Catatan Nyelip: BungaMatahari & Bandung Lautan Kata, Bagian 2
Menyambut ulang tahun Komunitas Puisi BungaMatahari ke-12 tanggal 19 April 2012 yang akan datang, saya akan mempublikasikan tulisan-tulisan lama tentang BuMa, sebagian darinya sudah lama tersimpan di folder komputer tercinta. Mereka sebenarnya diniatkan untuk terbit tak lama setelah acara-acara yang dibahasnya. Yang menyebabkan mereka lama hilang tak lain tak bukan adalah kemalasan, kecerobohan, dan kebodohan saya sendiri.
Ini adalah bagian kedua dari cerita perjalanan para penggiat BungaMatahari di Jakarta ke Bandung, dalam rangka promosi Antologi BungaMatahari, dan KebunKata Bandung Lautan Kata. Pernah saya publikasikan di blog lama. Agar lebih enak dibaca, saya edit sedikit dan terbitkan dalam beberapa bagian.
NgamenKata, Sabtu, 29 April, 2006
Sore itu cuaca mendung dan menjelang malam hujan pun turun. Di teras kamar nomor 5 Nivell, Citra, Ririen, Herman, Yusak, Firman, dan Maya menyiapkan kotak-kotak sumbangan yang akan digunakan di acara NgamenKata. Mereka juga sibuk memotong-motong flyers KebunKata dan Sepeda Untuk Sekolah yang akan dibagi-bagikan di sepanjang Jalan Dago. Sementara itu saya, Esti, dan Anya sudah sejak pukul 6 sore tumbang kecapaian dan tidur tanpa mempedulikan nyamuk yang merubung. Jorgy lagi-lagi pergi berburu kaset, kali ini ditemani Yoshi.
Pukul 7.30 hujan berhenti, dan baru setelah jam 8 kami berangkat naik angkot menuju sasaran. Pertama-tama mampir dulu ke CCF menemui teman-teman Avatar yang sedang buka stand di acara Les Voilà April Edition. Walaupun ingin sekali menyaksikan penampilan Goodnight Electric, Sore, Tika, dan lain-lain dalam acara tersebut, rencana NgamenKata harus terlaksana. Dari CCF kami bergerak ke arah perempatan Kimia Farma. Di sana, setelah membagi diri menjadi dua kelompok, NgamenKata pun dimulai!
Kelompok pertama terdiri atas saya, Citra, Maya, dan Herman. Sedangkan di kelompok kedua ada Anya, Nivell, Yusak, Eno, dan Jorgy. Belakangan, Eko dan Yoshi bergabung dengan kelompok Anya. Baru lima menit berjalan, saya langsung menyadari bahwa situasi di Jalan Dago malam itu sangat tidak mendukung untuk menjalankan rencana kami, apalagi kami bukan pengamen professional yang ditempa oleh bertahun-tahun menghadapi ramainya pejalan kaki dan bisingnya kendaraan bermotor.
Awalnya kelompok saya lebih banyak menemukan kedai-kedai pinggir jalan yang masih kosong. Saya menebak bahwa pukul 9 masih tergolong pagi untuk anak-anak Bandung yang akan menghabiskan waktu di kawasan itu. Setelah berjalan beberapa menit kami pun menemukan warung tenda pertama yang ramai pengunjungnya. Saya segera mengambil posisi yang moga-moga strategis dan mulai memberikan kata pengantar tentang program ini, bahwa kami BungaMatahari bersama dengan Mapala UI, sedang mencari dana untuk program Sepeda Untuk Sekolah, dan seterusnya. Selesai mengucapkan kata pengantar tersebut suara saya sudah mulai serak. Astaga. Seandainya saya pernah ikut teater pasti tidak muncul masalah seperti ini. Maya kemudian menggantikan tempat saya dan mulai membacakan salah satu puisi dari Antologi. Selesai pembacaan puisi, kami langsung mengedarkan kotak sumbangan, lalu pamit dan pergi. Kegiatan yang tampaknya sederhana ini ternyata tidak semudah yang dipikirkan sebelumnya. Terutama karena tingkat kebisingan lalu-lintas yang sangat mengganggu konsentrasi.
Di warung tenda yang kedua, kali ini saya yang membaca puisi. Puisi yang saya bacakan juga berasal dari dari Antologi, tapi lebih pendek dari yang dibacakan Maya. Sengaja dan curang memang. Maya ngamuk-ngamuk begitu tahu. Hehehehehe. Ajaibnya, puisi pendek itu ternyata menghasilkan sumbangan yang lumayan juga. Wah, anak Bandung sangat murah hati rupanya. Walaupun kehadiran kami pasti mengganggu, sebagian besar orang yang kami temui selalu menampilkan raut wajah yang ramah dihiasi senyum maklum, yang sudah tentu melegakan sekali bagi pengamen-pengamen amatiran ini.
Kembali berjalan dan membagi-bagikan flyers. Di depan KFC Superindo, kami baru sadar bahwa flyers di tangan kami sudah hampir habis. Terpaksa menelepon teman-teman yang lain. Yusak yang dihubungi tak mengangkat handphone-nya. Hanya Yoshi yang menjawab telepon saya dan langsung menyusul kami. Rupanya mereka cukup jauh tertinggal di belakang, karena di bagian mereka ada banyak sekali warung-warung tenda yang ramai pengunjung. Akhirnya saya memutuskan kelompok kami sebaiknya bergabung dengan kelompok Yoshi. Beramai-ramai kami menyusuri Jalan Dago yang semakin padat dan bising.
Tidak semua tongkrongan di jalan itu kami hampiri. Dunkin Donuts yang dipenuhi anggota-anggota klub pengemudi motor besar misalnya, kami lewati begitu saja. Kata Jorgy, “Enggak deh, ntar kita diapa-apain lagi.” Hahahaha…
Jam baru menunjukkan pukul 10 malam ketika akhirnya kami tiba lagi di depan KFC Superindo. Semua sudah letih dan lapar sehingga Anya akhirnya memutuskan untuk menutup NgamenKata dan segera makan malam. Setelah perut kenyang, nyawa berkumpul dan mata terang, kami pun pulang ke Puri Tomat. Tiba di hotel bernama lucu itu sekitar pukul 11 malam, dan tanpa mengacuhkan Eko yang lagi-lagi mencoba meracuni saya untuk begadang, saya pun segera terkapar dengan sukses!
Curhat Dipercepat & Rayuan Kelinci (Minggu, 30 April 2006)
Minggu, 30 April 2006, pukul 1 dini hari, saya dibangunkan oleh Anya. Pingkan, Adde, Icha, Ai dan Bayu baru tiba dari Jakarta. Diiringi sayup-sayup obrolan mereka di teras luar, saya pun kembali terlelap. Pukul 5 terbangun lagi dan ngobrol sebentar, lalu tidur lagi. Saya baru benar-benar terbangun sekitar pukul 9 pagi.
Pagi menjelang siang itu pun akhirnya dihabiskan dengan ngobrol-ngobrol dengan rombongan yang baru datang semalam. Seperti biasa, agak-agak sulit buat kami untuk bisa segera bersiap-siap dan check out dari hotel. Apalagi ada Eko, yang lagi-lagi sulit dibangunkan dari tidurnya. Sekitar pukul 1 siang kami berangkat ke Potluck dalam dua kelompok terpisah. Sebagian, termasuk saya, ikut mobil Pingkan bersama perlengkapan acara, sedangkan sisanya naik angkot.
Sampai di Potluck kami langsung bertemu dengan teman-teman dari Jakarta yang sudah tiba lebih dulu. Ada Donni, Sam, Rien, Jack, Widi, Kinu, Indah (anggota BuMa dari Surabaya), dan Niken. Tak lama kemudian, Mas Yo datang bersama suami-istri penyair Bambang dan Lintang Sugianto, disusul Festi, Ulil, Santi, Isky, dan Danar. Saya senang sekali Danar bisa datang. Salah satu pemrakarsa BuMa ini biasanya sibuk dengan jadwal latihan dan manggung band-nya sehingga tidak bisa sering-sering datang ke acara BuMa.
Sebelum acara dimulai, kami mendapat kejutan menyenangkan. Pelukis Herry Dim dan istrinya menyempatkan datang ke acara kami dan bertemu dengan anggota-anggota BuMa. Saya memang berkali-kali berusaha mengundang beliau, baik melalui sms maupun menelepon langsung. Namun selalu mendapat jawaban bahwa beliau sedang sibuk melukis. Kehadirannya siang itu tentu saja sangat membesarkan hati kami. Sambil ngobrol-ngobrol ringan, beliau gantian mengundang kami untuk datang ke acara yang akan diadakannya akhir bulan Mei di Jakarta.
- All photos by Dita Ramadhani, @whalerider
Acara KebunKata Bandung Lautan Kata dimulai pukul 3.30, dibuka oleh penampilan Yaz dan Upay dari band Alone at Last yang membawakan versi akustik dari lagu-lagu mereka yang berjudul ‘Jiwa’ dan ‘Amarah, Senyum dan Air Mata’. Kemudian Mbak Lintang tampil membawakan ‘Titip Salam Cinta Untuk Bunda, Tuhan’, karya pepsigolda a.k.a Festi Noverini yang juga termuat di Antologi.
Penampil berikutnya, Sophan A, membacakan ‘Mari Berhitung’ karya Thanding sari, ‘Aku Mencintaimu Diam-diam’ dari Arwan Maulana, dan ‘Jomblo Itu Pedih, Jenderal’ karya Randurini.
Selesai pembacaan puisi dari Sophan, Yaz dan Upay kembali tampil, membawakan dua lagu, dan langsung disambung oleh Mas Bambang Sugianto dengan puisi berjudul ‘Kamira’ dari Mas Yo a.k.a blue4gie, dan ‘Tuan Malaikat…’ karya Mbak Lintang, kemudian ditutup dengan ‘Obituary Penyair’ karya TS Pinang.
Penampil ‘resmi’ terakhir yang tercantum di flyers adalah Widzar al-Ghifary, atau sireum hideung, yang membacakan ‘Dermaga’ karya Cecil Mariani.
Usainya pembacaan ‘Dermaga’ Cecil Mariani oleh Widzar menandai dibukanya sesi berikut dari acara KebunKata ini, yaitu sesi pembacaan puisi spontan. Seperti biasa, walaupun anggota yang ingin membaca puisi diminta untuk mengisi ‘daftar penampil’, hanya sedikit yang melakukan hal tersebut. Antara lain karena suasana yang semakin seru dan panas oleh kata-kata yang beterbangan di udara membuat semua yang hadir seolah kesurupan oleh arwah-arwah narsis, yang mendorong semuanya berebutan maju ke depan untuk membacakan puisinya. Berikut daftar (tidak lengkap) dari penampil hari itu dan karya yang dibacakannya (yang sayangnya tidak semua tercatat):
1. Lukman Gunawan, (anggota BuMa yang tinggal di Bandung, datang dengan sekaleng penuh puisi dan foto-foto kenangan, membuka sesi curhat yang biasanya baru dimulai menjelang tengah malam)
2. Jorgy Ibrahim, ‘Preferensi’
3. Tiara, membacakan lirik-lirik lagu Alone at Last, ‘Amarah, Senyum, dan Air Mata’
4. Widzar, ‘Jalan Sunyi’ karya Emha Ainun Nadjib
5. Sam, ‘Tubuhmu Seperti Toilet Umum’ karya Andri VB
6. Isky, “Aku Lebih Suka’ karya Lintang Sugianto, dan ‘Berita Playboy Tiada Henti’ karya Oom Leo
7. Ariekotama, ‘Kamu dan Tomat’ karya sendiri
8. Ney, ‘Tanpa Judul’ karya cryalgesia
9. Festi, ‘Abang’, karya Lintang Sugianto
10. Anya, ‘Pembunuh’, karya sendiri
pembunuh
petikan gitarmu
berputar-putar
di udara dan di dalam kepala
menggaung tak berujung
menghisap potongan-potongan adegan sebuah kisah nyata; dari dalam ingatan
ke depan mata
memaksaku
untuk merasa
lagi
dan mati
7lc, 19maret2005
11. Danar, ‘(tidak tercatat)’
12. Mas Yo, ‘Apa Kabarmu, Nak’ karya sendiri
13. Firman, ‘Para Penyair Adalah Pertapa Agung’ karya Wiji Thukul
14. Yusak, ‘(tidak tercatat)’
15. Rahma, ‘(tidak tercatat)’
16. Ney, ‘Hangus’ karya Firman
17. Tisha, ‘Niwatakawaca’ karya sendiri
18. Maya Meliviyanti, ‘Satu Siang Dengan Wanita Tua’ karya sendiri
satu siang bersama wanita tua
makan bukan dengan tangan kanan
seperti yang biasa dia lakukan
tertawa malu ketika kecap dia salah sebut menyeracap
bercerita tentang indahnya jogja masa lugu
hera mengapa ia masih mengingat melihat tentara terluka
dan lupa sebutanku
sejenak aku pun lupa akan sakitku
19. Yoshi, ‘Pelet’ karya suaradarilangit, dan ‘Menggenggam Dunia’ karya Tika
20. Dita, ‘tanpa judul’
Aku tak tahan
Tak mampu menahan-nahan
Kamu cantik
Kamu menarik
Kamu menawan
Aku ditawan
Oleh senyuman di balik gincu
Belahan dadamu yang bersemu
Lalu rok minimu
Aduh mati aku!
Tapi biarlah, aku terus maju
Toh denganmu hanya 5 ribu
21. Adde, ‘Sapi Perah 1998’ karya sendiri
22. Ulil, ‘Kalau Aku Ketemu Kamu’ karya sendiri
23. Nirasha, ‘Lebah di Musim Semi’ karya sendiri
24. Jorgy, ‘Puisi Ngarang…’ karya sendiri
25. Eko, ‘Sebuah Puisi Dari Penjaga Counter di Potluck Bandung’
26. Adde, ‘(tidak tercatat)’
27. Eno, ‘(tidak tercatat)’
28. Danar, ‘Raymond’
29. Lukman, ‘(tidak tercatat)’
Seingat saya di titik ini acara sudah mulai tidak jelas, di depan saya ada yang selonjoran di sofa panjang, di pojok sana terlihat beberapa kelinci tanpa malu-malu melancarkan jurus merayu a la Chairil Anwar kepada kenalan baru, sebagian sibuk membereskan peralatan acara, karena rupanya KebunKata ‘Lautan Kata’ sudah resmi selesai. Ah senangnya. Sukses juga niat kami menambah teman baru dan wawasan seru.
Selanjutnya, beramai-ramai berfoto, tertawa-tawa, meneruskan cari makanan, dan berlanjut ke tongkrongan lainnya. Saya memilih memisahkan diri dari rombongan karena ada acara yang lebih menyenangkan: pulang duluan dan makan malam dengan pacar!








Seru! Ini kurang foto barengannya Ney *teteppengeneksis* :p
Maya Melivyanti
February 17, 2012 at 3:19 PM
Gue nggak punya foto yang rame2
Waraney Rawung
February 17, 2012 at 5:54 PM