duniahitam

tentang hidup yang terkekang

Archive for April 2008

that asian bop you were born with

leave a comment »

ah mumu. jadi inget gue ganti potongan rambut gara2 dipaksa pacar dan dicela teman2 (kata mikael “that asian bop you were born with” …kamfret emang tuh anak). jadi inget belanja kemeja kotak2 di forever 21 yg oh so cool but fucking expensive n you could actually buy in pasar senen or pasar baru (lantai sekian baju loakan).

ah mumu. jadi inget gue yang suka nyela mas-mas (“liat tuh, mas-mas teng!”) padahal temen2 gue juga suka nyela gue mas-mas (mas-mas manado, emang ada?). jadi inget mupeng liat sepatu oakley yang dua juta karena standard issue us army. jadi inget kaos starwars peel and bear duaratus lima puluh ribu padahal its time to stop buying and start creating.

ah mumu. jadi inget nyobain sweater ketat keren banget sumpeh gaya gila tapi begitu dipake anjing babi bangsat gue kok keliatan banget gendutnya?

ah mumu. tetaplah menulis. peduli setan dengan orang-orang sinis. karena kita menulis juga karena kita sinis karena itu mungkin kita juga setan. karena tanpa setan malaikat jadi pengangguran, bukan?

ah mumu. menulislah terus. puisi, atau skenario, atau cerpen, atau apa pun saja. masa kalah sama penyair kamfret kayak gue. masa kalah sama penulis skenario taik kucing kayak di sinetron-sinetron indonesia. masa kalah sama sutradara loser kayak ah sudahlah males bahasnya. masa kalah sama akarpunjadi segalahaljadiyangpentingbahenolseksi.

ah mumu. jakarta seksi betul akhir-akhir ini.

siang-siang ngintipin mumu.

Advertisements

Written by Waraney Rawung

April 30, 2008 at 11:31 AM

Posted in teman

BungaMatahari @Koran Seputar Indonesia, Minggu, 27 April, 2008

with 2 comments

Penyair Dunia Maya

Minggu, 27/04/2008

‘‘SEMUA bisa berpuisi’’,itulah tagline dari komunitas BungaMatahari.Siapa pun yang suka berpuisi bisa curhat lewat milis itu, termasuk Anda.

BungaMatahari (BuMa) adalah komunitas puisi berbasis mailing list (milis) yang dibentuk pada 19 April 2000 oleh Gratiagusti Chananya Rompas (Anya).

Anggota sekaligus moderator, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan TukangKebun.Penggagas milis ini adalah Danar Pramesti. Pada awalnya, milis BuMa merupakan ajang tukar-menukar puisi bagi kedua perempuan ini. Di kampus Universitas Indonesia,Anya dan Danar bertemu dan mulai nongkrong bareng.

“Awalnya, namanya anak kuliah,pengen main. Kebetulan pada suka nulis puisi,kita mikir seru banget, nongkrong sambil bikin puisi,” tutur Anya saat berbincang dengan SINDO, di Tornado Coffee. Dari dua menjadi banyak. Mereka ‘’menggalang’’ massa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik juga Fakultas Sastra UI.

Anehnya, para sastrawan muda di fakultas sastra sempat menolak gabung.Namun, perlahan-lahan milis Bungamatahari mulai dikunjungi dan memiliki member dalam jumlah signifikan. “Terlebih pas awal launching buku ‘Antologi Bunga Matahari’. Kita sempat kebanjiran request member.Tapi belakangan ini mulai stabil,”ujar Ney,seorang TukangKebun.

Dalam delapan tahun perjalanan BuMa, mereka telah memiliki sekitar 1600 member dalam mailing list BuMa,dan sebuah buku antologi puisi. Perkembangan BuMa yang termasuk cepat memerlukan sejumlah moderator andal. Sebut saja tukang kebun lain,yaitu Nurman Priatna, Pugar Restu Julian,Aloysius Widyosuwasto, Lovelli Ariesti, Yoshi Febriyanto, Festi Noverini, dan Waraney Herald Rawung.

Nama BungaMatahari dipilih berdasarkan sejumlah alasan. Pertama-tama,kebanyakan orang masih memandang puisi sebagai sesuatu yang melankolis cenderung tragis cenderung menye-menye, paling tidak pada saat milisini dibuat. Keinginan untuk membongkar pandangan semacam inilah yang mendorong pendiri untuk mengedepankan gambaran bunga matahari yang cerah, ceria, namun pada saat yang bersamaan masih memiliki sisi puitis.

‘’Semua Bisa Berpuisi’’, Mikael Johani seorang moderator BuMa, yang menyebut dirinya penyair, kerap mendapati sinisme akan ungkapan tersebut.Tidak sedikit penyair atau sastrawan angkatan lebih tua mengkritisi karya mereka. Semua bisa berpuisi banyak dikritik.Menurut mereka, enggak semua orang dapat berpuisi. Tapi kalau BuMa asyik-asyik aja.

“Generasi baru sastra yang belum diakui tidak mencari pemberkatan atau restu dari mereka. Kita di sini untuk berbagi,”ujar Mikael. “Dan kita tidak berminat untuk digurui,”tambah Anya. Sederhananya, semua orang dapat bergabung dalam milisBuMa dan berpuisi.Tidak terlalu peduli akan tema, struktur, karena semua dikembalikan pada kedewasaan masing-masing anggota.Pada prinsipnya, seseorang bisa bertutur lewat puisi, mengasah kepekaan mereka,dan berani berpuisi lewat milis.

Keanekaragaman tema membuat para moderatornya ‘’kewalahan’’.Beberapa puisi yang mengandung unsur Sara dipersilakan menempati ruang dalam milis.Lalu di mana letak sensor? “Tidak ada.Kita mengembalikan pada pembaca untuk menginterpretasi puisi itu,”tutur Anya.

Jikalau ada perdebatan, hendaknya tidak menjadi api pemicu permasalahan lebih besar. Sosok-sosok sastrawan mudainimemilikikedewasaandan kebijakan dalam menyikapi ekspresi rekan-rekan mereka. Saat ini (masih) berkembang dalam lingkup dunia maya.

“Bagi kami dunia maya adalah nyata,”ujar Mikael seraya tersenyum. Ya, berbasis internet Bu- Ma menyalurkan cita rasa sastra semua kalangan yang mencintai kata-kata.Para moderatornya pun jeli melihat perkembangan internet dengan segala layanannya.Tidak sekadar milis,tapi juga memaksimalkan layanan yang ada untuk menjaga eksistensi BuMa.

“Kita pernah bikin acara baca puisi bersama, dan direkam lalu dimasukkan ke dalam YouTube,”jelas Ney. Atau Lahirnya The Toilet dan Kwaci untuk mengakomodasikan hujanan kata dari para anggotanya.The Toilet berisikan puisi dalam bahasa inggris, sementara Kwaci adalah milis untuk menampung cerita pendek. Perlu diingat bahwa di BuMa,hanya puisi berbahasa Indonesia yang diterima.

Dan sampai saat ini BuMa telah memiliki puluhan ribu puisi yang 180 di antaranya sudah dibukukan dalam Antologi Puisi Bunga Mataharidi tahun 2006. Melihat perkembangan BuMa kini, baik Anya maupun Danar tidak akan menyangka bisa jadi sebesar ini.

“Tidak menyangka sama sekali. Kalau sekarang ngobrolsama Danar suka lucu aja. Dulu kita paling cuma iseng. Awalnya, pengen semangat nongkrong lebih gede dari berpuisi,” ungkap Anya seraya tertawa.

Antara Maya dan Nyata

SELAIN aktif di dunia maya, komunitas Bunga Matahari memiliki serangkaian acara di dunia nyata. Di antaranya Kebun kata, Rumah kata, Bengkel kata, dan BuMa untuk semua.

KebunKata adalah acara pembacaan puisi yang terbuka bagi siapa saja – anggota BuMa atau bukan. Walaupun menawarkan konsep pembacaan puisi yang santai dan spontan, acara ini biasanya mengangkat sebuah tema untuk dieksplorasi oleh pengunjungnya. Di dalam acara ini beberapa kali dilakukan kegiatan MainKata.

Di sini para pengunjung dapat bekerja sama menuliskan sebuah atau beberapa puisi. RumahKata adalah sebuah acara berkonsep pameran yang menampilkan karya-karya eksplorasi dari literatur yang dipadukan dengan kesenian-kesenian lain. Pameran selalu dibuka dengan sejumlah pertunjukan yang sedapat mungkin juga mengusung semangat kolaborasi, baik antara dua atau lebih bentuk kesenian yang berbeda maupun dua atau lebih penampil.

Acara ini diselenggarakan secara berkala oleh Komunitas BungaMatahari (BuMa) dan mengangkat tema berbeda setiap kalinya. Sedangkan Bengkel kata adalah kegiatan yang bersifat pelatihan dan memberikan kemampuan atau pengetahuan tambahan mengenai puisi,bentuk-bentuk karya sastra yang lain,juga hal-hal lain di luar itu yang berhubungan dengan kehidupan berkomunitas di BuMa.

Beberapa kali BuMa mengundang sastrawan senior untuk berbagi, bukan sekadar menggurui. Karena pada dasarnya tiap orang memiliki cita rasa dan kekhasan dalam menulis puisi. Kiprah BuMa untuk Semua memungkinkan kerja sama dengan komunitas atau lembaga yang bergerak di dalam bidang literasi maupun nonliterasi untuk mengadakan kegiatan berpuisi atau literasi atau kesenian secara umum atau kegiatan dengan tujuan- tujuan sosial.

Langkah Maksimal

DAPAT dikatakan, sekumpulan sastrawan muda dalam komunitas BuMa bukanlah orang-orang yang ambisius. Meski ada banyak kesempatan untuk maju, mereka memilih mengambil langkah-langkah kecil, tapi maksimal.

Sukses dengan buku Antologi Bunga Matahari, mereka belum berencana merilis sekuel atau tetraloginya. “Mengalir aja. Rasanya belum ideal, dari waktu dan tenaga belum memungkinkan,” tutur Anya.

Dahulu, pembuatan buku antologi membutuhkan dedikasi penuh dari penggagasnya. Ada sekitar 5000 puisi pertama di milis yang disaring untuk masuk buku. “Editing kita termasuk tidak repot, tapi membutuhkan keseriusan,” jelas Anya. Puisi dari tahun 2000 sampai 2005 diambil ‘’Top 180-nya’’, dan dibuatkan buku. Jika menggunakan perhitungan seperti itu, untuk Antologi part II, paling tidak dibutuhkan puisi ke 5001- 10.000 puisi.

Namun, tidak semudah perkara angka saja. Tidak ada target khusus, semua menjalani hidup dan napas berpuisi dengan wajar. Anya dan Edo Walla mempersiapkan buku mereka, sementara anggota lain berpuisi dari blog ke blog. “Dari kita semua, buku Anya dan Edo paling siap maju ke penerbit,” dukung Ney. Dunia maya atau jaringan internet adalah kenyataan bagi anak-anak muda ini.

Mereka paham betul soal ‘’dramatisasi’’ dunia maya, apa yang sedang atau akan berjaya. Selain milis, BuMa memiliki ‘jendela-jendela’ di situs sosial lain seperti YouTube, Facebook, Friendster. “Selalu ada yang baru. Dan kita tidak membatasi hanya pada satu medium,” terang Mikael.

Bagi mereka, puisi dan internet sudah menjadi bagian dari kehidupan. Sastra dunia maya adalah hal yang menarik. BuMa ingin terus menyemangati dan mewadahi minat dan bakat menulis puisi juga merangsang keberanian dan keasyikan membaca puisi di semua kalangan.

Sementara itu, lewat puisi, BuMajuga ingin ikut melestarikan dan mengembangkan penggunaan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, BuMa telah dan terus mencari kesempatan untuk mengadakan kegiatankegiatan berpuisi yang menyenangkan serta menjalin kerja sama dengan komunitas-komunitas lain, baik yang bergerak dalam bidang sastra maupun tidak, untuk semakin mengakrabkan puisi dengan masyarakat. (yohana yuliatri)

Written by Waraney Rawung

April 28, 2008 at 3:47 AM

Posted in bungamatahari, sastra

Tagged with

Ulang Tahun BuMa di Yogyakarta. Apa Kabar Jakarta?

leave a comment »

Selamat siang teman-teman,

Ulang Tahun BuMa di Yogyakarta
Kalau tak ada halangan, malam ini saya, Mikael dan Anya akan ke stasiun Gambir membeli tiket kereta untuk perjalanan tanggal 18 April yang akan datang. Maaf kalau terkesan ingin duluan. Sampai saat ini siapa lagi  yang akan ikut ke Yogya masih belum jelas. Seingat saya baru Yoshi Gedong Project, Jorgi Ibrahim, Danar Allstar, Inez, dan Dani, yang sudah konfirmasi ingin pergi.

Ada beberapa teman lainnya yang sudah mengutarakan keinginan untuk ikut, tapi belum konfirmasi ulang. Harap maklum, acara ini memang serba spontan. Tapi karena spontanitas ini sudah disikapi dengan sangat baik oleh teman-teman BuMa di Yogya, saya rasa tak ada salahnya kita membalas ketulusan mereka dengan memberikan kepastian berapa orang yang akan datang.

Ini akan sangat membantu mereka dalam hal pemesanan tempat dan persiapan acara. Acaranya mungkin cuma akan hahahahihihi baca puisi asik asik, tapi bukan berarti tak boleh dipersiapkan dengan rapi kan? 🙂

Yuk, bantu mereka dengan mengirimkan sms konfirmasi ke nomor saya di 0816 116 3015 atau japri ke screamingney@gmail.com / duniahitam@yahoo.com / neyspeaking@yahoo.com.

Yang masih ragu-ragu, klik saja di sini untuk melihat informasi jadwal keberangkatan dan harga tiket kereta api. Lalu putuskan ingin naik yang jam berapa. Tiket sekali jalan ke Yogya berkisar antara Rp190.000 sampai Rp210.000.

Yang mau ketemu di stasiun Gambir (eh, Gambir kan? hehehe) malam ini, silahkan lho. Makin rame makin asik. Dari sana kita bisa kumpul2 di mana kek. Weekend nih!

Teman-teman dari kota lain (selain Jakarta, duh capek deh Jakarta melulu!) yang ingin datang ke acara di Yogya tanggal 19 April, selain bisa sms ke saya, bisa juga langsung kontak Malaikat Kecil atau teman-teman lainnya di Yogya.

 

Apa Kabar Jakarta?

Halo teman-teman di Jakarta! Nggak ada suaranya nih? Pada keberatan kerjaan semua ya? Hehehehe….Apa nggak ada yang ingin membuat acara ulang tahun BungaMatahari? Beberapa orang sudah menanyakan hal ini kepada saya, sayang belum ada yang menyatakan ingin menjadi ‘organizer’-nya.

Pak Atek dari Rumpin sudah bersedia membuat acara untuk teman-teman yang tinggal di daerah sekitar itu. Silahkan hubungi Pak Atek  untuk penjelasan lebih lanjut.

 

http://blackuniverse.multiply.com/journal/item/249/Ulang_Tahun_BuMa_di_Yogya._Apa_Kabar_Jakarta

Technorati Tags:

Written by Waraney Rawung

April 4, 2008 at 4:48 AM

Posted in bungamatahari