Archive for March 2008
BungaMatahari & Sastra Suka-Suka: Tuhkan Ada Hal-Hal Yang Belum Selesai!
Menyambut jeritan perang dan erangan erotis jiwa-jiwa penasaran yang gentayangan sepulang dari diskusi ‘Menilik Sastra Maya’ di Teater Utan Kayu tanggal 12 Maret 2008 lalu, Komunitas BungaMatahari akan mengadakan acara BengkelKata bertema “Sastra Suka-Suka: Tuhkan Ada Hal-Hal Yang Belum Selesai!”
Internet dan segala teknologi yang menyertainya adalah lahan yang super nikmat untuk menggali ide, menciptakan karya, memanipulasi imaji, dan memperluas diri. Oleh karena itu, dalam acara ini diharapkan hantu-hantu yang hadir bisa berbagi jurus bersenang-senang di dunia maya dan menyebar ilmu tentang arena bermain terbaru (Ning? Flock?) dan kuburan yang harus dihindari (Friendster?).
Sesuai dengan kredo ‘Semua Bisa Berpuisi’ yang erat digenggam oleh penggagas dan moderator BungaMatahari, ucapan cukimai dan ngentot pun bisa jadi elemen puisi yang merdu di telinga lezat di lidah dan indah di kornea mata. Di acara ini para hadirin juga bisa ngobrol suka-suka tentang sastra, sesuai dengan definisi masing-masing, dan kalau bosan bisa dansa poco-poco, jumpalitan menggoda waitress, atau duduk diam merenggut di pojok berlagak sastrawan. Sah-sah saja. Selama tidak ngutang dan menyusahkan penyelenggara acara.
Waktu dan tempat sedang dipertimbangkan. Maklum, BungaMatahari berulang tahun di bulan April, dan salah satu acara suka-suka yang direncanakan adalah jalan-jalan ke Yogyakarta bertemu teman-teman maya. Jadi, apabila kesibukan metropolis dan hedonis tak menunda, “Sastra Suka-Suka” akan diadakan di minggu pertama atau kedua April, 2008, di kafe yang punya fasilitas wi-fi dan menyediakan kopi yang sedap, di selatan atau pusat Jakarta.
Siapkan saja laptop, desktop, doorstop, PDA, mesin tik, mesin jahit, kalkulator, sipoa, golok pembunuh naga, pedang langit, dan semua gadget milik Anda. Barangkali berguna nanti di acara ini. Yang belum punya, masih ada waktu beberapa minggu untuk pinjam, beli , atau kredit dulu.
Siapa yang akan jadi pembicara? Semua yang merasa punya suara!
Karena bersastra di dunia maya adalah soal kebebasan.
Karena semua orang bisa, dan bebas, berpuisi!
Merdeka!
Saat Semua Orang Jadi Turis
Beberapa teman sudah mulai bersiap-siap menghabiskan akhir minggu kelewat panjang bulan ini (tanggal 7-9 dan 20-23). Bali agaknya jadi tempat pilihan utama. Tak terlalu jauh, relatif murah, dengan kenikmatan berlibur maksimal.
Memikirkan liburan di Bali memang tindakan yang kurang baik saat sedang dikejar-kejar deadline. Rasa malas dan ingin memberontak hanya sebagian dari campur aduk pikiran yang timbul, terutama saat membayangkan sore-sore begini enaknya duduk-duduk di salah satu kafe yang berjejer di Monkey Forest Road, Ubud.
Terakhir saya ke Bali, ya waktu jadi relawan acara Ubud Writers and Readers Festival tahun lalu. Tahun ini rencananya datang lagi, walaupun kapok jadi relawan dan hanya ingin jadi peserta saja.
Sambil mupeng mikirin Bali, iseng-iseng blogwalking. Lalu baca blog teman yang tinggal di Bali. Dia belum lama pindah ke sana, dan itu pun karena tuntutan pekerjaan.
Dia sering kesal karena walaupun bukan turis, tapi sering disangka turis dan selalu dipanggil-panggil oleh mas-mas yang menyewakan motor. Siapa pun yang pernah ke Bali pasti pernah mengalami hal ini. Tak mengganggu, hanya kadang-kadang mengherankan. Semua orang dipukul rata jadi turis. Tak peduli muka sama Melayu kulit sama gelap, kalau bukan Malaysia pasti Taiwan atau Thailand.
Seperti yang beberapa kali terjadi pada saya. Lagi enak-enak jalan di pantai Seminyak, tiba-tiba disapa oleh seorang bapak dengan bahasa Cina. Saat melihat saya cuma bisa bengong tanpa menjawab, sapaan berubah jadi logat Melayu. Bingung menjawab, saya hanya cengengesan dan berlalu.
Rupanya di sini semua orang memang dianggap turis. Tak heran liburan di sini menyenangkan.
Belakangan terpikir juga, dengan sedemikian banyak kompetitor, berapa penghasilan para pemilik penyewaan motor itu ya? Sedemikian banyaknya penjual ini-itu, pemilik usaha ini-itu. Di musim-musim sepi turis, apa mereka lalu alih usaha?
Capek ngobrol soal ‘motorcycle’, saya dan teman tadi akhirnya berbalas puisi. Lumayan untuk menghilangkan suntuk.
Kembali ke proposal, Ney!
Stop
Kurang tidur lagi. Semalam begadang lagi. Bikin dokumen jualan buat klien lagi.
Suntuk nggak bisa mikir, coba rileks dengan nonton Home of the Brave. Astaga, ini film jelek sekali! Baru setengah jalan tombol ’stop’ sudah beraksi.
Sampai di kantor pagi-pagi sekali, jam 7.30 sudah duduk manis di depan komputer. Kirim dokumen hasil begadang ke klien, dan tak lama kemudian …kring…kring…Halo Ney, sorry meetingnya batal.
Hmm. Bersyukur juga, karena pagi ini ngantuk bener.
Lupakan dokumen jualan, alihkan perhatian pada indomie supersehat di depan mata!
Karena ada lebih banyak lagi proposal menanti di depan mata!
Chris McCandless: Mati Yang Berumur Panjang
Semalam habis nonton ‘Into The Wild’. Awalnya hanya untuk selingan menghilangkan suntuk begadang (terpaksa, ada tugas kantor yang harus dibawa pulang), ujung-ujungnya jadi suntuk beneran teringat rencana bertualang yang tertunda.
Into The Wild bercerita tentang Christopher McCandless yang meninggalkan kenyamanan rumah, keluarga kelas menengah dan masa depan cerahnya. Ia menukar semuanya dengan perjalanan berat nan panjang dan maut di ujung jalan. Mati di usia muda (24 tahun) di Stampede Trail, Alaska, setelah lebih dari seratus hari seorang diri hidup di alam bebas.
Semua atas nama idealisme. Akibat usia muda yang serba bertanya dan gelisah cari jawaban.
Sesampai di kantor pagi ini, langsung saya buat reviewnya di blog yang satu lagi. Tak lama kemudian, seorang teman berkomentar, mempertanyakan keputusan McCandless yang ‘bodoh’ dan berujung kematian.
Setelah melacak dengan Google, ketemu beberapa artikel tentang McCandless. Ada artikel simpatik dari Jon Krakauer (yang bukunya jadi dasar cerita film), ada juga yang kritis seperti Judith Kleinfeld dalam "McCandless: Hero or Dumb Jerk", yang bertanya, apakah McCandless:
1. The Hero: A person following their dreams, seeking to test themselves with adversity and risk in order to live life fully.
Atau,
2. The Soul Searcher: A person abandoning social conventions in an effort to seek truth and to discover the true self that remains hidden under social constraints. A person striving to stick to their deepest values and convictions no matter what the cost.
Atau,
3. The Dumb Jerk: A person who is futilely questing for something meaningless or worthless. A person who is woefully unprepared for a trip, who clings to misguided, self-righteous principles, losing friends and hurting themselves and their family in the process."
Menurut saya, Ia masuk dalam kategori 1 dan 2. Seperti Soe Hok Gie, mungkin? Yang jelas McCandless mengingatkan saya akan mimpi-mimpi masa muda dulu (sekarang juga relatif masih muda, tapi ngerti lah maksudnya). Ingin jadi jagawana, keliling Indonesia, dan menjelajah dunia.
Mengingatkan juga kepada niat di akhir tahun lalu untuk meninggalkan pekerjaan dan jadi gembel jalanan, vagabonding, keliling Asia Tenggara, mengulang jejak Tony dan Maureen Wheeler pendiri Lonely Planet.
Niat yang saat ini batal terbentur kenyataan bahwa saya tak hidup sendiri. Ada keluarga yang tak bisa ditinggal minggat.
Apa pun alasan sebenarnya yang melatarbelakangi tindakan McCandless, buat saya hidupnya tak sia-sia. Tentu, kasihan keluarganya. Tapi hidup yang berarti tak harus selalu berumur panjang kan?





