Posts Tagged ‘anya rompas’
Jaemanis Rosemary Johani, Selamat Datang di Taman Bermain Kami
Jaemanis Rosemary Johani
Selamat datang di dunia yang semakin mengecil ini
Kami tak sempat buatkan kartu ucapan
Beli di mall, nanti terkesan pasaran
Lebih baik kamu pandangi saja jejak-jejak digital oom, tante, papa, dan mama
Moga-moga saat kau sudah cukup besar untuk berselancar di dunia maya
Taman bermain kami (yang tak henti menolak tua),
Bukan lemari tua bersarang laba-laba di matamu.
Susan Boyle dan perasaan bersalah yang manusiawi
“Kurang enak rasanya ngeliat penyanyi yang tampangnya jelek. Walaupun suaranya bagus,” kata Edo kemarin sore. Saat itu saya, Edo, dan Mikael sedang ngobrol soal Susan Boyle, perempuan 47 tahun dari Skotlandia yang jadi fenomena YouTube minggu ini. Videonya dari acara Britain’s Got Talent sudah ditonton lebih dari 26 juta kali saat tulisan ini dibuat. Menurut situs Mashable, kalau video-video lainnya tentang Susan dihitung juga, total hits-nya mencapai 47 juta kali. Mengalahkan beberapa video YouTube tenar lainnya.
Siapa sih Susan Boyle? Perempuan ini adalah salah satu peserta Britain’s Got Talent yang awal minggu lalu mengejutkan juri dan penonton acara tersebut dengan suara emasnya. Saat ia pertama muncul di atas panggung, semua menertawakannya. Perempuan 47 tahun, gemuk, beruban, berpenampilan ndeso, mau jadi penyanyi tenar? Berani-beraninya!
Tapi begitu ia menunjukkan kebolehannya membawakan lagu “I Dreamed a Dream” dari drama musikal “Les Miserables” dengan sempurna, juri yang sinis dan penonton yang bengis ternganga, kagum tak mampu bersuara, lalu bertepuk tangan menggila.
Setelah menonton video itu, saya lalu mencari cerita lain tentang Susan dan tersandung artikel Tanya Gold di guardian.co.uk yang mengkritik perlakuan juri terhadap Susan serta reaksi kita terhadapnya. Singkatnya, perempuan jelek berbakat nyanyi diperlakukan lebih buruk dari laki-laki jelek berbakat nyanyi.

Tanya Gold: It wasn't singer Susan Boyle who was ugly on Britain's Got Talent so much as our reaction to her
Mike dan Edo bilang bahwa wajar-wajar saja kalau kita suka penyanyi yang cantik-cantik, dan bukan sesuatu yang luar biasa kalau penonton dan juri Britain’s Got Talent meremehkan Susan sebelum mendengarkan suaranya. Pendapat mereka mengingatkan saya tentang suatu penelitian (lupa baca dimana, kalau nggak salah New York Times) bahwa definisi cantik-tampan ternyata universal dan berhubungan dengan komposisi wajah dan tubuh. Semakin seimbang komposisinya, semakin cantik-tampan dan menarik individu tersebut di mata kita.
Berdasarkan teori tersebut, Susan jelas-jelas tidak simetris. Saya tak menganggap dia jelek. Tapi tanpa perlu mendengar pengakuannya di panggung bahwa “I’ve never been kissed” dan “I’m forty-seven, and that’s just one side of me,” saya sudah bisa menyimpulkan bahwa dia juga bukan perempuan yang cantik. Reaksi yang manusiawi kan? Manusiawi juga kalau kita merasa bersalah setelah sadar bahwa perempuan tak simetris itu ternyata bersuara emas.
Saya punya wajah yang juga tidak simetris (mata kanan lebih kecil dari mata kiri), dan sering minder gara-gara itu. Tapi rasa rendah diri ini berkurang setelah suatu hari di tahun 1996 seorang teman kuliah bertanya, “Ney, lo ngelmu ya?” Setelah bengong dua detik, saya tanya balik ke dia, “Nggak. Kok lo mikir gitu?” Jawabnya, “Abis cewek lo banyak, trus lo suka pake baju hitam, dan rajin jogging siang-siang.”
Sunyi sejenak. Saya tak tahu harus jawab apa, cengengesan, lalu pergi meninggalkan sang teman tanpa menjawab apa-apa. Bukan main kesimpulan yang bisa ditarik teman saya itu hanya dari observasi singkat tanpa penelitian lebih lanjut. Dipikirnya saya punya ilmu hitam untuk menggaet cewek-cewek Sastra, karena itu saya suka pakai baju hitam macam dukun, dan jogging saya itu bagian dari ritual ilmu hitam. (Disclaimer: banyak cewek karena di Fakultas Sastra UI — sekarang FIB UI — memang lebih banyak cewek dari cowok, pakai baju hitam terus biar kelihatan lebih langsing, dan jogging siang-siang biar cepat kurus!)
Tak usah merasa bersalah kalau kita pernah atau masih jadi orang-orang seperti penonton dan juri Britain’s Got Talent. Manusiawi kok. Jangan percaya juga sama ungkapan “don’t judge a book by it’s cover”. Omong kosong. Kalau nggak lihat dari sampulnya dulu, trus dari mana? Buktinya irisPUSTAKA menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menentukan sampul buku Mike dan Anya!
It’s ok to judge a book by it’s cover. But don’t go crying to mommy when you find a crappy story in it, or be the only person in the world who missed the best-seller.
cerita dari ubud: kembang api di galeri yang tak sepi oh wow!
Gaya Fusion ternyata lebih besar dari yang kami bayangkan. Selama ini kami hanya pernah melihat foto-foto tempat ini melalui website-nya, sebuah restoran romantis, intim, dan kecil, dengan cahaya remang-remang. Kami pikir tempat sekecil itu pasti hanya bisa memuat penonton dalam jumlah terbatas. Bagus, karena semakin sedikit yang datang, semakin mudah mengendalikan acara. Kami memang terbiasa dengan acara-acara kecil yang akrab.
Sore itu, Jumat, 17 Oktober 2008, saat berdiri di depan galeri yang luas, saya, Mikael, dan Anya langsung panik. Rasanya tak mungkin mengisi ruangan ini dengan penonton, karena pada saat bersamaan ada beberapa acara menarik lainnya yang sedang berlangsung. Sebagian besar peserta Ubud Writers & Readers Festival pasti sedang di penginapan, bersiap-siap meramaikan Poetry Slam di Restoran Bebek Bengil pukul 19:00 malam itu.
Walaupun terbiasa dengan kelompok yang kecil dan akrab, bukan berarti kami ingin tampil dalam ruang besar kosong melompong, bukan?
Oleh karena itu, sejak tiba di Ubud hari Selasa, 14 Oktober lalu, saya sudah melakukan promosi habis-habisan. Antara lain dengan membagikan postcard undangan kepada para penulis, asing maupun lokal, yang menurut perkiraan saya akan tertarik datang. Saya juga minta bantuan teman-teman volunteer untuk sebanyak-banyaknya membagikan postcard itu kepada para peserta festival.
Di dalam galeri yang serba putih dan bergema, beberapa jam sebelum acara, saya tak yakin kalau segala upaya itu akan membuahkan hasil. Tapi karena kami sudah terlanjur di sini, sekalian saja bersenang-senang dan jadikan acara ini seperti KebunKata BungaMatahari!
Siang itu, saya menemui Anya dan Mikael di rumah makan Ibu Oka yang terkenal dengan menu babi gulingnya. Mereka tiba dari Jakarta pagi hari dan baru beristirahat beberapa jam saja. Setelah mandi dan ganti baju di Donald Homestay, sekitar pukul 4 sore kami mencari mobil sewaan di Pasar Ubud. Karena waktunya sudah mepet, saya tak bisa terlalu ngotot menawar harga dan harus cukup puas dengan ongkos Rp70 ribu untuk sekali jalan ke Gaya Fusion.
Dalam perjalanan, ongkos yang sebelumnya terasa mahal, jadi masuk akal saat kami menyadari betapa jauhnya Gaya Fusion dari pusat keramaian di Ubud. Saya mulai kuatir. Apa mungkin ada orang yang mau jauh-jauh datang ke sana?
Di Gaya Fusion, kami ternganga melihat sebuah galeri besar berlangit-langit tinggi dan dinding-dinding putih yang digantungi lukisan-lukisan kontemporer. Di tengah ruangan ada panggung kecil bertabur bunga kamboja, tepat di antara jendela kaca tinggi dan pojok untuk musisi. Sebuah proyektor in-focus putih siap dipakai di depan deretan kursi hitam yang tampak kecil dikepung suasana serba putih.
Sambil berusaha menekan rasa panik dan stress, kami bersiap-siap. Mikael berkutat dengan MacBookPro dan proyektor in-focus, Anya menata buku-buku yang akan dijual, sedangkan saya memberikan pengarahan terakhir kepada Ayu, sang MC. Setelah itu kami masih harus direpotkan dengan film pendek yang akan diputar nanti.
Jarum jam menunjukkan pukul 17:30, penonton mulai berdatangan. Kaget juga saya melihat banyak yang datang lebih awal. Debra Yatim dan putrinya Zulaikha, Olin Monteiro, Danny Yatim, serta rombongan orkes Al-Izhar dalam hitungan detik meramaikan ruangan yang tadinya sepi itu. Ada juga penyair Timor Leste Abe Soares, Pam Allen, John McGlynn, penulis Ayu Utami, dan lain-lain.
Kursi-kursi mulai terisi, MC sudah bersiap membuka acara, tapi saya masih berkutat dengan laptop Mikael. Putus asa tak berhasil mengutak-atik power point, saya cari dia. Ternyata dia sedang ngobrol dengan orang tua Henry, temannya di Australia dulu. Saya hampiri dan setelah basa-basi sebentar langsung menyeret penyair mestizo itu untuk mengajari saya cara mengoperasikan laptopnya.
Tepat pukul 18:00, acara dimulai. Ayu membacakan sambutan standar UWRF dalam bahasa Inggris, kemudian mengundang saya untuk memperkenalkan irisPUSTAKA. Ayu agak kepeleset lidah, menyebut saya ‘she’, bukannya ‘he’ dan mengundang tawa dari hadirin. Bukannya kesal, saya malah bersyukur, karena suasana sejak awal sudah santai.
Saya tak bicara panjang-panjang. Hanya bercerita bahwa satu setengah tahun yang lalu Anya dan Festi Noverini mengajak saya ikut dalam usaha penerbitan yang kemudian kami namakan irisPUSTAKA. Kami ingin membuka jalan bagi penulis muda yang punya potensi dan mengolah tema-tema tak biasa atau menggunakan ekspresi kreatif yang berbeda. Selesai perkenalan singkat itu, saya langsung mengajak hadirin untuk menyaksikan film pendek berjudul ‘puis-je.’
Film ini menampilkan Anya, ‘not as herself,’ dan Mikael, juga ‘not as himself,’ membacakan puisi e e cummings melalui dialog dan akting amatir. Sekilas mereka terlihat seperti muda-mudi yang sedang beradu jurus cinta.
Karena film ini dibuat terburu-buru, suara yang dihasilkan kurang bagus, membuat sebagian hadirin mengernyitkan kening berusaha menangkap apa yang dikatakan kedua penyair tersebut di dalam film. Untung saja Mikael tanpa malu telah memasang terjemahan semena-mena yang cukup menghibur.
Film selesai diputar, Anya langsung membacakan puisi ‘The God of Small Things’ dan ‘PendarPendarCahayaMenyelinapRuangMata.’ Terjemahan kedua puisi ini ditampilkan dengan cantik melalui power point.
Film selesai diputar, Anya langsung membacakan puisi ‘The God of Small Things’ dan ‘PendarPendarCahayaMenyelinapRuangMata.’ Terjemahan kedua puisi ini ditampilkan dengan cantik melalui power point.
Setelah itu, giliran Mikael membacakan `Australia Fair’, `À la recherche du temps perdu (edition Scott Moncrieff et Kilmartin, vols. 1-7)’, dan `Hermès, get a move on’. Semua puisi itu diterjemahkan dari
bahasa Inggris ke bahasa Indonesia oleh holiday_sendiri. ‘Hermes, get a move on’ aslinya berjudul ‘Aku titip tulisan’ puisi Anggoro Gunawan dalam bahasa Jawa yang kemudian diterjemahkan oleh Mikael ke dalam bahasa Inggris jadi ‘Hermes get a move on’ yang kemudian diterjemahkan lagi ke bahasa Indonesia oleh holiday_sendiri.
sebuah Sore yang Sureal. ketika Sinar Matahari jatuh seperti selendang tembus pandang—mengingatkanku akan Lipstik dan Cat Kuku Fuchsia Ibuku. Es Krim Stroberi. Rok Tutu. dan Ciumanmu, tentunya. Ciuman mesra pada bibir dan pipiku. Basah tetapi Manis seperti Permen.
aku merindukanmu. rasanya seperti ada Balon Ulangtahun. membengkak perlahan di dalam dada. Sensasinya nyaris tak tergambarkan: seperti sebuah Harapan limbung—aku terbelah di antara Kesenangan karena si Balon hampir sempurna dan Kewaspadaan akan kemungkinan Balon itu pecah sebelum benar-benar mengembang.
sebuah Perasaan yang Tidak Nyaman sebenarnya. seakan-akan dunia dan mekanisme alamnya dapat mendengar pikiranmu: berkonspirasi untuk menentukan apa yang akan terjadi padamu berikut. membuatmu tak berdaya seperti Bulu yang melayang-layang.
tapi Yang Paling Tak Tertahankan adalah mengetahui bahwa tak seorang pun, terlebih-lebih kamu, mengetahui semua Kekacauan yang terjadi di Benakku, semua Mantra Aku-Cinta-Kamu yang sambung-menyambung di dalam Kepala.
aku membayangkan apakah kamu pernah seperti ini. aku bahkan membayangkan apakah ada secuil Kemungkinan dirimu pernah memiliki Pemikiran yang Sama Terhadapku. ah, padahal aku tahu itu hanyalah Fantasi Kacangan.
aku pun menyerah. kuhapus semua Angan. kuhapus kamu. kukunci dari Saraf-Saraf Otakku.
aku menyalakan tivi.
Program Berita.
di luar, semesta menjadi gelap. dan menjadi Nyata.
PendarPendarCahayaMenyelinapRuangMata
PendarPendarCahayaMenyelinapRuangMata
MengantarCeritaLamaYangTakPernahUsang
KotaIniKembangApi
KembangnyaPecahDiPucukLangit
SekejapSaja
—BegituKatanya
Australia fair The thought runs through my head of sawing your head in half: the bone will be ivory white and your blood grape red. You look down, open your mouth wide and ululate, up, to the purple sky. The pills of orange cloud hang low. The pale cream beach shakes with each wave of your hand. You ask me to go, your face black from constant disappointment.
À la recherche du temps perdu (edition Scott Moncrieff et Kilmartin, vols. 1-7)
I bought these when I still had time to read
where the sky was so blue I could write
my name on it with my good hand while the other
shield my eyes from the sun, so white, perfect.
Dalam rundown acara, sesi selanjutnya adalah untuk tanya-jawab. Tapi kami tak ingin waktu setengah jam lebih yang tersisa hanya terpakai untuk pertanyaan-pertanyaan garing dan jawaban-jawaban non-inspiring (ah, lagi-lagi saya mengejar rima). Karena itu saya segera menyambar mikrofon yang dipegang Ayu, tanpa malu mengambil tugas MC, dan mengumumkan bahwa kami mengundang para penonton untuk tampil ke depan dan membacakan puisi Anya dan Mikael. Atau kalau mereka mau, boleh juga membacakan puisi karya sendiri. Lima buku Anya dan lima buku Mikael kami sediakan gratis untuk mereka yang berani maju ke depan.
Zulaikha, putri penyair Debra Yatim, langsung maju ke depan dan membacakan dua buah puisi Mikael. Buku gratis untukmu, Zu! Selesai putrinya membaca, giliran Debra yang langsung maju membacakan sebagian daftar isi buku Mikael sebagai sebuah puisi. Kemudian Ayu Utami dengan ‘Penismightierthanwords’ karya Mikael.
Penismightierthanwords i picked up the pen with clouds of ideas in my head. the pen was my talisman, a thing I used to divine the meaning of the clouds. the ink was blue, which, under the yellow light of my table lamp, was only a little lighter than black, the colour of the clouds.
Sambil menunggu Ayu selesai, saya lihat Abe Soares sudah siap tampil dengan gitarnya. Tak perlu dipanggil dua kali, Abe maju ke depan dan menyanyikan puisi karyanya sendiri. Indah sekali. Abe selesai, seorang anggota orkes Al-Izhar maju ke depan membaca puisi karya sendiri yang dicatatnya dalam handphone.
Sesuai dengan semangat BungaMatahari yang percaya semua bisa berpuisi, saya terus mengajak hadirin untuk maju ke depan dan berpuisi. Saya jelaskan bahwa pendiri irisPUSTAKA, yang berasal dari milis puisi berbahasa Indonesia BungaMatahari, percaya puisi adalah hidup sehari-hari yang tak perlu ditakuti.
Penonton makin banyak, sebagian besar agaknya mereka yang ingin menonton orkes Al-Izhar dan peluncuran buku L.A. Underlover yang dijadwalkan setelah acara kami selesai. Kami mencuri penonton rupanya. Tak apa, yang penting ramai dan buku terjual banyak.
Sambil menunggu penonton yang akan maju, saya iseng membaca puisi Mikael yang berjudul ‘The Beggar.’ Malam terasa semakin panas, dan Mikael tampil sekali lagi, kali ini membacakan puisi Anya ‘Mabuk Lampu.’
mabuk lampu
sinarlamputemaramkuning
lampukuningsinartemaram
temaramsinarkuninglampu
kuningtemaramlampusinar
sinartemaramlampukuning
lampusinarkuningtemaram
temaramkuningsinarlampu
kuninglamputemaramsinar
Di tengah-tengah penonton yang berkumpul di tangga dekat pintu masuk, saya lihat penyair Iyut Fitra dan Dino Umahuk. Saya panggil Dino ke depan untuk ikut meramaikan acara yang menjelang usai, dan dia menyambutnya dengan membaca sebuah puisi dari buku Anya. Hadiah buku untukmu, Dino!
Waktu satu jam yang tadinya terasa panjang sekali, tiba-tiba sudah hampir habis. Saya belum sempat mengundang Iyut Fitra untuk tampil ke depan, namun sudah harus menutup acara. Sayang sekali.
Acara ditutup Anya dengan membacakan puisi Mikael yang berjudul ‘Djaelani the baker.’
Djaelani the baker I’m Djaelani, the baker. I see people come and go. I serve people with the sweet smell of sex in their hair. I watch them count rainbows of money and pay. I see them hold hands and pick a donut (chocolate glazed) and a sausage roll with a thong held together like a wedding cake knife. I’ve seen a man eat his breakfast alone, hurriedly like a pigeon, on my counter table. I’ve seen him come back at nine-thirty in the evening—closing time, and buy nothing. Not this time. I’m Djaelani, the baker. I see people come and go. And I stay.
Foto-foto acara bisa dilihat di sini.
Catatan:
Kemarin saya menghubungi Abe Soares, minta dikirimkan puisi yang dinyanyikannya dalam acara ini. Ini dia puisinya:
AKU SAKSIKAN BAYANGANKU SENDIRI
Ramelau*),
aku mampir ke kolammu
yang sejuk bening
Di tepinya aku saksikan bayanganku sendiri
telanjang, menyambutku
lalu ia tuturkan kepadaku
tentang kisah benih serabutku
yang berliku-liku
—
1990-an
*) Gunung tertinggi di Timor-Leste.
cerita dari ubud: krisis identitas dan liburan dari kenyataan
Tahun lalu, di tengah kesibukan sebagai volunteer Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), saya berjanji kepada diri sendiri bahwa tahun depan (2008) akan kembali lagi, walaupun tak jadi volunteer lagi. Setahun sudah berlalu, dan saya sekarang ada di sini.
Saya tiba di Ubud pukul 14:30 WITA, setelah berangkat dari kantor bis Perama di Legian jam 13:30 WITA. Dari kantor Perama di Jalan Raya Pengosekan, saya masih harus jalan kaki kurang lebih satu kilometer ke Donald Homestay di Jalan Goutama. Banyak ojek dan taksi yang bersedia mengantar. Tapi saat backpacking, pantang rasanya mengeluarkan uang kalau tak benar-benar terdesak. Lagipula saya perlu sering-sering jalan kaki untuk membakar lemak jenuh ibukota yang menumpuk di dalam tubuh.
Terik matahari telak menghantam ubun-ubun. Bukannya kelenger, saya malah cengengesan sendiri. Nikmat sekali mandi keringat saat liburan, setelah berbulan-bulan bekerja keras dalam ruangan ber-AC. Sepanas-panasnya Ubud, masih jauh lebih sejuk dari udara Kebon Kacang-Thamrin-Sudirman-Senopati di Jakarta yang akhir-akhir ini melonjak sampai 35 derajat celcius.
Ubud tak berubah. Sapaan “transport, transport…” dari kiri dan kanan, tawaran tiket pagelaran seni, bau dupa dan sesajen yang menyerbu hidung, harum masakan dari pintu-jendela restoran dan kafe yang disainnya bagus-bagus, aneka ragam cenderamata dan pernak-pernik yang terpampang di etalase toko, dan hamparan padi menguning. Populasi turis mancanegara di sini mungkin hampir sama banyaknya dengan penduduk lokal.
Seperti yang selalu terjadi setiap kali saya datang ke Kuta dan Ubud, identitas saya sebagai orang Indonesia seolah-olah hilang. Bagi para pegawai kafe, restoran, galeri, pemilik homestay, dan pekerja pariwisata lainnya di sana, saya hanyalah pria berwajah Asia terbakar matahari, bercelana pendek, dengan kaos butut, sendal jepit, tato yang mengintip di lengan kiri atas, dan ransel yang kelewat penuh. Tak heran kalau sejak turun dari pesawat di Bandara Ngurah Rai, mereka selalu menyapa saya dalam bahasa Inggris, Korea, Cina, dan Jepang.
Tahun lalu, seseorang pemilik toko di Jalan Monkey Forest menyangka saya orang Malaysia! Agaknya ini gara-gara saya berkomentar “shit, this is nice,” saat pacar saya menunjukkan sebuah tas kulit yang memang really really nice. Gampang ditebak, komentar a la ABG itu langsung membuat harga tas sialan tadi melonjak tinggi.
Krisis identitas ini tak berlanjut di Donald Homestay. Pak Wayan si pemilik homestay tak sempat menyapa saya dalam bahasa Inggris, karena anjingnya yang galak banget itu menggonggong keras sekali, sampai-sampai saya harus berteriak seperti anak kampung Tenabang untuk memanggil pemilik rumah. Anjing lucu itu pasti mencium jejak-jejak Manado doyan anjing dalam darah saya. Gara-gara dia, saya gagal belagak jadi Tao Ming She.
Acara pembukaan festival di Ubud Palace akan berlangsung pukul 16:30 sore nanti. Tapi saya tak bisa ikut, karena harga tiketnya yang Rp450.000 terlalu mahal. Acara ini juga sebenarnya tak terlalu penting untuk diikuti, karena isinya hanya pidato pejabat-pejabat, diselingi tari-tarian, lalu ditutup dengan (mengutip buku acara festival) “mingle with featured writers and other Festival guests in the captivating surrounds of the Ubud Palace.” Lebih baik saya ‘mingle and haggle’ dengan pedagang cenderamata di Pasar Ubud.
Sebagian acara festival sudah berlangsung sejak Selasa, 13 Oktober. Tapi kemarin saya belum bisa ikut, karena workshop-nya hanya untuk anak-anak. Sedangkan hari ini workshop-tak ada yang gratis. Rata-rata harga tiketnya di atas Rp300.000.
Padahal ada dua workshop menarik hari ini, yaitu Sharing the Journey: Travel Writing with Style with Paul Sochaczewski dan The Kindest Cut of All: Editing for Writers with Shelley Kenigsberg. Tapi kalau mau ikut, sebagai pengunjung lokal saya harus bayar Rp120.000 untuk masing-masing workshop. Itu pun kalau tiket masih tersisa. Seingat saya tiket Sharing the Journey sudah habis terjual sejak jauh-jauh hari.
Jadi tak banyak yang bisa saya lakukan selain jalan-jalan sepuasnya, sambil sesekali mengerahkan kemampuan public relations (yang semakin menurun sejak berhenti jadi konsultan) untuk mempromosikan acara peluncuran buku Anya dan Mikael.
Untung ada dua acara gratis yang bisa saya ikuti hari ini. Malam Penghormatan Kepada Sutan Takdir Alisjahbana, pukul 19:30-20:30, dan pementasan A Midsummer Night’s Dream oleh maestro tari Bali Nyoman Sura, pukul 19:30-22:00.
Siang ini, setelah mengirim hutang pekerjaan ke kantor, saya akan pergi ke box office untuk mengambil tiket. Banyak acara menarik tahun ini yang jadwalnya bertabrakan. Lima hari yang tersedia harus digunakan semaksimal mungkin. Setelah melihat jadwal di buku program, saya memutuskan untuk beli tiket 4-day pass untuk program utama saja, yang harganya Rp400.000.
Dengan tiket itu, acara yang bisa saya ikuti di hari Kamis antara lain adalah, Globalization & The Collision of Cultures: When Britney Spears Meets Bin Laden, yang bentrok jadwalnya dengan In Conversation with Bahaa Taher.
Acara lainnya yang menarik adalah Feast or Famine: the Politics of Food dan Poets Corner. Sorenya ada The Future of Reading: Writing for Young People, yang bentrok jadwalnya dengan In Conversation with Vikram Seth. Malamnya ada Performance Poetry Extravaganza, yang bentrok dengan Writers’ Cabaret.
Hari Jumat, separuh sore akan saya habiskan untuk mempersiapkan peluncuran buku Mikael ‘We Are Nowhere and It’s Wow’ dan Anya ‘Kota Ini Kembang Api’ di Gaya Fusion, pukul 18:00-19:00. Di tempat yang sama, pukul 19:30-20:30, Eka Kurniawan, Chavcay Saifullah, Nugroho Suksmanto, dan Triyanto Triwikromo akan meluncurkan kumpulan cerpen ‘LA Underlover.’
Untuk hari Sabtu, rencananya saya akan ikut Wanderlust (09:30-10:00) dengan Martin Amanshauser, lalu berturut-turut sampai siang, Slums: The Face of Cities in the 21st Century, Crime: Fact & Fiction dengan John Berendt dan tiga penulis lainnya, dan Pleasures of the Tongue: Food and Story bersama Bondan Winarno dan dua penulis lainnya. Setelah itu saya masih harus cepat-cepat pergi ke Neka Art Museum untuk menyaksikan presentasi dari empat ahli konservasi dalam Sacred Forests: Conservation Challenge in 21st Century Indonesia.
Di hari terakhir, Minggu 19 Oktober, sejak pagi saya akan duduk manis mengikuti Endangered Species: Writing Creatively About the Environment, diteruskan dengan Powerful Protagonists bersama Ayu Utami dan Indra Sinha, kemudian Empowering the People bersama Lijia Zhang dan tiga penulis lainnya. Semoga otak dan tubuh saya tetap kuat hari itu, agar bisa menutup liburan dengan Telling True Tales bersama Cameron Forbes dan dua penulis lainnya, serta Poetry of the Body dengan Tishani Doshi dan Sharanya Mannivanan.
Semalam, saat duduk-duduk di warung kopi Tutmak, lagu ‘Stir It Up’ dari Bob Marley and the Wailers terdengar mengalun dari kafe sebelah. Beberapa menit sebelumnya, suara gamelan dari seberang lapangan bola Ubud memenuhi udara malam di sekeliling saya. Bau dupa dan sesajen tak hilang-hilang, menemani ice cappucino dan brownies. Ingatan akan pengapnya Jakarta dan ekonomi dunia yang sedang gonjang-ganjing, hilang disapu nikmatnya liburan dari kenyataan.
tishani doshi & joko pinurbo: malam puisi, tari, dan terjemahan jeli
Malam itu saya terlambat sampai di Goethe Haus. Acara ‘Narrating the Body’ yang menampilkan Tishani Doshi, penyair dari India, dan Joko Pinurbo dijadwalkan mulai pukul 7 malam tepat. Saat itu sudah pukul setengah 8. Setengah jam terlambat. Hal biasa di Jakarta.
Di dalam, ruangan sudah terisi hampir penuh. Kira-kira tiga perempat dari kapasitas tempat duduk. Panitia yang menjaga pintu langsung mengantar saya ke deretan kursi nomor dua dari depan, sebelah kiri panggung. Saya menurut, karena tak ada gunanya celingak-celinguk mencari Anya dan Mikael yang sudah sampai duluan.
Seseorang dari Kedutaan Besar India sedang berpidato di atas panggung. Singkat saja. Kemudian giliran Ayu Utami yang bicara mewakili Dewan Kesenian Jakarta. Saya tak begitu memperhatikan isi pidatonya, karena perhatian saya tertuju pada sosok perempuan yang duduk terpisah dua kursi dari saya, di deretan terdepan. Melihat kesibukan yang terpusat pada dirinya, gampang ditebak bahwa dialah Tishani Doshi, si penyair yang malam ini puisinya akan dibacakan bersama dengan puisi Joko Pinurbo.
Tebakan saya benar. Setelah Ayu Utami selesai berpidato, Debra Yatim yang menjadi moderator tanpa buang-buang waktu langsung mengambil alih acara dan menundang Tishani dan Joko untuk bergabung dengannya di atas panggung. Saya pun langsung pindah tempat duduk ke barisan terdepan, agar dapat mengambil foto yang memadai dengan Nokia 6881 cameraphone yang hanya 1.3 megapixel.
Tema acara malam itu adalah ‘Mengisahkan Tubuh’ atau ‘Narrating the Body’. Kedua penyair tersebut dipilih karena karya-karya mereka dianggap banyak berkisah tentang, atau menggunakan imaji-imaji, tubuh.
Debra memperkenalkan Tishani dan Joko kepada hadirin. Lalu melemparkan satu dua pertanyaan pendek kepada kedua penyair tersebut. Tishani mampir di Jakarta dalam perjalanan ke Bali untuk menghadiri Ubud Writers & Readers Festival. Joko Pinurbo, siapa pecinta puisi di Indonesia yang tak kenal namanya?
Ada dua sesi pembacaan puisi yang diselingi sesi tanya jawab. Selain itu ditampilkan juga tarian tradisional India oleh Pooja Bhatnagar dan seorang muridnya dari The Jawaharlal Nehru Indian Cultural Centre, serta tarian kontemporer dari Mugiyono Kasido.
Puisi-puisi Tishani ditulis dalam bahasa Inggris, dan untuk keperluan acara malam itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Anya Rompas dan Mikael Johani. Puisi-puisi Joko yang dibacakan malam itu seperti ‘Celana’ dan ‘Daerah Terlarang’ juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, tapi saya tak tahu siapa penerjemahnya.
Cerita lengkap tentang acara ini, plus celetukan-celetukan Joko Pinurbo yang membuat acara mengalir lancar dan tak membosankan, moga-moga dapat segera dibaca di blog Mas Kurnia Effendi.
Di sini saya ingin berbagi hasil terjemahan puisi Tishani, yang dikerjakan oleh Anya Rompas dan Mikael Johani. Menurut Mas Kef, terjemahan mereka sangat baik. Anya dan Mikael akan meluncurkan buku puisi mereka di Ubud, sebagai bagian dari rangkaian acara Ubud Writers & Readers Festival, minggu depan.
THE DAY WE WENT TO THE SEA
By Tishani Doshi
The day we went to the sea
mothers in Madras were mining
the Marina for missing children.
Thatch flew in the sky, prisoners
ran free, houses danced like danger
in the wind. I saw a woman hold
the tattered edge of the world
in her hand, look past the temple
which was still standing, as she was —
miraculously whole in the debris of gaudy
South Indian sun. When she moved
her other hand across her brow,
in a single arcing sweep of grace,
it was as if she alone could alter things,
bring us to the wordless safety of our beds.
WAKTU ITU KITA PERGI KE PANTAI
Karya Tishani Doshi
Diterjemahkan oleh Anya Rompas dan Mikael Johani
Waktu itu kita pergi ke pantai
ibu-ibu di Madras sedang menyisiri
Marina, mencari anak hilang.
Jerami beterbangan di udara, napi-napi
berkeliaran di jalanan, rumah-rumah menari
bagai marabahaya bersembunyi dalam angin.
Aku melihat wanita menggenggam tepi dunia
yang bocel-bocel dalam satu tangannya,
memandang ke balik candi yang masih berdiri,
seperti dirinya, utuh—betapa menakjubkan!—
di antara puing-puing yang menyala di bawah matahari
India Selatan. Kemudian ia menyeka dahi
dengan tangannya yang satu lagi,
sekali, begitu anggun,
dan kelihatannya memang hanya ia
yang mampu mengubah dunia,
membawa kita kembali ke kedamaian kasur-kasur bisu.
WHAT THE BODY KNOWS
By Tishani Doshi
The body dances in a darkened room
turning itself inside out
so that skin can face the light in fractures,
slip like shadow through skeleton walls,
begin to cry — really — to scream
about the tarnished weight of dreams.
This has been a drift after all.
The body returns to its original place,
moves from one to the other — creeps —
tries to flee itself, lone trunk,
searches for remain of bark,
hints of what it used to be.
Perhaps an ocean framed in bone,
a pair of birds in early white,
flying from this dream to the next
fixing the gaps between memory
and reverberation; binding spine
on vein, feather to lesion.
The body collects its wandering parts,
leans back through layers
of thickening water; roots above
boughs beneath, feet caving in to wonder.
It’s how the world reverses itself,
how the distant sky finds the earth.
TUBUH TAHU
Karya Tishani Doshi
Diterjemahkan oleh Anya Rompas dan Mikael Johani
Tubuh itu menari di kamar gelap
meliuk, melekuk
sampai kulitnya mampu menerima cahaya yang pecah,
menyelinap seperti bayangan di antara rangka dinding,
mulai menangis—keras—memekik
tentang mimpi-mimpi berat yang pudar.
Semua ini adalah pengembaraan.
Tubuh itu kembali ke tempat asalnya,
pindah dari sana ke sini—merangkak—
mencoba lari, bagai batang pohon
mencari sisa kulitnya,
petunjuk tentang dirinya yang dulu.
Mungkin ia samudra berpigura tulang,
sepasang burung putih bersih,
terbang dari mimpi satu ke mimpi yang lain
menyumpal celah di antara ingatan
dan getaran; menjahit tulang belakang
dengan pembuluh darah, bulu dengan borok.
Ia memungut organ-organnya yang jatuh,
membaringkan diri ke dalam berlapis-lapis
air yang mengental; akar di atas
dahan di bawah, kaki menyerah ingin tahu.
Beginilah dunia memutar balik,
beginilah langit yang jauh menemukan bumi kembali.
THE DELIVERER
By Tishani Doshi
OUR LADY OF THE LIGHT CONVENT, KERALA
The sister here is telling my mother
how she came to collect children
because they were crippled or dark or girls.
Found naked in the streets,
covered in garbage, stuffed in bags,
abandoned at their doorstep.
One of them was dug up by a dog,
thinking the head barely poking above the ground
was bone or wood, something to chew.
This is the one my mother will bring.
* * *
MILWAUKEE AIRPORT, USA
The parents wait at the gates.
They are American so they know about ceremony
and tradition, about doing things right.
They haven’t seen or touched her yet.
don’t know of her fetish for plucking hair off hands,
or how her mother tried to bury her.
But they are crying.
We couldn’t stop crying, my mother said,
feeling the strangeness of her empty arms.
* * *
This girl grows up on video tapes,
sees how she’s passed from woman
to woman. She returns to twilight corners,
to the day of her birth.
How it happens in some desolate hut
outside village boundaries
where mothers go to squeeze out life,
watch body slither out from body,
feel for penis or no penis,
toss the baby to the heap of others,
trudge home to lie down for their men again.
KURIR
Karya Tishani Doshi
Diterjemahkan oleh Anya Rompas dan Mikael Johani
BIARA BUNDA YANG MENYINARI, KERALA
Suster di sini sedang memberi tahu ibuku
ia memungut anak-anak
yang cacat, berkulit gelap, atau perempuan.
Yang ditemukan telanjang di jalanan,
tertimbun sampah, dibungkus dalam karung,
ditinggalkan di depan pintu.
Salah satu dari mereka digali seekor anjing,
yang mengira kepala yang menyembul sedikit di atas tanah
sepotong tulang atau kayu, sesuatu untuk dikunyah.
Anak inilah yang akan dibawa pergi ibuku.
***
BANDARA MILWAUKEE, USA
Orang tuanya menunggu di gerbang.
Mereka orang Amerika jadi mereka tahu tentang upacara
dan tradisi, tentang mengikuti aturan.
Mereka belum pernah melihat maupun menyentuhnya,
tidak tahu kegemarannya mencabut bulu-bulu tangan,
atau bahwa ibunya pernah mencoba menguburnya hidup-hidup.
Tapi mereka menangis.
Kami tidak bisa berhenti menangis, kata ibuku,
sambil merasakan betapa aneh tangannya yang kosong.
***
Anak ini dibesarkan oleh kaset video,
menyaksikan bagaimana ia dipindahkan dari tangan perempuan satu
ke tangan perempuan lain. Kemudian ia kembali ke sudut-sudut senja
ke hari kelahirannya.
Yang terjadi di gubuk reot
di luar batas desa
tempat ibu-ibu membuang kehidupan
menonton tubuh keluar dari tubuhnya,
meraba-raba: berpeniskah atau tak berpeniskah?
melemparkan bayinya ke gundukan bayi-bayi lain
kemudian berjalan gontai pulang untuk ditiduri laki-laki mereka lagi.
HOMECOMING
By Tishani Doshi
I forgot how Madras loves noise —
loves neighbours and pregnant women
and Gods and babies
and Brahmins who rise
like fire hymns to sear the air
with habitual earthquakes.
How funeral processions clatter
down streets with drums and rose-petals,
dancing death into deafness.
How vendors and cats make noises
of love on bedroom walls and alleyways
of night, operatic and dark.
How cars in reverse sing Jingle Bells
and scooters have larynxes of lorries.
How even colour can never be quiet.
How fisherwomen in screaming red —
with skirts and incandescent third eyes
and bangles like rasping planets
and Tamil women on their morning walks
in saris and jasmine and trainers
can shred the day and all its skinny silences.
I forgot how a man dying under the body
of a tattered boat could ask for promises;
how they could be as soundless as the sea
on a wounded day, altering the ground
of the earth as simply as the sun filtering through —
the monsoon rain dividing everything.
MUDIK
Karya Tishani Doshi
Diterjemahkan oleh Anya Rompas dan Mikael Johani
Aku lupa Madras begitu cinta bising—
begitu cinta tetangga dan perempuan hamil
juga Tuhan-tuhan dan bayi-bayi
dan para Brahmin yang bangkit
seperti lagu untuk api yang memanggang udara
dengan gempa bumi setiap kali.
Aku lupa pengantar jenazah selalu berisik
memukul dram dan menyebar mawar sepanjang jalan
menari-nari dan membuat tuli kematian.
Aku lupa pedagang kaki lima dan kucing-kucing menyebarkan suara
percintaan pada tembok kamar tidur dan gang-gang
malam, mirip opera dan gelap gulita.
Aku lupa mobil atrèt menyanyi Jingle Bells
dan skuter-skuter bertenggorokan lori.
Aku lupa warna pun tak bisa diam.
Aku lupa nelayan perempuan berbaju merah menyala—
memakai rok dan mata ketiga yang berpendar-pendar
dan gelang seperti planet-planet kasar
dan perempuan Tamil jalan-jalan pagi
berseragam sari dan bunga melati dan sepatu kets—
mampu mencabik hari dan kesunyian yang tipis.
Aku lupa laki-laki yang sekarat di bawah
perahu rusak pun masih menagih janji;
Aku pun lupa semuanya bisa bisu bagai laut
pada hari yang terluka, mengubah permukaan bumi
segampang matahari menembus
hujan muson yang mencerai-beraikan semuanya.
TURNING INTO MEN AGAIN
By Tishani Doshi
This morning men are returning to the world,
waiting on the sides of blackened pavements
for a rickshaw to carry them away
on the sharp pins and soles of their dancing feet.
They must go to the houses of their childhoods
to be soothed. They must wait for the wheels
to appear from the thin arm of road.
They must catch the crack in the sky
where the light shifts from light to dark
to light again, like the body in the first stages of love;
angering, heightening, spreading:
bent knees, bent breath.
Now they are moving, changing colours.
Women are standing at the thresholds of doors
holding jars of oil, buckets of hot water and salt,
calamine, crushed mint and drink.
Some crawl into their mother’s laps,
collapse against the heavy bosoms of old nannies,
search for the girl who climbed with them
to the tin roof for the first time.
Inside, in the shadows of pillars,
fathers and grandfathers are stepping down
from picture frames with secrets on their lips,
calling the lost in from their voyages.
KEMBALI JADI LAKI-LAKI
Karya Tishani Doshi
Diterjemahkan oleh Anya Rompas dan Mikael Johani
Pagi ini laki-laki kembali ke dunia mereka lagi
menunggu di tepi trotoar hitam
menanti becak membawa mereka pergi
di atas jari-jari roda yang menari-nari.
Mereka ingin mudik ke rumah masa kecil mereka
supaya hati mereka tenang. Mereka harus menunggu
roda-roda muncul dari lengan jalan yang ramping.
Mereka harus menangkap retak di langit
Yang menyimpan cahaya terang yang kemudian berubah gelap
kemudian terang kembali, seperti tubuh saat jatuh cinta;
membikin marah, menegang, menyebar ke semua arah:
menekuk lutut, menekuk napas.
Mereka mulai bergerak, berubah warna.
Wanita berjejeran di depan pintu rumah
menenteng botol minyak wangi, ember penuh air garam panas
salep kalamin, daun mint gerus, dan minuman.
Sebagian laki-laki tadi merangkak kembali ke pangkuan ibu mereka,
tenggelam dalam payudara gemuk pengasuh mereka,
lari mencari gadis yang dulu menemani
memanjat atap seng untuk pertama kali.
Di dalam, di bawah bayang pilar-pilar,
ayah dan kakek turun
dari pigura dengan rahasia membayang di bibir
memanggil anak-anak hilang kembali ke rumah.
http://blackuniverse.multiply.com/journal/item/372/tishani_doshi_joko_pinurbo_malam_puisi_tari_dan_terjemahan_jeli



















