duniahitam

tentang hidup yang terkekang

Posts Tagged ‘bungamatahari

Marshanda, Markentong, dan Marji’ah

with 10 comments

Marshanda sedang jadi topik pembicaraan seru di Twitter (dan social media sites lainnya) beberapa hari ini, walaupun belum sampai jadi trending topics. Aktris dan penyanyi muda ini bikin heboh gara-gara video di YouTube, dimana ia menyanyi, lompat-lompat, menari-nari, dan ketawa-ketawa sendiri sambil meledek beberapa teman sekolahnya dulu.

Picture 5

Sekarang video itu sudah tak ada lagi di account Marshanda. Namun kita masih bisa menonton copy-nya di sini (UPDATE: maaf temans, linknya saya hapus. Setuju sama Pitra. Kasihan sama pemiliknya. Kalau mau cari, Google aje!). Namanya juga dunia online, sekali masuk susah keluar (seperti cerita seram jaman dulu, tentang pasangan yang bercinta di kuburan…hehehe, ngelantur!).

Komentar-komentar yang berhamburan di halaman account YouTube Marshanda dan account si pelaku reposting, serta di Twitter search, umumnya kejam-kejam. Ia dituduh mabok, stress, kesurupan, sampai cari sensasi. Seorang teman bahkan sempat menyangka bahwa video tersebut adalah bagian dari strategi viral marketing untuk mempromosikan sinetron terbaru aktris ini.

Marshanda di Twitter search

Saya sendiri menganggap video tersebut lucu-lucu aja. Memang orangnya juga lucu. Hehehe. But really, she’s just acting like a teenager. Bukannya mau pukul rata bahwa remaja pada umumnya memang clueless begitu, tapi kalau dipikir-pikir, kehebohan ini muncul hanya karena pelakunya punya status selebriti. Coba yang bikin video macam itu teman kita atau a nobody seperti saya. Paling-paling yang nonton cekikikan sebentar, lalu share di Twitter dan Facebook supaya bisa ketawa rame-rame.

Selain video yang bikin heboh itu, ada video-video lain yang agaknya di-upload Marshanda selama kurun waktu yang kurang lebih sama (satu minggu). Semuanya menampilkan dirinya sedang menyanyi dan bergaya macam-macam. Ada yang solo, ada juga yang trio dengan beberapa teman. Bukan sesuatu yang luar biasa juga, dan sama sekali bukan sesuatu yang pantas mendapatkan komentar negatif dan caci maki. Semua video ini sudah dihapus, dan yang tertinggal hanya tiga video ’standar.’

Buat saya, tak ada yang salah dengan kelakuan Marshanda joget-joget dan nyanyi-nyanyi fals di depan umum. Yang jadi masalah cuma statusnya sebagai selebriti. Tapi mungkin tak ada salahnya dia pikir-pikir dulu sebelum posting. Karena seperti yang dibilang Pitra, bisa-bisa dia dituntut oleh teman-temannya yang diledek di video itu.

Lain kali Marshanda harus konsultasi dulu ke teman saya, Yoshi Febrianto, yang jago bikin video lucu. Belum lama ini seri video “Tulisanmu Puisiku” buatannya (yang katanya sudah diedit) menjadi salah satu video yang ditampilkan di festival OK Video “Comedy”. Kalau tak salah, seri video ini aslinya dibuat dadakan (dengan sang istri sebagai pemanggul kamera) saat kesal menunggu anak-anak BungaMatahari yang datang ngaret ke Kebun Raya Bogor untuk acara KebunKata “KebunRaya.”

Marshanda (dan saya juga!) bisa belajar banyak dari Yoshi soal kreativitas.

Sekarang coba lihat video “Response to Marshanda Nangis 3: Markentong dan Marji’ah Nangis”. Saya dan beberapa teman terpingkal-pingkal saat menontonnya. Waktu saya pertama menontonnya, hanya ada ratusan views, dan sekarang sudah mencapai lebih dari 4000 views. Efek word of mouth di dunia online memang mantap!

Viral effect macam ini habis-habisan diidamkan online marketers dan public relations consultants. Banyak yang mengejarnya, hanya sedikit yang berhasil mencapainya. Resepnya memang susah-susah gampang. Buat content yang sederhana tapi menarik, yang bisa membuat orang nonton berkali-kali dan mendorong kita menyebarkan link-nya kemana-mana. As simple as that, but easier said than done.

Response to Marshanda Nangis 3: Markentong dan Marji'ah Nangis

Baca juga:

Marshanda Pecas Ndahe – Ndoro Kakung

Marshanda di YouTube? – Media Ide

Would you date this Marshanda girl? – unspun

Good Girls Go Bad – Insomniac Lolita

BungaMatahari: KebunKata ‘Kota’

with one comment

tak sepuluh menit dari mas dan mansyur
selepas kebon kacang raya yang simpang syur
ada nirwana di balik gerbang
nusantara yang tak kenal petang

penjaganya mungkin adik, kakak, atau bapakmu
relakan mereka mengintip lubang celanamu
(siapa tahu hati berdebu mesiu dan dinamit)
amit-amit.

di ruang tamu bhineka tunggal ika
penelope menanti dengan senyum abadinya
katakan, “dia menunggumu di pojok soho!”
sampai dia mengedipkan matanya, “mango!”

aku menunggumu di bawah kaki-kaki rel kereta
tertidur dibuai rekaman suara roda-roda
peluit masinis yang tak kunjung tiba
udara menipis, cuaca mafia

lampu-lampu kuning meringis
pohon yang tak pernah mati
aku berkaca di buah ceri
dipeluk zara.

Merayakan November yang basah bergairah, BungaMatahari mengundang teman-teman untuk meramaikan KebunKata ‘Kota’, hari Minggu, 16 November, pukul 14.00-18.00, di Café au Lait, Jalan Cikini Raya sekian sekian, Jakarta Pusat.

Hujan yang seksi dan aspal yang honey akan menemani kita dalam perjalanan menuju sesi pemujaan diri, yang dijamin akan membuat semua pecah, bagai cinta yang baru kenal ekstasi.

Kopi sinis dan teman-teman manis siap mengelus punggung yang lelah didera dongeng parlemen.

Gratis puisi dan orgasme hati.

Bayar sendiri-sendiri tapi berteman sampai mati.

Written by Waraney Rawung

10 November 2008 at 5:40 PM

Posted in bungamatahari, sastra

Tagged with ,

BungaMatahari: KebunKata KebunRaya Bogor, 30 Agustus 2008

with one comment

seorang kawan pernah mengajak saya pesta LSD
dia bilang, enak lho, apalagi sambil berpuisi
apalagi sambil tidur-tiduran piknik hahaha hihihi

saya tanya, pikniknya dimana?
di Kebun Raya Bogor, kata dia
rasanya seperti apa?
seperti naik pesawat ruang angkasa!

sampai saat ini saya belum mengiyakan ajakannya.
mungkin karena takut halusinasi gila-gilaan
bisa juga takut digandeng polisi dan masup bui.
atau, ngeri diculik hantu-hantu penghuni pohon-pohon tua.

akhir minggu ini, hari sabtu 30 agustus 2008
tak perlu LSD, tak usah bawa segala yang kimiawi
mari kita mabuk kata-kata menghirup udara non-Jakarta
dalam acara KebunKata di Bogor punya Kebun Raya!

kumpul di crackhouse buma & irispustaka
perumnas tanah abang, blok 1 lantai 3 nomor 4
sabtu, 30 agustus 2008, jam 9 pagi
atau langsung meluncur sendiri
ke kebun yang selalu raya

naik apa? naik kereta atau naik mobil sendiri pun tak apa!
(yang kasih saya tebengan akan dianggap saudara)

ketemu dimana? di depan kolam depan cafe dedaunan!
(yang depresi silakan nyemplung duluan)

sampai jam berapa? sampai suara serak dan kantong cekak!
(bawa bekal piknik sendiri ya, kan sudah dewasa)

lagi-lagi, siapkan pakaian santai
kumpulkan puisi-puisi cincai
beli kacamata cengdem di melawai
lagi-lagi, semua bisa berpuisi!

sampai jumpa di kebunkata!

ney
-yang sedang malas nulis iklan bagus2-

Written by Waraney Rawung

26 August 2008 at 8:01 AM

BengkelKata BungaMatahari: Tuhkan Ada Hal-Hal Yang Belum Selesai! 11 Mei, 2008

without comments

Hai teman-teman!

Sesuai janji surga kami para moderators (sebenarnya saya aja sih yang janji tapi mengatasnamakan banyak orang kan sekarang lagi nge-trend jadi ya sudahlah), hari Minggu, 11 Mei, 2008 yang akan datang, BungaMatahari akan mengadakan Bengkel Kata bertema “Tuhkan Ada Hal-Hal Yang Belum Selesai!” di Cafe au Lait, Cikini, Jakarta Pusat.

Acara ini diadakan untuk memuaskan dahaga hati yang kentang (kena tanggung-istilah anak disko jaman dulu oh yee) sepulang dari diskusi “Menilik Sastra Maya” di Teater Utan Kayu tanggal 12 Maret lalu. Kalau acara di TUK waktu itu lebih memusatkan perhatian kepada ’sastra maya’ sebagai sebuah wacana, “Tuhkan” diniatkan sebagai ajang bagi-bagi ilmu tentang blogging, stumbling, flocking, facebooking, photo-stealing, poetry-stealing (oh yeaaah Erwin Arianto!), dan segala cara asoygeboy yang tersedia untuk lebih memaksimalkan kehadiran kita sebagai penyair dunia maya.

“Tuhkan Ada Hal-Hal Yang Belum Selesai” akan menghadirkan penulis Eka Kurniawan sebagai pemancing diskusi. Penulis yang cukup geeky bloody nerdy but oh so sexy ini juga akan membagi ilmu tentang cara memaksimalkan tools-tools yang disediakan oleh The Internet bagi kita, para oh-so-cool-cyborgs. Pelaku Kudeta Sastra Anya Rompas dan Mikael Johani juga akan mendampingi Master Eka. Jadi buat kalian yang suka nyolong foto2 Anya dari blog saya, juga buat para MJholics Indonesia, ini kesempatan sempurna untuk melengkapi koleksi dan memenuhi obsesi.

Nothing wrong with a little obsession, eh?

Jadi, siapkan laptop kalian. Pinjam kalau perlu, nyolong kalau punya ekstra nyali. Kami tunggu kedatangan kalian di Cafe au Lait. Jam 6 sore sampai 9 malam!

Peserta acara ini akan mendapat sertifikat P.E.N.Y.A.K.I.T.K.U.S.T.A (Penyair Kecanduan Internet Kudeta Sastra Suka-Suka) yang ditandatangani oleh saya sendiri, serta mendapat kesempatan untuk foto-foto bareng dengan who else but yours truly.

Written by Waraney Rawung

7 May 2008 at 6:36 PM

Posted in Uncategorized

Tagged with

BungaMatahari @Koran Seputar Indonesia, Minggu, 27 April, 2008

with one comment

Penyair Dunia Maya

Minggu, 27/04/2008

‘‘SEMUA bisa berpuisi’’,itulah tagline dari komunitas BungaMatahari.Siapa pun yang suka berpuisi bisa curhat lewat milis itu, termasuk Anda.

BungaMatahari (BuMa) adalah komunitas puisi berbasis mailing list (milis) yang dibentuk pada 19 April 2000 oleh Gratiagusti Chananya Rompas (Anya).

Anggota sekaligus moderator, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan TukangKebun.Penggagas milis ini adalah Danar Pramesti. Pada awalnya, milis BuMa merupakan ajang tukar-menukar puisi bagi kedua perempuan ini. Di kampus Universitas Indonesia,Anya dan Danar bertemu dan mulai nongkrong bareng.

“Awalnya, namanya anak kuliah,pengen main. Kebetulan pada suka nulis puisi,kita mikir seru banget, nongkrong sambil bikin puisi,” tutur Anya saat berbincang dengan SINDO, di Tornado Coffee. Dari dua menjadi banyak. Mereka ‘’menggalang’’ massa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik juga Fakultas Sastra UI.

Anehnya, para sastrawan muda di fakultas sastra sempat menolak gabung.Namun, perlahan-lahan milis Bungamatahari mulai dikunjungi dan memiliki member dalam jumlah signifikan. “Terlebih pas awal launching buku ‘Antologi Bunga Matahari’. Kita sempat kebanjiran request member.Tapi belakangan ini mulai stabil,”ujar Ney,seorang TukangKebun.

Dalam delapan tahun perjalanan BuMa, mereka telah memiliki sekitar 1600 member dalam mailing list BuMa,dan sebuah buku antologi puisi. Perkembangan BuMa yang termasuk cepat memerlukan sejumlah moderator andal. Sebut saja tukang kebun lain,yaitu Nurman Priatna, Pugar Restu Julian,Aloysius Widyosuwasto, Lovelli Ariesti, Yoshi Febriyanto, Festi Noverini, dan Waraney Herald Rawung.

Nama BungaMatahari dipilih berdasarkan sejumlah alasan. Pertama-tama,kebanyakan orang masih memandang puisi sebagai sesuatu yang melankolis cenderung tragis cenderung menye-menye, paling tidak pada saat milisini dibuat. Keinginan untuk membongkar pandangan semacam inilah yang mendorong pendiri untuk mengedepankan gambaran bunga matahari yang cerah, ceria, namun pada saat yang bersamaan masih memiliki sisi puitis.

‘’Semua Bisa Berpuisi’’, Mikael Johani seorang moderator BuMa, yang menyebut dirinya penyair, kerap mendapati sinisme akan ungkapan tersebut.Tidak sedikit penyair atau sastrawan angkatan lebih tua mengkritisi karya mereka. Semua bisa berpuisi banyak dikritik.Menurut mereka, enggak semua orang dapat berpuisi. Tapi kalau BuMa asyik-asyik aja.

“Generasi baru sastra yang belum diakui tidak mencari pemberkatan atau restu dari mereka. Kita di sini untuk berbagi,”ujar Mikael. “Dan kita tidak berminat untuk digurui,”tambah Anya. Sederhananya, semua orang dapat bergabung dalam milisBuMa dan berpuisi.Tidak terlalu peduli akan tema, struktur, karena semua dikembalikan pada kedewasaan masing-masing anggota.Pada prinsipnya, seseorang bisa bertutur lewat puisi, mengasah kepekaan mereka,dan berani berpuisi lewat milis.

Keanekaragaman tema membuat para moderatornya ‘’kewalahan’’.Beberapa puisi yang mengandung unsur Sara dipersilakan menempati ruang dalam milis.Lalu di mana letak sensor? “Tidak ada.Kita mengembalikan pada pembaca untuk menginterpretasi puisi itu,”tutur Anya.

Jikalau ada perdebatan, hendaknya tidak menjadi api pemicu permasalahan lebih besar. Sosok-sosok sastrawan mudainimemilikikedewasaandan kebijakan dalam menyikapi ekspresi rekan-rekan mereka. Saat ini (masih) berkembang dalam lingkup dunia maya.

“Bagi kami dunia maya adalah nyata,”ujar Mikael seraya tersenyum. Ya, berbasis internet Bu- Ma menyalurkan cita rasa sastra semua kalangan yang mencintai kata-kata.Para moderatornya pun jeli melihat perkembangan internet dengan segala layanannya.Tidak sekadar milis,tapi juga memaksimalkan layanan yang ada untuk menjaga eksistensi BuMa.

“Kita pernah bikin acara baca puisi bersama, dan direkam lalu dimasukkan ke dalam YouTube,”jelas Ney. Atau Lahirnya The Toilet dan Kwaci untuk mengakomodasikan hujanan kata dari para anggotanya.The Toilet berisikan puisi dalam bahasa inggris, sementara Kwaci adalah milis untuk menampung cerita pendek. Perlu diingat bahwa di BuMa,hanya puisi berbahasa Indonesia yang diterima.

Dan sampai saat ini BuMa telah memiliki puluhan ribu puisi yang 180 di antaranya sudah dibukukan dalam Antologi Puisi Bunga Mataharidi tahun 2006. Melihat perkembangan BuMa kini, baik Anya maupun Danar tidak akan menyangka bisa jadi sebesar ini.

“Tidak menyangka sama sekali. Kalau sekarang ngobrolsama Danar suka lucu aja. Dulu kita paling cuma iseng. Awalnya, pengen semangat nongkrong lebih gede dari berpuisi,” ungkap Anya seraya tertawa.

Antara Maya dan Nyata

SELAIN aktif di dunia maya, komunitas Bunga Matahari memiliki serangkaian acara di dunia nyata. Di antaranya Kebun kata, Rumah kata, Bengkel kata, dan BuMa untuk semua.

KebunKata adalah acara pembacaan puisi yang terbuka bagi siapa saja – anggota BuMa atau bukan. Walaupun menawarkan konsep pembacaan puisi yang santai dan spontan, acara ini biasanya mengangkat sebuah tema untuk dieksplorasi oleh pengunjungnya. Di dalam acara ini beberapa kali dilakukan kegiatan MainKata.

Di sini para pengunjung dapat bekerja sama menuliskan sebuah atau beberapa puisi. RumahKata adalah sebuah acara berkonsep pameran yang menampilkan karya-karya eksplorasi dari literatur yang dipadukan dengan kesenian-kesenian lain. Pameran selalu dibuka dengan sejumlah pertunjukan yang sedapat mungkin juga mengusung semangat kolaborasi, baik antara dua atau lebih bentuk kesenian yang berbeda maupun dua atau lebih penampil.

Acara ini diselenggarakan secara berkala oleh Komunitas BungaMatahari (BuMa) dan mengangkat tema berbeda setiap kalinya. Sedangkan Bengkel kata adalah kegiatan yang bersifat pelatihan dan memberikan kemampuan atau pengetahuan tambahan mengenai puisi,bentuk-bentuk karya sastra yang lain,juga hal-hal lain di luar itu yang berhubungan dengan kehidupan berkomunitas di BuMa.

Beberapa kali BuMa mengundang sastrawan senior untuk berbagi, bukan sekadar menggurui. Karena pada dasarnya tiap orang memiliki cita rasa dan kekhasan dalam menulis puisi. Kiprah BuMa untuk Semua memungkinkan kerja sama dengan komunitas atau lembaga yang bergerak di dalam bidang literasi maupun nonliterasi untuk mengadakan kegiatan berpuisi atau literasi atau kesenian secara umum atau kegiatan dengan tujuan- tujuan sosial.

Langkah Maksimal

DAPAT dikatakan, sekumpulan sastrawan muda dalam komunitas BuMa bukanlah orang-orang yang ambisius. Meski ada banyak kesempatan untuk maju, mereka memilih mengambil langkah-langkah kecil, tapi maksimal.

Sukses dengan buku Antologi Bunga Matahari, mereka belum berencana merilis sekuel atau tetraloginya. “Mengalir aja. Rasanya belum ideal, dari waktu dan tenaga belum memungkinkan,” tutur Anya.

Dahulu, pembuatan buku antologi membutuhkan dedikasi penuh dari penggagasnya. Ada sekitar 5000 puisi pertama di milis yang disaring untuk masuk buku. “Editing kita termasuk tidak repot, tapi membutuhkan keseriusan,” jelas Anya. Puisi dari tahun 2000 sampai 2005 diambil ‘’Top 180-nya’’, dan dibuatkan buku. Jika menggunakan perhitungan seperti itu, untuk Antologi part II, paling tidak dibutuhkan puisi ke 5001- 10.000 puisi.

Namun, tidak semudah perkara angka saja. Tidak ada target khusus, semua menjalani hidup dan napas berpuisi dengan wajar. Anya dan Edo Walla mempersiapkan buku mereka, sementara anggota lain berpuisi dari blog ke blog. “Dari kita semua, buku Anya dan Edo paling siap maju ke penerbit,” dukung Ney. Dunia maya atau jaringan internet adalah kenyataan bagi anak-anak muda ini.

Mereka paham betul soal ‘’dramatisasi’’ dunia maya, apa yang sedang atau akan berjaya. Selain milis, BuMa memiliki ‘jendela-jendela’ di situs sosial lain seperti YouTube, Facebook, Friendster. “Selalu ada yang baru. Dan kita tidak membatasi hanya pada satu medium,” terang Mikael.

Bagi mereka, puisi dan internet sudah menjadi bagian dari kehidupan. Sastra dunia maya adalah hal yang menarik. BuMa ingin terus menyemangati dan mewadahi minat dan bakat menulis puisi juga merangsang keberanian dan keasyikan membaca puisi di semua kalangan.

Sementara itu, lewat puisi, BuMajuga ingin ikut melestarikan dan mengembangkan penggunaan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, BuMa telah dan terus mencari kesempatan untuk mengadakan kegiatankegiatan berpuisi yang menyenangkan serta menjalin kerja sama dengan komunitas-komunitas lain, baik yang bergerak dalam bidang sastra maupun tidak, untuk semakin mengakrabkan puisi dengan masyarakat. (yohana yuliatri)

Written by Waraney Rawung

28 April 2008 at 3:47 AM

Posted in bungamatahari, sastra

Tagged with