Archive for the ‘foto’ Category
Kupang, Pulau Rote, dan Teman Yang Tak Pernah Hilang
Siang ini saya tiba-tiba teringat Kupang dan Pulau Rote. Mungkin karena beban kerja yang bertambah berat akhir-akhir ini membuat saya sering berkhayal tentang faraway places. Don’t get me wrong, I love my job. Tapi di malam-malam lembur atau menanti macet Jakarta mereda, saat otak sudah terlalu korslet untuk diajak bekerja, pikiran saya biasanya melayang ke rencana-rencana traveling yang tak kunjung terlaksana.
Saya terakhir ke Kupang dan Pulau Rote di bulan November 2007. Setahun sebelumnya (2006), saya cukup beruntung bisa bolak-balik Kupang-Jakarta karena tugas kantor. Selama di sana, saya sempat ke Pulau Rote dan beberapa daerah lainnya di sekitar Kupang. Yang saya ingat tentang daerah itu adalah sebuah kota dan pulau yang kecil dengan penduduk yang ramah dan mudah tertawa, serta udara yang panas namun berangin.
Ah, sekarang saya ingat kenapa mendadak Kupang dan Rote mampir lagi di ingatan. Pagi ini saya menerima sebuah pesan di inbox Facebook dari seorang teman lama. Isi pesan tersebut singkat, tapi membangkitkan lagi kenangan tentang daerah ini, serta tentang arti teman bagi diri saya.




Di kapal ferry cepat menuju Pulau Rote (9 April 2006).

Perkenalan saya dengan kota Kupang dan Pulau Rote terjadi di tahun 2006, saat ditugaskan kantor untuk menjalankan program outreach klien di sana. Di tahun 2007, saya lagi-lagi dapat kesempatan untuk mengunjungi daerah tersebut, masih dengan penugasan yang tak jauh berbeda dan bertemu orang-orang yang kurang lebih sama juga.
Bedanya, di tahun 2006 saya tiba dengan hati riang gembira dan penuh semangat, sedangkan di tahun 2007 saya mendarat di lapangan terbang El Tari, Kupang, dengan suasana hati yang kurang menyenangkan. Adalah masalah pribadi yang cukup mengganggu saat itu, yang walaupun tak sampai mengganggu pekerjaan, tetap mengurangi kenikmatan jalan-jalan gratisan itu.
Hati dan pikiran yang sumpek memang sedikit terobati dengan beban pekerjaan yang sangat berat dan suguhan pemandangan Pulau Rote yang indah. Tapi yang lebih penting adalah di pulau itu saya mendapatkan teman baru, seorang dokter perempuan yang baru saja tiba dari Jakarta dan akan memenuhi tugas praktek selama kurang lebih setahun.
Sebut saja namanya M. Dia pengantin baru yang harus berpisah dari suaminya karena tuntutan pekerjaan. Wow. Mendengar ceritanya, rasanya masalah saya tak ada artinya. Saya membayangkan menjadi suami M yang harus melepaskan istri yang baru dinikahinya, yang harus bertugas di daerah terpencil. Tak terbayang bagaimana rasanya.
Sebagai dokter yang bertugas di daerah terpencil, M mendapat jatah rumah dinas. Tapi karena rumah tersebut belum siap, ia terpaksa tinggal beberapa malam di hotel tempat saya menginap. Walaupun baru saja kenal, kami langsung merasa cocok berteman. Kami sering menghabiskan waktu ngobrol di ruang makan hotel, dimana saya curhat habis-habisan dan dia mendengarkan sambil sesekali memberikan nasehat. Di siang hari, saat M sedang tak ada kerjaan, dia sering ikut saya dan beberapa teman keliling pulau dengan mobil sewaan. Saya survei tempat, sedangkan dia jalan-jalan gratisan. Hahaha.
Setelah hampir tiga minggu di Kupang dan Rote, terakhir kali saya bertemu dengan M adalah saat kapal ferry cepat yang saya naiki bersama rombongan klien meninggalkan pelabuhan Ba’a, Rote. Program outreach yang saya kerjakan sudah selesai, dan saya harus kembali ke Jakarta. M turut mengantarkan kami sampai ke pelabuhan. Saya tak akan lupa wajahnya saat itu. Masa prakteknya baru saja mulai dan baru akan berakhir setahun lagi. Suaminya mungkin baru bisa mengunjungi di bulan ketiga atau keenam. Bayangkan betapa kesepiannya dia!

Di Pantai Nemberala, Pulau Rote (2 November 2007).

Pantai Bo’a, Pulau Rote.

Matahari terbenam di Pantai Bo’a.


M bermain bersama anak-anak di Pantai Bo’a

Hampir dua tahun berlalu sebelum saya kemudian mendengar kabar darinya lagi. Ia mengirim pesan lewat Facebook, menceritakan bahwa setelah tugasnya di Pulau Rote berakhir ia langsung pulang ke Jakarta. Tapi berita yang membuat saya shock adalah, beberapa waktu lalu suaminya meninggal dunia karena serangan jantung.
Saya hanya bisa membalas pesannya dengan kata-kata menghibur. Tak ada lagi yang bisa saya lakukan. M yang begitu baik dan sabar mendengarkan curhat saya, yang membantu saya mendinginkan pikiran dan menenangkan emosi, yang berhasil mencekoki saya dengan akal sehat dan logika, kini mengalami kedukaan hebat. Dan saya tak bisa datang dan menghiburnya.
Pagi ini, saat saya memeriksa inbox Facebook, ada pesan dari M. Singkat saja. Ia hanya menanyakan apa kabar saya, dan lain-lain. Dalam pesannya yang singkat itu saya bisa melihat betapa kuat ingatannya, karena ia masih ingat cerita-cerita saya dua tahun lalu. Saya balas pesannya, bilang bahwa saya baik-baik saja.
Sekarang saya ingat kenapa kota Kupang dan Pulau Rote begitu berarti bagi saya. Di sana saya belajar tentang artinya persahabatan, tentang teman yang benar-benar siap mendengarkan, namun tak segan untuk menegur saat kita salah langkah atau melenceng pikiran. Dan hari ini saya kembali diingatkan, bahwa sahabat sejati tak akan pernah hilang.

Cerita-cerita lain tentang persahabatan (dari perspektif perempuan) dari blog beberapa teman:
Wanted: Teman Curhat – Salsabeela
Anak Perawan di Sarang Social Geeks
Akhirnya tim Digital di kantor saya punya anggota perempuan. Sejak pertama bergabung kembali di sini, saya menyadari bahwa komposisi tim yang mayoritas laki-laki (ada Mbak Titi, tapi dia saat ini sedang cuti hamil, and she’s like one of the boys too
) membuat kelakuan kami seperti jocks di locker room yang sering kita tonton di film-film remaja keluaran Hollywood. Biasalah, becandaan jorok, ketawa ngakak nggak liat-liat tempat, sulit untuk bisa serius, dan kecenderungan untuk berkelakuan ekstra maskulin.
Saya jadi teringat novel Musashi yang saya baca waktu SD dulu. Di salah satu bagiannya, diceritakan bahwa Musashi (atau Kojiro musuh bebuyutannya, lupa juga) berkunjung ke sebuah perguruan samurai yang cukup terhormat di masa itu. Saat melongok ke dalam salah satu bangsal tempat para samurai (laki-laki semua tentunya) tidur, ia melihat di salah satu dinding tergantung cermin, selendang, dan alat-alat berdandan. Saya kurang ingat juga tepatnya apa, tapi yang jelas benda-benda tersebut adalah barang-barang yang biasa digunakan kaum perempuan.
Waktu Musashi (atau Kojiro?) bertanya kepada samurai yang menemaninya, jawabnya kurang lebih seperti ini, “Tidak baik bagi sekumpulan laki-laki untuk tinggal dan berkegiatan bersama-sama dalam waktu lama, tanpa ada unsur-unsur feminin dalam lingkungan mereka.”
Intinya, para samurai itu diingatkan bahwa ada yang kasar dan ada juga yang lembut, ada yang hitam dan ada yang putih. Segala sesuatu harus seimbang.
Nah, berdasarkan semangat itulah, sejak awal saya sudah mengingatkan kepada Deden dan Nanda bahwa kalau jumlah proyek dan klien yang kami tangani semakin banyak, kami harus menambah anggota baru, yang sebaiknya perempuan. Setelah pencarian yang tak lama-lama amat, kami memutuskan untuk menarik Emie dari divisi Media Monitoring untuk mengisi posisi intern Account Executive.
Welcome Emie! Sabar-sabar ya menghadapi kelakuan social geeks yang kadang-kadang menyebalkan ini!
Luddite turned geek, mirip tukang listrik
- Akibat upload video dan foto dari empat kamera sekaligus
- Kalo pusing kerja, main-main sama mereka
- Enough said













