duniahitam

tentang hidup yang terkekang

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Catatan Nyelip: BungaMatahari & Bandung Lautan Kata, Bagian 1

with one comment

Menyambut ulang tahun Komunitas Puisi BungaMatahari ke-12 tanggal 19 April 2012 yang akan datang, saya akan mempublikasikan tulisan-tulisan lama tentang BuMa, sebagian darinya sudah lama tersimpan di folder komputer tercinta. Mereka sebenarnya diniatkan untuk terbit tak lama setelah acara-acara yang dibahasnya. Yang menyebabkan mereka lama hilang tak lain tak bukan adalah kemalasan, kecerobohan, dan kebodohan saya sendiri.

Tulisan pertama adalah tentang perjalanan para penggiat BungaMatahari di Jakarta ke Bandung, dalam rangka promosi Antologi BungaMatahari, dan KebunKata Bandung Lautan Kata. Pernah saya publikasikan di blog lama. Agar lebih enak dibaca, saya edit sedikit dan terbitkan dalam beberapa bagian.

Chicken Teriyaki & Terlambat Lagi (Jumat, 28 April, 2006)

Siang itu udara Jakarta seperti biasa panas menyengat dan jalan-jalannya padat oleh kendaraan yang merayap. Saya tiba di kantor City Trans, depan supermarket Club Store, Kawasan Sudirman Central Business District, sekitar pukul 1:45 siang, dengan napas ngos-ngosan dan tubuh berkeringat. Terlambat hampir satu jam dari janji saya dengan Anya kemarin. Sesampainya di sana, dengan muka berminyak dan rambut berantakan kena angin gara-gara naik ojek, langsung berpapasan dengan Nurman yang sedang berjalan keluar. “Mau kemana, Man?” tanya saya. “Mau ambil duit dari Avatar di ATM, untuk ongkos anak-anak ke Bandung”, jawabnya. Wah, senangnya, jalan-jalan dibiayai Avatar Press!

Di dalam food court Club Store, saya langsung bertemu dengan Anya dan ayahnya yang sedang makan siang. Berbasa-basi sebentar, lalu duduk dan memesan seporsi chicken teriyaki yang rasanya agak aneh. Tak apa, yang penting perut terisi. Beberapa menit kemudian, Nivell, Esti, dan Jorgy datang. Nurman hanya sempat menyerahkan uang ke bendahara kami, Esti, dan segera pamit kembali ke kantornya tak jauh dari situ. Ia tidak bisa ikut ke Bandung. Maklum, copywriter handal super sibuk!

Pukul 2:30 siang. Masih ada dua orang teman yang belum datang. Ariekotama, biasa dipanggil Eko, sedang dalam perjalanan dari kantor kliennya. “Lagi di mana, Ko?” berkali-kali saya telpon dia. “Sorry, Ney. Masih di Wolter Monginsidi”. Wah, masih jauh juga ya. Macet pula. Baru selesai ngobrol dengan Eko, Anya memanggil saya. “Ney, ini Firman”, sambil memberikan handphone-nya. Firman adalah anggota Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) yang akan ikut kami ke Bandung untuk memantau dan membantu acara NgamenKata di sepanjang Jalan Dago, yang hasilnya akan disumbangkan untuk program Sepeda Untuk Sekolah hasil kerjasama Mapala UI, Portal Infaq, Solidaritas Kebersamaan, dan beberapa organisasi lainnya.

“Firman, ini Ney. Lagi di mana lo?”

“Sorry Ney, gue masih di Lenteng Agung. Macet banget.”

Wah, berabe nih. Eko masih nyangkut di Wolter Monginsidi, Firman nun jauh di Lenteng Agung. Padahal kendaraan travel kami dijadwalkan berangkat pukul 3 tepat. Setelah bernegosiasi sebentar dengan Pak Medi dari City Trans, diputuskan untuk menunggu sampai pukul 3:30. Betul saja, sekitar pukul 3:15, Eko datang diantar rekan kerja satu studionya. Sambil cengengesan menenteng koper besar beroda dan tas laptop berat, lelaki brewok berperawakan besar ini langsung terlibat sesi cela-celaan dengan anak-anak lainnya yang sudah duduk manis di dalam mobil.

Pukul 3:30 tepat, saya putuskan untuk berangkat tanpa menunggu Firman. Sebelumnya kami sudah mengatur agar City Trans menyediakan tempat baginya di jadwal keberangkatan pukul 4 sore. Sampai ketemu di Bandung, Firman!

Puri Tomat & Kakap a la Meunier

Ini pertama kalinya saya pergi ke Bandung dengan menggunakan jasa travel City Trans. Mobil Isuzu Elf yang kami tumpangi berkapasitas 7 penumpang, tidak termasuk supir. Kabin yang luas dan ruang kaki yang lapang, kursi individual yang nyaman dan dapat dinaik-turunkan, AC yang sejuk berhembus, serta jendela-jendela besar yang menyajikan pemandangan Ibukota beralih Luarkota, benar-benar memancing naluri norak kami semua. Maklum, pekerja metropolitan yang jarang bisa keluar kota. Hmmm…jangan-jangan cuma saya yang merasa begitu? Agaknya begitu!

Memasuki jalan tol luar kota, saya mulai membuka-buka majalah New Yorker yang baru kemarin di beli di Aksara, sementara Esti sudah mulai membaca Love in the Time of Cholera dari Gabriel Garcia Marquez. Sayangnya niat mulia menghabiskan waktu dengan bacaan bermutu ini terpaksa dibatalkan, karena Anya mengajak kami semua membahas ulang rencana akhir pekan di Bandung nanti. Satu-persatu, mulai dari diskusi di QB, ngamen di Dago, sampai KebunKata di Potluck. Untungnya lontaran-lontaran iseng tentang kehidupan cinta Eko akhir-akhir ini dengan segera mengubah suasana rapat menjadi ajang gosip nggak penting nan seru. Tak lama kemudian, kantuk yang mulai menyerang membuat percakapan semakin tidak sinkron, dan satu-persatu kami pulas terlelap. Sebelumnya, saya sempatkan menelepon City Trans di Jakarta, dan menanyakan nasib Firman. Menurut Pak Medi, Firman tiba tak lama setelah kami pergi, dan dia sudah berangkat dari Jakarta pukul 4. Lega rasanya, dan saya pun bisa memusatkan perhatian terhadap tugas-tugas yang sudah menanti malam ini.

Sekitar pukul 6 sore, Isuzu Elf kami mulai memasuki Bandung. Disambut oleh lampu-lampu billboard raksasa, spanduk iklan berbagai bentuk, departemen store, toko-toko, rumah makan, dan factory outlet, serta dentuman lagu-lagu dari sound system toko yang disetel kencang, ditimpali suara klakson dan nyanyian pengamen jalanan. Walaupun Kota Kembang yang dulunya sejuk ini sudah sangat berubah dan lebih ramai, entah kenapa bagi saya suasananya masih terasa jauh lebih menyenangkan dibandingkan Jakarta yang sumpek bukan main itu. Bandung yang makin padat, makin macet, dan makin genit berdandan. Sampai kapan gedung-gedung tua itu bisa bertahan?

Pukul 6:30, diantarkan oleh supir kami yang baik hati, Pak Nanang, sampailah kami ke Puri Tomat, hotel yang direkomendasikan koordinator BuMa Bandung, Yusak. Hotel bernama lucu ini beralamat di Jalan Ir. H. Juanda No. 420. Kami menempati kamar nomor 4 dan 5.

Pukul 7:30 malam, setelah selesai mandi dan beres-beres, kami meninggalkan hotel. Ada janji bertemu panitia BuMa Bandung di Pusat Kebudayaan Perancis (CCF). Setelah tanya sana-sini, baru percaya diri naik angkot jurusan yang tepat.

Kantin Terminus, CCF, pukul 8 malam. Akhirnya bertemu dengan formasi lengkap panitia BuMa di Bandung. Ada Yusak, Citra, Eno, Ririen, Maya, dan Herman. Sebagian dari kami memang pernah berjumpa sebelumnya, waktu sebulan lalu survei tempat dan berkenalan untuk pertama kalinya. Tapi sebagian lainnya tak pernah ketemu sama sekali. Menyenangkan sekali melihat itu semua bukan halangan bagi teman-teman untuk langsung akrab bagai kawan lama yang sudah lama tak jumpa. Rapat yang dibumbui ketawa-ketawa itu pun berjalan sangat lancar. Hingga akhirnya, pukul 10 malam, kami harus pulang, karena satu-dua lampu kantin mulai dimatikan.

Selesai rapat, bukan berarti malam juga harus berakhir, karena Eko tiba-tiba mengajak kami (kecuali Yusak, Citra, Herman dan Ririen yang harus pulang duluan) untuk makan malam di Suis Butcher. Lagi kaya raya ketiban rejeki rupanya anak yang satu ini. Mungkin baru menang pitching? Hehehehe…mau nanya udah keburu males, dan belakangan keburu kenyang karena porsi Kakap a la Meunier (bener nggak nulisnya?) yang saya pesan hampir-hampir bikin perut meletus!

Reaktor Nuklir & Argo Kuda (Sabtu, 29 April 2006)

Kembali di Puri Tomat (aduh, namanya itu lho!) sekitar jam 1 pagi. Ngantuk dan kekenyangan. Sayangnya, niat untuk tidur tidak bisa terlaksana. Karena Anya kembali mengajak kami-kami yang sudah super teler itu untuk ngobrol-ngobrol lagi soal program-program jangka panjang BuMa. Selesai ngobrol serius yang cukup melelahkan jiwa, sesi curhat dibuka dengan pancingan-pancingan topik filosofis a la Eko, yang tanpa terasa bikin waktu berjalan dan tiba-tiba sudah pukul 5.30 pagi! Pantas memang Eko mendapat julukan “reaktor nuklir’ dari Edo. Energinya untuk begadang (dan memancing orang begadang) memang bukan kepalang!

Mata yang sudah sipit dan makin sipit ini mendadak melek lagi waktu Firman si anak hilang tiba-tiba nongol. Menghabiskan malam di rumah teman, dia memutuskan untuk datang ke hotel pagi-pagi, kuatir anak-anak keburu jalan lagi, katanya. Aduh, maaf ya Man, semalam saya memang ceroboh sekali. Pergi ke CCF tanpa menitipkan kunci kamar dan pesan.

Firman datang, hati tenang, bisa tidur sekarang. Eh, enggak juga lho. Anya yang dari tadi matanya sudah keriyep-keriyep, tiba-tiba dengan semena-mena memutuskan bahwa kantuknya mendadak hilang dan dia tidak bisa tidur, kemudian memaksa kami semua yang sudah duduk manis di ranjang untuk ngobrol-ngobrol lagi. Singkat kata singkat cerita, mata yang sudah bengkak ini baru bisa dipejamkan pukul 8:30 pagi!

Pukul 12 siang. Bangun tidur sekitar pukul 10 pagi, berarti hanya kebagian tidur kurang dari dua jam. Nyawa yang belum komplit karena mengantuk itu, makin tercerai-berai begitu melihat bahwa sesiang ini teman-teman belum ada yang siap. Eko masih mendengkur di pojok kasur, Anya dengan genitnya masih sibuk mengeringkan rambut. Jorgy belum pulang dari berburu kaset progressive rock di Jalan Dipati Ukur. Nivell dan Esti sedang sibuk ngobrol. Sementara Firman asyik menonton infotainment.

Setelah semuanya siap pun, kami masih bingung mau naik kendaraan apa. Taksi yang lewat hanya mau pakai argo kuda, sementara kami biasanya pakai argo kelinci (apa sih Ney!). Untung saja Anya punya banyak teman di Bandung. Salah satunya, Yasmin, penyiar radio Otomotif (kalau tidak salah), berbaik hati menjemput kami dengan Mercedes tua nan cantik miliknya, dan menyelamatkan kami dari kerepotan naik angkot sambil menenteng dua banner, satu speaker toa, tas-tas berat, dan lain-lain. Nivell menyusul belakangan karena masih sibuk merevisi desain flyers di laptopnya. Kami pun meninggalkan hotel diiringi suara dengkur Eko yang semakin keras.

Tiba di QB Bookstore Setiabudi, suasana masih sepi-sepi saja. Untung saja Acum, Felix, Jefry, dan lain-lain dari Avatar sudah duluan sampai. Tak lama kemudian, Herman, Eno, Ririen, Citra dan Maya pun datang juga. Yusak tidak bisa datang karena ada urusan mendesak yang tak bisa ditunda. Sementara kami sibuk mengatur kursi-kursi di cafe QB, satu persatu pembicara dan moderator mulai berdatangan. Taufik Imansyah dari STV Bandung yang akan menjadi moderator, Mbak Violetta Simatupang dan (Mas?Kang?) Matdon sebagai pembicara. Di antara para hadirin terselip nama-nama seperti Mbak Anjar penulis novel ‘Beraja’ dan ‘Kidung’, Mas Firman Venayaksa dari Rumah Dunia. Salah satu TukangKebun BuMa, Yoshi, baru saja tiba dari Jakarta dan langsung bergabung dengan kami.

‘Ngobrol-ngobrol Soal Antologi Bunga Matahari’, QB Bookstore, Bandung

Acara dimulai sekitar jam 3 siang. MC siang itu adalah Ririen, dan dia membuka acara dengan menyampaikan pengantar mengenai Antologi, dan membacakan profil para pembicara dan moderator. Diskusi kemudian dibuka oleh Taufik dengan membahas Antologi dari perspektif orang awam. Menurutnya, bagi orang awam seperti dia (setidaknya, begitu pengakuannya), Antologi BuMa membukakan mata akan sesuatu yang baru dan menarik. Selama ini Taufik suka menulis puisi. Namun puisi-puisi tersebut hanya disimpannya sebagai koleksi pribadi, dan tidak ditunjukkan kepada khalayak luas. Kenapa begitu? Karena ia merasa bahwa apa yang ditulisnya belum layak untuk disebut sebagai puisi. Paling tidak, masih jauh dari standar puisi-puisi dahsyat yang sering dibacanya di media massa atau di buku-buku. Tetapi setelah membaca antologi BuMa, ia terkejut karena banyak puisi-puisi di dalam buku ini dapat digolongkan sebagai puisi yang ringan, dan bahkan cenderung seenaknya, yang dengan nyaman dan sah berdampingan dengan puisi-puisi lainnya, yang menurutnya masuk kategori puisi standar (panjang, dalam, njelimet, dan sulit dimengerti?). Salah satu puisi yang disukainya adalah:

Doa Seorang Gondrong di Usia 30

Ya Tuhaaaan berilah hambaMu kekuatan…

untuk slamdance

-Yoga, Jakarta, 1999-

Puisi yang ditulis oleh anggota BuMa yang menggunakan nickname ‘yohipup’ ini rupanya mengena sekali buat Taufik. Karena sebelum diskusi dimulai pun, saat kami ngobrol-ngobrol sejenak, ia sudah menyebut-nyebut kekagumannya atas puisi ini kepada saya. Sayang sekali saya tidak kenal secara pribadi dengan Yoga, penulis puisi ini, yang menurut deskripsi teman-teman yang kenal langsung, memang cukup rock n roll orangnya. Belakangan, Taufik juga bilang bahwa ia suka sekali puisi ‘Deodoran dan Lampu’ karya dio_politico.

Pembicara pertama adalah Matdon, wartawan yang telah menghasilkan empat buku, yaitu Persetubuhan Batin, Garis Langit, Maha Duka Aceh (bersama beberapa penyair lainnya), dan Mailbox. Ia dengan tersipu-sipu mengakui bahwa kesibukannya menghadiri berbagai acara akhir-akhir ini membuatnya baru sempat membaca Antologi BuMa pagi tadi. Akan tetapi, dalam jangka waktu yang sangat singkat pun ia sudah bisa menangkap beberapa hal menarik dari buku tersebut. Menurutnya, penggunaan nickname di mailing list, dan yang dilestarikan pemakaiannya dalam buku ini, mengingatkannya pada masa-masa kejayaan radio di kota Bandung pada tahun-tahun 70-80an. Masa-masa dimana pengaruh bahasa, dalam hal ini bahasa lisan, sangat kuat.

Matdon bercerita bahwa selama ini di Bandung ada keterbatasan yang dihadapi para penulis yang ingin karyanya dimuat di media massa. Faktor kedekatan dengan redaktur kolom budaya seringkali merupakan salah satu hal yang menentukan dimuat atau tidaknya suatu karya sastra. Tidak heran kalau kemudian banyak berkembang komunitas-komunitas sastra berbasis milis di internet. Fenomena ini pun kemudian mengundang kontroversi, ketika ada sebagian kalangan yang menyatakan bahwa puisi-puisi cyber, atau puisi yang dipublikasikan di internet, adalah puisi-puisi sampah, yang karena tidak lolos seleksi media massa konvensional, terpaksa di muat di internet. Matdon hanya menyikapi pendapat semacam ini dengan ucapan‘ sampah pun dapat menjadi pupuk yang menyuburkan semangat untuk berkarya’. Halangan-halangan semacam inilah, yang cukup menyulitkan para penulis, terutama yang berbasis kampus, sehingga banyak dari mereka yang berhenti berkarya atau mengalami masa-masa kurang produktif.

Diskusi menjadi tambah seru ketika sebagian pernyataan Matdon dibantah oleh Firman Venayaksa. Menurut Firman, banyak penulis-penulis berbasis kampus yang kemudian bisa menjadi besar dan banyak berkarya. Ia bahkan menyebutkan sederetan nama sastrawan (yang sayangnya tidak saya kenal dan ingat) yang berhasil menembus kungkungan struktural tersebut. Akan tetapi, Firman juga mengakui sulitnya menembus dominasi media-media cetak konvensional. Untuk itu, ia mengajak generasi yang sekarang, untuk berhenti mengagung-agungkan generasi yang tua, berhenti menggunakan standar mereka dalam menilai dan menciptakan karya sastra.

Sebagai produk dari suatu komunitas, lanjut Matdon, buku ini adalah suatu keniscayaan, terutama ketika ada kebutuhan dari anggota-anggotanya untuk bertemu. Kebetulan pula ia sudah cukup kenal dengan beberapa nama yang puisinya dimuat dalam Antologi BuMa. Misalnya nama-nama seperti Cecil Mariani dan jibzails yang juga aktif menulis di milis sastra lainnya. Walaupun ia menjadi produk dari suatu komunitas, Antologi ini tidaklah seragam isinya. Ada keragaman yang terlihat dalam bentuk-bentuk pengungkapan yang berbeda-beda, serta konsentrasi pada bermacam tema. Mulai dari politik, sosial, sampai agama, mulai dari penekanan pada komunikasi yang estetis, sampai ke pesan-pesan perlawanan yang lugas. Misalnya puisi karya banteng_gaoul berikut ini:

Berdamai Dengan Setan

jangan salahkan aku

jika hari ini ku berdamai dengan setan

ternyata setan gak selamanya jahat

setan sudah insyaf

setan yang sudah tawakal

jadi jangan salahkanku

Ada juga puisi yang berkomunikasi dengan lantang dan nyinyir, seperti dalam karya barcaspa ‘Jomblo Itu Pedih, Jenderal!!”, atau yang (mirip) puisi mbeling, seperti ‘Jam Pasir’ oleh pepsigolda dan ‘Doa Seorang Gondrong di Usia 30’ oleh yohipup.

Jomblo Itu Pedih, Jenderal!!

Jomblo itu Pedih, Jenderal!

coba tanyakan pada selimut yang berderet rapih di

atas velbed barak-barak bisu. tanyakan pada temali

yang mengikat sepatu bajaku. tanyakan pada peluh yang

melebur di dahiku ketika menggosok kakus bau.

Jomblo itu Pedih, Jenderal!

karena belukar hanya menawarkan sepi di umur batang

jati. di kedalaman gelap, mata-mata sunyi berkelebat,

bergerilya mendekati hati. senapan-senapan terkokang

memburu mimpi, berharap seorang musuh berperawakan

seperti dewi mandi.

Jomblo itu Pedih, Jenderal!

di setiap kata yang terurai, bercerita tentang

kerinduan kosong pada kampung dan halaman tempat masa

kecil bermain. sementara cinta semakin senjang, malam

dan pagi bergumul memperebutkan matahari. lalu apa

lagi yang bisa tertulis selain puisi?

Sekali lagi: Jomblo itu Pedih, Jenderal!

Aku layak desersi!

Jam Pasir

Sssssssssssss

Sssssssssss

Sssttttt

ttttttt

ttttt

.

.

.

Kapan tiba waktuku?

Suasana diskusi menjadi semakin santai ketika Matdon berkata bahwa penyair-penyair dalam Antologi ini terbagi atas beberapa kategori. Penyair baru, penyair yang sudah jadi, penyair yang akan jadi, dan penyair jadi-jadian. Sambil tertawa mendengar ucapan ini, saya jadi berpikir, termasuk yang manakah diri ini? Agaknya saya lebih cocok ke ‘penyair jadi-jadian’!

Saran dari Matdon untuk para pembaca dan calon pembaca Antologi ini adalah, “Bebaskan dulu diri ini dari penilaian bermutu atau tidak, dan jangan berupaya mengerti atau tidak, akan tetapi coba hanyutkan diri dulu, dan baru kemudian menilai. Karena penilaian adalah hak pembaca.” Kemudian kepada anggota-anggota BuMa, ia berpesan, “Apabila melihat kejadian, buatlah puisi, dan sebarkan ke media massa. Kalau tidak diterima di sana, buatlah menjadi buku. Apabila tak ada penerbit yang mau menerima, masukanlah dalam milis. Kalau masih tidak tersalurkan, tampilkan dalam sebuah pentas. Dan terakhir, apabila tidak bisa menembus media-media tersebut, tulislah puisi-puisi itu untuk dirimu sendiri.” Ia juga mengingatkan bahwa kendala penulis adalah bagaimana pengalaman-pengalaman dan peristiwa yang terjadi di dunia dapat dituangkan secara estetis. Untuk mengatasi kendala ini, menurutnya hanya ada satu cara, yaitu teruslah menulis. Karena berhenti menulis berarti murtad!

Kemudian, menjawab pertanyaan Taufik tentang puisi mana dalam Antologi yang paling disukainya, ia memilih puisi ‘Kodrat Kasur, Bantal dan Guling’ karya widyo, dan kemudian membacakan ‘Bismillah’ karya mariezqa.

Menutup pembahasan dari Matdon, Taufik menanyakan kepada Anya mengapa dalam Antologi dilakukan pembagian bab yang menggunakan judul lokomotif, masinis, loket, atap, gerbong, rel, wc, dan stasiun. Anya menjelaskan bahwa pembagian-pembagian itu sesuai dengan konsep yang dibicarakan dengan penerbit Avatar. Dalam buku ini, BungaMatahari diandaikan sebagai sebuah stasiun dimana orang-orang dari berbagai macam latar belakang datang berkumpul, untuk kemudian menaiki sebuah kereta yang sama, yaitu puisi itu sendiri. Orang-orang yang berinteraksi di stasiun dan kereta ini, dapat memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Interaksi antar berbagai latar belakang inilah yang kemudian memperkaya BungaMatahari sebagai sebuah komunitas.

‘Lokomotif’ adalah pengantar dari Seno Gumira Ajidarma, ‘masinis’ mewakili kata pengantar dari TukangKebun (moderator milis BuMa), ‘loket’ adalah kata pengantar dari penerbit Avatar, ‘atap’ memuat puisi yang membahas hubungan antara manusia dengan Yang Maha Kuasa, ‘rel’ memuat puisi yang menceritakan hubungan antara manusia dengan sesamanya dan lingkungan sekitarnya, dalam ‘wc’ terkumpul puisi-puisi yang mengekspresikan hal-hal terdalam dan tergelap dari para penulisnya, sedangkan ‘stasiun’ memuat daftar nickname, yang sebagian dilengkapi identitas aslinya.

Pembicara kedua, Violetta Simatupang, menyatakan bahwa membaca Antologi BungaMatahari dan berkenalan dengan anggota-anggota milis ini membuatnya teringat kepada suatu peristiwa di tahun-tahun awal berdirinya Indonesia, ketika pada tahun 1946 beberapa orang penulis dan penyair Indonesia (Chairil Anwar, Asrul Sani, Rivai Apin, dan lain-lain) berkumpul dan menghasilkan apa yang disebut sebagai Surat Kepercayaan Gelanggang, (yang kemudian diterbitkan di Majalah Siasat, tahun 1950-penulis). Menurut penulis Antologi Puisi Anak-Anak Vampir ini, semangat berkumpul dalam suatu komunitas sastra ini tampaknya menurun juga ke BuMa, tepat 40 tahun kemudian.

Mendengar ini, saya dan Anya sedikit merinding, ngeri rasanya disamakan dengan orang-orang besar di dunia sastra seperti itu. Surat Kepercayaan Gelanggang adalah pernyataan sikap para sastrawan tentang jalan berkarya yang dipilihnya, di masa-masa ketika Indonesia belum lama merdeka, dan benturan-benturan kebudayaan lama dan baru sedang panas-panasnya. Sementara itu, BungaMatahari sendiri dibentuk dan dijalankan tanpa memiliki keinginan macam-macam selain belajar dan bersenang-senang dengan puisi. Hanya dengan semangat belajar menulis dan menghargai bahasa bangsa sendiri. Apakah di masa yang akan datang akan menjadi suatu gerakan baru? Atau hanya menjadi ajang senang-senang tanpa pertanggungjawaban apa-apa?

Masalah perasaan merupakan faktor yang penting bagi bagi Mbak Letta dalam menilai sebuah karya. Karena walaupun sebagai orang awam ia menganggap puisi-puisi yang termuat di dalam buku ini sudah sangat indah, ia tidak mau terjebak ke dalam definisi puisi yang bagus atau yang tidak bagus. Baginya puisi yang bagus bukanlah tentang perasaan penulisnya, melainkan yang dapat menimbulkan perasaan tertentu terhadap pembacanya. Misalnya puisi ‘Katak dan Bulan’ karya indah_ip berikut ini:

Katak dan Bulan

seekor katak mencinta bulan

suatu malam dilihatnya bulan tidur di dalam kolam

dan dicurinya ciuman

bulan bergetar

lalu pergi tak berbekas

seekor katak mencinta bulan

karenanya ia kemudian belajar bahagia

menjaga bulan tak luka

dan merindunya dari jauh saja

16 Feb. 03. 18.00 PM

Mantan wartawan Bali Post ini juga beranggapan bahwa puisi tidaklah harus terikat dengan kata-kata. Ia mengutip ucapan Soetardji Calzoum Bachri, “kata-kata bukanlah pipa untuk menyalurkan air…”, untuk menekankan faktor ketidakterikatan ini, yang dapat dilihat pada puisi ‘Suara Rindu Yang Stereo’ karya Bin Harlan Boer.

Suara Rindu Yang Stereo

Hanaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!

170903

Acara ngobrol-ngobrol yang sangat informal dan penuh dengan tawa ini pun ditutup dengan pembacaan puisi dari Antologi oleh tiga orang peserta, yang juga mendapatkan hadiah kaos BungaMatahari:

–         ‘Kamu Sendirian’ (saya lupa karya siapa) , dibacakan oleh Winda (?)

–         ‘Menggenggam Dunia’ karya t11ka, dibacakan oleh Firman Venayaksa

–         ‘Ibu, Aku Ingin Jadi Astronot’, dibacakan oleh putra Mbak Letta (maaf saya lupa namanya…hehehe)

Acara ‘Ngobrol-ngobrol Soal Antologi BungaMatahari’ selesai sekitar pukul 4:30 sore. Lebih cepat dari jadwal yang diperkirakan dengan peserta yang lebih sedikit dari yang direncanakan, namun berlangsung lebih hangat dari yang dibayangkan. Makanan kecil yang disediakan oleh pihak QB menemani obrolan-obrolan menjelang pulang antara kami dengan para undangan dan pembicara. Pukul 5:00, semua perlengkapan sudah terkemas, dan beramai-ramai kami meninggalkan QB, berebutan naik angkot menuju Puri Tomat.

Advertisements

Written by Waraney Rawung

February 17, 2012 at 2:58 PM

Marshanda, Markentong, dan Marji’ah

with 10 comments

Marshanda sedang jadi topik pembicaraan seru di Twitter (dan social media sites lainnya) beberapa hari ini, walaupun belum sampai jadi trending topics. Aktris dan penyanyi muda ini bikin heboh gara-gara video di YouTube, dimana ia menyanyi, lompat-lompat, menari-nari, dan ketawa-ketawa sendiri sambil meledek beberapa teman sekolahnya dulu.

Picture 5

Sekarang video itu sudah tak ada lagi di account Marshanda. Namun kita masih bisa menonton copy-nya di sini (UPDATE: maaf temans, linknya saya hapus. Setuju sama Pitra. Kasihan sama pemiliknya. Kalau mau cari, Google aje!). Namanya juga dunia online, sekali masuk susah keluar (seperti cerita seram jaman dulu, tentang pasangan yang bercinta di kuburan…hehehe, ngelantur!).

Komentar-komentar yang berhamburan di halaman account YouTube Marshanda dan account si pelaku reposting, serta di Twitter search, umumnya kejam-kejam. Ia dituduh mabok, stress, kesurupan, sampai cari sensasi. Seorang teman bahkan sempat menyangka bahwa video tersebut adalah bagian dari strategi viral marketing untuk mempromosikan sinetron terbaru aktris ini.

Marshanda di Twitter search

Saya sendiri menganggap video tersebut lucu-lucu aja. Memang orangnya juga lucu. Hehehe. But really, she’s just acting like a teenager. Bukannya mau pukul rata bahwa remaja pada umumnya memang clueless begitu, tapi kalau dipikir-pikir, kehebohan ini muncul hanya karena pelakunya punya status selebriti. Coba yang bikin video macam itu teman kita atau a nobody seperti saya. Paling-paling yang nonton cekikikan sebentar, lalu share di Twitter dan Facebook supaya bisa ketawa rame-rame.

Selain video yang bikin heboh itu, ada video-video lain yang agaknya di-upload Marshanda selama kurun waktu yang kurang lebih sama (satu minggu). Semuanya menampilkan dirinya sedang menyanyi dan bergaya macam-macam. Ada yang solo, ada juga yang trio dengan beberapa teman. Bukan sesuatu yang luar biasa juga, dan sama sekali bukan sesuatu yang pantas mendapatkan komentar negatif dan caci maki. Semua video ini sudah dihapus, dan yang tertinggal hanya tiga video ‘standar.’

Buat saya, tak ada yang salah dengan kelakuan Marshanda joget-joget dan nyanyi-nyanyi fals di depan umum. Yang jadi masalah cuma statusnya sebagai selebriti. Tapi mungkin tak ada salahnya dia pikir-pikir dulu sebelum posting. Karena seperti yang dibilang Pitra, bisa-bisa dia dituntut oleh teman-temannya yang diledek di video itu.

Lain kali Marshanda harus konsultasi dulu ke teman saya, Yoshi Febrianto, yang jago bikin video lucu. Belum lama ini seri video “Tulisanmu Puisiku” buatannya (yang katanya sudah diedit) menjadi salah satu video yang ditampilkan di festival OK Video “Comedy”. Kalau tak salah, seri video ini aslinya dibuat dadakan (dengan sang istri sebagai pemanggul kamera) saat kesal menunggu anak-anak BungaMatahari yang datang ngaret ke Kebun Raya Bogor untuk acara KebunKata “KebunRaya.”

Marshanda (dan saya juga!) bisa belajar banyak dari Yoshi soal kreativitas.

Sekarang coba lihat video “Response to Marshanda Nangis 3: Markentong dan Marji’ah Nangis”. Saya dan beberapa teman terpingkal-pingkal saat menontonnya. Waktu saya pertama menontonnya, hanya ada ratusan views, dan sekarang sudah mencapai lebih dari 4000 views. Efek word of mouth di dunia online memang mantap!

Viral effect macam ini habis-habisan diidamkan online marketers dan public relations consultants. Banyak yang mengejarnya, hanya sedikit yang berhasil mencapainya. Resepnya memang susah-susah gampang. Buat content yang sederhana tapi menarik, yang bisa membuat orang nonton berkali-kali dan mendorong kita menyebarkan link-nya kemana-mana. As simple as that, but easier said than done.

Response to Marshanda Nangis 3: Markentong dan Marji'ah Nangis

Baca juga:

Marshanda Pecas Ndahe – Ndoro Kakung

Marshanda di YouTube? – Media Ide

Would you date this Marshanda girl? – unspun

Good Girls Go Bad – Insomniac Lolita

mereka bilang ini puisi!

with one comment

Cikini Raya Writers & Readers Festival

Salah satu alasan kenapa saya suka sekali pergi ke acara-acara sastra, baik di luar kota seperti Ubud Writers & Readers Festival dan Ode Kampung, maupun di dalam kota seperti Pasar Malam Sastra di Warung Apresiasi Bulungan, adalah karena di sana saya dapat banyak teman baru.

Dulu, waktu masih jadi konsultan public relation, teman baru berarti kesempatan (bisnis) baru. Ada tuntutan untuk menghasilkan sesuatu dari pertemanan dan jaringan yang makin luas itu. Teman adalah investasi, jadi jangan sampai rugi.

Mentalitas untung-rugi ini pelan-pelan hilang sejak saya berhenti jadi konsultan dan hanya kerja paruh waktu sebagai editor. Saya lebih santai berteman, tak ada lagi tuntutan kenalan dengan sebanyak mungkin orang. Hilang kewajiban menghafalkan wajah si ini dan si itu, lalu menebak-nebak, kira-kira mereka bisa menguntungkan dalam hal apa.

Tentu, sekarang di belakang saya ada BungaMatahari dan irisPUSTAKA, yang keduanya bisa diuntungkan (atau dirugikan) oleh jaringan teman saya yang semakin banyak. Tapi karena BuMa adalah lembaga non-profit, sedangkan irisPUSTAKA adalah lembaga not-yet-profitable-and-still-a-long-way-to-actually-see-any-profit, saya bisa lebih santai membawa diri. Kalau tak suka, cukup bilang halo apa kabar dan basa-basi singkat, tanpa harus  berlanjut ke mana-mana. Sedangkan kalau cocok dan suka, segala alasan bisa dicari untuk sekedar nongkrong dan ketawa-ketawa.

Misalnya, sepulang dari UWRF tahun ini, ada sekantong nama teman baru yang saya peroleh. Di antaranya Danny Yatim, Mas Dodo dan Debra Yatim, serta putri mereka Zulaika. Kami sebenarnya sudah sering bertemu sebelumnya di acara-acara di Jakarta. Di UWRF tahun lalu, Olin bahkan sudah memperkenalkan saya dengan Debra waktu acara Poetry Slam di Bebek Bengil. Tapi mereka pasti lupa.
Sampai akhirnya tahun ini kami ketemu dan kenalan lagi. Debra dan Zulaika bahkan ikut meramaikan acara peluncuran buku Anya dan Mikael.

Sepulang dari Ubud, kami tetap berhubungan lewat Facebook, dan setelah gosip kiri-kanan atas-bawah, janjian ketemuan lagi di Cafe au Lait, Jalan Cikini Raya sekian-sekian, di suatu sore yang penuh kemacetan. Kumpul-kumpul yang iseng kami namai Cikini Raya Writers & Readers Festival. Isi programnya bukan workshop atau performances, tapi gosip sedap tentang penulis dalam dan luar negeri yang di UWRF.

Dari hasil brainstorm singkat, ada empat acara yang akan dilangsungkan. Pertama, ‘Mereka Bilang Ini Puisi!‘, sebuah acara setengah poetry slam setengah workshop puisi serba santai yang diadakan hari Jumat, 14 November 2008 di  SMA Al-Izhar Pondok Labu, Jakarta Selatan. Sekolah itu punya program yang Bulan Bahasa, dan poetry slam ini adalah salah satu acara yang termasuk di dalamnya.

Kedua, KebunKata Kota, yang pengumumannya sudah saya pasang di halaman multiply saya.

Ketiga, jalan-jalan ke Ode Kampung. Saya dan Anya ke sana tahun lalu, dan pengalaman seru yang kami peroleh rasanya sayang kalau tak dibagi dengan teman-teman baru kami.

Keempat, Tupperware Party, baca-baca puisi spontan (seperti BunKat) di acara perayaan ulang tahun penyair Bibsy Soenharjo, yang mungkin akan diadakan di salah satu restoran di kawasan Ampera.

Kebetulan Martin Jankoswki, penyair Jerman kenalan kami, akan datang ke
Jakarta sepanjang pertengahan November-Desember. Kami sepakat untuk mengajak dia meramaikan acara-acara tersebut.

Mereka Bilang Ini Puisi!

Siang ini, Anya dan Mikael menjemput saya di kantor, dan kami langsung meluncur ke Al-Izhar. Acara ‘Mereka Bilang Ini Puisi!‘ diadakan di mushola SMA lantai 3, dan dihadiri oleh murid-murid kelas 1. Yang datang (atau tepatnya diharuskan datang, ada faktor pemaksaan di sini, maklum sekolah!) berjumlah kurang lebih 135 orang. Ramai benar. Mas Dodo dan Zulaika (yang memang masih sekolah di sana, kelas 3) juga ada, ditambah beberapa guru.

Debra membuka acara dengan memperkenalkan kami kepada hadirin yang usianya rata-rata separuh usia kami itu. Dia langsung memperkenalkan Mikael sebagai orang Australia yang nyasar di sini, dan mengajak tebak-tebakan asal daerah Anya dan saya berdasarkan nama kami. Ada yang menebak Anya dari Filipina, sedangkan saya disangka datang dari Ambon. Hmm. Gak apa-apa, menyerempet sedikit.

Untuk memanaskan suasana, Mikael dan Anya bergantian baca puisi, disusul Martin. Belum panas-panas juga, jadi Mikael dan Martin duet membaca puisi karya penyair bule ini (dalam bahasa Indonesia dan Jerman), yang mengundang sambutan meriah dari audiens.

Ini saatnya, pikir saya. Mereka pasti berebutan maju ke depan. Eh, enggak juga lho ternyata. Saya sudah terlalu lama meninggalkan bangku SMA, sehingga lupa bahwa di usia seperti itu, yang penting adalah crowd mentality, bukan individuality. Lha, gimana mau individual, identitas aja masih mencari?

Debra terus mengajak mereka yang berminat untuk langsung maju dan baca puisi karya sendiri, atau karya Mikael, Anya dan Martin (yang fotokopinya sudah dibagikan), dengan pancingan hadiah buku puisi Martin.

Dengan sedikit pemaksaan dan tunjuk-tunjukkan, akhirnya maju beberapa orang. Sebagian besar memilih puisi Anya. Agaknya karya si pendiri BuMa ini lebih cocok buat mereka, daripada karya Mikael dan Martin. Walaupun akhirnya ada juga satu orang yang berani baca puisi Mikael dan satu lagi yang baca puisi Martin.

Beberapa kali saat suasana terasa mulai mendingin, saya maju ke depan dan merebut mike dari tangan Debra (mengulang aksi kudeta MC suka-suka seperti di Gaya Fusion), dan menantang anak-anak itu untuk maju ke depan.

Saya sempat memberi contoh melalui pembacaan puisi spontan, benar-benar mengarang saat itu juga di tempat, untuk menunjukkan bahwa puisi bukan sesuatu yang sulit. Kata kuncinya adalah ‘menyenangkan’. Puisi itu seru, asyik, ada di mana-mana.

Dengan mike di tangan, saya hampiri hadirin yang malu-malu itu, dan langsung menyodorkan mike kepada satu-dua orang, sambil minta mereka menyebutkan kata pertama yang terpikirkan oleh mereka saat itu juga. Yang pertama menjawab ‘duduk’, dan yang kedua menjawab ‘i love you’. Ketawa ramai yang memenuhi ruangan mewarnai upaya saya menciptakan baris-baris puisi spontan nan garing dari kata-kata mereka. Cukup berhasil agaknya.

Bantuan datang dari Zulaika, yang tampil membaca puisi yang spontan diciptakannya saat itu juga, yang langsung saya buat jawabannya saat itu juga. Saya bilang ke anak-anak bergizi tinggi itu, bahwa ini yang biasa kami lakukan di dunia maya. Berbalas puisi, karena semua bisa berpuisi.

Lucunya, saya berkhotbah kepada mereka bilang bahwa tak usah mikirin bentuk, rima dan lain-lain, yang penting ekspresikan dirimu. Ternyata puisi spontan saya pun masih menggunakan rima. Rapi dan teratur. Saya baru sadar akan hal ini saat Anya dan Mike menegur saya sambil ngakak. “Gimana sih lo! Katanya gak pake rima, kok barusan rima semua isinya! Hahaha…

Acara diteruskan dengan pembacaan puisi dari dua murid Al-Izhar, dan Mas Dodo, Anya dan Martin. Saat Debra menutup acara, jam menunjukkan pukul 14:30. Lumayan, satu setengah jam mengindoktrinasi generasi sehat gizi dengan kredo semua bisa berpuisi (tuhkan, lagi-lagi berima!).

Di masa yang akan datang, saya rasa lebih baik kalau susunan acaranya seperti KebunKata dan diadakan di tempat yang lebih santai, seperti kantin sekolah atau lapangan basket. Kalau yang membuka acara kelompok musik sadis seperti Otak n Chair, pasti murid-murid SMA itu tak butuh waktu lama untuk menemukan kodrat narsis mereka, dan langsung lompat ke depan menyambar mike.

Semangat menolak tua memang tak akan habis dimakan usia. Tapi mungkin memang sudah waktunya BungaMatahari membangun basis kembali dari generasi (yang lebih) muda. Ini saatnya. Ayo kita racuni mereka dengan puisi!

Technorati Tags: , , ,

Written by Waraney Rawung

November 14, 2008 at 11:56 AM

Posted in Uncategorized

BengkelKata BungaMatahari: Tuhkan Ada Hal-Hal Yang Belum Selesai! 11 Mei, 2008

leave a comment »

Hai teman-teman!

Sesuai janji surga kami para moderators (sebenarnya saya aja sih yang janji tapi mengatasnamakan banyak orang kan sekarang lagi nge-trend jadi ya sudahlah), hari Minggu, 11 Mei, 2008 yang akan datang, BungaMatahari akan mengadakan Bengkel Kata bertema “Tuhkan Ada Hal-Hal Yang Belum Selesai!” di Cafe au Lait, Cikini, Jakarta Pusat.

Acara ini diadakan untuk memuaskan dahaga hati yang kentang (kena tanggung-istilah anak disko jaman dulu oh yee) sepulang dari diskusi “Menilik Sastra Maya” di Teater Utan Kayu tanggal 12 Maret lalu. Kalau acara di TUK waktu itu lebih memusatkan perhatian kepada ‘sastra maya’ sebagai sebuah wacana, “Tuhkan” diniatkan sebagai ajang bagi-bagi ilmu tentang blogging, stumbling, flocking, facebooking, photo-stealing, poetry-stealing (oh yeaaah Erwin Arianto!), dan segala cara asoygeboy yang tersedia untuk lebih memaksimalkan kehadiran kita sebagai penyair dunia maya.

“Tuhkan Ada Hal-Hal Yang Belum Selesai” akan menghadirkan penulis Eka Kurniawan sebagai pemancing diskusi. Penulis yang cukup geeky bloody nerdy but oh so sexy ini juga akan membagi ilmu tentang cara memaksimalkan tools-tools yang disediakan oleh The Internet bagi kita, para oh-so-cool-cyborgs. Pelaku Kudeta Sastra Anya Rompas dan Mikael Johani juga akan mendampingi Master Eka. Jadi buat kalian yang suka nyolong foto2 Anya dari blog saya, juga buat para MJholics Indonesia, ini kesempatan sempurna untuk melengkapi koleksi dan memenuhi obsesi.

Nothing wrong with a little obsession, eh?

Jadi, siapkan laptop kalian. Pinjam kalau perlu, nyolong kalau punya ekstra nyali. Kami tunggu kedatangan kalian di Cafe au Lait. Jam 6 sore sampai 9 malam!

Peserta acara ini akan mendapat sertifikat P.E.N.Y.A.K.I.T.K.U.S.T.A (Penyair Kecanduan Internet Kudeta Sastra Suka-Suka) yang ditandatangani oleh saya sendiri, serta mendapat kesempatan untuk foto-foto bareng dengan who else but yours truly.

Written by Waraney Rawung

May 7, 2008 at 6:36 PM

Posted in Uncategorized

Tagged with