duniahitam

tentang hidup yang terkekang

tishani doshi & joko pinurbo: malam puisi, tari, dan terjemahan jeli

with 3 comments

Malam itu saya terlambat sampai di Goethe Haus. Acara ‘Narrating the Body’ yang menampilkan Tishani Doshi, penyair dari India, dan Joko Pinurbo dijadwalkan mulai pukul 7 malam tepat. Saat itu sudah pukul setengah 8. Setengah jam terlambat. Hal biasa di Jakarta.

Di dalam, ruangan sudah terisi hampir penuh. Kira-kira tiga perempat dari kapasitas tempat duduk. Panitia yang menjaga pintu langsung mengantar saya ke deretan kursi nomor dua dari depan, sebelah kiri panggung. Saya menurut, karena tak ada gunanya celingak-celinguk mencari Anya dan Mikael yang sudah sampai duluan.

Seseorang dari Kedutaan Besar India sedang berpidato di atas panggung. Singkat saja. Kemudian giliran Ayu Utami yang bicara mewakili Dewan Kesenian Jakarta. Saya tak begitu memperhatikan isi pidatonya, karena perhatian saya tertuju pada sosok perempuan yang duduk terpisah dua kursi dari saya, di deretan terdepan. Melihat kesibukan yang terpusat pada dirinya, gampang ditebak bahwa dialah Tishani Doshi, si penyair yang malam ini puisinya akan dibacakan bersama dengan puisi Joko Pinurbo.

Tebakan saya benar. Setelah Ayu Utami selesai berpidato, Debra Yatim yang menjadi moderator tanpa buang-buang waktu langsung mengambil alih acara dan menundang Tishani dan Joko untuk bergabung dengannya di atas panggung. Saya pun langsung pindah tempat duduk ke barisan terdepan, agar dapat mengambil foto yang memadai dengan Nokia 6881 cameraphone yang hanya 1.3 megapixel.

Tema acara malam itu adalah ‘Mengisahkan Tubuh’ atau ‘Narrating the Body’. Kedua penyair tersebut dipilih karena karya-karya mereka dianggap banyak berkisah tentang, atau menggunakan imaji-imaji, tubuh.

Debra memperkenalkan Tishani dan Joko kepada hadirin. Lalu melemparkan satu dua pertanyaan pendek kepada kedua penyair tersebut. Tishani mampir di Jakarta dalam perjalanan ke Bali untuk menghadiri Ubud Writers & Readers Festival. Joko Pinurbo, siapa pecinta puisi di Indonesia yang tak kenal namanya?

 

Tishani Doshi, Joko Pinurbo, Debra Yatim

 

Ada dua sesi pembacaan puisi yang diselingi sesi tanya jawab. Selain itu ditampilkan juga tarian tradisional India oleh Pooja Bhatnagar dan seorang muridnya dari The Jawaharlal Nehru Indian Cultural Centre, serta tarian kontemporer dari Mugiyono Kasido.

Puisi-puisi Tishani ditulis dalam bahasa Inggris, dan untuk keperluan acara malam itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Anya Rompas dan Mikael Johani. Puisi-puisi Joko yang dibacakan malam itu seperti ‘Celana’ dan ‘Daerah Terlarang’ juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, tapi saya tak tahu siapa penerjemahnya.

 

Joko Pinurbo

 

 

Tishani Doshi

 

Cerita lengkap tentang acara ini, plus celetukan-celetukan Joko Pinurbo yang membuat acara mengalir lancar dan tak membosankan, moga-moga dapat segera dibaca di blog Mas Kurnia Effendi.

Di sini saya ingin berbagi hasil terjemahan puisi Tishani, yang dikerjakan oleh Anya Rompas dan Mikael Johani. Menurut Mas Kef, terjemahan mereka sangat baik. Anya dan Mikael akan meluncurkan buku puisi mereka di Ubud, sebagai bagian dari rangkaian acara Ubud Writers & Readers Festival, minggu depan.

THE DAY WE WENT TO THE SEA

By Tishani Doshi

The day we went to the sea
mothers in Madras were mining
the Marina for missing children.
Thatch flew in the sky, prisoners
ran free, houses danced like danger
in the wind. I saw a woman hold
the tattered edge of the world
in her hand, look past the temple
which was still standing, as she was —
miraculously whole in the debris of gaudy
South Indian sun. When she moved
her other hand across her brow,
in a single arcing sweep of grace,
it was as if she alone could alter things,
bring us to the wordless safety of our beds.

WAKTU ITU KITA PERGI KE PANTAI

Karya Tishani Doshi
Diterjemahkan oleh Anya Rompas dan Mikael Johani

Waktu itu kita pergi ke pantai
ibu-ibu di Madras sedang menyisiri
Marina, mencari anak hilang.
Jerami beterbangan di udara, napi-napi
berkeliaran di jalanan, rumah-rumah menari
bagai marabahaya bersembunyi dalam angin.
Aku melihat wanita menggenggam tepi dunia
yang bocel-bocel dalam satu tangannya,
memandang ke balik candi yang masih berdiri,
seperti dirinya, utuh—betapa menakjubkan!—
di antara puing-puing yang menyala di bawah matahari
India Selatan. Kemudian ia menyeka dahi
dengan tangannya yang satu lagi,
sekali, begitu anggun,
dan kelihatannya memang hanya ia
yang mampu mengubah dunia,
membawa kita kembali ke kedamaian kasur-kasur bisu.

 

Tishani Doshi

 

WHAT THE BODY KNOWS

By Tishani Doshi

The body dances in a darkened room
turning itself inside out
so that skin can face the light in fractures,
slip like shadow through skeleton walls,
begin to cry — really — to scream
about the tarnished weight of dreams.

This has been a drift after all.
The body returns to its original place,
moves from one to the other — creeps —
tries to flee itself, lone trunk,
searches for remain of bark,
hints of what it used to be.

Perhaps an ocean framed in bone,
a pair of birds in early white,
flying from this dream to the next
fixing the gaps between memory
and reverberation; binding spine
on vein, feather to lesion.
The body collects its wandering parts,
leans back through layers
of thickening water; roots above
boughs beneath, feet caving in to wonder.
It’s how the world reverses itself,
how the distant sky finds the earth.

TUBUH TAHU

Karya Tishani Doshi
Diterjemahkan oleh Anya Rompas dan Mikael Johani

Tubuh itu menari di kamar gelap
meliuk, melekuk
sampai kulitnya mampu menerima cahaya yang pecah,
menyelinap seperti bayangan di antara rangka dinding,
mulai menangis—keras—memekik
tentang mimpi-mimpi berat yang pudar.

Semua ini adalah pengembaraan.
Tubuh itu kembali ke tempat asalnya,
pindah dari sana ke sini—merangkak—
mencoba lari, bagai batang pohon
mencari sisa kulitnya,
petunjuk tentang dirinya yang dulu.

Mungkin ia samudra berpigura tulang,
sepasang burung putih bersih,
terbang dari mimpi satu ke mimpi yang lain
menyumpal celah di antara ingatan
dan getaran; menjahit tulang belakang
dengan pembuluh darah, bulu dengan borok.
Ia memungut organ-organnya yang jatuh,
membaringkan diri ke dalam berlapis-lapis
air yang mengental; akar di atas
dahan di bawah, kaki menyerah ingin tahu.
Beginilah dunia memutar balik,
beginilah langit yang jauh menemukan bumi kembali.

 

Tishani Doshi

 

THE DELIVERER

By Tishani Doshi

OUR LADY OF THE LIGHT CONVENT, KERALA

The sister here is telling my mother
how she came to collect children
because they were crippled or dark or girls.

Found naked in the streets,
covered in garbage, stuffed in bags,
abandoned at their doorstep.

One of them was dug up by a dog,
thinking the head barely poking above the ground
was bone or wood, something to chew.

This is the one my mother will bring.

* * *

MILWAUKEE AIRPORT, USA

The parents wait at the gates.
They are American so they know about ceremony
and tradition, about doing things right.

They haven’t seen or touched her yet.
don’t know of her fetish for plucking hair off hands,
or how her mother tried to bury her.

But they are crying.
We couldn’t stop crying, my mother said,
feeling the strangeness of her empty arms.

* * *

This girl grows up on video tapes,
sees how she’s passed from woman
to woman. She returns to twilight corners,

to the day of her birth.
How it happens in some desolate hut
outside village boundaries

where mothers go to squeeze out life,
watch body slither out from body,

feel for penis or no penis,
toss the baby to the heap of others,

trudge home to lie down for their men again.

KURIR

Karya Tishani Doshi
Diterjemahkan oleh Anya Rompas dan Mikael Johani

BIARA BUNDA YANG MENYINARI, KERALA

Suster di sini sedang memberi tahu ibuku
ia memungut anak-anak
yang cacat, berkulit gelap, atau perempuan.

Yang ditemukan telanjang di jalanan,
tertimbun sampah, dibungkus dalam karung,
ditinggalkan di depan pintu.

Salah satu dari mereka digali seekor anjing,
yang mengira kepala yang menyembul sedikit di atas tanah
sepotong tulang atau kayu, sesuatu untuk dikunyah.

Anak inilah yang akan dibawa pergi ibuku.

***

BANDARA MILWAUKEE, USA

Orang tuanya menunggu di gerbang.
Mereka orang Amerika jadi mereka tahu tentang upacara
dan tradisi, tentang mengikuti aturan.

Mereka belum pernah melihat maupun menyentuhnya,
tidak tahu kegemarannya mencabut bulu-bulu tangan,
atau bahwa ibunya pernah mencoba menguburnya hidup-hidup.

Tapi mereka menangis.
Kami tidak bisa berhenti menangis, kata ibuku,
sambil merasakan betapa aneh tangannya yang kosong.

***

Anak ini dibesarkan oleh kaset video,
menyaksikan bagaimana ia dipindahkan dari tangan perempuan satu
ke tangan perempuan lain. Kemudian ia kembali ke sudut-sudut senja

ke hari kelahirannya.
Yang terjadi di gubuk reot
di luar batas desa

tempat ibu-ibu membuang kehidupan
menonton tubuh keluar dari tubuhnya,

meraba-raba: berpeniskah atau tak berpeniskah?
melemparkan bayinya ke gundukan bayi-bayi lain

kemudian berjalan gontai pulang untuk ditiduri laki-laki mereka lagi.

HOMECOMING

By Tishani Doshi

I forgot how Madras loves noise —
loves neighbours and pregnant women
and Gods and babies

and Brahmins who rise
like fire hymns to sear the air
with habitual earthquakes.

How funeral processions clatter
down streets with drums and rose-petals,
dancing death into deafness.

How vendors and cats make noises
of love on bedroom walls and alleyways
of night, operatic and dark.

How cars in reverse sing Jingle Bells
and scooters have larynxes of lorries.
How even colour can never be quiet.

How fisherwomen in screaming red —
with skirts and incandescent third eyes
and bangles like rasping planets

and Tamil women on their morning walks
in saris and jasmine and trainers
can shred the day and all its skinny silences.

I forgot how a man dying under the body
of a tattered boat could ask for promises;
how they could be as soundless as the sea

on a wounded day, altering the ground
of the earth as simply as the sun filtering through —
the monsoon rain dividing everything.

MUDIK

Karya Tishani Doshi
Diterjemahkan oleh Anya Rompas dan Mikael Johani

Aku lupa Madras begitu cinta bising—
begitu cinta tetangga dan perempuan hamil
juga Tuhan-tuhan dan bayi-bayi

dan para Brahmin yang bangkit
seperti lagu untuk api yang memanggang udara
dengan gempa bumi setiap kali.

Aku lupa pengantar jenazah selalu berisik
memukul dram dan menyebar mawar sepanjang jalan
menari-nari dan membuat tuli kematian.

Aku lupa pedagang kaki lima dan kucing-kucing menyebarkan suara
percintaan pada tembok kamar tidur dan gang-gang
malam, mirip opera dan gelap gulita.

Aku lupa mobil atrèt menyanyi Jingle Bells
dan skuter-skuter bertenggorokan lori.
Aku lupa warna pun tak bisa diam.

Aku lupa nelayan perempuan berbaju merah menyala—
memakai rok dan mata ketiga yang berpendar-pendar
dan gelang seperti planet-planet kasar

dan perempuan Tamil jalan-jalan pagi
berseragam sari dan bunga melati dan sepatu kets—
mampu mencabik hari dan kesunyian yang tipis.

Aku lupa laki-laki yang sekarat di bawah
perahu rusak pun masih menagih janji;
Aku pun lupa semuanya bisa bisu bagai laut

pada hari yang terluka, mengubah permukaan bumi
segampang matahari menembus
hujan muson yang mencerai-beraikan semuanya.

TURNING INTO MEN AGAIN

By Tishani Doshi

This morning men are returning to the world,
waiting on the sides of blackened pavements
for a rickshaw to carry them away
on the sharp pins and soles of their dancing feet.

They must go to the houses of their childhoods
to be soothed. They must wait for the wheels
to appear from the thin arm of road.
They must catch the crack in the sky

where the light shifts from light to dark
to light again, like the body in the first stages of love;
angering, heightening, spreading:
bent knees, bent breath.

Now they are moving, changing colours.
Women are standing at the thresholds of doors
holding jars of oil, buckets of hot water and salt,
calamine, crushed mint and drink.

Some crawl into their mother’s laps,
collapse against the heavy bosoms of old nannies,
search for the girl who climbed with them
to the tin roof for the first time.

Inside, in the shadows of pillars,
fathers and grandfathers are stepping down
from picture frames with secrets on their lips,
calling the lost in from their voyages.

KEMBALI JADI LAKI-LAKI

Karya Tishani Doshi
Diterjemahkan oleh Anya Rompas dan Mikael Johani

Pagi ini laki-laki kembali ke dunia mereka lagi
menunggu di tepi trotoar hitam
menanti becak membawa mereka pergi
di atas jari-jari roda yang menari-nari.

Mereka ingin mudik ke rumah masa kecil mereka
supaya hati mereka tenang. Mereka harus menunggu
roda-roda muncul dari lengan jalan yang ramping.
Mereka harus menangkap retak di langit

Yang menyimpan cahaya terang yang kemudian berubah gelap
kemudian terang kembali, seperti tubuh saat jatuh cinta;
membikin marah, menegang, menyebar ke semua arah:
menekuk lutut, menekuk napas.

Mereka mulai bergerak, berubah warna.
Wanita berjejeran di depan pintu rumah
menenteng botol minyak wangi, ember penuh air garam panas
salep kalamin, daun mint gerus, dan minuman.

Sebagian laki-laki tadi merangkak kembali ke pangkuan ibu mereka,
tenggelam dalam payudara gemuk pengasuh mereka,
lari mencari gadis yang dulu menemani
memanjat atap seng untuk pertama kali.

Di dalam, di bawah bayang pilar-pilar,
ayah dan kakek turun
dari pigura dengan rahasia membayang di bibir
memanggil anak-anak hilang kembali ke rumah.

http://blackuniverse.multiply.com/journal/item/372/tishani_doshi_joko_pinurbo_malam_puisi_tari_dan_terjemahan_jeli

Advertisements

Written by Waraney Rawung

October 12, 2008 at 6:01 PM

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. wah..posting yang panjang..hayo, sudah ikut Blog Action Day 2008 belum?

    akokow

    October 15, 2008 at 2:52 AM

  2. You’ve done it again. Great writing!

    Mae Mackey

    May 29, 2010 at 3:40 AM

  3. great translation

    nuitnoire

    September 18, 2011 at 2:20 PM


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: