duniahitam

tentang hidup yang terkekang

Jakarta Yang Semakin Amburadul & Winter Collection

with 9 comments

Salah satu tema khayalan favorit saya waktu masih duduk di bangku SD adalah seandainya Jakarta mendadak dilanda musim dingin dan dihantam badai salju. Kota yang panas dan padat penduduk ini membeku, penduduknya bergelimpangan kaku. Jalan-jalan licin terbalut es dan langit yang putih menyilaukan menjadi selingan yang menyenangkan. Khayalan ini memang sedikit sadis, tapi harap maklum, ini akibat lahir dan dibesarkan di Jakarta yang sumpek dan gerah, dan rasa iri yang berkepanjangan terhadap warga Bandung (dan kota-kota dataran tinggi lainnya) yang diberkati cuaca sejuk sepanjang tahun.

Beberapa bulan belakangan, walaupun tak ada salju yang membungkus Jakarta, hujan badai dan cuaca dingin berulangkali menghantam kota ini. Di bulan-bulan yang seharusnya kemarau, malah hujan deras dan banjir yang mampir. Saya percaya ini memang efek dari global warming. Ada pergeseran pola cuaca, yang bukan hanya terjadi di Indonesia atau di Jakarta, tapi juga di seluruh dunia. Menurut sebuah artikel di The Jakarta Post, cuaca ekstrim yang akhir-akhir ini terasa mungkin akan berlanjut sampai Februari 2011. Masih kurang lebih lima bulan lagi kita harus menikmati cuaca kacau balau begini.

Bicara soal hujan deras dan banjir di Jakarta, berarti bicara soal kemacetan lalu lintas yang makin menggila. Jarak tempuh normal dari Blok M ke Tanah Abang yang hanya setengah jam menyetir santai, bisa-bisa molor jadi dua jam. Belum lagi kalau harus menempuh rute-rute langganan parkir gratis tengah jalan seperti Ciledug, Cinere, Bintaro, dan lain-lain. Siap-siap lutut dan pergelangan kaki ngilu akibat berulang-ulang menginjak gas-rem-kopling, dan jempol tangan pegel saking hebohnya marah-marah di Twitter.

Jakarta Makin Amburadul?

Halaman pertama Koran Tempo edisi hari ini yang berjudul ‘Jakarta Makin Amburadul’ dengan latar belakang foto jalanan padat kendaraan bermotor, dan tulisan Mas Wicak di blog-nya, cukup mewakili kedongkolan saya terhadap kota tercinta yang semakin berantakan ini,

Jakarta pada 2010 adalah kota yang amburadul meskipun dipimpin oleh ahli tata kota lulusan Jerman: Fauzi Bowo. Ia dilantik pada 7 Oktober 2007 sebagai gubernur ibu kota negara.

Pada mulanya dia berjanji memperbaiki keadaan. Kemudian sejumlah rencana disusun rapi, dikerjakan dalam ruang yang senyap. Bahkan nyaris tak ada yang sadar apa yang sebetulnya sudah dia kerjakan untuk memoles wajah Jakarta.

Reaksi pertama saya saat membaca tulisan Mas Wicak adalah berteriak “Setuju!” Siapa lagi yang harus bertanggung jawab atas kota yang makin amburadul ini, kalau bukan Pak Gubernur? Coba lakukan Twitter search dengan kata kunci ‘foke’, dan lihat segudang keluhan yang dilontarkan publik kepada Fauzi Bowo. Lalu apa jawabannya terhadap keluhan warga yang kebanjiran? Jangan cuma bersembunyi di balik definisi ‘banjir’ dan ‘genangan’ dong! Mana konsep transportasi massa yang dijanjikan saat kampanye dulu?

Okay. Puas teriak setuju dan menuntut janji dikabulkan, lalu apa? Bagaimana kalau setelah masa jabatan Foke selesai dan ia digantikan gubernur baru, tapi Jakarta tetap (dan mungkin semakin) amburadul? Apa kita cuma puas menunggu aja? Ada nggak yang bisa kita lakukan sebagai warga kota, yang bisa membuat kota ini lebih enak ditinggali? Ini pertanyaan beneran lho, karena saya bener-bener nggak tahu jawabannya.

Jakarta, Winter Collection?

Marah-marah nggak ada gunanya, sedangkan banjir – eh salah, genangan air sesaat akibat hujan, maaf Pak Gubernur :p – dan cuaca nggak keruan harus kita hadapi setiap hari. Paling tidak sampai bulan Februari 2011, kalau prediksi BMKG tidak meleset. Untuk itu, saya menyimpan beberapa jaket tebal, kaos kaki, celana panjang, baju dan payung cadangan di mobil dan kantor. Genangan air yang menenggelamkan Jalan Adityawarman beberapa hari lalu bahkan membuat saya harus menambah winter collection tadi dengan sepasang sepatu bot tua.

Siapa yang menyangka bahwa Jalan Adityawarman di depan Recapital Building (kantor saya ada di lantai 3 gedung itu) dalam waktu setengah jam bisa berubah jadi sungai kecil, seperti yang terekam dalam foto tahun lalu di bawah ini? Dua tahun lalu, genangan itu bahkan sedemikian dalamnya, sampai mobil-mobil sedan yang diparkir di sana kemasukan air. Nah, tahun ini genangan serupa sudah beberapa kali terjadi. Yang paling parah Senin, 4 Oktober 2010 lalu, saat ketinggiannya hampir selutut orang dewasa.

Karena parkir di Recapital Building mahal buat ukuran dompet saya, saya memarkir mobil di pinggir jalan seberang gedung, tepat di samping PLN. Risikonya, saat hujan dan genangan air meninggi, mobil harus dipindahkan ke parkiran di dalam Recapital. Dua minggu belakangan ini, saya sudah nyemplung dua kali untuk memindahkan mobil  ke lokasi yang lebih aman. Mobil saya memang tipe minibus yang cukup tinggi, tapi saya nggak mau ambil resiko mobil itu kelelep genangan yang berubah jadi banjir.

Nah, kalau keseringan nyemplung di air yang kotor, boots kesayangan saya bisa cepat rusak. Bersihinnya bikin capek dan keringnya lama banget. Mau nyemplung pakai sandal jepit, ngeri kaki kesangkut benda-benda tajam atau digigit tikus. Solusi yang saya pilih adalah: sedia sepatu bot tua sebelum genangan Jakarta melanda. Sayangnya sepatu bot tua ini kurang tinggi untuk melindungi kaki. Bulan depan saya berencana beli sepatu bot tukang kebun atau wellington boots yang melindungi kaki sampai di bawah lutut. Sukur-sukur bisa dapat yang agak keren seperti ini dan ini.

Sekarang jam 16:48 WIB, dan di luar hujan deras lagi. Sebentar lagi mungkin pengeras suara gedung akan mengumandangkan pengumuman, “Perhatian, perhatian. Kepada tenant Recapital Building yang memarkir mobil di depan gedung, harap segera memindahkan mobilnya, karena genangan air semakin tinggi. Terima kasih.”

Advertisements

Written by Waraney Rawung

October 8, 2010 at 9:57 AM

9 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. semoga masalah banjir ini bisa semakin cepat diatasi n Jakarta nggak banjir lagi 😀

    salam kenal buat pemilik blog

    bolang

    October 10, 2010 at 9:30 AM

    • Semoga Jakarta nggak keburu tenggelam ya 🙂

      Salam kenal juga. Nice blog you have there. Jadi kepengen kemping dan naik gunung lagi! *siap-siap jogging dulu*

      Waraney Rawung

      October 12, 2010 at 7:39 AM

  2. Makin hari emang makin ngga bener jakarta. Banjir sama macetnya ngga beres-beres. Mudah-mudahan yang merasa ahlinya bener-bener bisa bikin jakarta lebih enak untuk ditinggali…

    Salam kenal yaa..

    Hurip

    October 11, 2010 at 7:46 AM

    • Iya, beberapa tahun belakangan ini macetnya makin menggila. Nggak sabar ingin punya mass rapid transportation yang benar-benar bisa mengurangi macet.

      Salam kenal juga, Mbah Hurip. Nice Bali stories you got there 🙂

      Waraney Rawung

      October 12, 2010 at 7:41 AM

  3. Sepatunya keren euy 🙂

    wiwikwae

    October 14, 2010 at 11:36 AM

  4. Sabar aja deh,,,, Jakarta emang gitu..

    Blogseven77

    October 25, 2010 at 7:42 AM

  5. […] dua minggu yang lalu saya menulis tentang Jakarta yang makin amburadul gara-gara banjir (maaf Fauzi Bowo, saya menolak […]

  6. Siapa bilang itu banjir, kalau cuman sepinggang mah itu genangan entar kalau udah se kumis baru namanya banjir tao ….

    bangpei

    October 29, 2010 at 9:58 AM


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: