duniahitam

tentang hidup yang terkekang

Seratus Malam di TransJakarta

with one comment

Sudah jam sembilan malam.

Jalan Adityawarman tak sepanas dan sepengap siang tadi. Pandanganmu lurus ke depan, dan kau berhati-hati agar ransel di pundakmu tak menghantam punggung orang-orang yang berhenti dan melihat-melihat barang dagangan di hamparan aspal Blok M. Ambil jalan sedikit memutar dan hindari kerumunan terpadat di terminal ini.

Ada polisi yang berjalan santai di tengah keramaian, sekelompok pemuda berwajah keras di depannya sukarela memberi jalan. Segera kau ambil posisi di belakangnya, mengatur langkahmu agar kalau-kalau ia mendadak berhenti, kau tak menghantam punggungnya.

Di terminal bawah tanah, pedagang-pedagang sudah mengemas barang-barang mereka. Kedua tanganmu sesekali meraba telepon genggam (di kantong depan kiri) dan dompet (kantong depan kanan), sambil tetap menjaga ransel di pundak kanan.

Kau lelah dan mengantuk, tapi tak sudi lengah dan melamun. Bergegas ke loket TransJakarta. Ambil uang kembalian karcis, diamkan saja anak jalanan yang mengemis uang kembalian itu (limaratus kali duapuluh dua hari dalam sebulan sama dengan sebelas ribu, cukup untuk tiga kali beli karcis lagi). Berikan karcis ke petugas untuk disobek, simpan sobekannya untuk penanda halaman buku, dan langsung naik ke atas.

Setengah sepuluh malam, antrian di halte masih ramai. Sabar. Satu, dua, mungkin tiga bis yang lewat dan akhirnya giliranmu tiba.

“Pelan-pelan, jangan dorong-dorongan. Lihat ke bawah,” kata petugas. Kau setengah melompat masuk dalam bis, dan udara dingin yang menghantam sejenak membekukan kulitmu.

Kau lelah dan mengantuk, tapi tak pernah lupa posisi ternyaman di dalam sana. Bukan di kursi-kursi empuk berkeringat itu, melainkan berdiri dan bersandar di pintu tengah sebelah kiri yang tak akan terbuka sampai tujuan terakhir di Kota. Tiang-tiang besinya menahan tubuhmu dan kau bisa beristirahat tanpa menjadi lengah. Di sini, siang maupun malam, adalah tempat terbaik untuk membaca, karena kedua kakimu dapat mengatur keseimbangan mengurangi goncangan, dan huruf-huruf terbaca tanpa merusak mata.

Ingat, walaupun sedikit sekali orang yang akan peduli dengan buku di tanganmu, jangan sampai sampulnya menarik perhatian tetanggamu. Mereka yang terbiasa dengan kelap-kelip telepon genggam dan percakapan rahasia, akan terganggu dengan huruf-huruf dan gambar-gambar yang terbaca untuk semua.

One Hundred Years of Solitude? Gadis setengah telanjang yang mengingatkanmu kepada gadis gypsy yang ditiduri Jose Arcadio Buendia dalam tenda pengap di tengah-tengah sirkus kampung itu? Arahkan sampulnya ke bawah, jangan ganggu lamunan bapak tua di depanmu.

“…Colonel Aureliano Buendia scratched for many hours trying to break the hard shell of his solitude.” Penumpang naik dan turun, AC yang terus menampar-nampar wajah, dan udara yang terasa basah. Bunderan HI sudah dekat. Di Halte Karet, matamu lelah karena neon di langit-langit berulangkali terhalang tangan, pundak dan ketiak yang resah.

Di luar, sepasang patung menawarkan rangkaian bunga ke belantara beton Jakarta, mengingatkanmu kepada teman yang berteriak, “Kota ini kembang api!”

“Change your belongings, and step carefully. Thank you.”

Untuk Edo Wallad. My condolences to you and your family. Prayers and thoughts for your Dad.

Advertisements

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. manis bahkan dalam keringat tanda keletihan.

    Paskah Widarani

    August 23, 2011 at 7:37 PM


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: