duniahitam

tentang hidup yang terkekang

Archive for the ‘promotion’ Category

Ada Puisi dan Instagram di KebunKata “Jepret”, 24 Maret 2012!

with 4 comments

kota ini kembang api, kembang desa semanis gulali
dan aku ingin mencintainya dengan segenggam tipsy
semangkuk bakmi sepanjang pagi
dihantam hang over, yang tak kunjung let it be.

Photo by @dumpyeng.

 

 

Halo para penyair one-liner di Twitter dan jagat raya social media! Komunitas Puisi BungaMatahari akan mengadakan KebunKata “Jepret” pada tanggal 24 Maret 2012, pukul 14:00-17:00 WIB, di tempat yang sampai saat ini masih dirahasiakan.

KebunKata “Jepret” akan turut diramaikan oleh partisipasi teman-teman dari Komunitas iPhonesia. Dari tanggal 5 sampai 15 Maret 2012, mereka akan memilih puisi-puisi di Twitter yang mencantumkan hashtag #buma, dan membuatkan versi instagram dari puisi-puisi yang terpilih. Hasilnya akan dipamerkan dalam acara KebunKata “Jepret”.

Selain pameran instagram dan puisi, juga akan ada acara pembacaan puisi, permainan puisi, musikalisasi puisi, dan curcol puisi. Arena bermain yang benar-benar menyenangkan buat kamu yang baru jatuh hati, patah hati, atau sudah tak punya hati lagi!

 

Photo by @dumpyeng.

 

 

Photo by @prassprasetio.

Written by Waraney Rawung

March 6, 2012 at 4:30 PM

Day 7 with Nissan March: Jakarta Keras, Mobilmu Juga Harus Badass

with 3 comments

Jumat, 16 September, 2o11. Setelah 7 hari menggunakan mobil Nissan March untuk keperluan sehari-hari, pelajaran apa yang saya dapatkan dari pengalaman ini?

City car memang sesuai dengan kondisi jalan-jalan di kota besar seperti Jakarta. Tidak banyak jalan di kota ini yang luas dan panjang seperti jalan-jalan protokol atau bebas hambatan. Sebagian besar jalan di sini adalah jalan di kompleks perumahan atau gang-gang sempit. Medan yang saya hadapi sehari-hari adalah jalan-jalan yang hanya muat satu mobil (karena jalur satu lagi sudah jadi lahan parkir liar dan lokasi pedagang kaki lima) atau jalan empat jalur (dua kiri dan dua kanan) yang menyempit karena lagi-lagi jalur-jalur yang paling tepi sudah dipakai pedagang kaki lima atau dipadati mobil yang parkir.

Menghadapi medan seperti ini, saya perlu mobil yang punya tenaga cukup kuat (mesin 1.300-1.500 cc), yang sebanding dengan besar body-nya. Mobil ini harus cukup kecil dan mudah dikemudikan, agar lincah bermanuver di antara lautan pengendara motor serta bisa mendahului bajaj, metro mini atau mikrolet yang suka seenaknya belok kiri-kanan.

Walaupun body-nya kecil, mobil ini harus punya kabin yang lapang. Keluarga muda kelas menengah di kota ini biasanya harus mengangkut 3 sampai 4 orang. Ayah, ibu, anak (satu atau dua), dan kadang-kadang juga membawa babysitter atau sanak-saudara. Belum lagi barang-barang yang harus dibawa, sehingga bagasinya juga harus lapang.

Malam terakhir Little Miss March parkir di seberang Recapital Building.

Jakarta adalah kota yang sangat besar, dimana jarak dari satu tempat ke tempat lain seringkali begitu jauh. Bayangkan kalau seorang suami kerja di kawasan Blok M, sedangkan istrinya kerja di kawasan Gajah Mada. Karir mereka cukup baik, masing-masing sudah berada di posisi mid-level manager, atau paling tidak senior staff. Mereka hanya punya satu mobil. Mampu untuk punya dua mobil, tapi uangnya lebih baik disimpan untuk tabungan sekolah anak-anak nanti. Mereka mungkin belum punya anak, jadi tak masalah kalau harus pulang agak malam untuk menghindari macet menggila selama rush hour.

Setiap hari, mereka berangkat pagi-pagi sekali dari rumah di kawasan pinggiran Jakarta (Cibubur, Ciledug, Bekasi, Bintaro, Serpong, Depok, you name it). Rumah-rumah di kawasan ini masih cukup terjangkau untuk kantong kaum muda kelas menengah professional seperti mereka. Pagi hari adalah giliran si suami mengemudi. Setelah ia sampai di kantornya di Blok M, sang istri melanjutkan menyetir sendiri ke kantornya di kawasan Gajah Mada. Malamnya, kadang sang istri menjemput suami, lalu suaminya menyetir sampai ke rumah. Atau kadang-kadang mereka ketemu dulu di Senayan atau Thamrin, makan malam sambil menunggu macet.

Kalau mereka beruntung dan tak ada kejadian luar biasa menimpa Jakarta seperti gempa bumi, hujan deras yang menimbulkan genangan air, demonstrasi, kerusuhan, atau acara organisasi masyarakat yang menutup separuh jalan, mereka bisa pulang dan sampai di rumah sekitar pukul 22:00-23:00. Seringkali, tanpa kejadian luar biasa pun Jakarta tetap macet menggila, dan mereka hanya bisa menghela napas sambil memijit betis yang pegal akibat menginjak kopling ribuan kali dalam sehari.

Hidup di Jakarta berarti menghabiskan sebagian besar waktu di jalanan. Memilih mobil yang tepat berarti memenangkan separuh pertandingan melawan lelah dilanda macet dan dompet yang bocor karena harga bahan bakar terus naik.

Jakarta keras, masbro dan jengsis. Mobilmu juga harus badass.

Nissan March. Jalan Adityawarman, seberang Recapital Building.

Written by Waraney Rawung

September 17, 2011 at 2:02 PM

Day 6 with Nissan March: Safari Malam di Selatan Jakarta

leave a comment »

Apa lagu favoritmu saat sedang mengemudi di malam hari, keliling kota di bawah sorotan lampu-lampu merkuri? Lagu favorit night driving saya adalah ‘Safari Malam’ dari album ‘Material Dansa Galau’ milik post punk band The Safari. Semua lagu dalam album itu benar-benar nampol rasanya kalau didengarkan sambil nyetir sendirian malam-malam.

“Habiskan malam. Bersama rembulan!”*

“Malam-malam kutelan temaram, di pojokan kota yang sedang sibuk berdandan.”**

Kamis, 15 September 2011, jam 18:30 WIB. Lagu-lagu The Safari menemani saya dalam perjalanan singkat dari Jl. Adityawarman, Blok M, menuju Kemang Village, Jl. Antasari. Malam itu Jakarta hujan deras, setelah berbulan-bulan dilanda kekeringan. Surprise, surprise, tak sampai 30 menit saya sudah sampai di tempat tujuan. Rute yang biasanya macet menyebalkan karena proyek fly over Antasari-Lebak Bulus itu, ternyata lancar sekali. Hanya sedikit tersendat menjelang belokan Kemang Raya. Surprise, surprise.

Jadi, agenda saya malam itu adalah ‘menjadi teman dan pendengar yang baik’, karena beberapa jam sebelumnya, ada pesan yang masuk di BlackBerry saya. “I really need to talk to you. Can we meet?”

Dua jam menghabiskan quality time mendengarkan cerita teman, sambil duduk-duduk minum hazelnut latte, menikmati sejuknya malam Jakarta sehabis hujan. Hilang semua letih sisa kerja sehari penuh. Teman dekat adalah berkat, teman lama adalah harta, teman baru adalah candu.

Little Miss March meluncur keluar dari tempat parkir di depan Kemang Village sekitar pukul 21.00 WIB. Saya masih belum ingin pulang, dan memutuskan untuk keliling-keliling dulu. Diiringi lengkingan vokal Edo Wallad, saya bawa March melalui jalan-jalan di beberapa wilayah di Jakarta Selatan.

Sekitar pukul 23:00 WIB, saya tiba di parkiran Rumah Susun Tanah Abang. Sebelum mematikan mesin, saya melirik indikator bahan bakar di dashboard March. Sudah hari ke-6 dari program 7 Days with March yang saya ikuti, dengan pemakaian mobil yang lebih sering dari biasanya. Ternyata tangki bensin masih terisi lebih dari setengah.

Safari malam, anyone?

March, di depan Times Bookstore, Kemang Village.

* Lirik lagu ‘Safari Malam’, The Safari

** Lirik lagu ‘Malam-malam Kutelan Temaram’, The Safari

Written by Waraney Rawung

September 17, 2011 at 2:26 AM

Day 5 with Nissan March: Orang Gila di Tengah Macet Jakarta

leave a comment »

Rabu, 14 September, 2011. Untuk kedua kalinya, Little Miss March menikmati macetnya Jalan Sudirman dan Jalan Thamrin, Jakarta. Sore itu, saya dan Intan ingin nge-gym di Fitness First Grand Indonesia, sedangkan Aziz yang lagi nggak enak badan ingin pulang dan cepat-cepat istirahat di kost-nya di Kebon Kacang. Kami berharap jalanan lancar karena masih kena 3-in-1, dan hanya menghabiskan waktu 15 sampai 30 menit di perjalanan.

Lalu lintas di kota ini memang sulit ditebak. Walaupun 3-in-1, tetap macet dong! Kalau 3-in-1 sudah diberlakukan aja masih tetap macet, bayangkan seberapa kacau-balaunya jalan-jalan Ibukota ini tanpa peraturan yang membatasi jumlah kendaraan?

Jadi ingat gempa bumi tanggal dua tahun lalu. Gempa berkekuatan 7,3 skala Richter yang terjadi tanggal 2 September 2009, pukul 14:55 WIB itu, mengguncang Jakarta selama 2-3 menit. Orang-orang keluar dari rumah, gedung, dan segala macam bangunan tinggi-rendah, berhamburan di jalan-jalan. Masih ada beberapa gempa kecil susulan, dan kantor-kantor pun diliburkan siang itu.

Seingat saya, hari itu 3-in-1 ditiadakan. Rush hour yang biasanya berlangsung antara jam 3 sampai 8 malam, seolah dipadatkan dalam satu-dua jam saja sore itu karena semua orang ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Hasilnya? Macet total. Teman-teman yang langsung pulang ada yang baru sampai ke rumah mereka di malam hari.

March, di tengah macet Jl. Sudirman. (photo: Aziz Hasibuan http://azizonblog.blogspot.com)

Macet yang kami hadapi malam itu masih tergolong biasa-biasa saja untuk ukuran Jakarta. Berangkat dari kantor jam 18:30, sampai di Grand Indonesia satu jam kemudian. Dalam keadaan normal, jarak ini hanya menghabiskan waktu 10-15 menit.

Sambil mengemudikan March yang tersendat-sendat di Jalan Sudirman, iseng-iseng saya bilang ke Aziz yang tidur di kursi belakang. “Ziz, daripada lu tidur-tiduran nggak jelas, mendingan lu keluar sana ke jalur busway, fotoin kita. Lumayan buat bahan blog post gue.” Mendengar ini, Intan ketawa dan ikutan ngeledek Aziz. Belum selesai kami ketawa, si Aziz sudah keluar dari mobil, berdiri di jalur busway, mengeluarkan iPhone-nya, dan bersiap memotret kami.

“Ada orang gila!” teriak saya dan Intan, sambil tetap berpose. Hahahahaha.

Supir bis kucing, senang bisa nyobain Little Miss March.

Aziz, ngakunya lagi nggak enak badan, ternyata nggak mengurangi kadar nggak tahu malu. Thanks, masbro! :).

Bosen macet, mendingan foto-foto.

Intan, carpool buddy, sepulang nge-gym di FF Grand Indonesia.

Written by Waraney Rawung

September 17, 2011 at 12:36 AM

Day 4 with Nissan March: RS PGI Cikini dan Google Chrome Party

leave a comment »

Selasa, 13 September 2011. Pagi itu, jam 8.30, saya baru saja keluar dari rumah dan berjalan ke tempat parkir, ketika Ibu saya menelepon. “Ran, kamu ijin nggak masuk kantor aja ya hari ini? Kakakmu sakitnya makin parah, agaknya harus ke dokter atau ke rumah sakit.” Oh, no. Saya langsung minta ijin ke Pak Boss Deden, dan mengirim BBM ke Intan, minta maaf bahwa saya nggak bisa jemput dia dan berangkat ke kantor bersamanya pagi itu.

Kami tiba di Rumah Sakit PGI Cikini sekitar jam 10 pagi. Belum lagi tengah hari, tapi matahari di atas Jakarta sudah kejam sekali. Saya bersyukur AC dalam Nissan March cukup mampu menghalau panas yang mengepung kami sepanjang perjalanan. Saya juga senang karena suspensi March yang lembut dan kemampuan mobil itu bermanuver dengan lincah di jalan-jalan kota yang macet habis-habisan memungkinkan kami sampai ke tempat tujuan dengan cepat, nyaman dan aman.

Menurut dokter, kakak saya sakit diare berat, bukan gejala typhus seperti dugaan kami. Tak perlu menginap di rumah sakit, dan obat-obatannya pun cukup murah. Puji Tuhan.

Urusan dokter, obat, dan membeli makanan selesai sekitar pukul 3 sore dan kami langsung pulang. Ibu menemani kakak saya di rumahnya, sementara saya segera mengungsi ke rumah saya. Kami memang tinggal di rumah (unit) yang berbeda, walaupun tetap di kompleks rumah susun yang sama.

Little Miss March, di Rumah Susun Tanah Abang.

Malamnya, setelah memastikan bahwa kondisi kakak saya sudah membaik, sekitar pukul 19:00 saya berangkat ke Bengkel Night Park di Kawasan SCBD untuk menghadiri acara Google Chrome Party. Karena saat itu jam pulang kantor, saya terjebak macet di jalur lambat Jalan Sudirman antara Sampoerna Strategic Square dan Semanggi. Walaupun macet, karena jarak dari rumah ke SCBD tidak jauh, jam 8 kurang saya sudah sampai di Bengkel.

Lu lagi, lu lagi. Seperti biasa, di acara-acara offline yang melibatkan penggiat social media di Jakarta, yang datang biasanya orangnya ya itu-itu lagi. Communications people. Teman-teman yang setiap hari saya baca ocehannya di Twitter, blogger-blogger terkenal, dan teman-teman dari perusahaan public relations lainnya. 

Google Chrome Party berlangsung cukup menyenangkan. Di sana saya ketemu beberapa teman yang juga ikut 7 Days with March, yaitu Billy, Fany, dan Dita. Kami pun ngobrol-ngobrol soal Nissan March, tentang kelebihan dan kekurangannya, serta harapan kami agar Nissan Motor Indonesia menyumbangkan kepada kami mobil-mobil yang sedang kami pinjam sekarang. Hahaha. Please please pretty please?

March, di parkir basement Bengkel Night Park, SCBD.

Day 3 with Nissan March: Little Miss March Bikin Malas Pulang

leave a comment »

Tell me why? I don’t like Mondays. I want to shoot the whole day down.

Lagu super nampol dari The Boomtown Rats ini agaknya jadi lagu kebangsaan sebagian kaum pekerja yang enggan mengakhiri weekend, dan dihadapkan pada beban pekerjaan sehari-hari.

Senin, 12 September 2011, I know that I would love this Monday, and I’ll tell you why. Ini hari pertama saya membawa si Little Miss March ke kantor. Saya penasaran, apakah March yang sangat enak dikendarai sepanjang akhir minggu ini juga berperilaku sama saat didera rutinitas kerja Senin-Jumat, 9 to 5? Seperti nasehat seorang senior saya di Mapaba, klub pecinta alam semasa SMA dulu. “Ney, kalo mau tau karakter aslinya cewek, jangan liat pas lo lagi ajak dia makan di restoran mahal, tapi liat pas lo ajak dia makan di warteg!”

Hehehe. Doktrin sederhana yang didasari mental anak gunung yang serba cheap bastard itu akan saya coba terapkan pada Little Miss March. “Kelakuan lo masih enak waktu diajak ngebut di tol dan meluncur santai. Coba kita liat tingkah lo kalo kena macet Jakarta, Senin sampai Jumat.”

Sayangnya niat menyiksa March pagi itu harus ditunda, karena seperti biasa saya harus menjemput Intan, teman sekantor yang juga merangkap carpool buddy. Rencana bermacet-macet lewat Bendungan Hilir, Senayan, Hang Lekir, dan Blok M yang bisa menghabiskan waktu 45 menit sampai 1 jam, nggak jadi. Sebagai gantinya, kami (saya, Intan dan seorang joki 3-in-1) ngebut melahap jalur 3-in-1 di Jalan Sudirman, dan dalam waktu 10 menit sudah sampai di kantor. Hahaha. Siapa bilang Jakarta macet? *siap-siap dirajam massa*

Nissan March diparkir di seberang Recapital Building.

Nissan March diparkir di lantai P1, Pacific Place.

Pulang dari kantor jam 18:00 WIB, saya langsung pergi ke Fitness First Pacific Place. Selesai latihan jam 20:00, sempat ketemu sebentar dengan Dody dan Cipluk di Liberica. Dalam perjalanan dari Pacific Place menuju ke rumah, tiba-tiba saya malas pulang. Baru jam 21:00 lewat, ngapain buru-buru? Saya pun menggeber si March melibas Sudirman, Bunderan HI, Sutan Syahrir, masuk ke jalan-jalan kecil di Menteng, Cikini, dan keluar di Imam Bonjol, dan Blora, sebelum akhirnya benar-benar mengarahkan mobil itu pulang ke Tanah Abang.

Ada satu hal yang saya kurang suka dengan March. Walaupun kabinnya luas dengan ruang kaki yang lapang untuk penumpang dan pengemudi, letak pedal-pedalnya (kopling, rem, dan gas) terlalu berdekatan. Seolah-olah dirancang untuk pengemudi perempuan, atau orang yang ukuran kakinya agak kecil. Butuh penyesuaian buat saya yang hampir selalu pakai boots dan terbiasa nyetir mobil tipe minibus yang jarak antar pedalnya cukup berjauhan. Awalnya memang kagok, tapi lama-lama akhirnya terbiasa juga.

I love driving. Especially at night.

Males pulang, keliling-keliling dulu naik Nissan March.

Written by Waraney Rawung

September 14, 2011 at 11:58 PM

Day 2 with Nissan March: Puas Menghantam Parking Ramp

leave a comment »

“Mobil baru ya, Boss?” tanya Agus, tukang parkir kompleks rumah, sepulang saya dari acara halal bihalal di rumah Deden dan Uti, Sabtu malam, 10 September 2011. “Mobil pinjeman,” jawab saya. “Soalnya mobil gue dipinjem kakak gue.” Jawaban singkat itu saya pilih agar tak perlu lagi menjelaskan panjang lebar soal 7 Days with March kepada Agus. Pertanyaan serupa dilontarkan beberapa orang tetangga, yang saya jawab dengan key messages yang sama.

Malam itu sebelum tidur, saya merencanakan beberapa kegiatan dengan March, di antaranya keliling Jakarta sendirian dan pergi nonton di Plaza Senayan bersama beberapa teman kantor.

Besoknya, Minggu 11 September 2011, rencana tinggal rencana. Little Miss March hari itu hanya merasakan rute rumah (Kebon Kacang, Tanah Abang) ke gereja (Glow Fellowship Centre, di Thamrin Residence) yang hanya berjarak 5 menit. Ia harus menghabiskan sisa hari itu dengan berjemur di tempat parkir kompleks.

Menempuh jarak yang dekat itu, dan saat naik ke tempat parkir gereja yang terletak di lantai P8 Apartemen Thamrin Residence, saya kembali merasakan nikmatnya mengemudikan mobil semungil dan seresponsif March. Bodi yang kecil, dikombinasikan dengan tenaga yang kuat, membuat March gesit menghantam parking ramp Thamrin Residence yang terjal dan menikung tajam di beberapa tempat. Maklum, biasa nyetir minibus yang berat, jadi norak waktu nyetir city car yang gesit.

Pulang dari ibadah pagi di gereja, saya memilih hibernasi di rumah, dan memasang AC sedingin-dinginnya. Setelah capek bekerja seminggu, memang paling enak menghabiskan minggu siang dengan tidur, bangun sore, dan menonton beberapa DVD lama. Matahari yang menghantam Jakarta siang itu bukan main teriknya, dan rencana jalan-jalan pun saya batalkan.

Nissan March di tempat parkir gereja, Glow Fellowship Centre, Thamrin Residence.

Written by Waraney Rawung

September 14, 2011 at 5:48 PM