.

Siapa sih Susan Boyle? Perempuan ini adalah salah satu peserta Britain’s Got Talent yang awal minggu lalu mengejutkan juri dan penonton acara tersebut dengan suara emasnya. Saat ia pertama muncul di atas panggung, semua menertawakannya. Perempuan 47 tahun, gemuk, beruban, berpenampilan ndeso, mau jadi penyanyi tenar? Berani-beraninya!

Tapi begitu ia menunjukkan kebolehannya membawakan lagu “I Dreamed a Dream” dari drama musikal “Les Miserables” dengan sempurna, juri yang sinis dan penonton yang bengis ternganga, kagum tak mampu bersuara, lalu bertepuk tangan menggila.

Setelah menonton video itu, saya lalu mencari cerita lain tentang Susan dan tersandung artikel Tanya Gold di guardian.co.uk yang mengkritik perlakuan juri terhadap Susan serta reaksi kita terhadapnya. Singkatnya, perempuan jelek berbakat nyanyi diperlakukan lebih buruk dari laki-laki jelek berbakat nyanyi.

 Tanya Gold: It wasn't singer Susan Boyle who was ugly on Britain's Got Talent so much as our reaction to her

Tanya Gold: It wasn't singer Susan Boyle who was ugly on Britain's Got Talent so much as our reaction to her

Mike dan Edo bilang bahwa wajar-wajar saja kalau kita suka penyanyi yang cantik-cantik, dan bukan sesuatu yang luar biasa kalau penonton dan juri Britain’s Got Talent meremehkan Susan sebelum mendengarkan suaranya. Pendapat mereka mengingatkan saya tentang suatu penelitian (lupa baca dimana, kalau nggak salah New York Times) bahwa definisi cantik-tampan ternyata universal dan berhubungan dengan komposisi wajah dan tubuh. Semakin seimbang komposisinya, semakin cantik-tampan dan menarik individu tersebut di mata kita.

Berdasarkan teori tersebut, Susan jelas-jelas tidak simetris. Saya tak menganggap dia jelek. Tapi tanpa perlu mendengar pengakuannya di panggung bahwa “I’ve never been kissed” dan “I’m forty-seven, and that’s just one side of me,” saya sudah bisa menyimpulkan bahwa dia juga bukan perempuan yang cantik. Reaksi yang manusiawi kan? Manusiawi juga kalau kita merasa bersalah setelah sadar bahwa perempuan tak simetris itu ternyata bersuara emas.

Saya punya wajah yang juga tidak simetris (mata kanan lebih kecil dari mata kiri), dan sering minder gara-gara itu. Tapi rasa rendah diri ini berkurang setelah suatu hari di tahun 1996 seorang teman kuliah bertanya, “Ney, lo ngelmu ya?” Setelah bengong dua detik, saya tanya balik ke dia, “Nggak. Kok lo mikir gitu?” Jawabnya, “Abis cewek lo banyak, trus lo suka pake baju hitam, dan rajin jogging siang-siang.”

Sunyi sejenak. Saya tak tahu harus jawab apa, cengengesan, lalu pergi meninggalkan sang teman tanpa menjawab apa-apa. Bukan main kesimpulan yang bisa ditarik teman saya itu hanya dari observasi singkat tanpa penelitian lebih lanjut. Dipikirnya saya punya ilmu hitam untuk menggaet cewek-cewek Sastra, karena itu saya suka pakai baju hitam macam dukun, dan jogging saya itu bagian dari ritual ilmu hitam. (Disclaimer: banyak cewek karena di Fakultas Sastra UI — sekarang FIB UI — memang lebih banyak cewek dari cowok, pakai baju hitam terus biar kelihatan lebih langsing, dan jogging siang-siang biar cepat kurus!)

Tak usah merasa bersalah kalau kita pernah atau masih jadi orang-orang seperti penonton dan juri Britain’s Got Talent. Manusiawi kok. Jangan percaya juga sama ungkapan “don’t judge a book by it’s cover”. Omong kosong. Kalau nggak lihat dari sampulnya dulu, trus dari mana? Buktinya irisPUSTAKA menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menentukan sampul buku Mike dan Anya! 🙂

It’s ok to judge a book by it’s cover. But don’t go crying to mommy when you find a crappy story in it, or be the only person in the world who missed the best-seller.

Written by Waraney Rawung

April 18, 2009 at 8:22 PM