Posts Tagged ‘arief rakhmadani’
Anak Perawan di Sarang Social Geeks
Akhirnya tim Digital di kantor saya punya anggota perempuan. Sejak pertama bergabung kembali di sini, saya menyadari bahwa komposisi tim yang mayoritas laki-laki (ada Mbak Titi, tapi dia saat ini sedang cuti hamil, and she’s like one of the boys too
) membuat kelakuan kami seperti jocks di locker room yang sering kita tonton di film-film remaja keluaran Hollywood. Biasalah, becandaan jorok, ketawa ngakak nggak liat-liat tempat, sulit untuk bisa serius, dan kecenderungan untuk berkelakuan ekstra maskulin.
Saya jadi teringat novel Musashi yang saya baca waktu SD dulu. Di salah satu bagiannya, diceritakan bahwa Musashi (atau Kojiro musuh bebuyutannya, lupa juga) berkunjung ke sebuah perguruan samurai yang cukup terhormat di masa itu. Saat melongok ke dalam salah satu bangsal tempat para samurai (laki-laki semua tentunya) tidur, ia melihat di salah satu dinding tergantung cermin, selendang, dan alat-alat berdandan. Saya kurang ingat juga tepatnya apa, tapi yang jelas benda-benda tersebut adalah barang-barang yang biasa digunakan kaum perempuan.
Waktu Musashi (atau Kojiro?) bertanya kepada samurai yang menemaninya, jawabnya kurang lebih seperti ini, “Tidak baik bagi sekumpulan laki-laki untuk tinggal dan berkegiatan bersama-sama dalam waktu lama, tanpa ada unsur-unsur feminin dalam lingkungan mereka.”
Intinya, para samurai itu diingatkan bahwa ada yang kasar dan ada juga yang lembut, ada yang hitam dan ada yang putih. Segala sesuatu harus seimbang.
Nah, berdasarkan semangat itulah, sejak awal saya sudah mengingatkan kepada Deden dan Nanda bahwa kalau jumlah proyek dan klien yang kami tangani semakin banyak, kami harus menambah anggota baru, yang sebaiknya perempuan. Setelah pencarian yang tak lama-lama amat, kami memutuskan untuk menarik Emie dari divisi Media Monitoring untuk mengisi posisi intern Account Executive.
Welcome Emie! Sabar-sabar ya menghadapi kelakuan social geeks yang kadang-kadang menyebalkan ini!
Koleksi Action Figures di Meja Kerja, Untuk Apa?
Apakah kegemaran terhadap benda-benda yang berhubungan dengan Star Wars selalu identik dengan ‘digital’? Pertanyaan ini dilontarkan oleh rekan sekantor saya, Mbak Misty, pertama karena saya cerita bahwa saya baru saja menambahkan beberapa action figures Star Wars di meja kerja saya, kedua karena Nanda juga punya beberapa figures Star Wars di ruangannya.
Dikaitkan dengan pertanyaan Mbak Misty, agaknya konteks ‘digital’ di sini lebih ke arah para geek, anggota Digital team di kantor kami, yaitu Nanda, Deden, Arief, dan Yoshi. Apa hubungannya geek dan action figures? Coba lihat arti geek menurut Wikipedia:
The word geek is a slang term, noting individuals as “a peculiar or otherwise odd person, especially one who is perceived to be overly obsessed with one or more things including those of intellectuality, electronics, etc.”
Singkatnya, seseorang yang punya minat atau ketertarikan khusus yang agak-agak beda dari biasanya terhadap sesuatu, bisa berupa benda, atau hal-hal lainnya. Kurang lebih itu pengertian yang saya simpulkan.
Setelah dipikir-pikir sebentar, agaknya memang ada hubungan dengan status geek atau social geek yang kami sandang. Sifat pekerjaan yang mengharuskan kami bersentuhan dan bermain-main dengan dunia internet, all things digital and electronic, sangat dekat dengan segala sesuatu yang berbau robot dan action figures.
Di kantor kami, bukan hanya saya dan Nanda yang memboyong sebagian harta karun action figures ke kantor. Ada Dita, yang hobi mengumpulkan segala hal yang berhubungan dengan Wonder Woman, dan ada Mbak Titi yang tergila-gila dengan Superman. Dita dan Mbak Titi nggak geek-geek amat, jadi apa hubungannya antara action figures dan geek dong? Entahlah.



Karena tulisan ini dibuat di sela-sela lembur (sudah hampir jam 9 malam) dan orang-orang yang bersangkutan sudah pulang, saya nggak tahu alasan mereka menghias ruangannya dengan mainan-mainan tersebut. Buat saya, action figures yang bertebaran di meja kerja menimbulkan rasa nyaman, seolah-olah berada di ruang belajar di rumah sendiri. Setiap hari saya bisa menghabiskan 8 sampai 12 jam bekerja di kantor. Lebih baik membuat diri senyaman mungkin, bukan? Seperti yang ditulis Hanny, teman di kantor saya dulu, dalam tulisan menarik, “Menyikapi Pekerjaan Dengan Hati Senang.”
Selain itu action figures juga dapat memancing kreativitas dan imajinasi yang sangat penting saat harus menulis proposal dan rekomendasi untuk klien. Saat sedang bosan dan suntuk, action figures juga bisa buat bermain-main sejenak. Namanya juga mainan!
There’s a child inside all of us. Are you willing to let them out from time to time?












