duniahitam

tentang hidup yang terkekang

cerita dari ubud: krisis identitas dan liburan dari kenyataan

leave a comment »

Tahun lalu, di tengah kesibukan sebagai volunteer Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), saya berjanji kepada diri sendiri bahwa tahun depan (2008) akan kembali lagi, walaupun tak jadi volunteer lagi. Setahun sudah berlalu, dan saya sekarang ada di sini.

Saya tiba di Ubud pukul 14:30 WITA, setelah berangkat dari kantor bis Perama di Legian jam 13:30 WITA. Dari kantor Perama di Jalan Raya Pengosekan, saya masih harus jalan kaki kurang lebih satu kilometer ke Donald Homestay di Jalan Goutama. Banyak ojek dan taksi yang bersedia mengantar. Tapi saat backpacking, pantang rasanya mengeluarkan uang kalau tak benar-benar terdesak. Lagipula saya perlu sering-sering jalan kaki untuk membakar lemak jenuh ibukota yang menumpuk di dalam tubuh.

Terik matahari telak menghantam ubun-ubun. Bukannya kelenger, saya malah cengengesan sendiri. Nikmat sekali mandi keringat saat liburan, setelah berbulan-bulan bekerja keras dalam ruangan ber-AC. Sepanas-panasnya Ubud, masih jauh lebih sejuk dari udara Kebon Kacang-Thamrin-Sudirman-Senopati di Jakarta yang akhir-akhir ini melonjak sampai 35 derajat celcius.

Ubud tak berubah. Sapaan “transport, transport…” dari kiri dan kanan, tawaran tiket pagelaran seni, bau dupa dan sesajen yang menyerbu hidung, harum masakan dari pintu-jendela restoran dan kafe yang disainnya bagus-bagus, aneka ragam cenderamata dan pernak-pernik yang terpampang di etalase toko, dan hamparan padi menguning. Populasi turis mancanegara di sini mungkin hampir sama banyaknya dengan penduduk lokal.

Seperti yang selalu terjadi setiap kali saya datang ke Kuta dan Ubud, identitas saya sebagai orang Indonesia seolah-olah hilang. Bagi para pegawai kafe, restoran, galeri, pemilik homestay, dan pekerja pariwisata lainnya di sana, saya hanyalah pria berwajah Asia terbakar matahari, bercelana pendek, dengan kaos butut, sendal jepit, tato yang mengintip di lengan kiri atas, dan ransel yang kelewat penuh. Tak heran kalau sejak turun dari pesawat di Bandara Ngurah Rai, mereka selalu menyapa saya dalam bahasa Inggris, Korea, Cina, dan Jepang.

Tahun lalu, seseorang pemilik toko di Jalan Monkey Forest menyangka saya orang Malaysia! Agaknya ini gara-gara saya berkomentar “shit, this is nice,” saat pacar saya menunjukkan sebuah tas kulit yang memang really really nice. Gampang ditebak, komentar a la ABG itu langsung membuat harga tas sialan tadi melonjak tinggi.

Krisis identitas ini tak berlanjut di Donald Homestay. Pak Wayan si pemilik homestay tak sempat menyapa saya dalam bahasa Inggris, karena anjingnya yang galak banget itu menggonggong keras sekali, sampai-sampai saya harus berteriak seperti anak kampung Tenabang untuk memanggil pemilik rumah. Anjing lucu itu pasti mencium jejak-jejak Manado doyan anjing dalam darah saya. Gara-gara dia, saya gagal belagak jadi Tao Ming She.

Acara pembukaan festival di Ubud Palace akan berlangsung pukul 16:30 sore nanti. Tapi saya tak bisa ikut, karena harga tiketnya yang Rp450.000 terlalu mahal. Acara ini juga sebenarnya tak terlalu penting untuk diikuti, karena isinya hanya pidato pejabat-pejabat, diselingi tari-tarian, lalu ditutup dengan (mengutip buku acara festival) “mingle with featured writers and other Festival guests in the captivating surrounds of the Ubud Palace.” Lebih baik saya ‘mingle and haggle’ dengan pedagang cenderamata di Pasar Ubud.

Sebagian acara festival sudah berlangsung sejak Selasa, 13 Oktober. Tapi kemarin saya belum bisa ikut, karena workshop-nya hanya untuk anak-anak. Sedangkan hari ini workshop-tak ada yang gratis. Rata-rata harga tiketnya di atas Rp300.000.

Padahal ada dua workshop menarik hari ini, yaitu Sharing the Journey: Travel Writing with Style with Paul Sochaczewski dan The Kindest Cut of All: Editing for Writers with Shelley Kenigsberg. Tapi kalau mau ikut, sebagai pengunjung lokal saya harus bayar Rp120.000 untuk masing-masing workshop. Itu pun kalau tiket masih tersisa. Seingat saya tiket Sharing the Journey sudah habis terjual sejak jauh-jauh hari.

Jadi tak banyak yang bisa saya lakukan selain jalan-jalan sepuasnya, sambil sesekali mengerahkan kemampuan public relations (yang semakin menurun sejak berhenti jadi konsultan) untuk mempromosikan acara peluncuran buku Anya dan Mikael.

Untung ada dua acara gratis yang bisa saya ikuti hari ini. Malam Penghormatan Kepada Sutan Takdir Alisjahbana, pukul 19:30-20:30, dan pementasan A Midsummer Night’s Dream oleh maestro tari Bali Nyoman Sura, pukul 19:30-22:00.

Siang ini, setelah mengirim hutang pekerjaan ke kantor, saya akan pergi ke box office untuk mengambil tiket. Banyak acara menarik tahun ini yang jadwalnya bertabrakan. Lima hari yang tersedia harus digunakan semaksimal mungkin. Setelah melihat jadwal di buku program, saya memutuskan untuk beli tiket 4-day pass untuk program utama saja, yang harganya Rp400.000.

Dengan tiket itu, acara yang bisa saya ikuti di hari Kamis antara lain adalah, Globalization & The Collision of Cultures: When Britney Spears Meets Bin Laden, yang bentrok jadwalnya dengan In Conversation with Bahaa Taher.

Acara lainnya yang menarik adalah Feast or Famine: the Politics of Food dan Poets Corner. Sorenya ada The Future of Reading: Writing for Young People, yang bentrok jadwalnya dengan In Conversation with Vikram Seth. Malamnya ada Performance Poetry Extravaganza, yang bentrok dengan Writers’ Cabaret.

Hari Jumat, separuh sore akan saya habiskan untuk mempersiapkan peluncuran buku Mikael ‘We Are Nowhere and It’s Wow’ dan Anya ‘Kota Ini Kembang Api’ di Gaya Fusion, pukul 18:00-19:00. Di tempat yang sama, pukul 19:30-20:30, Eka Kurniawan, Chavcay Saifullah, Nugroho Suksmanto, dan Triyanto Triwikromo akan meluncurkan kumpulan cerpen ‘LA Underlover.’

Untuk hari Sabtu, rencananya saya akan ikut Wanderlust (09:30-10:00) dengan Martin Amanshauser, lalu berturut-turut sampai siang, Slums: The Face of Cities in the 21st Century, Crime: Fact & Fiction dengan John Berendt dan tiga penulis lainnya, dan Pleasures of the Tongue: Food and Story bersama Bondan Winarno dan dua penulis lainnya. Setelah itu saya masih harus cepat-cepat pergi ke Neka Art Museum untuk menyaksikan presentasi dari empat ahli konservasi dalam Sacred Forests: Conservation Challenge in 21st Century Indonesia.

Di hari terakhir, Minggu 19 Oktober, sejak pagi saya akan duduk manis mengikuti Endangered Species: Writing Creatively About the Environment, diteruskan dengan Powerful Protagonists bersama Ayu Utami dan Indra Sinha, kemudian Empowering the People bersama Lijia Zhang dan tiga penulis lainnya. Semoga otak dan tubuh saya tetap kuat hari itu, agar bisa menutup liburan dengan Telling True Tales bersama Cameron Forbes dan dua penulis lainnya, serta Poetry of the Body dengan Tishani Doshi dan Sharanya Mannivanan.

Semalam, saat duduk-duduk di warung kopi Tutmak, lagu ‘Stir It Up’ dari Bob Marley and the Wailers terdengar mengalun dari kafe sebelah. Beberapa menit sebelumnya, suara gamelan dari seberang lapangan bola Ubud memenuhi udara malam di sekeliling saya. Bau dupa dan sesajen tak hilang-hilang, menemani ice cappucino dan brownies. Ingatan akan pengapnya Jakarta dan ekonomi dunia yang sedang gonjang-ganjing, hilang disapu nikmatnya liburan dari kenyataan.

Advertisements

Written by Waraney Rawung

October 15, 2008 at 4:37 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: