duniahitam

tentang hidup yang terkekang

Posts Tagged ‘anya rompas

Catatan Nyelip: BungaMatahari & KebunKata di Yogyakarta

leave a comment »

 

Menyambut ulang tahun Komunitas Puisi BungaMatahari ke-12 tanggal 19 April 2012 yang akan datang, saya akan mempublikasikan tulisan-tulisan lama tentang BuMa, sebagian darinya sudah lama tersimpan di folder komputer tercinta. Mereka sebenarnya diniatkan untuk terbit tak lama setelah acara-acara yang dibahasnya. Yang menyebabkan mereka lama hilang tak lain tak bukan adalah kemalasan, kecerobohan, dan kebodohan saya sendiri.

Ini adalah tulisan ketiga, tentang perjalanan saya dan teman-teman BuMa ke Yogyakarta. Kalau malas membaca, silakan mampir ke foto-foto lama ini saja.

Bolos Kerja Demi Yogyakarta

Bau apek yang mengingatkan kepada punggung jaket tukang ojek menghantam indera penciuman saya, sedetik setelah melangkah masuk ke dalam kereta Argo Bromo. Karpet yang menutupi lantai, lapisan kursi, dan tirai jendela kereta setengah eksekutif ini agaknya sudah lama tak ketemu sabun cuci. Pening juga membayangkan harus terbenam berjam-jam dalam bau yang super asoy itu. But hey, that’s the whole point of traveling, mate. Cari susah!

Malam itu, 18 April 2008, saya berangkat ke Yogyakarta untuk merayakan ulang tahun BungaMatahari (BuMa) yang ke-8 bersama anggota-anggota BuMa di kota pelajar itu. Anya, Mikael, Yoshi, dan Jorgi sudah lebih dulu sampai di sana. Metta tak jadi datang karena ada masalah dengan flight-nya, Danielle mungkin sudah sampai duluan, sedangkan teman-teman yang lain tak ada kabarnya. Saya pun hampir gagal berangkat, kalau nggak nekat bolos kerja, berbohong dan minta ijin sakit.

Kami beruntung karena di Yogyakarta tak perlu mengeluarkan uang untuk menginap di hotel. Gerombolan cheap bastard dari Jakarta akan menginap di rumah mertua Yoshi, di daerah Kauman yang katanya tak terlalu jauh dari stasiun.

Kereta dijadwalkan berangkat dari Jakarta, pukul 8:30 malam, dan 15 menit sebelumnya saya sudah duduk dengan manis di salah satu kursi yang berbau apek itu. Sedikit meleset dari jadwal, pukul 8:45 kereta meluncur keluar dari Stasiun Gambir. Lampu kabin yang terang-benderang membuat saya tak bisa melihat pemandangan di luar. Padahal malam hari adalah waktu yang paling ramah untuk menikmati ibukota yang tak pernah tidur, dengan lampu-lampu yang norak namun menenangkan jiwa.

Gagal cuci mata, saya pun membuka buku Harry Potter and the Deathly Hollows, mencoba melewatkan malam panjang itu dengan sedikit petualangan kata-kata dan sihir remaja. Sayang, guncangan kereta dan iklan PT KAI yang menghantam mata dan telinga tanpa henti dari televisi yang tergantung di dinding depan sukses menghancurkan konsentrasi. Setengah jam membaca sudah cukup membuat mata letih, dan akhirnya saya luruskan posisi tubuh setelah memasang earphone Nokia 6681 tercinta. Simon & Garfunkel, KT Tunstall, Sinead o’Connor, dan Nirvana memang tak pernah mengecewakan sebagai teman perjalanan.

Persiapan KebunKata Yang Sangat Oh La La

Perjalanan ini bermula dari obrolan panjang sepulang dari acara ulang tahun mailing list Apresiasi Sastra. Saya, Anya, Yoshi, Kinu dan Indah Ariani mampir ke Kentucky Fried Chicken di Ratu Plaza, Jalan Sudirman. Dari sana, setelah Jorgi dan Indah pulang, kami meneruskan tongkrongan ke Café Oh La La di Skyline Building, Jalan Thamrin. Sebelumnya, kami menurunkan Kinu di dekat stasiun Senen, karena malam itu rencananya ia pulang ke Yogyakarta. Surprise, surprise, baru saja tiba di Oh La La, kami ditelepon Kinu. Ternyata dia ketinggalan kereta. Kami ajak dia bergabung, sekalian menunggu pagi dan mengejar kereta lagi.

Salah satu hasil obrolan malam itu adalah kami ingin sekali jalan-jalan ke Yogyakarta, seperti yang waktu itu pernah kami lakukan di Bandung. Saya masih penasaran ingin datang ke acara Live Poets Society, tapi sayangnya acara itu ternyata sudah beberapa lama tidak diadakan lagi. Kalau begitu, kenapa bukan BuMa saja yang buat acara di sana? Kan ulang tahun BuMa sebentar lagi? Ini alasan yang cukup tepat buat kami, selain alasan ingin jalan-jalan, tentunya.

Selepas malam itu, ide ini kemudian disampaikan ke beberapa teman, baik yang di Jakarta maupun Yogyakarta. Entah bagaimana awalnya, Maria Ingrid (nickname-nya di milis, ‘malaikat kecil’) kemudian menjadi semacam ketua panitianya. Kami pun rajin berbalas email dengannya, mengikuti perkembangan perencanaan dan pelaksanaan acara KebunKata di Yogyakarta.

Spontanitas teman-teman BuMa di Yogyakarta mengingatkan saya kepada teman-teman di Bandung, yang sukses membuat KebunKata ‘Lautan Kata’. Mereka tak hanya bisa melempar ide, tapi juga cekatan melaksanakannya. Dua tahun lalu, tak lama setelah meluncurkan Antologi BungaMatahari, yang ada di pikiran kami para moderator dan panitia penerbitan buku hanyalah apa yang bisa kami lakukan untuk mempromosikan buku tersebut sebaik-baiknya. Setelah berkutat dengan proses kurasi, editing, pencarian penerbit, negosiasi dengan penerbit, persiapan acara peluncuran di Aksara Kemang, dan promosi kiri-kanan atas-bawah, energi kami saat itu benar-benar terkuras. Gerak cepat dan inisiatif teman-teman di Bandung memungkinkan KebunKata Bandung Lautan Kata dan acara-acara lainnya saat itu dapat terlaksana dengan baik dan lancar.

Selama ini para penggiat BuMa selalu menekankan bahwa siapa pun bisa dan boleh mengadakan acara KebunKata. Tak harus diadakan di Jakarta, bisa di Bandung, Yogyakarta, atau kota-kota lainnya. Tak perlu dipikirkan apakah Anya dan Danar sebagai sebagai pendiri komunitas ini serta para moderator dan penggiat BuMa lainnya (terutama yang di Jakarta) bisa datang ke acara di kota-kota lainnya atau tidak. Yang penting anggota BuMa di kota yang bersangkutan mau, dan bisa, berkumpul untuk bersenang-senang berpuisi. Kalaupun setelah mereka berkumpul, ternyata niat untuk berpuisi hilang digantikan keinginan ngobrol-ngobrol atau ketawa-ketawa belaka, apa salahnya?

Halo, Yogya!

Beberapa jam tidur tak nyenyak, beberapa mimpi yang terputus, dan selaksa guncangan kecil, akhirnya saya sampai juga di Stasiun Tugu, Yogyakarta.

Saya tak langsung berangkat ke rumah Yoshi, tapi duduk-duduk dulu menghilangkan lapar dan haus dengan rotiboy dan air mineral, selama sekitar 15 menit di ruang tunggu stasiun. Nggak setiap hari bisa nongkrong di Stasiun Tugu jam 5 pagi begini, menikmati suasana subuh yang sejuk ini, menebak-nebak apa yang dipikirkan wajah-wajah mengantuk di sekeliling saya, sambil mencari inspirasi dari kursi-kursi kayu, dan udara yang abu-abu sebentar lagi menyerah pada waktu.

Menurut Yoshi, ongkos becak dari stasiun ke rumahnya di Gerjen, atau Nyai Ahmad Dahlan, hanya sepuluh ribu rupiah. Tapi abang becak yang saya hampiri berkeras pada angka duabelas ribu. Ya sudahlah, memang ongkos subuh pasti beda dengan siang hari. Ekstra dua ribu itu tak ada artinya dengan suasana Yogya di gelap pagi yang sepi itu.

Terakhir saya datang ke kota ini tahun 1996, sepulang mengantar teman yang masuk Akademi Kepolisian di Semarang. Sekilas, tampaknya tak terlalu banyak yang berubah. Mungkin karena Malioboro yang kosong melompong dan lampu-lampu jalanan yang seperti barisan lilin membawa kesan romantis seperti adegan-adegan film lama. Di beberapa sudut jalan ada satu-dua orang tidur bersandar dinding beralas trotoar. Mungkin pengamen-pengamen Malioboro yang terkenal dan menjadi obyek lagu itu, atau anak muda yang malas pulang ke rumah orang tua.

Yoshi sudah menunggu di mulut jalan kecil yang mengarah ke rumahnya. Wajahnya mengantuk dan sarungnya agak miring. “Nggak susah kan, nyarinya?” sambutnya saat saya turun dari becak. “Gampang,” jawab saya sok tahu. Padahal kalau dia tak menunggu di depan jalan, saya pasti harus sedikit nyasar sebelum menemukan rumahnya.

Di dalam saya langsung menemukan Mikael terkapar di lantai ruang belakang, hanya beralaskan tikar. Saya tendang pantatnya, dan dia membuka mata yang lengket dengan belek, “Hei, baru nyampe lo?” ucapnya ngantuk. Saya melongok ke kamar depan dan melihat Anya yang tidur nyenyak. “Hooooi bangun, katanya mau tidur?”saya teriak. Anya cuma membuka sebelah matanya, mengomel pendek, “Aaaah diem!” lalu terus tidur lagi.

Saya masih mengantuk, tapi jauh-jauh ke Yogya tentunya bukan untuk tidur saja? Yoshi juga masih ngantuk, tapi sama seperti saya, agaknya ia tak terlalu berselera untuk melanjutkan tidur. Kami pun ngobrol-ngobrol.

Dia cerita, semalam mereka jalan-jalan sama Saut Situmorang. Ada beberapa kejadian lucu, yang terlalu panjang kalau saya ceritakan di sini. Yoshi juga menunjukkan foto-foto mereka saat hang out sama cyborg yang satu itu. Damn it! Harusnya saya ‘ijin sakit’ lebih lama!

Capek ngobrol, saya dan Yoshi lalu pergi ke stasiun untuk memesan tiket pulang tanggal 20 April, 2008. Saat itu sekitar pukul 6 pagi, matahari sudah cerah bersinar, dan panasnya mulai terasa seperti siang hari. Untung udara Yogya lebih bersih dari Jakarta!

Pagi itu saya juga merasakan untuk pertama kalinya naik busway gaya Yogya. Bis yang besarnya hampir sama dengan metromini di Jakarta itu berhenti di halte-halte mungil yang sempat saya sangka kios penjualan voucher telepon genggam! Tak ada jalur khusus yang dilalui karena jalan di sini kecil-kecil. Paling tidak bisnya ber-AC, dan tampaknya aman dari copet.

Sarapan dengan menu gudeg, beli di ibu-ibu ini.

Selesai urusan di stasiun, kami pulang lewat gang-gang Sosrowijayan yang mengingatkan saya kepada beberapa pojokan Kuta dan Ubud di Bali. Lalu dilanjutkan dengan sarapan gudeg, yang dijual ibu-ibu tua di kampung Kauman. Dear gods in gudeg heaven! Enak sekali! Mungkin ini hanya perasaan saya, yang percaya bahwa gudeg produksi rumahan pasti orisinil dan mantap mutunya. Seperti halnya orang-orang non-Manado yang percaya bahwa masakan Manado yang super pedas pasti orisinil dan mantap punya.

Menurut Yoshi, gudeg yang ini beda dengan yang biasa disajikan untuk turis-turis di kawasan wisata. Saya percaya saja, karena pasti tak banyak turis yang iseng-iseng jalan pagi untuk mencari gudeg ke kampung ini.

Kami baru keluar dari rumah saat matahari sudah tinggi, se sekitar jam 11. Maklum, ada Anya yang dandannya lama, dan para lelaki yang malasnya mengalahkan dewa-dewa. KebunKata dijadwalkan berlangsung nanti malam, jadi masih banyak waktu untuk jalan-jalan. Di Yogyakarta, kurang sah membaptis diri sebagai turis kalau belum mampir ke Keraton. Jadi kami telusuri gang-gang Kauman, keluar tepat di depan mesjid keraton, dan langsung masuk ke pusat kekuasaan raja-raja Mataram itu.

Ini pertama kalinya saya masuk ke Keraton. Waktu datang ke Yogya tahun 1996, saya tak sempat main-main ke sini, karena terlalu sibuk menemani teman yang mencari tukang tato dan belanja batik.

Anya, Yoshi, dan Mikael, menuju Keraton Yogyakarta.

Beradu kamera dengan Anya. Photo by @violeteye

Penyair gembel dari Jakarta, @yoshife dan @mekitron. Photo by @violeteye.

Anak muda lulusan Ostrali, ketemu inspirasi dan kecemplung janji.

Keraton Yogyakarta tepat seperti dugaan dan harapan saya. Agak kurang terawat (kecuali di beberapa sudut tertentu) dan kental dengan ingatan-ingatan masa lalu.

Kinu menemui kami di depan gerbang Keraton. Setelah makan siang di warung nasi yang katanya terkenal, tak jauh dari situ, kami mampir ke Benteng Vrederburg, atau tepatnya potongan yang tersisa dari benteng itu. Di atas benteng, selain kami ada dua anak lelaki usia 12 tahunan yang sedang sibuk ngelem. Mereka tak peduli dengan kehadiran kami, dan tetap tenang mojok di salah satu bilik batu tempat prajurit masa lalu berjaga.

Foto-foto di atas Benteng Vrederburg, @yoshife dan @waraney. Photo by @violeteye.

@yoshife, @waraney, @violeteye, dan @mekitron, di atas Benteng Vrederburg.

Sekitar pukul 3 sore, kami pergi ke restoran Milas, yang sayang sekali saya tak ingat di mana lokasinya. Nama ‘Milas’ ini rupanya singkatan dari ‘Mimpi yang lama sekali’. Jadi pemiliknya sudah lama punya mimpi ingin punya tempat ini, dan ketika akhirnya terpenuhi, dinamai ‘Milas’. Milas hanya menyediakan makanan vegetarian. Buat saya yang sudah mendekati ambang maut timbangan berat badan, ini hal teramat penting. Lain kali kalau ke Yogyakarta, saya harus mampir lagi ke sini. Tempat ini mengingatkan saya kepada Pondok Pekak di Ubud, dengan perpustakaan kecil yang nyaman.

Jorgi menyusul kami di Milas sekitar pukul 5:30. Tak lama kemudian kami pulang ke rumah di Kauman, untuk bersiap-siap buat acara malam itu.

Makan sore di Milas, @violeteye, @mekitron, @yoshife.

Penyair muda di rumah mertua. Photo by @yoshife.

KebunKata ‘Kebun’ di Kedai Kebun

Baru saja masuk di halaman Kedai Kebun, seorang lelaki gempal dengan helm kekecilan menyalip kami dengan motornya. Melihat rambut gimbalnya yang tak muat di helm itu, saya langsung menebak, pasti Saut. Benar, ketawanya yang khas langsung terdengar begitu helm malang itu dibuka. The one and only. HAHAHAHA. Orang yang belakangan ini bikin geger dunia maya dan nyata.

Saut tak langsung ingat kepada saya. Tak heran juga, saya terakhir ketemu dia hanya sebentar di acara Meja Budaya, Pusat Data Sastra H.B. Jassin, beberapa waktu lalu. Waktu itu saya menegur dia duluan, dan agaknya hanya setelah saya bilang, ‘Mikael dan Anya bentar lagi sampe sini!” baru dia bisa menebak saya anak BungaMatahari, tanpa keburu memikirkan hal-hal lainnya seperti, who the hell is this guy who’s pretending to know me well?

Saya sudah lama baca tulisan-tulisan penyair ini di beberapa milis sastra dan non-sastra. Pertama kali melihatnya langsung di Ode Kampung tahun 2007, hanya bersalaman sebentar tanpa sempat kenalan. Baru setelah ia datang lagi ke Jakarta di bulan Desember 2007, diajak Mikael untuk nongkrong bareng di Hong Kong Café, Jalan Sunda, saya benar-benar bisa kenalan dengannya. Selain Saut, saat itu Mikael juga mengenalkan saya dengan Marv, pemuda Filipina yang sedang melakukan penelitian tentang sastra Indonesia. Beberapa jam dan sekian pitcher bir kemudian, dengan pipi yang semakin mati rasa dan omongan yang makin kacau, saya dikuliahi Saut tentang buku-buku Jack Kerouac dan Gabriel Garcia Marquez yang wajib dibaca. Yang saya ingat dari pembicaraan itu hanya betapa kagumnya ia dengan On The Road dari Kerouac, dan bahwa karya terbaik Marquez yang harus saya baca bukanlah One Hundred Years of Solitude atau Love in a Time of Cholera. Judul yang direkomendasikannya apa, terus-terang saya lupa, karena alkohol yang memenuhi kepala benar-benar membuat otak saya kacau balau malam itu. Saking kacaunya, saat kami pindah tongkrongan ke Menteng untuk makan malam kedua, saya kelewatan asyik ngeledekin Marv, sampai akhirnya dia kesal dan memutuskan pulang.

Ternyata kejadian inilah yang benar-benar diingat Saut tentang saya. “Saking mabuknya loe sampe ngancem-ngancem si Marv. Hahahaha. Langsung pulang dia.” Astaga, benar juga. Saya baru ingat. Saking mabuknya, saya bahkan lupa, sebelum memaki-maki Marv, saya menghadiahinya buku Zadie Smith, On Beauty, just because the alcohol made me feel strangely friendly towards him.

@violeteye meniup lilin kue ulang tahun ke-8 BungaMatahari.

Maria Ingrid 'malaikat kecil' baca puisi.

Saut Situmorang membaca puisi 'Lebah Ratu' karya Nirwan Dewanto.

@mekitron membaca puisi @waraney, agaknya 🙂

Jorgy Ibrahim.

Kedai Kebun sudah ramai malam itu. Ada Danielle, Kinu, Ingrid, Dwi, Utut, Jorgi, dan masih banyak nama-nama lainnya yang saya tak ingat lagi. Sebagian besar dari mereka, saya belum pernah sama sekali ketemu, tapi mudah sekali buat saya untuk ketawa lepas dan berbagi puisi dengan mereka. Seolah-olah kami sudah kenal lama. Padahal saya baru sekali itu ketemu langsung dengan Ingrid, setelah selama ini hanya bisa berbalas puisi di milis. Dwi Rastafara, yang puisi-puisi oh so romantic-nya hanya bisa saya baca di milis, ternyata orangnya gondrong dan bertato.

Tak terasa BungaMatahari sudah mencapai usia delapan tahun. Begitu cepatnya waktu berjalan teman! Lilin di atas kue tart pun dinyalakan, dan bergiliran ditiup (ya, lilin itu harus dinyalakan berkali-kali!) oleh Ingrid dan Danielle, Yoshi, dan terakhir Anya. Acara selanjutnya, baca puisi! Saya membukanya dengan membacakan puisi Saut, dari antologi puisi ‘Otobiografi’ yang belum lama ini diluncurkannya di Denpasar, Bali. Judulnya ‘Selamat Ulang Tahun, Penyair!’

 

 

Selamat Ulang Tahun, Penyair!

 

ada yang berubah pada diri hari ini

matahari itu jadi lebih berarti dari kemarin

debu jalanan malam hari lengket di rambut

tumbuh jadi uban uban warna perak angkuh

dan gadis gadis jadi begitu manis begitu mistis!

 

selamat ulang tahun padaMu, penyair!

cerita dan kisah mekar dan layu di kota kota dunia

bagai sungai mencapai samudra

memori jadi peta perjalanan yang ditulis seorang turis gila

29-06-01

 

 

Di depan piramida Candi Sukuh, bersama Saut dan Katrin. Photo by @yoshife.

Advertisements

Written by Waraney Rawung

February 23, 2012 at 12:33 PM

Catatan Nyelip: BungaMatahari & Bandung Lautan Kata, Bagian 2

with 2 comments

Menyambut ulang tahun Komunitas Puisi BungaMatahari ke-12 tanggal 19 April 2012 yang akan datang, saya akan mempublikasikan tulisan-tulisan lama tentang BuMa, sebagian darinya sudah lama tersimpan di folder komputer tercinta. Mereka sebenarnya diniatkan untuk terbit tak lama setelah acara-acara yang dibahasnya. Yang menyebabkan mereka lama hilang tak lain tak bukan adalah kemalasan, kecerobohan, dan kebodohan saya sendiri.

Ini adalah bagian kedua dari cerita perjalanan para penggiat BungaMatahari di Jakarta ke Bandung, dalam rangka promosi Antologi BungaMatahari, dan KebunKata Bandung Lautan Kata. Pernah saya publikasikan di blog lama. Agar lebih enak dibaca, saya edit sedikit dan terbitkan dalam beberapa bagian.

NgamenKata, Sabtu, 29 April, 2006

Sore itu cuaca mendung dan menjelang malam hujan pun turun. Di teras kamar nomor 5 Nivell, Citra, Ririen, Herman, Yusak, Firman, dan Maya menyiapkan kotak-kotak sumbangan yang akan digunakan di acara NgamenKata. Mereka juga sibuk memotong-motong flyers KebunKata dan Sepeda Untuk Sekolah yang akan dibagi-bagikan di sepanjang Jalan Dago. Sementara itu saya, Esti, dan Anya sudah sejak pukul 6 sore tumbang kecapaian dan tidur tanpa mempedulikan nyamuk yang merubung. Jorgy lagi-lagi pergi berburu kaset, kali ini ditemani Yoshi.

Pukul 7.30 hujan berhenti, dan baru setelah jam 8 kami berangkat naik angkot menuju sasaran. Pertama-tama mampir dulu ke CCF menemui teman-teman Avatar yang sedang buka stand di acara Les Voilà April Edition. Walaupun ingin sekali menyaksikan penampilan Goodnight Electric, Sore, Tika, dan lain-lain dalam acara tersebut, rencana NgamenKata harus terlaksana. Dari CCF kami bergerak ke arah perempatan Kimia Farma. Di sana, setelah membagi diri menjadi dua kelompok, NgamenKata pun dimulai!

Kelompok pertama terdiri atas saya, Citra, Maya, dan Herman. Sedangkan di kelompok kedua ada Anya, Nivell, Yusak, Eno, dan Jorgy. Belakangan, Eko dan Yoshi bergabung dengan kelompok Anya. Baru lima menit berjalan, saya langsung menyadari bahwa situasi di Jalan Dago malam itu sangat tidak mendukung untuk menjalankan rencana kami, apalagi kami bukan pengamen professional yang ditempa oleh bertahun-tahun menghadapi ramainya pejalan kaki dan bisingnya kendaraan bermotor.

Awalnya kelompok saya lebih banyak menemukan kedai-kedai pinggir jalan yang masih kosong. Saya menebak bahwa pukul 9 masih tergolong pagi untuk anak-anak Bandung yang akan menghabiskan waktu di kawasan itu. Setelah berjalan beberapa menit kami pun menemukan warung tenda pertama yang ramai pengunjungnya. Saya segera mengambil posisi yang moga-moga strategis dan mulai memberikan kata pengantar tentang program ini, bahwa kami BungaMatahari bersama dengan Mapala UI, sedang mencari dana untuk program Sepeda Untuk Sekolah, dan seterusnya. Selesai mengucapkan kata pengantar tersebut suara saya sudah mulai serak. Astaga. Seandainya saya pernah ikut teater pasti tidak muncul masalah seperti ini. Maya kemudian menggantikan tempat saya dan mulai membacakan salah satu puisi dari Antologi. Selesai pembacaan puisi, kami langsung mengedarkan kotak sumbangan, lalu pamit dan pergi. Kegiatan yang tampaknya sederhana ini ternyata tidak semudah yang dipikirkan sebelumnya. Terutama karena tingkat kebisingan lalu-lintas yang sangat mengganggu konsentrasi.

Di warung tenda yang kedua, kali ini saya yang membaca puisi. Puisi yang saya bacakan juga berasal dari dari Antologi, tapi lebih pendek dari yang dibacakan Maya. Sengaja dan curang memang. Maya ngamuk-ngamuk begitu tahu. Hehehehehe. Ajaibnya, puisi pendek itu ternyata menghasilkan sumbangan yang lumayan juga. Wah, anak Bandung sangat murah hati rupanya. Walaupun kehadiran kami pasti mengganggu, sebagian besar orang yang kami temui selalu menampilkan raut wajah yang ramah dihiasi senyum maklum, yang sudah tentu melegakan sekali bagi pengamen-pengamen amatiran ini.

Kembali berjalan dan membagi-bagikan flyers. Di depan KFC Superindo, kami baru sadar bahwa flyers di tangan kami sudah hampir habis. Terpaksa menelepon teman-teman yang lain. Yusak yang dihubungi tak mengangkat handphone-nya. Hanya Yoshi yang menjawab telepon saya dan langsung menyusul kami. Rupanya mereka cukup jauh tertinggal di belakang, karena di bagian mereka ada banyak sekali warung-warung tenda yang ramai pengunjung. Akhirnya saya memutuskan kelompok kami sebaiknya bergabung dengan kelompok Yoshi. Beramai-ramai kami menyusuri Jalan Dago yang semakin padat dan bising.

Tidak semua tongkrongan di jalan itu kami hampiri. Dunkin Donuts yang dipenuhi anggota-anggota klub pengemudi motor besar misalnya, kami lewati begitu saja. Kata Jorgy, “Enggak deh, ntar kita diapa-apain lagi.” Hahahaha…

Jam baru menunjukkan pukul 10 malam ketika akhirnya kami tiba lagi di depan KFC Superindo. Semua sudah letih dan lapar sehingga Anya akhirnya memutuskan untuk menutup NgamenKata dan segera makan malam. Setelah perut kenyang, nyawa berkumpul dan mata terang, kami pun pulang ke Puri Tomat. Tiba di hotel bernama lucu itu sekitar pukul 11 malam, dan tanpa mengacuhkan Eko yang lagi-lagi mencoba meracuni saya untuk begadang, saya pun segera terkapar dengan sukses!

Curhat Dipercepat & Rayuan Kelinci (Minggu, 30 April 2006)

Minggu, 30 April 2006, pukul 1 dini hari, saya dibangunkan oleh Anya. Pingkan, Adde, Icha, Ai dan Bayu baru tiba dari Jakarta. Diiringi sayup-sayup obrolan mereka di teras luar, saya pun kembali terlelap. Pukul 5 terbangun lagi dan ngobrol sebentar, lalu tidur lagi. Saya baru benar-benar terbangun sekitar pukul 9 pagi.

Pagi menjelang siang itu pun akhirnya dihabiskan dengan ngobrol-ngobrol dengan rombongan yang baru datang semalam. Seperti biasa, agak-agak sulit buat kami untuk bisa segera bersiap-siap dan check out dari hotel. Apalagi ada Eko, yang lagi-lagi sulit dibangunkan dari tidurnya. Sekitar pukul 1 siang kami berangkat ke Potluck dalam dua kelompok terpisah. Sebagian, termasuk saya, ikut mobil Pingkan bersama perlengkapan acara, sedangkan sisanya naik angkot.

Sampai di Potluck kami langsung bertemu dengan teman-teman dari Jakarta yang sudah tiba lebih dulu. Ada Donni, Sam, Rien, Jack, Widi, Kinu, Indah (anggota BuMa dari Surabaya), dan Niken. Tak lama kemudian, Mas Yo datang bersama suami-istri penyair Bambang dan Lintang Sugianto, disusul Festi, Ulil, Santi, Isky, dan Danar. Saya senang sekali Danar bisa datang. Salah satu pemrakarsa BuMa ini biasanya sibuk dengan jadwal latihan dan manggung band-nya sehingga tidak bisa sering-sering datang ke acara BuMa.

Sebelum acara dimulai, kami mendapat kejutan menyenangkan. Pelukis Herry Dim dan istrinya menyempatkan datang ke acara kami dan bertemu dengan anggota-anggota BuMa. Saya memang berkali-kali berusaha mengundang beliau, baik melalui sms maupun menelepon langsung. Namun selalu mendapat jawaban bahwa beliau sedang sibuk melukis. Kehadirannya siang itu tentu saja sangat membesarkan hati kami. Sambil ngobrol-ngobrol ringan, beliau gantian mengundang kami untuk datang ke acara yang akan diadakannya  akhir bulan Mei di Jakarta.

All photos by Dita Ramadhani, @whalerider

Acara KebunKata Bandung Lautan Kata dimulai pukul 3.30, dibuka oleh penampilan Yaz dan Upay dari band Alone at Last yang membawakan versi akustik dari lagu-lagu mereka yang berjudul ‘Jiwa’ dan ‘Amarah, Senyum dan Air Mata’. Kemudian Mbak Lintang tampil membawakan ‘Titip Salam Cinta Untuk Bunda, Tuhan’, karya pepsigolda a.k.a Festi Noverini yang juga termuat di Antologi.

Penampil berikutnya, Sophan A, membacakan ‘Mari Berhitung’ karya Thanding sari, ‘Aku Mencintaimu Diam-diam’ dari Arwan Maulana, dan ‘Jomblo Itu Pedih, Jenderal’ karya Randurini.

Selesai pembacaan puisi dari Sophan, Yaz dan Upay kembali tampil, membawakan dua lagu, dan langsung disambung oleh Mas Bambang Sugianto dengan puisi berjudul ‘Kamira’ dari Mas Yo a.k.a blue4gie, dan ‘Tuan Malaikat…’ karya Mbak Lintang, kemudian ditutup dengan ‘Obituary Penyair’ karya TS Pinang.

Penampil ‘resmi’ terakhir yang tercantum di flyers adalah Widzar al-Ghifary, atau sireum hideung, yang membacakan ‘Dermaga’ karya Cecil Mariani.

Usainya pembacaan ‘Dermaga’ Cecil Mariani oleh Widzar menandai dibukanya sesi berikut dari acara KebunKata ini, yaitu sesi pembacaan puisi spontan. Seperti biasa, walaupun anggota yang ingin membaca puisi diminta untuk mengisi ‘daftar penampil’, hanya sedikit yang melakukan hal tersebut. Antara lain karena suasana yang semakin seru dan panas oleh kata-kata yang beterbangan di udara membuat semua yang hadir seolah kesurupan oleh arwah-arwah narsis, yang mendorong semuanya berebutan maju ke depan untuk membacakan puisinya. Berikut daftar (tidak lengkap) dari penampil hari itu dan karya yang dibacakannya (yang sayangnya tidak semua tercatat):

1.      Lukman Gunawan, (anggota BuMa yang tinggal di Bandung, datang dengan sekaleng penuh puisi dan foto-foto kenangan, membuka sesi curhat yang biasanya baru dimulai menjelang tengah malam)

2.      Jorgy Ibrahim, ‘Preferensi’

3.      Tiara, membacakan lirik-lirik lagu Alone at Last, ‘Amarah, Senyum, dan Air Mata’

4.      Widzar, ‘Jalan Sunyi’ karya Emha Ainun Nadjib

5.      Sam, ‘Tubuhmu Seperti Toilet Umum’ karya Andri VB

6.      Isky, “Aku Lebih Suka’ karya Lintang Sugianto, dan ‘Berita Playboy Tiada Henti’ karya Oom Leo

7.      Ariekotama, ‘Kamu dan Tomat’ karya sendiri

8.      Ney, ‘Tanpa Judul’ karya cryalgesia

9.      Festi, ‘Abang’, karya Lintang Sugianto

10.  Anya, ‘Pembunuh’, karya sendiri

pembunuh

petikan gitarmu

berputar-putar

di udara dan di dalam kepala

menggaung tak berujung

menghisap potongan-potongan adegan sebuah kisah nyata; dari dalam ingatan

ke depan mata

memaksaku

untuk merasa

lagi

dan mati

7lc, 19maret2005

11.  Danar, ‘(tidak tercatat)’

12.  Mas Yo, ‘Apa Kabarmu, Nak’ karya sendiri

13.  Firman, ‘Para Penyair Adalah Pertapa Agung’ karya Wiji Thukul

14.  Yusak, ‘(tidak tercatat)’

15.  Rahma, ‘(tidak tercatat)’

16.  Ney, ‘Hangus’ karya Firman

17.  Tisha, ‘Niwatakawaca’ karya sendiri

18.  Maya Meliviyanti, ‘Satu Siang Dengan Wanita Tua’ karya sendiri

satu siang bersama wanita tua

makan bukan dengan tangan kanan

seperti yang biasa dia lakukan

tertawa malu ketika kecap dia salah sebut menyeracap

bercerita tentang indahnya jogja masa lugu

hera mengapa ia masih mengingat melihat tentara terluka

dan lupa sebutanku

sejenak aku pun lupa akan sakitku

19.  Yoshi, ‘Pelet’ karya suaradarilangit, dan ‘Menggenggam Dunia’ karya Tika

20.  Dita, ‘tanpa judul’

Aku tak tahan

Tak mampu menahan-nahan

Kamu cantik

Kamu menarik

Kamu menawan

Aku ditawan

Oleh senyuman di balik gincu

Belahan dadamu yang bersemu

Lalu rok minimu

Aduh mati aku!

Tapi biarlah, aku terus maju

Toh denganmu hanya 5 ribu

21.  Adde, ‘Sapi Perah 1998’ karya sendiri

22.  Ulil, ‘Kalau Aku Ketemu Kamu’ karya sendiri

23.  Nirasha, ‘Lebah di Musim Semi’ karya sendiri

24.  Jorgy, ‘Puisi Ngarang…’ karya sendiri

25.  Eko, ‘Sebuah Puisi Dari Penjaga Counter di Potluck Bandung’

26.  Adde, ‘(tidak tercatat)’

27.  Eno, ‘(tidak tercatat)’

28.  Danar, ‘Raymond’

29.  Lukman, ‘(tidak tercatat)’

Seingat saya di titik ini acara sudah mulai tidak jelas, di depan saya ada yang selonjoran di sofa panjang, di pojok sana terlihat beberapa kelinci tanpa malu-malu melancarkan jurus merayu a la Chairil Anwar kepada kenalan baru, sebagian sibuk membereskan peralatan acara, karena rupanya KebunKata ‘Lautan Kata’ sudah resmi selesai. Ah senangnya. Sukses juga niat kami menambah teman baru dan wawasan seru.

Selanjutnya, beramai-ramai berfoto, tertawa-tawa, meneruskan cari makanan, dan berlanjut ke tongkrongan lainnya. Saya memilih memisahkan diri dari rombongan karena ada acara yang lebih menyenangkan: pulang duluan dan makan malam dengan pacar!

Written by Waraney Rawung

February 17, 2012 at 2:59 PM

Catatan Nyelip: BungaMatahari & Bandung Lautan Kata, Bagian 1

with one comment

Menyambut ulang tahun Komunitas Puisi BungaMatahari ke-12 tanggal 19 April 2012 yang akan datang, saya akan mempublikasikan tulisan-tulisan lama tentang BuMa, sebagian darinya sudah lama tersimpan di folder komputer tercinta. Mereka sebenarnya diniatkan untuk terbit tak lama setelah acara-acara yang dibahasnya. Yang menyebabkan mereka lama hilang tak lain tak bukan adalah kemalasan, kecerobohan, dan kebodohan saya sendiri.

Tulisan pertama adalah tentang perjalanan para penggiat BungaMatahari di Jakarta ke Bandung, dalam rangka promosi Antologi BungaMatahari, dan KebunKata Bandung Lautan Kata. Pernah saya publikasikan di blog lama. Agar lebih enak dibaca, saya edit sedikit dan terbitkan dalam beberapa bagian.

Chicken Teriyaki & Terlambat Lagi (Jumat, 28 April, 2006)

Siang itu udara Jakarta seperti biasa panas menyengat dan jalan-jalannya padat oleh kendaraan yang merayap. Saya tiba di kantor City Trans, depan supermarket Club Store, Kawasan Sudirman Central Business District, sekitar pukul 1:45 siang, dengan napas ngos-ngosan dan tubuh berkeringat. Terlambat hampir satu jam dari janji saya dengan Anya kemarin. Sesampainya di sana, dengan muka berminyak dan rambut berantakan kena angin gara-gara naik ojek, langsung berpapasan dengan Nurman yang sedang berjalan keluar. “Mau kemana, Man?” tanya saya. “Mau ambil duit dari Avatar di ATM, untuk ongkos anak-anak ke Bandung”, jawabnya. Wah, senangnya, jalan-jalan dibiayai Avatar Press!

Di dalam food court Club Store, saya langsung bertemu dengan Anya dan ayahnya yang sedang makan siang. Berbasa-basi sebentar, lalu duduk dan memesan seporsi chicken teriyaki yang rasanya agak aneh. Tak apa, yang penting perut terisi. Beberapa menit kemudian, Nivell, Esti, dan Jorgy datang. Nurman hanya sempat menyerahkan uang ke bendahara kami, Esti, dan segera pamit kembali ke kantornya tak jauh dari situ. Ia tidak bisa ikut ke Bandung. Maklum, copywriter handal super sibuk!

Pukul 2:30 siang. Masih ada dua orang teman yang belum datang. Ariekotama, biasa dipanggil Eko, sedang dalam perjalanan dari kantor kliennya. “Lagi di mana, Ko?” berkali-kali saya telpon dia. “Sorry, Ney. Masih di Wolter Monginsidi”. Wah, masih jauh juga ya. Macet pula. Baru selesai ngobrol dengan Eko, Anya memanggil saya. “Ney, ini Firman”, sambil memberikan handphone-nya. Firman adalah anggota Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) yang akan ikut kami ke Bandung untuk memantau dan membantu acara NgamenKata di sepanjang Jalan Dago, yang hasilnya akan disumbangkan untuk program Sepeda Untuk Sekolah hasil kerjasama Mapala UI, Portal Infaq, Solidaritas Kebersamaan, dan beberapa organisasi lainnya.

“Firman, ini Ney. Lagi di mana lo?”

“Sorry Ney, gue masih di Lenteng Agung. Macet banget.”

Wah, berabe nih. Eko masih nyangkut di Wolter Monginsidi, Firman nun jauh di Lenteng Agung. Padahal kendaraan travel kami dijadwalkan berangkat pukul 3 tepat. Setelah bernegosiasi sebentar dengan Pak Medi dari City Trans, diputuskan untuk menunggu sampai pukul 3:30. Betul saja, sekitar pukul 3:15, Eko datang diantar rekan kerja satu studionya. Sambil cengengesan menenteng koper besar beroda dan tas laptop berat, lelaki brewok berperawakan besar ini langsung terlibat sesi cela-celaan dengan anak-anak lainnya yang sudah duduk manis di dalam mobil.

Pukul 3:30 tepat, saya putuskan untuk berangkat tanpa menunggu Firman. Sebelumnya kami sudah mengatur agar City Trans menyediakan tempat baginya di jadwal keberangkatan pukul 4 sore. Sampai ketemu di Bandung, Firman!

Puri Tomat & Kakap a la Meunier

Ini pertama kalinya saya pergi ke Bandung dengan menggunakan jasa travel City Trans. Mobil Isuzu Elf yang kami tumpangi berkapasitas 7 penumpang, tidak termasuk supir. Kabin yang luas dan ruang kaki yang lapang, kursi individual yang nyaman dan dapat dinaik-turunkan, AC yang sejuk berhembus, serta jendela-jendela besar yang menyajikan pemandangan Ibukota beralih Luarkota, benar-benar memancing naluri norak kami semua. Maklum, pekerja metropolitan yang jarang bisa keluar kota. Hmmm…jangan-jangan cuma saya yang merasa begitu? Agaknya begitu!

Memasuki jalan tol luar kota, saya mulai membuka-buka majalah New Yorker yang baru kemarin di beli di Aksara, sementara Esti sudah mulai membaca Love in the Time of Cholera dari Gabriel Garcia Marquez. Sayangnya niat mulia menghabiskan waktu dengan bacaan bermutu ini terpaksa dibatalkan, karena Anya mengajak kami semua membahas ulang rencana akhir pekan di Bandung nanti. Satu-persatu, mulai dari diskusi di QB, ngamen di Dago, sampai KebunKata di Potluck. Untungnya lontaran-lontaran iseng tentang kehidupan cinta Eko akhir-akhir ini dengan segera mengubah suasana rapat menjadi ajang gosip nggak penting nan seru. Tak lama kemudian, kantuk yang mulai menyerang membuat percakapan semakin tidak sinkron, dan satu-persatu kami pulas terlelap. Sebelumnya, saya sempatkan menelepon City Trans di Jakarta, dan menanyakan nasib Firman. Menurut Pak Medi, Firman tiba tak lama setelah kami pergi, dan dia sudah berangkat dari Jakarta pukul 4. Lega rasanya, dan saya pun bisa memusatkan perhatian terhadap tugas-tugas yang sudah menanti malam ini.

Sekitar pukul 6 sore, Isuzu Elf kami mulai memasuki Bandung. Disambut oleh lampu-lampu billboard raksasa, spanduk iklan berbagai bentuk, departemen store, toko-toko, rumah makan, dan factory outlet, serta dentuman lagu-lagu dari sound system toko yang disetel kencang, ditimpali suara klakson dan nyanyian pengamen jalanan. Walaupun Kota Kembang yang dulunya sejuk ini sudah sangat berubah dan lebih ramai, entah kenapa bagi saya suasananya masih terasa jauh lebih menyenangkan dibandingkan Jakarta yang sumpek bukan main itu. Bandung yang makin padat, makin macet, dan makin genit berdandan. Sampai kapan gedung-gedung tua itu bisa bertahan?

Pukul 6:30, diantarkan oleh supir kami yang baik hati, Pak Nanang, sampailah kami ke Puri Tomat, hotel yang direkomendasikan koordinator BuMa Bandung, Yusak. Hotel bernama lucu ini beralamat di Jalan Ir. H. Juanda No. 420. Kami menempati kamar nomor 4 dan 5.

Pukul 7:30 malam, setelah selesai mandi dan beres-beres, kami meninggalkan hotel. Ada janji bertemu panitia BuMa Bandung di Pusat Kebudayaan Perancis (CCF). Setelah tanya sana-sini, baru percaya diri naik angkot jurusan yang tepat.

Kantin Terminus, CCF, pukul 8 malam. Akhirnya bertemu dengan formasi lengkap panitia BuMa di Bandung. Ada Yusak, Citra, Eno, Ririen, Maya, dan Herman. Sebagian dari kami memang pernah berjumpa sebelumnya, waktu sebulan lalu survei tempat dan berkenalan untuk pertama kalinya. Tapi sebagian lainnya tak pernah ketemu sama sekali. Menyenangkan sekali melihat itu semua bukan halangan bagi teman-teman untuk langsung akrab bagai kawan lama yang sudah lama tak jumpa. Rapat yang dibumbui ketawa-ketawa itu pun berjalan sangat lancar. Hingga akhirnya, pukul 10 malam, kami harus pulang, karena satu-dua lampu kantin mulai dimatikan.

Selesai rapat, bukan berarti malam juga harus berakhir, karena Eko tiba-tiba mengajak kami (kecuali Yusak, Citra, Herman dan Ririen yang harus pulang duluan) untuk makan malam di Suis Butcher. Lagi kaya raya ketiban rejeki rupanya anak yang satu ini. Mungkin baru menang pitching? Hehehehe…mau nanya udah keburu males, dan belakangan keburu kenyang karena porsi Kakap a la Meunier (bener nggak nulisnya?) yang saya pesan hampir-hampir bikin perut meletus!

Reaktor Nuklir & Argo Kuda (Sabtu, 29 April 2006)

Kembali di Puri Tomat (aduh, namanya itu lho!) sekitar jam 1 pagi. Ngantuk dan kekenyangan. Sayangnya, niat untuk tidur tidak bisa terlaksana. Karena Anya kembali mengajak kami-kami yang sudah super teler itu untuk ngobrol-ngobrol lagi soal program-program jangka panjang BuMa. Selesai ngobrol serius yang cukup melelahkan jiwa, sesi curhat dibuka dengan pancingan-pancingan topik filosofis a la Eko, yang tanpa terasa bikin waktu berjalan dan tiba-tiba sudah pukul 5.30 pagi! Pantas memang Eko mendapat julukan “reaktor nuklir’ dari Edo. Energinya untuk begadang (dan memancing orang begadang) memang bukan kepalang!

Mata yang sudah sipit dan makin sipit ini mendadak melek lagi waktu Firman si anak hilang tiba-tiba nongol. Menghabiskan malam di rumah teman, dia memutuskan untuk datang ke hotel pagi-pagi, kuatir anak-anak keburu jalan lagi, katanya. Aduh, maaf ya Man, semalam saya memang ceroboh sekali. Pergi ke CCF tanpa menitipkan kunci kamar dan pesan.

Firman datang, hati tenang, bisa tidur sekarang. Eh, enggak juga lho. Anya yang dari tadi matanya sudah keriyep-keriyep, tiba-tiba dengan semena-mena memutuskan bahwa kantuknya mendadak hilang dan dia tidak bisa tidur, kemudian memaksa kami semua yang sudah duduk manis di ranjang untuk ngobrol-ngobrol lagi. Singkat kata singkat cerita, mata yang sudah bengkak ini baru bisa dipejamkan pukul 8:30 pagi!

Pukul 12 siang. Bangun tidur sekitar pukul 10 pagi, berarti hanya kebagian tidur kurang dari dua jam. Nyawa yang belum komplit karena mengantuk itu, makin tercerai-berai begitu melihat bahwa sesiang ini teman-teman belum ada yang siap. Eko masih mendengkur di pojok kasur, Anya dengan genitnya masih sibuk mengeringkan rambut. Jorgy belum pulang dari berburu kaset progressive rock di Jalan Dipati Ukur. Nivell dan Esti sedang sibuk ngobrol. Sementara Firman asyik menonton infotainment.

Setelah semuanya siap pun, kami masih bingung mau naik kendaraan apa. Taksi yang lewat hanya mau pakai argo kuda, sementara kami biasanya pakai argo kelinci (apa sih Ney!). Untung saja Anya punya banyak teman di Bandung. Salah satunya, Yasmin, penyiar radio Otomotif (kalau tidak salah), berbaik hati menjemput kami dengan Mercedes tua nan cantik miliknya, dan menyelamatkan kami dari kerepotan naik angkot sambil menenteng dua banner, satu speaker toa, tas-tas berat, dan lain-lain. Nivell menyusul belakangan karena masih sibuk merevisi desain flyers di laptopnya. Kami pun meninggalkan hotel diiringi suara dengkur Eko yang semakin keras.

Tiba di QB Bookstore Setiabudi, suasana masih sepi-sepi saja. Untung saja Acum, Felix, Jefry, dan lain-lain dari Avatar sudah duluan sampai. Tak lama kemudian, Herman, Eno, Ririen, Citra dan Maya pun datang juga. Yusak tidak bisa datang karena ada urusan mendesak yang tak bisa ditunda. Sementara kami sibuk mengatur kursi-kursi di cafe QB, satu persatu pembicara dan moderator mulai berdatangan. Taufik Imansyah dari STV Bandung yang akan menjadi moderator, Mbak Violetta Simatupang dan (Mas?Kang?) Matdon sebagai pembicara. Di antara para hadirin terselip nama-nama seperti Mbak Anjar penulis novel ‘Beraja’ dan ‘Kidung’, Mas Firman Venayaksa dari Rumah Dunia. Salah satu TukangKebun BuMa, Yoshi, baru saja tiba dari Jakarta dan langsung bergabung dengan kami.

‘Ngobrol-ngobrol Soal Antologi Bunga Matahari’, QB Bookstore, Bandung

Acara dimulai sekitar jam 3 siang. MC siang itu adalah Ririen, dan dia membuka acara dengan menyampaikan pengantar mengenai Antologi, dan membacakan profil para pembicara dan moderator. Diskusi kemudian dibuka oleh Taufik dengan membahas Antologi dari perspektif orang awam. Menurutnya, bagi orang awam seperti dia (setidaknya, begitu pengakuannya), Antologi BuMa membukakan mata akan sesuatu yang baru dan menarik. Selama ini Taufik suka menulis puisi. Namun puisi-puisi tersebut hanya disimpannya sebagai koleksi pribadi, dan tidak ditunjukkan kepada khalayak luas. Kenapa begitu? Karena ia merasa bahwa apa yang ditulisnya belum layak untuk disebut sebagai puisi. Paling tidak, masih jauh dari standar puisi-puisi dahsyat yang sering dibacanya di media massa atau di buku-buku. Tetapi setelah membaca antologi BuMa, ia terkejut karena banyak puisi-puisi di dalam buku ini dapat digolongkan sebagai puisi yang ringan, dan bahkan cenderung seenaknya, yang dengan nyaman dan sah berdampingan dengan puisi-puisi lainnya, yang menurutnya masuk kategori puisi standar (panjang, dalam, njelimet, dan sulit dimengerti?). Salah satu puisi yang disukainya adalah:

Doa Seorang Gondrong di Usia 30

Ya Tuhaaaan berilah hambaMu kekuatan…

untuk slamdance

-Yoga, Jakarta, 1999-

Puisi yang ditulis oleh anggota BuMa yang menggunakan nickname ‘yohipup’ ini rupanya mengena sekali buat Taufik. Karena sebelum diskusi dimulai pun, saat kami ngobrol-ngobrol sejenak, ia sudah menyebut-nyebut kekagumannya atas puisi ini kepada saya. Sayang sekali saya tidak kenal secara pribadi dengan Yoga, penulis puisi ini, yang menurut deskripsi teman-teman yang kenal langsung, memang cukup rock n roll orangnya. Belakangan, Taufik juga bilang bahwa ia suka sekali puisi ‘Deodoran dan Lampu’ karya dio_politico.

Pembicara pertama adalah Matdon, wartawan yang telah menghasilkan empat buku, yaitu Persetubuhan Batin, Garis Langit, Maha Duka Aceh (bersama beberapa penyair lainnya), dan Mailbox. Ia dengan tersipu-sipu mengakui bahwa kesibukannya menghadiri berbagai acara akhir-akhir ini membuatnya baru sempat membaca Antologi BuMa pagi tadi. Akan tetapi, dalam jangka waktu yang sangat singkat pun ia sudah bisa menangkap beberapa hal menarik dari buku tersebut. Menurutnya, penggunaan nickname di mailing list, dan yang dilestarikan pemakaiannya dalam buku ini, mengingatkannya pada masa-masa kejayaan radio di kota Bandung pada tahun-tahun 70-80an. Masa-masa dimana pengaruh bahasa, dalam hal ini bahasa lisan, sangat kuat.

Matdon bercerita bahwa selama ini di Bandung ada keterbatasan yang dihadapi para penulis yang ingin karyanya dimuat di media massa. Faktor kedekatan dengan redaktur kolom budaya seringkali merupakan salah satu hal yang menentukan dimuat atau tidaknya suatu karya sastra. Tidak heran kalau kemudian banyak berkembang komunitas-komunitas sastra berbasis milis di internet. Fenomena ini pun kemudian mengundang kontroversi, ketika ada sebagian kalangan yang menyatakan bahwa puisi-puisi cyber, atau puisi yang dipublikasikan di internet, adalah puisi-puisi sampah, yang karena tidak lolos seleksi media massa konvensional, terpaksa di muat di internet. Matdon hanya menyikapi pendapat semacam ini dengan ucapan‘ sampah pun dapat menjadi pupuk yang menyuburkan semangat untuk berkarya’. Halangan-halangan semacam inilah, yang cukup menyulitkan para penulis, terutama yang berbasis kampus, sehingga banyak dari mereka yang berhenti berkarya atau mengalami masa-masa kurang produktif.

Diskusi menjadi tambah seru ketika sebagian pernyataan Matdon dibantah oleh Firman Venayaksa. Menurut Firman, banyak penulis-penulis berbasis kampus yang kemudian bisa menjadi besar dan banyak berkarya. Ia bahkan menyebutkan sederetan nama sastrawan (yang sayangnya tidak saya kenal dan ingat) yang berhasil menembus kungkungan struktural tersebut. Akan tetapi, Firman juga mengakui sulitnya menembus dominasi media-media cetak konvensional. Untuk itu, ia mengajak generasi yang sekarang, untuk berhenti mengagung-agungkan generasi yang tua, berhenti menggunakan standar mereka dalam menilai dan menciptakan karya sastra.

Sebagai produk dari suatu komunitas, lanjut Matdon, buku ini adalah suatu keniscayaan, terutama ketika ada kebutuhan dari anggota-anggotanya untuk bertemu. Kebetulan pula ia sudah cukup kenal dengan beberapa nama yang puisinya dimuat dalam Antologi BuMa. Misalnya nama-nama seperti Cecil Mariani dan jibzails yang juga aktif menulis di milis sastra lainnya. Walaupun ia menjadi produk dari suatu komunitas, Antologi ini tidaklah seragam isinya. Ada keragaman yang terlihat dalam bentuk-bentuk pengungkapan yang berbeda-beda, serta konsentrasi pada bermacam tema. Mulai dari politik, sosial, sampai agama, mulai dari penekanan pada komunikasi yang estetis, sampai ke pesan-pesan perlawanan yang lugas. Misalnya puisi karya banteng_gaoul berikut ini:

Berdamai Dengan Setan

jangan salahkan aku

jika hari ini ku berdamai dengan setan

ternyata setan gak selamanya jahat

setan sudah insyaf

setan yang sudah tawakal

jadi jangan salahkanku

Ada juga puisi yang berkomunikasi dengan lantang dan nyinyir, seperti dalam karya barcaspa ‘Jomblo Itu Pedih, Jenderal!!”, atau yang (mirip) puisi mbeling, seperti ‘Jam Pasir’ oleh pepsigolda dan ‘Doa Seorang Gondrong di Usia 30’ oleh yohipup.

Jomblo Itu Pedih, Jenderal!!

Jomblo itu Pedih, Jenderal!

coba tanyakan pada selimut yang berderet rapih di

atas velbed barak-barak bisu. tanyakan pada temali

yang mengikat sepatu bajaku. tanyakan pada peluh yang

melebur di dahiku ketika menggosok kakus bau.

Jomblo itu Pedih, Jenderal!

karena belukar hanya menawarkan sepi di umur batang

jati. di kedalaman gelap, mata-mata sunyi berkelebat,

bergerilya mendekati hati. senapan-senapan terkokang

memburu mimpi, berharap seorang musuh berperawakan

seperti dewi mandi.

Jomblo itu Pedih, Jenderal!

di setiap kata yang terurai, bercerita tentang

kerinduan kosong pada kampung dan halaman tempat masa

kecil bermain. sementara cinta semakin senjang, malam

dan pagi bergumul memperebutkan matahari. lalu apa

lagi yang bisa tertulis selain puisi?

Sekali lagi: Jomblo itu Pedih, Jenderal!

Aku layak desersi!

Jam Pasir

Sssssssssssss

Sssssssssss

Sssttttt

ttttttt

ttttt

.

.

.

Kapan tiba waktuku?

Suasana diskusi menjadi semakin santai ketika Matdon berkata bahwa penyair-penyair dalam Antologi ini terbagi atas beberapa kategori. Penyair baru, penyair yang sudah jadi, penyair yang akan jadi, dan penyair jadi-jadian. Sambil tertawa mendengar ucapan ini, saya jadi berpikir, termasuk yang manakah diri ini? Agaknya saya lebih cocok ke ‘penyair jadi-jadian’!

Saran dari Matdon untuk para pembaca dan calon pembaca Antologi ini adalah, “Bebaskan dulu diri ini dari penilaian bermutu atau tidak, dan jangan berupaya mengerti atau tidak, akan tetapi coba hanyutkan diri dulu, dan baru kemudian menilai. Karena penilaian adalah hak pembaca.” Kemudian kepada anggota-anggota BuMa, ia berpesan, “Apabila melihat kejadian, buatlah puisi, dan sebarkan ke media massa. Kalau tidak diterima di sana, buatlah menjadi buku. Apabila tak ada penerbit yang mau menerima, masukanlah dalam milis. Kalau masih tidak tersalurkan, tampilkan dalam sebuah pentas. Dan terakhir, apabila tidak bisa menembus media-media tersebut, tulislah puisi-puisi itu untuk dirimu sendiri.” Ia juga mengingatkan bahwa kendala penulis adalah bagaimana pengalaman-pengalaman dan peristiwa yang terjadi di dunia dapat dituangkan secara estetis. Untuk mengatasi kendala ini, menurutnya hanya ada satu cara, yaitu teruslah menulis. Karena berhenti menulis berarti murtad!

Kemudian, menjawab pertanyaan Taufik tentang puisi mana dalam Antologi yang paling disukainya, ia memilih puisi ‘Kodrat Kasur, Bantal dan Guling’ karya widyo, dan kemudian membacakan ‘Bismillah’ karya mariezqa.

Menutup pembahasan dari Matdon, Taufik menanyakan kepada Anya mengapa dalam Antologi dilakukan pembagian bab yang menggunakan judul lokomotif, masinis, loket, atap, gerbong, rel, wc, dan stasiun. Anya menjelaskan bahwa pembagian-pembagian itu sesuai dengan konsep yang dibicarakan dengan penerbit Avatar. Dalam buku ini, BungaMatahari diandaikan sebagai sebuah stasiun dimana orang-orang dari berbagai macam latar belakang datang berkumpul, untuk kemudian menaiki sebuah kereta yang sama, yaitu puisi itu sendiri. Orang-orang yang berinteraksi di stasiun dan kereta ini, dapat memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Interaksi antar berbagai latar belakang inilah yang kemudian memperkaya BungaMatahari sebagai sebuah komunitas.

‘Lokomotif’ adalah pengantar dari Seno Gumira Ajidarma, ‘masinis’ mewakili kata pengantar dari TukangKebun (moderator milis BuMa), ‘loket’ adalah kata pengantar dari penerbit Avatar, ‘atap’ memuat puisi yang membahas hubungan antara manusia dengan Yang Maha Kuasa, ‘rel’ memuat puisi yang menceritakan hubungan antara manusia dengan sesamanya dan lingkungan sekitarnya, dalam ‘wc’ terkumpul puisi-puisi yang mengekspresikan hal-hal terdalam dan tergelap dari para penulisnya, sedangkan ‘stasiun’ memuat daftar nickname, yang sebagian dilengkapi identitas aslinya.

Pembicara kedua, Violetta Simatupang, menyatakan bahwa membaca Antologi BungaMatahari dan berkenalan dengan anggota-anggota milis ini membuatnya teringat kepada suatu peristiwa di tahun-tahun awal berdirinya Indonesia, ketika pada tahun 1946 beberapa orang penulis dan penyair Indonesia (Chairil Anwar, Asrul Sani, Rivai Apin, dan lain-lain) berkumpul dan menghasilkan apa yang disebut sebagai Surat Kepercayaan Gelanggang, (yang kemudian diterbitkan di Majalah Siasat, tahun 1950-penulis). Menurut penulis Antologi Puisi Anak-Anak Vampir ini, semangat berkumpul dalam suatu komunitas sastra ini tampaknya menurun juga ke BuMa, tepat 40 tahun kemudian.

Mendengar ini, saya dan Anya sedikit merinding, ngeri rasanya disamakan dengan orang-orang besar di dunia sastra seperti itu. Surat Kepercayaan Gelanggang adalah pernyataan sikap para sastrawan tentang jalan berkarya yang dipilihnya, di masa-masa ketika Indonesia belum lama merdeka, dan benturan-benturan kebudayaan lama dan baru sedang panas-panasnya. Sementara itu, BungaMatahari sendiri dibentuk dan dijalankan tanpa memiliki keinginan macam-macam selain belajar dan bersenang-senang dengan puisi. Hanya dengan semangat belajar menulis dan menghargai bahasa bangsa sendiri. Apakah di masa yang akan datang akan menjadi suatu gerakan baru? Atau hanya menjadi ajang senang-senang tanpa pertanggungjawaban apa-apa?

Masalah perasaan merupakan faktor yang penting bagi bagi Mbak Letta dalam menilai sebuah karya. Karena walaupun sebagai orang awam ia menganggap puisi-puisi yang termuat di dalam buku ini sudah sangat indah, ia tidak mau terjebak ke dalam definisi puisi yang bagus atau yang tidak bagus. Baginya puisi yang bagus bukanlah tentang perasaan penulisnya, melainkan yang dapat menimbulkan perasaan tertentu terhadap pembacanya. Misalnya puisi ‘Katak dan Bulan’ karya indah_ip berikut ini:

Katak dan Bulan

seekor katak mencinta bulan

suatu malam dilihatnya bulan tidur di dalam kolam

dan dicurinya ciuman

bulan bergetar

lalu pergi tak berbekas

seekor katak mencinta bulan

karenanya ia kemudian belajar bahagia

menjaga bulan tak luka

dan merindunya dari jauh saja

16 Feb. 03. 18.00 PM

Mantan wartawan Bali Post ini juga beranggapan bahwa puisi tidaklah harus terikat dengan kata-kata. Ia mengutip ucapan Soetardji Calzoum Bachri, “kata-kata bukanlah pipa untuk menyalurkan air…”, untuk menekankan faktor ketidakterikatan ini, yang dapat dilihat pada puisi ‘Suara Rindu Yang Stereo’ karya Bin Harlan Boer.

Suara Rindu Yang Stereo

Hanaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!

170903

Acara ngobrol-ngobrol yang sangat informal dan penuh dengan tawa ini pun ditutup dengan pembacaan puisi dari Antologi oleh tiga orang peserta, yang juga mendapatkan hadiah kaos BungaMatahari:

–         ‘Kamu Sendirian’ (saya lupa karya siapa) , dibacakan oleh Winda (?)

–         ‘Menggenggam Dunia’ karya t11ka, dibacakan oleh Firman Venayaksa

–         ‘Ibu, Aku Ingin Jadi Astronot’, dibacakan oleh putra Mbak Letta (maaf saya lupa namanya…hehehe)

Acara ‘Ngobrol-ngobrol Soal Antologi BungaMatahari’ selesai sekitar pukul 4:30 sore. Lebih cepat dari jadwal yang diperkirakan dengan peserta yang lebih sedikit dari yang direncanakan, namun berlangsung lebih hangat dari yang dibayangkan. Makanan kecil yang disediakan oleh pihak QB menemani obrolan-obrolan menjelang pulang antara kami dengan para undangan dan pembicara. Pukul 5:00, semua perlengkapan sudah terkemas, dan beramai-ramai kami meninggalkan QB, berebutan naik angkot menuju Puri Tomat.

Written by Waraney Rawung

February 17, 2012 at 2:58 PM

Malam Yang Sangat Kora-kora

leave a comment »

Selamat pagi, teman. Sekarang sudah lewat jam dua pagi, dan kantuk belum juga menghampiri. Saya sedang duduk di meja tengah Coffeewar, menikmati lagu-lagu super galau bikin ingin garuk-garuk aspal yang dibawakan live oleh Mian Meuthia dan Hendra Timothy. Radiohead, Portishead, U2, New Order, dan nggak tau apa lagi. Semakin suicidal rasanya setelah melalui sesi curhat-berselubung-filsafat-dunia-fantasi dengan beberapa teman.

Analisa super dahsyat nan jitu dari Isky menggiring forum untuk memutuskan bahwa hidup saya setahun terakhir ini termasuk dalam mazhab filsafat Kora-kora.

Up and down, up and down, up and down, up and down, to the point that you no longer know which one is up and which one is down. In the end, you’re just there for the sake of holding on, and at one point you just get your brain wired, close your eyes, and jump ship.

Eh kampret. Nampol banget analisanya.

aku bertanya kepada temanku, apa yang beratkan pikiranmu malam ini?
jawabnya, kenapa hanya kau yang bisa terbang dan menembus tembok?

daripada dengarkan morrisey, lebih baik begini begitu si babe dan mpok royane
karena aku cinta j.a.k.a.r.t.a. di setiap lembar ototku, di setiap semburan kentutku
karena kota yang kelewat chairil ini kadang terasa begitu nihil, jeritkan a case of you
dan kita berjalan menunduk, berharap aspal kaku jadi ombak-ombak putih uluwatu

ia tak pernah pergi dari sisimu
tak kau rasakan wangi rambutnya?

 

Written by Waraney Rawung

January 21, 2011 at 7:16 PM

Jaemanis Rosemary Johani, Selamat Datang di Taman Bermain Kami

leave a comment »

Mike's Plurk page for Jaemanis

Twitter search untuk #jaemanis

Jaemanis Rosemary Johani

Selamat datang di dunia yang semakin mengecil ini

Kami tak sempat buatkan kartu ucapan

Beli di mall, nanti terkesan pasaran

Lebih baik kamu pandangi saja jejak-jejak digital oom, tante, papa, dan mama

Moga-moga saat kau sudah cukup besar untuk berselancar di dunia maya

Taman bermain kami (yang tak henti menolak tua),

Bukan lemari tua bersarang laba-laba di matamu.

Written by Waraney Rawung

May 20, 2009 at 3:18 PM

Susan Boyle dan perasaan bersalah yang manusiawi

with 4 comments

“Kurang enak rasanya ngeliat penyanyi yang tampangnya jelek. Walaupun suaranya bagus,” kata Edo kemarin sore. Saat itu saya, Edo, dan Mikael sedang ngobrol soal Susan Boyle, perempuan 47 tahun dari Skotlandia yang jadi fenomena YouTube minggu ini. Videonya dari acara Britain’s Got Talent sudah ditonton lebih dari 26 juta kali saat tulisan ini dibuat. Menurut situs Mashable, kalau video-video lainnya tentang Susan dihitung juga, total hits-nya mencapai 47 juta kali. Mengalahkan beberapa video YouTube tenar lainnya.

Siapa sih Susan Boyle? Perempuan ini adalah salah satu peserta Britain’s Got Talent yang awal minggu lalu mengejutkan juri dan penonton acara tersebut dengan suara emasnya. Saat ia pertama muncul di atas panggung, semua menertawakannya. Perempuan 47 tahun, gemuk, beruban, berpenampilan ndeso, mau jadi penyanyi tenar? Berani-beraninya!

Tapi begitu ia menunjukkan kebolehannya membawakan lagu “I Dreamed a Dream” dari drama musikal “Les Miserables” dengan sempurna, juri yang sinis dan penonton yang bengis ternganga, kagum tak mampu bersuara, lalu bertepuk tangan menggila.

Setelah menonton video itu, saya lalu mencari cerita lain tentang Susan dan tersandung artikel Tanya Gold di guardian.co.uk yang mengkritik perlakuan juri terhadap Susan serta reaksi kita terhadapnya. Singkatnya, perempuan jelek berbakat nyanyi diperlakukan lebih buruk dari laki-laki jelek berbakat nyanyi.

 Tanya Gold: It wasn't singer Susan Boyle who was ugly on Britain's Got Talent so much as our reaction to her

Tanya Gold: It wasn't singer Susan Boyle who was ugly on Britain's Got Talent so much as our reaction to her

Mike dan Edo bilang bahwa wajar-wajar saja kalau kita suka penyanyi yang cantik-cantik, dan bukan sesuatu yang luar biasa kalau penonton dan juri Britain’s Got Talent meremehkan Susan sebelum mendengarkan suaranya. Pendapat mereka mengingatkan saya tentang suatu penelitian (lupa baca dimana, kalau nggak salah New York Times) bahwa definisi cantik-tampan ternyata universal dan berhubungan dengan komposisi wajah dan tubuh. Semakin seimbang komposisinya, semakin cantik-tampan dan menarik individu tersebut di mata kita.

Berdasarkan teori tersebut, Susan jelas-jelas tidak simetris. Saya tak menganggap dia jelek. Tapi tanpa perlu mendengar pengakuannya di panggung bahwa “I’ve never been kissed” dan “I’m forty-seven, and that’s just one side of me,” saya sudah bisa menyimpulkan bahwa dia juga bukan perempuan yang cantik. Reaksi yang manusiawi kan? Manusiawi juga kalau kita merasa bersalah setelah sadar bahwa perempuan tak simetris itu ternyata bersuara emas.

Saya punya wajah yang juga tidak simetris (mata kanan lebih kecil dari mata kiri), dan sering minder gara-gara itu. Tapi rasa rendah diri ini berkurang setelah suatu hari di tahun 1996 seorang teman kuliah bertanya, “Ney, lo ngelmu ya?” Setelah bengong dua detik, saya tanya balik ke dia, “Nggak. Kok lo mikir gitu?” Jawabnya, “Abis cewek lo banyak, trus lo suka pake baju hitam, dan rajin jogging siang-siang.”

Sunyi sejenak. Saya tak tahu harus jawab apa, cengengesan, lalu pergi meninggalkan sang teman tanpa menjawab apa-apa. Bukan main kesimpulan yang bisa ditarik teman saya itu hanya dari observasi singkat tanpa penelitian lebih lanjut. Dipikirnya saya punya ilmu hitam untuk menggaet cewek-cewek Sastra, karena itu saya suka pakai baju hitam macam dukun, dan jogging saya itu bagian dari ritual ilmu hitam. (Disclaimer: banyak cewek karena di Fakultas Sastra UI — sekarang FIB UI — memang lebih banyak cewek dari cowok, pakai baju hitam terus biar kelihatan lebih langsing, dan jogging siang-siang biar cepat kurus!)

Tak usah merasa bersalah kalau kita pernah atau masih jadi orang-orang seperti penonton dan juri Britain’s Got Talent. Manusiawi kok. Jangan percaya juga sama ungkapan “don’t judge a book by it’s cover”. Omong kosong. Kalau nggak lihat dari sampulnya dulu, trus dari mana? Buktinya irisPUSTAKA menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menentukan sampul buku Mike dan Anya! 🙂

It’s ok to judge a book by it’s cover. But don’t go crying to mommy when you find a crappy story in it, or be the only person in the world who missed the best-seller.

Written by Waraney Rawung

April 18, 2009 at 8:22 PM

cerita dari ubud: kembang api di galeri yang tak sepi oh wow!

leave a comment »

mikael's books & postcard invitations

Gaya Fusion ternyata lebih besar dari yang kami bayangkan. Selama ini kami hanya pernah melihat foto-foto tempat ini melalui website-nya, sebuah restoran romantis, intim, dan kecil, dengan cahaya remang-remang. Kami pikir tempat sekecil itu pasti hanya bisa memuat penonton dalam jumlah terbatas. Bagus, karena semakin sedikit yang datang, semakin mudah mengendalikan acara. Kami memang terbiasa dengan acara-acara kecil yang akrab.

Sore itu, Jumat, 17 Oktober 2008, saat berdiri di depan galeri yang luas, saya, Mikael, dan Anya langsung panik. Rasanya tak mungkin mengisi ruangan ini dengan penonton, karena pada saat bersamaan ada beberapa acara menarik lainnya yang sedang berlangsung. Sebagian besar peserta Ubud Writers & Readers Festival pasti sedang di penginapan, bersiap-siap meramaikan Poetry Slam di Restoran Bebek Bengil pukul 19:00 malam itu.

Walaupun terbiasa dengan kelompok yang kecil dan akrab, bukan berarti kami ingin tampil dalam ruang besar kosong melompong, bukan?

Oleh karena itu, sejak tiba di Ubud hari Selasa, 14 Oktober lalu, saya sudah melakukan promosi habis-habisan. Antara lain dengan membagikan postcard undangan kepada para penulis, asing maupun lokal, yang menurut perkiraan saya akan tertarik datang. Saya juga minta bantuan teman-teman volunteer untuk sebanyak-banyaknya membagikan postcard itu kepada para peserta festival.

Di dalam galeri yang serba putih dan bergema, beberapa jam sebelum acara, saya tak yakin kalau segala upaya itu akan membuahkan hasil. Tapi karena kami sudah terlanjur di sini, sekalian saja bersenang-senang dan jadikan acara ini seperti KebunKata BungaMatahari!

Kota Ini Kembang Api

Siang itu, saya menemui Anya dan Mikael di rumah makan Ibu Oka yang terkenal dengan menu babi gulingnya. Mereka tiba dari Jakarta pagi hari dan baru beristirahat beberapa jam saja. Setelah mandi dan ganti baju di Donald Homestay, sekitar pukul 4 sore kami mencari mobil sewaan di Pasar Ubud. Karena waktunya sudah mepet, saya tak bisa terlalu ngotot menawar harga dan harus cukup puas dengan ongkos Rp70 ribu untuk sekali jalan ke Gaya Fusion.

Dalam perjalanan, ongkos yang sebelumnya terasa mahal, jadi masuk akal saat kami menyadari betapa jauhnya Gaya Fusion dari pusat keramaian di Ubud. Saya mulai kuatir. Apa mungkin ada orang yang mau jauh-jauh datang ke sana?

Di Gaya Fusion, kami ternganga melihat sebuah galeri besar berlangit-langit tinggi dan dinding-dinding putih yang digantungi lukisan-lukisan kontemporer. Di tengah ruangan ada panggung kecil bertabur bunga kamboja, tepat di antara jendela kaca tinggi dan pojok untuk musisi. Sebuah proyektor in-focus putih siap dipakai di depan deretan kursi hitam yang tampak kecil dikepung suasana serba putih.

Sambil berusaha menekan rasa panik dan stress, kami bersiap-siap. Mikael berkutat dengan MacBookPro dan proyektor in-focus, Anya menata buku-buku yang akan dijual, sedangkan saya memberikan pengarahan terakhir kepada Ayu, sang MC. Setelah itu kami masih harus direpotkan dengan film pendek yang akan diputar nanti.

Jarum jam menunjukkan pukul 17:30, penonton mulai berdatangan. Kaget juga saya melihat banyak yang datang lebih awal. Debra Yatim dan putrinya Zulaikha, Olin Monteiro, Danny Yatim, serta rombongan orkes Al-Izhar dalam hitungan detik meramaikan ruangan yang tadinya sepi itu. Ada juga penyair Timor Leste Abe Soares, Pam Allen, John McGlynn, penulis Ayu Utami, dan lain-lain.

Kursi-kursi mulai terisi, MC sudah bersiap membuka acara, tapi saya masih berkutat dengan laptop Mikael. Putus asa tak berhasil mengutak-atik power point, saya cari dia. Ternyata dia sedang ngobrol dengan orang tua Henry, temannya di Australia dulu. Saya hampiri dan setelah basa-basi sebentar langsung menyeret penyair mestizo itu untuk mengajari saya cara mengoperasikan laptopnya.

Tepat pukul 18:00, acara dimulai. Ayu membacakan sambutan standar UWRF dalam bahasa Inggris, kemudian mengundang saya untuk memperkenalkan irisPUSTAKA. Ayu agak kepeleset lidah, menyebut saya ‘she’, bukannya ‘he’ dan mengundang tawa dari hadirin. Bukannya kesal, saya malah bersyukur, karena suasana sejak awal sudah santai.

the publisher speaks, horribly.

Saya tak bicara panjang-panjang. Hanya bercerita bahwa satu setengah tahun yang lalu Anya dan Festi Noverini mengajak saya ikut dalam usaha penerbitan yang kemudian kami namakan irisPUSTAKA. Kami ingin membuka jalan bagi penulis muda yang punya potensi dan mengolah tema-tema tak biasa atau menggunakan ekspresi kreatif yang berbeda. Selesai perkenalan singkat itu, saya langsung mengajak hadirin untuk menyaksikan film pendek berjudul ‘puis-je.’

Film ini menampilkan Anya, ‘not as herself,’ dan Mikael, juga ‘not as himself,’ membacakan puisi e e cummings melalui dialog dan akting amatir. Sekilas mereka terlihat seperti muda-mudi yang sedang beradu jurus cinta.

the movie starts.

Karena film ini dibuat terburu-buru, suara yang dihasilkan kurang bagus, membuat sebagian hadirin mengernyitkan kening berusaha menangkap apa yang dikatakan kedua penyair tersebut di dalam film. Untung saja Mikael tanpa malu telah memasang terjemahan semena-mena yang cukup menghibur.

Film selesai diputar, Anya langsung membacakan puisi ‘The God of Small Things’ dan ‘PendarPendarCahayaMenyelinapRuangMata.’ Terjemahan kedua puisi ini ditampilkan dengan cantik melalui power point.

Film selesai diputar, Anya langsung membacakan puisi ‘The God of Small Things’ dan ‘PendarPendarCahayaMenyelinapRuangMata.’ Terjemahan kedua puisi ini ditampilkan dengan cantik melalui power point.

Setelah itu, giliran Mikael membacakan `Australia Fair’, `À la recherche du temps perdu (edition Scott Moncrieff et Kilmartin, vols. 1-7)’, dan `Hermès, get a move on’. Semua puisi itu diterjemahkan dari
bahasa Inggris ke bahasa Indonesia oleh holiday_sendiri. ‘Hermes, get a move on’ aslinya berjudul ‘Aku titip tulisan’ puisi Anggoro Gunawan dalam bahasa Jawa yang kemudian diterjemahkan oleh Mikael ke dalam bahasa Inggris jadi ‘Hermes get a move on’ yang kemudian diterjemahkan lagi ke bahasa Indonesia oleh holiday_sendiri.

The God of Small Things*

sebuah Sore yang Sureal. ketika Sinar Matahari jatuh seperti selendang tembus pandang—mengingatkanku akan Lipstik dan Cat Kuku Fuchsia Ibuku. Es Krim Stroberi. Rok Tutu. dan Ciumanmu, tentunya. Ciuman mesra pada bibir dan pipiku. Basah tetapi Manis seperti Permen.

aku merindukanmu. rasanya seperti ada Balon Ulangtahun. membengkak perlahan di dalam dada. Sensasinya nyaris tak tergambarkan: seperti sebuah Harapan limbung—aku terbelah di antara Kesenangan karena si Balon hampir sempurna dan Kewaspadaan akan kemungkinan Balon itu pecah sebelum benar-benar mengembang.

sebuah Perasaan yang Tidak Nyaman sebenarnya. seakan-akan dunia dan mekanisme alamnya dapat mendengar pikiranmu: berkonspirasi untuk menentukan apa yang akan terjadi padamu berikut. membuatmu tak berdaya seperti Bulu yang melayang-layang.

tapi Yang Paling Tak Tertahankan adalah mengetahui bahwa tak seorang pun, terlebih-lebih kamu, mengetahui semua Kekacauan yang terjadi di Benakku, semua Mantra Aku-Cinta-Kamu yang sambung-menyambung di dalam Kepala.

aku membayangkan apakah kamu pernah seperti ini. aku bahkan membayangkan apakah ada secuil Kemungkinan dirimu pernah memiliki Pemikiran yang Sama Terhadapku. ah, padahal aku tahu itu hanyalah Fantasi Kacangan.

aku pun menyerah. kuhapus semua Angan. kuhapus kamu. kukunci dari Saraf-Saraf Otakku.

aku menyalakan tivi.

Program Berita.

di luar, semesta menjadi gelap. dan menjadi Nyata.

PendarPendarCahayaMenyelinapRuangMata

PendarPendarCahayaMenyelinapRuangMata

MengantarCeritaLamaYangTakPernahUsang

KotaIniKembangApi

KembangnyaPecahDiPucukLangit

SekejapSaja

—BegituKatanya

anya reads the god of small things.

Australia fair
The thought runs through my head of sawing your head in half: the bone will be ivory white and your blood grape red. You look down, open your mouth wide and ululate, up, to the purple sky. The pills of orange cloud hang low. The pale cream beach shakes with each wave of your hand. You ask me to go, your face black from constant disappointment.

À la recherche du temps perdu (edition Scott Moncrieff et Kilmartin, vols. 1-7)

I bought these when I still had time to read

where the sky was so blue I could write

my name on it with my good hand while the other

shield my eyes from the sun, so white, perfect.

mikael reads australia fair.

Dalam rundown acara, sesi selanjutnya adalah untuk tanya-jawab. Tapi kami tak ingin waktu setengah jam lebih yang tersisa hanya terpakai untuk pertanyaan-pertanyaan garing dan jawaban-jawaban non-inspiring (ah, lagi-lagi saya mengejar rima). Karena itu saya segera menyambar mikrofon yang dipegang Ayu, tanpa malu mengambil tugas MC, dan mengumumkan bahwa kami mengundang para penonton untuk tampil ke depan dan membacakan puisi Anya dan Mikael. Atau kalau mereka mau, boleh juga membacakan puisi karya sendiri. Lima buku Anya dan lima buku Mikael kami sediakan gratis untuk mereka yang berani maju ke depan.

Zulaikha, putri penyair Debra Yatim, langsung maju ke depan dan membacakan dua buah puisi Mikael. Buku gratis untukmu, Zu! Selesai putrinya membaca, giliran Debra yang langsung maju membacakan sebagian daftar isi buku Mikael sebagai sebuah puisi. Kemudian Ayu Utami dengan ‘Penismightierthanwords’ karya Mikael.

Penismightierthanwords
i picked up the pen with clouds of ideas in my head. the pen was my talisman, a thing I used to divine the meaning of the clouds. the ink was blue, which, under the yellow light of my table lamp, was only a little lighter than black, the colour of the clouds.

Sambil menunggu Ayu selesai, saya lihat Abe Soares sudah siap tampil dengan gitarnya. Tak perlu dipanggil dua kali, Abe maju ke depan dan menyanyikan puisi karyanya sendiri. Indah sekali. Abe selesai, seorang anggota orkes Al-Izhar maju ke depan membaca puisi karya sendiri yang dicatatnya dalam handphone.

Sesuai dengan semangat BungaMatahari yang percaya semua bisa berpuisi, saya terus mengajak hadirin untuk maju ke depan dan berpuisi. Saya jelaskan bahwa pendiri irisPUSTAKA, yang berasal dari milis puisi berbahasa Indonesia BungaMatahari, percaya puisi adalah hidup sehari-hari yang tak perlu ditakuti.

Penonton makin banyak, sebagian besar agaknya mereka yang ingin menonton orkes Al-Izhar dan peluncuran buku L.A. Underlover yang dijadwalkan setelah acara kami selesai. Kami mencuri penonton rupanya. Tak apa, yang penting ramai dan buku terjual banyak.

Sambil menunggu penonton yang akan maju, saya iseng membaca puisi Mikael yang berjudul ‘The Beggar.’ Malam terasa semakin panas, dan Mikael tampil sekali lagi, kali ini membacakan puisi Anya ‘Mabuk Lampu.’

mabuk lampu

sinarlamputemaramkuning

lampukuningsinartemaram

temaramsinarkuninglampu

kuningtemaramlampusinar

sinartemaramlampukuning

lampusinarkuningtemaram

temaramkuningsinarlampu

kuninglamputemaramsinar

Di tengah-tengah penonton yang berkumpul di tangga dekat pintu masuk, saya lihat penyair Iyut Fitra dan Dino Umahuk. Saya panggil Dino ke depan untuk ikut meramaikan acara yang menjelang usai, dan dia menyambutnya dengan membaca sebuah puisi dari buku Anya. Hadiah buku untukmu, Dino!

Waktu satu jam yang tadinya terasa panjang sekali, tiba-tiba sudah hampir habis. Saya belum sempat mengundang Iyut Fitra untuk tampil ke depan, namun sudah harus menutup acara. Sayang sekali.

Acara ditutup Anya dengan membacakan puisi Mikael yang berjudul ‘Djaelani the baker.’

Djaelani the baker
I’m Djaelani, the baker. I see people come and go. I serve people with the sweet smell of sex in their hair. I watch them count rainbows of money and pay. I see them hold hands and pick a donut (chocolate glazed) and a sausage roll with a thong held together like a wedding cake knife. I’ve seen a man eat his breakfast alone, hurriedly like a pigeon, on my counter table. I’ve seen him come back at nine-thirty in the evening—closing time, and buy nothing. Not this time. I’m Djaelani, the baker. I see people come and go. And I stay.

Foto-foto acara bisa dilihat di sini.

Catatan:

Kemarin saya menghubungi Abe Soares, minta dikirimkan puisi yang dinyanyikannya dalam acara ini. Ini dia puisinya:

AKU SAKSIKAN BAYANGANKU SENDIRI

Ramelau*),
aku mampir ke kolammu
yang sejuk bening

Di tepinya aku saksikan bayanganku sendiri
telanjang, menyambutku
lalu ia tuturkan kepadaku
tentang kisah benih serabutku
yang berliku-liku

1990-an

*) Gunung tertinggi di Timor-Leste.

Abe Soares

Written by Waraney Rawung

October 23, 2008 at 10:07 AM