duniahitam

tentang hidup yang terkekang

Archive for October 2010

Jakarta Kota (Darurat) Bahari?

with 14 comments

Baru dua minggu yang lalu saya menulis tentang Jakarta yang makin amburadul gara-gara banjir (maaf Fauzi Bowo, saya menolak menyebutnya sebagai ‘genangan’) dan kemacetan lalu-lintas. Sore ini, lagi-lagi saya harus ‘berenang’ menyeberangi ‘sungai’ Adityawarman di depan Recapital Building, untuk menyelamatkan Xenia tercinta dari bahaya tenggelam.

Walaupun sudah mengganti boots kesayangan dengan boots tua yang disiapkan untuk kondisi darurat seperti ini, saya kaget juga waktu nyemplung ke ‘sungai’ itu dan menyadari bahwa tinggi air sudah melewati lutut saya. Sambil berjalan pelan-pelan, di kiri-kanan terlihat mobil-mobil yang berebut melarikan diri dari banjir. Keputusan saya beberapa bulan lalu untuk beli mobil tipe minibus memang tepat. Bayangkan, air sudah menenggelamkan ban mobil saya. Lha kalo Xenia yang tinggi aja udah hampir kelelep, gimana nasibnya mobil sedan?

Foto karya Arief Rakhmadani, http://ariefr.tumblr.com

Sore ini saya menghabiskan waktu lebih dari dua jam untuk ngabur dari Adityawarman dan mengungsi di tempat parkir Pasaraya Blok M. Saya nggak berani memaksakan mobil untuk menyeberang jalan yang banjirnya makin tinggi, dari depan PLN ke Recapital. Lantai di bawah kursi pengemudi memang sempat tergenang air (gara-gara buka pintu sesaat dan ada mobil lewat mengirim gelombang air sialan), tapi mobil saya sejauh ini baik-baik saja. Siap-siap keluar uang lumayan banyak untuk mengeringkan karpet di bengkel, tapi nggak sampai mogok seperti beberapa mobil lainnya.

Selama menunggu banjir surut dan macet agak mereda, sendirian kedinginan di tempat parkir Pasaraya, saya menyibukkan diri dengan Twitter. Lucu-lucu mengenaskan benar tweet warga Jakarta yang kerepotan dengan banjir dan macet ini. Nggak heran juga kalau sang Gubernur jadi sasaran makian warga yang kesal ibukota negara ini makin amburadul.

Daripada capek mengeluh, mungkin lebih baik warga Jakarta bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuk. Beberapa waktu lalu saya sempat baca artikel (lupa dari koran apa) yang meramalkan Jakarta akan tenggelam beberapa puluh tahun lagi, karena permukaan tanah kota ini terus-menerus turun akibat air tanah yang berkurang dan karena sebab-sebab lainnya. Agaknya, sebelum Jakarta tenggelam, akan ada banyak bencana yang mampir menghampiri warganya. Mulai dari banjir, tanah ambles, sampai kegagalan transportasi yang tak terobati.

Karena kita cinta Jakarta dan enggan pindah dari sini, yuk kita bangun rumah tinggi-tinggi, beli mobil tipe minibus atau SUV, dan siapkan perbekalan (pakaian, makanan, minuman, batere cadangan, dll) di mobil dan kantor untuk saat-saat darurat. Sukur-sukur bisa cepat kaya agar mampu beli Humvee. Ayo kita bangun sebanyak-banyaknya shopping mall, gedung perkantoran, dan apartemen. Lebih bagus lagi kalau semua gedung di Jakarta bisa terhubung satu sama lain, agar warganya tak perlu keluar gedung. Cukup jalan kaki atau naik sepeda (mungkin mobil listrik?) dari gedung ke gedung.

Saya membayangkan dari rumah di Perumnas Tanah Abang, jalan kaki (di udara terbuka), masuk ke Grand Indonesia atau Plaza Indonesia, dan dari sana langsung ke kantor di daerah Blok M. Bisa jalan kaki di koridor-koridor ber-AC, atau naik mobil listrik. Seperti di film Blade Runner, Akira, atau film-film fiksi ilmiah lainnya.

Mari kita menuju Jakarta, Kota (Darurat) Bahari! 🙂

Berikut screen captures dari Twitter updates milik Daniel Giovanni, Thomas Arie, Budiono Darsono, Akmal Nasery Basral, Gandrasta, dan Dimas Novriandi yang saya rasa cukup menggambarkan suasana hati orang-orang di timeline saya saat itu. Ada lebih banyak lagi foto-foto banjir dan makian-makian buat Foke. Untuk saat ini, cukup yang lucu-lucu saja. Ada juga foto dari Merdeka Coffee, Kemang, yang kebanjiran cukup parah.

*judul blog post ini meminjam tweet Thomas Arie yang nampol bener rasanya 🙂

Advertisements

BlackBerry Break & Friends You Haven’t Met

with 9 comments

Digirangers di kantor saya sekarang punya kebiasaan baru, BlackBerry Break atau BB Break, yaitu jeda satu menit dalam rapat internal. Istirahat satu menit ini diberikan untuk mereka yang ingin memeriksa BlackBerry-nya. Mulai dari menjawab email mendesak dari klien, memuaskan kehausan eksistensi terhadap mention atau retweet di Twitter, melihat gambar NSFW terbaru di BBM group dari teman-teman SD, atau sekedar melakukan aktifitas yang oh so last decade seperti membaca dan mengirim SMS.

Pemberlakuan BB Break ini bertujuan agar kami tidak perlu merasa bersalah karena sedikit-sedikit melirik layar BB, atau (lebih parah lagi) terus-menerus memeriksa/membaca/memegang BB sepanjang rapat tanpa peduli siapa yang sedang berbicara. Awalnya kami merasa aneh (walaupun tetap ketawa-ketawa sambil ngecek BB) saat kebijakan baru ini pertama kali diterapkan secara spontan oleh Pak Bos Nanda beberapa minggu lalu. Belakangan, saya merasa ini langkah yang masuk akal. Paling tidak, untuk rapat-rapat internal.

Sebagian orang mungkin merasa langkah ini sedikit kelewatan. BlackBerry Break? Yang bener aja? Get a life.

Well, this is life. Hidup di jaman ini, dengan lingkungan pergaulan saya saat ini, adalah hidup yang terputus-putus oleh gangguan dan hantaman informasi dari luar. Apakah ini akan menjadi masalah atau tidak, tergantung pilihan kita. Ketika kebiasaan ini sudah dianggap sebagai masalah (seperti rapat yang tidak fokus karena pesertanya sibuk ngecek BB), langkah pertama yang harus diambil adalah mengakui masalah itu ada, dan kemudian mencari solusinya.

Untuk saat ini, solusinya adalah BlackBerry Break.

Sibuk Konsumsi Lupa Menikmati

Setiap hari, ada ratusan entri informasi di Google Reader yang tak sempat terbaca. Belum lagi puluhan link menarik yang saya dapat dari timeline Twitter, dan ini masih ditambah dengan newsfeed di halaman home Facebook. Sekian banyak informasi yang datang, sayangnya hanya sedikit waktu dan perhatian yang tersedia. Seperti yang terjadi semalam. Sebelum pulang kantor, berkat usaha keras menulikan diri dan membutakan mata terhadap distraction di sekeliling saya, sebuah artikel lama di New York Magazine (tentang manusia modern jaman sekarang yang hidupnya penuh distraction dan information overload) akhirnya selesai saya baca. Jangan tanya apa nasib puluhan buku di kamar saya yang belum sempat dibaca.

Apapun itu namanya, kecenderungan untuk terus-menerus memeriksa BlackBerry (atau apapun merek smartphone yang kita miliki) pada saat saya seharusnya melakukan hal-hal lain yang mungkin jauh lebih penting, adalah salah satu konsekuensi budaya digital yang belakangan ini semakin dalam merasuki kehidupan saya. Ketika hidup jadi terpusat pada hal-hal yang ‘terjadi di’ atau ‘hadir melalui’ perangkat digital, dan bukannya terhubung kepada apa yang terjadi saat ini di tempat saya berada, saat itulah alarm “GILA LU YE!” di otak saya berteriak sekuat-kuatnya.

Alarm ini berulang-ulang menyala setiap kali saya latihan di pusat kebugaran Fitness First Platinum, di One Pacific Place atau di Grand Indonesia. Sekedar informasi (tanpa bermasuk menambah information overload bagi Anda, sang pembaca), pengunjung yang datang ke tempat-tempat itu akan disambut oleh beberapa slogan, di antaranya adalah, “There are no strangers, only friends you haven’t met”.

Nah, setelah hampir 3 bulan berolahraga di sana, saya merasa mereka yang datang ke sana sendirian akan sulit untuk “meet friends they haven’t met”, karena sebagian besar orang di sana datang dan pergi dalam gelembung semesta pribadi yang tertutup dari penetrasi dunia luar. Mereka, termasuk saya, berlatih dengan tetap menenteng smartphone atau iPod masing-masing. Di sela-sela latihan, sambil mendengarkan musik dari iPod, kami sibuk memeriksa pesan atau tweet terbaru di smartphone kami.

Apa sih yang penting banget sampai saya (dan para ‘pecandu’ digital lainnya) harus selalu mengecek update terbaru? Karena saya adalah anggota ‘kaum berdosa’ tersebut, saya akan coba membuat daftar tentang apa saja yang kira-kira membuat saya harus mengecek BB di sela-sela latihan:

  1. Cek email kantor
  2. Cek Twitter, lihat ada reply, mention atau retweet
  3. Cek Twitter, lihat @infoll, mengira-ngira rute terbaik saat pulang
  4. Cek Twitter, lihat timeline, ada gosip terbaru apa hari ini?
  5. Cek Facebook, ada notification apa?
  6. Cek BB message
  7. Cek SMS

Astaga. Membaca daftar ini sudah cukup bikin saya merasa tenggelam dalam information overload.

Sibuk Dokumentasi Lupa Menikmati

Seminggu yang lalu, salah satu topik yang ramai dibahas di timeline saya adalah Java Rocking Land. Dari ratusan tweet tentang musisi yang tampil, cuaca yang tak bersahabat, dan jalanan menuju Ancol yang macet menggila, ada 2 tweet yang menarik perhatian saya, yang datang dari account milik seorang teman, Leo :

Membaca tweet tersebut, saya jadi teringat pemandangan di Java Jazz beberapa tahun lalu (mungkin 2008?), saat saya menonton Level 42 dari deretan bangku-bangku atas di JCC. Selain cahaya menyilaukan yang datang dari panggung, ada kerlap-kerlip lainnya yang menarik perhatian, datang dari kerumunan penonton di depan panggung. Setelah diperhatikan, ternyata cahaya mirip kunang-kunang itu adalah ratusan cahaya layar handphone. Astaga, mereka sibuk nonton atau sibuk livetweeting/facebooking?

Lucu juga. Tenggelam dalam gelembung pribadi, tapi diiringi oleh oversharing. Seolah-olah semua yang kita lihat, pikirkan, sentuh, cicipi, dan nikmati wajib di-share ke dunia luas. Facebook, Twitter, Foursquare, dan entah apa lagi, semua menyediakan saluran bagi kita untuk mengumumkan apa yang sedang terjadi saat ini dalam gelembung pribadi kita. Kita harus terus-menerus menjawab pertanyaan “What’s Happening?” yang dilontarkan Twitter.

Saya termasuk yang banyak menumpuk dosa dalam hal oversharing. Daftar dosa saya untuk soal over-sharing ini panjang sekali, dan saya nggak heran kalau kemudian banyak teman yang capek baca timeline saya dan memutuskan untuk unfollow saya.Dua tahun lalu saat mulai aktif menggunakan Twitter, baik untuk urusan pekerjaan maupun pribadi, semua yang saya lihat-tonton-dengar-alami rasanya harus segera di-share dengan seluruh dunia. Saya sibuk livetweet di tengah-tengah konser musik, mengomentari adegan-adegan film dan bertanya ke teman-teman di timeline tentang film yang sedang saya tonton di DVD, dan mengumumkan melalui Twitter topik pembicaraan saya dan teman-teman saat kami sedang kopdar. Ehbuset. Kalau sedang kopdar aja malah sibuk online, what’s the point?

Seperti yang diungkapkan Agatha dalam tulisannya, ‘Ngobrol Langsung atau Via Twitter?’:

Buat saya, waktu di mana saya bertemu secara langsung dengan teman-teman adalah kesempatan yang mestinya dimanfaatkan untuk bisa berbincang dengan mereka. Secara langsung, tanpa diantarai oleh media apapun. Kami bisa membincangkan apapun –hanya di antara kami– tanpa perlu ‘didengar’ oleh orang lain, seperti halnya jika kami saling berbalas tweet di Twitter. Kami bisa saling bertukar cerita tentang sesuatu yang sama-sama kami tahu.

Untuk saat ini, solusi berupa BlackBery Break dan upaya keras untuk bayar hutang baca 2 buku sebulan sudah cukup buat saya. Beberapa video berikut ini juga cukup manjur jadi pengingat, agar jangan sampai terlalu lama keasyikan dengan dunia digital, lalu lupa menikmati hidup. Remember, there are friends out there that you haven’t met!

Jakarta Yang Semakin Amburadul & Winter Collection

with 9 comments

Salah satu tema khayalan favorit saya waktu masih duduk di bangku SD adalah seandainya Jakarta mendadak dilanda musim dingin dan dihantam badai salju. Kota yang panas dan padat penduduk ini membeku, penduduknya bergelimpangan kaku. Jalan-jalan licin terbalut es dan langit yang putih menyilaukan menjadi selingan yang menyenangkan. Khayalan ini memang sedikit sadis, tapi harap maklum, ini akibat lahir dan dibesarkan di Jakarta yang sumpek dan gerah, dan rasa iri yang berkepanjangan terhadap warga Bandung (dan kota-kota dataran tinggi lainnya) yang diberkati cuaca sejuk sepanjang tahun.

Beberapa bulan belakangan, walaupun tak ada salju yang membungkus Jakarta, hujan badai dan cuaca dingin berulangkali menghantam kota ini. Di bulan-bulan yang seharusnya kemarau, malah hujan deras dan banjir yang mampir. Saya percaya ini memang efek dari global warming. Ada pergeseran pola cuaca, yang bukan hanya terjadi di Indonesia atau di Jakarta, tapi juga di seluruh dunia. Menurut sebuah artikel di The Jakarta Post, cuaca ekstrim yang akhir-akhir ini terasa mungkin akan berlanjut sampai Februari 2011. Masih kurang lebih lima bulan lagi kita harus menikmati cuaca kacau balau begini.

Bicara soal hujan deras dan banjir di Jakarta, berarti bicara soal kemacetan lalu lintas yang makin menggila. Jarak tempuh normal dari Blok M ke Tanah Abang yang hanya setengah jam menyetir santai, bisa-bisa molor jadi dua jam. Belum lagi kalau harus menempuh rute-rute langganan parkir gratis tengah jalan seperti Ciledug, Cinere, Bintaro, dan lain-lain. Siap-siap lutut dan pergelangan kaki ngilu akibat berulang-ulang menginjak gas-rem-kopling, dan jempol tangan pegel saking hebohnya marah-marah di Twitter.

Jakarta Makin Amburadul?

Halaman pertama Koran Tempo edisi hari ini yang berjudul ‘Jakarta Makin Amburadul’ dengan latar belakang foto jalanan padat kendaraan bermotor, dan tulisan Mas Wicak di blog-nya, cukup mewakili kedongkolan saya terhadap kota tercinta yang semakin berantakan ini,

Jakarta pada 2010 adalah kota yang amburadul meskipun dipimpin oleh ahli tata kota lulusan Jerman: Fauzi Bowo. Ia dilantik pada 7 Oktober 2007 sebagai gubernur ibu kota negara.

Pada mulanya dia berjanji memperbaiki keadaan. Kemudian sejumlah rencana disusun rapi, dikerjakan dalam ruang yang senyap. Bahkan nyaris tak ada yang sadar apa yang sebetulnya sudah dia kerjakan untuk memoles wajah Jakarta.

Reaksi pertama saya saat membaca tulisan Mas Wicak adalah berteriak “Setuju!” Siapa lagi yang harus bertanggung jawab atas kota yang makin amburadul ini, kalau bukan Pak Gubernur? Coba lakukan Twitter search dengan kata kunci ‘foke’, dan lihat segudang keluhan yang dilontarkan publik kepada Fauzi Bowo. Lalu apa jawabannya terhadap keluhan warga yang kebanjiran? Jangan cuma bersembunyi di balik definisi ‘banjir’ dan ‘genangan’ dong! Mana konsep transportasi massa yang dijanjikan saat kampanye dulu?

Okay. Puas teriak setuju dan menuntut janji dikabulkan, lalu apa? Bagaimana kalau setelah masa jabatan Foke selesai dan ia digantikan gubernur baru, tapi Jakarta tetap (dan mungkin semakin) amburadul? Apa kita cuma puas menunggu aja? Ada nggak yang bisa kita lakukan sebagai warga kota, yang bisa membuat kota ini lebih enak ditinggali? Ini pertanyaan beneran lho, karena saya bener-bener nggak tahu jawabannya.

Jakarta, Winter Collection?

Marah-marah nggak ada gunanya, sedangkan banjir – eh salah, genangan air sesaat akibat hujan, maaf Pak Gubernur :p – dan cuaca nggak keruan harus kita hadapi setiap hari. Paling tidak sampai bulan Februari 2011, kalau prediksi BMKG tidak meleset. Untuk itu, saya menyimpan beberapa jaket tebal, kaos kaki, celana panjang, baju dan payung cadangan di mobil dan kantor. Genangan air yang menenggelamkan Jalan Adityawarman beberapa hari lalu bahkan membuat saya harus menambah winter collection tadi dengan sepasang sepatu bot tua.

Siapa yang menyangka bahwa Jalan Adityawarman di depan Recapital Building (kantor saya ada di lantai 3 gedung itu) dalam waktu setengah jam bisa berubah jadi sungai kecil, seperti yang terekam dalam foto tahun lalu di bawah ini? Dua tahun lalu, genangan itu bahkan sedemikian dalamnya, sampai mobil-mobil sedan yang diparkir di sana kemasukan air. Nah, tahun ini genangan serupa sudah beberapa kali terjadi. Yang paling parah Senin, 4 Oktober 2010 lalu, saat ketinggiannya hampir selutut orang dewasa.

Karena parkir di Recapital Building mahal buat ukuran dompet saya, saya memarkir mobil di pinggir jalan seberang gedung, tepat di samping PLN. Risikonya, saat hujan dan genangan air meninggi, mobil harus dipindahkan ke parkiran di dalam Recapital. Dua minggu belakangan ini, saya sudah nyemplung dua kali untuk memindahkan mobil  ke lokasi yang lebih aman. Mobil saya memang tipe minibus yang cukup tinggi, tapi saya nggak mau ambil resiko mobil itu kelelep genangan yang berubah jadi banjir.

Nah, kalau keseringan nyemplung di air yang kotor, boots kesayangan saya bisa cepat rusak. Bersihinnya bikin capek dan keringnya lama banget. Mau nyemplung pakai sandal jepit, ngeri kaki kesangkut benda-benda tajam atau digigit tikus. Solusi yang saya pilih adalah: sedia sepatu bot tua sebelum genangan Jakarta melanda. Sayangnya sepatu bot tua ini kurang tinggi untuk melindungi kaki. Bulan depan saya berencana beli sepatu bot tukang kebun atau wellington boots yang melindungi kaki sampai di bawah lutut. Sukur-sukur bisa dapat yang agak keren seperti ini dan ini.

Sekarang jam 16:48 WIB, dan di luar hujan deras lagi. Sebentar lagi mungkin pengeras suara gedung akan mengumandangkan pengumuman, “Perhatian, perhatian. Kepada tenant Recapital Building yang memarkir mobil di depan gedung, harap segera memindahkan mobilnya, karena genangan air semakin tinggi. Terima kasih.”

Written by Waraney Rawung

October 8, 2010 at 9:57 AM