duniahitam

tentang hidup yang terkekang

high school’s never over, it only gets better

with 13 comments

Teman Facebook saya sekarang lebih dari seribu tiga ratus orang. Dari jumlah itu, hanya 70 persen yang benar-benar pernah bertemu langsung. Sisanya orang-orang yang langsung meng-add saya tanpa pernah ketemu atau ngobrol sebelumnya.

Seribu tiga ratus tampaknya banyak, tapi belum apa-apa dibanding seorang teman yang punya tiga ribu teman dan kenalan. Super cemen kalau dibandingkan dengan blogger-blogger kondang yang daftar teman dan anggota fans clubnya melewati angka lima ribu.

Jangan coba-coba bandingkan dengan selebriti. Di Java Jazz kemarin saya dapat bocoran bahwa friend pending request Glenn Fredly mencapai angka belasan ribu.

Dulu, waktu pertama ikut-ikutan social media dengan membuat account Friendster, saya melihat ada kecenderungan lucu. Banyak orang berebutan punya teman sebanyak-banyaknya. Kalau sudah di angka 500an, berasa keren dan gaul banget.

Saya pun ikut-ikutan. Selain memang banyak teman, banyak pula cewek-cewek cakep yang bisa saya add seenaknya. Banyak yang menerima sebagai teman, tak sedikit yang mendiamkan permintaan tersebut.

Sekarang, hampir semua orang yang saya kenal punya account Facebook. Ayah, tante, sepupu, keponakan, adik, kakak, ipar, apalagi bos dan teman-teman kantor. Semua ada di Facebook. Mulai dari teman TK, SD, SMP, SMA, dan kuliah.

Di tengah keasyikan memperbaharui status (hampir setiap jam, lewat Twitter), membaca notes, melihat-lihat foto, dan melakukan segala kegiatan produktif lainnya di social networking site ini, saya membaca gejala lain.

Ada beberapa teman SMP, SMA dan kuliah yang walaupun dulu tak seberapa dekat dengan saya, kini bisa sedemikian akrab saat berinteraksi di Facebook. Padahal dulu waktu masih sekolah, boro-boro negor, ngelirik aja nggak. Maklum, waktu SD saya memang super nerd. Di SMP tetap super nerd. Sedangkan di SMA kadar nerd saya turun sedikit karena ikut kelompok pecinta alam. Baru waktu kuliah saya benar-benar bisa nyaman dengan status nerd tadi.

Sekarang jadi nerd bukan sesuatu yang menggelikan lagi rupanya. Sementara itu, teman-teman saya yang dulu menyebalkan kini berubah menyenangkan. Kita agaknya sudah sama-sama dewasa, dan hal-hal sepele seperti siapa kamu waktu sekolah dulu tak lagi jadi hal yang penting. Nggak perlu lagi merealisasikan impian balas dendam seperti dalam film ‘Revenge of the Nerds’.

Kemarin, saya menemukan presentasi Pecha Kucha yang dibuat oleh Jeremy Fuksa, tentang status pertemanan di Facebook. Fuksa kaget dengan makin banyak dan beragamnya teman yang didapatnya di Facebook. Menurutnya, mungkin ada teman-teman yang sebaiknya cukup tinggal dalam masa lalu dan tak perlu muncul lagi di masa kini.

Saya menikmati presentasi itu, tapi kurang setuju dengan satu-dua hal di dalamnya. Buat saya yang penting sekarang bukan masa lalu. Karena teman-teman lama yang tiba-tiba muncul lagi dan mendadak akrab ini adalah individu-individu yang sangat berbeda dengan yang saya kenal dulu. Saking berbedanya, frame of reference tentang mereka harus disetel ulang.

Popular girl yang super belagu di masa SMP-SMA, sudah berubah jadi ramah dan menyenangkan. Jock yang cuma tahu berantem dan mengganggu orang, sekarang sudah jadi bapak beranak tiga yang doyan membaca buku-buku sastra.

“High school’s never over,” jerit karakter yang dimainkan Emily Blunt dalam’The Jane Austen Book Club’. Agaknya dia benar. Kita hanya naik kelas saja. Tapi tak pernah benar-benar lulus.

It’s never over. It only gets better.

Written by Waraney Rawung

11 March 2009 at 3:33 AM

Kartu Tanda (Penduduk) Pemalas

leave a comment »

Kartu Tanda Penduduk (KTP) saya sudah habis masa berlakunya sejak setahun lalu. Kenapa saya tak memperpanjangnya? Banyak alasan yang bisa saya sampaikan, tapi semuanya bermuara pada satu hal saja. Malas.

Ya, saya memang pemalas. Malas mendatangi ketua RT dan RW yang saya tak kenal, untuk minta dibuatkan surat pengantar ke kelurahan. Malas berbasa-basi dengan tetangga yang saya bahkan tak tahu namanya.

Malas menyeberangi K.H. Mas Mansyur di depan perumnas dan bertemu dengan pegawai-pegawai kelurahan, terpaksa beramah-tamah. Malas melihat gedung kelurahan dan lay out ruang-ruangnya yang hampir sama dari Jakarta sampai Merauke (saya belum pernah ke Sabang).

Malas bukan main.

Tapi karena ada acara kantor yang mengharuskan saya bikin paspor dan NPWP, terpaksa saya menyimpan kesal memasang topeng ‘government relations officer’ yang begitu mahir saya mainkan dua tahun lalu saat kantor yang lama menugaskan saya ke beberapa daerah di Indonesia Timur.

Sudah terbayang, pasti urusan akan dipersulit. “Kalau bisa dipersulit, buat apa dipermudah?” Kalimat yang menyamaratakan etos kerja pegawai negeri itu berulang-ulang terucap dalam hati.

Memang benar, tak mudah berurusan dengan birokrasi. Setelah surat pengantar beres (Pak RT sempat sulit dicari, tapi belakangan sangat kooperatif), saya terkejut saat diberitahu mbak yang baik di bagian perpanjangan KTP bahwa denda keterlambatan Rp10.000 harus dibayar langsung di loket Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Kantor Walikota Jakarta Pusat.

Jarak antara kelurahan di Jalan KH Mas Mansyur dan Kantor Walikota, di Jalan Tanah Abang I, kira-kira 5 kilometer. Mungkin lebih.

Kenapa denda sekecil itu tak bisa dibayar langsung di tempat saja? Wajah si mbak yang kosong itu tak menjawab apa-apa, bahkan saat saya isyaratkan bahwa saya bersedia bayar lebih (baca: nyogok) supaya tak perlu pergi jauh-jauh ke Kantor Walikota.

Saya kan sibuk, punya kehidupan yang lebih penting dari urusan-urusan remeh macam begini. Ngapain buang-buang waktu? Nggak canggih banget sih!

Si mbak agaknya benar-benar tak bisa membantu dan hanya tersenyum standar. Saya pun naik ke lantai dua untuk membuat surat pengantar pembayaran denda. Bayangkan, bayar denda saja harus pakai surat pengantar! Belakangan, sambil menunggu pegawai yang tak datang-datang (padahal sudah jam 9.30 dan ada tulisan yang bilang loket buka jam 7.30 pagi), melihat surat pengantar diketik a la sebelas jari, menanti sampai surat itu dicetak (makan waktu lima belas menit hanya untuk mengutak-atik menu print dan tombol on-off printer), saya baru sadar kenapa sistem yang mengganggu ini harus ada.

Pertama, harus bayar jauh-jauh di walikota karena tak ada sistem online.

Kedua, semakin primitif operasional pemerintahan, semakin banyak pegawai yang bisa dipekerjakan (pernah lihat meja piket yang ditongkrongi sepuluh orang yang tak berbuat apa-apa?).

Ketiga, ini ganjaran buat pemalas kelas berat seperti saya.

Keempat, KTP adalah singkatan dari Kartu Tanda (Penduduk) Pemalas.

Written by Waraney Rawung

27 February 2009 at 1:36 PM

the blue pill & the red pill

with one comment

Saya ingin mengaku dosa. Sudah beberapa bulan ini blog-blog saya yang cukup banyak itu terbengkalai tak terurus. Hanya sekali-sekali ditengok, kadang diisi curhat tak jelas, informasi acara BungaMatahari, atau puisi-puisi yang pasti akan membuat Shakespeare bangkit dari kuburnya.

Saya lebih sering berkubang di Facebook, Twitter, dan (akhir-akhir ini) Plurk. Bukan berarti di tempat-tempat ini saya mendadak jadi produktif. Nggak juga.

Di Facebook, saya sibuk membagi-bagi link, mengganti status, dan upload foto. Di Twitter, saya rajin membaca potongan-potongan status orang-orang yang sebagian besar tidak saya kenal sama sekali, dan sesekali menyumbangkan kalimat-kalimat tak penting tentang apa yang sedang saya lakukan saat itu.

Saya sedang mabuk microblogging, keracunan Google Reader dan setengah mati tertular information overload.

Saya tak makin pintar, malah semakin tidak fokus. Perhatian saya mudah teralih oleh suara “ping!” yang mengingatkan bahwa ada update status Plurk yang baru masuk. Syaraf otak saya mudah tergoda oleh kata-kata ‘apple’, ‘mac’, ‘new’, ‘tinyurl’, “add-ons’ dan ‘google’. Saya sulit tidur setiap kali mengingat ada 1.000-2.000 news/blog post items dalam Google Reader, Read it Later, dan My Yahoo.

Saya tak pernah merasa cukup hanya membuka satu sampai lima tab di browser Firefox saya, dan mulai berandai-andai kalau saja saya punya MacBook atau MacBookPro unibody, pasti buka belasan mungkin duapuluhan tabs tanpa memberatkan RAM.

Setiap malam, sesampainya di rumah, yang pertama saya lakukan adalah membuka babymac lagi, dan mengecek email di Gmail yang saya set offline features-nya.

Saya makin gendut, cepat pusing, dan berharap ada yang segera menawarkan the blue pill and the red pill.

Semoga pengakuan dosa ini diterima apa adanya, dan saya bisa segera menulis dengan baik dan benar lagi, secepatnya.

sushi @midori, still a wifi junkie.

sushi @midori, still a wifi junkie.

Written by Waraney Rawung

26 February 2009 at 11:13 AM

Posted in hari ini

Tagged with , ,

BungaMatahari & CCF Jakarta: Lomba Puisi “Mari tertawa / En Rire(s)” Bulan Puisi / Printemps des poètes 2009

leave a comment »

Rayakan bulan puisi dengan tawa dan pantomim !

saat kita main petak umpet
di taman bunga bermekaran
kota yang tak pernah ramah
tiba-tiba tersenyum cerah

sebelum hahaha hihihi hilang
dari buku catatan alam
ayo berdansa ceria
di dunia margasatwa!

mari tertawa,
sekerasnya!
lompat,
setinggi-tingginya!
berpuisi,
sepuasnya!

karena kita percaya,
semua bisa berpuisi
semua bisa berpantomim
ayo,
rayakan bulan puisi!

Syarat peserta :
o Usia 8 – 12 tahun (Murid SD kelas 2 – 6)
o Bersedia tampil bersama Le Mime Bizot pada acara PDP 2009 di Taman Menteng pada hari
Sabtu, 14 Maret 2009 pk.19.00 jika puisinya terpilih
o Bersedia hadir dalam latihan bersama Le Mime Bizot pada minggu pertama bulan Maret 2009

Cara pengiriman :
o Puisi ditulis di atas 1 halaman A4 dengan font Times New Roman ukuran 12, spasi ganda, dalam bahasa Indonesia atau bahasa Prancis
o Kirim data diri pengirim : nama pengirim / usia / nama sekolah / nama orang tua / alamat & no telp rumah / no hp orang tua / email orang tua
o Paling lambat diterima olah panitia pada hari Sabtu,21 Februari 2009
o Dikirimkan via email : info@ccfjakarta.or.id dan bungamatahari-owner@yahoogroups.com
fax : 390 85 86 dengan judul [PDP 2009]
pos : PDP 2009 – CCF Jakarta Jl. Salemba Raya No.25 Jakarta 10440 dengan judul [PDP 2009]

Informasi lebih lanjut :
o CCF Jakarta : Tel 390 85 85 / 390 85 80 / info@ccfjakarta.or.id / http://www.ccfjakarta.or.id/id
o BungaMatahari :
Mikael Johani (Tel 0856 755 2747/ mikaeljohani@yahoo.com )
Waraney Rawung (Tel 0816 116 3015 / neyspeaking@yahoo.com )
• http://bungamatahari.multiply.com

CCF Jakarta akan merayakan edisi ke-11 dari Printemps des poètes / Bulan Puisi, yang bertema “En Rire(s) / Mari tertawa” pada 2-15 Maret 2009. Le Printemps des Poètes atau Bulan Puisi pertama kali diadakan tahun 1999 untuk merayakan puisi dalam segala bentuknya. Acara ini mempertemukan jutaan penyair dan pembaca dari seluruh dunia yang bersatu dalam keindahan kata-kata. Baik kata-kata yang dibaca, dinyanyikan, ditulis atau dideklamasikan. Tahun ini, semua teks Bulan Puisi di seluruh dunia akan menggunakan satu tema, yaitu « En Rires/ Mari Tertawa ».

CCF Jakarta bekerja sama dengan BungaMatahari untuk memperkenalkan puisi kepada anak-anak dengan cara yang berbeda dan menyenangkan. Untuk itu, CCF Jakarta mengundang semua anak-anak usia 8 sampai 12 tahun untuk mengirimkan puisi-puisi mereka yang bertema « Mari tertawa » dalam bahasa Indonesia atau bahasa Prancis. Puisi para pemenang akan ditampilkan dalam bentuk pantomim oleh Le Mime Bizot, dalam acara « Pertunjukan Pantomisasi Puisi », pada Sabtu 14 Maret 2009 di Taman Menteng, Jakarta Pusat.

BungaMatahari
BungaMatahari (BuMa) adalah komunitas bagi siapa saja yang mencintai puisi dan ingin berbagi dalam suasana bebas dan bersahabat. Dengan semangat ’semua bisa berpuisi’, BuMa mempromosikan puisi kepada masyarakat luas sambil bereksperimen dengan cara-cara segar untuk menjelajahi dan menikmati puisi. Pertama muncul pada 19 April 2000, BuMa yang berbasis mailing list (milis) aktif mengadakan dan berpartisipasi dalam berbagai acara di ruang publik. Awal tahun 2006, BuMa menerbitkan Antologi BungaMatahari. Sejak tahun 2007, sebagai bagian dari perayaan Bulan Puisi, CCF Jakarta dan BuMa menyelenggarakan acara pembacaan puisi di ruang publik: « Banjir Puisi » di stasiun kereta api Gambir dan « Kejutan Puitis di Bioskop » di Blitz Megaplex Grand Indonesia.

Le Mime Bizot
Philippe Bizot pertama kali jatuh cinta kepada pantomin ketika berusia delapan tahun. Tahun 2003 meraih penghargaan tertinggi di Puerto Montt World Theatre Festival di Chili Le Mime Bizot telah berkeliling dunia, dari Perancis sampai Pakistan dan Bolivia, untuk memperkenalkan pantomim dan tampil di hadapan jutaan orang dewasa dan anak-anak. Ia memberikan kursus pantomim kepada kaum tunadaksa dan para penderita infantile autism. Datang ke Jakarta di bulan November 2008, Januari & Maret 2009 untuk memberikan pelatihan pantomim yang diadakan CCF Jakarta, untuk 600 peserta muda dan anak-anak di SLB Tunarungu Santi Rama, komunitas anak-anak jalanan Diakoneia Modern College (KDM), dan seniman-seniman profesional.

Acara ini terselenggara berkat dukungan dari :
Pemda DKI Jakarta
Dinas Kebudayaan & Pariwisata
Dinas Pertamanan
Walikota Jakarta Pusat
94.3 FM Jkt Women Radioflyer-printemps-des-poetes

Written by Waraney Rawung

5 February 2009 at 7:05 AM

2009: honor your gods, love your woman, defend your country

with one comment

Kalau tak ada suara terompet kertas yang melengking di hampir semua pojok perumnas tempat saya tinggal, siapa yang akan menyangka Rabu kemarin adalah hari terakhir di bulan Desember?

Musik dangdut bising mengalun dari tempat parkir kompleks, bersaing dengan karaoke melayu yang berdentam-dentam dari gedung serba guna di samping rumah. Di depan blok saya, tukang ketoprak duduk di bawah terpal plastik biru, terlindung dari panas matahari sore yang menampar Kebon Kacang.

Sore yang sepi untuk ukuran Perumnas Tanah Abang. Tak ada tanda-tanda perayaan akhir tahun 2008. Agaknya belum banyak orang yang keluar rumah saat itu. Padahal televisi dan internet heboh mengumbar cerita jalan yang macet dan padat kendaraan.

Sore itu saya dan kakak perempuan saya berangkat ke Pamulang untuk merayakan malam tahun baru dengan keluarga ayah kami. Kurang lebih dua jam perjalanan dari Kebon Kacang ke Pamulang. Sepanjang perjalanan saya tidur terus. Tak ada hal menarik yang bisa dilihat di jalanan, hanya kemacetan lalu-lintas.

Sampai di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pamulang pukul 6.30 malam, ibadah sudah mulai. Tak lama setelah duduk, pendeta memulai khotbah. Saya tak terlalu memperhatikan isi khotbahnya, karena suara ketawa anak-anak yang main kejar-kejaran di halaman gereja terlalu menyita konsentrasi.

Sejak orang tua saya bercerai belasan tahun lalu, saya punya keluarga besar dari pihak ayah dan ibu yang masing-masing sudah menikah kembali. Konsekuensinya, malam Natal dan tahun baru kami harus bergantian pergi ke rumah mereka di Pamulang dan Cinere. Seringkali ini juga berarti masuk gereja yang berbeda-beda.

Dalam urusan agama, saya cenderung tak suka yang macam-macam. Artinya, karena sejak kecil terbiasa ikut Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB), tak mudah bagi saya untuk ikut masuk ke gereja-gereja lainnya. Tapi sejak punya keluarga besar, dalam malam-malam penting tadi saya sering harus beribadah di gereja lain, seperti Gereja Kristen Jawa (GKJ), GKI, dan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK).

Berpindah-pindah gereja ini jadi pengalaman yang cukup menarik. Misalnya tadi malam, setelah ibadah di GKI selesai, kami langsung pindah ke seberang jalan, ke Gereja Advent. Menarik, karena walaupun Tuhan yang disembah sama, tapi caranya berbeda-beda, dan membuka mata saya tentang hal-hal yang tadinya saya anggap sepele, toleransi antar umat beragama.

Kalau saya yang menganggap diri ‘punya pikiran terbuka’ dan cukup ‘liberal’ bisa terkaget-kaget melihat tata ibadah yang beda (padahal sama-sama Kristen), tidak heran kalau buat sebagian orang menerima perbedaan antar umat beragama adalah hal yang sulit.

Jadi ingat juga pengalaman saya di kantor yang lama waktu bertugas ke Kupang, Papua, Kendari, Wakatobi, Makassar, Sinjai dan Bone tahun 2006-2007 lalu. Macam-macam orang yang saya temui, beragam adat istiadat dan kebiasaan. Agama yang berbeda-beda. Bermacam gereja. Bhineka Tunggal Ika baru terasa artinya saat saya meninggalkan batas-batas metropolitan Jakarta.

Tadi malam, saya kembali berkumpul dengan salah satu dari beberapa keluarga kecil yang saya miliki. Seperti biasa, ayat Alkitab yang dibacakan adalah Mazmur 23.

Lucunya, sambil mendengarkan mazmur yang indah itu, yang terlintas di ingatan saya adalah pidato pembangkit semangat perang yang diserukan Hector (diperankan oleh Eric Bana) dalam film Troy. Ia bilang, prinsip hidupnya sederhana saja. Honor the gods, love your woman, and defend your country.

Honor the gods kurang lebih sama dengan kalimat pertama mazmur itu, “Tuhan adalah gembalaku”. Love your woman, berarti setia dengan satu perempuan dan berusaha sekuatnya untuk merealisasikan mimpi-mimpi kami. Defend your country, mungkin berarti saya harus mempertimbangkan kembali rencana untuk golput dalam Pemilu, dan memberikan kesempatan bagi negeri yang tak sempurna ini.

Selamat Tahun Baru 2009.

Written by Waraney Rawung

1 January 2009 at 8:23 AM

Posted in agama, hari ini, keluarga