duniahitam

tentang hidup yang terkekang

Archive for the ‘kerja’ Category

Meja Yang Penuh Sesak dan Ruang Yang Bergerak

with 3 comments

“Work is what you do, not where you are,” kata Aulia beberapa bulan lalu. Saat itu saya sedang kesal dengan lalu lintas Jakarta yang macet gila-gilaan, dan berpikir betapa senangnya kalau saya bisa bekerja di mana saja, tanpa terikat di kantor dari jam 8.30 pagi sampai 5.30 sore.

Tugas-tugas di kantor memang sebenarnya tidak mengharuskan saya untuk terus-menerus ada di sana setiap saat. Menulis, membuat rencana komunikasi untuk klien, menjawab email, riset, dan lain-lain. Semua pekerjaan yang sebenarnya bisa saya kerjakan di mana saja, selama ada koneksi internet dan telepon yang memadai. Kalau dihitung-hitung, mungkin 70 persen pekerjaan bisa saya kerjakan offsite, atau di tempat selain kantor. Sisanya yang 30 persen adalah kegiatan tatap muka seperti rapat (internal, klien atau supplier).

Gara-gara macet Jakarta yang semakin menggila ini, saya jadi ingat bahwa beberapa tahun lalu saya sudah merasakan nikmat dan sekaligus sulitnya kerja yang tidak terikat di kantor seratus persen. Nikmat, karena jam kerja yang fleksibel. Sulit, karena banyak hal yang bisa mengganggu konsentrasi kerja.

Di tahun 2008, setelah 3 bulan jadi konsultan di Maverick (sebelumnya, di akhir tahun 2007 saya berhenti dari IndoPacific Edelman, setelah bekerja di sana kurang lebih 6 tahun), saya mengajukan permohonan berhenti ke Ong, boss di Maverick. Permohonan resign itu diterima, tapi pada saat yang bersamaan Ong juga menawarkan posisi editor paruh waktu di Gauge, divisi media monitoring Maverick.

Sejak saat itu dan sampai sepanjang sisa tahun 2008, saya merasakan nikmatnya, serta menantangnya, bekerja tanpa terlalu terikat jam kantor. Setiap hari kerja saya masuk jam 6.30 pagi dan pulang jam 12 siang. Kecuali kalau ada pekerjaan tambahan dan jam pulang molor jadi jam 2 siang. Setelah itu saya biasanya mampir ke Excellso Cafe atau Fab Cafe di Grand Indonesia (atau ke kafe-kafe lainya di daerah Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan), dan meneruskan pekerjaan di sana. Kalau sedang butuh suasana sepi, saya mampir ke Perpustakaan Depdiknas.

Yang penting ada kursi empuk, hot hazelnut latte atau hot lemon tea yang cukup murah, dan koneksi wifi yang cukup kencang. Dalam kondisi ideal (koneksi internet lancar, tingkat procrastination rendah, dan nggak sambil ngobrol dengan teman), pekerjaan saya selesai sekitar jam 5-6 sore. Kalaupun ada sisa pekerjaan, biasanya bisa diselesaikan di rumah. Yang penting beres. Tak penting benar dikerjakan dimana.

‘Hidup bebas penuh gerak’ itu tak berumur panjang. Awal tahun 2009, Hanny mengajak saya bergabung di divisi New Media yang baru dibentuk Maverick. Saya menerima tawaran tersebut, dan berakhirlah masa-masa digital nomad saya. Tiga bulan bekerja di divisi tersebut, saya dapat tawaran dari Deden untuk kembali ke IndoPacific Edelman dan jadi konsultan di Edelman Digital Jakarta, yang juga belum lama terbentuk. Selamat tinggal kerja freelance dan mobile.

Sekarang, dua tahun setelah masa-masa kejayaan kerja freelance dan berpindah-pindah dari satu coffee shop ke coffee shop lainnya, muncul lagi keinginan untuk terbebas dari kungkungan ruang kantor dan macet Jakarta di pagi hari.

Dibandingkan dengan dua tahun lalu, teknologi sekarang jauh lebih mendukung. Nggak usah yang canggih-canggih amat. Kerja saya cuma menulis dan berkomunikasi dengan klien, teman sekantor dan supplier. Jadi saya hanya perlu laptop ringan dan berkemampuan baik dengan batere tahan lama serta kapasitas memori besar. Tentu harus didukung koneksi internet yang lancar dan smartphone yang lumayan (saya pakai BlackBerry Gemini dan Nokia E71).

Setelah menimbang-nimbang, keinginan ini saya ungkapkan ke Nanda, boss saya di Edelman Digital Jakarta.

Nanda setuju bahwa sebagian besar pekerjaan saya memang memungkinkan saya untuk bekerja offsite. Tapi dia nggak mau saya terburu-buru kesenangan dan merencanakan kerja offsite sesering mungkin. Menurut dia, nggak tertutup kemungkinan saya bisa menghabiskan maksimal 2 hari dalam seminggu bekerja di luar kantor. Yang penting, pekerjaan selesai dan teman-teman di kantor nggak akan kesulitan menghubungi saya.

Ah, senangnya.

Setelah dapat ijin dari Pak Boss, apa saya langsung bisa kerja 2 hari seminggu di luar kantor? Nggak juga. Pertama, karena fasilitas pendukungnya belum lengkap. MacBook saya usianya sudah 3 tahun lebih dan baterainya sudah mati. Tanpa baterai baru, sulit bekerja di luar kantor dengan mengandalkan colokan listrik coffee shop yang jumlahnya sedikit. Selain baterai baru, saya juga belum punya fasilitas koneksi internet yang memadai. Nggak mungkin mengandalkan wifi coffee shop yang kadang cepat kadang lambat.

Nggak apa-apa. Yang penting, saat saya sudah siap mental maupun fasilitas, kemungkinan untuk bekerja tanpa terikat terus-menerus di kantor sudah ada di depan mata.

Buat saya, dimana saya bekerja memang hampir sama pentingnya dengan pekerjaan itu sendiri. Saya tipe orang yang suka membuat meja kerja di kantor menjadi senyaman mungkin. Kalau bisa, suasananya harus mirip workstation di rumah saya.

Coba lihat meja kerjamu di kantor dan ruang kerjamu di rumah. Seperti apa keadaannya? Rapi atau berantakan? Apakah kamu tipe orang yang suka bekerja di rumah, atau di kantor? Perbedaan-perbedaan ini dibahas dalam mini documentaryThe Desk’. Video singkat yang merupakan bagian dari seri mini documentary ‘Lines’ produksi L Studio ini membahas pendapat beberapa orang tentang fungsi desk atau meja kerja bagi mereka. Ada beberapa narasumber yang diwawancarai di video ini, antara lain Massimo Vignelly (disainer), David Miller (illustrator dan art director), dan Kurt Andersen (jurnalis dan novelis).

The idea is today that with a laptop and an iPhone you can work anywhere,” kata Alice Twemlow (kritikus disain)  dalam video ini. Saya ingat, beberapa tahun lalu Steve Rubel pernah mencoba melakukan perjalanan bisnis dengan hanya mengandalkan iPhone sebagai alat kerja utamanya, dan cukup berhasil.

Laptop, iPhone, iPad, BlackBerry, atau apapun mobile devices yang kita gunakan, memang hanya representasi dari workstation kita. Dengan mobile devices tersebut, kita menciptakan ruang kerja masing-masing. Menjawab email di BlackBerry saat duduk nyaman di TransJakarta, mencari bahan tulisan sambil browsing di iPhone sambil buang air di toilet, atau menulis laporan di laptop sambil ngopi-ngopi di Starbucks. Ada ‘gelembung’ atau ruang pribadi yang kita ciptakan, yang membatasi—atau menghubungkan—kita dengan sekeliling kita.

Tapi walaupun teknologi sudah memungkinkan kita untuk lebih bebas bekerja di mana saja, buat sebagian orang hal ini bukanlah segalanya. Seperti yang dibilang Twemlow, “Even today I think there’s something about coming to sit at your desk, that kind of stops your from becoming completely nomadic and drifting away entirely.” Agaknya bagi sebagian orang, punya suatu tempat yang benar-benar didedikasikan sebagai meja atau ruang kerja tetap menjadi sesuatu yang penting. Seperti saya dan meja kerja di kantor dan di rumah yang penuh mainan dan buku.

We’re not completely liberated from the desk. We’re sort of halfway between this idealized notion of the completely nomadic worker and the desk-bound robot. The reality of life today means that you can’t always be that. In fact, you have to take that idea of that working space with you.

Coba lihat apa pendapat para narasumber ‘The Desk’. Menurut Vignelly, “It’s very important to have a place where you work that is in sync with yourself”. Vignelly tidak suka meja yang berantakan. Buat dia, meja yang berantakan sama seperti meja makan yang penuh sisa hidangan malam sebelumnya. Meja yang berantakan menghilangkan semangat kerjanya. Berbeda dengan Vignelly, Miller suka dengan meja kerja yang penuh sesak dan dinding yang bertempelkan macam-macam gambar dan tulisan. “You’re surrounded by your stuff, to be around books and stuff taped up on the wall, that’s when stuff starts to happen, you start to create a world,” kata Miller. Pendapat Miller ini senada dengan Andersen, “It’s comfort, it’s home, it’s the womb.”

Saya tetap ingin kerja mobile, tak perlu setiap hari masuk kantor dan terikat di meja kerja. Tapi di sisi lain, saya juga perlu merasa memiliki sebuah meja atau ruang kerja yang benar-benar sesuai dengan pribadi saya. Jadi, faktor “where you are” atau ‘meja/ruang kerja’ apa yang saya gunakan juga ternyata penting.

Di luar kantor, saya memilih coffee shop yang nyaman, sejuk, tidak sesak pengunjung dan asap rokok, tidak bising oleh musik dan obrolan pengunjung, menyediakan makanan minuman serta koneksi wifi yang terjangkau harganya. Di rumah, berarti kamar tidur merangkap ruang kerja. Di kantor, desk itu tentu saja meja kerja yang disediakan untuk saya. Waktu masih kuliah, desk itu adalah meja kayu di BukuKafe (di Jalan Margonda, Depok) dan beberapa pojokan perpustakaan-perpustakaan di UI.

Ruang kerja saya di rumah dan di tempat kos mirip dengan deskripsi Miller dan Andersen. Sesak dengan buku-buku, pernak-pernik, dan tempelan-tempelan dinding. It’s comfort, it’s home, it’s the womb. Kamar tidur saya di rumah yang sesak dan panas (sekarang udah mendingan karena akhirnya saya pasang AC), sering saya panggil dengan nama kesayangan my womb room.

Okay. Jadi saya tipe pack rat (kalo nggak salah itu istilahnya). Orang yang suka menimbun barang dan mengelilingi dirinya dengan objek-objek kesayangan. Meja kerja di kantor dan di rumah harus ramai pajangan, buku, mainan, foto, dan hiasan. Foto meja kerja yang terakhir menunjukkan meja yang relatif lebih bersih dibandingkan yang lainnya. Itu karena di awal tahun 2011 ini saya memutuskan untuk  sebisa mungkin menghindari kerja lembur. Mengutip ucapan teman saya Kristy saat melihat foto kamar saya, “If I have that to go home to, I won’t be staying late in the office”.

Yeah right.

Setelah sebulan menikmati meja yang bersih, jam pulang kerja yang tenggo, malam-malam yang bisa dihabiskan di gym, bulan Februari yang akan datang semuanya akan berubah. Beban kerja yang semakin banyak membuat saya seringkali (lagi-lagi) harus bekerja di kantor sampai larut malam. Di saat-saat seperti itu, saya rindu suasana kamar yang sesak dan akrab. Rindu mainan-mainan dan pajangan-pajangan nggak penting, yang sekarang sudah saya bawa pulang ke rumah.

Besok, Senin 31 Januari 2011, satu-persatu benda-benda tak penting namun menyejukkan jiwa itu akan saya angkut lagi ke kantor. Mari membuat sarang lagi di luar rumah. Karena buat saya, apa yang saya kerjakan sama pentingnya dengan dimana saya mengerjakan itu.

Advertisements

BlackBerry Break & Friends You Haven’t Met

with 9 comments

Digirangers di kantor saya sekarang punya kebiasaan baru, BlackBerry Break atau BB Break, yaitu jeda satu menit dalam rapat internal. Istirahat satu menit ini diberikan untuk mereka yang ingin memeriksa BlackBerry-nya. Mulai dari menjawab email mendesak dari klien, memuaskan kehausan eksistensi terhadap mention atau retweet di Twitter, melihat gambar NSFW terbaru di BBM group dari teman-teman SD, atau sekedar melakukan aktifitas yang oh so last decade seperti membaca dan mengirim SMS.

Pemberlakuan BB Break ini bertujuan agar kami tidak perlu merasa bersalah karena sedikit-sedikit melirik layar BB, atau (lebih parah lagi) terus-menerus memeriksa/membaca/memegang BB sepanjang rapat tanpa peduli siapa yang sedang berbicara. Awalnya kami merasa aneh (walaupun tetap ketawa-ketawa sambil ngecek BB) saat kebijakan baru ini pertama kali diterapkan secara spontan oleh Pak Bos Nanda beberapa minggu lalu. Belakangan, saya merasa ini langkah yang masuk akal. Paling tidak, untuk rapat-rapat internal.

Sebagian orang mungkin merasa langkah ini sedikit kelewatan. BlackBerry Break? Yang bener aja? Get a life.

Well, this is life. Hidup di jaman ini, dengan lingkungan pergaulan saya saat ini, adalah hidup yang terputus-putus oleh gangguan dan hantaman informasi dari luar. Apakah ini akan menjadi masalah atau tidak, tergantung pilihan kita. Ketika kebiasaan ini sudah dianggap sebagai masalah (seperti rapat yang tidak fokus karena pesertanya sibuk ngecek BB), langkah pertama yang harus diambil adalah mengakui masalah itu ada, dan kemudian mencari solusinya.

Untuk saat ini, solusinya adalah BlackBerry Break.

Sibuk Konsumsi Lupa Menikmati

Setiap hari, ada ratusan entri informasi di Google Reader yang tak sempat terbaca. Belum lagi puluhan link menarik yang saya dapat dari timeline Twitter, dan ini masih ditambah dengan newsfeed di halaman home Facebook. Sekian banyak informasi yang datang, sayangnya hanya sedikit waktu dan perhatian yang tersedia. Seperti yang terjadi semalam. Sebelum pulang kantor, berkat usaha keras menulikan diri dan membutakan mata terhadap distraction di sekeliling saya, sebuah artikel lama di New York Magazine (tentang manusia modern jaman sekarang yang hidupnya penuh distraction dan information overload) akhirnya selesai saya baca. Jangan tanya apa nasib puluhan buku di kamar saya yang belum sempat dibaca.

Apapun itu namanya, kecenderungan untuk terus-menerus memeriksa BlackBerry (atau apapun merek smartphone yang kita miliki) pada saat saya seharusnya melakukan hal-hal lain yang mungkin jauh lebih penting, adalah salah satu konsekuensi budaya digital yang belakangan ini semakin dalam merasuki kehidupan saya. Ketika hidup jadi terpusat pada hal-hal yang ‘terjadi di’ atau ‘hadir melalui’ perangkat digital, dan bukannya terhubung kepada apa yang terjadi saat ini di tempat saya berada, saat itulah alarm “GILA LU YE!” di otak saya berteriak sekuat-kuatnya.

Alarm ini berulang-ulang menyala setiap kali saya latihan di pusat kebugaran Fitness First Platinum, di One Pacific Place atau di Grand Indonesia. Sekedar informasi (tanpa bermasuk menambah information overload bagi Anda, sang pembaca), pengunjung yang datang ke tempat-tempat itu akan disambut oleh beberapa slogan, di antaranya adalah, “There are no strangers, only friends you haven’t met”.

Nah, setelah hampir 3 bulan berolahraga di sana, saya merasa mereka yang datang ke sana sendirian akan sulit untuk “meet friends they haven’t met”, karena sebagian besar orang di sana datang dan pergi dalam gelembung semesta pribadi yang tertutup dari penetrasi dunia luar. Mereka, termasuk saya, berlatih dengan tetap menenteng smartphone atau iPod masing-masing. Di sela-sela latihan, sambil mendengarkan musik dari iPod, kami sibuk memeriksa pesan atau tweet terbaru di smartphone kami.

Apa sih yang penting banget sampai saya (dan para ‘pecandu’ digital lainnya) harus selalu mengecek update terbaru? Karena saya adalah anggota ‘kaum berdosa’ tersebut, saya akan coba membuat daftar tentang apa saja yang kira-kira membuat saya harus mengecek BB di sela-sela latihan:

  1. Cek email kantor
  2. Cek Twitter, lihat ada reply, mention atau retweet
  3. Cek Twitter, lihat @infoll, mengira-ngira rute terbaik saat pulang
  4. Cek Twitter, lihat timeline, ada gosip terbaru apa hari ini?
  5. Cek Facebook, ada notification apa?
  6. Cek BB message
  7. Cek SMS

Astaga. Membaca daftar ini sudah cukup bikin saya merasa tenggelam dalam information overload.

Sibuk Dokumentasi Lupa Menikmati

Seminggu yang lalu, salah satu topik yang ramai dibahas di timeline saya adalah Java Rocking Land. Dari ratusan tweet tentang musisi yang tampil, cuaca yang tak bersahabat, dan jalanan menuju Ancol yang macet menggila, ada 2 tweet yang menarik perhatian saya, yang datang dari account milik seorang teman, Leo :

Membaca tweet tersebut, saya jadi teringat pemandangan di Java Jazz beberapa tahun lalu (mungkin 2008?), saat saya menonton Level 42 dari deretan bangku-bangku atas di JCC. Selain cahaya menyilaukan yang datang dari panggung, ada kerlap-kerlip lainnya yang menarik perhatian, datang dari kerumunan penonton di depan panggung. Setelah diperhatikan, ternyata cahaya mirip kunang-kunang itu adalah ratusan cahaya layar handphone. Astaga, mereka sibuk nonton atau sibuk livetweeting/facebooking?

Lucu juga. Tenggelam dalam gelembung pribadi, tapi diiringi oleh oversharing. Seolah-olah semua yang kita lihat, pikirkan, sentuh, cicipi, dan nikmati wajib di-share ke dunia luas. Facebook, Twitter, Foursquare, dan entah apa lagi, semua menyediakan saluran bagi kita untuk mengumumkan apa yang sedang terjadi saat ini dalam gelembung pribadi kita. Kita harus terus-menerus menjawab pertanyaan “What’s Happening?” yang dilontarkan Twitter.

Saya termasuk yang banyak menumpuk dosa dalam hal oversharing. Daftar dosa saya untuk soal over-sharing ini panjang sekali, dan saya nggak heran kalau kemudian banyak teman yang capek baca timeline saya dan memutuskan untuk unfollow saya.Dua tahun lalu saat mulai aktif menggunakan Twitter, baik untuk urusan pekerjaan maupun pribadi, semua yang saya lihat-tonton-dengar-alami rasanya harus segera di-share dengan seluruh dunia. Saya sibuk livetweet di tengah-tengah konser musik, mengomentari adegan-adegan film dan bertanya ke teman-teman di timeline tentang film yang sedang saya tonton di DVD, dan mengumumkan melalui Twitter topik pembicaraan saya dan teman-teman saat kami sedang kopdar. Ehbuset. Kalau sedang kopdar aja malah sibuk online, what’s the point?

Seperti yang diungkapkan Agatha dalam tulisannya, ‘Ngobrol Langsung atau Via Twitter?’:

Buat saya, waktu di mana saya bertemu secara langsung dengan teman-teman adalah kesempatan yang mestinya dimanfaatkan untuk bisa berbincang dengan mereka. Secara langsung, tanpa diantarai oleh media apapun. Kami bisa membincangkan apapun –hanya di antara kami– tanpa perlu ‘didengar’ oleh orang lain, seperti halnya jika kami saling berbalas tweet di Twitter. Kami bisa saling bertukar cerita tentang sesuatu yang sama-sama kami tahu.

Untuk saat ini, solusi berupa BlackBery Break dan upaya keras untuk bayar hutang baca 2 buku sebulan sudah cukup buat saya. Beberapa video berikut ini juga cukup manjur jadi pengingat, agar jangan sampai terlalu lama keasyikan dengan dunia digital, lalu lupa menikmati hidup. Remember, there are friends out there that you haven’t met!

April iPad Fool’s Day

with one comment

Tepat setahun lalu, saat saya baru saja mulai terjun ke dunia social media secara profesional (sebelumnya cuma buat main-main aja), dengan polosnya saya terjebak dalam April Fool’s Day gaya social media. Hari itu, 1 April 2009, tiba-tiba beredar link dan pesan di timeline saya (tentu saja yang menyebarkan orang-orang yang saya kenal), yang menyatakan bahwa Twitter versi profesional baru saja diluncurkan. Setelah meng-klik link tersebut, dan mengikuti langkah-langkah yang ditentukan, dalam waktu singkat foto profil Twitter saya berubah, dengan tambahan banner ‘pro’ di pojok kiri bawah.

A newbie and a fool.

Bukan hanya saya yang melakukan itu. Banyak teman-teman di timeline yang juga mengikuti langkah serupa, dan dalam waktu singkat saya lihat ada banyak foto profil yang menggunakan banner ‘pro’. Belakangan saya diberitahu bahwa ‘Twitter pro’ itu hanyalah lelucon April Fool’s Day. Hahaha. Semalam, Valent mengingatkan saya tentang kejadian sialan itu.

Siang ini, saat saya sedang pusing-pusingnya menyusun proposal untuk klien, Arief mendadak datang ke pojokan digiranger kami, dan mengajak saya, Deden dan Yoshi untuk membuat lelucon April Fool’s Day lewat Twitter. Kami setuju, dan langsung minta bantuan Feri dan Ali. Ini hasilnya:

Maaf ya teman-teman yang terlanjur percaya dan turut berbahagia atas hadirnya sang iPad. Happy April Fool’s Day 🙂

Written by Waraney Rawung

April 1, 2010 at 11:48 AM

Kupang, Pulau Rote, dan Teman Yang Tak Pernah Hilang

with 5 comments

Siang ini saya tiba-tiba teringat Kupang dan Pulau Rote. Mungkin karena beban kerja yang bertambah berat akhir-akhir ini membuat saya sering berkhayal tentang faraway places. Don’t get me wrong, I love my job. Tapi di malam-malam lembur atau menanti macet Jakarta mereda, saat otak sudah terlalu korslet untuk diajak bekerja, pikiran saya biasanya melayang ke rencana-rencana traveling yang tak kunjung terlaksana.

Saya terakhir ke Kupang dan Pulau Rote di bulan November 2007. Setahun sebelumnya (2006), saya cukup beruntung bisa bolak-balik Kupang-Jakarta karena tugas kantor. Selama di sana, saya sempat ke Pulau Rote dan beberapa daerah lainnya di sekitar Kupang. Yang saya ingat tentang daerah itu adalah sebuah kota dan pulau yang kecil dengan penduduk yang ramah dan mudah tertawa, serta udara yang panas namun berangin.

Ah, sekarang saya ingat kenapa mendadak Kupang dan Rote mampir lagi di ingatan. Pagi ini saya menerima sebuah pesan di inbox Facebook dari seorang teman lama. Isi pesan tersebut singkat, tapi membangkitkan lagi kenangan tentang daerah ini, serta tentang arti teman bagi diri saya.

Jalanan di Kupang, dari dalam mobil

Pemandangan dari restoran Hotel Pantai Timor

Pantai di depan Restoran Tanjung, Kupang

Di atas kapal cepat dari Kupang menuju Ba'a, Pulau Rote

Di kapal ferry cepat menuju Pulau Rote (9 April 2006).

'Tiang Awan' dalam perjalanan menuju Pulau Rote

Perkenalan saya dengan kota Kupang dan Pulau Rote terjadi di tahun 2006, saat ditugaskan kantor untuk menjalankan program outreach klien di sana. Di tahun 2007, saya lagi-lagi dapat kesempatan untuk mengunjungi daerah tersebut, masih dengan penugasan yang tak jauh berbeda dan bertemu orang-orang yang kurang lebih sama juga.

Bedanya, di tahun 2006 saya tiba dengan hati riang gembira dan penuh semangat, sedangkan di tahun 2007 saya mendarat di lapangan terbang El Tari, Kupang, dengan suasana hati yang kurang menyenangkan. Adalah masalah pribadi yang cukup mengganggu saat itu, yang walaupun tak sampai mengganggu pekerjaan, tetap mengurangi kenikmatan jalan-jalan gratisan itu.

Hati dan pikiran yang sumpek memang sedikit terobati dengan beban pekerjaan yang sangat berat dan suguhan pemandangan Pulau Rote yang indah. Tapi yang lebih penting adalah di pulau itu saya mendapatkan teman baru, seorang dokter perempuan yang baru saja tiba dari Jakarta dan akan memenuhi tugas praktek selama kurang lebih setahun.

Sebut saja namanya M. Dia pengantin baru yang harus berpisah dari suaminya karena tuntutan pekerjaan. Wow. Mendengar ceritanya, rasanya masalah saya tak ada artinya. Saya membayangkan menjadi suami M yang harus melepaskan istri yang baru dinikahinya, yang harus bertugas di daerah terpencil. Tak terbayang bagaimana rasanya.

Sebagai dokter yang bertugas di daerah terpencil, M mendapat jatah rumah dinas. Tapi karena rumah tersebut belum siap, ia terpaksa tinggal beberapa malam di hotel tempat saya menginap. Walaupun baru saja kenal, kami langsung merasa cocok berteman. Kami sering menghabiskan waktu ngobrol di ruang makan hotel, dimana saya curhat habis-habisan dan dia mendengarkan sambil sesekali memberikan nasehat. Di siang hari, saat M sedang tak ada kerjaan, dia sering ikut saya dan beberapa teman keliling pulau dengan mobil sewaan. Saya survei tempat, sedangkan dia jalan-jalan gratisan. Hahaha.

Setelah hampir tiga minggu di Kupang dan Rote, terakhir kali saya bertemu dengan M adalah saat kapal ferry cepat yang saya naiki bersama rombongan klien meninggalkan pelabuhan Ba’a, Rote. Program outreach yang saya kerjakan sudah selesai, dan saya harus kembali ke Jakarta. M turut mengantarkan kami sampai ke pelabuhan. Saya tak akan lupa wajahnya saat itu. Masa prakteknya baru saja mulai dan baru akan berakhir setahun lagi. Suaminya mungkin baru bisa mengunjungi di bulan ketiga atau keenam. Bayangkan betapa kesepiannya dia!

Akhirnya sampai di Pantai Nemberala, Pulau Rote

Di Pantai Nemberala, Pulau Rote (2 November 2007).

Pantai xxx, Pulau Rote

Pantai Bo’a, Pulau Rote.

Menjelang matahari terbenam di Pantai xxx, Pulau Rote

Matahari terbenam di Pantai Bo’a.

Pantai xxx, Pulau Rote

Mirari dan anak-anak di Pantai xxx, Pulau Rote

M bermain bersama anak-anak di Pantai Bo’a

Mirari dan anak-anak di Pantai xxx, Pulau Rote

Hampir dua tahun berlalu sebelum saya kemudian mendengar kabar darinya lagi. Ia mengirim pesan lewat Facebook, menceritakan bahwa setelah tugasnya di Pulau Rote berakhir ia langsung pulang ke Jakarta. Tapi berita yang membuat saya shock adalah, beberapa waktu lalu suaminya meninggal dunia karena serangan jantung.

Saya hanya bisa membalas pesannya dengan kata-kata menghibur. Tak ada lagi yang bisa saya lakukan. M yang begitu baik dan sabar mendengarkan curhat saya, yang membantu saya mendinginkan pikiran dan menenangkan emosi, yang berhasil mencekoki saya dengan akal sehat dan logika, kini mengalami kedukaan hebat. Dan saya tak bisa datang dan menghiburnya.

Pagi ini, saat saya memeriksa inbox Facebook, ada pesan dari M. Singkat saja. Ia hanya menanyakan apa kabar saya, dan lain-lain. Dalam pesannya yang singkat itu saya bisa melihat betapa kuat ingatannya, karena ia masih ingat cerita-cerita saya dua tahun lalu. Saya balas pesannya, bilang bahwa saya baik-baik saja.

Sekarang saya ingat kenapa kota Kupang dan Pulau Rote begitu berarti bagi saya. Di sana saya belajar tentang artinya persahabatan, tentang teman yang benar-benar siap mendengarkan, namun tak segan untuk menegur saat kita salah langkah atau melenceng pikiran. Dan hari ini saya kembali diingatkan, bahwa sahabat sejati tak akan pernah hilang.

Matahari terbenam di Pantai xxx, Pulau Rote

Cerita-cerita lain tentang persahabatan (dari perspektif perempuan) dari blog beberapa teman:

Wanted: Teman Curhat – Salsabeela

Putus Asa Karena Cinta – Salsabeela

Bahasa Perempuan – Mbak Dos

Psst…Curhat Sejadi-jadinya – Anantya

Written by Waraney Rawung

November 25, 2009 at 2:30 AM

Anak Perawan di Sarang Social Geeks

with 7 comments

Akhirnya tim Digital di kantor saya punya anggota perempuan. Sejak pertama bergabung kembali di sini, saya menyadari bahwa komposisi tim yang mayoritas laki-laki (ada Mbak Titi, tapi dia saat ini sedang cuti hamil, and she’s like one of the boys too 🙂 ) membuat kelakuan kami seperti jocks di locker room yang sering kita tonton di film-film remaja keluaran Hollywood. Biasalah, becandaan jorok, ketawa ngakak nggak liat-liat tempat, sulit untuk bisa serius, dan kecenderungan untuk berkelakuan ekstra maskulin.

Saya jadi teringat novel Musashi yang saya baca waktu SD dulu. Di salah satu bagiannya, diceritakan bahwa Musashi (atau Kojiro musuh bebuyutannya, lupa juga) berkunjung ke sebuah perguruan samurai yang cukup terhormat di masa itu. Saat melongok ke dalam salah satu bangsal tempat para samurai (laki-laki semua tentunya) tidur, ia melihat di salah satu dinding tergantung cermin, selendang, dan alat-alat berdandan. Saya kurang ingat juga tepatnya apa, tapi yang jelas benda-benda tersebut adalah barang-barang yang biasa digunakan kaum perempuan.

Waktu Musashi (atau Kojiro?) bertanya kepada samurai yang menemaninya, jawabnya kurang lebih seperti ini, “Tidak baik bagi sekumpulan laki-laki untuk tinggal dan berkegiatan bersama-sama dalam waktu lama, tanpa ada unsur-unsur feminin dalam lingkungan mereka.”

Intinya, para samurai itu diingatkan bahwa ada yang kasar dan ada juga yang lembut, ada yang hitam dan ada yang putih. Segala sesuatu harus seimbang.

Nah, berdasarkan semangat itulah, sejak awal saya sudah mengingatkan kepada Deden dan Nanda bahwa kalau jumlah proyek dan klien yang kami tangani semakin banyak, kami harus menambah anggota baru, yang sebaiknya perempuan. Setelah pencarian yang tak lama-lama amat, kami memutuskan untuk menarik Emie dari divisi Media Monitoring untuk mengisi posisi intern Account Executive.

Welcome Emie! Sabar-sabar ya menghadapi kelakuan social geeks yang kadang-kadang menyebalkan ini! 🙂

Digiboyz mendadak ceria saat rapat gara2 intern AE baru - part 1

Digiboyz mendadak ceria saat rapat gara2 intern AE baru - part 2

Maria Hermina alias Emie, intern AE baru di Digital

Koleksi Action Figures di Meja Kerja, Untuk Apa?

with 7 comments

Apakah kegemaran terhadap benda-benda yang berhubungan dengan Star Wars selalu identik dengan ‘digital’? Pertanyaan ini dilontarkan oleh rekan sekantor saya, Mbak Misty, pertama karena saya cerita bahwa saya baru saja menambahkan beberapa action figures Star Wars di meja kerja saya, kedua karena Nanda juga punya beberapa figures Star Wars di ruangannya.

Just added some vintage Star Wars figures to my desktop collection.

Star Wars fetish & digital

Dikaitkan dengan pertanyaan Mbak Misty, agaknya konteks ‘digital’ di sini lebih ke arah para geek, anggota Digital team di kantor kami, yaitu Nanda, Deden, Arief, dan Yoshi. Apa hubungannya geek dan action figures? Coba lihat arti geek menurut Wikipedia:

The word geek is a slang term, noting individuals as “a peculiar or otherwise odd person, especially one who is perceived to be overly obsessed with one or more things including those of intellectuality, electronics, etc.”

Singkatnya, seseorang yang punya minat atau ketertarikan khusus yang agak-agak beda dari biasanya terhadap sesuatu, bisa berupa benda, atau hal-hal lainnya. Kurang lebih itu pengertian yang saya simpulkan.

Setelah dipikir-pikir sebentar, agaknya memang ada hubungan dengan status geek atau social geek yang kami sandang. Sifat pekerjaan yang mengharuskan kami bersentuhan dan bermain-main dengan dunia internet, all things digital and electronic, sangat dekat dengan segala sesuatu yang berbau robot dan action figures.

Di kantor kami, bukan hanya saya dan Nanda yang memboyong sebagian harta karun action figures ke kantor. Ada Dita, yang hobi mengumpulkan segala hal yang berhubungan dengan Wonder Woman, dan ada Mbak Titi yang tergila-gila dengan Superman. Dita dan Mbak Titi nggak geekgeek amat, jadi apa hubungannya antara action figures dan geek dong? Entahlah.

R2-D2 di meja Nanda

Superman di ruangan Mbak Titi

Wonder Woman di ruangan Dita

Karena tulisan ini dibuat di sela-sela lembur (sudah hampir jam 9 malam) dan orang-orang yang bersangkutan sudah pulang, saya nggak tahu alasan mereka menghias ruangannya dengan mainan-mainan tersebut. Buat saya, action figures yang bertebaran di meja kerja menimbulkan rasa nyaman, seolah-olah berada di ruang belajar di rumah sendiri. Setiap hari saya bisa menghabiskan 8 sampai 12 jam bekerja di kantor. Lebih baik membuat diri senyaman mungkin, bukan? Seperti yang ditulis Hanny, teman di kantor saya dulu, dalam tulisan menarik, “Menyikapi Pekerjaan Dengan Hati Senang.”

Selain itu action figures juga dapat memancing kreativitas dan imajinasi yang sangat penting saat harus menulis proposal dan rekomendasi untuk klien. Saat sedang bosan dan suntuk, action figures juga bisa buat bermain-main sejenak. Namanya juga mainan!

There’s a child inside all of us. Are you willing to let them out from time to time?

Old Jedi knights, anggota baru di meja kerja saya.

Penjahat dan jagoan bersatu melawan kegelapan oh ye!

A Social Media Geek With No Social Life

with 10 comments

This is what's going to happen if you're spending too much time hugging PCs and laptops accompanied by action figures.

This is what's going to happen if you're spending too much time hugging PCs and laptops accompanied by action figures.

Digital team di kantor saya baru saja dapat pemberitahuan bahwa proposal kami diterima oleh klien. Another great win! Tapi di sela-sela chest-bumping dan teenage-celebrity-dancing yang berlangsung di pojokan kantor, terlintas pikiran bahwa akan makin banyak waktu yang dihabiskan di kantor sampai larut malam.

Saya sih nggak keberatan.

I’m doing what I like and getting paid very well for it. Life is good!

Nggak tahu kenapa, saya tiba-tiba teringat patung Gundam di Odaiba, Tokyo, yang saya lihat dari posting Danny Choo di blog-nya. Buat saya patung tersebut dan seluruh lapisan subculture geek dan otaku yang melingkupinya adalah sumber inspirasi buat mimpi-mimpi saya. Baik secara pribadi maupun sebagai seorang profesional.

Senada dengan tweet yang hari ini ditulis teman saya, Iskandar, yang mengutip lirik lagu Souljah:

Iskandar's tweet quoting Souljah's lyric


DigiBoyz minus @ariefr who was stuck in a meeting.

DigiBoyz minus @ariefr who was stuck in a meeting.


IndoPacific Edelman Digital Team minus Arief Rakhmadani (@ariefr)

IndoPacific Edelman Digital Team minus Arief Rakhmadani (@ariefr)

A toast to social media geeks with no social life! 🙂


Written by Waraney Rawung

August 14, 2009 at 7:13 AM