Archive for the ‘keluarga’ Category
2009: honor your gods, love your woman, defend your country
Kalau tak ada suara terompet kertas yang melengking di hampir semua pojok perumnas tempat saya tinggal, siapa yang akan menyangka Rabu kemarin adalah hari terakhir di bulan Desember?
Musik dangdut bising mengalun dari tempat parkir kompleks, bersaing dengan karaoke melayu yang berdentam-dentam dari gedung serba guna di samping rumah. Di depan blok saya, tukang ketoprak duduk di bawah terpal plastik biru, terlindung dari panas matahari sore yang menampar Kebon Kacang.
Sore yang sepi untuk ukuran Perumnas Tanah Abang. Tak ada tanda-tanda perayaan akhir tahun 2008. Agaknya belum banyak orang yang keluar rumah saat itu. Padahal televisi dan internet heboh mengumbar cerita jalan yang macet dan padat kendaraan.
Sore itu saya dan kakak perempuan saya berangkat ke Pamulang untuk merayakan malam tahun baru dengan keluarga ayah kami. Kurang lebih dua jam perjalanan dari Kebon Kacang ke Pamulang. Sepanjang perjalanan saya tidur terus. Tak ada hal menarik yang bisa dilihat di jalanan, hanya kemacetan lalu-lintas.
Sampai di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pamulang pukul 6.30 malam, ibadah sudah mulai. Tak lama setelah duduk, pendeta memulai khotbah. Saya tak terlalu memperhatikan isi khotbahnya, karena suara ketawa anak-anak yang main kejar-kejaran di halaman gereja terlalu menyita konsentrasi.
Sejak orang tua saya bercerai belasan tahun lalu, saya punya keluarga besar dari pihak ayah dan ibu yang masing-masing sudah menikah kembali. Konsekuensinya, malam Natal dan tahun baru kami harus bergantian pergi ke rumah mereka di Pamulang dan Cinere. Seringkali ini juga berarti masuk gereja yang berbeda-beda.
Dalam urusan agama, saya cenderung tak suka yang macam-macam. Artinya, karena sejak kecil terbiasa ikut Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB), tak mudah bagi saya untuk ikut masuk ke gereja-gereja lainnya. Tapi sejak punya keluarga besar, dalam malam-malam penting tadi saya sering harus beribadah di gereja lain, seperti Gereja Kristen Jawa (GKJ), GKI, dan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK).
Berpindah-pindah gereja ini jadi pengalaman yang cukup menarik. Misalnya tadi malam, setelah ibadah di GKI selesai, kami langsung pindah ke seberang jalan, ke Gereja Advent. Menarik, karena walaupun Tuhan yang disembah sama, tapi caranya berbeda-beda, dan membuka mata saya tentang hal-hal yang tadinya saya anggap sepele, toleransi antar umat beragama.
Kalau saya yang menganggap diri ‘punya pikiran terbuka’ dan cukup ‘liberal’ bisa terkaget-kaget melihat tata ibadah yang beda (padahal sama-sama Kristen), tidak heran kalau buat sebagian orang menerima perbedaan antar umat beragama adalah hal yang sulit.
Jadi ingat juga pengalaman saya di kantor yang lama waktu bertugas ke Kupang, Papua, Kendari, Wakatobi, Makassar, Sinjai dan Bone tahun 2006-2007 lalu. Macam-macam orang yang saya temui, beragam adat istiadat dan kebiasaan. Agama yang berbeda-beda. Bermacam gereja. Bhineka Tunggal Ika baru terasa artinya saat saya meninggalkan batas-batas metropolitan Jakarta.
Tadi malam, saya kembali berkumpul dengan salah satu dari beberapa keluarga kecil yang saya miliki. Seperti biasa, ayat Alkitab yang dibacakan adalah Mazmur 23.
Lucunya, sambil mendengarkan mazmur yang indah itu, yang terlintas di ingatan saya adalah pidato pembangkit semangat perang yang diserukan Hector (diperankan oleh Eric Bana) dalam film Troy. Ia bilang, prinsip hidupnya sederhana saja. Honor the gods, love your woman, and defend your country.
Honor the gods kurang lebih sama dengan kalimat pertama mazmur itu, “Tuhan adalah gembalaku”. Love your woman, berarti setia dengan satu perempuan dan berusaha sekuatnya untuk merealisasikan mimpi-mimpi kami. Defend your country, mungkin berarti saya harus mempertimbangkan kembali rencana untuk golput dalam Pemilu, dan memberikan kesempatan bagi negeri yang tak sempurna ini.
Selamat Tahun Baru 2009.
Bapa Kami Yang di Surga
Saya percaya Tuhan. Saya percaya hal-hal utama dalam agama Kristen yang saya anut, seperti Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Tapi hanya berhenti sampai di situ. I was never a religious person anyway.
Sejak saya kecil, ada banyak sekali pertanyaan tentang agama, terutama tentang konsep kematian, surga dan neraka yang sering mengganggu pikiran. Kalau sudah mulai terpikir hal-hal semacam itu, pasti sulit tidur. Melek sampai jam 3 pagi.
Ayah saya adalah orang yang sangat terbuka. Hampir-hampir sangat liberal. Dia selalu menekankan kepada anak-anaknya untuk tidak pernah berhenti mempertanyakan segala sesuatu yang kita pelajari. Bahkan sampai ke soal-soal agama.
Ajaran yang melekat dalam diri saya sampai sekarang.
Saya percaya Tuhan. Tapi saya sangat jarang ke gereja. Tahun lalu, jarang sekali saya menginjakkan kaki di Rumah Tuhan itu. Tahun ini baru sekali, dan itu pun pada saat Jumat Agung kemarin. Hari Paskah saya lalui di rumah tanpa melakukan hal-hal istimewa. Saya bahkan lupa mengucapkan Selamat Paskah pada keluarga saya.
Pagi ini sebelum berangkat ke kantor, saya mampir ke rumah kakak laki-laki saya (kami tinggal di kompleks Perumnas yang sama). Sejak tadi malam ibu saya datang menginap di sana, dan baru akan kembali ke rumahnya di Cinere minggu depan.
Sesampainya di sana, semua sedang makan pagi. Kakak saya dan dua anaknya yang masih kelas satu dan dua SD, serta ibu saya. Saya pun kebagian sepiring nasi, tiga potong sosis goreng, dan kerupuk. Lumayan, di kantor tak perlu beli bubur ayam lagi.
Kami pun ngobrol-ngobrol ringan. Sesuatu yang sangat jarang bisa kami lakukan sejak sepuluh tahun terakhir ini, sejak kami semua tinggal terpisah. Ibu mengontrak rumah di Cinere (sebelumnya di Bintaro), sedangkan kami anak-anak tetap di Tanah Abang, walaupun di flat Perumnas yang berbeda.
Saat saya pamitan berangkat ke kantor, kakak saya memberikan sebuah gambar kecil Yesus. Yesus yang sedang berdoa di Taman Getsemani.
Kakak saya, walaupun dalam banyak hal lebih bajingan dan hidupnya hampir tak pernah lurus, anehnya selalu lebih religius dari saya. Dan pagi ini ia memberikan gambar Yesus.
Sekarang gambar itu saya taruh di atas keyboard, sedikit bersandar di monitor.
Bapa kami yang di surga. Bantulah agar saya dapat lebih fokus bekerja.





