Posts Tagged ‘edo wallad’
Susan Boyle dan perasaan bersalah yang manusiawi
“Kurang enak rasanya ngeliat penyanyi yang tampangnya jelek. Walaupun suaranya bagus,” kata Edo kemarin sore. Saat itu saya, Edo, dan Mikael sedang ngobrol soal Susan Boyle, perempuan 47 tahun dari Skotlandia yang jadi fenomena YouTube minggu ini. Videonya dari acara Britain’s Got Talent sudah ditonton lebih dari 26 juta kali saat tulisan ini dibuat. Menurut situs Mashable, kalau video-video lainnya tentang Susan dihitung juga, total hits-nya mencapai 47 juta kali. Mengalahkan beberapa video YouTube tenar lainnya.
Siapa sih Susan Boyle? Perempuan ini adalah salah satu peserta Britain’s Got Talent yang awal minggu lalu mengejutkan juri dan penonton acara tersebut dengan suara emasnya. Saat ia pertama muncul di atas panggung, semua menertawakannya. Perempuan 47 tahun, gemuk, beruban, berpenampilan ndeso, mau jadi penyanyi tenar? Berani-beraninya!
Tapi begitu ia menunjukkan kebolehannya membawakan lagu “I Dreamed a Dream” dari drama musikal “Les Miserables” dengan sempurna, juri yang sinis dan penonton yang bengis ternganga, kagum tak mampu bersuara, lalu bertepuk tangan menggila.
Setelah menonton video itu, saya lalu mencari cerita lain tentang Susan dan tersandung artikel Tanya Gold di guardian.co.uk yang mengkritik perlakuan juri terhadap Susan serta reaksi kita terhadapnya. Singkatnya, perempuan jelek berbakat nyanyi diperlakukan lebih buruk dari laki-laki jelek berbakat nyanyi.

Tanya Gold: It wasn't singer Susan Boyle who was ugly on Britain's Got Talent so much as our reaction to her
Mike dan Edo bilang bahwa wajar-wajar saja kalau kita suka penyanyi yang cantik-cantik, dan bukan sesuatu yang luar biasa kalau penonton dan juri Britain’s Got Talent meremehkan Susan sebelum mendengarkan suaranya. Pendapat mereka mengingatkan saya tentang suatu penelitian (lupa baca dimana, kalau nggak salah New York Times) bahwa definisi cantik-tampan ternyata universal dan berhubungan dengan komposisi wajah dan tubuh. Semakin seimbang komposisinya, semakin cantik-tampan dan menarik individu tersebut di mata kita.
Berdasarkan teori tersebut, Susan jelas-jelas tidak simetris. Saya tak menganggap dia jelek. Tapi tanpa perlu mendengar pengakuannya di panggung bahwa “I’ve never been kissed” dan “I’m forty-seven, and that’s just one side of me,” saya sudah bisa menyimpulkan bahwa dia juga bukan perempuan yang cantik. Reaksi yang manusiawi kan? Manusiawi juga kalau kita merasa bersalah setelah sadar bahwa perempuan tak simetris itu ternyata bersuara emas.
Saya punya wajah yang juga tidak simetris (mata kanan lebih kecil dari mata kiri), dan sering minder gara-gara itu. Tapi rasa rendah diri ini berkurang setelah suatu hari di tahun 1996 seorang teman kuliah bertanya, “Ney, lo ngelmu ya?” Setelah bengong dua detik, saya tanya balik ke dia, “Nggak. Kok lo mikir gitu?” Jawabnya, “Abis cewek lo banyak, trus lo suka pake baju hitam, dan rajin jogging siang-siang.”
Sunyi sejenak. Saya tak tahu harus jawab apa, cengengesan, lalu pergi meninggalkan sang teman tanpa menjawab apa-apa. Bukan main kesimpulan yang bisa ditarik teman saya itu hanya dari observasi singkat tanpa penelitian lebih lanjut. Dipikirnya saya punya ilmu hitam untuk menggaet cewek-cewek Sastra, karena itu saya suka pakai baju hitam macam dukun, dan jogging saya itu bagian dari ritual ilmu hitam. (Disclaimer: banyak cewek karena di Fakultas Sastra UI — sekarang FIB UI — memang lebih banyak cewek dari cowok, pakai baju hitam terus biar kelihatan lebih langsing, dan jogging siang-siang biar cepat kurus!)
Tak usah merasa bersalah kalau kita pernah atau masih jadi orang-orang seperti penonton dan juri Britain’s Got Talent. Manusiawi kok. Jangan percaya juga sama ungkapan “don’t judge a book by it’s cover”. Omong kosong. Kalau nggak lihat dari sampulnya dulu, trus dari mana? Buktinya irisPUSTAKA menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menentukan sampul buku Mike dan Anya!
It’s ok to judge a book by it’s cover. But don’t go crying to mommy when you find a crappy story in it, or be the only person in the world who missed the best-seller.
resiko jadi penerbit buku puisi dan berteman penyair narsis
Akhirnya saat itu datang juga. Saat saya bisa menekan tombol save & publish di halaman multiply saya, serta menekan post di milis-milis, untuk tulisan yang sangat istimewa bagi saya.
Setelah sekian lama berupaya, kemarin siang dengan bangga saya bisa umumkan kepada publik bahwa irisPUSTAKA akan menerbitkan dan meluncurkan dua buku perdananya. Yang pertama karya Anya, ‘Kota Ini Kembang Api‘, dan yang kedua karya Mikael, ‘We Are Nowhere and It’s Wow‘.
Memang, baru sampai pada tahap mengumumkan. Jualan kecap dululah. Maklum, dulu kerja jadi humas.
Cukup panjang juga perjalanan irisPUSTAKA sebelum bisa sampai ke tahap ini. Saya ingat sekitar dua tahun lalu, tak lama setelah ramai-ramai peluncuran buku Antologi Puisi BungaMatahari mulai mereda, dan setelah rentetan wawancara dengan media dan acara-acara yang harus kami ikuti dan adakan selesai, suatu malam Anya dan Festi mengajak saya ketemu dan bicara.
Saya lupa tanggal berapa dan di kafe apa. Mungkin di Tornado Coffee Wolter Monginsidi, atau di Miko Coffee Sarinah Thamrin. Yang jelas, malam itu kedua perempuan ini menawarkan saya untuk bergabung dalam usaha penerbitan kecil-kecilan yang akan mereka buat.
Kelakuan saya yang cukup pelacur dan tak tahu malu saat mempromosikan Antologi BuMa (promosi yang sukses karena masuk Kompas dan beberapa media massa lainnya), rupanya dianggap mereka sebagai sesuatu yang dibutuhkan penerbit yang masih bayi ini. Jadilah saya didaulat sebagai pelaksana promosi dan social networking.
Kami pun mulai sering menghabiskan malam-malam begadang untuk memperjelas konsep penerbitan ini. Saya pun mendorong Anya untuk rajin menghadiri acara-acara sastra dan budaya yang diadakan di Jakarta. Lumayan buat networking dan menimba ilmu. Kadang-kadang dia kami temani, lebih sering lagi pergi sendiri.
Tak semua rencana berjalan lancar. Kesibukan kerja yang sering membuat saya terbuang ke pelosok-pelosok negeri, ditambah dengan kegiatan Festi dan Anya yang juga padat, membuat jadwal kerja kami molor sampai berbulan-bulan, bahkan setahun lebih. Untung kami dapat bantuan dari Ade, yang rela diminta membantu proses editing saat segalanya sudah setengah jalan.
Sampai saat ini, selain Anya dan Mikael, irisPUSTAKA sedang menyiapkan buku-buku karya Olivia, Ulil, dan Edo.
Luka dan Rieke juga telah memberikan karya mereka kepada saya untuk dibaca. Moga-moga bisa diurus secepatnya.
Malam ini saya harus kirim email lagi ke panitia UWRF. Anya tadi menelepon dan bilang bahwa Mikael kurang suka dengan blurb tentang bukunya yang tercantum di jadwal acara UWRF. Katanya membuat dia terkesan seperti lulusan TUK! Hahaha. Bingung juga saya, harus bilang apa ke orang UWRF agar blurb itu diganti.
Mikael ingin supaya blurb untuk dia bunyinya seperti ini:
we are nowhere and it’s wow is mikael johani’s first poetry collection. it’s divided into three sections, home, home part deux, away, and we are nowhere and it’s wow. because he likes being coy. home is away, away is home, part deux is part un, nowhere is somewhere etc. includes such orientalist pesudo-political poems as away with wiji thukul I-VIII as well as apathetic occidentalist ones like esthétique du mall. i need ten more words for this short blurb. blurb.
Talk about nowhere. Totally wow.
Inilah resikonya membuat penerbitan dan berurusan dengan penyair narsis. God help me.





