Jaemanis Rosemary Johani, Selamat Datang di Taman Bermain Kami
Jaemanis Rosemary Johani
Selamat datang di dunia yang semakin mengecil ini
Kami tak sempat buatkan kartu ucapan
Beli di mall, nanti terkesan pasaran
Lebih baik kamu pandangi saja jejak-jejak digital oom, tante, papa, dan mama
Moga-moga saat kau sudah cukup besar untuk berselancar di dunia maya
Taman bermain kami (yang tak henti menolak tua),
Bukan lemari tua bersarang laba-laba di matamu.
Luddite turned geek, mirip tukang listrik
- Akibat upload video dan foto dari empat kamera sekaligus
- Kalo pusing kerja, main-main sama mereka
- Enough said
high school’s never over, it only gets better
Teman Facebook saya sekarang lebih dari seribu tiga ratus orang. Dari jumlah itu, hanya 70 persen yang benar-benar pernah bertemu langsung. Sisanya orang-orang yang langsung meng-add saya tanpa pernah ketemu atau ngobrol sebelumnya.
Seribu tiga ratus tampaknya banyak, tapi belum apa-apa dibanding seorang teman yang punya tiga ribu teman dan kenalan. Super cemen kalau dibandingkan dengan blogger-blogger kondang yang daftar teman dan anggota fans clubnya melewati angka lima ribu.
Jangan coba-coba bandingkan dengan selebriti. Di Java Jazz kemarin saya dapat bocoran bahwa friend pending request Glenn Fredly mencapai angka belasan ribu.
Dulu, waktu pertama ikut-ikutan social media dengan membuat account Friendster, saya melihat ada kecenderungan lucu. Banyak orang berebutan punya teman sebanyak-banyaknya. Kalau sudah di angka 500an, berasa keren dan gaul banget.
Saya pun ikut-ikutan. Selain memang banyak teman, banyak pula cewek-cewek cakep yang bisa saya add seenaknya. Banyak yang menerima sebagai teman, tak sedikit yang mendiamkan permintaan tersebut.
Sekarang, hampir semua orang yang saya kenal punya account Facebook. Ayah, tante, sepupu, keponakan, adik, kakak, ipar, apalagi bos dan teman-teman kantor. Semua ada di Facebook. Mulai dari teman TK, SD, SMP, SMA, dan kuliah.
Di tengah keasyikan memperbaharui status (hampir setiap jam, lewat Twitter), membaca notes, melihat-lihat foto, dan melakukan segala kegiatan produktif lainnya di social networking site ini, saya membaca gejala lain.
Ada beberapa teman SMP, SMA dan kuliah yang walaupun dulu tak seberapa dekat dengan saya, kini bisa sedemikian akrab saat berinteraksi di Facebook. Padahal dulu waktu masih sekolah, boro-boro negor, ngelirik aja nggak. Maklum, waktu SD saya memang super nerd. Di SMP tetap super nerd. Sedangkan di SMA kadar nerd saya turun sedikit karena ikut kelompok pecinta alam. Baru waktu kuliah saya benar-benar bisa nyaman dengan status nerd tadi.
Sekarang jadi nerd bukan sesuatu yang menggelikan lagi rupanya. Sementara itu, teman-teman saya yang dulu menyebalkan kini berubah menyenangkan. Kita agaknya sudah sama-sama dewasa, dan hal-hal sepele seperti siapa kamu waktu sekolah dulu tak lagi jadi hal yang penting. Nggak perlu lagi merealisasikan impian balas dendam seperti dalam film ‘Revenge of the Nerds’.
Kemarin, saya menemukan presentasi Pecha Kucha yang dibuat oleh Jeremy Fuksa, tentang status pertemanan di Facebook. Fuksa kaget dengan makin banyak dan beragamnya teman yang didapatnya di Facebook. Menurutnya, mungkin ada teman-teman yang sebaiknya cukup tinggal dalam masa lalu dan tak perlu muncul lagi di masa kini.
Saya menikmati presentasi itu, tapi kurang setuju dengan satu-dua hal di dalamnya. Buat saya yang penting sekarang bukan masa lalu. Karena teman-teman lama yang tiba-tiba muncul lagi dan mendadak akrab ini adalah individu-individu yang sangat berbeda dengan yang saya kenal dulu. Saking berbedanya, frame of reference tentang mereka harus disetel ulang.
Popular girl yang super belagu di masa SMP-SMA, sudah berubah jadi ramah dan menyenangkan. Jock yang cuma tahu berantem dan mengganggu orang, sekarang sudah jadi bapak beranak tiga yang doyan membaca buku-buku sastra.
“High school’s never over,” jerit karakter yang dimainkan Emily Blunt dalam’The Jane Austen Book Club’. Agaknya dia benar. Kita hanya naik kelas saja. Tapi tak pernah benar-benar lulus.
It’s never over. It only gets better.
Kartu Tanda (Penduduk) Pemalas
Kartu Tanda Penduduk (KTP) saya sudah habis masa berlakunya sejak setahun lalu. Kenapa saya tak memperpanjangnya? Banyak alasan yang bisa saya sampaikan, tapi semuanya bermuara pada satu hal saja. Malas.
Ya, saya memang pemalas. Malas mendatangi ketua RT dan RW yang saya tak kenal, untuk minta dibuatkan surat pengantar ke kelurahan. Malas berbasa-basi dengan tetangga yang saya bahkan tak tahu namanya.
Malas menyeberangi K.H. Mas Mansyur di depan perumnas dan bertemu dengan pegawai-pegawai kelurahan, terpaksa beramah-tamah. Malas melihat gedung kelurahan dan lay out ruang-ruangnya yang hampir sama dari Jakarta sampai Merauke (saya belum pernah ke Sabang).
Malas bukan main.
Tapi karena ada acara kantor yang mengharuskan saya bikin paspor dan NPWP, terpaksa saya menyimpan kesal memasang topeng ‘government relations officer’ yang begitu mahir saya mainkan dua tahun lalu saat kantor yang lama menugaskan saya ke beberapa daerah di Indonesia Timur.
Sudah terbayang, pasti urusan akan dipersulit. “Kalau bisa dipersulit, buat apa dipermudah?” Kalimat yang menyamaratakan etos kerja pegawai negeri itu berulang-ulang terucap dalam hati.
Memang benar, tak mudah berurusan dengan birokrasi. Setelah surat pengantar beres (Pak RT sempat sulit dicari, tapi belakangan sangat kooperatif), saya terkejut saat diberitahu mbak yang baik di bagian perpanjangan KTP bahwa denda keterlambatan Rp10.000 harus dibayar langsung di loket Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Kantor Walikota Jakarta Pusat.
Jarak antara kelurahan di Jalan KH Mas Mansyur dan Kantor Walikota, di Jalan Tanah Abang I, kira-kira 5 kilometer. Mungkin lebih.
Kenapa denda sekecil itu tak bisa dibayar langsung di tempat saja? Wajah si mbak yang kosong itu tak menjawab apa-apa, bahkan saat saya isyaratkan bahwa saya bersedia bayar lebih (baca: nyogok) supaya tak perlu pergi jauh-jauh ke Kantor Walikota.
Saya kan sibuk, punya kehidupan yang lebih penting dari urusan-urusan remeh macam begini. Ngapain buang-buang waktu? Nggak canggih banget sih!
Si mbak agaknya benar-benar tak bisa membantu dan hanya tersenyum standar. Saya pun naik ke lantai dua untuk membuat surat pengantar pembayaran denda. Bayangkan, bayar denda saja harus pakai surat pengantar! Belakangan, sambil menunggu pegawai yang tak datang-datang (padahal sudah jam 9.30 dan ada tulisan yang bilang loket buka jam 7.30 pagi), melihat surat pengantar diketik a la sebelas jari, menanti sampai surat itu dicetak (makan waktu lima belas menit hanya untuk mengutak-atik menu print dan tombol on-off printer), saya baru sadar kenapa sistem yang mengganggu ini harus ada.
Pertama, harus bayar jauh-jauh di walikota karena tak ada sistem online.
Kedua, semakin primitif operasional pemerintahan, semakin banyak pegawai yang bisa dipekerjakan (pernah lihat meja piket yang ditongkrongi sepuluh orang yang tak berbuat apa-apa?).
Ketiga, ini ganjaran buat pemalas kelas berat seperti saya.
Keempat, KTP adalah singkatan dari Kartu Tanda (Penduduk) Pemalas.











