duniahitam

tentang hidup yang terkekang

Posts Tagged ‘blackberry

Seminggu Satu Buku & Puasa Social Media

with 3 comments

“Get yourself a ‘me time’. Go and disappear. Turn off your phones.” Itu nasehat dari Mayang, teman lama yang juga rekan kerja sekantor, kepada saya setahun lalu. Saat itu beban pekerjaan dan masalah pribadi yang berat membuat saya stress dan sakit-sakitan.

Menurut Mayang, mendapatkan ‘me time’ yang berkualitas itu nggak perlu dengan menghilang ke tempat-tempat yang jauh dan eksotis. Pantai-pantai, pulau-pulau terdekat dari Jakarta juga cukup. Sukur-sukur kalau bisa ke Yogyakarta, Bali atau Lombok. Bahkan tanpa pergi kemana-mana pun bisa. Coffee shop yang sepi, dan baca buku sepuasnya, tanpa terganggu dering telepon atau ping BlackBerry messenger, adalah ‘me time’ yang juga berkualitas.

Karena dana liburan saya hanya cukup untuk pergi sekali setahun saja, saya harus pintar-pintar memaksimalkan sumber daya yang ada kan? Bagaimana caranya?

Pertama, matikan BlackBerry dan lakukan puasa social media sepanjang akhir pekan (Jumat malam sampai Senin pagi). Kedua, membaca buku-buku yang selama ini terbengkalai di perpustakaan pribadi di rumah, dengan target minimal selesai membaca satu buku dalam waktu satu minggu.

BlackBerry saya akhir-akhir ini kebetulan memang bermasalah terus, sampai akhirnya benar-benar rusak colokan charger dan baterenya. Setiap hari saya harus pinjam batere teman di kantor, yang harus selalu saya kembalikan sebelum pulang. Akibatnya, setiap Jumat malam, BlackBerry itu biasanya sudah mati. Tentu, sebagai konsultan humas yang siap dijangkau setiap saat, teman, rekan kerja, dan klien tetap bisa menghubungi saya lewat nomor telepon yang satu lagi (Nokia E71, untuk sms dan voice call, tanpa Whatsapp).

Menghabiskan akhir minggu tanpa BlackBerry awalnya memang setengah mati rasanya. Terputus dari informasi social media yang biasanya membanjiri otak setiap saat, tak bisa ngobrol dengan teman-teman lewat Twitter maupun BlackBerry messenger, repot kalau mau memeriksa email dari teman atau klien, dan lain-lain.

Tapi, setelah sehari berlalu tanpa BlackBerry, dan setelah terbiasa puasa social media, ritme hidup saya perlahan-lahan kembali normal. Buku-buku di rumah mulai tampak menarik dan menggoda untuk dibaca. DVD yang berserakan di ruang tamu satu-persatu saya putar dan tonton ulang.

Hasilnya? Selama sebulan ini saya berhasil menyelesaikan membaca beberapa buku, di antaranya, ‘A Farewell to Arms’ dari Ernest Hemingway, ‘Dance Dance Dance’ dan ‘Blind Willow Sleeping Woman’ dari Haruki Murakami, serta membaca minimal satu cerita pendek dari penulis lainnya (Paul Theroux, Truman Capote, dll) setiap hari. Prestasi yang lumayan untuk ukuran pekerja sok sibuk seperti saya.

Sekarang saya sedang berusaha menyelesaikan ‘On the Road’ dari Jack Kerouac. Setelah delapan bulan, saya yakin akhir minggu depan buku sialan ini sudah habis saya baca.

Teman-teman di kantor banyak yang bertanya, bagaimana cara mencari waktu untuk membaca? Ternyata gampang caranya. Buku-buku tadi saya baca di rumah sepulang kerja (cukup satu jam setiap malam), atau di kantor saat makan siang (setengah jam, dengan resiko jadi orang yang antisosial, hehehe), atau sepanjang perjalanan menuju dan pulang dari kantor di atas bus TransJakarta (setengah sampai satu jam, yang penting kalau membaca di TransJakarta harus sambil berdiri di dekat pintu belakang, agar tubuh kita bisa menyesuaikan diri dengan goncangan).

Memang, ‘me time’ saya pasti berbeda dengan ‘me time’ orang lainnya. Agak terlalu nerdy, karena ujung-ujungnya buku lagi buku lagi. Well, that’s me. How about you?

Advertisements

BlackBerry Break & Friends You Haven’t Met

with 9 comments

Digirangers di kantor saya sekarang punya kebiasaan baru, BlackBerry Break atau BB Break, yaitu jeda satu menit dalam rapat internal. Istirahat satu menit ini diberikan untuk mereka yang ingin memeriksa BlackBerry-nya. Mulai dari menjawab email mendesak dari klien, memuaskan kehausan eksistensi terhadap mention atau retweet di Twitter, melihat gambar NSFW terbaru di BBM group dari teman-teman SD, atau sekedar melakukan aktifitas yang oh so last decade seperti membaca dan mengirim SMS.

Pemberlakuan BB Break ini bertujuan agar kami tidak perlu merasa bersalah karena sedikit-sedikit melirik layar BB, atau (lebih parah lagi) terus-menerus memeriksa/membaca/memegang BB sepanjang rapat tanpa peduli siapa yang sedang berbicara. Awalnya kami merasa aneh (walaupun tetap ketawa-ketawa sambil ngecek BB) saat kebijakan baru ini pertama kali diterapkan secara spontan oleh Pak Bos Nanda beberapa minggu lalu. Belakangan, saya merasa ini langkah yang masuk akal. Paling tidak, untuk rapat-rapat internal.

Sebagian orang mungkin merasa langkah ini sedikit kelewatan. BlackBerry Break? Yang bener aja? Get a life.

Well, this is life. Hidup di jaman ini, dengan lingkungan pergaulan saya saat ini, adalah hidup yang terputus-putus oleh gangguan dan hantaman informasi dari luar. Apakah ini akan menjadi masalah atau tidak, tergantung pilihan kita. Ketika kebiasaan ini sudah dianggap sebagai masalah (seperti rapat yang tidak fokus karena pesertanya sibuk ngecek BB), langkah pertama yang harus diambil adalah mengakui masalah itu ada, dan kemudian mencari solusinya.

Untuk saat ini, solusinya adalah BlackBerry Break.

Sibuk Konsumsi Lupa Menikmati

Setiap hari, ada ratusan entri informasi di Google Reader yang tak sempat terbaca. Belum lagi puluhan link menarik yang saya dapat dari timeline Twitter, dan ini masih ditambah dengan newsfeed di halaman home Facebook. Sekian banyak informasi yang datang, sayangnya hanya sedikit waktu dan perhatian yang tersedia. Seperti yang terjadi semalam. Sebelum pulang kantor, berkat usaha keras menulikan diri dan membutakan mata terhadap distraction di sekeliling saya, sebuah artikel lama di New York Magazine (tentang manusia modern jaman sekarang yang hidupnya penuh distraction dan information overload) akhirnya selesai saya baca. Jangan tanya apa nasib puluhan buku di kamar saya yang belum sempat dibaca.

Apapun itu namanya, kecenderungan untuk terus-menerus memeriksa BlackBerry (atau apapun merek smartphone yang kita miliki) pada saat saya seharusnya melakukan hal-hal lain yang mungkin jauh lebih penting, adalah salah satu konsekuensi budaya digital yang belakangan ini semakin dalam merasuki kehidupan saya. Ketika hidup jadi terpusat pada hal-hal yang ‘terjadi di’ atau ‘hadir melalui’ perangkat digital, dan bukannya terhubung kepada apa yang terjadi saat ini di tempat saya berada, saat itulah alarm “GILA LU YE!” di otak saya berteriak sekuat-kuatnya.

Alarm ini berulang-ulang menyala setiap kali saya latihan di pusat kebugaran Fitness First Platinum, di One Pacific Place atau di Grand Indonesia. Sekedar informasi (tanpa bermasuk menambah information overload bagi Anda, sang pembaca), pengunjung yang datang ke tempat-tempat itu akan disambut oleh beberapa slogan, di antaranya adalah, “There are no strangers, only friends you haven’t met”.

Nah, setelah hampir 3 bulan berolahraga di sana, saya merasa mereka yang datang ke sana sendirian akan sulit untuk “meet friends they haven’t met”, karena sebagian besar orang di sana datang dan pergi dalam gelembung semesta pribadi yang tertutup dari penetrasi dunia luar. Mereka, termasuk saya, berlatih dengan tetap menenteng smartphone atau iPod masing-masing. Di sela-sela latihan, sambil mendengarkan musik dari iPod, kami sibuk memeriksa pesan atau tweet terbaru di smartphone kami.

Apa sih yang penting banget sampai saya (dan para ‘pecandu’ digital lainnya) harus selalu mengecek update terbaru? Karena saya adalah anggota ‘kaum berdosa’ tersebut, saya akan coba membuat daftar tentang apa saja yang kira-kira membuat saya harus mengecek BB di sela-sela latihan:

  1. Cek email kantor
  2. Cek Twitter, lihat ada reply, mention atau retweet
  3. Cek Twitter, lihat @infoll, mengira-ngira rute terbaik saat pulang
  4. Cek Twitter, lihat timeline, ada gosip terbaru apa hari ini?
  5. Cek Facebook, ada notification apa?
  6. Cek BB message
  7. Cek SMS

Astaga. Membaca daftar ini sudah cukup bikin saya merasa tenggelam dalam information overload.

Sibuk Dokumentasi Lupa Menikmati

Seminggu yang lalu, salah satu topik yang ramai dibahas di timeline saya adalah Java Rocking Land. Dari ratusan tweet tentang musisi yang tampil, cuaca yang tak bersahabat, dan jalanan menuju Ancol yang macet menggila, ada 2 tweet yang menarik perhatian saya, yang datang dari account milik seorang teman, Leo :

Membaca tweet tersebut, saya jadi teringat pemandangan di Java Jazz beberapa tahun lalu (mungkin 2008?), saat saya menonton Level 42 dari deretan bangku-bangku atas di JCC. Selain cahaya menyilaukan yang datang dari panggung, ada kerlap-kerlip lainnya yang menarik perhatian, datang dari kerumunan penonton di depan panggung. Setelah diperhatikan, ternyata cahaya mirip kunang-kunang itu adalah ratusan cahaya layar handphone. Astaga, mereka sibuk nonton atau sibuk livetweeting/facebooking?

Lucu juga. Tenggelam dalam gelembung pribadi, tapi diiringi oleh oversharing. Seolah-olah semua yang kita lihat, pikirkan, sentuh, cicipi, dan nikmati wajib di-share ke dunia luas. Facebook, Twitter, Foursquare, dan entah apa lagi, semua menyediakan saluran bagi kita untuk mengumumkan apa yang sedang terjadi saat ini dalam gelembung pribadi kita. Kita harus terus-menerus menjawab pertanyaan “What’s Happening?” yang dilontarkan Twitter.

Saya termasuk yang banyak menumpuk dosa dalam hal oversharing. Daftar dosa saya untuk soal over-sharing ini panjang sekali, dan saya nggak heran kalau kemudian banyak teman yang capek baca timeline saya dan memutuskan untuk unfollow saya.Dua tahun lalu saat mulai aktif menggunakan Twitter, baik untuk urusan pekerjaan maupun pribadi, semua yang saya lihat-tonton-dengar-alami rasanya harus segera di-share dengan seluruh dunia. Saya sibuk livetweet di tengah-tengah konser musik, mengomentari adegan-adegan film dan bertanya ke teman-teman di timeline tentang film yang sedang saya tonton di DVD, dan mengumumkan melalui Twitter topik pembicaraan saya dan teman-teman saat kami sedang kopdar. Ehbuset. Kalau sedang kopdar aja malah sibuk online, what’s the point?

Seperti yang diungkapkan Agatha dalam tulisannya, ‘Ngobrol Langsung atau Via Twitter?’:

Buat saya, waktu di mana saya bertemu secara langsung dengan teman-teman adalah kesempatan yang mestinya dimanfaatkan untuk bisa berbincang dengan mereka. Secara langsung, tanpa diantarai oleh media apapun. Kami bisa membincangkan apapun –hanya di antara kami– tanpa perlu ‘didengar’ oleh orang lain, seperti halnya jika kami saling berbalas tweet di Twitter. Kami bisa saling bertukar cerita tentang sesuatu yang sama-sama kami tahu.

Untuk saat ini, solusi berupa BlackBery Break dan upaya keras untuk bayar hutang baca 2 buku sebulan sudah cukup buat saya. Beberapa video berikut ini juga cukup manjur jadi pengingat, agar jangan sampai terlalu lama keasyikan dengan dunia digital, lalu lupa menikmati hidup. Remember, there are friends out there that you haven’t met!