duniahitam

tentang hidup yang terkekang

Posts Tagged ‘deden purnamahadi

Day 4 with Nissan March: RS PGI Cikini dan Google Chrome Party

leave a comment »

Selasa, 13 September 2011. Pagi itu, jam 8.30, saya baru saja keluar dari rumah dan berjalan ke tempat parkir, ketika Ibu saya menelepon. “Ran, kamu ijin nggak masuk kantor aja ya hari ini? Kakakmu sakitnya makin parah, agaknya harus ke dokter atau ke rumah sakit.” Oh, no. Saya langsung minta ijin ke Pak Boss Deden, dan mengirim BBM ke Intan, minta maaf bahwa saya nggak bisa jemput dia dan berangkat ke kantor bersamanya pagi itu.

Kami tiba di Rumah Sakit PGI Cikini sekitar jam 10 pagi. Belum lagi tengah hari, tapi matahari di atas Jakarta sudah kejam sekali. Saya bersyukur AC dalam Nissan March cukup mampu menghalau panas yang mengepung kami sepanjang perjalanan. Saya juga senang karena suspensi March yang lembut dan kemampuan mobil itu bermanuver dengan lincah di jalan-jalan kota yang macet habis-habisan memungkinkan kami sampai ke tempat tujuan dengan cepat, nyaman dan aman.

Menurut dokter, kakak saya sakit diare berat, bukan gejala typhus seperti dugaan kami. Tak perlu menginap di rumah sakit, dan obat-obatannya pun cukup murah. Puji Tuhan.

Urusan dokter, obat, dan membeli makanan selesai sekitar pukul 3 sore dan kami langsung pulang. Ibu menemani kakak saya di rumahnya, sementara saya segera mengungsi ke rumah saya. Kami memang tinggal di rumah (unit) yang berbeda, walaupun tetap di kompleks rumah susun yang sama.

Little Miss March, di Rumah Susun Tanah Abang.

Malamnya, setelah memastikan bahwa kondisi kakak saya sudah membaik, sekitar pukul 19:00 saya berangkat ke Bengkel Night Park di Kawasan SCBD untuk menghadiri acara Google Chrome Party. Karena saat itu jam pulang kantor, saya terjebak macet di jalur lambat Jalan Sudirman antara Sampoerna Strategic Square dan Semanggi. Walaupun macet, karena jarak dari rumah ke SCBD tidak jauh, jam 8 kurang saya sudah sampai di Bengkel.

Lu lagi, lu lagi. Seperti biasa, di acara-acara offline yang melibatkan penggiat social media di Jakarta, yang datang biasanya orangnya ya itu-itu lagi. Communications people. Teman-teman yang setiap hari saya baca ocehannya di Twitter, blogger-blogger terkenal, dan teman-teman dari perusahaan public relations lainnya. 

Google Chrome Party berlangsung cukup menyenangkan. Di sana saya ketemu beberapa teman yang juga ikut 7 Days with March, yaitu Billy, Fany, dan Dita. Kami pun ngobrol-ngobrol soal Nissan March, tentang kelebihan dan kekurangannya, serta harapan kami agar Nissan Motor Indonesia menyumbangkan kepada kami mobil-mobil yang sedang kami pinjam sekarang. Hahaha. Please please pretty please?

March, di parkir basement Bengkel Night Park, SCBD.

Advertisements

Day 1 with Nissan March: Suspensinya Selembut Hatiku

with one comment

Pengakuan: Saya baru setahun lebih punya SIM dan bisa mengemudikan mobil. Itu pun setelah situasi keluarga, kehidupan bercinta, dan tuntutan gaya hidup sebagai kaum professional ibukota *huek, muntah becak* memaksa saya untuk belajar nyetir. Sehari-hari, saya mengemudikan mobil tipe minibus, yang biasa saya panggil dengan nama kesayangan ‘bis kucing’.

Sejak punya SIM, saya sadar bahwa saya suka sekali nyetir. Menurut teman yang sudah nyetir sejak SMA, ini sesuatu yang rookie driver banget. “Coba kalo lo udah nyetir belasan tahun kayak gue, pasti lo bawaannya males nyetir. Apalagi Jakarta macet mampus begini,” begitu kata teman saya. Mungkin dia benar. Tapi sampai sekarang sih saya masih menikmati nyetir, dan kalau ada anggota keluarga yang minta diantarkan kemana-mana, walaupun awalnya ngomel-ngomel dalam hati, ketika mobil sudah meluncur keluar tempat parkir, hati ini rasanya senang.

I love driving.

Nah, ketika PT Nissan Motor Indonesia mengadakan program 7 Days with March, saya langsung mendaftarkan diri. Beruntung, saya masuk ke babak berikutnya dan mendapatkan kesempatan untuk menjajal mobil Nissan March selama seminggu. Hadiah utama berupa jalan-jalan gratis ke Jepang sudah tidak terpikirkan lagi. Yang penting bensin dibayarin dan bisa sepuasnya nyetir mobil baru!

Hahaha. Dasar anak kampung.

Saya kebagian batch ketiga, dan setelah menunggu beberapa minggu, pada hari Sabtu, 10 September, 2011, saya pergi ke kantor Nissan di Jalan MT Haryono, Jakarta. Walaupun ngaret sejam dari jadwal yang diumumkan melalui email, senang sekali rasanya ketika akhirnya saya mendapatkan kunci mobil Nissan March.

You’re mine for a week. *ketawa a la penjahat di film-film Indonesia*

Setelah semuanya dapat mobil masing-masing, rombongan batch #3 meninggalkan kantor Nissan, melakukan konvoi singkat ke pom bensin Shell tak jauh dari situ, dan mengisi tanki bahan bakar dengan Shell Super. Diisi penuh! Hahaha!

Dari kantor Nissan, saya pulang ke rumah dan tidur siang sebentar, dan sekitar pukul 5 sore, saya menjemput teman-teman saya, Natalia di Plaza Senayan dan Intan di Black Canyon Coffee, Cipete. Sore itu kami akan ke rumah Deden dan Uti di Bintaro/Pondok Aren. Ada acara halal bihalal di sana. Natalia dan Intan sudah tahu bahwa saya hari itu akan membawa March, tapi mereka tetap saja terkaget-kaget melihat stiker “7 Days With March” yang terpampang gede-gede di kedua sisi mobil. Hehehe. Namanya juga mobil pinjeman.

Perjalanan dari Cipete ke Bintaro lancar dan menyenangkan. Saya yang selama ini biasa mengemudikan mobil-mobil tipe minibus yang bongsor dan berat, rasanya seperti dapat mainan super lincah. Nissan March enak dikemudikan, response-nya bagus, akselerasinya juga ok, dan suspensinya lembut. Kecepatan 100-120 km per jam di tol, mobil tetap stabil. Body-nya yang mungil juga memudahkan saya nyelip di antara mikrolet, metromini, dan motor-motor yang merajai jalanan Jakarta.

Acara di rumah Deden dan Uti malam itu berlangsung meriah. Ramai, makanannya enak-enak, dan obrolannya menyenangkan. Teman-teman saya ketawa ngakak waktu melihat di depan rumah Deden dan Uti ada dua mobil Nissan March dengan stiker “7 Days With March” terparkir manis. Pak manajer yang pebisnis online sukses itu juga ikutan kompetisi ini! Hahaha. Karena penasaran, beberapa orang teman tertarik menjajal March keliling kompleks. And guess what? They loved it!

I love this car. Can I use it for another year, Nissan? Please please pretty pleaassee?

Meja Yang Penuh Sesak dan Ruang Yang Bergerak

with 3 comments

“Work is what you do, not where you are,” kata Aulia beberapa bulan lalu. Saat itu saya sedang kesal dengan lalu lintas Jakarta yang macet gila-gilaan, dan berpikir betapa senangnya kalau saya bisa bekerja di mana saja, tanpa terikat di kantor dari jam 8.30 pagi sampai 5.30 sore.

Tugas-tugas di kantor memang sebenarnya tidak mengharuskan saya untuk terus-menerus ada di sana setiap saat. Menulis, membuat rencana komunikasi untuk klien, menjawab email, riset, dan lain-lain. Semua pekerjaan yang sebenarnya bisa saya kerjakan di mana saja, selama ada koneksi internet dan telepon yang memadai. Kalau dihitung-hitung, mungkin 70 persen pekerjaan bisa saya kerjakan offsite, atau di tempat selain kantor. Sisanya yang 30 persen adalah kegiatan tatap muka seperti rapat (internal, klien atau supplier).

Gara-gara macet Jakarta yang semakin menggila ini, saya jadi ingat bahwa beberapa tahun lalu saya sudah merasakan nikmat dan sekaligus sulitnya kerja yang tidak terikat di kantor seratus persen. Nikmat, karena jam kerja yang fleksibel. Sulit, karena banyak hal yang bisa mengganggu konsentrasi kerja.

Di tahun 2008, setelah 3 bulan jadi konsultan di Maverick (sebelumnya, di akhir tahun 2007 saya berhenti dari IndoPacific Edelman, setelah bekerja di sana kurang lebih 6 tahun), saya mengajukan permohonan berhenti ke Ong, boss di Maverick. Permohonan resign itu diterima, tapi pada saat yang bersamaan Ong juga menawarkan posisi editor paruh waktu di Gauge, divisi media monitoring Maverick.

Sejak saat itu dan sampai sepanjang sisa tahun 2008, saya merasakan nikmatnya, serta menantangnya, bekerja tanpa terlalu terikat jam kantor. Setiap hari kerja saya masuk jam 6.30 pagi dan pulang jam 12 siang. Kecuali kalau ada pekerjaan tambahan dan jam pulang molor jadi jam 2 siang. Setelah itu saya biasanya mampir ke Excellso Cafe atau Fab Cafe di Grand Indonesia (atau ke kafe-kafe lainya di daerah Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan), dan meneruskan pekerjaan di sana. Kalau sedang butuh suasana sepi, saya mampir ke Perpustakaan Depdiknas.

Yang penting ada kursi empuk, hot hazelnut latte atau hot lemon tea yang cukup murah, dan koneksi wifi yang cukup kencang. Dalam kondisi ideal (koneksi internet lancar, tingkat procrastination rendah, dan nggak sambil ngobrol dengan teman), pekerjaan saya selesai sekitar jam 5-6 sore. Kalaupun ada sisa pekerjaan, biasanya bisa diselesaikan di rumah. Yang penting beres. Tak penting benar dikerjakan dimana.

‘Hidup bebas penuh gerak’ itu tak berumur panjang. Awal tahun 2009, Hanny mengajak saya bergabung di divisi New Media yang baru dibentuk Maverick. Saya menerima tawaran tersebut, dan berakhirlah masa-masa digital nomad saya. Tiga bulan bekerja di divisi tersebut, saya dapat tawaran dari Deden untuk kembali ke IndoPacific Edelman dan jadi konsultan di Edelman Digital Jakarta, yang juga belum lama terbentuk. Selamat tinggal kerja freelance dan mobile.

Sekarang, dua tahun setelah masa-masa kejayaan kerja freelance dan berpindah-pindah dari satu coffee shop ke coffee shop lainnya, muncul lagi keinginan untuk terbebas dari kungkungan ruang kantor dan macet Jakarta di pagi hari.

Dibandingkan dengan dua tahun lalu, teknologi sekarang jauh lebih mendukung. Nggak usah yang canggih-canggih amat. Kerja saya cuma menulis dan berkomunikasi dengan klien, teman sekantor dan supplier. Jadi saya hanya perlu laptop ringan dan berkemampuan baik dengan batere tahan lama serta kapasitas memori besar. Tentu harus didukung koneksi internet yang lancar dan smartphone yang lumayan (saya pakai BlackBerry Gemini dan Nokia E71).

Setelah menimbang-nimbang, keinginan ini saya ungkapkan ke Nanda, boss saya di Edelman Digital Jakarta.

Nanda setuju bahwa sebagian besar pekerjaan saya memang memungkinkan saya untuk bekerja offsite. Tapi dia nggak mau saya terburu-buru kesenangan dan merencanakan kerja offsite sesering mungkin. Menurut dia, nggak tertutup kemungkinan saya bisa menghabiskan maksimal 2 hari dalam seminggu bekerja di luar kantor. Yang penting, pekerjaan selesai dan teman-teman di kantor nggak akan kesulitan menghubungi saya.

Ah, senangnya.

Setelah dapat ijin dari Pak Boss, apa saya langsung bisa kerja 2 hari seminggu di luar kantor? Nggak juga. Pertama, karena fasilitas pendukungnya belum lengkap. MacBook saya usianya sudah 3 tahun lebih dan baterainya sudah mati. Tanpa baterai baru, sulit bekerja di luar kantor dengan mengandalkan colokan listrik coffee shop yang jumlahnya sedikit. Selain baterai baru, saya juga belum punya fasilitas koneksi internet yang memadai. Nggak mungkin mengandalkan wifi coffee shop yang kadang cepat kadang lambat.

Nggak apa-apa. Yang penting, saat saya sudah siap mental maupun fasilitas, kemungkinan untuk bekerja tanpa terikat terus-menerus di kantor sudah ada di depan mata.

Buat saya, dimana saya bekerja memang hampir sama pentingnya dengan pekerjaan itu sendiri. Saya tipe orang yang suka membuat meja kerja di kantor menjadi senyaman mungkin. Kalau bisa, suasananya harus mirip workstation di rumah saya.

Coba lihat meja kerjamu di kantor dan ruang kerjamu di rumah. Seperti apa keadaannya? Rapi atau berantakan? Apakah kamu tipe orang yang suka bekerja di rumah, atau di kantor? Perbedaan-perbedaan ini dibahas dalam mini documentaryThe Desk’. Video singkat yang merupakan bagian dari seri mini documentary ‘Lines’ produksi L Studio ini membahas pendapat beberapa orang tentang fungsi desk atau meja kerja bagi mereka. Ada beberapa narasumber yang diwawancarai di video ini, antara lain Massimo Vignelly (disainer), David Miller (illustrator dan art director), dan Kurt Andersen (jurnalis dan novelis).

The idea is today that with a laptop and an iPhone you can work anywhere,” kata Alice Twemlow (kritikus disain)  dalam video ini. Saya ingat, beberapa tahun lalu Steve Rubel pernah mencoba melakukan perjalanan bisnis dengan hanya mengandalkan iPhone sebagai alat kerja utamanya, dan cukup berhasil.

Laptop, iPhone, iPad, BlackBerry, atau apapun mobile devices yang kita gunakan, memang hanya representasi dari workstation kita. Dengan mobile devices tersebut, kita menciptakan ruang kerja masing-masing. Menjawab email di BlackBerry saat duduk nyaman di TransJakarta, mencari bahan tulisan sambil browsing di iPhone sambil buang air di toilet, atau menulis laporan di laptop sambil ngopi-ngopi di Starbucks. Ada ‘gelembung’ atau ruang pribadi yang kita ciptakan, yang membatasi—atau menghubungkan—kita dengan sekeliling kita.

Tapi walaupun teknologi sudah memungkinkan kita untuk lebih bebas bekerja di mana saja, buat sebagian orang hal ini bukanlah segalanya. Seperti yang dibilang Twemlow, “Even today I think there’s something about coming to sit at your desk, that kind of stops your from becoming completely nomadic and drifting away entirely.” Agaknya bagi sebagian orang, punya suatu tempat yang benar-benar didedikasikan sebagai meja atau ruang kerja tetap menjadi sesuatu yang penting. Seperti saya dan meja kerja di kantor dan di rumah yang penuh mainan dan buku.

We’re not completely liberated from the desk. We’re sort of halfway between this idealized notion of the completely nomadic worker and the desk-bound robot. The reality of life today means that you can’t always be that. In fact, you have to take that idea of that working space with you.

Coba lihat apa pendapat para narasumber ‘The Desk’. Menurut Vignelly, “It’s very important to have a place where you work that is in sync with yourself”. Vignelly tidak suka meja yang berantakan. Buat dia, meja yang berantakan sama seperti meja makan yang penuh sisa hidangan malam sebelumnya. Meja yang berantakan menghilangkan semangat kerjanya. Berbeda dengan Vignelly, Miller suka dengan meja kerja yang penuh sesak dan dinding yang bertempelkan macam-macam gambar dan tulisan. “You’re surrounded by your stuff, to be around books and stuff taped up on the wall, that’s when stuff starts to happen, you start to create a world,” kata Miller. Pendapat Miller ini senada dengan Andersen, “It’s comfort, it’s home, it’s the womb.”

Saya tetap ingin kerja mobile, tak perlu setiap hari masuk kantor dan terikat di meja kerja. Tapi di sisi lain, saya juga perlu merasa memiliki sebuah meja atau ruang kerja yang benar-benar sesuai dengan pribadi saya. Jadi, faktor “where you are” atau ‘meja/ruang kerja’ apa yang saya gunakan juga ternyata penting.

Di luar kantor, saya memilih coffee shop yang nyaman, sejuk, tidak sesak pengunjung dan asap rokok, tidak bising oleh musik dan obrolan pengunjung, menyediakan makanan minuman serta koneksi wifi yang terjangkau harganya. Di rumah, berarti kamar tidur merangkap ruang kerja. Di kantor, desk itu tentu saja meja kerja yang disediakan untuk saya. Waktu masih kuliah, desk itu adalah meja kayu di BukuKafe (di Jalan Margonda, Depok) dan beberapa pojokan perpustakaan-perpustakaan di UI.

Ruang kerja saya di rumah dan di tempat kos mirip dengan deskripsi Miller dan Andersen. Sesak dengan buku-buku, pernak-pernik, dan tempelan-tempelan dinding. It’s comfort, it’s home, it’s the womb. Kamar tidur saya di rumah yang sesak dan panas (sekarang udah mendingan karena akhirnya saya pasang AC), sering saya panggil dengan nama kesayangan my womb room.

Okay. Jadi saya tipe pack rat (kalo nggak salah itu istilahnya). Orang yang suka menimbun barang dan mengelilingi dirinya dengan objek-objek kesayangan. Meja kerja di kantor dan di rumah harus ramai pajangan, buku, mainan, foto, dan hiasan. Foto meja kerja yang terakhir menunjukkan meja yang relatif lebih bersih dibandingkan yang lainnya. Itu karena di awal tahun 2011 ini saya memutuskan untuk  sebisa mungkin menghindari kerja lembur. Mengutip ucapan teman saya Kristy saat melihat foto kamar saya, “If I have that to go home to, I won’t be staying late in the office”.

Yeah right.

Setelah sebulan menikmati meja yang bersih, jam pulang kerja yang tenggo, malam-malam yang bisa dihabiskan di gym, bulan Februari yang akan datang semuanya akan berubah. Beban kerja yang semakin banyak membuat saya seringkali (lagi-lagi) harus bekerja di kantor sampai larut malam. Di saat-saat seperti itu, saya rindu suasana kamar yang sesak dan akrab. Rindu mainan-mainan dan pajangan-pajangan nggak penting, yang sekarang sudah saya bawa pulang ke rumah.

Besok, Senin 31 Januari 2011, satu-persatu benda-benda tak penting namun menyejukkan jiwa itu akan saya angkut lagi ke kantor. Mari membuat sarang lagi di luar rumah. Karena buat saya, apa yang saya kerjakan sama pentingnya dengan dimana saya mengerjakan itu.

April iPad Fool’s Day

with one comment

Tepat setahun lalu, saat saya baru saja mulai terjun ke dunia social media secara profesional (sebelumnya cuma buat main-main aja), dengan polosnya saya terjebak dalam April Fool’s Day gaya social media. Hari itu, 1 April 2009, tiba-tiba beredar link dan pesan di timeline saya (tentu saja yang menyebarkan orang-orang yang saya kenal), yang menyatakan bahwa Twitter versi profesional baru saja diluncurkan. Setelah meng-klik link tersebut, dan mengikuti langkah-langkah yang ditentukan, dalam waktu singkat foto profil Twitter saya berubah, dengan tambahan banner ‘pro’ di pojok kiri bawah.

A newbie and a fool.

Bukan hanya saya yang melakukan itu. Banyak teman-teman di timeline yang juga mengikuti langkah serupa, dan dalam waktu singkat saya lihat ada banyak foto profil yang menggunakan banner ‘pro’. Belakangan saya diberitahu bahwa ‘Twitter pro’ itu hanyalah lelucon April Fool’s Day. Hahaha. Semalam, Valent mengingatkan saya tentang kejadian sialan itu.

Siang ini, saat saya sedang pusing-pusingnya menyusun proposal untuk klien, Arief mendadak datang ke pojokan digiranger kami, dan mengajak saya, Deden dan Yoshi untuk membuat lelucon April Fool’s Day lewat Twitter. Kami setuju, dan langsung minta bantuan Feri dan Ali. Ini hasilnya:

Maaf ya teman-teman yang terlanjur percaya dan turut berbahagia atas hadirnya sang iPad. Happy April Fool’s Day 🙂

Written by Waraney Rawung

April 1, 2010 at 11:48 AM

Anak Perawan di Sarang Social Geeks

with 7 comments

Akhirnya tim Digital di kantor saya punya anggota perempuan. Sejak pertama bergabung kembali di sini, saya menyadari bahwa komposisi tim yang mayoritas laki-laki (ada Mbak Titi, tapi dia saat ini sedang cuti hamil, and she’s like one of the boys too 🙂 ) membuat kelakuan kami seperti jocks di locker room yang sering kita tonton di film-film remaja keluaran Hollywood. Biasalah, becandaan jorok, ketawa ngakak nggak liat-liat tempat, sulit untuk bisa serius, dan kecenderungan untuk berkelakuan ekstra maskulin.

Saya jadi teringat novel Musashi yang saya baca waktu SD dulu. Di salah satu bagiannya, diceritakan bahwa Musashi (atau Kojiro musuh bebuyutannya, lupa juga) berkunjung ke sebuah perguruan samurai yang cukup terhormat di masa itu. Saat melongok ke dalam salah satu bangsal tempat para samurai (laki-laki semua tentunya) tidur, ia melihat di salah satu dinding tergantung cermin, selendang, dan alat-alat berdandan. Saya kurang ingat juga tepatnya apa, tapi yang jelas benda-benda tersebut adalah barang-barang yang biasa digunakan kaum perempuan.

Waktu Musashi (atau Kojiro?) bertanya kepada samurai yang menemaninya, jawabnya kurang lebih seperti ini, “Tidak baik bagi sekumpulan laki-laki untuk tinggal dan berkegiatan bersama-sama dalam waktu lama, tanpa ada unsur-unsur feminin dalam lingkungan mereka.”

Intinya, para samurai itu diingatkan bahwa ada yang kasar dan ada juga yang lembut, ada yang hitam dan ada yang putih. Segala sesuatu harus seimbang.

Nah, berdasarkan semangat itulah, sejak awal saya sudah mengingatkan kepada Deden dan Nanda bahwa kalau jumlah proyek dan klien yang kami tangani semakin banyak, kami harus menambah anggota baru, yang sebaiknya perempuan. Setelah pencarian yang tak lama-lama amat, kami memutuskan untuk menarik Emie dari divisi Media Monitoring untuk mengisi posisi intern Account Executive.

Welcome Emie! Sabar-sabar ya menghadapi kelakuan social geeks yang kadang-kadang menyebalkan ini! 🙂

Digiboyz mendadak ceria saat rapat gara2 intern AE baru - part 1

Digiboyz mendadak ceria saat rapat gara2 intern AE baru - part 2

Maria Hermina alias Emie, intern AE baru di Digital