duniahitam

tentang hidup yang terkekang

Archive for the ‘pulang malam’ Category

Malam Yang Sangat Kora-kora

leave a comment »

Selamat pagi, teman. Sekarang sudah lewat jam dua pagi, dan kantuk belum juga menghampiri. Saya sedang duduk di meja tengah Coffeewar, menikmati lagu-lagu super galau bikin ingin garuk-garuk aspal yang dibawakan live oleh Mian Meuthia dan Hendra Timothy. Radiohead, Portishead, U2, New Order, dan nggak tau apa lagi. Semakin suicidal rasanya setelah melalui sesi curhat-berselubung-filsafat-dunia-fantasi dengan beberapa teman.

Analisa super dahsyat nan jitu dari Isky menggiring forum untuk memutuskan bahwa hidup saya setahun terakhir ini termasuk dalam mazhab filsafat Kora-kora.

Up and down, up and down, up and down, up and down, to the point that you no longer know which one is up and which one is down. In the end, you’re just there for the sake of holding on, and at one point you just get your brain wired, close your eyes, and jump ship.

Eh kampret. Nampol banget analisanya.

aku bertanya kepada temanku, apa yang beratkan pikiranmu malam ini?
jawabnya, kenapa hanya kau yang bisa terbang dan menembus tembok?

daripada dengarkan morrisey, lebih baik begini begitu si babe dan mpok royane
karena aku cinta j.a.k.a.r.t.a. di setiap lembar ototku, di setiap semburan kentutku
karena kota yang kelewat chairil ini kadang terasa begitu nihil, jeritkan a case of you
dan kita berjalan menunduk, berharap aspal kaku jadi ombak-ombak putih uluwatu

ia tak pernah pergi dari sisimu
tak kau rasakan wangi rambutnya?

 

Advertisements

Written by Waraney Rawung

January 21, 2011 at 7:16 PM

Koleksi Action Figures di Meja Kerja, Untuk Apa?

with 7 comments

Apakah kegemaran terhadap benda-benda yang berhubungan dengan Star Wars selalu identik dengan ‘digital’? Pertanyaan ini dilontarkan oleh rekan sekantor saya, Mbak Misty, pertama karena saya cerita bahwa saya baru saja menambahkan beberapa action figures Star Wars di meja kerja saya, kedua karena Nanda juga punya beberapa figures Star Wars di ruangannya.

Just added some vintage Star Wars figures to my desktop collection.

Star Wars fetish & digital

Dikaitkan dengan pertanyaan Mbak Misty, agaknya konteks ‘digital’ di sini lebih ke arah para geek, anggota Digital team di kantor kami, yaitu Nanda, Deden, Arief, dan Yoshi. Apa hubungannya geek dan action figures? Coba lihat arti geek menurut Wikipedia:

The word geek is a slang term, noting individuals as “a peculiar or otherwise odd person, especially one who is perceived to be overly obsessed with one or more things including those of intellectuality, electronics, etc.”

Singkatnya, seseorang yang punya minat atau ketertarikan khusus yang agak-agak beda dari biasanya terhadap sesuatu, bisa berupa benda, atau hal-hal lainnya. Kurang lebih itu pengertian yang saya simpulkan.

Setelah dipikir-pikir sebentar, agaknya memang ada hubungan dengan status geek atau social geek yang kami sandang. Sifat pekerjaan yang mengharuskan kami bersentuhan dan bermain-main dengan dunia internet, all things digital and electronic, sangat dekat dengan segala sesuatu yang berbau robot dan action figures.

Di kantor kami, bukan hanya saya dan Nanda yang memboyong sebagian harta karun action figures ke kantor. Ada Dita, yang hobi mengumpulkan segala hal yang berhubungan dengan Wonder Woman, dan ada Mbak Titi yang tergila-gila dengan Superman. Dita dan Mbak Titi nggak geekgeek amat, jadi apa hubungannya antara action figures dan geek dong? Entahlah.

R2-D2 di meja Nanda

Superman di ruangan Mbak Titi

Wonder Woman di ruangan Dita

Karena tulisan ini dibuat di sela-sela lembur (sudah hampir jam 9 malam) dan orang-orang yang bersangkutan sudah pulang, saya nggak tahu alasan mereka menghias ruangannya dengan mainan-mainan tersebut. Buat saya, action figures yang bertebaran di meja kerja menimbulkan rasa nyaman, seolah-olah berada di ruang belajar di rumah sendiri. Setiap hari saya bisa menghabiskan 8 sampai 12 jam bekerja di kantor. Lebih baik membuat diri senyaman mungkin, bukan? Seperti yang ditulis Hanny, teman di kantor saya dulu, dalam tulisan menarik, “Menyikapi Pekerjaan Dengan Hati Senang.”

Selain itu action figures juga dapat memancing kreativitas dan imajinasi yang sangat penting saat harus menulis proposal dan rekomendasi untuk klien. Saat sedang bosan dan suntuk, action figures juga bisa buat bermain-main sejenak. Namanya juga mainan!

There’s a child inside all of us. Are you willing to let them out from time to time?

Old Jedi knights, anggota baru di meja kerja saya.

Penjahat dan jagoan bersatu melawan kegelapan oh ye!

A Social Media Geek With No Social Life

with 10 comments

This is what's going to happen if you're spending too much time hugging PCs and laptops accompanied by action figures.

This is what's going to happen if you're spending too much time hugging PCs and laptops accompanied by action figures.

Digital team di kantor saya baru saja dapat pemberitahuan bahwa proposal kami diterima oleh klien. Another great win! Tapi di sela-sela chest-bumping dan teenage-celebrity-dancing yang berlangsung di pojokan kantor, terlintas pikiran bahwa akan makin banyak waktu yang dihabiskan di kantor sampai larut malam.

Saya sih nggak keberatan.

I’m doing what I like and getting paid very well for it. Life is good!

Nggak tahu kenapa, saya tiba-tiba teringat patung Gundam di Odaiba, Tokyo, yang saya lihat dari posting Danny Choo di blog-nya. Buat saya patung tersebut dan seluruh lapisan subculture geek dan otaku yang melingkupinya adalah sumber inspirasi buat mimpi-mimpi saya. Baik secara pribadi maupun sebagai seorang profesional.

Senada dengan tweet yang hari ini ditulis teman saya, Iskandar, yang mengutip lirik lagu Souljah:

Iskandar's tweet quoting Souljah's lyric


DigiBoyz minus @ariefr who was stuck in a meeting.

DigiBoyz minus @ariefr who was stuck in a meeting.


IndoPacific Edelman Digital Team minus Arief Rakhmadani (@ariefr)

IndoPacific Edelman Digital Team minus Arief Rakhmadani (@ariefr)

A toast to social media geeks with no social life! 🙂


Written by Waraney Rawung

August 14, 2009 at 7:13 AM

Luddite turned geek, mirip tukang listrik

leave a comment »

Written by Waraney Rawung

March 23, 2009 at 1:33 PM

Posted in foto, hari ini, pulang malam

Tagged with , , ,

from nowhere to everywhere thats why its totally wow!

with 3 comments

Minggu depan saya sudah di Bali. Mengerjakan ini-itu, promosi atas bawah, mengikuti bincang-bincang ini-itu. Lalu memperkenalkan dua buku sahabat saya ke khalayak yang setengahnya pasti non-Indonesia.

Tantangan yang cukup asik buat saya. Bagi Mikael dan Anya, mereka ke sana bukan hanya untuk meluncurkan buku (a commercial adventure), tapi juga untuk memberi pencerahan kepada bule-bule itu (an educational kick ass). Supaya mereka tahu, sastra Indonesia bukan cuma yang sampulnya eksotis-eksotis saja (gadis desa bertelanjang dada, sawah dan ladang, gunung dan laut, dan sampah-sampah semacam itu).

Pasti menyenangkan. Berkali-kali ingin ke Bali (terakhir ya saat UWRF 2007), tapi gagal terus. Sekarang, tiket sudah di tangan dan tinggal melakukan persiapan-persiapan akhir.

Yeah right. Persiapan akhir yang buaanyyyaaak. Bikin stress, perut mual-mual ingin berak angin, kepala pusing, jantung deg-degan, dan lain-lain.

Rapat, rapat dan rapat. Memang, kami sudah punya Crackhouse. Di sana sudah ada sofa yang nyaman dan rak-rak berisi buku yang bisa melancarkan ‘pengayaan’ (meminjam istilah orang super pinter di milis sebelah). Sayang, AC belum terpasang. Jadi, karena kami adalah gerombolan narsis borjuis mestizo super gaul yang anti bau ketek dan asem keringat, pindahlah kami ke tempat-tempat asoy geboy di pusat kota.

Jakarta memang benar-benar kembang api.

Minggu depan, kita nyalakan yang baru di Ubud, Bali.

http://irispustaka.wordpress.com/
http://wearenowhereanditswow.wordpress.com/
http://kotainikembangapi.wordpress.com/

Written by Waraney Rawung

October 9, 2008 at 8:44 AM

Saatnya berkemas dan cari taksi

with one comment

Akhirnya saya harus cukup puas dengan sate ayam dan lontong saja.

Setelah menunggu penuh rindu, si tukang nasi goreng yang biasa mangkal di depan Papado.net (Jalan Satrio, satu selepetan jin sebelum ITC Kuningan) ternyata tak datang-datang. Perut lapar dan maag yang mengincar membuat saya tak kuat menanti.

Sate 15 tusuk dan lontong dua. Total harga, Rp15 ribu.

Lumayan mengganjal perut. Nanti sampai di rumah mungkin harus ditambah lagi dengan donat tak berbentuk yang kemarin dimasak paman saya di rumah tante di Kelapa Gading.


Nonton DVD apa subuh ini? Di kamar masih tersisa ‘The Assasination of Jesse James’, ‘No Country for Old Men’, dan setumpuk film lagi yang belum sempat ditonton. Ada banyak juga dorama Jepang milik kakak saya yang wajib dilihat. Juga serial West Wing yang harus ditonton ulang minimal setiap minggu.

Majalah Wired, The Economist, National Geographic Traveler, dan Tempo, semuanya belum selesai dibaca. Antologi puisi Saut Situmorang yang bikin mata melek, himpunan puisi Nirwan Dewanto yang indah nan membingungkan, Pangeran Pencuri hasil minjam dari Anya, Iliad dan Odyssey yang kata MJ saya wajib baca. Semua tertumpuk manis di meja belajar.

Harus mulai dari mana ya?

Rencana mengurung diri seperti Musashi (dua tahun di menara benteng daimyo tercinta, hanya membaca dan samadhi) selama masa libur sebulan ini, ternyata tak semudah yang saya kira. Padahal tak banyak kesibukan.

Bangun tidur agak siang. Bengong satu jam mikirin oh nikmatnya tak harus bermacet-macet di jalan raya. Ke kamar mandi untuk pup. Bengong lagi di kamar. Setengah jam menimbang-nimbang harus nonton/baca apa. Satu-dua jam baca/nonton sesuatu. Makan siang/kesiangan. Bengong lagi. Tidur siang. Atau akhirnya mandi yang bersih jangan lupa sikat gigi lalu ganti baju yang trendy. Terus pergi ketemu teman-teman, membahas sidejob terjemahan-penerbitan dan lain-lain.

Nongkrong sampai malam. Kadang mabuk. Lebih sering lagi cuma rada-rada tipsy namun tetap terjaga seksi. Pulang subuh/menjelang subuh. (Perumnas Tanah Abang sunyi sekali di jam-jam segini). Ganti baju/hanya buka sepatu melonggarkan retsleting jeans. Bengong setengah jam saja. Bobok yang manis dan mimpi jadi raja pembebas bangsa pembantai monster hina.

Kegiatan rutin seperti pacaran, menemani pacar jalan-jalan, nonton film sama pacar, belanja sama pacar, dan jadi pacar yang baik dan benar sesuai Pancasila dan UUD 1945, tentu tetap dilaksanakan.

Oh betapa senangnya.

Kurang dari sebulan lagi, saya akan kerja seperti biasa. Memang cuma paruh waktu. Tapi harus masuk kantor jam setengah enam pagi. Berarti bangun jam 4 setiap hari.

Sekarang, peduli setan dengan pagi.

Sudah dua botol fruit tea nangkring di samping keyboard. Gara-gara minuman ini, setiap saya teringat internet, otomatis otak saya teringat rasa asam-manis sari buah bohong2an ini. Mungkin karena di setiap warnet yang saya datangi, ia pasti bertengger manis di lemari pendingin.

Di setiap warnet yang saya datangi.

Karena sebagai penganggur intelek, saya tak lagi dapat saluran internet cepat dari kantor. Di rumah belum tersambung internet. Mungkin nanti, kalau sudah dapat laptop baru.

Saat ini, cukup di warnet saja (walaupun malam-malam begini kadang ada orang aneh seperti gadis yang sebenarnya lumayan manis itu tapi agaknya sering keluar malam karena mukanya kok agak keriput ya yang terus-menerus melirik ke arah saya tapi agaknya cuma karena lapar saja karena setelah pesanan ayam bakarnya datang dia tak nengok-nengok lagi mungkin karena sekarang saya gendut seperti ayam bakar).

Jam tiga pagi. Saatnya berkemas dan cari taksi.

Written by Waraney Rawung

May 7, 2008 at 8:09 PM

Posted in pulang malam

Laksmi Good Food, Aksara Selingkuh Ubud, dan Penyakit Kusta Memagut

leave a comment »

Menurut Yoshi, kalau kemarin malam toko buku Aksara di Kemang dibom, majalah Indonesia Tattler pasti akan mengeluarkan edisi duka cita. Kenapa? Soalnya hadirin yang datang (agaknya) orang-orang ‘yang megang Jakarta’ semua.

Lelaki beristri spammer CCF ini memang pintar. Kalimat singkat itu mencakup semua kesan yang saya dapat tadi malam di Aksara. Tentu saja, pendapat semacam ini ‘kena’ banget di otak cheap bastard marxist wannabee seperti saya.

Pulang kantor kemarin malam, saya buru-buru meluncur ke Kemang. Setelah beberapa bulan tak perlu berhadapan dengan kebiadaban macet jalan-jalan ke arah daerah ini, semalam saya menderita betul. Taksi yang saya tumpangi nyangkut hampir setengah jam di depan Pasaraya Blok M. Masuk ke Kemang pun harus merayap, karena jalan Kemang Raya yang bopeng-bopeng habis.

Saya tak langsung ke Aksara, tapi mampir dulu ke Casa. Ketemu dua dedengkot aksi Kudeta Sastra, Anya Rompas dan Mikael Johani. Malam itu mereka sudah melewati entah pitcher ke berapa, sedang kesenangan mencoba cocktail, sambil mematangkan rencana Kudeta Sastra yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini. Meminjam istilah dari Binhad Nurrohmat (di acara KebunKata beberapa bulan lalu), mereka benar-benar tampak seperti gembong Sastra Funky. Padahal saya yakin betul Binhad lebih funky dari kedua setan itu.

Baru saja pantat menyentuh kursi, Mikael sudah menyodorkan mp3 record player ke moncong saya. Tanya ini-itu (tentu dalam bahasa Inggris, kan kami penyair gaul super mestizo!).

Setelah bosan, baru kita turun ke bawah. Buset. Ramai betul. Saya sampai tak tahu apa yang dibicarakan oleh Laksmi (dan lain-lain) dalam acara peluncuran tadi malam. Capek melihat acara yang entah tentang apa, kami pun ganti posisi ke dekat meja makan. Saya dapat masakan India. Lumayan kenyang.

Saat keliling-keliling cuci mata dan cari makanan, tiba-tiba ketemu Wendy Stoep, teman SMA yang sudah tak ketemu hampir 10 tahun. Malam itu dia bertugas jadi security acara. Bulan Juni atau Juli depan dia akan menikah, dan janji akan mengundang saya. Stoep dulu salah satu jagoan di SMA saya. Tapi dia anaknya baik banget lho. Nggak banyak ngomong, tapi pembela teman.

Bosan melihat keramaian Aksara yang seperti dipindah dari Ubud itu (menurut Mikael, serasa di Casa Luna atau Indus – sampai bule-bulenya pun orangnya itu-itu juga! hahahaha), kami pun pindah.

Sampai di Tabac, masih cukup sepi, lagu-lagu masih enak, crowd masih ok. Makin malam lagu makin tak jelas, crowd makin aneh, waiter makin tak ramah. Males. Jam 12 kami pun cabut.

Sudah ngantuk, tapi males pulang. Tahu kan rasanya? Suami-istri spammer garing pulang, kami bertiga terus ke Starbucks Thamrin. Ngobrol satu jam, tiba-tiba manajemen Starbucks dengan baik hati memutuskan menghibur tamunya dengan renovasi ruangan. Suara bor dan lain-lain yang bikin budek akhirnya mengusir kami pindah ke sebelah.

Di Burger King tak lama. Saya sudah ngantuk dan kebelet pup. Tapi di tongkrongan terakhir ini saya dapat ide untuk buat komunitas baru. Namanya P.E.N.Y.A.K.I.T. K.U.S.T.A.

Itu singkatan keren dari PENYAIR KECANDUAN INTERNET, KUDETA SASTRA SUKA-SUKA.

Mau bergabung? Download Flock dulu lah. Nanti kita ngobrol lagi. Sekarang saya mau kerja dulu.

Foto-foto bisa dilihat di sini.

 

 

Written by Waraney Rawung

March 27, 2008 at 4:06 AM