duniahitam

tentang hidup yang terkekang

Archive for the ‘bungamatahari’ Category

tishani doshi & joko pinurbo: malam puisi, tari, dan terjemahan jeli

with one comment

Malam itu saya terlambat sampai di Goethe Haus. Acara ‘Narrating the Body’ yang menampilkan Tishani Doshi, penyair dari India, dan Joko Pinurbo dijadwalkan mulai pukul 7 malam tepat. Saat itu sudah pukul setengah 8. Setengah jam terlambat. Hal biasa di Jakarta.

Di dalam, ruangan sudah terisi hampir penuh. Kira-kira tiga perempat dari kapasitas tempat duduk. Panitia yang menjaga pintu langsung mengantar saya ke deretan kursi nomor dua dari depan, sebelah kiri panggung. Saya menurut, karena tak ada gunanya celingak-celinguk mencari Anya dan Mikael yang sudah sampai duluan.

Seseorang dari Kedutaan Besar India sedang berpidato di atas panggung. Singkat saja. Kemudian giliran Ayu Utami yang bicara mewakili Dewan Kesenian Jakarta. Saya tak begitu memperhatikan isi pidatonya, karena perhatian saya tertuju pada sosok perempuan yang duduk terpisah dua kursi dari saya, di deretan terdepan. Melihat kesibukan yang terpusat pada dirinya, gampang ditebak bahwa dialah Tishani Doshi, si penyair yang malam ini puisinya akan dibacakan bersama dengan puisi Joko Pinurbo.

Tebakan saya benar. Setelah Ayu Utami selesai berpidato, Debra Yatim yang menjadi moderator tanpa buang-buang waktu langsung mengambil alih acara dan menundang Tishani dan Joko untuk bergabung dengannya di atas panggung. Saya pun langsung pindah tempat duduk ke barisan terdepan, agar dapat mengambil foto yang memadai dengan Nokia 6881 cameraphone yang hanya 1.3 megapixel.

Tema acara malam itu adalah ‘Mengisahkan Tubuh’ atau ‘Narrating the Body’. Kedua penyair tersebut dipilih karena karya-karya mereka dianggap banyak berkisah tentang, atau menggunakan imaji-imaji, tubuh.

Debra memperkenalkan Tishani dan Joko kepada hadirin. Lalu melemparkan satu dua pertanyaan pendek kepada kedua penyair tersebut. Tishani mampir di Jakarta dalam perjalanan ke Bali untuk menghadiri Ubud Writers & Readers Festival. Joko Pinurbo, siapa pecinta puisi di Indonesia yang tak kenal namanya?

Tishani Doshi, Joko Pinurbo, Debra Yatim

Ada dua sesi pembacaan puisi yang diselingi sesi tanya jawab. Selain itu ditampilkan juga tarian tradisional India oleh Pooja Bhatnagar dan seorang muridnya dari The Jawaharlal Nehru Indian Cultural Centre, serta tarian kontemporer dari Mugiyono Kasido.

Puisi-puisi Tishani ditulis dalam bahasa Inggris, dan untuk keperluan acara malam itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Anya Rompas dan Mikael Johani. Puisi-puisi Joko yang dibacakan malam itu seperti ‘Celana’ dan ‘Daerah Terlarang’ juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, tapi saya tak tahu siapa penerjemahnya.

Joko Pinurbo

Tishani Doshi

Cerita lengkap tentang acara ini, plus celetukan-celetukan Joko Pinurbo yang membuat acara mengalir lancar dan tak membosankan, moga-moga dapat segera dibaca di blog Mas Kurnia Effendi.

Di sini saya ingin berbagi hasil terjemahan puisi Tishani, yang dikerjakan oleh Anya Rompas dan Mikael Johani. Menurut Mas Kef, terjemahan mereka sangat baik. Anya dan Mikael akan meluncurkan buku puisi mereka di Ubud, sebagai bagian dari rangkaian acara Ubud Writers & Readers Festival, minggu depan.

THE DAY WE WENT TO THE SEA

By Tishani Doshi

The day we went to the sea
mothers in Madras were mining
the Marina for missing children.
Thatch flew in the sky, prisoners
ran free, houses danced like danger
in the wind. I saw a woman hold
the tattered edge of the world
in her hand, look past the temple
which was still standing, as she was —
miraculously whole in the debris of gaudy
South Indian sun. When she moved
her other hand across her brow,
in a single arcing sweep of grace,
it was as if she alone could alter things,
bring us to the wordless safety of our beds.

WAKTU ITU KITA PERGI KE PANTAI

Karya Tishani Doshi
Diterjemahkan oleh Anya Rompas dan Mikael Johani

Waktu itu kita pergi ke pantai
ibu-ibu di Madras sedang menyisiri
Marina, mencari anak hilang.
Jerami beterbangan di udara, napi-napi
berkeliaran di jalanan, rumah-rumah menari
bagai marabahaya bersembunyi dalam angin.
Aku melihat wanita menggenggam tepi dunia
yang bocel-bocel dalam satu tangannya,
memandang ke balik candi yang masih berdiri,
seperti dirinya, utuh—betapa menakjubkan!—
di antara puing-puing yang menyala di bawah matahari
India Selatan. Kemudian ia menyeka dahi
dengan tangannya yang satu lagi,
sekali, begitu anggun,
dan kelihatannya memang hanya ia
yang mampu mengubah dunia,
membawa kita kembali ke kedamaian kasur-kasur bisu.

Tishani Doshi

WHAT THE BODY KNOWS

By Tishani Doshi

The body dances in a darkened room
turning itself inside out
so that skin can face the light in fractures,
slip like shadow through skeleton walls,
begin to cry — really — to scream
about the tarnished weight of dreams.

This has been a drift after all.
The body returns to its original place,
moves from one to the other — creeps —
tries to flee itself, lone trunk,
searches for remain of bark,
hints of what it used to be.

Perhaps an ocean framed in bone,
a pair of birds in early white,
flying from this dream to the next
fixing the gaps between memory
and reverberation; binding spine
on vein, feather to lesion.
The body collects its wandering parts,
leans back through layers
of thickening water; roots above
boughs beneath, feet caving in to wonder.
It’s how the world reverses itself,
how the distant sky finds the earth.

TUBUH TAHU

Karya Tishani Doshi
Diterjemahkan oleh Anya Rompas dan Mikael Johani

Tubuh itu menari di kamar gelap
meliuk, melekuk
sampai kulitnya mampu menerima cahaya yang pecah,
menyelinap seperti bayangan di antara rangka dinding,
mulai menangis—keras—memekik
tentang mimpi-mimpi berat yang pudar.

Semua ini adalah pengembaraan.
Tubuh itu kembali ke tempat asalnya,
pindah dari sana ke sini—merangkak—
mencoba lari, bagai batang pohon
mencari sisa kulitnya,
petunjuk tentang dirinya yang dulu.

Mungkin ia samudra berpigura tulang,
sepasang burung putih bersih,
terbang dari mimpi satu ke mimpi yang lain
menyumpal celah di antara ingatan
dan getaran; menjahit tulang belakang
dengan pembuluh darah, bulu dengan borok.
Ia memungut organ-organnya yang jatuh,
membaringkan diri ke dalam berlapis-lapis
air yang mengental; akar di atas
dahan di bawah, kaki menyerah ingin tahu.
Beginilah dunia memutar balik,
beginilah langit yang jauh menemukan bumi kembali.

Tishani Doshi

THE DELIVERER

By Tishani Doshi

OUR LADY OF THE LIGHT CONVENT, KERALA

The sister here is telling my mother
how she came to collect children
because they were crippled or dark or girls.

Found naked in the streets,
covered in garbage, stuffed in bags,
abandoned at their doorstep.

One of them was dug up by a dog,
thinking the head barely poking above the ground
was bone or wood, something to chew.

This is the one my mother will bring.

* * *

MILWAUKEE AIRPORT, USA

The parents wait at the gates.
They are American so they know about ceremony
and tradition, about doing things right.

They haven’t seen or touched her yet.
don’t know of her fetish for plucking hair off hands,
or how her mother tried to bury her.

But they are crying.
We couldn’t stop crying, my mother said,
feeling the strangeness of her empty arms.

* * *

This girl grows up on video tapes,
sees how she’s passed from woman
to woman. She returns to twilight corners,

to the day of her birth.
How it happens in some desolate hut
outside village boundaries

where mothers go to squeeze out life,
watch body slither out from body,

feel for penis or no penis,
toss the baby to the heap of others,

trudge home to lie down for their men again.

KURIR

Karya Tishani Doshi
Diterjemahkan oleh Anya Rompas dan Mikael Johani

BIARA BUNDA YANG MENYINARI, KERALA

Suster di sini sedang memberi tahu ibuku
ia memungut anak-anak
yang cacat, berkulit gelap, atau perempuan.

Yang ditemukan telanjang di jalanan,
tertimbun sampah, dibungkus dalam karung,
ditinggalkan di depan pintu.

Salah satu dari mereka digali seekor anjing,
yang mengira kepala yang menyembul sedikit di atas tanah
sepotong tulang atau kayu, sesuatu untuk dikunyah.

Anak inilah yang akan dibawa pergi ibuku.

***

BANDARA MILWAUKEE, USA

Orang tuanya menunggu di gerbang.
Mereka orang Amerika jadi mereka tahu tentang upacara
dan tradisi, tentang mengikuti aturan.

Mereka belum pernah melihat maupun menyentuhnya,
tidak tahu kegemarannya mencabut bulu-bulu tangan,
atau bahwa ibunya pernah mencoba menguburnya hidup-hidup.

Tapi mereka menangis.
Kami tidak bisa berhenti menangis, kata ibuku,
sambil merasakan betapa aneh tangannya yang kosong.

***

Anak ini dibesarkan oleh kaset video,
menyaksikan bagaimana ia dipindahkan dari tangan perempuan satu
ke tangan perempuan lain. Kemudian ia kembali ke sudut-sudut senja

ke hari kelahirannya.
Yang terjadi di gubuk reot
di luar batas desa

tempat ibu-ibu membuang kehidupan
menonton tubuh keluar dari tubuhnya,

meraba-raba: berpeniskah atau tak berpeniskah?
melemparkan bayinya ke gundukan bayi-bayi lain

kemudian berjalan gontai pulang untuk ditiduri laki-laki mereka lagi.

HOMECOMING

By Tishani Doshi

I forgot how Madras loves noise —
loves neighbours and pregnant women
and Gods and babies

and Brahmins who rise
like fire hymns to sear the air
with habitual earthquakes.

How funeral processions clatter
down streets with drums and rose-petals,
dancing death into deafness.

How vendors and cats make noises
of love on bedroom walls and alleyways
of night, operatic and dark.

How cars in reverse sing Jingle Bells
and scooters have larynxes of lorries.
How even colour can never be quiet.

How fisherwomen in screaming red —
with skirts and incandescent third eyes
and bangles like rasping planets

and Tamil women on their morning walks
in saris and jasmine and trainers
can shred the day and all its skinny silences.

I forgot how a man dying under the body
of a tattered boat could ask for promises;
how they could be as soundless as the sea

on a wounded day, altering the ground
of the earth as simply as the sun filtering through —
the monsoon rain dividing everything.

MUDIK

Karya Tishani Doshi
Diterjemahkan oleh Anya Rompas dan Mikael Johani

Aku lupa Madras begitu cinta bising—
begitu cinta tetangga dan perempuan hamil
juga Tuhan-tuhan dan bayi-bayi

dan para Brahmin yang bangkit
seperti lagu untuk api yang memanggang udara
dengan gempa bumi setiap kali.

Aku lupa pengantar jenazah selalu berisik
memukul dram dan menyebar mawar sepanjang jalan
menari-nari dan membuat tuli kematian.

Aku lupa pedagang kaki lima dan kucing-kucing menyebarkan suara
percintaan pada tembok kamar tidur dan gang-gang
malam, mirip opera dan gelap gulita.

Aku lupa mobil atrèt menyanyi Jingle Bells
dan skuter-skuter bertenggorokan lori.
Aku lupa warna pun tak bisa diam.

Aku lupa nelayan perempuan berbaju merah menyala—
memakai rok dan mata ketiga yang berpendar-pendar
dan gelang seperti planet-planet kasar

dan perempuan Tamil jalan-jalan pagi
berseragam sari dan bunga melati dan sepatu kets—
mampu mencabik hari dan kesunyian yang tipis.

Aku lupa laki-laki yang sekarat di bawah
perahu rusak pun masih menagih janji;
Aku pun lupa semuanya bisa bisu bagai laut

pada hari yang terluka, mengubah permukaan bumi
segampang matahari menembus
hujan muson yang mencerai-beraikan semuanya.

TURNING INTO MEN AGAIN

By Tishani Doshi

This morning men are returning to the world,
waiting on the sides of blackened pavements
for a rickshaw to carry them away
on the sharp pins and soles of their dancing feet.

They must go to the houses of their childhoods
to be soothed. They must wait for the wheels
to appear from the thin arm of road.
They must catch the crack in the sky

where the light shifts from light to dark
to light again, like the body in the first stages of love;
angering, heightening, spreading:
bent knees, bent breath.

Now they are moving, changing colours.
Women are standing at the thresholds of doors
holding jars of oil, buckets of hot water and salt,
calamine, crushed mint and drink.

Some crawl into their mother’s laps,
collapse against the heavy bosoms of old nannies,
search for the girl who climbed with them
to the tin roof for the first time.

Inside, in the shadows of pillars,
fathers and grandfathers are stepping down
from picture frames with secrets on their lips,
calling the lost in from their voyages.

KEMBALI JADI LAKI-LAKI

Karya Tishani Doshi
Diterjemahkan oleh Anya Rompas dan Mikael Johani

Pagi ini laki-laki kembali ke dunia mereka lagi
menunggu di tepi trotoar hitam
menanti becak membawa mereka pergi
di atas jari-jari roda yang menari-nari.

Mereka ingin mudik ke rumah masa kecil mereka
supaya hati mereka tenang. Mereka harus menunggu
roda-roda muncul dari lengan jalan yang ramping.
Mereka harus menangkap retak di langit

Yang menyimpan cahaya terang yang kemudian berubah gelap
kemudian terang kembali, seperti tubuh saat jatuh cinta;
membikin marah, menegang, menyebar ke semua arah:
menekuk lutut, menekuk napas.

Mereka mulai bergerak, berubah warna.
Wanita berjejeran di depan pintu rumah
menenteng botol minyak wangi, ember penuh air garam panas
salep kalamin, daun mint gerus, dan minuman.

Sebagian laki-laki tadi merangkak kembali ke pangkuan ibu mereka,
tenggelam dalam payudara gemuk pengasuh mereka,
lari mencari gadis yang dulu menemani
memanjat atap seng untuk pertama kali.

Di dalam, di bawah bayang pilar-pilar,
ayah dan kakek turun
dari pigura dengan rahasia membayang di bibir
memanggil anak-anak hilang kembali ke rumah.

http://blackuniverse.multiply.com/journal/item/372/tishani_doshi_joko_pinurbo_malam_puisi_tari_dan_terjemahan_jeli

Written by Waraney Rawung

12 October 2008 at 6:01 PM

resiko jadi penerbit buku puisi dan berteman penyair narsis

with 2 comments

Akhirnya saat itu datang juga. Saat saya bisa menekan tombol save & publish di halaman multiply saya, serta menekan post di milis-milis, untuk tulisan yang sangat istimewa bagi saya.

Setelah sekian lama berupaya, kemarin siang dengan bangga saya bisa umumkan kepada publik bahwa irisPUSTAKA akan menerbitkan dan meluncurkan dua buku perdananya. Yang pertama karya Anya, ‘Kota Ini Kembang Api‘, dan yang kedua karya Mikael, ‘We Are Nowhere and It’s Wow‘.

Memang, baru sampai pada tahap mengumumkan. Jualan kecap dululah. Maklum, dulu kerja jadi humas.

Cukup panjang juga perjalanan irisPUSTAKA sebelum bisa sampai ke tahap ini. Saya ingat sekitar dua tahun lalu, tak lama setelah ramai-ramai peluncuran buku Antologi Puisi BungaMatahari mulai mereda, dan setelah rentetan wawancara dengan media dan acara-acara yang harus kami ikuti dan adakan selesai, suatu malam Anya dan Festi mengajak saya ketemu dan bicara.

Saya lupa tanggal berapa dan di kafe apa. Mungkin di Tornado Coffee Wolter Monginsidi, atau di Miko Coffee Sarinah Thamrin. Yang jelas, malam itu kedua perempuan ini menawarkan saya untuk bergabung dalam usaha penerbitan kecil-kecilan yang akan mereka buat.

Kelakuan saya yang cukup pelacur dan tak tahu malu saat mempromosikan Antologi BuMa (promosi yang sukses karena masuk Kompas dan beberapa media massa lainnya), rupanya dianggap mereka sebagai sesuatu yang dibutuhkan penerbit yang masih bayi ini. Jadilah saya didaulat sebagai pelaksana promosi dan social networking.

Kami pun mulai sering menghabiskan malam-malam begadang untuk memperjelas konsep penerbitan ini. Saya pun mendorong Anya untuk rajin menghadiri acara-acara sastra dan budaya yang diadakan di Jakarta. Lumayan buat networking dan menimba ilmu. Kadang-kadang dia kami temani, lebih sering lagi pergi sendiri.

Tak semua rencana berjalan lancar. Kesibukan kerja yang sering membuat saya terbuang ke pelosok-pelosok negeri, ditambah dengan kegiatan Festi dan Anya yang juga padat, membuat jadwal kerja kami molor sampai berbulan-bulan, bahkan setahun lebih. Untung kami dapat bantuan dari Ade, yang rela diminta membantu proses editing saat segalanya sudah setengah jalan.

Sampai saat ini, selain Anya dan Mikael, irisPUSTAKA sedang menyiapkan buku-buku karya Olivia, Ulil, dan Edo.

Luka dan Rieke juga telah memberikan karya mereka kepada saya untuk dibaca. Moga-moga bisa diurus secepatnya.

Malam ini saya harus kirim email lagi ke panitia UWRF. Anya tadi menelepon dan bilang bahwa Mikael kurang suka dengan blurb tentang bukunya yang tercantum di jadwal acara UWRF. Katanya membuat dia terkesan seperti lulusan TUK! Hahaha. Bingung juga saya, harus bilang apa ke orang UWRF agar blurb itu diganti.

Mikael ingin supaya blurb untuk dia bunyinya seperti ini:

we are nowhere and it’s wow is mikael johani’s first poetry collection. it’s divided into three sections, home, home part deux, away, and we are nowhere and it’s wow. because he likes being coy. home is away, away is home, part deux is part un, nowhere is somewhere etc. includes such orientalist pesudo-political poems as away with wiji thukul I-VIII as well as apathetic occidentalist ones like esthétique du mall. i need ten more words for this short blurb. blurb.

Talk about nowhere. Totally wow.

Inilah resikonya membuat penerbitan dan berurusan dengan penyair narsis.  God help me.

Written by Waraney Rawung

19 September 2008 at 11:23 AM

IrisPUSTAKA: Peluncuran buku Gratiagusti Chananya Rompas & Mikael Johani

without comments

irisPUSTAKA mengundang semua pecinta puisi untuk meramaikan acara peluncuran buku ‘Kota Ini Kembang Api’ karya Gratiagusti Chananya Rompas, dan ‘We Are Nowhere and It’s Wow’ karya Mikael Johani, yang akan diadakan di:

Tempat : Gaya Fusion, Jl. Raya Sayan, Ubud, Bali
Hari : Jumat, 17 Oktober, 2008
Jam : 18.00 – 19.00 WITA

Peluncuran kedua buku ini akan diisi dengan pemutaran video puisi, pembacaan puisi oleh para penulis, dan sesi baca puisi spontan bagi hadirin.

Acara ini adalah bagian dari rangkaian Ubud Writers & Readers Festival, 14-19 Oktober, 2008.

Informasi terbaru, lebih lengkap dan mendalam tentang perjalanan kedua penulis dan buku mereka, mulai dari sesi lay out, cetak, sampai acara peluncuran, dapat dibaca di:

http://kotainikembangapi.wordpress.com/
http://wearenowhereanditswow.wordpress.com/

Anya bisa diajak kenalan dan ngobrol di:

http://gratiagustichananya.wordpress.com/
http://violet.multiply.com/
http://profile.to/violet
http://friendfeed.com/violeteye
http://gcrompas.stumbleupon.com/

Mikael bisa diajak diskusi dan ketawa-ketawa di:

http://thetruthaboutjakarta.multiply.com/
http://twitter.com/oomslokop
http://oomslokop.stumbleupon.com

Pesan bukunya dari jauh-jauh hari agar tak kehabisan! Klik saja:

http://irispustaka.wordpress.com/shop/

Untuk informasi lebih lengkap, gosip terbaru dan jumpa fans kecil-kecilan, hubungi:

Waraney Herald Rawung

0816 116 3015
irisindonesia@gmail.com
http://irispustaka.wordpress.com/
http://blackuniverse.multiply.com/

Ubud Writers & Readers Festival, serta lokasi acara dapat dilihat di: http://www.ubudwritersfestival.com/

Written by Waraney Rawung

19 September 2008 at 10:09 AM

BungaMatahari: KebunKata KebunRaya Bogor, 30 Agustus 2008

with one comment

seorang kawan pernah mengajak saya pesta LSD
dia bilang, enak lho, apalagi sambil berpuisi
apalagi sambil tidur-tiduran piknik hahaha hihihi

saya tanya, pikniknya dimana?
di Kebun Raya Bogor, kata dia
rasanya seperti apa?
seperti naik pesawat ruang angkasa!

sampai saat ini saya belum mengiyakan ajakannya.
mungkin karena takut halusinasi gila-gilaan
bisa juga takut digandeng polisi dan masup bui.
atau, ngeri diculik hantu-hantu penghuni pohon-pohon tua.

akhir minggu ini, hari sabtu 30 agustus 2008
tak perlu LSD, tak usah bawa segala yang kimiawi
mari kita mabuk kata-kata menghirup udara non-Jakarta
dalam acara KebunKata di Bogor punya Kebun Raya!

kumpul di crackhouse buma & irispustaka
perumnas tanah abang, blok 1 lantai 3 nomor 4
sabtu, 30 agustus 2008, jam 9 pagi
atau langsung meluncur sendiri
ke kebun yang selalu raya

naik apa? naik kereta atau naik mobil sendiri pun tak apa!
(yang kasih saya tebengan akan dianggap saudara)

ketemu dimana? di depan kolam depan cafe dedaunan!
(yang depresi silakan nyemplung duluan)

sampai jam berapa? sampai suara serak dan kantong cekak!
(bawa bekal piknik sendiri ya, kan sudah dewasa)

lagi-lagi, siapkan pakaian santai
kumpulkan puisi-puisi cincai
beli kacamata cengdem di melawai
lagi-lagi, semua bisa berpuisi!

sampai jumpa di kebunkata!

ney
-yang sedang malas nulis iklan bagus2-

Written by Waraney Rawung

26 August 2008 at 8:01 AM

BungaMatahari @Koran Seputar Indonesia, Minggu, 27 April, 2008

with one comment

Penyair Dunia Maya

Minggu, 27/04/2008

‘‘SEMUA bisa berpuisi’’,itulah tagline dari komunitas BungaMatahari.Siapa pun yang suka berpuisi bisa curhat lewat milis itu, termasuk Anda.

BungaMatahari (BuMa) adalah komunitas puisi berbasis mailing list (milis) yang dibentuk pada 19 April 2000 oleh Gratiagusti Chananya Rompas (Anya).

Anggota sekaligus moderator, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan TukangKebun.Penggagas milis ini adalah Danar Pramesti. Pada awalnya, milis BuMa merupakan ajang tukar-menukar puisi bagi kedua perempuan ini. Di kampus Universitas Indonesia,Anya dan Danar bertemu dan mulai nongkrong bareng.

“Awalnya, namanya anak kuliah,pengen main. Kebetulan pada suka nulis puisi,kita mikir seru banget, nongkrong sambil bikin puisi,” tutur Anya saat berbincang dengan SINDO, di Tornado Coffee. Dari dua menjadi banyak. Mereka ‘’menggalang’’ massa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik juga Fakultas Sastra UI.

Anehnya, para sastrawan muda di fakultas sastra sempat menolak gabung.Namun, perlahan-lahan milis Bungamatahari mulai dikunjungi dan memiliki member dalam jumlah signifikan. “Terlebih pas awal launching buku ‘Antologi Bunga Matahari’. Kita sempat kebanjiran request member.Tapi belakangan ini mulai stabil,”ujar Ney,seorang TukangKebun.

Dalam delapan tahun perjalanan BuMa, mereka telah memiliki sekitar 1600 member dalam mailing list BuMa,dan sebuah buku antologi puisi. Perkembangan BuMa yang termasuk cepat memerlukan sejumlah moderator andal. Sebut saja tukang kebun lain,yaitu Nurman Priatna, Pugar Restu Julian,Aloysius Widyosuwasto, Lovelli Ariesti, Yoshi Febriyanto, Festi Noverini, dan Waraney Herald Rawung.

Nama BungaMatahari dipilih berdasarkan sejumlah alasan. Pertama-tama,kebanyakan orang masih memandang puisi sebagai sesuatu yang melankolis cenderung tragis cenderung menye-menye, paling tidak pada saat milisini dibuat. Keinginan untuk membongkar pandangan semacam inilah yang mendorong pendiri untuk mengedepankan gambaran bunga matahari yang cerah, ceria, namun pada saat yang bersamaan masih memiliki sisi puitis.

‘’Semua Bisa Berpuisi’’, Mikael Johani seorang moderator BuMa, yang menyebut dirinya penyair, kerap mendapati sinisme akan ungkapan tersebut.Tidak sedikit penyair atau sastrawan angkatan lebih tua mengkritisi karya mereka. Semua bisa berpuisi banyak dikritik.Menurut mereka, enggak semua orang dapat berpuisi. Tapi kalau BuMa asyik-asyik aja.

“Generasi baru sastra yang belum diakui tidak mencari pemberkatan atau restu dari mereka. Kita di sini untuk berbagi,”ujar Mikael. “Dan kita tidak berminat untuk digurui,”tambah Anya. Sederhananya, semua orang dapat bergabung dalam milisBuMa dan berpuisi.Tidak terlalu peduli akan tema, struktur, karena semua dikembalikan pada kedewasaan masing-masing anggota.Pada prinsipnya, seseorang bisa bertutur lewat puisi, mengasah kepekaan mereka,dan berani berpuisi lewat milis.

Keanekaragaman tema membuat para moderatornya ‘’kewalahan’’.Beberapa puisi yang mengandung unsur Sara dipersilakan menempati ruang dalam milis.Lalu di mana letak sensor? “Tidak ada.Kita mengembalikan pada pembaca untuk menginterpretasi puisi itu,”tutur Anya.

Jikalau ada perdebatan, hendaknya tidak menjadi api pemicu permasalahan lebih besar. Sosok-sosok sastrawan mudainimemilikikedewasaandan kebijakan dalam menyikapi ekspresi rekan-rekan mereka. Saat ini (masih) berkembang dalam lingkup dunia maya.

“Bagi kami dunia maya adalah nyata,”ujar Mikael seraya tersenyum. Ya, berbasis internet Bu- Ma menyalurkan cita rasa sastra semua kalangan yang mencintai kata-kata.Para moderatornya pun jeli melihat perkembangan internet dengan segala layanannya.Tidak sekadar milis,tapi juga memaksimalkan layanan yang ada untuk menjaga eksistensi BuMa.

“Kita pernah bikin acara baca puisi bersama, dan direkam lalu dimasukkan ke dalam YouTube,”jelas Ney. Atau Lahirnya The Toilet dan Kwaci untuk mengakomodasikan hujanan kata dari para anggotanya.The Toilet berisikan puisi dalam bahasa inggris, sementara Kwaci adalah milis untuk menampung cerita pendek. Perlu diingat bahwa di BuMa,hanya puisi berbahasa Indonesia yang diterima.

Dan sampai saat ini BuMa telah memiliki puluhan ribu puisi yang 180 di antaranya sudah dibukukan dalam Antologi Puisi Bunga Mataharidi tahun 2006. Melihat perkembangan BuMa kini, baik Anya maupun Danar tidak akan menyangka bisa jadi sebesar ini.

“Tidak menyangka sama sekali. Kalau sekarang ngobrolsama Danar suka lucu aja. Dulu kita paling cuma iseng. Awalnya, pengen semangat nongkrong lebih gede dari berpuisi,” ungkap Anya seraya tertawa.

Antara Maya dan Nyata

SELAIN aktif di dunia maya, komunitas Bunga Matahari memiliki serangkaian acara di dunia nyata. Di antaranya Kebun kata, Rumah kata, Bengkel kata, dan BuMa untuk semua.

KebunKata adalah acara pembacaan puisi yang terbuka bagi siapa saja – anggota BuMa atau bukan. Walaupun menawarkan konsep pembacaan puisi yang santai dan spontan, acara ini biasanya mengangkat sebuah tema untuk dieksplorasi oleh pengunjungnya. Di dalam acara ini beberapa kali dilakukan kegiatan MainKata.

Di sini para pengunjung dapat bekerja sama menuliskan sebuah atau beberapa puisi. RumahKata adalah sebuah acara berkonsep pameran yang menampilkan karya-karya eksplorasi dari literatur yang dipadukan dengan kesenian-kesenian lain. Pameran selalu dibuka dengan sejumlah pertunjukan yang sedapat mungkin juga mengusung semangat kolaborasi, baik antara dua atau lebih bentuk kesenian yang berbeda maupun dua atau lebih penampil.

Acara ini diselenggarakan secara berkala oleh Komunitas BungaMatahari (BuMa) dan mengangkat tema berbeda setiap kalinya. Sedangkan Bengkel kata adalah kegiatan yang bersifat pelatihan dan memberikan kemampuan atau pengetahuan tambahan mengenai puisi,bentuk-bentuk karya sastra yang lain,juga hal-hal lain di luar itu yang berhubungan dengan kehidupan berkomunitas di BuMa.

Beberapa kali BuMa mengundang sastrawan senior untuk berbagi, bukan sekadar menggurui. Karena pada dasarnya tiap orang memiliki cita rasa dan kekhasan dalam menulis puisi. Kiprah BuMa untuk Semua memungkinkan kerja sama dengan komunitas atau lembaga yang bergerak di dalam bidang literasi maupun nonliterasi untuk mengadakan kegiatan berpuisi atau literasi atau kesenian secara umum atau kegiatan dengan tujuan- tujuan sosial.

Langkah Maksimal

DAPAT dikatakan, sekumpulan sastrawan muda dalam komunitas BuMa bukanlah orang-orang yang ambisius. Meski ada banyak kesempatan untuk maju, mereka memilih mengambil langkah-langkah kecil, tapi maksimal.

Sukses dengan buku Antologi Bunga Matahari, mereka belum berencana merilis sekuel atau tetraloginya. “Mengalir aja. Rasanya belum ideal, dari waktu dan tenaga belum memungkinkan,” tutur Anya.

Dahulu, pembuatan buku antologi membutuhkan dedikasi penuh dari penggagasnya. Ada sekitar 5000 puisi pertama di milis yang disaring untuk masuk buku. “Editing kita termasuk tidak repot, tapi membutuhkan keseriusan,” jelas Anya. Puisi dari tahun 2000 sampai 2005 diambil ‘’Top 180-nya’’, dan dibuatkan buku. Jika menggunakan perhitungan seperti itu, untuk Antologi part II, paling tidak dibutuhkan puisi ke 5001- 10.000 puisi.

Namun, tidak semudah perkara angka saja. Tidak ada target khusus, semua menjalani hidup dan napas berpuisi dengan wajar. Anya dan Edo Walla mempersiapkan buku mereka, sementara anggota lain berpuisi dari blog ke blog. “Dari kita semua, buku Anya dan Edo paling siap maju ke penerbit,” dukung Ney. Dunia maya atau jaringan internet adalah kenyataan bagi anak-anak muda ini.

Mereka paham betul soal ‘’dramatisasi’’ dunia maya, apa yang sedang atau akan berjaya. Selain milis, BuMa memiliki ‘jendela-jendela’ di situs sosial lain seperti YouTube, Facebook, Friendster. “Selalu ada yang baru. Dan kita tidak membatasi hanya pada satu medium,” terang Mikael.

Bagi mereka, puisi dan internet sudah menjadi bagian dari kehidupan. Sastra dunia maya adalah hal yang menarik. BuMa ingin terus menyemangati dan mewadahi minat dan bakat menulis puisi juga merangsang keberanian dan keasyikan membaca puisi di semua kalangan.

Sementara itu, lewat puisi, BuMajuga ingin ikut melestarikan dan mengembangkan penggunaan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, BuMa telah dan terus mencari kesempatan untuk mengadakan kegiatankegiatan berpuisi yang menyenangkan serta menjalin kerja sama dengan komunitas-komunitas lain, baik yang bergerak dalam bidang sastra maupun tidak, untuk semakin mengakrabkan puisi dengan masyarakat. (yohana yuliatri)

Written by Waraney Rawung

28 April 2008 at 3:47 AM

Posted in bungamatahari, sastra

Tagged with