duniahitam

tentang hidup yang terkekang

cerita dari ubud: kembang api di galeri yang tak sepi oh wow!

leave a comment »

mikael's books & postcard invitations

Gaya Fusion ternyata lebih besar dari yang kami bayangkan. Selama ini kami hanya pernah melihat foto-foto tempat ini melalui website-nya, sebuah restoran romantis, intim, dan kecil, dengan cahaya remang-remang. Kami pikir tempat sekecil itu pasti hanya bisa memuat penonton dalam jumlah terbatas. Bagus, karena semakin sedikit yang datang, semakin mudah mengendalikan acara. Kami memang terbiasa dengan acara-acara kecil yang akrab.

Sore itu, Jumat, 17 Oktober 2008, saat berdiri di depan galeri yang luas, saya, Mikael, dan Anya langsung panik. Rasanya tak mungkin mengisi ruangan ini dengan penonton, karena pada saat bersamaan ada beberapa acara menarik lainnya yang sedang berlangsung. Sebagian besar peserta Ubud Writers & Readers Festival pasti sedang di penginapan, bersiap-siap meramaikan Poetry Slam di Restoran Bebek Bengil pukul 19:00 malam itu.

Walaupun terbiasa dengan kelompok yang kecil dan akrab, bukan berarti kami ingin tampil dalam ruang besar kosong melompong, bukan?

Oleh karena itu, sejak tiba di Ubud hari Selasa, 14 Oktober lalu, saya sudah melakukan promosi habis-habisan. Antara lain dengan membagikan postcard undangan kepada para penulis, asing maupun lokal, yang menurut perkiraan saya akan tertarik datang. Saya juga minta bantuan teman-teman volunteer untuk sebanyak-banyaknya membagikan postcard itu kepada para peserta festival.

Di dalam galeri yang serba putih dan bergema, beberapa jam sebelum acara, saya tak yakin kalau segala upaya itu akan membuahkan hasil. Tapi karena kami sudah terlanjur di sini, sekalian saja bersenang-senang dan jadikan acara ini seperti KebunKata BungaMatahari!

Kota Ini Kembang Api

Siang itu, saya menemui Anya dan Mikael di rumah makan Ibu Oka yang terkenal dengan menu babi gulingnya. Mereka tiba dari Jakarta pagi hari dan baru beristirahat beberapa jam saja. Setelah mandi dan ganti baju di Donald Homestay, sekitar pukul 4 sore kami mencari mobil sewaan di Pasar Ubud. Karena waktunya sudah mepet, saya tak bisa terlalu ngotot menawar harga dan harus cukup puas dengan ongkos Rp70 ribu untuk sekali jalan ke Gaya Fusion.

Dalam perjalanan, ongkos yang sebelumnya terasa mahal, jadi masuk akal saat kami menyadari betapa jauhnya Gaya Fusion dari pusat keramaian di Ubud. Saya mulai kuatir. Apa mungkin ada orang yang mau jauh-jauh datang ke sana?

Di Gaya Fusion, kami ternganga melihat sebuah galeri besar berlangit-langit tinggi dan dinding-dinding putih yang digantungi lukisan-lukisan kontemporer. Di tengah ruangan ada panggung kecil bertabur bunga kamboja, tepat di antara jendela kaca tinggi dan pojok untuk musisi. Sebuah proyektor in-focus putih siap dipakai di depan deretan kursi hitam yang tampak kecil dikepung suasana serba putih.

Sambil berusaha menekan rasa panik dan stress, kami bersiap-siap. Mikael berkutat dengan MacBookPro dan proyektor in-focus, Anya menata buku-buku yang akan dijual, sedangkan saya memberikan pengarahan terakhir kepada Ayu, sang MC. Setelah itu kami masih harus direpotkan dengan film pendek yang akan diputar nanti.

Jarum jam menunjukkan pukul 17:30, penonton mulai berdatangan. Kaget juga saya melihat banyak yang datang lebih awal. Debra Yatim dan putrinya Zulaikha, Olin Monteiro, Danny Yatim, serta rombongan orkes Al-Izhar dalam hitungan detik meramaikan ruangan yang tadinya sepi itu. Ada juga penyair Timor Leste Abe Soares, Pam Allen, John McGlynn, penulis Ayu Utami, dan lain-lain.

Kursi-kursi mulai terisi, MC sudah bersiap membuka acara, tapi saya masih berkutat dengan laptop Mikael. Putus asa tak berhasil mengutak-atik power point, saya cari dia. Ternyata dia sedang ngobrol dengan orang tua Henry, temannya di Australia dulu. Saya hampiri dan setelah basa-basi sebentar langsung menyeret penyair mestizo itu untuk mengajari saya cara mengoperasikan laptopnya.

Tepat pukul 18:00, acara dimulai. Ayu membacakan sambutan standar UWRF dalam bahasa Inggris, kemudian mengundang saya untuk memperkenalkan irisPUSTAKA. Ayu agak kepeleset lidah, menyebut saya ‘she’, bukannya ‘he’ dan mengundang tawa dari hadirin. Bukannya kesal, saya malah bersyukur, karena suasana sejak awal sudah santai.

the publisher speaks, horribly.

Saya tak bicara panjang-panjang. Hanya bercerita bahwa satu setengah tahun yang lalu Anya dan Festi Noverini mengajak saya ikut dalam usaha penerbitan yang kemudian kami namakan irisPUSTAKA. Kami ingin membuka jalan bagi penulis muda yang punya potensi dan mengolah tema-tema tak biasa atau menggunakan ekspresi kreatif yang berbeda. Selesai perkenalan singkat itu, saya langsung mengajak hadirin untuk menyaksikan film pendek berjudul ‘puis-je.’

Film ini menampilkan Anya, ‘not as herself,’ dan Mikael, juga ‘not as himself,’ membacakan puisi e e cummings melalui dialog dan akting amatir. Sekilas mereka terlihat seperti muda-mudi yang sedang beradu jurus cinta.

the movie starts.

Karena film ini dibuat terburu-buru, suara yang dihasilkan kurang bagus, membuat sebagian hadirin mengernyitkan kening berusaha menangkap apa yang dikatakan kedua penyair tersebut di dalam film. Untung saja Mikael tanpa malu telah memasang terjemahan semena-mena yang cukup menghibur.

Film selesai diputar, Anya langsung membacakan puisi ‘The God of Small Things’ dan ‘PendarPendarCahayaMenyelinapRuangMata.’ Terjemahan kedua puisi ini ditampilkan dengan cantik melalui power point.

Film selesai diputar, Anya langsung membacakan puisi ‘The God of Small Things’ dan ‘PendarPendarCahayaMenyelinapRuangMata.’ Terjemahan kedua puisi ini ditampilkan dengan cantik melalui power point.

Setelah itu, giliran Mikael membacakan `Australia Fair’, `À la recherche du temps perdu (edition Scott Moncrieff et Kilmartin, vols. 1-7)’, dan `Hermès, get a move on’. Semua puisi itu diterjemahkan dari
bahasa Inggris ke bahasa Indonesia oleh holiday_sendiri. ‘Hermes, get a move on’ aslinya berjudul ‘Aku titip tulisan’ puisi Anggoro Gunawan dalam bahasa Jawa yang kemudian diterjemahkan oleh Mikael ke dalam bahasa Inggris jadi ‘Hermes get a move on’ yang kemudian diterjemahkan lagi ke bahasa Indonesia oleh holiday_sendiri.

The God of Small Things*

sebuah Sore yang Sureal. ketika Sinar Matahari jatuh seperti selendang tembus pandang—mengingatkanku akan Lipstik dan Cat Kuku Fuchsia Ibuku. Es Krim Stroberi. Rok Tutu. dan Ciumanmu, tentunya. Ciuman mesra pada bibir dan pipiku. Basah tetapi Manis seperti Permen.

aku merindukanmu. rasanya seperti ada Balon Ulangtahun. membengkak perlahan di dalam dada. Sensasinya nyaris tak tergambarkan: seperti sebuah Harapan limbung—aku terbelah di antara Kesenangan karena si Balon hampir sempurna dan Kewaspadaan akan kemungkinan Balon itu pecah sebelum benar-benar mengembang.

sebuah Perasaan yang Tidak Nyaman sebenarnya. seakan-akan dunia dan mekanisme alamnya dapat mendengar pikiranmu: berkonspirasi untuk menentukan apa yang akan terjadi padamu berikut. membuatmu tak berdaya seperti Bulu yang melayang-layang.

tapi Yang Paling Tak Tertahankan adalah mengetahui bahwa tak seorang pun, terlebih-lebih kamu, mengetahui semua Kekacauan yang terjadi di Benakku, semua Mantra Aku-Cinta-Kamu yang sambung-menyambung di dalam Kepala.

aku membayangkan apakah kamu pernah seperti ini. aku bahkan membayangkan apakah ada secuil Kemungkinan dirimu pernah memiliki Pemikiran yang Sama Terhadapku. ah, padahal aku tahu itu hanyalah Fantasi Kacangan.

aku pun menyerah. kuhapus semua Angan. kuhapus kamu. kukunci dari Saraf-Saraf Otakku.

aku menyalakan tivi.

Program Berita.

di luar, semesta menjadi gelap. dan menjadi Nyata.

PendarPendarCahayaMenyelinapRuangMata

PendarPendarCahayaMenyelinapRuangMata

MengantarCeritaLamaYangTakPernahUsang

KotaIniKembangApi

KembangnyaPecahDiPucukLangit

SekejapSaja

—BegituKatanya

anya reads the god of small things.

Australia fair
The thought runs through my head of sawing your head in half: the bone will be ivory white and your blood grape red. You look down, open your mouth wide and ululate, up, to the purple sky. The pills of orange cloud hang low. The pale cream beach shakes with each wave of your hand. You ask me to go, your face black from constant disappointment.

À la recherche du temps perdu (edition Scott Moncrieff et Kilmartin, vols. 1-7)

I bought these when I still had time to read

where the sky was so blue I could write

my name on it with my good hand while the other

shield my eyes from the sun, so white, perfect.

mikael reads australia fair.

Dalam rundown acara, sesi selanjutnya adalah untuk tanya-jawab. Tapi kami tak ingin waktu setengah jam lebih yang tersisa hanya terpakai untuk pertanyaan-pertanyaan garing dan jawaban-jawaban non-inspiring (ah, lagi-lagi saya mengejar rima). Karena itu saya segera menyambar mikrofon yang dipegang Ayu, tanpa malu mengambil tugas MC, dan mengumumkan bahwa kami mengundang para penonton untuk tampil ke depan dan membacakan puisi Anya dan Mikael. Atau kalau mereka mau, boleh juga membacakan puisi karya sendiri. Lima buku Anya dan lima buku Mikael kami sediakan gratis untuk mereka yang berani maju ke depan.

Zulaikha, putri penyair Debra Yatim, langsung maju ke depan dan membacakan dua buah puisi Mikael. Buku gratis untukmu, Zu! Selesai putrinya membaca, giliran Debra yang langsung maju membacakan sebagian daftar isi buku Mikael sebagai sebuah puisi. Kemudian Ayu Utami dengan ‘Penismightierthanwords’ karya Mikael.

Penismightierthanwords
i picked up the pen with clouds of ideas in my head. the pen was my talisman, a thing I used to divine the meaning of the clouds. the ink was blue, which, under the yellow light of my table lamp, was only a little lighter than black, the colour of the clouds.

Sambil menunggu Ayu selesai, saya lihat Abe Soares sudah siap tampil dengan gitarnya. Tak perlu dipanggil dua kali, Abe maju ke depan dan menyanyikan puisi karyanya sendiri. Indah sekali. Abe selesai, seorang anggota orkes Al-Izhar maju ke depan membaca puisi karya sendiri yang dicatatnya dalam handphone.

Sesuai dengan semangat BungaMatahari yang percaya semua bisa berpuisi, saya terus mengajak hadirin untuk maju ke depan dan berpuisi. Saya jelaskan bahwa pendiri irisPUSTAKA, yang berasal dari milis puisi berbahasa Indonesia BungaMatahari, percaya puisi adalah hidup sehari-hari yang tak perlu ditakuti.

Penonton makin banyak, sebagian besar agaknya mereka yang ingin menonton orkes Al-Izhar dan peluncuran buku L.A. Underlover yang dijadwalkan setelah acara kami selesai. Kami mencuri penonton rupanya. Tak apa, yang penting ramai dan buku terjual banyak.

Sambil menunggu penonton yang akan maju, saya iseng membaca puisi Mikael yang berjudul ‘The Beggar.’ Malam terasa semakin panas, dan Mikael tampil sekali lagi, kali ini membacakan puisi Anya ‘Mabuk Lampu.’

mabuk lampu

sinarlamputemaramkuning

lampukuningsinartemaram

temaramsinarkuninglampu

kuningtemaramlampusinar

sinartemaramlampukuning

lampusinarkuningtemaram

temaramkuningsinarlampu

kuninglamputemaramsinar

Di tengah-tengah penonton yang berkumpul di tangga dekat pintu masuk, saya lihat penyair Iyut Fitra dan Dino Umahuk. Saya panggil Dino ke depan untuk ikut meramaikan acara yang menjelang usai, dan dia menyambutnya dengan membaca sebuah puisi dari buku Anya. Hadiah buku untukmu, Dino!

Waktu satu jam yang tadinya terasa panjang sekali, tiba-tiba sudah hampir habis. Saya belum sempat mengundang Iyut Fitra untuk tampil ke depan, namun sudah harus menutup acara. Sayang sekali.

Acara ditutup Anya dengan membacakan puisi Mikael yang berjudul ‘Djaelani the baker.’

Djaelani the baker
I’m Djaelani, the baker. I see people come and go. I serve people with the sweet smell of sex in their hair. I watch them count rainbows of money and pay. I see them hold hands and pick a donut (chocolate glazed) and a sausage roll with a thong held together like a wedding cake knife. I’ve seen a man eat his breakfast alone, hurriedly like a pigeon, on my counter table. I’ve seen him come back at nine-thirty in the evening—closing time, and buy nothing. Not this time. I’m Djaelani, the baker. I see people come and go. And I stay.

Foto-foto acara bisa dilihat di sini.

Catatan:

Kemarin saya menghubungi Abe Soares, minta dikirimkan puisi yang dinyanyikannya dalam acara ini. Ini dia puisinya:

AKU SAKSIKAN BAYANGANKU SENDIRI

Ramelau*),
aku mampir ke kolammu
yang sejuk bening

Di tepinya aku saksikan bayanganku sendiri
telanjang, menyambutku
lalu ia tuturkan kepadaku
tentang kisah benih serabutku
yang berliku-liku

1990-an

*) Gunung tertinggi di Timor-Leste.

Abe Soares

Advertisements

Written by Waraney Rawung

October 23, 2008 at 10:07 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: