duniahitam

tentang hidup yang terkekang

Jakarta Kota (Darurat) Bahari?

with 14 comments

Baru dua minggu yang lalu saya menulis tentang Jakarta yang makin amburadul gara-gara banjir (maaf Fauzi Bowo, saya menolak menyebutnya sebagai ‘genangan’) dan kemacetan lalu-lintas. Sore ini, lagi-lagi saya harus ‘berenang’ menyeberangi ‘sungai’ Adityawarman di depan Recapital Building, untuk menyelamatkan Xenia tercinta dari bahaya tenggelam.

Walaupun sudah mengganti boots kesayangan dengan boots tua yang disiapkan untuk kondisi darurat seperti ini, saya kaget juga waktu nyemplung ke ‘sungai’ itu dan menyadari bahwa tinggi air sudah melewati lutut saya. Sambil berjalan pelan-pelan, di kiri-kanan terlihat mobil-mobil yang berebut melarikan diri dari banjir. Keputusan saya beberapa bulan lalu untuk beli mobil tipe minibus memang tepat. Bayangkan, air sudah menenggelamkan ban mobil saya. Lha kalo Xenia yang tinggi aja udah hampir kelelep, gimana nasibnya mobil sedan?

Foto karya Arief Rakhmadani, http://ariefr.tumblr.com

Sore ini saya menghabiskan waktu lebih dari dua jam untuk ngabur dari Adityawarman dan mengungsi di tempat parkir Pasaraya Blok M. Saya nggak berani memaksakan mobil untuk menyeberang jalan yang banjirnya makin tinggi, dari depan PLN ke Recapital. Lantai di bawah kursi pengemudi memang sempat tergenang air (gara-gara buka pintu sesaat dan ada mobil lewat mengirim gelombang air sialan), tapi mobil saya sejauh ini baik-baik saja. Siap-siap keluar uang lumayan banyak untuk mengeringkan karpet di bengkel, tapi nggak sampai mogok seperti beberapa mobil lainnya.

Selama menunggu banjir surut dan macet agak mereda, sendirian kedinginan di tempat parkir Pasaraya, saya menyibukkan diri dengan Twitter. Lucu-lucu mengenaskan benar tweet warga Jakarta yang kerepotan dengan banjir dan macet ini. Nggak heran juga kalau sang Gubernur jadi sasaran makian warga yang kesal ibukota negara ini makin amburadul.

Daripada capek mengeluh, mungkin lebih baik warga Jakarta bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuk. Beberapa waktu lalu saya sempat baca artikel (lupa dari koran apa) yang meramalkan Jakarta akan tenggelam beberapa puluh tahun lagi, karena permukaan tanah kota ini terus-menerus turun akibat air tanah yang berkurang dan karena sebab-sebab lainnya. Agaknya, sebelum Jakarta tenggelam, akan ada banyak bencana yang mampir menghampiri warganya. Mulai dari banjir, tanah ambles, sampai kegagalan transportasi yang tak terobati.

Karena kita cinta Jakarta dan enggan pindah dari sini, yuk kita bangun rumah tinggi-tinggi, beli mobil tipe minibus atau SUV, dan siapkan perbekalan (pakaian, makanan, minuman, batere cadangan, dll) di mobil dan kantor untuk saat-saat darurat. Sukur-sukur bisa cepat kaya agar mampu beli Humvee. Ayo kita bangun sebanyak-banyaknya shopping mall, gedung perkantoran, dan apartemen. Lebih bagus lagi kalau semua gedung di Jakarta bisa terhubung satu sama lain, agar warganya tak perlu keluar gedung. Cukup jalan kaki atau naik sepeda (mungkin mobil listrik?) dari gedung ke gedung.

Saya membayangkan dari rumah di Perumnas Tanah Abang, jalan kaki (di udara terbuka), masuk ke Grand Indonesia atau Plaza Indonesia, dan dari sana langsung ke kantor di daerah Blok M. Bisa jalan kaki di koridor-koridor ber-AC, atau naik mobil listrik. Seperti di film Blade Runner, Akira, atau film-film fiksi ilmiah lainnya.

Mari kita menuju Jakarta, Kota (Darurat) Bahari! 🙂

Berikut screen captures dari Twitter updates milik Daniel Giovanni, Thomas Arie, Budiono Darsono, Akmal Nasery Basral, Gandrasta, dan Dimas Novriandi yang saya rasa cukup menggambarkan suasana hati orang-orang di timeline saya saat itu. Ada lebih banyak lagi foto-foto banjir dan makian-makian buat Foke. Untuk saat ini, cukup yang lucu-lucu saja. Ada juga foto dari Merdeka Coffee, Kemang, yang kebanjiran cukup parah.

*judul blog post ini meminjam tweet Thomas Arie yang nampol bener rasanya 🙂

Advertisements

14 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. […] This post was mentioned on Twitter by Waraney Rawung, Arief Rakhmadani and ati.hasantoha, Fadil Timorindo. Fadil Timorindo said: RT @waraney: Curhat colongan setelah kebanjiran: Jakarta Kota (Darurat) Bahari? http://bit.ly/duniahitam19 […]

  2. saya bersyukur tidak tinggal di jakarta dan pikir2 kl mau tinggal disana, hehehe

    deviseftia

    October 27, 2010 at 10:44 AM

    • Emang di Surabaya nggak macet dan banjir ya? Bagus lah, gak buang-buang waktu dan stress di jalan 🙂

      Waraney Rawung

      October 28, 2010 at 6:35 AM

    • semacet2nya surabaya gak separah yg dijakarta,, hehehe

      deviseftia

      October 29, 2010 at 1:03 AM

  3. Banjir disebabkan karena kurangnya daerah resapan dan semakin menumpuknya samapah sehingga menyumbat saluran air ataupun sungai. Yuk kita sama2 peduli lingkungan kita sendiri, buang sampah pada tempatnya dan mulai dari diri kita sendiri

    Pakar Hijau

    October 27, 2010 at 10:48 AM

    • Betul. Buang sampah nggak boleh sembarangan, dan mulai bikin sumur resapan biopori di pekarangan rumah masing-masing. Nice site you got there btw. Thanks.

      Waraney Rawung

      October 28, 2010 at 6:40 AM

    • you’re welcome 🙂

      Pakar Hijau

      October 29, 2010 at 1:04 AM

  4. turut prihatin..

    Dr. Acer

    October 27, 2010 at 1:47 PM

  5. Tinggal di Jakarta itu harus tough dan sabar ya, kuat menyebrangi “genangan” demi bisa pulang, sabar terjebak macet berjam2 karena genangan dimana2. Tapi idenya boleh juga tuw untung nyambungin semua gedung di Jakarta jadi gak usah takut hujan dan banjir ya.

    Salam kenal dari Pohnpei, Micronesia 🙂

    ecky

    October 29, 2010 at 4:09 AM

    • Iya, butuh mental yang kuat, hati yang sabar, dan betis yang keras (berjam-jam nginjek gas-rem-kopling / berdiri di bis / jalan kaki), hehehe. Enak kan kalau semua gedung di Jakarta nyambung? Lingkungan hidup kota pasti makin berantakan, tapi kan yang penting kita nyaman? 🙂 *siap2 dikemplang NGO lingkungan hidup*

      Salam kenal juga. Nice blog, Ecky. Hoping you’ll share more stories from Micronesia! 🙂

      Waraney Rawung

      October 29, 2010 at 6:29 AM

  6. Semoga manado ngga akan seperti Jakarta? oi to bro?

    eserzone

    October 29, 2010 at 3:17 PM

  7. kalo sampe jakarta tenggelam ada tuh lagu manado yang cocok dinyanyiin om/mas/bang/ waraney..(lupa judulnya apa..hehehe)

    ya ampyuuun,,bakudapa deng ezer lei di sini 😀

    rid

    November 18, 2010 at 5:16 AM

    • Kiapa so, nda suka bakudapa dengan kita?

      eserzone

      November 19, 2010 at 12:54 PM


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: