duniahitam

tentang hidup yang terkekang

Day 7 with Nissan March: Jakarta Keras, Mobilmu Juga Harus Badass

with 3 comments

Jumat, 16 September, 2o11. Setelah 7 hari menggunakan mobil Nissan March untuk keperluan sehari-hari, pelajaran apa yang saya dapatkan dari pengalaman ini?

City car memang sesuai dengan kondisi jalan-jalan di kota besar seperti Jakarta. Tidak banyak jalan di kota ini yang luas dan panjang seperti jalan-jalan protokol atau bebas hambatan. Sebagian besar jalan di sini adalah jalan di kompleks perumahan atau gang-gang sempit. Medan yang saya hadapi sehari-hari adalah jalan-jalan yang hanya muat satu mobil (karena jalur satu lagi sudah jadi lahan parkir liar dan lokasi pedagang kaki lima) atau jalan empat jalur (dua kiri dan dua kanan) yang menyempit karena lagi-lagi jalur-jalur yang paling tepi sudah dipakai pedagang kaki lima atau dipadati mobil yang parkir.

Menghadapi medan seperti ini, saya perlu mobil yang punya tenaga cukup kuat (mesin 1.300-1.500 cc), yang sebanding dengan besar body-nya. Mobil ini harus cukup kecil dan mudah dikemudikan, agar lincah bermanuver di antara lautan pengendara motor serta bisa mendahului bajaj, metro mini atau mikrolet yang suka seenaknya belok kiri-kanan.

Walaupun body-nya kecil, mobil ini harus punya kabin yang lapang. Keluarga muda kelas menengah di kota ini biasanya harus mengangkut 3 sampai 4 orang. Ayah, ibu, anak (satu atau dua), dan kadang-kadang juga membawa babysitter atau sanak-saudara. Belum lagi barang-barang yang harus dibawa, sehingga bagasinya juga harus lapang.

Malam terakhir Little Miss March parkir di seberang Recapital Building.

Jakarta adalah kota yang sangat besar, dimana jarak dari satu tempat ke tempat lain seringkali begitu jauh. Bayangkan kalau seorang suami kerja di kawasan Blok M, sedangkan istrinya kerja di kawasan Gajah Mada. Karir mereka cukup baik, masing-masing sudah berada di posisi mid-level manager, atau paling tidak senior staff. Mereka hanya punya satu mobil. Mampu untuk punya dua mobil, tapi uangnya lebih baik disimpan untuk tabungan sekolah anak-anak nanti. Mereka mungkin belum punya anak, jadi tak masalah kalau harus pulang agak malam untuk menghindari macet menggila selama rush hour.

Setiap hari, mereka berangkat pagi-pagi sekali dari rumah di kawasan pinggiran Jakarta (Cibubur, Ciledug, Bekasi, Bintaro, Serpong, Depok, you name it). Rumah-rumah di kawasan ini masih cukup terjangkau untuk kantong kaum muda kelas menengah professional seperti mereka. Pagi hari adalah giliran si suami mengemudi. Setelah ia sampai di kantornya di Blok M, sang istri melanjutkan menyetir sendiri ke kantornya di kawasan Gajah Mada. Malamnya, kadang sang istri menjemput suami, lalu suaminya menyetir sampai ke rumah. Atau kadang-kadang mereka ketemu dulu di Senayan atau Thamrin, makan malam sambil menunggu macet.

Kalau mereka beruntung dan tak ada kejadian luar biasa menimpa Jakarta seperti gempa bumi, hujan deras yang menimbulkan genangan air, demonstrasi, kerusuhan, atau acara organisasi masyarakat yang menutup separuh jalan, mereka bisa pulang dan sampai di rumah sekitar pukul 22:00-23:00. Seringkali, tanpa kejadian luar biasa pun Jakarta tetap macet menggila, dan mereka hanya bisa menghela napas sambil memijit betis yang pegal akibat menginjak kopling ribuan kali dalam sehari.

Hidup di Jakarta berarti menghabiskan sebagian besar waktu di jalanan. Memilih mobil yang tepat berarti memenangkan separuh pertandingan melawan lelah dilanda macet dan dompet yang bocor karena harga bahan bakar terus naik.

Jakarta keras, masbro dan jengsis. Mobilmu juga harus badass.

Nissan March. Jalan Adityawarman, seberang Recapital Building.

Advertisements

Written by Waraney Rawung

September 17, 2011 at 2:02 PM

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Gue punya satu tambahan tuntutan, Ney: Kudu matic mobilnya. Kalo gak dengkul berasa mau copot euy..!

    Hehehe…

    Fajar Jasmin

    September 17, 2011 at 2:40 PM

    • Hahaha. Gue belum pernah bawa matic. Emang enak banget ya? *ehsumpehnorak*

      Waraney Rawung

      September 17, 2011 at 6:14 PM

  2. Agak mengorbankan akselerasi sih, Ney. Tapi suer deh, gue begitu kena matic, udah males banget bawa manual di Jakarta.

    Kalau ke luar kota sih lain, hehehehe….

    Fajar Jasmin

    September 18, 2011 at 2:58 PM


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: