duniahitam

tentang hidup yang terkekang

Laksmi Good Food, Aksara Selingkuh Ubud, dan Penyakit Kusta Memagut

leave a comment »

Menurut Yoshi, kalau kemarin malam toko buku Aksara di Kemang dibom, majalah Indonesia Tattler pasti akan mengeluarkan edisi duka cita. Kenapa? Soalnya hadirin yang datang (agaknya) orang-orang ‘yang megang Jakarta’ semua.

Lelaki beristri spammer CCF ini memang pintar. Kalimat singkat itu mencakup semua kesan yang saya dapat tadi malam di Aksara. Tentu saja, pendapat semacam ini ‘kena’ banget di otak cheap bastard marxist wannabee seperti saya.

Pulang kantor kemarin malam, saya buru-buru meluncur ke Kemang. Setelah beberapa bulan tak perlu berhadapan dengan kebiadaban macet jalan-jalan ke arah daerah ini, semalam saya menderita betul. Taksi yang saya tumpangi nyangkut hampir setengah jam di depan Pasaraya Blok M. Masuk ke Kemang pun harus merayap, karena jalan Kemang Raya yang bopeng-bopeng habis.

Saya tak langsung ke Aksara, tapi mampir dulu ke Casa. Ketemu dua dedengkot aksi Kudeta Sastra, Anya Rompas dan Mikael Johani. Malam itu mereka sudah melewati entah pitcher ke berapa, sedang kesenangan mencoba cocktail, sambil mematangkan rencana Kudeta Sastra yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini. Meminjam istilah dari Binhad Nurrohmat (di acara KebunKata beberapa bulan lalu), mereka benar-benar tampak seperti gembong Sastra Funky. Padahal saya yakin betul Binhad lebih funky dari kedua setan itu.

Baru saja pantat menyentuh kursi, Mikael sudah menyodorkan mp3 record player ke moncong saya. Tanya ini-itu (tentu dalam bahasa Inggris, kan kami penyair gaul super mestizo!).

Setelah bosan, baru kita turun ke bawah. Buset. Ramai betul. Saya sampai tak tahu apa yang dibicarakan oleh Laksmi (dan lain-lain) dalam acara peluncuran tadi malam. Capek melihat acara yang entah tentang apa, kami pun ganti posisi ke dekat meja makan. Saya dapat masakan India. Lumayan kenyang.

Saat keliling-keliling cuci mata dan cari makanan, tiba-tiba ketemu Wendy Stoep, teman SMA yang sudah tak ketemu hampir 10 tahun. Malam itu dia bertugas jadi security acara. Bulan Juni atau Juli depan dia akan menikah, dan janji akan mengundang saya. Stoep dulu salah satu jagoan di SMA saya. Tapi dia anaknya baik banget lho. Nggak banyak ngomong, tapi pembela teman.

Bosan melihat keramaian Aksara yang seperti dipindah dari Ubud itu (menurut Mikael, serasa di Casa Luna atau Indus – sampai bule-bulenya pun orangnya itu-itu juga! hahahaha), kami pun pindah.

Sampai di Tabac, masih cukup sepi, lagu-lagu masih enak, crowd masih ok. Makin malam lagu makin tak jelas, crowd makin aneh, waiter makin tak ramah. Males. Jam 12 kami pun cabut.

Sudah ngantuk, tapi males pulang. Tahu kan rasanya? Suami-istri spammer garing pulang, kami bertiga terus ke Starbucks Thamrin. Ngobrol satu jam, tiba-tiba manajemen Starbucks dengan baik hati memutuskan menghibur tamunya dengan renovasi ruangan. Suara bor dan lain-lain yang bikin budek akhirnya mengusir kami pindah ke sebelah.

Di Burger King tak lama. Saya sudah ngantuk dan kebelet pup. Tapi di tongkrongan terakhir ini saya dapat ide untuk buat komunitas baru. Namanya P.E.N.Y.A.K.I.T. K.U.S.T.A.

Itu singkatan keren dari PENYAIR KECANDUAN INTERNET, KUDETA SASTRA SUKA-SUKA.

Mau bergabung? Download Flock dulu lah. Nanti kita ngobrol lagi. Sekarang saya mau kerja dulu.

Foto-foto bisa dilihat di sini.

 

 

Advertisements

Written by Waraney Rawung

March 27, 2008 at 4:06 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: