Archive for the ‘social media’ Category
Anak Perawan di Sarang Social Geeks
Akhirnya tim Digital di kantor saya punya anggota perempuan. Sejak pertama bergabung kembali di sini, saya menyadari bahwa komposisi tim yang mayoritas laki-laki (ada Mbak Titi, tapi dia saat ini sedang cuti hamil, and she’s like one of the boys too
) membuat kelakuan kami seperti jocks di locker room yang sering kita tonton di film-film remaja keluaran Hollywood. Biasalah, becandaan jorok, ketawa ngakak nggak liat-liat tempat, sulit untuk bisa serius, dan kecenderungan untuk berkelakuan ekstra maskulin.
Saya jadi teringat novel Musashi yang saya baca waktu SD dulu. Di salah satu bagiannya, diceritakan bahwa Musashi (atau Kojiro musuh bebuyutannya, lupa juga) berkunjung ke sebuah perguruan samurai yang cukup terhormat di masa itu. Saat melongok ke dalam salah satu bangsal tempat para samurai (laki-laki semua tentunya) tidur, ia melihat di salah satu dinding tergantung cermin, selendang, dan alat-alat berdandan. Saya kurang ingat juga tepatnya apa, tapi yang jelas benda-benda tersebut adalah barang-barang yang biasa digunakan kaum perempuan.
Waktu Musashi (atau Kojiro?) bertanya kepada samurai yang menemaninya, jawabnya kurang lebih seperti ini, “Tidak baik bagi sekumpulan laki-laki untuk tinggal dan berkegiatan bersama-sama dalam waktu lama, tanpa ada unsur-unsur feminin dalam lingkungan mereka.”
Intinya, para samurai itu diingatkan bahwa ada yang kasar dan ada juga yang lembut, ada yang hitam dan ada yang putih. Segala sesuatu harus seimbang.
Nah, berdasarkan semangat itulah, sejak awal saya sudah mengingatkan kepada Deden dan Nanda bahwa kalau jumlah proyek dan klien yang kami tangani semakin banyak, kami harus menambah anggota baru, yang sebaiknya perempuan. Setelah pencarian yang tak lama-lama amat, kami memutuskan untuk menarik Emie dari divisi Media Monitoring untuk mengisi posisi intern Account Executive.
Welcome Emie! Sabar-sabar ya menghadapi kelakuan social geeks yang kadang-kadang menyebalkan ini!
Amanat Bersama Indonesia Unite Untuk Kaum Pemberani
Semalam, sekumpulan anak muda (dan sejumlah wakil dari generasi yang lebih tua) mendeklarasikan Amanat Bersama Indonesia Unite di acara CultureFest yang berlangsung di halaman kantor majalah Rolling Stone. Amanat Bersama ini bukanlah dokumen mati yang ditulis oleh segelintir orang yang mengeksklusifkan dirinya, melainkan disusun melalui proses penulisan bersama dalam sebuah halaman Wiki yang terbuka untuk umum sejak 9 Agustus 2009 sampai 14 Agustus 2009. Demikian bunyinya:
AMANAT BERSAMA #INDONESIAUNITE
Kami adalah generasi baru, pewaris sah Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kami adalah generasi baru, yang menolak untuk hidup dan tumbuh dengan rasa takut. Kami memilih menjadi pemberani.
Kami adalah generasi baru, yang percaya setiap kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru. Karena itu, kami akan berusaha untuk memutus rantai kekerasan melalui karya kemanusiaan di mana pun kami berada.
Kami adalah generasi baru, yang percaya penuh dengan prinsip demokrasi, kemanusiaan, kesetaraan, dan saling menghormati. Karena itu, kami menolak segala bentuk diskriminasi.
Kami adalah generasi baru, yang akan membangun sebuah bangsa dan negara yang bermartabat dan terhormat, mampu mempersatukan Indonesia, melindungi hak-hak individu, berdiri di atas semua golongan, serta memuliakan manusia-manusia yang menjadi rakyatnya.
Republik Indonesia sudah 64 tahun usianya. Apa yang bisa kamu lakukan untuknya? Banyak. Mulailah dengan bekerja dengan sebaik-baiknya, menjalankan kehidupan sehari-hari tanpa rasa takut terhadap ancaman teror. Berani menghadapi tantangan hidup yang pasti kita hadapi setiap saat, dan tak jadi pengecut yang menyembunyikan ekornya di sela-sela pantat saat kesulitan menghadang.
Berani hidup untuk mengubah nasib negeri ini menjadi lebih baik, itu kualitas yang kita butuhkan saat ini.
Bangsa Indonesia adalah bangsa pemberani, yang tak akan tunduk oleh kaum pengecut seperti teroris yang menggunakan kekerasan untuk memaksakan kehendaknya. Masa kita mau kalah sama kaum kacung kampret pengecut yang beraninya main belakang?
Sementara itu, silakan menikmati video keren yang dibuat teman-teman dari Kopdar Jakarta untuk menyambut 17 Agustus tahun ini. Mereka memutarnya secara bersamaan pada tanggal 14 Agustus lalu, tepat pukul 14.00. Saya yang tadinya mau ikut-ikutan, ketinggalan karena sibuk kerja. Tak ada kata terlambat untuk menunjukkan cinta kepada negara dan bangsa ini.
Selamat ulang tahun ke-64, Republik Indonesia. Live long and prosper!
Baca juga:
Indonesia Unite – Kami Tidak Takut - Media Ide
Pilih Sendiri Perjuanganmu Untuk Indonesia Unite – Dondi Hananto
Merdeka, Untuk Kita Semua – Dimas Novriandi
A Social Media Geek With No Social Life

This is what's going to happen if you're spending too much time hugging PCs and laptops accompanied by action figures.
Digital team di kantor saya baru saja dapat pemberitahuan bahwa proposal kami diterima oleh klien. Another great win! Tapi di sela-sela chest-bumping dan teenage-celebrity-dancing yang berlangsung di pojokan kantor, terlintas pikiran bahwa akan makin banyak waktu yang dihabiskan di kantor sampai larut malam.
Saya sih nggak keberatan.
I’m doing what I like and getting paid very well for it. Life is good!
Nggak tahu kenapa, saya tiba-tiba teringat patung Gundam di Odaiba, Tokyo, yang saya lihat dari posting Danny Choo di blog-nya. Buat saya patung tersebut dan seluruh lapisan subculture geek dan otaku yang melingkupinya adalah sumber inspirasi buat mimpi-mimpi saya. Baik secara pribadi maupun sebagai seorang profesional.
Senada dengan tweet yang hari ini ditulis teman saya, Iskandar, yang mengutip lirik lagu Souljah:
A toast to social media geeks with no social life!
Marshanda, Markentong, dan Marji’ah
Marshanda sedang jadi topik pembicaraan seru di Twitter (dan social media sites lainnya) beberapa hari ini, walaupun belum sampai jadi trending topics. Aktris dan penyanyi muda ini bikin heboh gara-gara video di YouTube, dimana ia menyanyi, lompat-lompat, menari-nari, dan ketawa-ketawa sendiri sambil meledek beberapa teman sekolahnya dulu.

Sekarang video itu sudah tak ada lagi di account Marshanda. Namun kita masih bisa menonton copy-nya di sini (UPDATE: maaf temans, linknya saya hapus. Setuju sama Pitra. Kasihan sama pemiliknya. Kalau mau cari, Google aje!). Namanya juga dunia online, sekali masuk susah keluar (seperti cerita seram jaman dulu, tentang pasangan yang bercinta di kuburan…hehehe, ngelantur!).
Komentar-komentar yang berhamburan di halaman account YouTube Marshanda dan account si pelaku reposting, serta di Twitter search, umumnya kejam-kejam. Ia dituduh mabok, stress, kesurupan, sampai cari sensasi. Seorang teman bahkan sempat menyangka bahwa video tersebut adalah bagian dari strategi viral marketing untuk mempromosikan sinetron terbaru aktris ini.
Saya sendiri menganggap video tersebut lucu-lucu aja. Memang orangnya juga lucu. Hehehe. But really, she’s just acting like a teenager. Bukannya mau pukul rata bahwa remaja pada umumnya memang clueless begitu, tapi kalau dipikir-pikir, kehebohan ini muncul hanya karena pelakunya punya status selebriti. Coba yang bikin video macam itu teman kita atau a nobody seperti saya. Paling-paling yang nonton cekikikan sebentar, lalu share di Twitter dan Facebook supaya bisa ketawa rame-rame.
Selain video yang bikin heboh itu, ada video-video lain yang agaknya di-upload Marshanda selama kurun waktu yang kurang lebih sama (satu minggu). Semuanya menampilkan dirinya sedang menyanyi dan bergaya macam-macam. Ada yang solo, ada juga yang trio dengan beberapa teman. Bukan sesuatu yang luar biasa juga, dan sama sekali bukan sesuatu yang pantas mendapatkan komentar negatif dan caci maki. Semua video ini sudah dihapus, dan yang tertinggal hanya tiga video ’standar.’
Buat saya, tak ada yang salah dengan kelakuan Marshanda joget-joget dan nyanyi-nyanyi fals di depan umum. Yang jadi masalah cuma statusnya sebagai selebriti. Tapi mungkin tak ada salahnya dia pikir-pikir dulu sebelum posting. Karena seperti yang dibilang Pitra, bisa-bisa dia dituntut oleh teman-temannya yang diledek di video itu.
Lain kali Marshanda harus konsultasi dulu ke teman saya, Yoshi Febrianto, yang jago bikin video lucu. Belum lama ini seri video “Tulisanmu Puisiku” buatannya (yang katanya sudah diedit) menjadi salah satu video yang ditampilkan di festival OK Video “Comedy”. Kalau tak salah, seri video ini aslinya dibuat dadakan (dengan sang istri sebagai pemanggul kamera) saat kesal menunggu anak-anak BungaMatahari yang datang ngaret ke Kebun Raya Bogor untuk acara KebunKata “KebunRaya.”
Marshanda (dan saya juga!) bisa belajar banyak dari Yoshi soal kreativitas.
Sekarang coba lihat video “Response to Marshanda Nangis 3: Markentong dan Marji’ah Nangis”. Saya dan beberapa teman terpingkal-pingkal saat menontonnya. Waktu saya pertama menontonnya, hanya ada ratusan views, dan sekarang sudah mencapai lebih dari 4000 views. Efek word of mouth di dunia online memang mantap!
Viral effect macam ini habis-habisan diidamkan online marketers dan public relations consultants. Banyak yang mengejarnya, hanya sedikit yang berhasil mencapainya. Resepnya memang susah-susah gampang. Buat content yang sederhana tapi menarik, yang bisa membuat orang nonton berkali-kali dan mendorong kita menyebarkan link-nya kemana-mana. As simple as that, but easier said than done.
Baca juga:
Marshanda Pecas Ndahe – Ndoro Kakung
Marshanda di YouTube? – Media Ide
Susan Boyle dan perasaan bersalah yang manusiawi
“Kurang enak rasanya ngeliat penyanyi yang tampangnya jelek. Walaupun suaranya bagus,” kata Edo kemarin sore. Saat itu saya, Edo, dan Mikael sedang ngobrol soal Susan Boyle, perempuan 47 tahun dari Skotlandia yang jadi fenomena YouTube minggu ini. Videonya dari acara Britain’s Got Talent sudah ditonton lebih dari 26 juta kali saat tulisan ini dibuat. Menurut situs Mashable, kalau video-video lainnya tentang Susan dihitung juga, total hits-nya mencapai 47 juta kali. Mengalahkan beberapa video YouTube tenar lainnya.
Siapa sih Susan Boyle? Perempuan ini adalah salah satu peserta Britain’s Got Talent yang awal minggu lalu mengejutkan juri dan penonton acara tersebut dengan suara emasnya. Saat ia pertama muncul di atas panggung, semua menertawakannya. Perempuan 47 tahun, gemuk, beruban, berpenampilan ndeso, mau jadi penyanyi tenar? Berani-beraninya!
Tapi begitu ia menunjukkan kebolehannya membawakan lagu “I Dreamed a Dream” dari drama musikal “Les Miserables” dengan sempurna, juri yang sinis dan penonton yang bengis ternganga, kagum tak mampu bersuara, lalu bertepuk tangan menggila.
Setelah menonton video itu, saya lalu mencari cerita lain tentang Susan dan tersandung artikel Tanya Gold di guardian.co.uk yang mengkritik perlakuan juri terhadap Susan serta reaksi kita terhadapnya. Singkatnya, perempuan jelek berbakat nyanyi diperlakukan lebih buruk dari laki-laki jelek berbakat nyanyi.

Tanya Gold: It wasn't singer Susan Boyle who was ugly on Britain's Got Talent so much as our reaction to her
Mike dan Edo bilang bahwa wajar-wajar saja kalau kita suka penyanyi yang cantik-cantik, dan bukan sesuatu yang luar biasa kalau penonton dan juri Britain’s Got Talent meremehkan Susan sebelum mendengarkan suaranya. Pendapat mereka mengingatkan saya tentang suatu penelitian (lupa baca dimana, kalau nggak salah New York Times) bahwa definisi cantik-tampan ternyata universal dan berhubungan dengan komposisi wajah dan tubuh. Semakin seimbang komposisinya, semakin cantik-tampan dan menarik individu tersebut di mata kita.
Berdasarkan teori tersebut, Susan jelas-jelas tidak simetris. Saya tak menganggap dia jelek. Tapi tanpa perlu mendengar pengakuannya di panggung bahwa “I’ve never been kissed” dan “I’m forty-seven, and that’s just one side of me,” saya sudah bisa menyimpulkan bahwa dia juga bukan perempuan yang cantik. Reaksi yang manusiawi kan? Manusiawi juga kalau kita merasa bersalah setelah sadar bahwa perempuan tak simetris itu ternyata bersuara emas.
Saya punya wajah yang juga tidak simetris (mata kanan lebih kecil dari mata kiri), dan sering minder gara-gara itu. Tapi rasa rendah diri ini berkurang setelah suatu hari di tahun 1996 seorang teman kuliah bertanya, “Ney, lo ngelmu ya?” Setelah bengong dua detik, saya tanya balik ke dia, “Nggak. Kok lo mikir gitu?” Jawabnya, “Abis cewek lo banyak, trus lo suka pake baju hitam, dan rajin jogging siang-siang.”
Sunyi sejenak. Saya tak tahu harus jawab apa, cengengesan, lalu pergi meninggalkan sang teman tanpa menjawab apa-apa. Bukan main kesimpulan yang bisa ditarik teman saya itu hanya dari observasi singkat tanpa penelitian lebih lanjut. Dipikirnya saya punya ilmu hitam untuk menggaet cewek-cewek Sastra, karena itu saya suka pakai baju hitam macam dukun, dan jogging saya itu bagian dari ritual ilmu hitam. (Disclaimer: banyak cewek karena di Fakultas Sastra UI — sekarang FIB UI — memang lebih banyak cewek dari cowok, pakai baju hitam terus biar kelihatan lebih langsing, dan jogging siang-siang biar cepat kurus!)
Tak usah merasa bersalah kalau kita pernah atau masih jadi orang-orang seperti penonton dan juri Britain’s Got Talent. Manusiawi kok. Jangan percaya juga sama ungkapan “don’t judge a book by it’s cover”. Omong kosong. Kalau nggak lihat dari sampulnya dulu, trus dari mana? Buktinya irisPUSTAKA menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menentukan sampul buku Mike dan Anya!
It’s ok to judge a book by it’s cover. But don’t go crying to mommy when you find a crappy story in it, or be the only person in the world who missed the best-seller.














