Archive for the ‘teman’ Category
Natal di Rumah Kecil di Tanah Abang
Semalam, seorang teman dari Belanda berkata kepada saya, “Saya takjub melihat betapa orang Indonesia bisa begitu merayakan Natal dengan pernak-pernik yang berasal dari kebudayaan Barat. Pohon cemara dan lilin-lilin, mistletoe, Santa Claus, dan lain-lain. Semuanya seolah-olah jadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Natal di sini.”
Sang teman ini, Nadap Pieter, adalah saudara Emie, sesama digirangers di kantor. Nadap datang ke Indonesia untuk liburan panjang, dan sekarang sedang istirahat sebentar di Jakarta setelah keliling Toraja, Maluku, dan Manado. Sepanjang perjalanan itu ia melihat betapa serunya persiapan Natal di daerah-daerah tersebut. Sesampainya di Jakarta, saat keliling-keliling di Plaza Indonesia, dia makin takjub melihat beberapa toko menjual baju-baju musim dingin, dan bahkan mempromosikan ‘winter sales’ atau bergaya ‘winter fashion themes’.
Saya bilang padanya, mungkin karena orang Indonesia gampang sekali mengadopsi budaya-budaya Barat (atau budaya lainnya) yang dianggap sesuai dan menyenangkan.
Waktu kecil saya pernah bertanya kepada ayah soal ketidaksesuaian simbol-simbol Natal tersebut dengan kondisi alam dan kebudayaan Indonesia. Apalagi karena sebagian besar lagu-lagu Natal yang populer sekali tidak bercerita tentang Yesus Kristus dan malam kelahiranNya ke dunia. Yang dibahas dalam lagu-lagu itu hanya musim salju, liburan akhir tahun, berpesta, bermain-main dengan kereta salju, dan membuat boneka saltu.
Ayah saya waktu itu harus menghabiskan bermalam-malam untuk menjelaskan persoalan ini.
Soal salah kaprah ini rupanya berlanjut bukan hanya soal budaya Barat atau Timur. Sebagian tetangga saya di Tanah Abang beranggapan bahwa perayaan Natal buat orang Manado berarti mabuk-mabukan. Saya ingat, dulu setiap malam Natal pasti ada tetangga yang datang ke rumah dan minta jatah minuman keras. Padahal selama kami tinggal di sana, seingat saya baru sekali ada minuman beralkohol yang tersedia di rumah saat Natal. Itu pun hanya champagne yang dibawa paman saya saat ia pulang dari berlayar.
Mungkin, bagi tetangga kami, Natal adalah sesuatu yang Barat dan asing. Mungkin juga karena reputasi sebagian orang Manado sebagai tukang minum dijadikan cap pukul rata. Mungkin juga para tetangga itu jarang baca koran dan hampir tak pernah menyentuh buku. Hahaha.
Sekarang rasa penasaran itu sudah terpenuhi dan saya damai-damai saja menerima kenyataan bahwa perayaan Natal harus ada pohon Natal, mistletoe, Santa Claus, dan lain-lain. Lebih-lebih lagi karena saya lahir dalam keluarga Manado, yang sebagian besar kaum tuanya masih fasih berbicara bahasa Belanda dan kuat memegang kebiasaan Natal a la Barat.
Natal sudah semakin dekat, dan salah satu hasil ‘didikan Barat’ yang sulit lepas dari diri saya adalah pengaruh serial buku ‘Little House on the Prairie’. Kisah-kisah keluarga Ingalls yang disuarakan oleh putri keduanya, Laura Ingalls, sudah terlanjur melekat dalam hati dan otak saya. Perayaan Natal keluarga pioneer di padang-padang rumput Amerika Serikat ini selalu begitu sederhana namun bermakna dan sangat sulit dilupakan. Terasa sangat dekat dengan kondisi keluarga saya yang pernah mengalami kesulitan ekonomi cukup berat.
Perayaan Natal buat keluarga kami selalu berupa kumpul keluarga di rumah sepulang gereja pada tanggal 24 Desember, makan bersama, dan dilanjutkan dengan ibadah pada detik-detik menjelang pukul 12 malam. Besok paginya pergi ke gereja, lalu kumpul-kumpul lagi atau berkunjung ke rumah saudara. Rumah kami yang kecil dan sempit di rumah susun Tanah Abang biasanya panas sesak oleh hawa masakan dari dapur dan keringat saudara-saudara serta teman yang datang.
Rumah kecil di Tanah Abang yang berusaha mencontek semangat rumah mungil dari kayu yang ditinggali Laura dan keluarganya. Di pojok ruang tamu ada pohon Natal tua yang harus diperkuat kawat setiap tahun, sebuah mistletoe plastik tergantung dari langit-langit yang rendah, hiasan-hiasan dinding murahan menempel di tembok beton bercat kusam, yang dibuat meriah oleh lampu-lampu berkelap-kelip.
Santa Claus yang saya ingat adalah pemuda tetangga dari persekutuan oikumene kompleks rumah susun, yang kepanasan dalam kostum pinjaman, ditemani kawannya yang jadi Pit Hitam, yang juga kegerahan gila-gilaan. Setelah menangis sejadi-jadinya karena takut dimasukan ke dalam karung si Pit Hitam sialan (katanya saya anak nakal), saya dapat hadiah tenda yang ternyata dibelikan oleh orang tua saya. Selesai makan, saya dan teman-teman tidak bermain kereta salju, melainkan main sepak bola atau tak jongkok di lapangan depan.
Terribly sorry, unwise and thoroughly uninformed neighbours. No alcohol.
Kalau pun kami mabuk, paling-paling mabuk kekenyangan masakan daging babi dan kue-kue tradisional. Hahaha.
Kupang, Pulau Rote, dan Teman Yang Tak Pernah Hilang
Siang ini saya tiba-tiba teringat Kupang dan Pulau Rote. Mungkin karena beban kerja yang bertambah berat akhir-akhir ini membuat saya sering berkhayal tentang faraway places. Don’t get me wrong, I love my job. Tapi di malam-malam lembur atau menanti macet Jakarta mereda, saat otak sudah terlalu korslet untuk diajak bekerja, pikiran saya biasanya melayang ke rencana-rencana traveling yang tak kunjung terlaksana.
Saya terakhir ke Kupang dan Pulau Rote di bulan November 2007. Setahun sebelumnya (2006), saya cukup beruntung bisa bolak-balik Kupang-Jakarta karena tugas kantor. Selama di sana, saya sempat ke Pulau Rote dan beberapa daerah lainnya di sekitar Kupang. Yang saya ingat tentang daerah itu adalah sebuah kota dan pulau yang kecil dengan penduduk yang ramah dan mudah tertawa, serta udara yang panas namun berangin.
Ah, sekarang saya ingat kenapa mendadak Kupang dan Rote mampir lagi di ingatan. Pagi ini saya menerima sebuah pesan di inbox Facebook dari seorang teman lama. Isi pesan tersebut singkat, tapi membangkitkan lagi kenangan tentang daerah ini, serta tentang arti teman bagi diri saya.




Di kapal ferry cepat menuju Pulau Rote (9 April 2006).

Perkenalan saya dengan kota Kupang dan Pulau Rote terjadi di tahun 2006, saat ditugaskan kantor untuk menjalankan program outreach klien di sana. Di tahun 2007, saya lagi-lagi dapat kesempatan untuk mengunjungi daerah tersebut, masih dengan penugasan yang tak jauh berbeda dan bertemu orang-orang yang kurang lebih sama juga.
Bedanya, di tahun 2006 saya tiba dengan hati riang gembira dan penuh semangat, sedangkan di tahun 2007 saya mendarat di lapangan terbang El Tari, Kupang, dengan suasana hati yang kurang menyenangkan. Adalah masalah pribadi yang cukup mengganggu saat itu, yang walaupun tak sampai mengganggu pekerjaan, tetap mengurangi kenikmatan jalan-jalan gratisan itu.
Hati dan pikiran yang sumpek memang sedikit terobati dengan beban pekerjaan yang sangat berat dan suguhan pemandangan Pulau Rote yang indah. Tapi yang lebih penting adalah di pulau itu saya mendapatkan teman baru, seorang dokter perempuan yang baru saja tiba dari Jakarta dan akan memenuhi tugas praktek selama kurang lebih setahun.
Sebut saja namanya M. Dia pengantin baru yang harus berpisah dari suaminya karena tuntutan pekerjaan. Wow. Mendengar ceritanya, rasanya masalah saya tak ada artinya. Saya membayangkan menjadi suami M yang harus melepaskan istri yang baru dinikahinya, yang harus bertugas di daerah terpencil. Tak terbayang bagaimana rasanya.
Sebagai dokter yang bertugas di daerah terpencil, M mendapat jatah rumah dinas. Tapi karena rumah tersebut belum siap, ia terpaksa tinggal beberapa malam di hotel tempat saya menginap. Walaupun baru saja kenal, kami langsung merasa cocok berteman. Kami sering menghabiskan waktu ngobrol di ruang makan hotel, dimana saya curhat habis-habisan dan dia mendengarkan sambil sesekali memberikan nasehat. Di siang hari, saat M sedang tak ada kerjaan, dia sering ikut saya dan beberapa teman keliling pulau dengan mobil sewaan. Saya survei tempat, sedangkan dia jalan-jalan gratisan. Hahaha.
Setelah hampir tiga minggu di Kupang dan Rote, terakhir kali saya bertemu dengan M adalah saat kapal ferry cepat yang saya naiki bersama rombongan klien meninggalkan pelabuhan Ba’a, Rote. Program outreach yang saya kerjakan sudah selesai, dan saya harus kembali ke Jakarta. M turut mengantarkan kami sampai ke pelabuhan. Saya tak akan lupa wajahnya saat itu. Masa prakteknya baru saja mulai dan baru akan berakhir setahun lagi. Suaminya mungkin baru bisa mengunjungi di bulan ketiga atau keenam. Bayangkan betapa kesepiannya dia!

Di Pantai Nemberala, Pulau Rote (2 November 2007).

Pantai Bo’a, Pulau Rote.

Matahari terbenam di Pantai Bo’a.


M bermain bersama anak-anak di Pantai Bo’a

Hampir dua tahun berlalu sebelum saya kemudian mendengar kabar darinya lagi. Ia mengirim pesan lewat Facebook, menceritakan bahwa setelah tugasnya di Pulau Rote berakhir ia langsung pulang ke Jakarta. Tapi berita yang membuat saya shock adalah, beberapa waktu lalu suaminya meninggal dunia karena serangan jantung.
Saya hanya bisa membalas pesannya dengan kata-kata menghibur. Tak ada lagi yang bisa saya lakukan. M yang begitu baik dan sabar mendengarkan curhat saya, yang membantu saya mendinginkan pikiran dan menenangkan emosi, yang berhasil mencekoki saya dengan akal sehat dan logika, kini mengalami kedukaan hebat. Dan saya tak bisa datang dan menghiburnya.
Pagi ini, saat saya memeriksa inbox Facebook, ada pesan dari M. Singkat saja. Ia hanya menanyakan apa kabar saya, dan lain-lain. Dalam pesannya yang singkat itu saya bisa melihat betapa kuat ingatannya, karena ia masih ingat cerita-cerita saya dua tahun lalu. Saya balas pesannya, bilang bahwa saya baik-baik saja.
Sekarang saya ingat kenapa kota Kupang dan Pulau Rote begitu berarti bagi saya. Di sana saya belajar tentang artinya persahabatan, tentang teman yang benar-benar siap mendengarkan, namun tak segan untuk menegur saat kita salah langkah atau melenceng pikiran. Dan hari ini saya kembali diingatkan, bahwa sahabat sejati tak akan pernah hilang.

Cerita-cerita lain tentang persahabatan (dari perspektif perempuan) dari blog beberapa teman:
Wanted: Teman Curhat – Salsabeela
Anak Perawan di Sarang Social Geeks
Akhirnya tim Digital di kantor saya punya anggota perempuan. Sejak pertama bergabung kembali di sini, saya menyadari bahwa komposisi tim yang mayoritas laki-laki (ada Mbak Titi, tapi dia saat ini sedang cuti hamil, and she’s like one of the boys too
) membuat kelakuan kami seperti jocks di locker room yang sering kita tonton di film-film remaja keluaran Hollywood. Biasalah, becandaan jorok, ketawa ngakak nggak liat-liat tempat, sulit untuk bisa serius, dan kecenderungan untuk berkelakuan ekstra maskulin.
Saya jadi teringat novel Musashi yang saya baca waktu SD dulu. Di salah satu bagiannya, diceritakan bahwa Musashi (atau Kojiro musuh bebuyutannya, lupa juga) berkunjung ke sebuah perguruan samurai yang cukup terhormat di masa itu. Saat melongok ke dalam salah satu bangsal tempat para samurai (laki-laki semua tentunya) tidur, ia melihat di salah satu dinding tergantung cermin, selendang, dan alat-alat berdandan. Saya kurang ingat juga tepatnya apa, tapi yang jelas benda-benda tersebut adalah barang-barang yang biasa digunakan kaum perempuan.
Waktu Musashi (atau Kojiro?) bertanya kepada samurai yang menemaninya, jawabnya kurang lebih seperti ini, “Tidak baik bagi sekumpulan laki-laki untuk tinggal dan berkegiatan bersama-sama dalam waktu lama, tanpa ada unsur-unsur feminin dalam lingkungan mereka.”
Intinya, para samurai itu diingatkan bahwa ada yang kasar dan ada juga yang lembut, ada yang hitam dan ada yang putih. Segala sesuatu harus seimbang.
Nah, berdasarkan semangat itulah, sejak awal saya sudah mengingatkan kepada Deden dan Nanda bahwa kalau jumlah proyek dan klien yang kami tangani semakin banyak, kami harus menambah anggota baru, yang sebaiknya perempuan. Setelah pencarian yang tak lama-lama amat, kami memutuskan untuk menarik Emie dari divisi Media Monitoring untuk mengisi posisi intern Account Executive.
Welcome Emie! Sabar-sabar ya menghadapi kelakuan social geeks yang kadang-kadang menyebalkan ini!
Koleksi Action Figures di Meja Kerja, Untuk Apa?
Apakah kegemaran terhadap benda-benda yang berhubungan dengan Star Wars selalu identik dengan ‘digital’? Pertanyaan ini dilontarkan oleh rekan sekantor saya, Mbak Misty, pertama karena saya cerita bahwa saya baru saja menambahkan beberapa action figures Star Wars di meja kerja saya, kedua karena Nanda juga punya beberapa figures Star Wars di ruangannya.
Dikaitkan dengan pertanyaan Mbak Misty, agaknya konteks ‘digital’ di sini lebih ke arah para geek, anggota Digital team di kantor kami, yaitu Nanda, Deden, Arief, dan Yoshi. Apa hubungannya geek dan action figures? Coba lihat arti geek menurut Wikipedia:
The word geek is a slang term, noting individuals as “a peculiar or otherwise odd person, especially one who is perceived to be overly obsessed with one or more things including those of intellectuality, electronics, etc.”
Singkatnya, seseorang yang punya minat atau ketertarikan khusus yang agak-agak beda dari biasanya terhadap sesuatu, bisa berupa benda, atau hal-hal lainnya. Kurang lebih itu pengertian yang saya simpulkan.
Setelah dipikir-pikir sebentar, agaknya memang ada hubungan dengan status geek atau social geek yang kami sandang. Sifat pekerjaan yang mengharuskan kami bersentuhan dan bermain-main dengan dunia internet, all things digital and electronic, sangat dekat dengan segala sesuatu yang berbau robot dan action figures.
Di kantor kami, bukan hanya saya dan Nanda yang memboyong sebagian harta karun action figures ke kantor. Ada Dita, yang hobi mengumpulkan segala hal yang berhubungan dengan Wonder Woman, dan ada Mbak Titi yang tergila-gila dengan Superman. Dita dan Mbak Titi nggak geek-geek amat, jadi apa hubungannya antara action figures dan geek dong? Entahlah.



Karena tulisan ini dibuat di sela-sela lembur (sudah hampir jam 9 malam) dan orang-orang yang bersangkutan sudah pulang, saya nggak tahu alasan mereka menghias ruangannya dengan mainan-mainan tersebut. Buat saya, action figures yang bertebaran di meja kerja menimbulkan rasa nyaman, seolah-olah berada di ruang belajar di rumah sendiri. Setiap hari saya bisa menghabiskan 8 sampai 12 jam bekerja di kantor. Lebih baik membuat diri senyaman mungkin, bukan? Seperti yang ditulis Hanny, teman di kantor saya dulu, dalam tulisan menarik, “Menyikapi Pekerjaan Dengan Hati Senang.”
Selain itu action figures juga dapat memancing kreativitas dan imajinasi yang sangat penting saat harus menulis proposal dan rekomendasi untuk klien. Saat sedang bosan dan suntuk, action figures juga bisa buat bermain-main sejenak. Namanya juga mainan!
There’s a child inside all of us. Are you willing to let them out from time to time?
Marshanda, Markentong, dan Marji’ah
Marshanda sedang jadi topik pembicaraan seru di Twitter (dan social media sites lainnya) beberapa hari ini, walaupun belum sampai jadi trending topics. Aktris dan penyanyi muda ini bikin heboh gara-gara video di YouTube, dimana ia menyanyi, lompat-lompat, menari-nari, dan ketawa-ketawa sendiri sambil meledek beberapa teman sekolahnya dulu.

Sekarang video itu sudah tak ada lagi di account Marshanda. Namun kita masih bisa menonton copy-nya di sini (UPDATE: maaf temans, linknya saya hapus. Setuju sama Pitra. Kasihan sama pemiliknya. Kalau mau cari, Google aje!). Namanya juga dunia online, sekali masuk susah keluar (seperti cerita seram jaman dulu, tentang pasangan yang bercinta di kuburan…hehehe, ngelantur!).
Komentar-komentar yang berhamburan di halaman account YouTube Marshanda dan account si pelaku reposting, serta di Twitter search, umumnya kejam-kejam. Ia dituduh mabok, stress, kesurupan, sampai cari sensasi. Seorang teman bahkan sempat menyangka bahwa video tersebut adalah bagian dari strategi viral marketing untuk mempromosikan sinetron terbaru aktris ini.
Saya sendiri menganggap video tersebut lucu-lucu aja. Memang orangnya juga lucu. Hehehe. But really, she’s just acting like a teenager. Bukannya mau pukul rata bahwa remaja pada umumnya memang clueless begitu, tapi kalau dipikir-pikir, kehebohan ini muncul hanya karena pelakunya punya status selebriti. Coba yang bikin video macam itu teman kita atau a nobody seperti saya. Paling-paling yang nonton cekikikan sebentar, lalu share di Twitter dan Facebook supaya bisa ketawa rame-rame.
Selain video yang bikin heboh itu, ada video-video lain yang agaknya di-upload Marshanda selama kurun waktu yang kurang lebih sama (satu minggu). Semuanya menampilkan dirinya sedang menyanyi dan bergaya macam-macam. Ada yang solo, ada juga yang trio dengan beberapa teman. Bukan sesuatu yang luar biasa juga, dan sama sekali bukan sesuatu yang pantas mendapatkan komentar negatif dan caci maki. Semua video ini sudah dihapus, dan yang tertinggal hanya tiga video ’standar.’
Buat saya, tak ada yang salah dengan kelakuan Marshanda joget-joget dan nyanyi-nyanyi fals di depan umum. Yang jadi masalah cuma statusnya sebagai selebriti. Tapi mungkin tak ada salahnya dia pikir-pikir dulu sebelum posting. Karena seperti yang dibilang Pitra, bisa-bisa dia dituntut oleh teman-temannya yang diledek di video itu.
Lain kali Marshanda harus konsultasi dulu ke teman saya, Yoshi Febrianto, yang jago bikin video lucu. Belum lama ini seri video “Tulisanmu Puisiku” buatannya (yang katanya sudah diedit) menjadi salah satu video yang ditampilkan di festival OK Video “Comedy”. Kalau tak salah, seri video ini aslinya dibuat dadakan (dengan sang istri sebagai pemanggul kamera) saat kesal menunggu anak-anak BungaMatahari yang datang ngaret ke Kebun Raya Bogor untuk acara KebunKata “KebunRaya.”
Marshanda (dan saya juga!) bisa belajar banyak dari Yoshi soal kreativitas.
Sekarang coba lihat video “Response to Marshanda Nangis 3: Markentong dan Marji’ah Nangis”. Saya dan beberapa teman terpingkal-pingkal saat menontonnya. Waktu saya pertama menontonnya, hanya ada ratusan views, dan sekarang sudah mencapai lebih dari 4000 views. Efek word of mouth di dunia online memang mantap!
Viral effect macam ini habis-habisan diidamkan online marketers dan public relations consultants. Banyak yang mengejarnya, hanya sedikit yang berhasil mencapainya. Resepnya memang susah-susah gampang. Buat content yang sederhana tapi menarik, yang bisa membuat orang nonton berkali-kali dan mendorong kita menyebarkan link-nya kemana-mana. As simple as that, but easier said than done.
Baca juga:
Marshanda Pecas Ndahe – Ndoro Kakung
Marshanda di YouTube? – Media Ide

















