duniahitam

tentang hidup yang terkekang

BungaMatahari @Koran Seputar Indonesia, Minggu, 27 April, 2008

with 2 comments

Penyair Dunia Maya

Minggu, 27/04/2008

‘‘SEMUA bisa berpuisi’’,itulah tagline dari komunitas BungaMatahari.Siapa pun yang suka berpuisi bisa curhat lewat milis itu, termasuk Anda.

BungaMatahari (BuMa) adalah komunitas puisi berbasis mailing list (milis) yang dibentuk pada 19 April 2000 oleh Gratiagusti Chananya Rompas (Anya).

Anggota sekaligus moderator, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan TukangKebun.Penggagas milis ini adalah Danar Pramesti. Pada awalnya, milis BuMa merupakan ajang tukar-menukar puisi bagi kedua perempuan ini. Di kampus Universitas Indonesia,Anya dan Danar bertemu dan mulai nongkrong bareng.

“Awalnya, namanya anak kuliah,pengen main. Kebetulan pada suka nulis puisi,kita mikir seru banget, nongkrong sambil bikin puisi,” tutur Anya saat berbincang dengan SINDO, di Tornado Coffee. Dari dua menjadi banyak. Mereka ‘’menggalang’’ massa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik juga Fakultas Sastra UI.

Anehnya, para sastrawan muda di fakultas sastra sempat menolak gabung.Namun, perlahan-lahan milis Bungamatahari mulai dikunjungi dan memiliki member dalam jumlah signifikan. “Terlebih pas awal launching buku ‘Antologi Bunga Matahari’. Kita sempat kebanjiran request member.Tapi belakangan ini mulai stabil,”ujar Ney,seorang TukangKebun.

Dalam delapan tahun perjalanan BuMa, mereka telah memiliki sekitar 1600 member dalam mailing list BuMa,dan sebuah buku antologi puisi. Perkembangan BuMa yang termasuk cepat memerlukan sejumlah moderator andal. Sebut saja tukang kebun lain,yaitu Nurman Priatna, Pugar Restu Julian,Aloysius Widyosuwasto, Lovelli Ariesti, Yoshi Febriyanto, Festi Noverini, dan Waraney Herald Rawung.

Nama BungaMatahari dipilih berdasarkan sejumlah alasan. Pertama-tama,kebanyakan orang masih memandang puisi sebagai sesuatu yang melankolis cenderung tragis cenderung menye-menye, paling tidak pada saat milisini dibuat. Keinginan untuk membongkar pandangan semacam inilah yang mendorong pendiri untuk mengedepankan gambaran bunga matahari yang cerah, ceria, namun pada saat yang bersamaan masih memiliki sisi puitis.

‘’Semua Bisa Berpuisi’’, Mikael Johani seorang moderator BuMa, yang menyebut dirinya penyair, kerap mendapati sinisme akan ungkapan tersebut.Tidak sedikit penyair atau sastrawan angkatan lebih tua mengkritisi karya mereka. Semua bisa berpuisi banyak dikritik.Menurut mereka, enggak semua orang dapat berpuisi. Tapi kalau BuMa asyik-asyik aja.

“Generasi baru sastra yang belum diakui tidak mencari pemberkatan atau restu dari mereka. Kita di sini untuk berbagi,”ujar Mikael. “Dan kita tidak berminat untuk digurui,”tambah Anya. Sederhananya, semua orang dapat bergabung dalam milisBuMa dan berpuisi.Tidak terlalu peduli akan tema, struktur, karena semua dikembalikan pada kedewasaan masing-masing anggota.Pada prinsipnya, seseorang bisa bertutur lewat puisi, mengasah kepekaan mereka,dan berani berpuisi lewat milis.

Keanekaragaman tema membuat para moderatornya ‘’kewalahan’’.Beberapa puisi yang mengandung unsur Sara dipersilakan menempati ruang dalam milis.Lalu di mana letak sensor? “Tidak ada.Kita mengembalikan pada pembaca untuk menginterpretasi puisi itu,”tutur Anya.

Jikalau ada perdebatan, hendaknya tidak menjadi api pemicu permasalahan lebih besar. Sosok-sosok sastrawan mudainimemilikikedewasaandan kebijakan dalam menyikapi ekspresi rekan-rekan mereka. Saat ini (masih) berkembang dalam lingkup dunia maya.

“Bagi kami dunia maya adalah nyata,”ujar Mikael seraya tersenyum. Ya, berbasis internet Bu- Ma menyalurkan cita rasa sastra semua kalangan yang mencintai kata-kata.Para moderatornya pun jeli melihat perkembangan internet dengan segala layanannya.Tidak sekadar milis,tapi juga memaksimalkan layanan yang ada untuk menjaga eksistensi BuMa.

“Kita pernah bikin acara baca puisi bersama, dan direkam lalu dimasukkan ke dalam YouTube,”jelas Ney. Atau Lahirnya The Toilet dan Kwaci untuk mengakomodasikan hujanan kata dari para anggotanya.The Toilet berisikan puisi dalam bahasa inggris, sementara Kwaci adalah milis untuk menampung cerita pendek. Perlu diingat bahwa di BuMa,hanya puisi berbahasa Indonesia yang diterima.

Dan sampai saat ini BuMa telah memiliki puluhan ribu puisi yang 180 di antaranya sudah dibukukan dalam Antologi Puisi Bunga Mataharidi tahun 2006. Melihat perkembangan BuMa kini, baik Anya maupun Danar tidak akan menyangka bisa jadi sebesar ini.

“Tidak menyangka sama sekali. Kalau sekarang ngobrolsama Danar suka lucu aja. Dulu kita paling cuma iseng. Awalnya, pengen semangat nongkrong lebih gede dari berpuisi,” ungkap Anya seraya tertawa.

Antara Maya dan Nyata

SELAIN aktif di dunia maya, komunitas Bunga Matahari memiliki serangkaian acara di dunia nyata. Di antaranya Kebun kata, Rumah kata, Bengkel kata, dan BuMa untuk semua.

KebunKata adalah acara pembacaan puisi yang terbuka bagi siapa saja – anggota BuMa atau bukan. Walaupun menawarkan konsep pembacaan puisi yang santai dan spontan, acara ini biasanya mengangkat sebuah tema untuk dieksplorasi oleh pengunjungnya. Di dalam acara ini beberapa kali dilakukan kegiatan MainKata.

Di sini para pengunjung dapat bekerja sama menuliskan sebuah atau beberapa puisi. RumahKata adalah sebuah acara berkonsep pameran yang menampilkan karya-karya eksplorasi dari literatur yang dipadukan dengan kesenian-kesenian lain. Pameran selalu dibuka dengan sejumlah pertunjukan yang sedapat mungkin juga mengusung semangat kolaborasi, baik antara dua atau lebih bentuk kesenian yang berbeda maupun dua atau lebih penampil.

Acara ini diselenggarakan secara berkala oleh Komunitas BungaMatahari (BuMa) dan mengangkat tema berbeda setiap kalinya. Sedangkan Bengkel kata adalah kegiatan yang bersifat pelatihan dan memberikan kemampuan atau pengetahuan tambahan mengenai puisi,bentuk-bentuk karya sastra yang lain,juga hal-hal lain di luar itu yang berhubungan dengan kehidupan berkomunitas di BuMa.

Beberapa kali BuMa mengundang sastrawan senior untuk berbagi, bukan sekadar menggurui. Karena pada dasarnya tiap orang memiliki cita rasa dan kekhasan dalam menulis puisi. Kiprah BuMa untuk Semua memungkinkan kerja sama dengan komunitas atau lembaga yang bergerak di dalam bidang literasi maupun nonliterasi untuk mengadakan kegiatan berpuisi atau literasi atau kesenian secara umum atau kegiatan dengan tujuan- tujuan sosial.

Langkah Maksimal

DAPAT dikatakan, sekumpulan sastrawan muda dalam komunitas BuMa bukanlah orang-orang yang ambisius. Meski ada banyak kesempatan untuk maju, mereka memilih mengambil langkah-langkah kecil, tapi maksimal.

Sukses dengan buku Antologi Bunga Matahari, mereka belum berencana merilis sekuel atau tetraloginya. “Mengalir aja. Rasanya belum ideal, dari waktu dan tenaga belum memungkinkan,” tutur Anya.

Dahulu, pembuatan buku antologi membutuhkan dedikasi penuh dari penggagasnya. Ada sekitar 5000 puisi pertama di milis yang disaring untuk masuk buku. “Editing kita termasuk tidak repot, tapi membutuhkan keseriusan,” jelas Anya. Puisi dari tahun 2000 sampai 2005 diambil ‘’Top 180-nya’’, dan dibuatkan buku. Jika menggunakan perhitungan seperti itu, untuk Antologi part II, paling tidak dibutuhkan puisi ke 5001- 10.000 puisi.

Namun, tidak semudah perkara angka saja. Tidak ada target khusus, semua menjalani hidup dan napas berpuisi dengan wajar. Anya dan Edo Walla mempersiapkan buku mereka, sementara anggota lain berpuisi dari blog ke blog. “Dari kita semua, buku Anya dan Edo paling siap maju ke penerbit,” dukung Ney. Dunia maya atau jaringan internet adalah kenyataan bagi anak-anak muda ini.

Mereka paham betul soal ‘’dramatisasi’’ dunia maya, apa yang sedang atau akan berjaya. Selain milis, BuMa memiliki ‘jendela-jendela’ di situs sosial lain seperti YouTube, Facebook, Friendster. “Selalu ada yang baru. Dan kita tidak membatasi hanya pada satu medium,” terang Mikael.

Bagi mereka, puisi dan internet sudah menjadi bagian dari kehidupan. Sastra dunia maya adalah hal yang menarik. BuMa ingin terus menyemangati dan mewadahi minat dan bakat menulis puisi juga merangsang keberanian dan keasyikan membaca puisi di semua kalangan.

Sementara itu, lewat puisi, BuMajuga ingin ikut melestarikan dan mengembangkan penggunaan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, BuMa telah dan terus mencari kesempatan untuk mengadakan kegiatankegiatan berpuisi yang menyenangkan serta menjalin kerja sama dengan komunitas-komunitas lain, baik yang bergerak dalam bidang sastra maupun tidak, untuk semakin mengakrabkan puisi dengan masyarakat. (yohana yuliatri)

Advertisements

Written by Waraney Rawung

April 28, 2008 at 3:47 AM

Posted in bungamatahari, sastra

Tagged with

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. […] duniahitam wrote an interesting post today on BungaMatahari @Koran Seputar Indonesia, Minggu, 27 April, 2008Here’s a quick excerptSelain milis, BuMa memiliki ‘jendela-jendela’ di situs sosial lain seperti YouTube, Facebook, Friendster. “Selalu ada yang baru…. […]

  2. Asswrwb,
    Mengenai Bunga Matahari ini kami mempunyai Produk Olahannya, selengkapnya ada di http://sunflowerproduct.wordpress.com

    Salam Kenal dari Kami
    Griya Utama
    Pemasaran Produk Bunga Matahari
    di Jakarta utk Seluruh Indonesia
    021-84994277

    Griya Utama

    May 19, 2010 at 8:16 AM


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: