duniahitam

tentang hidup yang terkekang

Archive for August 2009

Anak Perawan di Sarang Social Geeks

with 7 comments

Akhirnya tim Digital di kantor saya punya anggota perempuan. Sejak pertama bergabung kembali di sini, saya menyadari bahwa komposisi tim yang mayoritas laki-laki (ada Mbak Titi, tapi dia saat ini sedang cuti hamil, and she’s like one of the boys too 🙂 ) membuat kelakuan kami seperti jocks di locker room yang sering kita tonton di film-film remaja keluaran Hollywood. Biasalah, becandaan jorok, ketawa ngakak nggak liat-liat tempat, sulit untuk bisa serius, dan kecenderungan untuk berkelakuan ekstra maskulin.

Saya jadi teringat novel Musashi yang saya baca waktu SD dulu. Di salah satu bagiannya, diceritakan bahwa Musashi (atau Kojiro musuh bebuyutannya, lupa juga) berkunjung ke sebuah perguruan samurai yang cukup terhormat di masa itu. Saat melongok ke dalam salah satu bangsal tempat para samurai (laki-laki semua tentunya) tidur, ia melihat di salah satu dinding tergantung cermin, selendang, dan alat-alat berdandan. Saya kurang ingat juga tepatnya apa, tapi yang jelas benda-benda tersebut adalah barang-barang yang biasa digunakan kaum perempuan.

Waktu Musashi (atau Kojiro?) bertanya kepada samurai yang menemaninya, jawabnya kurang lebih seperti ini, “Tidak baik bagi sekumpulan laki-laki untuk tinggal dan berkegiatan bersama-sama dalam waktu lama, tanpa ada unsur-unsur feminin dalam lingkungan mereka.”

Intinya, para samurai itu diingatkan bahwa ada yang kasar dan ada juga yang lembut, ada yang hitam dan ada yang putih. Segala sesuatu harus seimbang.

Nah, berdasarkan semangat itulah, sejak awal saya sudah mengingatkan kepada Deden dan Nanda bahwa kalau jumlah proyek dan klien yang kami tangani semakin banyak, kami harus menambah anggota baru, yang sebaiknya perempuan. Setelah pencarian yang tak lama-lama amat, kami memutuskan untuk menarik Emie dari divisi Media Monitoring untuk mengisi posisi intern Account Executive.

Welcome Emie! Sabar-sabar ya menghadapi kelakuan social geeks yang kadang-kadang menyebalkan ini! 🙂

Digiboyz mendadak ceria saat rapat gara2 intern AE baru - part 1

Digiboyz mendadak ceria saat rapat gara2 intern AE baru - part 2

Maria Hermina alias Emie, intern AE baru di Digital

Advertisements

Koleksi Action Figures di Meja Kerja, Untuk Apa?

with 7 comments

Apakah kegemaran terhadap benda-benda yang berhubungan dengan Star Wars selalu identik dengan ‘digital’? Pertanyaan ini dilontarkan oleh rekan sekantor saya, Mbak Misty, pertama karena saya cerita bahwa saya baru saja menambahkan beberapa action figures Star Wars di meja kerja saya, kedua karena Nanda juga punya beberapa figures Star Wars di ruangannya.

Just added some vintage Star Wars figures to my desktop collection.

Star Wars fetish & digital

Dikaitkan dengan pertanyaan Mbak Misty, agaknya konteks ‘digital’ di sini lebih ke arah para geek, anggota Digital team di kantor kami, yaitu Nanda, Deden, Arief, dan Yoshi. Apa hubungannya geek dan action figures? Coba lihat arti geek menurut Wikipedia:

The word geek is a slang term, noting individuals as “a peculiar or otherwise odd person, especially one who is perceived to be overly obsessed with one or more things including those of intellectuality, electronics, etc.”

Singkatnya, seseorang yang punya minat atau ketertarikan khusus yang agak-agak beda dari biasanya terhadap sesuatu, bisa berupa benda, atau hal-hal lainnya. Kurang lebih itu pengertian yang saya simpulkan.

Setelah dipikir-pikir sebentar, agaknya memang ada hubungan dengan status geek atau social geek yang kami sandang. Sifat pekerjaan yang mengharuskan kami bersentuhan dan bermain-main dengan dunia internet, all things digital and electronic, sangat dekat dengan segala sesuatu yang berbau robot dan action figures.

Di kantor kami, bukan hanya saya dan Nanda yang memboyong sebagian harta karun action figures ke kantor. Ada Dita, yang hobi mengumpulkan segala hal yang berhubungan dengan Wonder Woman, dan ada Mbak Titi yang tergila-gila dengan Superman. Dita dan Mbak Titi nggak geekgeek amat, jadi apa hubungannya antara action figures dan geek dong? Entahlah.

R2-D2 di meja Nanda

Superman di ruangan Mbak Titi

Wonder Woman di ruangan Dita

Karena tulisan ini dibuat di sela-sela lembur (sudah hampir jam 9 malam) dan orang-orang yang bersangkutan sudah pulang, saya nggak tahu alasan mereka menghias ruangannya dengan mainan-mainan tersebut. Buat saya, action figures yang bertebaran di meja kerja menimbulkan rasa nyaman, seolah-olah berada di ruang belajar di rumah sendiri. Setiap hari saya bisa menghabiskan 8 sampai 12 jam bekerja di kantor. Lebih baik membuat diri senyaman mungkin, bukan? Seperti yang ditulis Hanny, teman di kantor saya dulu, dalam tulisan menarik, “Menyikapi Pekerjaan Dengan Hati Senang.”

Selain itu action figures juga dapat memancing kreativitas dan imajinasi yang sangat penting saat harus menulis proposal dan rekomendasi untuk klien. Saat sedang bosan dan suntuk, action figures juga bisa buat bermain-main sejenak. Namanya juga mainan!

There’s a child inside all of us. Are you willing to let them out from time to time?

Old Jedi knights, anggota baru di meja kerja saya.

Penjahat dan jagoan bersatu melawan kegelapan oh ye!

Amanat Bersama Indonesia Unite Untuk Kaum Pemberani

leave a comment »

Semalam, sekumpulan anak muda (dan sejumlah wakil dari generasi yang lebih tua) mendeklarasikan Amanat Bersama Indonesia Unite di acara CultureFest yang berlangsung di halaman kantor majalah Rolling Stone. Amanat Bersama ini bukanlah dokumen mati yang ditulis oleh segelintir orang yang mengeksklusifkan dirinya, melainkan disusun melalui proses penulisan bersama dalam sebuah halaman Wiki yang terbuka untuk umum sejak 9 Agustus 2009 sampai 14 Agustus 2009. Demikian bunyinya:

AMANAT BERSAMA #INDONESIAUNITE

Kami adalah generasi baru, pewaris sah Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kami adalah generasi baru, yang menolak untuk hidup dan tumbuh dengan rasa takut. Kami memilih menjadi pemberani.

Kami adalah generasi baru, yang percaya setiap kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru. Karena itu, kami akan berusaha untuk memutus rantai kekerasan melalui karya kemanusiaan di mana pun kami berada.

Kami adalah generasi baru, yang percaya penuh dengan prinsip demokrasi, kemanusiaan, kesetaraan, dan saling menghormati. Karena itu, kami menolak segala bentuk diskriminasi.

Kami adalah generasi baru, yang akan membangun sebuah bangsa dan negara yang bermartabat dan terhormat, mampu mempersatukan Indonesia, melindungi hak-hak individu, berdiri di atas semua golongan, serta memuliakan manusia-manusia yang menjadi rakyatnya.

Indonesia Unite in Twitter Search

Republik Indonesia sudah 64 tahun usianya. Apa yang bisa kamu lakukan untuknya? Banyak. Mulailah dengan bekerja dengan sebaik-baiknya, menjalankan kehidupan sehari-hari tanpa rasa takut terhadap ancaman teror. Berani menghadapi tantangan hidup yang pasti kita hadapi setiap saat, dan tak jadi pengecut yang menyembunyikan ekornya di sela-sela pantat saat kesulitan menghadang.

Berani hidup untuk mengubah nasib negeri ini menjadi lebih baik, itu kualitas yang kita butuhkan saat ini.

Bangsa Indonesia adalah bangsa pemberani, yang tak akan tunduk oleh kaum pengecut seperti teroris yang menggunakan kekerasan untuk memaksakan kehendaknya. Masa kita mau kalah sama kaum kacung kampret pengecut yang beraninya main belakang?

Sementara itu, silakan menikmati video keren yang dibuat teman-teman dari Kopdar Jakarta untuk menyambut 17 Agustus tahun ini. Mereka memutarnya secara bersamaan pada tanggal 14 Agustus lalu, tepat pukul 14.00. Saya yang tadinya mau ikut-ikutan, ketinggalan karena sibuk kerja. Tak ada kata terlambat untuk menunjukkan cinta kepada negara dan bangsa ini.

Selamat ulang tahun ke-64, Republik Indonesia. Live long and prosper!

Baca juga:

Indonesia Unite – Kami Tidak Takut – Media Ide

Pilih Sendiri Perjuanganmu Untuk Indonesia Unite – Dondi Hananto

Untuk Indonesiaku – Mbak Dos

Merdeka, Untuk Kita Semua – Dimas Novriandi

Merdeka 2.0: Deklarasi Awak Medan – Adham Somantrie

Indonesia Tercinta. Indonesia Bersatu. – Dita Firdiana F

Written by Waraney Rawung

August 17, 2009 at 9:42 AM

A Social Media Geek With No Social Life

with 10 comments

This is what's going to happen if you're spending too much time hugging PCs and laptops accompanied by action figures.

This is what's going to happen if you're spending too much time hugging PCs and laptops accompanied by action figures.

Digital team di kantor saya baru saja dapat pemberitahuan bahwa proposal kami diterima oleh klien. Another great win! Tapi di sela-sela chest-bumping dan teenage-celebrity-dancing yang berlangsung di pojokan kantor, terlintas pikiran bahwa akan makin banyak waktu yang dihabiskan di kantor sampai larut malam.

Saya sih nggak keberatan.

I’m doing what I like and getting paid very well for it. Life is good!

Nggak tahu kenapa, saya tiba-tiba teringat patung Gundam di Odaiba, Tokyo, yang saya lihat dari posting Danny Choo di blog-nya. Buat saya patung tersebut dan seluruh lapisan subculture geek dan otaku yang melingkupinya adalah sumber inspirasi buat mimpi-mimpi saya. Baik secara pribadi maupun sebagai seorang profesional.

Senada dengan tweet yang hari ini ditulis teman saya, Iskandar, yang mengutip lirik lagu Souljah:

Iskandar's tweet quoting Souljah's lyric


DigiBoyz minus @ariefr who was stuck in a meeting.

DigiBoyz minus @ariefr who was stuck in a meeting.


IndoPacific Edelman Digital Team minus Arief Rakhmadani (@ariefr)

IndoPacific Edelman Digital Team minus Arief Rakhmadani (@ariefr)

A toast to social media geeks with no social life! 🙂


Written by Waraney Rawung

August 14, 2009 at 7:13 AM

Marshanda, Markentong, dan Marji’ah

with 10 comments

Marshanda sedang jadi topik pembicaraan seru di Twitter (dan social media sites lainnya) beberapa hari ini, walaupun belum sampai jadi trending topics. Aktris dan penyanyi muda ini bikin heboh gara-gara video di YouTube, dimana ia menyanyi, lompat-lompat, menari-nari, dan ketawa-ketawa sendiri sambil meledek beberapa teman sekolahnya dulu.

Picture 5

Sekarang video itu sudah tak ada lagi di account Marshanda. Namun kita masih bisa menonton copy-nya di sini (UPDATE: maaf temans, linknya saya hapus. Setuju sama Pitra. Kasihan sama pemiliknya. Kalau mau cari, Google aje!). Namanya juga dunia online, sekali masuk susah keluar (seperti cerita seram jaman dulu, tentang pasangan yang bercinta di kuburan…hehehe, ngelantur!).

Komentar-komentar yang berhamburan di halaman account YouTube Marshanda dan account si pelaku reposting, serta di Twitter search, umumnya kejam-kejam. Ia dituduh mabok, stress, kesurupan, sampai cari sensasi. Seorang teman bahkan sempat menyangka bahwa video tersebut adalah bagian dari strategi viral marketing untuk mempromosikan sinetron terbaru aktris ini.

Marshanda di Twitter search

Saya sendiri menganggap video tersebut lucu-lucu aja. Memang orangnya juga lucu. Hehehe. But really, she’s just acting like a teenager. Bukannya mau pukul rata bahwa remaja pada umumnya memang clueless begitu, tapi kalau dipikir-pikir, kehebohan ini muncul hanya karena pelakunya punya status selebriti. Coba yang bikin video macam itu teman kita atau a nobody seperti saya. Paling-paling yang nonton cekikikan sebentar, lalu share di Twitter dan Facebook supaya bisa ketawa rame-rame.

Selain video yang bikin heboh itu, ada video-video lain yang agaknya di-upload Marshanda selama kurun waktu yang kurang lebih sama (satu minggu). Semuanya menampilkan dirinya sedang menyanyi dan bergaya macam-macam. Ada yang solo, ada juga yang trio dengan beberapa teman. Bukan sesuatu yang luar biasa juga, dan sama sekali bukan sesuatu yang pantas mendapatkan komentar negatif dan caci maki. Semua video ini sudah dihapus, dan yang tertinggal hanya tiga video ‘standar.’

Buat saya, tak ada yang salah dengan kelakuan Marshanda joget-joget dan nyanyi-nyanyi fals di depan umum. Yang jadi masalah cuma statusnya sebagai selebriti. Tapi mungkin tak ada salahnya dia pikir-pikir dulu sebelum posting. Karena seperti yang dibilang Pitra, bisa-bisa dia dituntut oleh teman-temannya yang diledek di video itu.

Lain kali Marshanda harus konsultasi dulu ke teman saya, Yoshi Febrianto, yang jago bikin video lucu. Belum lama ini seri video “Tulisanmu Puisiku” buatannya (yang katanya sudah diedit) menjadi salah satu video yang ditampilkan di festival OK Video “Comedy”. Kalau tak salah, seri video ini aslinya dibuat dadakan (dengan sang istri sebagai pemanggul kamera) saat kesal menunggu anak-anak BungaMatahari yang datang ngaret ke Kebun Raya Bogor untuk acara KebunKata “KebunRaya.”

Marshanda (dan saya juga!) bisa belajar banyak dari Yoshi soal kreativitas.

Sekarang coba lihat video “Response to Marshanda Nangis 3: Markentong dan Marji’ah Nangis”. Saya dan beberapa teman terpingkal-pingkal saat menontonnya. Waktu saya pertama menontonnya, hanya ada ratusan views, dan sekarang sudah mencapai lebih dari 4000 views. Efek word of mouth di dunia online memang mantap!

Viral effect macam ini habis-habisan diidamkan online marketers dan public relations consultants. Banyak yang mengejarnya, hanya sedikit yang berhasil mencapainya. Resepnya memang susah-susah gampang. Buat content yang sederhana tapi menarik, yang bisa membuat orang nonton berkali-kali dan mendorong kita menyebarkan link-nya kemana-mana. As simple as that, but easier said than done.

Response to Marshanda Nangis 3: Markentong dan Marji'ah Nangis

Baca juga:

Marshanda Pecas Ndahe – Ndoro Kakung

Marshanda di YouTube? – Media Ide

Would you date this Marshanda girl? – unspun

Good Girls Go Bad – Insomniac Lolita