duniahitam

tentang hidup yang terkekang

Archive for the ‘bungamatahari’ Category

Marshanda, Markentong, dan Marji’ah

with 10 comments

Marshanda sedang jadi topik pembicaraan seru di Twitter (dan social media sites lainnya) beberapa hari ini, walaupun belum sampai jadi trending topics. Aktris dan penyanyi muda ini bikin heboh gara-gara video di YouTube, dimana ia menyanyi, lompat-lompat, menari-nari, dan ketawa-ketawa sendiri sambil meledek beberapa teman sekolahnya dulu.

Picture 5

Sekarang video itu sudah tak ada lagi di account Marshanda. Namun kita masih bisa menonton copy-nya di sini (UPDATE: maaf temans, linknya saya hapus. Setuju sama Pitra. Kasihan sama pemiliknya. Kalau mau cari, Google aje!). Namanya juga dunia online, sekali masuk susah keluar (seperti cerita seram jaman dulu, tentang pasangan yang bercinta di kuburan…hehehe, ngelantur!).

Komentar-komentar yang berhamburan di halaman account YouTube Marshanda dan account si pelaku reposting, serta di Twitter search, umumnya kejam-kejam. Ia dituduh mabok, stress, kesurupan, sampai cari sensasi. Seorang teman bahkan sempat menyangka bahwa video tersebut adalah bagian dari strategi viral marketing untuk mempromosikan sinetron terbaru aktris ini.

Marshanda di Twitter search

Saya sendiri menganggap video tersebut lucu-lucu aja. Memang orangnya juga lucu. Hehehe. But really, she’s just acting like a teenager. Bukannya mau pukul rata bahwa remaja pada umumnya memang clueless begitu, tapi kalau dipikir-pikir, kehebohan ini muncul hanya karena pelakunya punya status selebriti. Coba yang bikin video macam itu teman kita atau a nobody seperti saya. Paling-paling yang nonton cekikikan sebentar, lalu share di Twitter dan Facebook supaya bisa ketawa rame-rame.

Selain video yang bikin heboh itu, ada video-video lain yang agaknya di-upload Marshanda selama kurun waktu yang kurang lebih sama (satu minggu). Semuanya menampilkan dirinya sedang menyanyi dan bergaya macam-macam. Ada yang solo, ada juga yang trio dengan beberapa teman. Bukan sesuatu yang luar biasa juga, dan sama sekali bukan sesuatu yang pantas mendapatkan komentar negatif dan caci maki. Semua video ini sudah dihapus, dan yang tertinggal hanya tiga video ’standar.’

Buat saya, tak ada yang salah dengan kelakuan Marshanda joget-joget dan nyanyi-nyanyi fals di depan umum. Yang jadi masalah cuma statusnya sebagai selebriti. Tapi mungkin tak ada salahnya dia pikir-pikir dulu sebelum posting. Karena seperti yang dibilang Pitra, bisa-bisa dia dituntut oleh teman-temannya yang diledek di video itu.

Lain kali Marshanda harus konsultasi dulu ke teman saya, Yoshi Febrianto, yang jago bikin video lucu. Belum lama ini seri video “Tulisanmu Puisiku” buatannya (yang katanya sudah diedit) menjadi salah satu video yang ditampilkan di festival OK Video “Comedy”. Kalau tak salah, seri video ini aslinya dibuat dadakan (dengan sang istri sebagai pemanggul kamera) saat kesal menunggu anak-anak BungaMatahari yang datang ngaret ke Kebun Raya Bogor untuk acara KebunKata “KebunRaya.”

Marshanda (dan saya juga!) bisa belajar banyak dari Yoshi soal kreativitas.

Sekarang coba lihat video “Response to Marshanda Nangis 3: Markentong dan Marji’ah Nangis”. Saya dan beberapa teman terpingkal-pingkal saat menontonnya. Waktu saya pertama menontonnya, hanya ada ratusan views, dan sekarang sudah mencapai lebih dari 4000 views. Efek word of mouth di dunia online memang mantap!

Viral effect macam ini habis-habisan diidamkan online marketers dan public relations consultants. Banyak yang mengejarnya, hanya sedikit yang berhasil mencapainya. Resepnya memang susah-susah gampang. Buat content yang sederhana tapi menarik, yang bisa membuat orang nonton berkali-kali dan mendorong kita menyebarkan link-nya kemana-mana. As simple as that, but easier said than done.

Response to Marshanda Nangis 3: Markentong dan Marji'ah Nangis

Baca juga:

Marshanda Pecas Ndahe – Ndoro Kakung

Marshanda di YouTube? – Media Ide

Would you date this Marshanda girl? – unspun

Good Girls Go Bad – Insomniac Lolita

Jaemanis Rosemary Johani, Selamat Datang di Taman Bermain Kami

without comments

Mike's Plurk page for Jaemanis

Twitter search untuk #jaemanis

Jaemanis Rosemary Johani

Selamat datang di dunia yang semakin mengecil ini

Kami tak sempat buatkan kartu ucapan

Beli di mall, nanti terkesan pasaran

Lebih baik kamu pandangi saja jejak-jejak digital oom, tante, papa, dan mama

Moga-moga saat kau sudah cukup besar untuk berselancar di dunia maya

Taman bermain kami (yang tak henti menolak tua),

Bukan lemari tua bersarang laba-laba di matamu.

Written by Waraney Rawung

20 May 2009 at 3:18 PM

BungaMatahari & CCF Jakarta: Lomba Puisi “Mari tertawa / En Rire(s)” Bulan Puisi / Printemps des poètes 2009

without comments

Rayakan bulan puisi dengan tawa dan pantomim !

saat kita main petak umpet
di taman bunga bermekaran
kota yang tak pernah ramah
tiba-tiba tersenyum cerah

sebelum hahaha hihihi hilang
dari buku catatan alam
ayo berdansa ceria
di dunia margasatwa!

mari tertawa,
sekerasnya!
lompat,
setinggi-tingginya!
berpuisi,
sepuasnya!

karena kita percaya,
semua bisa berpuisi
semua bisa berpantomim
ayo,
rayakan bulan puisi!

Syarat peserta :
o Usia 8 – 12 tahun (Murid SD kelas 2 – 6)
o Bersedia tampil bersama Le Mime Bizot pada acara PDP 2009 di Taman Menteng pada hari
Sabtu, 14 Maret 2009 pk.19.00 jika puisinya terpilih
o Bersedia hadir dalam latihan bersama Le Mime Bizot pada minggu pertama bulan Maret 2009

Cara pengiriman :
o Puisi ditulis di atas 1 halaman A4 dengan font Times New Roman ukuran 12, spasi ganda, dalam bahasa Indonesia atau bahasa Prancis
o Kirim data diri pengirim : nama pengirim / usia / nama sekolah / nama orang tua / alamat & no telp rumah / no hp orang tua / email orang tua
o Paling lambat diterima olah panitia pada hari Sabtu,21 Februari 2009
o Dikirimkan via email : info@ccfjakarta.or.id dan bungamatahari-owner@yahoogroups.com
fax : 390 85 86 dengan judul [PDP 2009]
pos : PDP 2009 – CCF Jakarta Jl. Salemba Raya No.25 Jakarta 10440 dengan judul [PDP 2009]

Informasi lebih lanjut :
o CCF Jakarta : Tel 390 85 85 / 390 85 80 / info@ccfjakarta.or.id / http://www.ccfjakarta.or.id/id
o BungaMatahari :
Mikael Johani (Tel 0856 755 2747/ mikaeljohani@yahoo.com )
Waraney Rawung (Tel 0816 116 3015 / neyspeaking@yahoo.com )
• http://bungamatahari.multiply.com

CCF Jakarta akan merayakan edisi ke-11 dari Printemps des poètes / Bulan Puisi, yang bertema “En Rire(s) / Mari tertawa” pada 2-15 Maret 2009. Le Printemps des Poètes atau Bulan Puisi pertama kali diadakan tahun 1999 untuk merayakan puisi dalam segala bentuknya. Acara ini mempertemukan jutaan penyair dan pembaca dari seluruh dunia yang bersatu dalam keindahan kata-kata. Baik kata-kata yang dibaca, dinyanyikan, ditulis atau dideklamasikan. Tahun ini, semua teks Bulan Puisi di seluruh dunia akan menggunakan satu tema, yaitu « En Rires/ Mari Tertawa ».

CCF Jakarta bekerja sama dengan BungaMatahari untuk memperkenalkan puisi kepada anak-anak dengan cara yang berbeda dan menyenangkan. Untuk itu, CCF Jakarta mengundang semua anak-anak usia 8 sampai 12 tahun untuk mengirimkan puisi-puisi mereka yang bertema « Mari tertawa » dalam bahasa Indonesia atau bahasa Prancis. Puisi para pemenang akan ditampilkan dalam bentuk pantomim oleh Le Mime Bizot, dalam acara « Pertunjukan Pantomisasi Puisi », pada Sabtu 14 Maret 2009 di Taman Menteng, Jakarta Pusat.

BungaMatahari
BungaMatahari (BuMa) adalah komunitas bagi siapa saja yang mencintai puisi dan ingin berbagi dalam suasana bebas dan bersahabat. Dengan semangat ’semua bisa berpuisi’, BuMa mempromosikan puisi kepada masyarakat luas sambil bereksperimen dengan cara-cara segar untuk menjelajahi dan menikmati puisi. Pertama muncul pada 19 April 2000, BuMa yang berbasis mailing list (milis) aktif mengadakan dan berpartisipasi dalam berbagai acara di ruang publik. Awal tahun 2006, BuMa menerbitkan Antologi BungaMatahari. Sejak tahun 2007, sebagai bagian dari perayaan Bulan Puisi, CCF Jakarta dan BuMa menyelenggarakan acara pembacaan puisi di ruang publik: « Banjir Puisi » di stasiun kereta api Gambir dan « Kejutan Puitis di Bioskop » di Blitz Megaplex Grand Indonesia.

Le Mime Bizot
Philippe Bizot pertama kali jatuh cinta kepada pantomin ketika berusia delapan tahun. Tahun 2003 meraih penghargaan tertinggi di Puerto Montt World Theatre Festival di Chili Le Mime Bizot telah berkeliling dunia, dari Perancis sampai Pakistan dan Bolivia, untuk memperkenalkan pantomim dan tampil di hadapan jutaan orang dewasa dan anak-anak. Ia memberikan kursus pantomim kepada kaum tunadaksa dan para penderita infantile autism. Datang ke Jakarta di bulan November 2008, Januari & Maret 2009 untuk memberikan pelatihan pantomim yang diadakan CCF Jakarta, untuk 600 peserta muda dan anak-anak di SLB Tunarungu Santi Rama, komunitas anak-anak jalanan Diakoneia Modern College (KDM), dan seniman-seniman profesional.

Acara ini terselenggara berkat dukungan dari :
Pemda DKI Jakarta
Dinas Kebudayaan & Pariwisata
Dinas Pertamanan
Walikota Jakarta Pusat
94.3 FM Jkt Women Radioflyer-printemps-des-poetes

Written by Waraney Rawung

5 February 2009 at 7:05 AM

BungaMatahari: KebunKata ‘Kota’

with one comment

tak sepuluh menit dari mas dan mansyur
selepas kebon kacang raya yang simpang syur
ada nirwana di balik gerbang
nusantara yang tak kenal petang

penjaganya mungkin adik, kakak, atau bapakmu
relakan mereka mengintip lubang celanamu
(siapa tahu hati berdebu mesiu dan dinamit)
amit-amit.

di ruang tamu bhineka tunggal ika
penelope menanti dengan senyum abadinya
katakan, “dia menunggumu di pojok soho!”
sampai dia mengedipkan matanya, “mango!”

aku menunggumu di bawah kaki-kaki rel kereta
tertidur dibuai rekaman suara roda-roda
peluit masinis yang tak kunjung tiba
udara menipis, cuaca mafia

lampu-lampu kuning meringis
pohon yang tak pernah mati
aku berkaca di buah ceri
dipeluk zara.

Merayakan November yang basah bergairah, BungaMatahari mengundang teman-teman untuk meramaikan KebunKata ‘Kota’, hari Minggu, 16 November, pukul 14.00-18.00, di Café au Lait, Jalan Cikini Raya sekian sekian, Jakarta Pusat.

Hujan yang seksi dan aspal yang honey akan menemani kita dalam perjalanan menuju sesi pemujaan diri, yang dijamin akan membuat semua pecah, bagai cinta yang baru kenal ekstasi.

Kopi sinis dan teman-teman manis siap mengelus punggung yang lelah didera dongeng parlemen.

Gratis puisi dan orgasme hati.

Bayar sendiri-sendiri tapi berteman sampai mati.

Written by Waraney Rawung

10 November 2008 at 5:40 PM

Posted in bungamatahari, sastra

Tagged with ,

cerita dari ubud: kembang api di galeri yang tak sepi oh wow!

without comments

mikael's books & postcard invitations

Gaya Fusion ternyata lebih besar dari yang kami bayangkan. Selama ini kami hanya pernah melihat foto-foto tempat ini melalui website-nya, sebuah restoran romantis, intim, dan kecil, dengan cahaya remang-remang. Kami pikir tempat sekecil itu pasti hanya bisa memuat penonton dalam jumlah terbatas. Bagus, karena semakin sedikit yang datang, semakin mudah mengendalikan acara. Kami memang terbiasa dengan acara-acara kecil yang akrab.

Sore itu, Jumat, 17 Oktober 2008, saat berdiri di depan galeri yang luas, saya, Mikael, dan Anya langsung panik. Rasanya tak mungkin mengisi ruangan ini dengan penonton, karena pada saat bersamaan ada beberapa acara menarik lainnya yang sedang berlangsung. Sebagian besar peserta Ubud Writers & Readers Festival pasti sedang di penginapan, bersiap-siap meramaikan Poetry Slam di Restoran Bebek Bengil pukul 19:00 malam itu.

Walaupun terbiasa dengan kelompok yang kecil dan akrab, bukan berarti kami ingin tampil dalam ruang besar kosong melompong, bukan?

Oleh karena itu, sejak tiba di Ubud hari Selasa, 14 Oktober lalu, saya sudah melakukan promosi habis-habisan. Antara lain dengan membagikan postcard undangan kepada para penulis, asing maupun lokal, yang menurut perkiraan saya akan tertarik datang. Saya juga minta bantuan teman-teman volunteer untuk sebanyak-banyaknya membagikan postcard itu kepada para peserta festival.

Di dalam galeri yang serba putih dan bergema, beberapa jam sebelum acara, saya tak yakin kalau segala upaya itu akan membuahkan hasil. Tapi karena kami sudah terlanjur di sini, sekalian saja bersenang-senang dan jadikan acara ini seperti KebunKata BungaMatahari!

Kota Ini Kembang Api

Siang itu, saya menemui Anya dan Mikael di rumah makan Ibu Oka yang terkenal dengan menu babi gulingnya. Mereka tiba dari Jakarta pagi hari dan baru beristirahat beberapa jam saja. Setelah mandi dan ganti baju di Donald Homestay, sekitar pukul 4 sore kami mencari mobil sewaan di Pasar Ubud. Karena waktunya sudah mepet, saya tak bisa terlalu ngotot menawar harga dan harus cukup puas dengan ongkos Rp70 ribu untuk sekali jalan ke Gaya Fusion.

Dalam perjalanan, ongkos yang sebelumnya terasa mahal, jadi masuk akal saat kami menyadari betapa jauhnya Gaya Fusion dari pusat keramaian di Ubud. Saya mulai kuatir. Apa mungkin ada orang yang mau jauh-jauh datang ke sana?

Di Gaya Fusion, kami ternganga melihat sebuah galeri besar berlangit-langit tinggi dan dinding-dinding putih yang digantungi lukisan-lukisan kontemporer. Di tengah ruangan ada panggung kecil bertabur bunga kamboja, tepat di antara jendela kaca tinggi dan pojok untuk musisi. Sebuah proyektor in-focus putih siap dipakai di depan deretan kursi hitam yang tampak kecil dikepung suasana serba putih.

Sambil berusaha menekan rasa panik dan stress, kami bersiap-siap. Mikael berkutat dengan MacBookPro dan proyektor in-focus, Anya menata buku-buku yang akan dijual, sedangkan saya memberikan pengarahan terakhir kepada Ayu, sang MC. Setelah itu kami masih harus direpotkan dengan film pendek yang akan diputar nanti.

Jarum jam menunjukkan pukul 17:30, penonton mulai berdatangan. Kaget juga saya melihat banyak yang datang lebih awal. Debra Yatim dan putrinya Zulaikha, Olin Monteiro, Danny Yatim, serta rombongan orkes Al-Izhar dalam hitungan detik meramaikan ruangan yang tadinya sepi itu. Ada juga penyair Timor Leste Abe Soares, Pam Allen, John McGlynn, penulis Ayu Utami, dan lain-lain.

Kursi-kursi mulai terisi, MC sudah bersiap membuka acara, tapi saya masih berkutat dengan laptop Mikael. Putus asa tak berhasil mengutak-atik power point, saya cari dia. Ternyata dia sedang ngobrol dengan orang tua Henry, temannya di Australia dulu. Saya hampiri dan setelah basa-basi sebentar langsung menyeret penyair mestizo itu untuk mengajari saya cara mengoperasikan laptopnya.

Tepat pukul 18:00, acara dimulai. Ayu membacakan sambutan standar UWRF dalam bahasa Inggris, kemudian mengundang saya untuk memperkenalkan irisPUSTAKA. Ayu agak kepeleset lidah, menyebut saya ‘she’, bukannya ‘he’ dan mengundang tawa dari hadirin. Bukannya kesal, saya malah bersyukur, karena suasana sejak awal sudah santai.

the publisher speaks, horribly.

Saya tak bicara panjang-panjang. Hanya bercerita bahwa satu setengah tahun yang lalu Anya dan Festi Noverini mengajak saya ikut dalam usaha penerbitan yang kemudian kami namakan irisPUSTAKA. Kami ingin membuka jalan bagi penulis muda yang punya potensi dan mengolah tema-tema tak biasa atau menggunakan ekspresi kreatif yang berbeda. Selesai perkenalan singkat itu, saya langsung mengajak hadirin untuk menyaksikan film pendek berjudul ‘puis-je.’

Film ini menampilkan Anya, ‘not as herself,’ dan Mikael, juga ‘not as himself,’ membacakan puisi e e cummings melalui dialog dan akting amatir. Sekilas mereka terlihat seperti muda-mudi yang sedang beradu jurus cinta.

the movie starts.

Karena film ini dibuat terburu-buru, suara yang dihasilkan kurang bagus, membuat sebagian hadirin mengernyitkan kening berusaha menangkap apa yang dikatakan kedua penyair tersebut di dalam film. Untung saja Mikael tanpa malu telah memasang terjemahan semena-mena yang cukup menghibur.

Film selesai diputar, Anya langsung membacakan puisi ‘The God of Small Things’ dan ‘PendarPendarCahayaMenyelinapRuangMata.’ Terjemahan kedua puisi ini ditampilkan dengan cantik melalui power point.

Film selesai diputar, Anya langsung membacakan puisi ‘The God of Small Things’ dan ‘PendarPendarCahayaMenyelinapRuangMata.’ Terjemahan kedua puisi ini ditampilkan dengan cantik melalui power point.

Setelah itu, giliran Mikael membacakan `Australia Fair’, `À la recherche du temps perdu (edition Scott Moncrieff et Kilmartin, vols. 1-7)’, dan `Hermès, get a move on’. Semua puisi itu diterjemahkan dari
bahasa Inggris ke bahasa Indonesia oleh holiday_sendiri. ‘Hermes, get a move on’ aslinya berjudul ‘Aku titip tulisan’ puisi Anggoro Gunawan dalam bahasa Jawa yang kemudian diterjemahkan oleh Mikael ke dalam bahasa Inggris jadi ‘Hermes get a move on’ yang kemudian diterjemahkan lagi ke bahasa Indonesia oleh holiday_sendiri.

The God of Small Things*

sebuah Sore yang Sureal. ketika Sinar Matahari jatuh seperti selendang tembus pandang—mengingatkanku akan Lipstik dan Cat Kuku Fuchsia Ibuku. Es Krim Stroberi. Rok Tutu. dan Ciumanmu, tentunya. Ciuman mesra pada bibir dan pipiku. Basah tetapi Manis seperti Permen.

aku merindukanmu. rasanya seperti ada Balon Ulangtahun. membengkak perlahan di dalam dada. Sensasinya nyaris tak tergambarkan: seperti sebuah Harapan limbung—aku terbelah di antara Kesenangan karena si Balon hampir sempurna dan Kewaspadaan akan kemungkinan Balon itu pecah sebelum benar-benar mengembang.

sebuah Perasaan yang Tidak Nyaman sebenarnya. seakan-akan dunia dan mekanisme alamnya dapat mendengar pikiranmu: berkonspirasi untuk menentukan apa yang akan terjadi padamu berikut. membuatmu tak berdaya seperti Bulu yang melayang-layang.

tapi Yang Paling Tak Tertahankan adalah mengetahui bahwa tak seorang pun, terlebih-lebih kamu, mengetahui semua Kekacauan yang terjadi di Benakku, semua Mantra Aku-Cinta-Kamu yang sambung-menyambung di dalam Kepala.

aku membayangkan apakah kamu pernah seperti ini. aku bahkan membayangkan apakah ada secuil Kemungkinan dirimu pernah memiliki Pemikiran yang Sama Terhadapku. ah, padahal aku tahu itu hanyalah Fantasi Kacangan.

aku pun menyerah. kuhapus semua Angan. kuhapus kamu. kukunci dari Saraf-Saraf Otakku.

aku menyalakan tivi.

Program Berita.

di luar, semesta menjadi gelap. dan menjadi Nyata.

PendarPendarCahayaMenyelinapRuangMata

PendarPendarCahayaMenyelinapRuangMata

MengantarCeritaLamaYangTakPernahUsang

KotaIniKembangApi

KembangnyaPecahDiPucukLangit

SekejapSaja

—BegituKatanya

anya reads the god of small things.

Australia fair
The thought runs through my head of sawing your head in half: the bone will be ivory white and your blood grape red. You look down, open your mouth wide and ululate, up, to the purple sky. The pills of orange cloud hang low. The pale cream beach shakes with each wave of your hand. You ask me to go, your face black from constant disappointment.

À la recherche du temps perdu (edition Scott Moncrieff et Kilmartin, vols. 1-7)

I bought these when I still had time to read

where the sky was so blue I could write

my name on it with my good hand while the other

shield my eyes from the sun, so white, perfect.

mikael reads australia fair.

Dalam rundown acara, sesi selanjutnya adalah untuk tanya-jawab. Tapi kami tak ingin waktu setengah jam lebih yang tersisa hanya terpakai untuk pertanyaan-pertanyaan garing dan jawaban-jawaban non-inspiring (ah, lagi-lagi saya mengejar rima). Karena itu saya segera menyambar mikrofon yang dipegang Ayu, tanpa malu mengambil tugas MC, dan mengumumkan bahwa kami mengundang para penonton untuk tampil ke depan dan membacakan puisi Anya dan Mikael. Atau kalau mereka mau, boleh juga membacakan puisi karya sendiri. Lima buku Anya dan lima buku Mikael kami sediakan gratis untuk mereka yang berani maju ke depan.

Zulaikha, putri penyair Debra Yatim, langsung maju ke depan dan membacakan dua buah puisi Mikael. Buku gratis untukmu, Zu! Selesai putrinya membaca, giliran Debra yang langsung maju membacakan sebagian daftar isi buku Mikael sebagai sebuah puisi. Kemudian Ayu Utami dengan ‘Penismightierthanwords’ karya Mikael.

Penismightierthanwords
i picked up the pen with clouds of ideas in my head. the pen was my talisman, a thing I used to divine the meaning of the clouds. the ink was blue, which, under the yellow light of my table lamp, was only a little lighter than black, the colour of the clouds.

Sambil menunggu Ayu selesai, saya lihat Abe Soares sudah siap tampil dengan gitarnya. Tak perlu dipanggil dua kali, Abe maju ke depan dan menyanyikan puisi karyanya sendiri. Indah sekali. Abe selesai, seorang anggota orkes Al-Izhar maju ke depan membaca puisi karya sendiri yang dicatatnya dalam handphone.

Sesuai dengan semangat BungaMatahari yang percaya semua bisa berpuisi, saya terus mengajak hadirin untuk maju ke depan dan berpuisi. Saya jelaskan bahwa pendiri irisPUSTAKA, yang berasal dari milis puisi berbahasa Indonesia BungaMatahari, percaya puisi adalah hidup sehari-hari yang tak perlu ditakuti.

Penonton makin banyak, sebagian besar agaknya mereka yang ingin menonton orkes Al-Izhar dan peluncuran buku L.A. Underlover yang dijadwalkan setelah acara kami selesai. Kami mencuri penonton rupanya. Tak apa, yang penting ramai dan buku terjual banyak.

Sambil menunggu penonton yang akan maju, saya iseng membaca puisi Mikael yang berjudul ‘The Beggar.’ Malam terasa semakin panas, dan Mikael tampil sekali lagi, kali ini membacakan puisi Anya ‘Mabuk Lampu.’

mabuk lampu

sinarlamputemaramkuning

lampukuningsinartemaram

temaramsinarkuninglampu

kuningtemaramlampusinar

sinartemaramlampukuning

lampusinarkuningtemaram

temaramkuningsinarlampu

kuninglamputemaramsinar

Di tengah-tengah penonton yang berkumpul di tangga dekat pintu masuk, saya lihat penyair Iyut Fitra dan Dino Umahuk. Saya panggil Dino ke depan untuk ikut meramaikan acara yang menjelang usai, dan dia menyambutnya dengan membaca sebuah puisi dari buku Anya. Hadiah buku untukmu, Dino!

Waktu satu jam yang tadinya terasa panjang sekali, tiba-tiba sudah hampir habis. Saya belum sempat mengundang Iyut Fitra untuk tampil ke depan, namun sudah harus menutup acara. Sayang sekali.

Acara ditutup Anya dengan membacakan puisi Mikael yang berjudul ‘Djaelani the baker.’

Djaelani the baker
I’m Djaelani, the baker. I see people come and go. I serve people with the sweet smell of sex in their hair. I watch them count rainbows of money and pay. I see them hold hands and pick a donut (chocolate glazed) and a sausage roll with a thong held together like a wedding cake knife. I’ve seen a man eat his breakfast alone, hurriedly like a pigeon, on my counter table. I’ve seen him come back at nine-thirty in the evening—closing time, and buy nothing. Not this time. I’m Djaelani, the baker. I see people come and go. And I stay.

Foto-foto acara bisa dilihat di sini.

Catatan:

Kemarin saya menghubungi Abe Soares, minta dikirimkan puisi yang dinyanyikannya dalam acara ini. Ini dia puisinya:

AKU SAKSIKAN BAYANGANKU SENDIRI

Ramelau*),
aku mampir ke kolammu
yang sejuk bening

Di tepinya aku saksikan bayanganku sendiri
telanjang, menyambutku
lalu ia tuturkan kepadaku
tentang kisah benih serabutku
yang berliku-liku

1990-an

*) Gunung tertinggi di Timor-Leste.

Abe Soares

Written by Waraney Rawung

23 October 2008 at 10:07 AM