duniahitam

tentang hidup yang terkekang

mereka bilang ini puisi!

with one comment

Cikini Raya Writers & Readers Festival

Salah satu alasan kenapa saya suka sekali pergi ke acara-acara sastra, baik di luar kota seperti Ubud Writers & Readers Festival dan Ode Kampung, maupun di dalam kota seperti Pasar Malam Sastra di Warung Apresiasi Bulungan, adalah karena di sana saya dapat banyak teman baru.

Dulu, waktu masih jadi konsultan public relation, teman baru berarti kesempatan (bisnis) baru. Ada tuntutan untuk menghasilkan sesuatu dari pertemanan dan jaringan yang makin luas itu. Teman adalah investasi, jadi jangan sampai rugi.

Mentalitas untung-rugi ini pelan-pelan hilang sejak saya berhenti jadi konsultan dan hanya kerja paruh waktu sebagai editor. Saya lebih santai berteman, tak ada lagi tuntutan kenalan dengan sebanyak mungkin orang. Hilang kewajiban menghafalkan wajah si ini dan si itu, lalu menebak-nebak, kira-kira mereka bisa menguntungkan dalam hal apa.

Tentu, sekarang di belakang saya ada BungaMatahari dan irisPUSTAKA, yang keduanya bisa diuntungkan (atau dirugikan) oleh jaringan teman saya yang semakin banyak. Tapi karena BuMa adalah lembaga non-profit, sedangkan irisPUSTAKA adalah lembaga not-yet-profitable-and-still-a-long-way-to-actually-see-any-profit, saya bisa lebih santai membawa diri. Kalau tak suka, cukup bilang halo apa kabar dan basa-basi singkat, tanpa harus  berlanjut ke mana-mana. Sedangkan kalau cocok dan suka, segala alasan bisa dicari untuk sekedar nongkrong dan ketawa-ketawa.

Misalnya, sepulang dari UWRF tahun ini, ada sekantong nama teman baru yang saya peroleh. Di antaranya Danny Yatim, Mas Dodo dan Debra Yatim, serta putri mereka Zulaika. Kami sebenarnya sudah sering bertemu sebelumnya di acara-acara di Jakarta. Di UWRF tahun lalu, Olin bahkan sudah memperkenalkan saya dengan Debra waktu acara Poetry Slam di Bebek Bengil. Tapi mereka pasti lupa.
Sampai akhirnya tahun ini kami ketemu dan kenalan lagi. Debra dan Zulaika bahkan ikut meramaikan acara peluncuran buku Anya dan Mikael.

Sepulang dari Ubud, kami tetap berhubungan lewat Facebook, dan setelah gosip kiri-kanan atas-bawah, janjian ketemuan lagi di Cafe au Lait, Jalan Cikini Raya sekian-sekian, di suatu sore yang penuh kemacetan. Kumpul-kumpul yang iseng kami namai Cikini Raya Writers & Readers Festival. Isi programnya bukan workshop atau performances, tapi gosip sedap tentang penulis dalam dan luar negeri yang di UWRF.

Dari hasil brainstorm singkat, ada empat acara yang akan dilangsungkan. Pertama, ‘Mereka Bilang Ini Puisi!‘, sebuah acara setengah poetry slam setengah workshop puisi serba santai yang diadakan hari Jumat, 14 November 2008 di  SMA Al-Izhar Pondok Labu, Jakarta Selatan. Sekolah itu punya program yang Bulan Bahasa, dan poetry slam ini adalah salah satu acara yang termasuk di dalamnya.

Kedua, KebunKata Kota, yang pengumumannya sudah saya pasang di halaman multiply saya.

Ketiga, jalan-jalan ke Ode Kampung. Saya dan Anya ke sana tahun lalu, dan pengalaman seru yang kami peroleh rasanya sayang kalau tak dibagi dengan teman-teman baru kami.

Keempat, Tupperware Party, baca-baca puisi spontan (seperti BunKat) di acara perayaan ulang tahun penyair Bibsy Soenharjo, yang mungkin akan diadakan di salah satu restoran di kawasan Ampera.

Kebetulan Martin Jankoswki, penyair Jerman kenalan kami, akan datang ke
Jakarta sepanjang pertengahan November-Desember. Kami sepakat untuk mengajak dia meramaikan acara-acara tersebut.

Mereka Bilang Ini Puisi!

Siang ini, Anya dan Mikael menjemput saya di kantor, dan kami langsung meluncur ke Al-Izhar. Acara ‘Mereka Bilang Ini Puisi!‘ diadakan di mushola SMA lantai 3, dan dihadiri oleh murid-murid kelas 1. Yang datang (atau tepatnya diharuskan datang, ada faktor pemaksaan di sini, maklum sekolah!) berjumlah kurang lebih 135 orang. Ramai benar. Mas Dodo dan Zulaika (yang memang masih sekolah di sana, kelas 3) juga ada, ditambah beberapa guru.

Debra membuka acara dengan memperkenalkan kami kepada hadirin yang usianya rata-rata separuh usia kami itu. Dia langsung memperkenalkan Mikael sebagai orang Australia yang nyasar di sini, dan mengajak tebak-tebakan asal daerah Anya dan saya berdasarkan nama kami. Ada yang menebak Anya dari Filipina, sedangkan saya disangka datang dari Ambon. Hmm. Gak apa-apa, menyerempet sedikit.

Untuk memanaskan suasana, Mikael dan Anya bergantian baca puisi, disusul Martin. Belum panas-panas juga, jadi Mikael dan Martin duet membaca puisi karya penyair bule ini (dalam bahasa Indonesia dan Jerman), yang mengundang sambutan meriah dari audiens.

Ini saatnya, pikir saya. Mereka pasti berebutan maju ke depan. Eh, enggak juga lho ternyata. Saya sudah terlalu lama meninggalkan bangku SMA, sehingga lupa bahwa di usia seperti itu, yang penting adalah crowd mentality, bukan individuality. Lha, gimana mau individual, identitas aja masih mencari?

Debra terus mengajak mereka yang berminat untuk langsung maju dan baca puisi karya sendiri, atau karya Mikael, Anya dan Martin (yang fotokopinya sudah dibagikan), dengan pancingan hadiah buku puisi Martin.

Dengan sedikit pemaksaan dan tunjuk-tunjukkan, akhirnya maju beberapa orang. Sebagian besar memilih puisi Anya. Agaknya karya si pendiri BuMa ini lebih cocok buat mereka, daripada karya Mikael dan Martin. Walaupun akhirnya ada juga satu orang yang berani baca puisi Mikael dan satu lagi yang baca puisi Martin.

Beberapa kali saat suasana terasa mulai mendingin, saya maju ke depan dan merebut mike dari tangan Debra (mengulang aksi kudeta MC suka-suka seperti di Gaya Fusion), dan menantang anak-anak itu untuk maju ke depan.

Saya sempat memberi contoh melalui pembacaan puisi spontan, benar-benar mengarang saat itu juga di tempat, untuk menunjukkan bahwa puisi bukan sesuatu yang sulit. Kata kuncinya adalah ‘menyenangkan’. Puisi itu seru, asyik, ada di mana-mana.

Dengan mike di tangan, saya hampiri hadirin yang malu-malu itu, dan langsung menyodorkan mike kepada satu-dua orang, sambil minta mereka menyebutkan kata pertama yang terpikirkan oleh mereka saat itu juga. Yang pertama menjawab ‘duduk’, dan yang kedua menjawab ‘i love you’. Ketawa ramai yang memenuhi ruangan mewarnai upaya saya menciptakan baris-baris puisi spontan nan garing dari kata-kata mereka. Cukup berhasil agaknya.

Bantuan datang dari Zulaika, yang tampil membaca puisi yang spontan diciptakannya saat itu juga, yang langsung saya buat jawabannya saat itu juga. Saya bilang ke anak-anak bergizi tinggi itu, bahwa ini yang biasa kami lakukan di dunia maya. Berbalas puisi, karena semua bisa berpuisi.

Lucunya, saya berkhotbah kepada mereka bilang bahwa tak usah mikirin bentuk, rima dan lain-lain, yang penting ekspresikan dirimu. Ternyata puisi spontan saya pun masih menggunakan rima. Rapi dan teratur. Saya baru sadar akan hal ini saat Anya dan Mike menegur saya sambil ngakak. “Gimana sih lo! Katanya gak pake rima, kok barusan rima semua isinya! Hahaha…

Acara diteruskan dengan pembacaan puisi dari dua murid Al-Izhar, dan Mas Dodo, Anya dan Martin. Saat Debra menutup acara, jam menunjukkan pukul 14:30. Lumayan, satu setengah jam mengindoktrinasi generasi sehat gizi dengan kredo semua bisa berpuisi (tuhkan, lagi-lagi berima!).

Di masa yang akan datang, saya rasa lebih baik kalau susunan acaranya seperti KebunKata dan diadakan di tempat yang lebih santai, seperti kantin sekolah atau lapangan basket. Kalau yang membuka acara kelompok musik sadis seperti Otak n Chair, pasti murid-murid SMA itu tak butuh waktu lama untuk menemukan kodrat narsis mereka, dan langsung lompat ke depan menyambar mike.

Semangat menolak tua memang tak akan habis dimakan usia. Tapi mungkin memang sudah waktunya BungaMatahari membangun basis kembali dari generasi (yang lebih) muda. Ini saatnya. Ayo kita racuni mereka dengan puisi!

Technorati Tags: , , ,

Advertisements

Written by Waraney Rawung

November 14, 2008 at 11:56 AM

Posted in Uncategorized

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. salam kenal, saya suka membaca artikel anda, jangan tanya kenapa
    http://esaifoto.wordpress.com

    esaifoto

    November 21, 2008 at 8:55 AM


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: