duniahitam

tentang hidup yang terkekang

Archive for the ‘video’ Category

Catatan Nyelip: BungaMatahari & KebunKata di Yogyakarta

leave a comment »

 

Menyambut ulang tahun Komunitas Puisi BungaMatahari ke-12 tanggal 19 April 2012 yang akan datang, saya akan mempublikasikan tulisan-tulisan lama tentang BuMa, sebagian darinya sudah lama tersimpan di folder komputer tercinta. Mereka sebenarnya diniatkan untuk terbit tak lama setelah acara-acara yang dibahasnya. Yang menyebabkan mereka lama hilang tak lain tak bukan adalah kemalasan, kecerobohan, dan kebodohan saya sendiri.

Ini adalah tulisan ketiga, tentang perjalanan saya dan teman-teman BuMa ke Yogyakarta. Kalau malas membaca, silakan mampir ke foto-foto lama ini saja.

Bolos Kerja Demi Yogyakarta

Bau apek yang mengingatkan kepada punggung jaket tukang ojek menghantam indera penciuman saya, sedetik setelah melangkah masuk ke dalam kereta Argo Bromo. Karpet yang menutupi lantai, lapisan kursi, dan tirai jendela kereta setengah eksekutif ini agaknya sudah lama tak ketemu sabun cuci. Pening juga membayangkan harus terbenam berjam-jam dalam bau yang super asoy itu. But hey, that’s the whole point of traveling, mate. Cari susah!

Malam itu, 18 April 2008, saya berangkat ke Yogyakarta untuk merayakan ulang tahun BungaMatahari (BuMa) yang ke-8 bersama anggota-anggota BuMa di kota pelajar itu. Anya, Mikael, Yoshi, dan Jorgi sudah lebih dulu sampai di sana. Metta tak jadi datang karena ada masalah dengan flight-nya, Danielle mungkin sudah sampai duluan, sedangkan teman-teman yang lain tak ada kabarnya. Saya pun hampir gagal berangkat, kalau nggak nekat bolos kerja, berbohong dan minta ijin sakit.

Kami beruntung karena di Yogyakarta tak perlu mengeluarkan uang untuk menginap di hotel. Gerombolan cheap bastard dari Jakarta akan menginap di rumah mertua Yoshi, di daerah Kauman yang katanya tak terlalu jauh dari stasiun.

Kereta dijadwalkan berangkat dari Jakarta, pukul 8:30 malam, dan 15 menit sebelumnya saya sudah duduk dengan manis di salah satu kursi yang berbau apek itu. Sedikit meleset dari jadwal, pukul 8:45 kereta meluncur keluar dari Stasiun Gambir. Lampu kabin yang terang-benderang membuat saya tak bisa melihat pemandangan di luar. Padahal malam hari adalah waktu yang paling ramah untuk menikmati ibukota yang tak pernah tidur, dengan lampu-lampu yang norak namun menenangkan jiwa.

Gagal cuci mata, saya pun membuka buku Harry Potter and the Deathly Hollows, mencoba melewatkan malam panjang itu dengan sedikit petualangan kata-kata dan sihir remaja. Sayang, guncangan kereta dan iklan PT KAI yang menghantam mata dan telinga tanpa henti dari televisi yang tergantung di dinding depan sukses menghancurkan konsentrasi. Setengah jam membaca sudah cukup membuat mata letih, dan akhirnya saya luruskan posisi tubuh setelah memasang earphone Nokia 6681 tercinta. Simon & Garfunkel, KT Tunstall, Sinead o’Connor, dan Nirvana memang tak pernah mengecewakan sebagai teman perjalanan.

Persiapan KebunKata Yang Sangat Oh La La

Perjalanan ini bermula dari obrolan panjang sepulang dari acara ulang tahun mailing list Apresiasi Sastra. Saya, Anya, Yoshi, Kinu dan Indah Ariani mampir ke Kentucky Fried Chicken di Ratu Plaza, Jalan Sudirman. Dari sana, setelah Jorgi dan Indah pulang, kami meneruskan tongkrongan ke Café Oh La La di Skyline Building, Jalan Thamrin. Sebelumnya, kami menurunkan Kinu di dekat stasiun Senen, karena malam itu rencananya ia pulang ke Yogyakarta. Surprise, surprise, baru saja tiba di Oh La La, kami ditelepon Kinu. Ternyata dia ketinggalan kereta. Kami ajak dia bergabung, sekalian menunggu pagi dan mengejar kereta lagi.

Salah satu hasil obrolan malam itu adalah kami ingin sekali jalan-jalan ke Yogyakarta, seperti yang waktu itu pernah kami lakukan di Bandung. Saya masih penasaran ingin datang ke acara Live Poets Society, tapi sayangnya acara itu ternyata sudah beberapa lama tidak diadakan lagi. Kalau begitu, kenapa bukan BuMa saja yang buat acara di sana? Kan ulang tahun BuMa sebentar lagi? Ini alasan yang cukup tepat buat kami, selain alasan ingin jalan-jalan, tentunya.

Selepas malam itu, ide ini kemudian disampaikan ke beberapa teman, baik yang di Jakarta maupun Yogyakarta. Entah bagaimana awalnya, Maria Ingrid (nickname-nya di milis, ‘malaikat kecil’) kemudian menjadi semacam ketua panitianya. Kami pun rajin berbalas email dengannya, mengikuti perkembangan perencanaan dan pelaksanaan acara KebunKata di Yogyakarta.

Spontanitas teman-teman BuMa di Yogyakarta mengingatkan saya kepada teman-teman di Bandung, yang sukses membuat KebunKata ‘Lautan Kata’. Mereka tak hanya bisa melempar ide, tapi juga cekatan melaksanakannya. Dua tahun lalu, tak lama setelah meluncurkan Antologi BungaMatahari, yang ada di pikiran kami para moderator dan panitia penerbitan buku hanyalah apa yang bisa kami lakukan untuk mempromosikan buku tersebut sebaik-baiknya. Setelah berkutat dengan proses kurasi, editing, pencarian penerbit, negosiasi dengan penerbit, persiapan acara peluncuran di Aksara Kemang, dan promosi kiri-kanan atas-bawah, energi kami saat itu benar-benar terkuras. Gerak cepat dan inisiatif teman-teman di Bandung memungkinkan KebunKata Bandung Lautan Kata dan acara-acara lainnya saat itu dapat terlaksana dengan baik dan lancar.

Selama ini para penggiat BuMa selalu menekankan bahwa siapa pun bisa dan boleh mengadakan acara KebunKata. Tak harus diadakan di Jakarta, bisa di Bandung, Yogyakarta, atau kota-kota lainnya. Tak perlu dipikirkan apakah Anya dan Danar sebagai sebagai pendiri komunitas ini serta para moderator dan penggiat BuMa lainnya (terutama yang di Jakarta) bisa datang ke acara di kota-kota lainnya atau tidak. Yang penting anggota BuMa di kota yang bersangkutan mau, dan bisa, berkumpul untuk bersenang-senang berpuisi. Kalaupun setelah mereka berkumpul, ternyata niat untuk berpuisi hilang digantikan keinginan ngobrol-ngobrol atau ketawa-ketawa belaka, apa salahnya?

Halo, Yogya!

Beberapa jam tidur tak nyenyak, beberapa mimpi yang terputus, dan selaksa guncangan kecil, akhirnya saya sampai juga di Stasiun Tugu, Yogyakarta.

Saya tak langsung berangkat ke rumah Yoshi, tapi duduk-duduk dulu menghilangkan lapar dan haus dengan rotiboy dan air mineral, selama sekitar 15 menit di ruang tunggu stasiun. Nggak setiap hari bisa nongkrong di Stasiun Tugu jam 5 pagi begini, menikmati suasana subuh yang sejuk ini, menebak-nebak apa yang dipikirkan wajah-wajah mengantuk di sekeliling saya, sambil mencari inspirasi dari kursi-kursi kayu, dan udara yang abu-abu sebentar lagi menyerah pada waktu.

Menurut Yoshi, ongkos becak dari stasiun ke rumahnya di Gerjen, atau Nyai Ahmad Dahlan, hanya sepuluh ribu rupiah. Tapi abang becak yang saya hampiri berkeras pada angka duabelas ribu. Ya sudahlah, memang ongkos subuh pasti beda dengan siang hari. Ekstra dua ribu itu tak ada artinya dengan suasana Yogya di gelap pagi yang sepi itu.

Terakhir saya datang ke kota ini tahun 1996, sepulang mengantar teman yang masuk Akademi Kepolisian di Semarang. Sekilas, tampaknya tak terlalu banyak yang berubah. Mungkin karena Malioboro yang kosong melompong dan lampu-lampu jalanan yang seperti barisan lilin membawa kesan romantis seperti adegan-adegan film lama. Di beberapa sudut jalan ada satu-dua orang tidur bersandar dinding beralas trotoar. Mungkin pengamen-pengamen Malioboro yang terkenal dan menjadi obyek lagu itu, atau anak muda yang malas pulang ke rumah orang tua.

Yoshi sudah menunggu di mulut jalan kecil yang mengarah ke rumahnya. Wajahnya mengantuk dan sarungnya agak miring. “Nggak susah kan, nyarinya?” sambutnya saat saya turun dari becak. “Gampang,” jawab saya sok tahu. Padahal kalau dia tak menunggu di depan jalan, saya pasti harus sedikit nyasar sebelum menemukan rumahnya.

Di dalam saya langsung menemukan Mikael terkapar di lantai ruang belakang, hanya beralaskan tikar. Saya tendang pantatnya, dan dia membuka mata yang lengket dengan belek, “Hei, baru nyampe lo?” ucapnya ngantuk. Saya melongok ke kamar depan dan melihat Anya yang tidur nyenyak. “Hooooi bangun, katanya mau tidur?”saya teriak. Anya cuma membuka sebelah matanya, mengomel pendek, “Aaaah diem!” lalu terus tidur lagi.

Saya masih mengantuk, tapi jauh-jauh ke Yogya tentunya bukan untuk tidur saja? Yoshi juga masih ngantuk, tapi sama seperti saya, agaknya ia tak terlalu berselera untuk melanjutkan tidur. Kami pun ngobrol-ngobrol.

Dia cerita, semalam mereka jalan-jalan sama Saut Situmorang. Ada beberapa kejadian lucu, yang terlalu panjang kalau saya ceritakan di sini. Yoshi juga menunjukkan foto-foto mereka saat hang out sama cyborg yang satu itu. Damn it! Harusnya saya ‘ijin sakit’ lebih lama!

Capek ngobrol, saya dan Yoshi lalu pergi ke stasiun untuk memesan tiket pulang tanggal 20 April, 2008. Saat itu sekitar pukul 6 pagi, matahari sudah cerah bersinar, dan panasnya mulai terasa seperti siang hari. Untung udara Yogya lebih bersih dari Jakarta!

Pagi itu saya juga merasakan untuk pertama kalinya naik busway gaya Yogya. Bis yang besarnya hampir sama dengan metromini di Jakarta itu berhenti di halte-halte mungil yang sempat saya sangka kios penjualan voucher telepon genggam! Tak ada jalur khusus yang dilalui karena jalan di sini kecil-kecil. Paling tidak bisnya ber-AC, dan tampaknya aman dari copet.

Sarapan dengan menu gudeg, beli di ibu-ibu ini.

Selesai urusan di stasiun, kami pulang lewat gang-gang Sosrowijayan yang mengingatkan saya kepada beberapa pojokan Kuta dan Ubud di Bali. Lalu dilanjutkan dengan sarapan gudeg, yang dijual ibu-ibu tua di kampung Kauman. Dear gods in gudeg heaven! Enak sekali! Mungkin ini hanya perasaan saya, yang percaya bahwa gudeg produksi rumahan pasti orisinil dan mantap mutunya. Seperti halnya orang-orang non-Manado yang percaya bahwa masakan Manado yang super pedas pasti orisinil dan mantap punya.

Menurut Yoshi, gudeg yang ini beda dengan yang biasa disajikan untuk turis-turis di kawasan wisata. Saya percaya saja, karena pasti tak banyak turis yang iseng-iseng jalan pagi untuk mencari gudeg ke kampung ini.

Kami baru keluar dari rumah saat matahari sudah tinggi, se sekitar jam 11. Maklum, ada Anya yang dandannya lama, dan para lelaki yang malasnya mengalahkan dewa-dewa. KebunKata dijadwalkan berlangsung nanti malam, jadi masih banyak waktu untuk jalan-jalan. Di Yogyakarta, kurang sah membaptis diri sebagai turis kalau belum mampir ke Keraton. Jadi kami telusuri gang-gang Kauman, keluar tepat di depan mesjid keraton, dan langsung masuk ke pusat kekuasaan raja-raja Mataram itu.

Ini pertama kalinya saya masuk ke Keraton. Waktu datang ke Yogya tahun 1996, saya tak sempat main-main ke sini, karena terlalu sibuk menemani teman yang mencari tukang tato dan belanja batik.

Anya, Yoshi, dan Mikael, menuju Keraton Yogyakarta.

Beradu kamera dengan Anya. Photo by @violeteye

Penyair gembel dari Jakarta, @yoshife dan @mekitron. Photo by @violeteye.

Anak muda lulusan Ostrali, ketemu inspirasi dan kecemplung janji.

Keraton Yogyakarta tepat seperti dugaan dan harapan saya. Agak kurang terawat (kecuali di beberapa sudut tertentu) dan kental dengan ingatan-ingatan masa lalu.

Kinu menemui kami di depan gerbang Keraton. Setelah makan siang di warung nasi yang katanya terkenal, tak jauh dari situ, kami mampir ke Benteng Vrederburg, atau tepatnya potongan yang tersisa dari benteng itu. Di atas benteng, selain kami ada dua anak lelaki usia 12 tahunan yang sedang sibuk ngelem. Mereka tak peduli dengan kehadiran kami, dan tetap tenang mojok di salah satu bilik batu tempat prajurit masa lalu berjaga.

Foto-foto di atas Benteng Vrederburg, @yoshife dan @waraney. Photo by @violeteye.

@yoshife, @waraney, @violeteye, dan @mekitron, di atas Benteng Vrederburg.

Sekitar pukul 3 sore, kami pergi ke restoran Milas, yang sayang sekali saya tak ingat di mana lokasinya. Nama ‘Milas’ ini rupanya singkatan dari ‘Mimpi yang lama sekali’. Jadi pemiliknya sudah lama punya mimpi ingin punya tempat ini, dan ketika akhirnya terpenuhi, dinamai ‘Milas’. Milas hanya menyediakan makanan vegetarian. Buat saya yang sudah mendekati ambang maut timbangan berat badan, ini hal teramat penting. Lain kali kalau ke Yogyakarta, saya harus mampir lagi ke sini. Tempat ini mengingatkan saya kepada Pondok Pekak di Ubud, dengan perpustakaan kecil yang nyaman.

Jorgi menyusul kami di Milas sekitar pukul 5:30. Tak lama kemudian kami pulang ke rumah di Kauman, untuk bersiap-siap buat acara malam itu.

Makan sore di Milas, @violeteye, @mekitron, @yoshife.

Penyair muda di rumah mertua. Photo by @yoshife.

KebunKata ‘Kebun’ di Kedai Kebun

Baru saja masuk di halaman Kedai Kebun, seorang lelaki gempal dengan helm kekecilan menyalip kami dengan motornya. Melihat rambut gimbalnya yang tak muat di helm itu, saya langsung menebak, pasti Saut. Benar, ketawanya yang khas langsung terdengar begitu helm malang itu dibuka. The one and only. HAHAHAHA. Orang yang belakangan ini bikin geger dunia maya dan nyata.

Saut tak langsung ingat kepada saya. Tak heran juga, saya terakhir ketemu dia hanya sebentar di acara Meja Budaya, Pusat Data Sastra H.B. Jassin, beberapa waktu lalu. Waktu itu saya menegur dia duluan, dan agaknya hanya setelah saya bilang, ‘Mikael dan Anya bentar lagi sampe sini!” baru dia bisa menebak saya anak BungaMatahari, tanpa keburu memikirkan hal-hal lainnya seperti, who the hell is this guy who’s pretending to know me well?

Saya sudah lama baca tulisan-tulisan penyair ini di beberapa milis sastra dan non-sastra. Pertama kali melihatnya langsung di Ode Kampung tahun 2007, hanya bersalaman sebentar tanpa sempat kenalan. Baru setelah ia datang lagi ke Jakarta di bulan Desember 2007, diajak Mikael untuk nongkrong bareng di Hong Kong Café, Jalan Sunda, saya benar-benar bisa kenalan dengannya. Selain Saut, saat itu Mikael juga mengenalkan saya dengan Marv, pemuda Filipina yang sedang melakukan penelitian tentang sastra Indonesia. Beberapa jam dan sekian pitcher bir kemudian, dengan pipi yang semakin mati rasa dan omongan yang makin kacau, saya dikuliahi Saut tentang buku-buku Jack Kerouac dan Gabriel Garcia Marquez yang wajib dibaca. Yang saya ingat dari pembicaraan itu hanya betapa kagumnya ia dengan On The Road dari Kerouac, dan bahwa karya terbaik Marquez yang harus saya baca bukanlah One Hundred Years of Solitude atau Love in a Time of Cholera. Judul yang direkomendasikannya apa, terus-terang saya lupa, karena alkohol yang memenuhi kepala benar-benar membuat otak saya kacau balau malam itu. Saking kacaunya, saat kami pindah tongkrongan ke Menteng untuk makan malam kedua, saya kelewatan asyik ngeledekin Marv, sampai akhirnya dia kesal dan memutuskan pulang.

Ternyata kejadian inilah yang benar-benar diingat Saut tentang saya. “Saking mabuknya loe sampe ngancem-ngancem si Marv. Hahahaha. Langsung pulang dia.” Astaga, benar juga. Saya baru ingat. Saking mabuknya, saya bahkan lupa, sebelum memaki-maki Marv, saya menghadiahinya buku Zadie Smith, On Beauty, just because the alcohol made me feel strangely friendly towards him.

@violeteye meniup lilin kue ulang tahun ke-8 BungaMatahari.

Maria Ingrid 'malaikat kecil' baca puisi.

Saut Situmorang membaca puisi 'Lebah Ratu' karya Nirwan Dewanto.

@mekitron membaca puisi @waraney, agaknya 🙂

Jorgy Ibrahim.

Kedai Kebun sudah ramai malam itu. Ada Danielle, Kinu, Ingrid, Dwi, Utut, Jorgi, dan masih banyak nama-nama lainnya yang saya tak ingat lagi. Sebagian besar dari mereka, saya belum pernah sama sekali ketemu, tapi mudah sekali buat saya untuk ketawa lepas dan berbagi puisi dengan mereka. Seolah-olah kami sudah kenal lama. Padahal saya baru sekali itu ketemu langsung dengan Ingrid, setelah selama ini hanya bisa berbalas puisi di milis. Dwi Rastafara, yang puisi-puisi oh so romantic-nya hanya bisa saya baca di milis, ternyata orangnya gondrong dan bertato.

Tak terasa BungaMatahari sudah mencapai usia delapan tahun. Begitu cepatnya waktu berjalan teman! Lilin di atas kue tart pun dinyalakan, dan bergiliran ditiup (ya, lilin itu harus dinyalakan berkali-kali!) oleh Ingrid dan Danielle, Yoshi, dan terakhir Anya. Acara selanjutnya, baca puisi! Saya membukanya dengan membacakan puisi Saut, dari antologi puisi ‘Otobiografi’ yang belum lama ini diluncurkannya di Denpasar, Bali. Judulnya ‘Selamat Ulang Tahun, Penyair!’

 

 

Selamat Ulang Tahun, Penyair!

 

ada yang berubah pada diri hari ini

matahari itu jadi lebih berarti dari kemarin

debu jalanan malam hari lengket di rambut

tumbuh jadi uban uban warna perak angkuh

dan gadis gadis jadi begitu manis begitu mistis!

 

selamat ulang tahun padaMu, penyair!

cerita dan kisah mekar dan layu di kota kota dunia

bagai sungai mencapai samudra

memori jadi peta perjalanan yang ditulis seorang turis gila

29-06-01

 

 

Di depan piramida Candi Sukuh, bersama Saut dan Katrin. Photo by @yoshife.

Advertisements

Written by Waraney Rawung

February 23, 2012 at 12:33 PM

BlackBerry Break & Friends You Haven’t Met

with 9 comments

Digirangers di kantor saya sekarang punya kebiasaan baru, BlackBerry Break atau BB Break, yaitu jeda satu menit dalam rapat internal. Istirahat satu menit ini diberikan untuk mereka yang ingin memeriksa BlackBerry-nya. Mulai dari menjawab email mendesak dari klien, memuaskan kehausan eksistensi terhadap mention atau retweet di Twitter, melihat gambar NSFW terbaru di BBM group dari teman-teman SD, atau sekedar melakukan aktifitas yang oh so last decade seperti membaca dan mengirim SMS.

Pemberlakuan BB Break ini bertujuan agar kami tidak perlu merasa bersalah karena sedikit-sedikit melirik layar BB, atau (lebih parah lagi) terus-menerus memeriksa/membaca/memegang BB sepanjang rapat tanpa peduli siapa yang sedang berbicara. Awalnya kami merasa aneh (walaupun tetap ketawa-ketawa sambil ngecek BB) saat kebijakan baru ini pertama kali diterapkan secara spontan oleh Pak Bos Nanda beberapa minggu lalu. Belakangan, saya merasa ini langkah yang masuk akal. Paling tidak, untuk rapat-rapat internal.

Sebagian orang mungkin merasa langkah ini sedikit kelewatan. BlackBerry Break? Yang bener aja? Get a life.

Well, this is life. Hidup di jaman ini, dengan lingkungan pergaulan saya saat ini, adalah hidup yang terputus-putus oleh gangguan dan hantaman informasi dari luar. Apakah ini akan menjadi masalah atau tidak, tergantung pilihan kita. Ketika kebiasaan ini sudah dianggap sebagai masalah (seperti rapat yang tidak fokus karena pesertanya sibuk ngecek BB), langkah pertama yang harus diambil adalah mengakui masalah itu ada, dan kemudian mencari solusinya.

Untuk saat ini, solusinya adalah BlackBerry Break.

Sibuk Konsumsi Lupa Menikmati

Setiap hari, ada ratusan entri informasi di Google Reader yang tak sempat terbaca. Belum lagi puluhan link menarik yang saya dapat dari timeline Twitter, dan ini masih ditambah dengan newsfeed di halaman home Facebook. Sekian banyak informasi yang datang, sayangnya hanya sedikit waktu dan perhatian yang tersedia. Seperti yang terjadi semalam. Sebelum pulang kantor, berkat usaha keras menulikan diri dan membutakan mata terhadap distraction di sekeliling saya, sebuah artikel lama di New York Magazine (tentang manusia modern jaman sekarang yang hidupnya penuh distraction dan information overload) akhirnya selesai saya baca. Jangan tanya apa nasib puluhan buku di kamar saya yang belum sempat dibaca.

Apapun itu namanya, kecenderungan untuk terus-menerus memeriksa BlackBerry (atau apapun merek smartphone yang kita miliki) pada saat saya seharusnya melakukan hal-hal lain yang mungkin jauh lebih penting, adalah salah satu konsekuensi budaya digital yang belakangan ini semakin dalam merasuki kehidupan saya. Ketika hidup jadi terpusat pada hal-hal yang ‘terjadi di’ atau ‘hadir melalui’ perangkat digital, dan bukannya terhubung kepada apa yang terjadi saat ini di tempat saya berada, saat itulah alarm “GILA LU YE!” di otak saya berteriak sekuat-kuatnya.

Alarm ini berulang-ulang menyala setiap kali saya latihan di pusat kebugaran Fitness First Platinum, di One Pacific Place atau di Grand Indonesia. Sekedar informasi (tanpa bermasuk menambah information overload bagi Anda, sang pembaca), pengunjung yang datang ke tempat-tempat itu akan disambut oleh beberapa slogan, di antaranya adalah, “There are no strangers, only friends you haven’t met”.

Nah, setelah hampir 3 bulan berolahraga di sana, saya merasa mereka yang datang ke sana sendirian akan sulit untuk “meet friends they haven’t met”, karena sebagian besar orang di sana datang dan pergi dalam gelembung semesta pribadi yang tertutup dari penetrasi dunia luar. Mereka, termasuk saya, berlatih dengan tetap menenteng smartphone atau iPod masing-masing. Di sela-sela latihan, sambil mendengarkan musik dari iPod, kami sibuk memeriksa pesan atau tweet terbaru di smartphone kami.

Apa sih yang penting banget sampai saya (dan para ‘pecandu’ digital lainnya) harus selalu mengecek update terbaru? Karena saya adalah anggota ‘kaum berdosa’ tersebut, saya akan coba membuat daftar tentang apa saja yang kira-kira membuat saya harus mengecek BB di sela-sela latihan:

  1. Cek email kantor
  2. Cek Twitter, lihat ada reply, mention atau retweet
  3. Cek Twitter, lihat @infoll, mengira-ngira rute terbaik saat pulang
  4. Cek Twitter, lihat timeline, ada gosip terbaru apa hari ini?
  5. Cek Facebook, ada notification apa?
  6. Cek BB message
  7. Cek SMS

Astaga. Membaca daftar ini sudah cukup bikin saya merasa tenggelam dalam information overload.

Sibuk Dokumentasi Lupa Menikmati

Seminggu yang lalu, salah satu topik yang ramai dibahas di timeline saya adalah Java Rocking Land. Dari ratusan tweet tentang musisi yang tampil, cuaca yang tak bersahabat, dan jalanan menuju Ancol yang macet menggila, ada 2 tweet yang menarik perhatian saya, yang datang dari account milik seorang teman, Leo :

Membaca tweet tersebut, saya jadi teringat pemandangan di Java Jazz beberapa tahun lalu (mungkin 2008?), saat saya menonton Level 42 dari deretan bangku-bangku atas di JCC. Selain cahaya menyilaukan yang datang dari panggung, ada kerlap-kerlip lainnya yang menarik perhatian, datang dari kerumunan penonton di depan panggung. Setelah diperhatikan, ternyata cahaya mirip kunang-kunang itu adalah ratusan cahaya layar handphone. Astaga, mereka sibuk nonton atau sibuk livetweeting/facebooking?

Lucu juga. Tenggelam dalam gelembung pribadi, tapi diiringi oleh oversharing. Seolah-olah semua yang kita lihat, pikirkan, sentuh, cicipi, dan nikmati wajib di-share ke dunia luas. Facebook, Twitter, Foursquare, dan entah apa lagi, semua menyediakan saluran bagi kita untuk mengumumkan apa yang sedang terjadi saat ini dalam gelembung pribadi kita. Kita harus terus-menerus menjawab pertanyaan “What’s Happening?” yang dilontarkan Twitter.

Saya termasuk yang banyak menumpuk dosa dalam hal oversharing. Daftar dosa saya untuk soal over-sharing ini panjang sekali, dan saya nggak heran kalau kemudian banyak teman yang capek baca timeline saya dan memutuskan untuk unfollow saya.Dua tahun lalu saat mulai aktif menggunakan Twitter, baik untuk urusan pekerjaan maupun pribadi, semua yang saya lihat-tonton-dengar-alami rasanya harus segera di-share dengan seluruh dunia. Saya sibuk livetweet di tengah-tengah konser musik, mengomentari adegan-adegan film dan bertanya ke teman-teman di timeline tentang film yang sedang saya tonton di DVD, dan mengumumkan melalui Twitter topik pembicaraan saya dan teman-teman saat kami sedang kopdar. Ehbuset. Kalau sedang kopdar aja malah sibuk online, what’s the point?

Seperti yang diungkapkan Agatha dalam tulisannya, ‘Ngobrol Langsung atau Via Twitter?’:

Buat saya, waktu di mana saya bertemu secara langsung dengan teman-teman adalah kesempatan yang mestinya dimanfaatkan untuk bisa berbincang dengan mereka. Secara langsung, tanpa diantarai oleh media apapun. Kami bisa membincangkan apapun –hanya di antara kami– tanpa perlu ‘didengar’ oleh orang lain, seperti halnya jika kami saling berbalas tweet di Twitter. Kami bisa saling bertukar cerita tentang sesuatu yang sama-sama kami tahu.

Untuk saat ini, solusi berupa BlackBery Break dan upaya keras untuk bayar hutang baca 2 buku sebulan sudah cukup buat saya. Beberapa video berikut ini juga cukup manjur jadi pengingat, agar jangan sampai terlalu lama keasyikan dengan dunia digital, lalu lupa menikmati hidup. Remember, there are friends out there that you haven’t met!