duniahitam

tentang hidup yang terkekang

Jaemanis Rosemary Johani, Selamat Datang di Taman Bermain Kami

leave a comment »

Mike's Plurk page for Jaemanis

Twitter search untuk #jaemanis

Jaemanis Rosemary Johani

Selamat datang di dunia yang semakin mengecil ini

Kami tak sempat buatkan kartu ucapan

Beli di mall, nanti terkesan pasaran

Lebih baik kamu pandangi saja jejak-jejak digital oom, tante, papa, dan mama

Moga-moga saat kau sudah cukup besar untuk berselancar di dunia maya

Taman bermain kami (yang tak henti menolak tua),

Bukan lemari tua bersarang laba-laba di matamu.

Written by Waraney Rawung

20 May 2009 at 3:18 PM

Susan Boyle dan perasaan bersalah yang manusiawi

with 4 comments

“Kurang enak rasanya ngeliat penyanyi yang tampangnya jelek. Walaupun suaranya bagus,” kata Edo kemarin sore. Saat itu saya, Edo, dan Mikael sedang ngobrol soal Susan Boyle, perempuan 47 tahun dari Skotlandia yang jadi fenomena YouTube minggu ini. Videonya dari acara Britain’s Got Talent sudah ditonton lebih dari 26 juta kali saat tulisan ini dibuat. Menurut situs Mashable, kalau video-video lainnya tentang Susan dihitung juga, total hits-nya mencapai 47 juta kali. Mengalahkan beberapa video YouTube tenar lainnya.

Siapa sih Susan Boyle? Perempuan ini adalah salah satu peserta Britain’s Got Talent yang awal minggu lalu mengejutkan juri dan penonton acara tersebut dengan suara emasnya. Saat ia pertama muncul di atas panggung, semua menertawakannya. Perempuan 47 tahun, gemuk, beruban, berpenampilan ndeso, mau jadi penyanyi tenar? Berani-beraninya!

Tapi begitu ia menunjukkan kebolehannya membawakan lagu “I Dreamed a Dream” dari drama musikal “Les Miserables” dengan sempurna, juri yang sinis dan penonton yang bengis ternganga, kagum tak mampu bersuara, lalu bertepuk tangan menggila.

Setelah menonton video itu, saya lalu mencari cerita lain tentang Susan dan tersandung artikel Tanya Gold di guardian.co.uk yang mengkritik perlakuan juri terhadap Susan serta reaksi kita terhadapnya. Singkatnya, perempuan jelek berbakat nyanyi diperlakukan lebih buruk dari laki-laki jelek berbakat nyanyi.

 Tanya Gold: It wasn't singer Susan Boyle who was ugly on Britain's Got Talent so much as our reaction to her

Tanya Gold: It wasn't singer Susan Boyle who was ugly on Britain's Got Talent so much as our reaction to her

Mike dan Edo bilang bahwa wajar-wajar saja kalau kita suka penyanyi yang cantik-cantik, dan bukan sesuatu yang luar biasa kalau penonton dan juri Britain’s Got Talent meremehkan Susan sebelum mendengarkan suaranya. Pendapat mereka mengingatkan saya tentang suatu penelitian (lupa baca dimana, kalau nggak salah New York Times) bahwa definisi cantik-tampan ternyata universal dan berhubungan dengan komposisi wajah dan tubuh. Semakin seimbang komposisinya, semakin cantik-tampan dan menarik individu tersebut di mata kita.

Berdasarkan teori tersebut, Susan jelas-jelas tidak simetris. Saya tak menganggap dia jelek. Tapi tanpa perlu mendengar pengakuannya di panggung bahwa “I’ve never been kissed” dan “I’m forty-seven, and that’s just one side of me,” saya sudah bisa menyimpulkan bahwa dia juga bukan perempuan yang cantik. Reaksi yang manusiawi kan? Manusiawi juga kalau kita merasa bersalah setelah sadar bahwa perempuan tak simetris itu ternyata bersuara emas.

Saya punya wajah yang juga tidak simetris (mata kanan lebih kecil dari mata kiri), dan sering minder gara-gara itu. Tapi rasa rendah diri ini berkurang setelah suatu hari di tahun 1996 seorang teman kuliah bertanya, “Ney, lo ngelmu ya?” Setelah bengong dua detik, saya tanya balik ke dia, “Nggak. Kok lo mikir gitu?” Jawabnya, “Abis cewek lo banyak, trus lo suka pake baju hitam, dan rajin jogging siang-siang.”

Sunyi sejenak. Saya tak tahu harus jawab apa, cengengesan, lalu pergi meninggalkan sang teman tanpa menjawab apa-apa. Bukan main kesimpulan yang bisa ditarik teman saya itu hanya dari observasi singkat tanpa penelitian lebih lanjut. Dipikirnya saya punya ilmu hitam untuk menggaet cewek-cewek Sastra, karena itu saya suka pakai baju hitam macam dukun, dan jogging saya itu bagian dari ritual ilmu hitam. (Disclaimer: banyak cewek karena di Fakultas Sastra UI — sekarang FIB UI — memang lebih banyak cewek dari cowok, pakai baju hitam terus biar kelihatan lebih langsing, dan jogging siang-siang biar cepat kurus!)

Tak usah merasa bersalah kalau kita pernah atau masih jadi orang-orang seperti penonton dan juri Britain’s Got Talent. Manusiawi kok. Jangan percaya juga sama ungkapan “don’t judge a book by it’s cover”. Omong kosong. Kalau nggak lihat dari sampulnya dulu, trus dari mana? Buktinya irisPUSTAKA menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menentukan sampul buku Mike dan Anya! :)

It’s ok to judge a book by it’s cover. But don’t go crying to mommy when you find a crappy story in it, or be the only person in the world who missed the best-seller.

Written by Waraney Rawung

18 April 2009 at 8:22 PM

Luddite turned geek, mirip tukang listrik

leave a comment »

Written by Waraney Rawung

23 March 2009 at 1:33 PM

Posted in foto, hari ini, pulang malam

Tagged with , , ,

high school’s never over, it only gets better

with 13 comments

Teman Facebook saya sekarang lebih dari seribu tiga ratus orang. Dari jumlah itu, hanya 70 persen yang benar-benar pernah bertemu langsung. Sisanya orang-orang yang langsung meng-add saya tanpa pernah ketemu atau ngobrol sebelumnya.

Seribu tiga ratus tampaknya banyak, tapi belum apa-apa dibanding seorang teman yang punya tiga ribu teman dan kenalan. Super cemen kalau dibandingkan dengan blogger-blogger kondang yang daftar teman dan anggota fans clubnya melewati angka lima ribu.

Jangan coba-coba bandingkan dengan selebriti. Di Java Jazz kemarin saya dapat bocoran bahwa friend pending request Glenn Fredly mencapai angka belasan ribu.

Dulu, waktu pertama ikut-ikutan social media dengan membuat account Friendster, saya melihat ada kecenderungan lucu. Banyak orang berebutan punya teman sebanyak-banyaknya. Kalau sudah di angka 500an, berasa keren dan gaul banget.

Saya pun ikut-ikutan. Selain memang banyak teman, banyak pula cewek-cewek cakep yang bisa saya add seenaknya. Banyak yang menerima sebagai teman, tak sedikit yang mendiamkan permintaan tersebut.

Sekarang, hampir semua orang yang saya kenal punya account Facebook. Ayah, tante, sepupu, keponakan, adik, kakak, ipar, apalagi bos dan teman-teman kantor. Semua ada di Facebook. Mulai dari teman TK, SD, SMP, SMA, dan kuliah.

Di tengah keasyikan memperbaharui status (hampir setiap jam, lewat Twitter), membaca notes, melihat-lihat foto, dan melakukan segala kegiatan produktif lainnya di social networking site ini, saya membaca gejala lain.

Ada beberapa teman SMP, SMA dan kuliah yang walaupun dulu tak seberapa dekat dengan saya, kini bisa sedemikian akrab saat berinteraksi di Facebook. Padahal dulu waktu masih sekolah, boro-boro negor, ngelirik aja nggak. Maklum, waktu SD saya memang super nerd. Di SMP tetap super nerd. Sedangkan di SMA kadar nerd saya turun sedikit karena ikut kelompok pecinta alam. Baru waktu kuliah saya benar-benar bisa nyaman dengan status nerd tadi.

Sekarang jadi nerd bukan sesuatu yang menggelikan lagi rupanya. Sementara itu, teman-teman saya yang dulu menyebalkan kini berubah menyenangkan. Kita agaknya sudah sama-sama dewasa, dan hal-hal sepele seperti siapa kamu waktu sekolah dulu tak lagi jadi hal yang penting. Nggak perlu lagi merealisasikan impian balas dendam seperti dalam film ‘Revenge of the Nerds’.

Kemarin, saya menemukan presentasi Pecha Kucha yang dibuat oleh Jeremy Fuksa, tentang status pertemanan di Facebook. Fuksa kaget dengan makin banyak dan beragamnya teman yang didapatnya di Facebook. Menurutnya, mungkin ada teman-teman yang sebaiknya cukup tinggal dalam masa lalu dan tak perlu muncul lagi di masa kini.

Saya menikmati presentasi itu, tapi kurang setuju dengan satu-dua hal di dalamnya. Buat saya yang penting sekarang bukan masa lalu. Karena teman-teman lama yang tiba-tiba muncul lagi dan mendadak akrab ini adalah individu-individu yang sangat berbeda dengan yang saya kenal dulu. Saking berbedanya, frame of reference tentang mereka harus disetel ulang.

Popular girl yang super belagu di masa SMP-SMA, sudah berubah jadi ramah dan menyenangkan. Jock yang cuma tahu berantem dan mengganggu orang, sekarang sudah jadi bapak beranak tiga yang doyan membaca buku-buku sastra.

“High school’s never over,” jerit karakter yang dimainkan Emily Blunt dalam’The Jane Austen Book Club’. Agaknya dia benar. Kita hanya naik kelas saja. Tapi tak pernah benar-benar lulus.

It’s never over. It only gets better.

Written by Waraney Rawung

11 March 2009 at 3:33 AM

Kartu Tanda (Penduduk) Pemalas

leave a comment »

Kartu Tanda Penduduk (KTP) saya sudah habis masa berlakunya sejak setahun lalu. Kenapa saya tak memperpanjangnya? Banyak alasan yang bisa saya sampaikan, tapi semuanya bermuara pada satu hal saja. Malas.

Ya, saya memang pemalas. Malas mendatangi ketua RT dan RW yang saya tak kenal, untuk minta dibuatkan surat pengantar ke kelurahan. Malas berbasa-basi dengan tetangga yang saya bahkan tak tahu namanya.

Malas menyeberangi K.H. Mas Mansyur di depan perumnas dan bertemu dengan pegawai-pegawai kelurahan, terpaksa beramah-tamah. Malas melihat gedung kelurahan dan lay out ruang-ruangnya yang hampir sama dari Jakarta sampai Merauke (saya belum pernah ke Sabang).

Malas bukan main.

Tapi karena ada acara kantor yang mengharuskan saya bikin paspor dan NPWP, terpaksa saya menyimpan kesal memasang topeng ‘government relations officer’ yang begitu mahir saya mainkan dua tahun lalu saat kantor yang lama menugaskan saya ke beberapa daerah di Indonesia Timur.

Sudah terbayang, pasti urusan akan dipersulit. “Kalau bisa dipersulit, buat apa dipermudah?” Kalimat yang menyamaratakan etos kerja pegawai negeri itu berulang-ulang terucap dalam hati.

Memang benar, tak mudah berurusan dengan birokrasi. Setelah surat pengantar beres (Pak RT sempat sulit dicari, tapi belakangan sangat kooperatif), saya terkejut saat diberitahu mbak yang baik di bagian perpanjangan KTP bahwa denda keterlambatan Rp10.000 harus dibayar langsung di loket Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Kantor Walikota Jakarta Pusat.

Jarak antara kelurahan di Jalan KH Mas Mansyur dan Kantor Walikota, di Jalan Tanah Abang I, kira-kira 5 kilometer. Mungkin lebih.

Kenapa denda sekecil itu tak bisa dibayar langsung di tempat saja? Wajah si mbak yang kosong itu tak menjawab apa-apa, bahkan saat saya isyaratkan bahwa saya bersedia bayar lebih (baca: nyogok) supaya tak perlu pergi jauh-jauh ke Kantor Walikota.

Saya kan sibuk, punya kehidupan yang lebih penting dari urusan-urusan remeh macam begini. Ngapain buang-buang waktu? Nggak canggih banget sih!

Si mbak agaknya benar-benar tak bisa membantu dan hanya tersenyum standar. Saya pun naik ke lantai dua untuk membuat surat pengantar pembayaran denda. Bayangkan, bayar denda saja harus pakai surat pengantar! Belakangan, sambil menunggu pegawai yang tak datang-datang (padahal sudah jam 9.30 dan ada tulisan yang bilang loket buka jam 7.30 pagi), melihat surat pengantar diketik a la sebelas jari, menanti sampai surat itu dicetak (makan waktu lima belas menit hanya untuk mengutak-atik menu print dan tombol on-off printer), saya baru sadar kenapa sistem yang mengganggu ini harus ada.

Pertama, harus bayar jauh-jauh di walikota karena tak ada sistem online.

Kedua, semakin primitif operasional pemerintahan, semakin banyak pegawai yang bisa dipekerjakan (pernah lihat meja piket yang ditongkrongi sepuluh orang yang tak berbuat apa-apa?).

Ketiga, ini ganjaran buat pemalas kelas berat seperti saya.

Keempat, KTP adalah singkatan dari Kartu Tanda (Penduduk) Pemalas.

Written by Waraney Rawung

27 February 2009 at 1:36 PM